Penguins of Madagascar © Dreamworks and Nickelodeon
Story © Me- Chapter 2: Rendezvous
Beta-de by NakamaLuna

Warnings for: humanized, typo(s), AR version, unknown pair, sci-fi everywhere

Don't like? Don't read


Aku ingin tahu tentang masa depan.
Agar diriku siap atas segala kemungkinan yang akan terjadi.

Aku ingin mengubah masa lalu.
Agar aku dapat memperbaiki yang sudah terlewatkan—entah itu baik atau buruk. Kesempatan itu ada.


Ketika membuka mata, Skipper menyadari bahwa dirinya mengambang di dalam sebuah jalur dimensi. Jalur dimensi itu sama sekali tidak berbeda dengan terowongan jalan raya biasa. Hanya saja, sekelilingnya berwarna merah jambu muda, arusnya deras, dengan banyak campuran zaman berbentuk layar tipis yang tersebar di sisinya. Dan kau seolah mengambang di dalamnya, serta tubuhmu akan terasa seperti di dalam sungai berarus deras yang membawamu kemanapun arus itu pergi.

Skipper menyetel headphone di telinganya agar menyala. Ia kemudian mulai bicara; "Kowalski? Apa kau mendengarku?"

Butuh waktu cukup lama untuk mendapat jawaban. Terlebih, ada banyak halangan seperti suara berderak. Suara pengganggu yang sama seperti ketika kau kehilangan sinyal di ponselmu.

/Cukup jelas, sir./

"Bagaimana caranya aku masuk ke zaman yang kutuju itu?"

/Kau sudah ada di jalur dimensi?/

"Ya," Skipper mengiyakan, meskipun ia sendiri tidak yakin ia ada dimana.

/Tenang saja, mesinku akan membawamu langsung ke zaman yang sudah kusetel./

Skipper harus bernapas lega karena ia tak perlu meraih layar-layar mencurigakan itu untuk dimasuki. Terlebih, ia semakin mendekati sebuah layar zaman yang—kelihatannya—memang tujuannya. "Ya, aku bisa melihatnya. Nanti akan kukontak lagi."

"Roger."

Skipper mematikan headphonenya. Dengan senyum lebar, tangannya mulai 'memasuki' layar itu. Namun—

GREB.

"Huh?" Seseorang—atau sesuatu—menarik jas Skipper dari belakang, membuatnya tertarik ke belakang dengan paksa. Aneh. Padahal arus waktu saat itu begitu kencang, tapi ia bisa menarik Skipper ke arah yang lain.

Skipper hanya bisa melihat sekilas sosok itu. Sosok yang berpakaian hitam ketat, dengan garis-garis perak dan hijau, telapak kakinya mengeluarkan api berwarna biru. Wajahnya ditutup dengan head mask. Dari wujudnya sudah jelas dia adalah manusia yang mungil, jauh di bawah Skipper. Tapi kekuatannya seperti menyamai Rico.

Atau mungkin, lebih.

"Siapa kau?!" Skipper berusaha melepas dirinya, karena sosok itu kini membawanya jauh dari zaman yang ia tuju sebelumnya. Menariknya lebih jauh, sangat jauh ke belakang. Sosok itu berenang melawan arus, dengan membawa pergelangan tangan Skipper dengan entengnya. Sesaat terasa bahwa sosok itu baru membawanya beberapa meter, namun ternyata tanpa sadar mereka berdua telah melewati waktu puluhan tahun.

Sudah berkali-kali Skipper berusaha melepaskan tangannya, juga memekik agar sosok itu mau melepaskannya. Tapi ampun, sulit sekali. Salah gerak sedikit saja, siku Skipper bisa lepas.

Skipper akhirnya pasrah, dan sosok itu berhenti menariknya, tepat di sebuah layar zaman—yang entah zaman apa. "Kenapa kau membawaku kemari? !" Skipper kembali bertanya dengan nada marah—tentu saja—seraya berhasil mengambil kembali tangannya.

Sosok itu hanya diam. Tak lama, ia mengambil headphone Skipper dengan gesit, bahkan Skipper sendiri sampai tak berkutik, tak menyadari bahwa ia telah kecolongan.

"Apa—"

BUGH!

"Ugh!"

Sebuah tinju yang kencang dikeluarkan oleh sosok aneh itu. Langsung dan tepat mengenai mata chip di ikat pinggang Skipper, namun ia tidak menghancurkannya. Hanya membuatnya lepas dari bingkainya, kemudian mencungkilnya keluar.

Skipper sendiri bahkan sampai nyaris kehilangan kesadaran karenanya. Ia merasakan sakit yang amat sangat, lambungnya bahkan terasa bergeser. Sedetik kemudian, Skipper merasa tubuhnya didorong masuk ke dalam layar yang ada di hadapannya—tanpa sempat membalas perbuatan tidak terpuji itu, tanpa sempat menanyakan apa motif dari perbuatannya, tanpa sempat tahu ia didorong ke zaman macam apa.


"RENDEZVOUS"


"Wah," Kowalski menatap layar di mesinnya. Gerak-gerik bola mata yang gesit itu mendelik ke segala sudut layar, sementara jemarinya sibuk beradu dengan keyboard.

Private, dengan wajah cemas yang hebat pun bertanya, "Ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan Skipper?"

Kowalski tidak berhenti menatap layar, "Ya… sinyalnya hilang."

"Apa—"

"Te-tenang saja, ini biasa terjadi. Jalur dimensi kan, banyak sekali halangan untuk sinyal. Nanti juga muncul lagi." Ia menjelaskan dengan wajah yang berkeringat dingin. Private memakluminya dengan wajar, karena ia tahu apa yang dikatakan Kowalski itu selalu benar secara ilmiah.

Tapi, apa itu benar-benar 'selalu'?

.

.

"WAAA!" Skipper tidak berhenti teriak. Seluruh tubuhnya tertarik masuk ke dalam sebuah jalur dimensi yang kini lebih kecil dari jalur dimensi utama yang tadi. Saat itulah, ia bisa melihat ujung dari jalur ini. Seperti sebuah lingkaran portal yang terhubung dengan dunia lain. Ya, ujung itu semakin lama semakin mendekat. Dan Skipper tahu persis dimana posisi portal itu berada—

GUBRAAK.

—di langit-langit sebuah ruangan.

"A-Astaga…" Skipper meringis pada pinggul dan bokongnya yang malang. Tangannya sibuk mengusap bagian-bagian yang sakit. Ia bahkan belum tahu dimana ia sekarang. Tangannya meraba-raba permukaan lantai . Lembut. Ini karpet, karpet yang berkualitas. Bau-bauan logam, ini sebuah ruangan elit. Cahaya yang menyinari hanyalah cahaya matahari yang menembus jendela, dan ruangan yang menjadi tempat pendaratan Skipper saat ini begitu sunyi dan damai, namun suram.

Dengan memberanikan diri, Skipper mendongakan kepalanya pada sebuah meja besar di depannya. Dan di balik meja itu, ada seseorang yang menatapnya tajam.

—"Kumohon kau jangan sampai terlihat atau malah sampai berhubungan kontak dengan orang-orang di 'zaman sana'. Sedikit saja, kau akan mengubah sejarah dan masa kini"—

Sial. Terlambat.

Orang yang matanya tajam itu terus menatap Skipper dengan mimik kaget luar biasa. Tentu saja, reaksi umum yang sangat wajar. Mimik apalagi yang akan kau tampilkan, saat kau sedang menulis dengan damai di atas selembar kertas, di sebuah ruangan yang benar-benar jauh dari kegaduhan, lalu tiba-tiba ada pemuda berpakaian formal yang jatuh dari langit-langit tanpa membuat langit-langitnya berlubang?

Skipper tidak akan pernah tahu orang itu baik atau jahat selama mereka saling bungkam satu sama lain. Di sisi lain, ia sendiri tak tahu ia ada dimana. Skipper merogoh pistol kecil yang selalu ia bawa-bawa di balik jasnya—untuk berjaga-jaga jika ada serangan dadakan, seraya matanya tidak berhenti memandang mata orang itu. Saling bertatapan satu sama lain.

Orang itu kelihatannya cukup tinggi, dengan rambut hitam legam yang panjangnya melebihi telinga, dan hal yang paling mencolok adalah mata kirinya yang ditutupi penutup mata sebelah. Padahal jika melihat mata kanannya, pupil matanya sangat indah, biru safir yang berpadu lembut dengan setelan jas putih-slivernya.

Skipper melirik pada sebuah papan gelar yang tergeletak angkuh di sudut mejanya, bertuliskan Head Director. Kepala direktur, ya.

Sedikit gerakan, dan orang di depan itu membuka mulut.

"S-Skipper?"

Dan dia mengenali Skipper.

To Be Continued
Coming soon: "Chapter 3-Unprooved face"


pojok bacotan author:

Aah ternyata fic ini bisa update ternyata;; Makasih banyak buat NakamaLuna yang mau berbaik hati nge-beta chapter 2 nya juga :D

SEE? SEE? Saya total ngarang nggak nge-browse sama sekali soal eksplorasi waktu atau apalah itu;; what is jalur dimensi orz. Fic ini sama sekali tidak berwawasan, beda sama NegaKaNanya Ratu Galau/ Ryudou Ai ;A;

err-nggak tau mesti komen apalagi, tapi untuk sementara kayaknya saya bakal hengkang lagi dari fandom ini QwQ ada satu dua hal, masalah RL lah, masalah kecantol di fandom lain lah /plak /abaikan

Review?