Huwa... O_o
aku gak nyangka bakal banyak yang fave, alert dan Review...
mengharukan! *Author langsung nangis di tempat*
Nah... karena banyak yang nanya dan ngasih saran, makasih sarannya tapi maaf kalau saran kalian gak aku masukin ke fict ini, tapi aku minta idenya ya buat fict yang lain.. #PLAK
trus fict ini cuma terinpirasi dari komiknya takamiya satoru, jadi gak bakal mirip. aku cuma minjem beberapa scaNEnya dari komik itu, hehe
and aku mau ngucapin makasih ke:
shiho Nakahara
Superol
OraRi HinaRa
ayushina
ChaaChulie247
Melody Valentine
Yuki Uta Nakigoe
Aiko Uchinami
NanaMithrEe
Lady Spain
Ashahi Kagari-kun
Haru3173
Zoroutecchi
LiaUzuPot
Terakhir aku mohon maaf kalau chap ini gak sesuai dengan bayangan kalian... m(_ _)m
The Fallen angel
.
.
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Voice of sky © Takamiya Satoru
A bit secret Black vownya kagamine Rind an Len
.
Warning:
Sasuke POV, OOC, typo (?), GaJe, abal, dll
.
Rated : T
.
Happy reading….
Aku berada di tempat serba putih. Baik kiri, kanan, atas dan bawah semuanya putih. Aku tidak bisa melihat apa-apa, tak bisa merasakan kehadiran siapa-siapa.
Apakah ini surga?
Apakah aku benar-benar mati?
Aku menatap tangan dan pakaianku yang serba putih. Sepertinya aku memang sudah mati. Sayang sekali tapi ini memang takdirku.
Aku sudah mati….
Sesuatu yang bersinar di depanku membuatku tertarik untuk mendekatinya. Seorang gadis berambut pirang dengan bola mata biru tengah menatapku dengan senyum.
"Dobe?"
Gadis itu tersenyum lantas mengulurkan tangannya seolah mengajakku untuk pergi bersamanya. Tanpa ragu, aku membalas uluran tangannya. Kugenggam tangannya yang mungil. Dan ketika aku menggenggam tangannya, sebuah cahaya putih membungkus kami berdua kemudian Naruto memelukku sembari membisikan satu kata saja.
"Sayonara."
.
Dan di sinilah aku. Di ruangan dengan berbagai barang yang didominasi oleh warna biru langit, warna kesukaan ibuku yang juga merupakan kamarku.
Ya… ini kamarku dan aku tengah duduk di ranjangku dengan bulu sayap putih yang cukup besar.
Entah dari mana bulu sayap ini, yang jelas, saat aku membuka mata, helaian sayap putih berhamburan jatuh, melayang dari atap kamarku. Aku mengambil salah satu bulu sayap itu. Bulu sayap itu berukuran dua kali dari bulu sayap biasanya. Bulunya lembut dan putih bersih, seperti helai bulu dari sayap yang ada di punggung Naruto.
Ah, mengingat namanya membuatku ingin melihatnya.
"Dobe?" aku memanggilnya. Kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan. Tidak ada siapa-siapa. "Dobe?" aku memanggilnya lagi. Tidak ada siapa-siapa di ruangan ini kecuali aku. Tidak ada atau aku tidak bisa melihatnya? "Dobe? Kau jangan bercanda!" aku membentak. Aku bangun dari tempat tidurku dan kakiku langsung menginjak sesuatu. Aku terpaku, perlahan aku menunduk, melihat benda yang aku injak dan aku tercengang.
Ini kalung yang kuberikan kepadanya. Ku ambil kalung itu. Kalung dengan gantungan batu sapphire.
Apa maksudnya ini?
.
.
Uzumaki Naruto adalah gadis yang aneh. Dia memiliki aura yang aneh. Aura cerah yang membuat orang-orang tanpa sadar mendekatinya. Aura yang membuat gadis itu disayangi banyak orang.
Di mataku dia seperti malaikat.
Dan ternyata dia memang seorang malaikat.
Aku tahu itu saat kecelakaan yang menimpaku. Saat mobil dengan kecepatan tinggi yang melanggar lampu lalu lintas itu menghempaskanku hingga beberapa meter ke belakang.
Saat orang berteriak menghampiriku, saat tarikan nafasku semakin melemah, saat aku merasakan langkah dewa kematian yang semakin mendekat, saat kesadaranku semakin sulit kupertahankan.
Aku melihatnya.
Dia menatapku dengan tampang terkejut. Dia menatapku dengan tatapan tidak percaya dan tetap terpaku di tempatnya. Dan saat dia menggumamkan panggilan khasnya kepadaku, dia berlari pergi, terbang menjauhiku.
Ya… di akhir-akhir kesadaranku aku melihatnya terbang, di punggungnya terdapat sayap putih yang besar yang semakin lama semakin menjauh dari jangkauan pandanganku.
Sampai akhirnya hanya gelap yang bisa kullihat.
.
.
Ajaibnya aku tidak apa-apa.
Tidak mengalami gegar otak. Hanya luka di kening dan belakang kepalaku. Dokter bilang ini sebuah mukjizat tapi aku memiliki pemikiran yang lain.
Aku masih hidup mungkin karena Naruto pergi meninggalkanku saat kecelakaan itu.
Meski dokter melarangku untuk pergi ke sekolah, aku bersikeras untuk ke sana. Toh aku tidak apa-apa. Hanya kepalaku yang diperban. Kurahasiakan tentang kecelakaan itu dari orang lain.
Tujuanku ke sekolah adalah bertemu dengannya, meminta penjelasan tentang siapa dirinya, kenapa malam itu dia ada di sana? Benarkah dia adalah malaikat kematianku?
Tapi aku tidak bisa menanyakan hal itu ketika melihatnya murung.
Tidak seperti biasanya, dia melamun. Matanya menatap kosong ke mejanya. Raut mukanya kusut dan berantakan. Dia tidak sesemangat biasanya.
Dan aku tidak suka melihat ekspresi seperti itu berada di wajahnya.
"Kau kenapa dobe?" tanyaku sembari memukul kepalanya pelan. Dia menatapku dengan tatapan sedih.
"Memangnya aku kenapa?" tanyanya balik, berusaha berbohong atau mungkin mengalihkan pembicaraan. Aku tidak menanggapi dan beranjak ke tempat dudukku yang tepat berada di depan bangkunya.
"Biasanya kau ceria sekali seperti orang bodoh!" ucapku. Bisa kulihat dia mengeram marah. Ekspresi seperti itu lebih pantas diperlihatkannya daripada ekspresi sedih seperti tadi.
"Meski kemarin kau tertimpa kecelakaan, kau masih bisa berkata sinis seperti itu, ya?" tanyanya kentara sekali kesal.
"Aku memang kecelakaan, tapi kau tahu dari mana, dobe?" tanyaku curiga. Kulihat tubuhnya menegang kemudian tangannya bergerak-gerak salah tingkah.
"Eh? Itu… dilihat dari lukamu saja aku tahu," ucapnya mencari alasan. Aku menatapnya sebentar, aku tahu dia berbohong, tapi aku tidak mungkin mengatakannya jadi aku hanya menyetujuinya saja.
.
.
"Ugh… UWEEEEEEKK!"
Dia mengeluarkan semua isi perutnya beberapa detik setelah kami turun dari roller coaster. Sebenarnya aku ingin tertawa sekaligus iba melihat dia yang seperti itu. Ya… melihat ekspresi ketakutannya saat kereta itu berjalan mengelilingi rel merupakan hiburan tersendiri bagiku.
"Kau baik-baik saja, dobe?" tanyaku berbasa-basi.
"Tentu saja tidak BODOH!" Dia mengomel, mengelap cairan yang ada di sekitar mulutnya dengan punggung tangannya kemudian menatapku garang. "Sekarang jelaskan kepadaku, kenapa kau membawaku kemari!" tanyanya bertepatan dengan pandangan mataku yang melihat mesin penjual minuman. Tanpa menjawab pertanyaannya aku beranjak pergi, mendekati mesin penjual minuman otomatis itu, menghiraukan pertanyaannya yang lain.
Aku membeli sekaleng coke, minuman yang selalu dibelinya di sekolah dan sekaleng jus tomat kesukaanku, kemudian aku berbalik mendekatinya yang tengah menatap langit.
Entah apa yang dipikirannya tapi aku tahu dia menatap langit dengan wajah yang sedih.
"Murung lagi?"pertanyaan itu terlontar begitu saja. Dia sedikit kaget karena kegiatannya diganggu kemudian dia menoleh ke arahku dan tersenyum.
"Aku tidak murung, teme,"ucapnya sembari memainkan kaleng minuman yang sudah diminumnya sedikit.
"Kau berbeda dari biasanya," kataku singkat. Dia menatapku, membuatku salah tingkah.
"Jangan-jangan kau khawatir kepadaku ya?" tanyanya menyelidik.
Ugh!
Aku merasakan pipiku memanas. Apakah dia bisa dengan mudah membaca isi hatiku? Kenapa dia langsung menanyakan hal seperti itu secara langsung? Aku bisa merasakan suasana berubah canggung dan berat. Dia terlihat salah tingkah dengan pipi yang memerah seperti warna tomat kesukaanku, membuatku tersenyum dalam hati.
"Ekhem," aku berdehem, membuatnya sedikit tersentak. Aku melempar kaleng minuman dan beranjak berdiri di depannya dengan tangan terulur.
Aku suka menggenggam tangannya.
"Kita naik yang lain?" ajakku membuat pipinya semakin memerah. Dia mengangguk singkat kemudian membalas uluran tanganku. Telapak tangannya hangat dan sedikit basah, apakah dia gugup?
"Ayo," katanya kemudian giliran dia yang menarikku. Gadis itu ceria seperti biasanya. Dia menarik tanganku sembari berlari-lari kecil menuju wahana yang ingin dinaikinya, yang jelas dia tidak akan mungkin mengajakku ke wahana sejenis roller coaster.
"Teme…," panggilnya serius. Aku bergumam, menandakan bahwa aku mendengar panggilannya. "Arigatou" katanya. Dari belakang punggungnya aku melihat wajah serta kupingnya benar-benar memerah. Telapak tangannya semakin basah. Aku tersenyum senang mendengar kata terima kasih darinya.
"Hn"
Di taman bermain itu, kami terus berpegangan tangan.
.
.
Aku merasa jantungku akhir-akhir ini semakin lemah. Aku jadi mudah lelah dan gampang berkeringat. Aku memang sakit. Sedari kecil jantungku sudah lemah. Obat yang selalu kukonsumsi sekarang sudah tidak terlalu manjur lagi untukku sekarang.
Apakah sebentar lagi aku akan mati? Apakah aku tidak akan bersamanya lagi?
Padahal jauh sebelum aku bertemu dengan Naruto, aku sudah pasrah. Aku sudah sangat pasrah dan setia menunggu maut yang datang menjemputku. Tapi saat aku mengenalnya, aku tidak bisa menunggu, aku tidak mau mati begitu saja, aku masih ingin bersamanya. Masih.
"Hei Sasuke, apa yang paling kau inginkan sekarang?" tanyanya pagi ini. aku menatapnya sekilas.
Kau
Itu bisik hatiku. Yang paling kuinginkan saat ini adalah kau. Aku ingin selalu bersamamu, ingin selalu melihat wajahmu, menatap dalam matamu, mempermainkan dirimu sehingga pipimu memerah dengan cantiknya.
Tapi aku tidak bisa mengatakannya.
Aku tidak boleh mengatakannya.
Karena keadaan tubuhku ini, aku tidak boleh mengatakannya.
"Tidak ada." Jawabku. tidak ada yang paling kuinginkan selain kau. Tampaknya jawabanku membuatmu tidak puas.
"Bohong!" tuduhnya.
"Aku tidak bohong!" kataku jujur. Aku memang tidak berbohong. Saat ini tidak ada yang paling kuinginkan selain kau.
"Sasuke!" dia mendesakku dengan wajah memelas, membuatku tidak tega. Kututup buku yang sedari tadi menjadi pengalih perhatian. Kutatap mata birunya.
"Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?" tanyaku penasaran. Dia terdiam kemudian tersenyum sedih.
"Hanya ucapan terima kasih karena kemarin kau susah payah mengajakku ke taman bermain," katanya sembari memperlihatkan cengiran khasnya. Aku terdiam, meski dia mengatakannya dengan tertawa, tapi kenapa matanya seperti ingin menangis?
"Ya… aku sedang menginginkan sesuatu," kataku asal.
"Apa?"
"Ular," aku menjawab asal. Membuatnya berkerut bingung dan tak percaya.
"Aku tidak bercanda!" kataku meyakinkannya meski sebenarnya aku tidak menginginkan hewan dengan harga selangit itu. "Aku sedang menginginkan ular untuk kujadikan peliharaanku, dobe!" sungguh alasan yang konyol. Untuk apa aku memelihara binatang melata berbisa itu? Memangnya sejak kapan aku menyukai binatang?
"Tidak ada benda yang lain?" tanyanya sedikit berharap. Aku menatap wajah berharapnya yang benar-benar lucu itu.
"Tidak ada." Kataku usil sembari menekuri bukuku lagi. Aku melihat dia cemberut.
"Benar?"
"Hn."
"Ugh! Kau menyebalkan sasuke!" ucapnya kesal.
"Terima kasih,"jawabku. Terima kasih karena memperhatikanku seperti ini.
"AKu kan tidak memujimu, teme~" ucapnya mengerucutkan bibirnya.
Aku tertawa dalam hati.
.
.
"Terima kasih sudah mengantarku!" katanya riang.
"Kau yang memaksaku mengantarkanmu," ucapku membuatnya tertawa. Sepulang sekolah dia memintaku mengantarkannya. Aku tidak keberatan, aku justru sangat senang dan berharap aku akan bisa terus mengantarkannya.
"Aku pergi dulu." Pamitku namun dia mencegahnya. Dia memberikan sebuah kotak kepadaku, aku menerimanya dengan tampang bingung.
"Itu gambar-gambar ular dari seluruh dunia!" Dia menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal. "Kau ingin ular kan? Tapi aku tidak mungkin menghadiahimu ular sungguhan. Ular kan binatang satwa yang tidak diperjualbelikan. Kalaupun dijual harganya pasti selangit. Jadi aku memberimu gambarnya saja." Lanjutnya salah tingkah.
Aku terdiam. tak percaya bahwa dia serius menanggapi ucapanku.
"Ya sudah. Terima kasih sudah mengantarkanku! Sana pulang!" ucapnya dengan grogi kemudian berbalik pergi.
"Naruto," aku memanggilnya, membuat tubuhnya sedikit menegang, tentu saja dia kaget karena ini pertama kalinya aku memanggil namanya. Dia menatapku dengan gugup.
"Aku juga," kataku kemudian berjalan dua langkah mendekatinya. "Ada sesuatu yang ingin kuberikan kepadamu."
"Oh ya? Apa?" tanyanya penasaran. Mukanya menandakan bahwa dia benar-benar bingung.
"Tutup matamu!" perintahku, dia menutup matanya. Aku membelai rambut pirangnya yang halus kemudian aku mendekatkan wajahku kepadanya. Semakin dekat dengannya, perlahan aku menutup mataku. Aku ingin mengecup bibirnya, mengatakan dengan tindakan itu bahwa aku menyukainya.
"Aku tidak yakin Kau akan bertahan sampai usiamu 17 tahun, Sasuke."
Perkataan dokter membuat niatku terhenti. Aku memandang kelopak matanya yang tertutup, wajahnya yang tegang menanti apa yang akan kuberikan kepadanya. aku tersenyum tipis.
Aku merogoh kantung celanaku, mengambil sebuah kalung yang kubeli untuknya kemudian memakaikannya ke lehernya. "Bukalah." Kataku.
Perlahan dia membuka matanya dan menatap takjub kalung yang kuberikan kepadanya.
"Kakakku bilang, perempuan yang menanyakan hadiah yang kuinginkan, sebenarnya menginginkan hadiah dariku." Alasan yang lagi-lagi kubuat-buat. Membuat wajahnya kembali memerah, aku tersenyum.
"Kakakmu salah!" teriaknya namun tidak kuhiraukan.
"Sewarna dengan matamu, kupikir ini cocok denganmu." Kataku sembari memegang bandul batu sapphire itu dan menatap mata birunya. Aku tidak bisa mengatakannya, aku tidak bisa mengatakan aku saying padanya. Jika aku mengatakannya, aku hanya akan menyakitinya. "Aku pulang dulu." Kataku sembari berbalik pergi. Namun baru beberapa langkah, aku merasakan ujung bajuku di tarik ke belakang.
Ujung bajuku ditarik olehnya.
"Naruto?" panggilan itu membuat tubuhnya tersentak ke belakang, melepaskan kemejaku dengan cepat.
"Ah, maaf… itu… aku…," dia tampak salah tingkah. Tangannya bergerak-gerak liar, tampak gelisah sampai akhirnya dia menangis.
"Naru, kau kenapa?" tanyaku khawatir. Tanganku terulur hendak menghapus air matanya, namun dia menepisnya.
"Aku… tidak apa-apa. Maaf sasuke, aku sedang kacau. Tapi aku tidak apa-apa," katanya kemudian berlari masuk ke rumahnya. Aku menatapnya bingung.
Kenapa dia menangis?
.
.
Aku melihat satu persatu gambar yang diberikannya. Aku tersenyum simpul mengingat wajah salah tingkahnya.
"Ukh," aku meringis kesakitan. Aku menyimpan kartu itu di meja dekat tempat tidurku kemudian memilih untuk berbaring.
Tubuhku lelah, mataku berat. Aku bisa merasakan jantungku berdenyut semakin lemah.
Apa sebentar lagi aku akan mati? Apa seperti ini rasanya mati itu?
Aku memejamkan mataku, rekaman-rekaman saat aku hidup diputar kembali oleh otakku.
Benar, sebentar lagi aku akan mati.
Bukankah manusia akan mengingat kembali kenangannya semasa hidupnya jika dia akan mati?
Ah… aku hanya bisa hidup selama tujuh belas tahun. Terlalu singkat. Aku tidak bisa menjadi dokter, aku akan membuat ayah, ibu dan kakakku menangis. Aku tidak akan lagi mendengar teriakan-teriakan gadis-gadis yang mengaku fansku yang menggangguku. Aku tidak bisa lagi membaca dan berlama-lama lagi di perpustakaan. Aku tidak bisa melihat Kakashi-sensei dengan buku pornonya. Dan aku tidak bisa melihat wajah Naruto lagi.
Bayangan wajah Naruto membuatku memaksakan diri untuk bangun. Jika sekarang adalah saatnya aku mati, aku tidak ingin hanya diam saja. Aku masih ingin hidup, masih.
Dan aku sedikit terkejut ketika mendapat Naruto di sisiku. Mata birunya menggelap. Meski arah pandangnya menatapku, tapi aku tahu dia tidak benar-benar melihatku.
"Dobe," aku memanggilnya membuatnya sedikit terkejut. Sepertinya dia kaget karena aku bisa melihatnya, aku juga kaget kenapa dia bisa ada di kamarku? Dari mana dia bisa masuk ke kamarku tanpa kuketahui? Tapi begitu mataku melihat sepasang sayap putih yang menempel di punggungnya, pertanyaan itu terjawab.
"Jadi tiga hari yang lalu itu bukan mimpi ya?" tanyaku sembari berusaha untuk bangun. Tubuh lemahku ini tidak bisa menopang berat tubuhku bahkan untuk sekedar duduk. Apakah itu berarti aku sudah benar-benar dekat dengan kematianku? Ya pasti aku sudah dekat dengan kematianku, buktinya ada Naruto di sini. "Tiga hari yang lalu, aku melihatmu. Kau terbang meninggalkanku yang sekarat. Apa kau adalah malaikat kematian?"
Pertanyaan itu akhirnya terlontar. Dia menggeleng. Kedua tangannya memegang dadanya kuat-kuat, seperti menahan kesedihan yang sangat.
Apakah dia begitu karena tidak ingin mengambil nyawaku?
"Aku malaikat pengantar roh. Aku bertugas mengantarkan rohmu sampai ke surga," dia menjelaskan dengan tampang ingin menangis.
"Jadi tiga hari ini kau bersikap aneh karena ini?"
Dia diam. Aku menghela nafas berat. Berusaha tetap menjaga kesadaranku. Kenapa Tuhan begitu kejam kepadaku? Disaat aku ingin sekali hidup lebih lama, Tuhan dengan segera mengirimkan seseorang yang aku cintai untuk mengambil nyawaku.
Rasanya menyakitkan.
"Aku sudah siap mati." Kataku. Mata birunya memandangku. "Dari kecil, jantungku sudah lemah. Usiaku memang tidak akan lebih dari usia tujuh belas. Tapi aku tidak menyangka aku akan mati ketika aku menemukan seseorang yang kusayang." Kataku. Dengan ragu aku menggenggam tangannya. Tangan hangatnya selalu bisa membuatku mendapatkan kekuatan yang lebih, sekaligus membuatku tidak bisa menahannya lagi.
Menahan hasratku untuk mengatakan perasaanku kepadanya.
Padahal aku sebentar lagi tidak akan melihatnya.
"Tidak apa, dobe. Kau jangan sedih begitu," kataku menghibur. Aku diam sebentar sebelum aku mengatakannya, mengatakan isi hatiku. "Aku malah bersyukur karena orang terakhir yang kulihat saat aku mati adalah kau."
Dia terbelalak mendengar ucapanku.
"Apa maksudmu?" tanyanya serak. Aku tersenyum, senyuman agar aku tidak menangis.
"Aku … sudah sejak lama menyukaimu, dobe," lancar kalimat itu terucap dari bibirku. Aku melihat ekspresi sakit di wajahnya. Aku terdiam.
Maaf, maaf Naruto. Aku benar-benar minta maaf karena mengatakan ini di saat seperti ini.
Tapi aku sudah tidak bisa menahan perasaanku lagi. Aku ingin kau tahu, kalau aku menyukaimu. Aku sangat menyukaimu.
"Aku hanya ingin kau tahu perasaanku, sebelum aku tidak bisa bersamamu lagi." Kataku.
Aku sadar aku egois. Aku sadar aku akan membuatnya menangis, aku akan membuatnya terluka.
"Maaf, kalau hal ini membuatmu berat mengantarku."
Apa aku pantas meminta maaf? Aku tahu kalau kalimat itu akan membuatmu tertekan. Maaf karena berlaku egois, maaf karena tidak memikirkanmu. "Dobe?"
Aku memanggilnya yang sedari tadi diam. Apakah aku benar-benar menyakitinya?
Gyut.
Tiba-tiba dia memelukku. Memelukku dengan erat. Seluruh tubuhnya bergetar. Apa dia menangis? Apa dia sedang berusaha menahan tangisnya?
Aku tidak ingin dia menangis. "Dobe?"
Dia melepaskan pelukannya, mata birunya memandangku. Dia mati-matian menahan air mata yang sedikit tergenang di matanya.
"Teme… aku juga menyukaimu, sangat," pelan kalimat itu terlontar dari bibir mungilnya.
Kata-katanya itu membuat hatiku hangat, membuat aku tersenyum senang. Aku mengulurkan tanganku, menyapu pipinya, dia menghayatinya dan melakukan hal yang sama. Seperti magnet yang saling menarik, wajah kami semakin mendekat.
"Ciuman perpisahan ya?" tanyanya bergurau. Gurauan yang tidak lucu jika diucapkan dengan wajah ingin menangis seperti itu. Aku semakin mengeliminasi jarak kami, aku dapat merasakan panas nafasnya. Dia menutup mata birunya, aku pun menutup mata hitamku.
Kami berciuman. Bibir kami saling menempel, mengirimkan perasaan kami masing-masing.
"Terima kasih, Naruto," kataku lemah setelah ciuman itu berakhir. Aku membingkai wajahnya, melihat wajahnya untuk yang terakhir kalinya. Kesadaranku semakin berat kupertahankan. Kujatuhkan kepalaku di bahunya. "Sayonara Naruto," kataku lagi. Aku semakin mengantuk. Selamat tinggal Naruto.
Terima kasih.
Terima kasih karena membuat hidupku penuh dengan warna.
Terima kasih dan ….
"Ma… af."
Karena di akhir usiaku, aku malah menyakitimu….
.
.
Naruto sudah tidak ada.
Dia sudah tidak ada lagi. Aku membuatnya menghilang.
Dia menggantikanku. Dia memberikan sepasang sayapnya kepadaku. Sayap yang merupakan nyawanya. Aku sudah tidak bisa melihatnya lagi, aku sudah tidak bisa menggodanya lagi. Aku sudah tidak bisa mendengarnya memanggilku 'teme' lagi.
"Apa kau menyalahkanku atas menghilangnya Naruto?" tanyaku kepada gadis berambut pink dihadapanku. Mata emeraldnya menatapku serius.
Sekarang, dihadapanku ada Haruno Sakura, seorang malaikat juga. Dia mendatangiku dan menceritakan apa yang terjadi padaku dan Naruto. Naruto mengorbankan sayapnya untuk hidupku. Dia tidak bisa melihatku mati.
"Sebenarnya, iya," jawabnya geram. Tangannya mengepal. Aku menatapnya dengan rahang tertutup rapat. "Tapi aku tidak bisa."
Kalimat itu membuatku tersentak. Kenapa? Kenapa dia dengan mudahnya memaafkan aku? Padahal karena akulah Naruto menghilang. Melihat ekspresiku, dia tersenyum sendu.
"Karena itu pilihan Naruto," ucapnya. "Karena Naruto memilih menyelamatkanmu dan mengakhiri hidupnya, aku tidak bisa menyalahkan hal yang sudah diputuskannya itu," jawabnya. Aku terdiam.
"Salahkan saja aku," kataku sarat akan permohonan. Ini memang salahku bukan? Kalau saja aku tidak mengatakan bahwa aku menyayanginya, dia tidak akan menghilang. Dia tidak akan menggantikanku, iya kan? Benar kan?
Kalau saja aku tahu bahwa kalimat "Aku menyayangimu," itu a
"Naruto tidak akan senang jika kau terus menyalahkan dirimu sendiri, Uchiha-kun," kata Haruno-san kepadaku. "Jika aku ada di posisinya, aku juga akan menangis meski kami dilarang menangis," ucap Sakura lagi. Aku terdiam.
Ya… Malaikat tidak boleh menangis saat mengantarkan roh-roh ke surga. Setetes air mata yang jatuh dari malaikat pengantar roh membuat roh yang diantarkan malaikat itu kembali ke tubuhnya dan itu mengacaukan perusahaan. Sesuatu yang tak bisa dimaafkan karena hal itu menentang takdir, mengubah sejarah atau apalah definisi mereka semua.
Karena itulah mereka atau mungkin Tuhan – aku tidak tahu – mencabut kedua sayap malaikat itu. Padahal sayap adalah nyawa seorang malaikat.
"Lalu kenapa kau ingin berbicara kepadaku jika kau tidak ingin menyalahkanku?" aku emosi, mengepalkan tanganku menahan gejolak rasa yang ada di hatiku. Bagaimanapun juga, aku membuatnya mati.
"Aku ditugaskan untuk menghapus ingatanmu tentang Naruto."
"Apa maksudmu?"
"Naruto adalah malaikat. Jika malaikat itu menghilang, maka keberadaannya akan dihilangkan dari orang-orang yang berhubungan dengannya karena jika tidak, manusia akan curiga karena Naruto yang menghilang," kata Haruno-san kepadaku.
"Apa?"
Haruno-san mendekatiku, aku melangkah mundur. "Jangan," kataku takut. Tolong jangan hapus ingatanku akan dirinya. Jangan buat aku melupakannya. Ingatan inilah yang masih menghubungkanku dengannya. Ingatan inilah yang akan membuatku selalu merasa bersamanya.
Karena itu kumohon….
"Maaf Uchiha-kun."
Saat mengatakan itu, tiba-tiba saja pandanganku menggelap.
Naruto…
.
.
Sepuluh tahun kemudian…
Usiaku kini 27 tahun. Aku menjadi dokter spesialis jantung. Sepuluh tahun berlalu dan aku bersyukur aku tidak melupakannya. Haruno-san tidak menghapus ingatanku,
"Kau yang terkenal tanpa ekspresi menangis sembari memanggil nama Naruto. Mana mungkin aku bisa menghapus ingatan yang berharga bagimu itu?"
Itu alasannya. Meski malu karena itu pertama kalinya dalam hidupku aku menangis, tapi aku berterima kasih karena itu.
Aku menatap kartu bergambar ular yang diberikannya dan kalung biru yang kuberikan kepadanya. Dalam perjalanan pulang sepuluh tahun yang lalu, dia pernah mengatakan satu kalimat yang merupakan harapannya.
"Kau pernah bilang kalau kau ingin menjadi dokter kan?"
"Hn"
"Aku berharap aku dapat melihatmu menjadi dokter. Aku ingin melihatmu mengenakan jas putih itu meski sepertinya sifatmu itu tidak akan membuatmu cocok menjadi seorang dokter. Kau kan dingin sekali!"
Aku memang dingin tapi bukan berarti aku tidak pantas menjadi dokter. Aku bisa menjadi dokter yang kuinginkan karenamu, karenamu memberikan nyawa kepadaku.
Hei, Naruto! Apa kau melihatnya? Aku sudah menjadi seorang dokter. bagaimana pendapatmu? Apa kau tetap pada pendirianmu kalau aku tidak cocok menjadi dokter.
"Sudah kuduga kau tidak cocok dengan jas putih melambai-lambai seperti itu, teme~"
Deg! Aku membeku. Dengan pelan aku menoleh ke belakang. Dihadapanku, dia tersenyum. Dengan senyum ceria seperti sepuluh tahun yang lalu.
"Naruto… kau…."
"Hehehe," dia terkekeh, sepertinya sangat menikmati wajah terkejutku. Dia mendekatiku. "Aku pulang, Sasuke."
Aku tidak bisa menjawab, aku masih terlalu syok untuk berkata-kata.
"Aku dipecat jadi malaikat dan diturunkan ke bumi. Aku bereinkarnasi menjadi manusia," katanya. "Hei teme! Kenapa kau diam saja? Ayo katakan sesuatu!" dia tampak kesal karena aku diam saja. Aku tidak menjawab, aku memeluknya.
Aku memeluk tubuhnya dengan erat. Melampiaskan kerinduanku sepuluh tahun ini.
"Kau tidak tahu betapa aku merindukanmu, bodoh!"
"Haha, benarkah?"
"Aku sangat merindukanmu, kau tahu?"
"Aku tahu."
"Kenapa kau tidak segera datang kepadaku, bodoh!"
"Hei, aku kan harus mempersiapkan hatiku."
"Pokoknya kali ini aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Aku melepaskan pelukanku. Menatap matanya. Dia lebih pendek daripada sepuluh tahun yang lalu. Rambut pirangnya masih sepanjang sepuluh tahun yang dulu. Bedanya dia lebih muda dari sepuluh tahun yang lalu dan dia mengenakan seragam SMP.
"Kau yakin? Kau bisa di cap lolicon, sensei," ejeknya dengan senyuman jahil.
"Kau tahu bahwa aku tidak akan pernah main-main dengan ucapanku."
Dia tertawa.
Ah, betapa aku merindukannya. Betapa aku sangat merindukan suara tawanya, melihat wajah cerianya.
"Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu sejak sepuluh tahun yang lalu," kataku. Dia menatapku ingin tahu. "Tutup matamu," kataku. Dia menutup matanya. Aku tersenyum.
Kali ini, aku boleh melakukannya. Kali ini aku tidak akan menahan diri. Meski dia masih SMP, meski kini usia kami berbeda lebih dari sepuluh tahun, aku boleh melakukannya.
Meski aku harus menunggunya, tapi kali ini aku bisa bersamanya, aku bisa memilikinya.
Karena itu, terima kasih….
Terima kasih Tuhan
…
F I N
…
Omake
Tanpa disadari oleh kedua manusia yang tengah berpelukan melepas kerinduan masing-masing, dua malaikat tengah menatap mereka berdua dengan senyum kepuasan.
"Dasar bocah yang menyusahkan! Karena dia posisiku sebagai seorang ketua terancam," katanya marah. Shizune terkikik. "Malaikat yang mengorbankan sayapnya untuk manusia yang dicintainya, akan berada dalam kegelapan tanpa dasar. Dia akan menerima hukumannya karena telah mengacaukan jadwal yang ada."
"Tapi anda masih tetap membantu Naruto."
"Aku tidak mungkin tidak membantunya kalau Sakura memohon dan mengekor kepadaku seperti itu,"
"Ya, sakura bahkan rela diturunkan menjadi level D asal Naruto tidak dikurung di tempat itu dan Ingatan Sasuke akan Naruto tidak dihapus."
"Yang jelas, kita sudah tidak ada urusan lagi dengannya, ayo kita pergi, Shizune," Tsunade berbalik pergi. Shizune menunduk sebentar sebelum akhirnya mengikuti tuannya. Sebelum pergi, Tsunade melirik ke bawah, ke arah gadis berambut pirang. Wanita itu tersenyum.
"Berbahagialah, Naruto"
…
Hufft…
akhirnya publish juga, sorry lama ni soalnya aku sibuk banget ngurusin ospek maba... m(_ _)m
Aku gagal bikin Sasuke POV! Kok kesannya Sasuke di sini cengeng banget ya? Kayak cewek! Hiks…
Ya… sudahlah, ini di luar kemampuanku. Hahaha *Plak*
Gimana dengan chapter dua? Aku mohon repiuwnya agar karya selanjutnya aku bisa lebih baik lagi. *perasaan ngomong gini terus tapi fictnya gak bagus-bagus*
Ok... Sampai jumpa di fict saya berikutnya~
