CHAPTER 2. Masa Lalu yang Tertutup Rapat
"Eh, Sakura!"
"Hmm? Ada apa, Naruto?"
Sebelum membisikkan apa yang ingin disampaikannya, cowok itu memastikan tidak ada orang lain di sana.
"Sepertinya guru Kakashi sudah punya pacar…"
"Apa?"
"Shhhh…" Naruto meletakkan telunjuknya di bibir Sakura.
"Kamu tahu dari mana?"
Naruto kembali melirik kiri kanan. "Aku melihatnya setiap pagi pergi ke suatu tempat dengan membawa bunga mawar putih…"
Sakura mengangguk-angguk.
"Bagaimana?"
"Apanya yang bagaimana?"
"Ayo kita buntuti dia!" ajak Naruto bersemangat.
Sakura terlihat berpikir-pikir sejenak. "Besok pagi ya…kebetulan hari minggu…"
"Nah! Kebetulan sekali kan? Ayo, Sakura…kapan lagi nih…" desak cowok pirang itu.
"Baiklah, aku juga penasaran! Siapa wanita yang menjadi pilihan hati guru," Sakura menyeringai.
"Yossh! Kalau begitu besok aku tunggu di depan rumahmu ya! Sampai besok!"
Sakura mengangguk pasti.
"Ehm, Sakura…"
"Ada apa lagi?"
"Cium dulu…" pintanya dengan memonyongkan bibirnya.
Bukannya ciuman yang didapatkan melainkan…
BRUUUAAGGHHHH!
"Selamat malam, Naruto!"
Bogem mentah dari gadis pujaannya, tepat di pipi kanannya!
Malam berganti subuh, subuh berganti pagi, pagi berganti siang, siang berganti sore…(Kelewataaann!)
Oh maap ya! Kalau begitu kita rewind lagi. (Pencet remote rewind)
Malam berganti subuh, subuh berganti pagi. Kakashi Hatake telah bangun pagi-pagi sekali untuk mengambil bunga yang akan dibawanya ke suatu tempat. Tempat yang tak seorang pun tahu bahwa dia pergi ke sana. Hanya saja, sepandai-pandainya tupai ngesot, eh maksudku, melompat…pasti akan nyungsep juga.
"Ah, Tuan Kakashi. Ini bunganya…"
"Terima kasih, Nek Midori, aku ingin sekali bisa menanam bunga mawarku sendiri, tapi, apa kata mereka jika aku berkebun mawar?" Kakashi curhat.(Jiaahh, curhat!)
"Haha, mengapa tidak sembunyi-sembunyi saja? Seperti Anda merahasiakan ke mana bunga ini di bawa,"
Kakashi tersenyum di balik maskernya. Mungkin…itu bukan ide yang buruk.
Naruto dan Sakura sudah membuntuti Kakashi sejak dia mengambil bunga pada seorang wanita. Mereka sempat mengira itu adalah kekasih sang guru akan tetapi…tidak mungkin 'kan Kakashi berpacaran dengan nenek-nenek?
Sekarang ilmu Naruto dan Sakura sudah cukup tinggi. Tidak seperti dulu, saat membuntuti sang guru dalam rangka ingin melihat keseluruhan wajahnya, saat itu Sasuke juga masih ada. (Naruto dan Sakura: Iyaa….Sasuke… *duduk di pojok, aura suram menyelimuti mereka* Ahh, maaf! Tapi, cepat kejar Kakashi!)
Mereka tidak tahu, ke mana sang guru akan pergi. Mereka melewati hutan, gunung, lembah, sungai, lautan (*PLAK! Lebaayyyy, melewati hutan saja kok…)
Setelah memakan waktu beberapa menit, mereka melihat Kakashi berhenti di sebuah pohon besar di samping danau. Naruto dan Sakura terkesima melihat pemandangan itu. Mereka bahkan tidak tahu ada tempat seperti itu.
"Naruto, Sakura…sampai kapan kalian akan mengikutiku?"
Naruto dan Sakura terkejut bukan main. Ternyata mereka sudah ketahuan.
"Keluarlah…"
Mereka berdua pun keluar dari tempat persembunyian seperti anak-anak yang ketahuan habis kabur dari jam pelajaran.
"Hehe…guru mau menemui pacar guru ya…" Naruto nyengir iseng.
Kakashi tidak menjawab melainkan menatap pohon itu.
"Mungkin…aku bisa mempercayai kalian untuk mendengarkan apa yang selama ini kusimpan…" ujar Kakashi. "Kemarilah…"
Naruto dan Sakura segera berlari mendatangi Kakashi yang masih menatap pada satu bagian dari pohon itu.
"Guru mau bilang apa?" Naruto begitu antusias. Bagaimana tidak, gurunya yang satu itu penuh dengan rahasia.
"Naruto…coba lihat itu…" bisik Sakura seraya melirikkan matanya ke pohon.
Naruto memalingkan wajahnya ke pohon yang terus dilihat oleh sang guru. Di sana, dia melihat nama-nama yang diukir di batang pohon.
"Kakashi Hatake…Hikari Uchiha…Oh! Jadi, pacar guru adalah Hikari Uchiha! Tu…tunggu dulu…Uchiha? Jadi masih ada Uchiha yang lain?"
"Dia…"
"Oh! Jangan-jangan dia juga korban dari pembantaian yang dilakukan Ita…umph!" Naruto tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena Sakura menyikut perutnya dengan keras.
"Dia tidak menjadi korban dalam kejadian yang kau katakan tadi, Naruto…" ujar Kakashi.
"Berarti…dia masih hidup?"
"Naruto! Bisa diam tidak? Dan dengarkan saja?" Sakura mulai terpancing emosi lagi.
"Dia sudah pergi sebelum kejadian itu…"
Naruto dan Sakura kini tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka yakin, saat mengatakan hal itu, suara Kakashi terdengar berbeda.
to be continued
