Disclaimer: I don't own Kuroko no Basket. I don't make money from writing this fanfiction. The story contains spoiler for Kuroko no Basket. There are quotes from manga, anime, wiki and other sources.

Rhapsody in Blue

Chapter II

Shirogane Eiji memasuki gym basket terbesar di SMA Rakuzan. Gym ini biasanya hanya digunakan oleh anggota regular dan anggota level satu. Namun, mengingat hari ini adalah hari pertama latihan basket setelah libur panjang maka semua anggota klub berkumpul di sana sekarang. Eiji menatap wajah-wajah baru yang baru kali ini dilihatnya. Dalam hati, ia cukup puas. Tim basket Rakuzan mendapat banyak anggota baru tahun ini.

"Pelatih." Akashi sudah berdiri di tepi lapangan.

"Akashi."

"Saya ingin mengusulkan latih tanding hari ini."

"Latih tanding?" Ia mengernyitkan dahi. Pada awal tahun, biasanya hal pertama yang akan mereka lakukan adalah menguji kemampuan anggota baru untuk memutuskan tingkat yang sesuai dengan kemampuan mereka. Apa gunanya Akashi menyarankan latih tanding?

"Tiga lawan tiga," lanjut Akashi.

Ia menatap Akashi. Akashi pasti sedang merencanakan sesuatu tapi... "Baiklah," ia menyetujui.

Akashi berbalik untuk menghadap anggota lainnya. "Kita akan berlatih tanding hari ini."

Semua bertukar tatapan bingung.

"Tiga lawan tiga. Tetsuya, Shouta dan aku akan berada di tim yang sama sedangkan Reo, Kotarou dan Eikichi akan berada di tim lain."

Satu kebiasaan aneh Akashi adalah menyebut siswa lain dengan nama pertama mereka. Biasanya hanya sahabat dan keluarga yang melakukan itu. Eiji tidak tertipu dengan berpikir bahwa Akashi menganggap orang lain sebagai sahabatnya kecuali mungkin untuk Kuroko Tetsuya yang juga memanggil Akashi dengan nama pertamanya juga.

"Oh! Ini akan seru sekali!" Hayama Kotarou bergumam gembira. "Iya kan, Reo-nee?"

"Kau benar, Kotarou." Mibuchi Reo menjawab.

"Ayo, Akashi!" Nebuya Eikichi menantang.

Higuchi Shouta di sisi lain malah bingung. "Eh? Aku?" Ia bergabung dengan tim Akashi? Meskipun ia anak kelas tiga, sejujurnya ia agak segan dengan Akashi.

"Ayo bersiap-siap, Higuchi-senpai." Kuroko mendadak muncul di depan mereka.

"Argh!"

"Darimana saja kau?" Yagami Mashiro bertanya, shock. Yagami adalah anak kelas tiga yang menjadi regular di klub basket.

"Aku sudah di sini dari tadi," Kuroko mengatakan dengan ekspresi datar.

"Kau ini, bisa-bisa aku kena serangan jantung." Yagami mengeluh.

Tapi Kuroko sudah meninggalkan mereka untuk bergabung dengan Akashi di lapangan, diikuti oleh Higuchi.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Pertandingan dimulai. Bola sekarang dikuasai Nebuya yang kemudian mengopernya ke Mibuchi.

"Oh! Lemparan three point."

Itu adalah andalan Mibuchi sebagai shooting guard dari Rakuzan.

Ketika lawan mencetak skor, Kuroko mengambil bola, berputar dengan sangat cepat dan melempar bola basket menuju ujung lapangan sampai ke tangan Akashi yang kemudian melakukan dunk. Skor satu sama dalam waktu tak lebih dari satu menit.

Shirogane Eiji tidak akan percaya ini jika ia tidak melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.

"Astaga!" komentar satu anggota level satu dengan mata terbelalak.

"Apa-apaan itu tadi ..."

"Benar-benar pemain bayangan Generation of Miracles!"

"Oh! Pemain ke enam itu kan?"

"Apa itu pemain keenam?" seorang anak baru bertanya.

"Kau itu gimana sih?" balas kakak kelasnya heran. "Masa kau ikut klub basket tapi tidak tahu apa itu pemain ke enam?"

"Pemain ke enam dalam basket adalah pemain yang bukan starter tapi lebih sering bermain dibandingkan dengan pemain cadangan lainnya," jelas Shirogane Eiji. "Kehadiran seorang pemain ke enam merupakan tanda keunggulan tim. Sebuah strategi yang umum dipakai adalah untuk memasukkan pemain ke enam ketika skor sudah terpaut jauh."

Anak-anak baru di sekelilingnya mengangguk paham.

Tentu saja kekaguman mereka belum usai. "Aku tak percaya! Akashi bisa dunk!"

"Iya! Bukannya tinggi Akashi cuma 173 cm?"

"Hebat sekali dia!"

"Pantas saja ia bisa menjadi kapten Generation of Miracles."

"Akashi pasti berlatih habis-habisan," gumam Sato Takuo, yang sedari tadi berdiri disampingnya.

"Kau betul," dia setuju. "Rata-rata pria dewasa memiliki lompatan vertikal setinggi 50 cm. Akashi harus memiliki lompatan vertikal setinggi minimum 104 cm agar ia bisa melakukan dunk."

Eiji memfokuskan kembali perhatiannya ke lapangan. Setelah menyamakan tadi, Akashi tidak membiarkan lawannya menyentuh bola sama sekali. Ia benar-benar mendominasi seluruh permainan.

"27-3."

"Bahkan tiga Uncrowned Kings tidak bisa berbuat apapun melawan Akashi," seseorang berkomentar.

Melihat bahwa pertandingan itu hampir berakhir dan mereka tidak mencetak skor lagi, Nebuya, Hayama dan Mibuchi berfokus untuk menghentikan Akashi dengan cara menghadangnya. Tapi tak ada gunanya.

"30-3!"

"Tim Akashi menang!"

Hayama, Nebuya dan Mibuchi tergeletak di lantai dengan ekspresi tak percaya di wajah mereka.

Untuk beberapa saat, tak ada seorang pun di gym itu yang bicara.

Keheningan akhirnya terpecahkan ketika seorang anak baru membuka mulut dan bertanya. "Apa itu tadi?"

"Ankle break," jawab Eiji.

"Akashi benar-benar luar biasa," gumam Sato kagum. "Baru kali ini aku melihat ankle break secara langsung."

Eiji melirik asistennya. Sato benar. Akashi Seijuurou sungguh berbakat, baik di dalam maupun di luar lapangan. Nilai tes masuknya sempurna. Ia juga banyak mendengar mengenai hal lain yang bisa dilakukan Akashi. Bahkan guru-guru lain juga membicarakan tentang Akashi.

Ia mengalihkan pandangan kembali ke lapangan. Akashi tengah tersenyum kecil pada Kuroko.

Sepertinya Akashi hanya membiarkan skor awal itu untuk memamerkan keahlian Kuroko. Menunjukkan kekuatannya dari awal untuk menegaskan dominasinya atas klub basket dan mematahkan semangat lawan. Akashi benar-benar sangat cerdik.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Dua minggu telah berlalu sejak latih tanding. Setiap anggota di klub basket telah beradaptasi dengan kapten baru dan caranya menjalankan klub. Kuroko Tetsuya juga, sudah terbiasa dengan kehidupan di Rakuzan. Ia bahkan cukup akrab dengan anggota regular yang lain dan tahu kebiasaan serta sifat-sifat mereka.

Ada Mibuchi Reo yang entah kenapa memanggilnya Te-chan dan menyebut Seijuurou 'Sei-chan' dengan seenak hatinya. Ada juga Hayama Kotarou yang sangat energik serta Nebuya Eikichi yang hobi makan. Selain tiga Uncrowned Kings, ada juga Yagami Mashiro dan Higuchi Shota, yang juga merangkap manajer klub. Dengan tambahan ia dan Seijuurou, maka ada tujuh regular dalam tim sekarang.

"Kurokocchi!"

Nama panggilan itu dan suara itu ... Apa ia tidak salah dengar?

"Kurokocchi!"

Tetsuya berbalik dan melihat Kise Ryouta berlari ke arahnya. Apa yang dilakukan Kise di Kyoto?

"Kurokocchi!" Kise menjerit gembira dan lalu memeluknya.

"Tolong lepaskan aku, Kise-kun," gumamnya setelah beberapa saat. "Kau berat."

"Apa maksudmu?" Kise mulai menangis dan mengucurkan air mata buaya. "Kau tega sekali, Kurokocchi."

Seluruh penghuni gym menatap mereka sekarang dengan penuh rasa ingin tahu.

Meskipun raut mukanya tetap datar, tapi Tetsuya mulai jengah. "Kau bertingkah seperti anak berumur lima tahun," ujarnya. "Dan apa yang kau lakukan di sini, Kise-kun?"

"Kita kan sudah lama tidak ketemu!" balas Kise riang. "Sudah berbulan-bulan nih!"

"Kita baru ketemu sebulan lalu," ia mengoreksi. Kise tak pernah berubah. Selalu saja suka melebih-lebihkan. "Kau juga mengirim pesan tak berguna setiap hari." Tetsuya bahkan tahu lebih banyak tentang SMA Kaijou daripada Rakuzan karena pesan-pesan tak berguna nonstop dari Kise itu.

"Kurokocchi!" Kise meratap dengan pilu.

Tetsuya menatap Kise dengan tegas. "Kise-kun."

"Baiklah. Baiklah." Kise mengangkat dua tangannya ke atas, tanda menyerah. "Aku tadi mencari mu di gym lain. Tapi mereka bilang kau ada di sini."

"Aku membantu mengawasi anggota level dua," jelasnya.

Tim basket Rakuzan bahkan lebih besar dari Teikou dengan hampir 200 orang anggota. Dengan demikian, klub memiliki tiga level terpisah yaitu level satu, dua dan tiga. Namun, kalau setiap level di Teikou memiliki pelatih mereka sendiri dengan kepala pelatih, Rakuzan hanya memiliki satu pelatih ditambah satu asisten pelatih. Oleh karena itu, Tetsuya harus turun tangan membantu mengawasi latihan basket. Seijuurou beserta pelatih sudah membuatkan program latihan yang tinggal diikuti saja. Jadi sebenarnya tugas Tetsuya tidak berat-berat amat.

"Selamat menjadi wakil kapten, Kurokocchi." Kise berkata dan lalu memandang semua anggota level dua yang sudah berhenti berpura-pura latihan bola basket dan sekarang sedang sibuk menguping pembicaraan mereka tanpa malu-malu lagi. "Kalian semua harus giat belajar dari Kurokocchi."

"Apa maksud nya, Kise-san?" Osakada, anggota paling berani dari level dua bertanya.

Tetsuya mengerang dalam hati. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini.

"Kurokocchi ini adalah guruku dulu waktu di Teikou," Kise memberitahu dengan senang hati.

Tetsuya sudah ingin menjitak kepala Kise namun menahan dirinya. Kenapa Kise harus mengungkit-ungkit hal itu sih?

"Eh?" Osakada tampak terkejut mendengarnya. "Kuroko adalah guru Kise-san?"

"Iya." Kise menjawab dengan penuh semangat. "Aku baru mulai bermain basket pas kelas 2 SMP."

"Serius?" seseorang bergumam tak percaya.

"Kelas 2 SMP?"

"Aku baru dengar," tambah yang lain.

"Generation of Miracles benar-benar menakjubkan."

"Kurokocchi adalah orang mengajariku tentang basket," tambah Kise bangga.

Anggota tim basket yang masih anak-anak kelas satu menatapnya dengan takjub sekarang. Pasti gosip ini akan menyebar ke seluruh tim basket dalam waktu singkat. "Aku tidak mengajarkan apa-apa tentang basket," gumamnya kesal. Kise dari dasarnya sudah berbakat. Dalam waktu singkat saja, ia sudah mampu menguasai berbagai teknik basket yang bahkan Tetsuya saja masih kesulitan. Tetsuya memang dulu sempat iri dengan Kise. Hal yang tak pernah ia akui pada siapapun. "Dan kau kan juga tidak suka padaku awalnya."

Kise hanya menyengir mendengarnya.

Tetsuya jadi ingin memukul Kise. Lalu ia teringat bahwa jika Kise mencarinya di gym lain, pasti Kise sudah melihat anggota regular di Rakuzan.

"Apa kau tadi melihat sesuatu yang menarik?" tanya Tetsuya.

"Mungkin," jawab Kise, menyeringai. "Boleh aku pinjam bolanya?"

"Tentu saja," jawab Osakada langsung.

Kise melemparkan bola itu ke ring dan masuk dengan sangat mudahnya.

"Lemparan three point Mibuchi-senpai," tukas Tetsuya.

Seringai Kise makin lebar.

Anggota lainnya menatap Kise tanpa berkedip saking takjubnya. Kise memang baru saja menirukan gerakan Mibuchi dengan sempurna.

"Dia cukup jago," kata Kise. "Tidak sejago Midorimacchi pastinya."

Arogan sekali. Baik Kise maupun anggota Generation of Miracles yang lainnya semua sama-sama arogan. Dan tidak ada yang separah Aomine.

"Oh, ya, Kurokocchi, aku punya sesuatu untukmu!" Kise mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

Tentu saja Tetsuya mengenali kotak yang dibawa Kise. Kotak dari Pierre Herme, toko kue terkenal dengan cabang di Tokyo dan Osaka.

"Macaron vanila favoritmu!" kata Kise bangga.

"Terima kasih, Kise-kun."

Kise tersenyum gembira. "Sama-sama, Kurokocchi."

Ia membuka kotak itu. Tetsuya bisa mencium wangi vanila yang luar biasa. Creme brulee macaroon dan macaroon infiniment vanille kesukaannya. Tetsuya selalu suka makanan yang ada vanilanya.

Pintu gym dibuka dan Akashi Seijuurou berjalan masuk.

"Hai Akashicchi!" Kise melambaikan tangannya dengan penuh semangat.

"Ryouta."

Seijuurou menatap anggota lainnya dengan sekilas dan mereka langsung sibuk berlatih kembali.

"Ryouta, kenapa kau tiba-tiba datang kesini?" tanya Seijuurou.

"Aku ada jadwal pemotretan hari ini di Gion untuk busana musim semi," Kise menjelaskan. "Ya sekalian saja main kesini. Kan kita sudah lama tidak ketemu, Kurokocchi, dan kau juga Akashicchi."

Seijuurou menatap kotak di tangan Tetsuya. "Macaroon vanila kesukaan Tetsuya," katanya. "Baik sekali kau."

Kise hanya tersenyum kecil. "Bagaimana kabarmu, Akashicchi?"

"Aku baik-baik saja," jawab Seijuurou.

Telepon Kise berdering mendadak. "Ah, maaf," ia memberi mereka tatapan mohon maaf. "Halo? Ah." Kise tampak terkejut. "Tapi aku-" ia mencoba untuk memprotes. "Ya aku mengerti." Kise mematikan smartphonenya. Ia nampak agak kesal."Fotografernya menelpon. Mereka mengubah jadwal pemotretan jadi aku harus pergi sekarang."

"Aku akan mengantarmu ke gerbang depan, Kise-kun." Tetsuya menawarkan.

"EHHH?" Kise terkejut. "Tidak perlu repot-repot, Kurokocchi," jawab Kise, memberikan senyum kecil.

"Tidak apa-apa," ia berpaling untuk melihat Seijuurou. "Kami jalan dulu."

Seijuurou mengangguk.

"Ayo, Kise-kun."

"Aah ..." Kise menatapnya dan kemudian menatap Seijuurou dan kemudian menatapnya lagi. "Baiklah. Sampai jumpa lagi, Akashicchi!"

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Mereka berjalan dalam diam tapi Tetsuya tahu Kise akan menjadi orang pertama yang bicara.

"Akashicchi, Kurokocchi dan tiga Uncrowned Kings," Kise bergumam. "Ini namanya curang," ia cemberut dan kemudian berubah serius. "Ini seperti Teikou lagi."

Tetsuya tidak merespon. Pendapat Kise tidak salah. Dalam banyak hal, SMA Rakuzan mengingatkannya pada Teikou dan klub basket Rakuzan mengingatkannya pada klub basket Teikou ini. Mereka semua sudah lulus dari Teikou tetapi tampaknya hal-hal yang dulu mereka alami masih sangat membekas.

Akhirnya mereka tiba di gerbang depan.

"Aku harus pergi sekarang," kata Kise dan mendesah. "Padahal aku sudah jauh-jauh ke Kyoto. Malah harus buru-buru cabut. Kita kan belum sempat ngobrol banyak."

"Aku akan ke Tokyo minggu depan." Tetsuya memberitahu.

"Eh? Serius?"

"Iya." Tetsuya menjawab. Ia berjanji ibunya untuk pulang ke rumah minimal sebulan sekali. Itu satu-satunya syarat yang diajukan ibunya ketika ia tahu bahwa Tetsuya akan tinggal di Kyoto selama masa SMA-nya.

"Itu bagus Kurokocchi!" kata Kise gembira. "Kalau begitu, kau harus datang dan menonton latih tanding antara Kaijou dengan Seirin!"

Ia menatap Kise. "Seirin?"

"Iya!"

"Baiklah." Ekspresi wajah Tetsuya tetap datar seperti biasa meskipun ia sangat bersemangat sebenarnya.

"Kurokocchi memang yang paling baik." seru Kise senang.

Seirin... sekolah yang tadinya mau ia masuki. Akan menarik sekali untuk melihat bagaimana Seirin akan menghadapi Kise dan Kaijou di pertandingan basket nanti.

Author's Note:

Hi, everyone!

The match is my head canon of how Akashi gain his team obedience so soon even though he is only first year student as commented by Shutoku team.

Thank you for reading and please review.