I lost him; the most beautiful face I've seen in my life. I failed him; the purest heart of all. I miss him, deeply, dearly, I need him; my Monalisa.


Aku menunggu di balik jeruji yang kubuat sendiri. Menatapnya dari kejauhan tidak pernah sesakit dan sepedih ini. Dia begitu indah; setiap gerakannya yang sensual dan juga elegan. Aku merindukannya, aku si kurang ajar yang tidak tahu diri akhirnya menerima karma.

I loved him, damn, I still do. Aku mencintainya hingga suaraku parau kehabisan daya karena setiap malam aku menjerit. Sarat akan senyum dan kehadiran fisiknya di duniaku yang tiba-tiba terasa hampa. I was such an asshole. I was such a stupid asshole.

"What the fuck are doing you here, Park?"

Yeri.

Yeri kembali menangkap basah aku yang berada di seberang jalan rumah Baekhyun; oh Yeri, jangan salahkan si bodoh ini yang merindukan bulannya. Aku bak mayat hidup tanpa dia, Matahariku yang mampu bersinar di malam gelap gulita.

"Come on, Yeri. This is Valentine Day, aku ingin—"

"I swear to God, Park. Aku akan memanggil security kompleks jika aku melihatmu lagi di sini."

Yeri tampak berang; sangat berang, matanya penuh kebencian yang mendalam menatapku. Mana mungkin tidak; aku menghancurkan Baekhyun-nya, aku menyiksa dan menghancurkan hati seorang Byun Baekhyun; the most delicate creature, satu-satunya alasan yang membuat aku berani melamarnya. "Kau tidak akan berani," ujarku seakan memelas.

"Oh, try me, Park. Aku bisa saja berteriak saat ini juga." Ancamnya menyeringai, namun tatapannya berubah lembut begitu matanya melirik sosok Baekhyun yang tampak tengah melayani seorang pembeli bunga. "Tapi aku sayang Baekhyun oppa, mengetahui kau ada di sini akan membuka lukanya."

"Aku akan menyembuhkan luka itu."

Yeri lalu mendengus, mencomooh, dan meragukan ucapanku. "Menyembuhkan?"

Aku menahan napas, menahan pula segama gulat emosi di dalam hatiku; menahan agar aku tidak berteriak dan menyerukan nama Baekhyun dari paru-paruku. "I'll promise I'll take care of him—"

"Oh fuck off, Park. Get lost. Never come back."

Lalu aku hanya bisa terdiam; melihat punggung Yeri membelakangiku dan berjalan menuju kediaman Byun yang dulu adalah rumahku. Sebelum aku kehilangannya, sebelum aku menjadi orang bodoh yang kehilangan kampung halaman. I lost my home; because I ruined it... I ruined it pretty bad.

Aku membalik badan hanya untuk mendapati Kyungsoo melihatku dengan perasaan yang tidak wajar; aku membuang muka. Kembali ke dalam mobil dan segera menyalakan mesin; aku tidak bisa menahan lagi. Aku berteriak hebat. Aku memekik. Aku merutuki diriku.

"PERSETAN KAU PARK!"

"BAJINGAN!"

Aku menjadi-jadi. Kuinjak gas hingga jarum menyentuh angka tertinggi.

I love you, baby.

If he can't forgive me; neither do I.

Lalu kuhantamkan mobilku ke pagar utama kompleks; suara hantaman keras terdengar sebelum dengungan kencang memenuhi gendang telingaku. Rasa sakit membuat tubuhku kebas; aku siap menerima sambutan Malaikat Maut dan menghantarkanku ke Neraka karena aku pantas akan itu.

Kurasakan tubuhku melayang; dan mataku perlahan terbuka melihat langit. Biru. Indah. Seperti Baekhyun-ku, muse-ku, Monalisaku. Inspirasi dari segala karyaku, satu-satunya cahaya kehidupan di dunia hambarku.

I don't know why I dissapoint you.

My love.

I wish God is kind enough to let me meet you in another life.

Itulah harapanku sebelum mataku melihat kelabu. Kematian mungkin tidak sudi pula menyambutku.

.

.

"Hey."

Aku terpana. Di depanku aku melihat sosok Baekhyun yang tengah merona; wajahnya memerah dan matanya menerawang – aku terpana akan kecantikannya. Aku terlena. "Hey, you." Ucapnya bagai nyanyian bidadari surga. Ia lalu bangit dan menyambut pelukan hangat dari seorang pria.

Aku cemburu buta.

Sebelum aku melihat bahwa lelaki itu adalah aku.

Aku lalu bergetar takut. Apa yang terjadi.

"I'm so lucky to have you," bisik aku yang di sana menciumi seluruh wajah Baekhyun. Aku tertegun. Aku mencoba berteriak namun suaraku tidak keluar; kucoba meraih mereka namun aku tanganku tak bisa bergerak. Aku seolah boneka yang dikendalikan seseorang di atas sana.

Mengolokku.

Menertawakanku.

Dan membuatku menonton semua kenangan pahit yang pelan-pelan membunuhku.

Apa yang mereka lakukan kepadaku? Bukannya seharusnya aku berada di neraka dengan api biru yang membakar ulu hatiku hingga hangus sebelum tumbuh kembali dan siap untuk dibakar lagi. I don't deserve this punishment. Please let me out of this.

"Aku lebih beruntung mendapatkanmu, Chanyeol." Baekhyunku menyahut, matanya menutup begitu lehernya dicumbu. Aku lalu paham; mereka tengah berada di kamar hotel Honeymoon mereka. Aku paham. Tuhan ingin membuat aku menerika karma lebih lama.

Atau ini adalah Neraka?

Yang diciptakan untukku?

Aku benar-benar mencintai Baekhyun; bahkan sekarang aku masih dapat melihat bagaimana mataku memujanya, memperlakukannya begitu lembut.

Lalu semua scene berputar terlalu cepat.

Hingga berhenti di hari aku dipertemukan bersama Kyungsoo, stimulan semua kebodohanku, dan segala racun yang menghancurkan rumah tanggaku. Aku memohon agar aku dapat menutup mata; aku tidak sanggup menyaksikan ketololanku.

"Kyungsoo-ya! Kenalkan, ini Chanyeol, suamiku." Begitu bangga Baekhyun mengenalkanku sebagai suaminya, aku masih mengingat bagaimana Kyungsoo berbinar menatapku. Oh, Tuhan... seharusnya aku dapat membaca sinyal dari awal.

Dimana ia akan menggodaku dengan senyum nakalnya.

Dimana ia berdalih bahwa ia kesepian dan ingin menginap bersama kita; lalu ia akan mengendap malam-malam masuk ke kamarku dan Baekhyun. Menyentuhku di tempat yang seharusnya hanya pantas disentuh Baekhyunku.

Aku masih ingat kebodohanku.

Kesalahan fatalku.

Menerima semua itu.

Lelaki memang sangat bejat dan sampah serakah yang tidak puas.

Apa yang kulihat?

Setan apa yang merasukiku hingga aku menduakan Baekhyunku dengan biadab. Aku ingin rasanya menangis darah, begitu melihat saat-saat dimana aku tergoda olehnya. Oleh serigala berkedok Dewi Cinta. Hanya terbakar birahi semata; melampiaskan hasrat karena bisikan iblis yang menginginkan aku berpisah dengn Baekhyun.

Aku mabuk malam itu. Bukan alibi, karena aku masih sangat sadar itu Do Kyungsoo. "So tell me, bagaimana rasanya mempunyai pasangan hidup seorang buta?" Aku tidak paham kenapa aku di sana tidak marah dan merasa terhina dengan pertanyaan Kyungsoo saat itu.

Jemari itu lalu menyentuh lenganku.

Aku di sana justru menatap balik dengan tatapan merayu.

Oh, fuck you, Park.

You don't deserve Baekhyun at all.

"It is fine." Balasku. Aku ingin mengumpat, it was wonderful with Baekhyun. Do not dare you to understatement this. Mataku tampak melirik bibir lelaki yang bukan lelakiku; aku merasakan dadaku sesak—seolah-olah aku dikhianati olehnya. Aku tidak bisa terima. Aku tahu scene selanjutnya dan aku lebih memilih mati daripada menyaksikannya.

Tikus rakus.

Tidak puaskah aku dengan Baekhyunku?

Lalu kenapa aku berada di keadaan intim bersama dia yang bukan pemilik hatiku. Apakah pelet yang aku rasakan saat itu? Guna-guna cinta atau kebodohan semata karena manusia pada dasarnya tidak mudah puas.

Aku meringis, meringkuk kesakitan. Setiap sentuhan yang mereka lakukan menanam pisau tajam di tubuhku. Setiap erangan yang kudengar menancapkan panah di indera perabaku.

Ya Tuhan.

Aku mohon, lepaskan aku.

Seakan menolak permintaanku, aku arahkan pada pintu depan. Dimana aku melihat Baekhyun masuk tanpa mengetahui apa-apa; aku merana, kekasihku yang lugu. Ia tengah membawa rangkaian bunga yang selalu ia berikan padaku setiap paginya, wajahnya tampak bahagia. Ia masuk dan berdiri beberapa meter saja dari dua lelaki jahanam yang saling mencumbu tanpa tahu malu.

Baekhyunku.

Ingin aku memelukmu, kasih.

Ingin aku berlutut maaf padamu hingga air mataku mengering.

"Chanyeol, babe?" Suara itu memanggil, ingin aku ke sana dan merengkuhnya.

"Oh, hi, babe!" Aku mendesis melihat senyuman nakal di sana, aku tidak sadar betapa jahatnya seorang Park Chanyeol saat itu juga. "Kau sudah balik?" Tanyanya sembari menahan Kyungsoo yang memeluknya dari belakang.

Baekhyun hanya tersenyum manis.

Oh, aku tidak bisa menonton itu lebih lanjut.

Park stupid Chanyeol and his wicked fantasy; aku yakin dia senang mendapatkan sensasi saat Kyungsoo menyentuhnya di depan kekasih butanya. How evil and sick. And when they kiss in front of my Baekhyunee, I feel a blade push upon my body.

Aku sampai tak sadarkan diri kembali.

Argh!

Aku terjaga.

Dan mataku terbuka melihat langit-langit berwarna putih; seluruh sendiku tidak bisa bergerak. Aku hanya melihat apa yang ada; kepalaku bagai disangga semacam alat, leherku kebas dan seolah-olah putus dari badanku. Bola mataku bergerak; dan aku dapat mendengar teriakan-teriakan samar dari beberapa orang.

Lalu kepala seseorang muncul di jangkauan pandanganku; seolah mengobservasiku teliti dengan alat kecil di tangannya yang dapat mengeluarkan cahaya bagai senter mini. Aku mendengar ia mengatakan sesuatu yang tertuju padaku, mungkin memberi isyarat? Aku hanya bisa mengerjap membalas karena mulutku tidak dapat mengeluarkan suara.

Dan wajah familiar mulai terlihat.

Keluargaku.

Kakak perempuanku yang tampak sembab.

Ibuku dengan mata bengkak.

Dan ayahku yang hanya bisa terdiam dengan ekspresi terluka.

Aku rasa aku masih selamat walau sekarat.

Mungkin aku berada di rumah sakit, dengan mereka yang mengasihi lelaki kangsat sepertiku ini berada mengelilingi. Aku mencari wajah lain, wajah lain yang aku kasihi, walaupun tidak mungkin ia berada di sini.

Baekhyunee.

My Baekhyunee.

I will be the happiest man if you're here.

Hari berganti hari.

Minggu berganti.

Sebulan lebih aku terjaga dengan keadaan yang sama.

Pagi hari disambut suster menyapa, membasuh tubuhku dengan perlahan; mencoba tidak menyakitiku. Aku dapat merasakan rusukku perih ketika ia mengusap handuk basah di sana, lututku yang berdenyut sakit saat air menyentuhnya, dan juga kepalaku yang nyeri setiap suntikan demi suntikan menyertai akhir dari ritual mandi ini.

Siang hari keluargaku akan datang.

Namun kali ini agak berbeda. Mereka membawa Kyungsoo.

Aku tidak suka. Aku mendengus marah; mencoba menolak, dan mereka melihat khawatir. Ibuku memanggil suster dan juga dokter, memperhatikan alat di sampingku yang berbunyi nyaring. Kyungsoo tampak menangis dan Kakakku membawa dia keluar ruangan, aku sedikit lega.

Aku tidak butuh dia.

Aku butuh Baekhyunku.

Aku butuh Baekhyunku.

Aku hanya butuh Baekhyunku.

"B—ba—baekhyun..." ujarku mati-matian agar mereka mendengarnya. Semua tenaga kukerahkan, sebelum mataku kembali tertutup lemah. Diriku pun terbang dan dibawa lagi ke masa lalu yang menyakitkan.


"Park Chanyeol, kau benar-benar harus berhenti merokok. Kurasa kau sudah berhenti." Aku melihat Jongdae mencoba menahanku untuk menghirup rokok lagi malam itu di apartemenku. Siangnya aku mendapati surat perceraian dari Pengadilan atas nama Byun Baekhyun untuk Park Chanyeol. Malamnya aku minum-minum dan merokok kembali; kebiasaan buruk yang datang ketika aku mengalami hal-hal yang tidak baik.

Aku di sana terkekeh suram. "I pick it again after he decided to divorce me."

Jongdae menahan napas lelah. "Park, kau selingkuh. Tentu saja kau harus bersiap akan diceraikannya, kau mau berharap apa? Dia kembali padamu?"

Jongdae memberikan poin yang cukup bagus.

Aku lalu menangis di sana; bagai pencundang sungguhan aku meraih ponsel dan menghubungi Baekhyun.

Nomor yang Anda tuju tidak menjawab, silahkan tinggalkan pesan setelah suara ini berakhir.

"Baek, baby... please, angkat telponku. Aku mengaku salah, aku mohon maafkan aku."

Lalu suara berakhir, aku kembali menelpon Baekhyun dan tidak diangkat. Aku mulai memohon. Menangis. Meraung. Jongdae hanya bisa melihat aku khawatir namun tidak bisa malakukan apapun.

Setelah mail-box kelima aku menyerah. Aku tidak sadarkan diri, Jongdae pun segera mengambil ponselku dan mengeluarkan ponselnya. Aku bisa melihat ia lalu menghubungi seseorang. Untungnya dia mengeraskan suara di sebrang sana.

"Halo?"

Baekhyun?

Oh, Tuhan. Jongdae menelpon Baekhyunku.

"Halo, Baekhyun. Ini Jongdae—"

"Aku tidak punya waktu me—"

"Please, Baekhyun. Kumohon jangan tutup, aku berbicara sebagai teman Chanyeol. You have no idea how desperate he is right now."

"As I said, aku tidak ada waktu membicarakan ini, Jongdae-ssi!"

"Baekhyun! Aku rasa kalian harus bertemu dan bicara—"

"Bertemu katamu? Menemuinya akan membunuhku secara pelan-pelan, Jongdae-ssi. Apa kesakitan yang aku rasakan belum cukup banyak sehingga kau ingin membiarkan aku makin tersiksa bertemu dengannya? Every night! Every damn night I have bad dreams, dan semuanya berawal dengan adegan dia dan Kyungsoo bercinta di kamarku. Di hadapanku. I was so happy at that day! Aku berharap mata bodoh ini akhirnya dapat melihat dan menjadi kado untuk dia! Hal pertama yang aku harapkan kulihat darinya adalah wajah dia bahagia melihatku, mengatahui aku dapat melihatnya! Tapi yang kuingat hanyalah wajahnya saat memasukkan penisnya ke dalam tubuh lelaki lain! Aku tidak pernah bisa melihatnya lagi, Jongdae! Kumohon jangan siksa aku lagi."

Oh Tuhan.

Oh, my love.

Betapa aku membenci diriku sendiri yang begitu egois hanya mengharapkanmu, tanpa mengetahui bagaimana perasaanmu.

"Aku mengerti, maafkan aku, Baekhyun."

"Satu-satunya pesan yang aku ingin kau dapat sampaikan padanya adalah, cepat tanda tangani surat itu."

Tidak heran esok paginya Jongdae memberitahuku bahwa menandatangi surat itu adalah keputusan yang terbaik. Demiku dan juga demi Baekhyun.

Lalu dunia seakan berputar dan aku dibawa ke sebuah rumah yang sangat kurindukan, di sofa duduk sosok yang paling kunantikan. Baekhyun tampak berbicara dengan seseorang dengan pakaian rapi.

"Sejak kapan ini terjadi?"

"Aku tidak tahu, Dok. Namun tiba-tiba saja tadi malam aku tidak bisa melihat apa-apa, aku lalu tidur dan pagi ini aku dapat melihat kembali."

"Kurasa kita perlu melakukan check kembali."

"Apakah aku akan kembali buta?" Baekhyun terlihat bertanya, aku menantikan dengan seksama. Aku sangat menyesal tidak mengetahui apapun tentang ini.

Dokter itu terlihat tidak pasti akan jawaban yang harus ia beri. "Aku tidak yakin, setelah check ulang kita akan tahu jawabannya seperti apa."

Aku lalu bingung. Dokter itu pergi dan Baekhyun menuju toko bunganya. Aku dapat membaca sendu yang teramat sangat dari wajahnya, namun tatapannya terasa asing karena aku tidak terbiasa dengan matanya. Aku hanya menerka dalam diam, dan menikmati dalam diam.

Wajah indahnya yang kurindukan.

I love you, B.

So much.

I was stupid for letting you go easily like this.

Aku lalu merasakan mataku basah; dan di saat yang sama kulihat ia menangis. Aku meraung, dia pun meraung. Aku tertegun, ia mengerek layaknya bayi. Aku tidak tega, aku tidak tega lagi. Tangisnya menjadi-jadi dan kakiku perlahan bergerak sendiri, mendekatinya dan melihat surat cerai yang sudah aku tanda tangani di sana. Aku berang dan murka, sedih tiada tara.

Dalam kesedihan ini, aku pun kembali dipersiapkan untuk scene lainnya.

Aku masih ingin menemani Baekhyunku bersedih!

Apa yang mereka lakukan?!

Kenapa menyeretku menuju...

Fuck, they bring me to our court.

Di sana ada aku dan dia yang tidak saling menegur; dengan wajah yang sama-sama terluka. Aku ingat sekali saat itu aku hanya diam dan menerima dan mengiyakan seluruh tuduhan; karena aku memang sebiadab itu. Baekhyun hanya meminta rumah yang awalnya sudah miliknya; hanya itu, sesimpel dan semulia itu.

Aku tahu saat itu Baekhyun pulang lebih awal, ia ditemani Yeri keluar ruangan. Tubuhku bagai magnet mengikuti; meninggalkan diriku yang tengah termenung di dalam ruangan sidang dengan status duda.

"Baek, kau tidak apa-apa?" Suara Dokter itu terdengar menyebalkan, ia memanggil Baekhyun seakrab itu?

"Aku—mataku sakit..." ucapnya lirih. Ia menutup mata rapat dan kulihat wajah Yeri sangat khawatir.

"It's okay, just relax. Kita akan ke rumah sakit, oke? Kita akan periksa." Dokter itu menenangkan.

"Baekhyuntenanglah." Yeri mencoba tegar walau suaranya bergetar.

"Sakit..." itulah suara terakhir yang kutangkap sebelum aku melihat dia terduduk jauh.

NO.

No.

Tidak.

Baekhyun!

"Baekhyun!" Aku berteriak parau, kerongkonganku sangat sakit dan terasa panas. Badanku berkeringat dan dadaku sesak. Mataku kembali melihat langit-langit kamar rumah sakit dan juga wajah seorang suster yang segera pergi lagi untuk memanggil dokter.

"Chanyeol, apa kau mendengarku?" Yoora, kakaku bertanya. "Chanyeol, apa kau sadar?" Tanyanya penuh harap.

Aku sadar.

Sangat sadar.

Aku sangat teramat sadar dengan kebodohanku!

"Baekhyun!" Teriakku kembali. Bring me back there! Apa yang terjadi dengan Baekhyunku? Apa yang terjadi dengannya? "Baekhyun..." lirihku gusar dan takut, takut akan kehilangannya, takut akan kejadian buruk yang akan menimpanya.

"Chanyeol, Sayang..." kali ini aku mendengar suara Ibuku. Namun mataku sudah sangat kabur penuh air mata untuk melihat jernih. "This is Mommy, okay?"

Tetapi mulutku tidak jera, aku tetap mengucapkan nama kekasihku. "Baekhyunku..." ujarku mengiba.

Kembalikan Baekhyunku.

Lalu terdengar suara isak tangis; mungkin dari Ibu dan juga Yoora. Aku sudah tidak bisa mengerti lagi, beberapa detik kemudian kurasakan cahaya kuat menerpa mataku; alat bantu bernafas untukku dibuka dan kurasakan dua jari memaksa ku untuk membuka mulut.

"Kerongkonganmu terluka, Chanyeol. Kau seharusnya tidak memaksakan diri berbicara terlebih dahulu."

"Baek—" aku tidak bisa melanjutkan karena kerongkonganku panas sekali.

"Kusarankan kalian membawa orang yang bernama Baekhyun itu ke sini, it'll help him. Sudah tujuh hari ia hanya mengucapkan nama itu, aku khawatir pita suaranya rusak."

"Aku akan coba menghubunginya, Dok." Jawab Yoora membuatku tenang.

Ya, aku butuh Baekhyun.

Sialnya. Yoora tidak berhasil menemukan Baekhyun karena keesokan harinya aku tidak melihat lelaki cantik itu sama sekali, aku hanya bisa termenung muram dan sedikit harapan ketika Yoora berjanji ia akan berusaha lebih kuat lagi.


Esoknya sama seperti kemarin. No Baekhyun. He's no where.

Begitu sampai akhir pekan.

Sudah lima hari aku menunggu namun Baekhyun tidak juga ada. Mungkin kekasihku benar-benar membenciku. Aku semakin tidak bersemangat untuk hidup; mungkin suatu saat kucabut saja semua alat-alat kesehatan sialan ini dari tubuhku agar aku mati dengan cepat saja. Sayangnya tanganku masih tidak bisa bergerak.

Minggu berikutnya, keluargaku mulai memberikan distraction berupa teman-teman artis yang sudah bekerja sama denganku. Composer lainnya membuat lagu khusus untukku, alih-alih merasa bahagia aku justru merasa malu karena mereka melakukan ini demi kesembuhanku.

Aku tidak ingin sembuh, persetan!

Namun aku menghargai mereka; aku mencoba tersenyum walau tidak menjawab apa-apa. Aku malas bicara.

Di dalam mimpi aku bertemu dengan sosokku di masa lampau saat bersama Kyungsoo, kembali ke saat-saat Baekhyun mengetahui perselingkuhanku. Aku merasa sakit. Scene itu terulang terus-menerus, mimpi buruk tanpa akhir.

Sampai akhirnya aku menyerah.

"Chanyeol, kau tidak bisa meninggalkan kami seperti ini?!" Suara Ibuku terngiang, Dokter masih terus berusaha mengecek keadaanku dimana yang salah. Suara monitor terasa bising sekali di sebelah kiriku. Tubuhku pun merasakan sakit yang dalam; seolah-olah indera perasaku tiba-tiba hidup kembali dan kurasakan himpitan beda-benda tajam di dalam seluruh sendi ini.

Aku menahannya.

Aku menahan hingga tubuhku bergetar dan keningku berkerut hebat.

Beberapa dokter mulai hadir, Ibu dan Kakakku meraung.

Aku akan mati.

Apa kau ingin mati sia-sia? Sebagai seorang pendusta?

Suara itu menggema.

Aku benar-benar bodoh, saat seperti ini aku masih saja kasihan padamu.

Suara itu...

"Bertahanlah!" Suara itu membuat aku membuka mata. Seorang perempuan muda kulihat dengan pandangan mata yang masih sama, penuh kebencian namun sekarang tersirat rasa kasihan. "Aku akan bawa Baekhyun besok, until then, hang on to your dear life, Park." Ujarnya sebelum wajahnya menghilang dari pandanganku.

Yeri.

I'll make sure to thank her later.

If I survive this.


Tetapi fate is playing me. Aku kembali dibawa ke dalam flashback yang cukup unik, karena kali ini aku dapat bergerak dan aku berada di gerbang kompleks rumah Baekhyun. Aku melihat lokasi kecelakaanku yang terlihat rusak; aku sedikit bingung. Apakah ini bukan sebuah flashback?

Aku kembali berjalan, sedikit terbata hingga aku sampai di toko bunga Baekhyun yang dalam keadaan tutup. Suara anjing peliharaan Baekhyun terdengar sampai luar sehingga aku yakin untuk masuk. Pintu rumahnya terbuka, di rumah makan kulihat Baekhyun dan Yeri tengah berbicara.

"Baek, I know it's hard..."

"Yeri, kau yang selalu mencegah agar kita tidak membahas tentang dia lagi." Baekhyun tampak kesal, matanya menggambarkan kekesalan dan Chanyeol yakin inilah mata yang ia kenal. Terlihat kosong bagi mereka namun begitu penuh cerita baginya.

Yeri mendesah pelan. "Dia sangat kacau, Baek."

"Don't you think I am not?"

"Baek..." Yeri terlihat menyerah. Ia memberi jeda cukup lama hingga Baekhyun sedikit mendongak untuk mencoba merasakan apakah Yeri masih di sana. Aku juga tidak mengerti apa yang membuat Yeri menunggu lama. "Apa kau ingat February lalu ada kecelakaan di gerbang kita?"

"Yes, kenapa kau tiba-tiba membahas hal yang—" Baekhyun awalnya tampak bingung, namun ia terhenti. Wajahnya menegang dan tangannya bergetar, mencoba meraih Yeri. Matanya terlihat khawatir dan aku ingin kembali meraihnya dan memeluknya erat. "Yeri, kenapa kau tidak memberi tahuku?!"

"Aku tidak ingin kau khawatir—"

"Oh Tuhan, kudengar kecelakaannya sangat parah. Mrs. Lee bahkan mengatakan it's a miracle dia masih selamat. Shit."

"I know, I'm surprised dia masih bernafas."

"Seberapa parah?"

"Seluruh sendinya paralyzed, dia tidak bisa menggerakkan apapun kecuali matanya. Ada kekhawatiran pita suaranya juga rusak. Tadi malam adalah puncaknya, detak jantungnya melemah."

"Oh God..."

"Sudah tiga minggu mungkin lamanya dia memanggil namamu, Baek. I think he wants you there."

"What?" Baekhyun tampak kacau. "Bring me there."

"Kita akan pergi besok."

"Now, Yeri."

"Baek, apa kau yakin? Kau butuh istirahat—"

"I said now."

.

.

I didn't know what love is until I met you, as cringy and cliche as romance novel. I like your pretty face but I fall in love with you, everything that is you.

In our vow I promise that I will always love you no matter happen to us; even though it's close to break but my love will never be deceased.

Loving you is the easiest thing.

Hurting you is the most painful thing.

I don't know what I do to deserve someone like you.

Keep giving me hope.

Of love, life, and forgiveness.

Though, I fight for dear life for the very last one.

.

.

Aku begitu beruntung.

Aku begitu beruntung.

Aku begitu beruntung.

Kau begitu indah, begitu cantik, dan seutuhnya berdiri di sana untukku. Aku tidak bisa berhenti menatapmu; parasmu yang memukau, senyummu yang indah ketika aku dengan bodohnya tidak terjatuh saat therapy sarafku. Kau dapat menebak dari suaranya. Aku begitu beruntung, kasihku.

Aku tahu aku tidak akan bisa mendapatkan kata cinta darimu dengan mudah, namun maaf darimu adalah segalanya. Aku bahkan tidak meminta semua pengorbananmu untuk menemaniku, lelaki yang tidak tahu diri ini, yang tidak bisa melakukan apa-apa ini, hingga bertahun-tahun lebih agar aku dapat pulih kembali.

"I am the luckiest man alive," ujarku. Lalu kau hanya akan tersenyum manis.

Begitu manis; sampai aku seolah merasakan kau adalah milikku lagi.

"Hey, don't act like he's yours, man." Changmin, Dokter specialist mata yang menangani Baekhyun, menegurku. Ia melingkarkan tangan di pinggang mungil Baekhyun sambil mengecup pipinya lembut. "He's mine. I am the luckiest man alive."

Aku hanya tertawa; lalu melanjutkan sesi terakhir dari terapi ini. Terapi terakhir yang belum tuntas setelah aku menuntaskan terapi berbicara dan terapi untuk saraf sensoris di tangan. Sebelum mereka menyatakan aku sembuh total dan dapat mengemudi kembali, menjadi seorang Park Chanyeol kembali.

END

When you find someone who loves you with their heart, do not let them down. Or you're going to live with regret for the rest of your life.