02

Wonwoo menggigiti kuku jarinya dengan gelisah. Sesekali matanya melirik kearah pintu kamarnya yang tertutup.

Tadi pagi Ibunya meminta Mingyu untuk datang ke rumahnya. Tujuannya agar Wonwoo bisa berangkat bersama Mingyu ke sekolah mereka. Bilangnya acara mendekatkan diri antara anak supaya cepat akrab, biar kedepannya lancar.

Lancar apanya?! ─ww

Ya begitulah.

Sekarang Mingyu sudah duduk manis di ruang tengah. Tadi Wonwoo mengintip sedikit lewat celah pintu kamarnya, jadinya dia tau jika Mingyu tengah berada di ruang tengah rumahnya bersama Ibunya.

Wonwoo inginnya meminta tolong Ibunya untuk mengusir Mingyu, karena jantung sedari tadi sudah berdetak tidak karuan. Tapi nanti Ibunya malah curiga kepadanya. Jadi Wonwoo urungkan saja niatnya itu. Lagipula, ini semua kan ide Ibunya. Mana mau Ibunya mengusir Mingyu setelah sebelumnya meminta Mingyu datang kesini.

Jadi, setelah memantapkan hatinya yang berdetak tak menentu, akhirnya Wonwoo keluar juga dari kamarnya dan berjalan menuruni tangga untuk menghampiri Ibunya yang saat ini tengah asik berbincang dengan Mingyu.

Setelah sampai disana, Wonwoo malah berakhir dikacangi oleh kedua orang tersebut. Awalnya Wonwoo sengaja terbatuk kecil agar kedua orang dihadapannya menyadari kehadirannya, tapi mereka berdua tetap asik berbincang. Setelah itu Wonwoo memanggil Ibunya, tapi malah diabaikan. Akhirnya Wonwoo mendengus dan berujar. "Ya udah lah. Wonu sendiri aja kesekolahnya"

Setelah itu ia berjalan kearah pintu, mengambil sepatu di rak sepatu, berjongkok kemudian memakai sepatunya, lalu membuka pintunya dan melesat menuju halte yang jaraknya tak jauh dari rumahnya.

"Mah, aku berangkat ya. Kasian Wonwoo" pamit Mingyu ketika sadar calon adiknya itu telah melesat pergi tanpa menutup pintu rumahnya.

"Iya deh hati hati, nanti lanjutin ngobrolnya ya" ujar Ibu dari Wonwoo itu.

"Sip mah, aku berangkat"

"Jangan ngebut bawa motornya ya!"

"Siap"

.

.

.

"Cie marah" goda Mingyu saat dirinya sudah berhasil menyusul Wonwoo menggunakan motor hitam kesayangannya.

"Lucu banget sih kamu dek" ucapnya lagi.

Wonwoo hanya diam dan melirik sekilah kearah Mingyu, malas menanggapi ocehannya.

"Ga cape jalan dari rumah ke sini? Lumayan jauh loh. Mending kamu naik motor saya aja" ajak Mingyu.

"Ga usah kak. Bentar lagi juga nyampe halte" balas Wonwoo cuek. Seketika itu pula Wonwoo dapat merasakan pergelangan tangannya ditarik oleh lawan bicaranya.

"Jangan banyak omong, cepet naik" titah Mingyu yang dibalas gelengan oleh Wonwoo.

"Lucu banget sih" dengan cepat , tangan Mingyu yang tadinya berada di pergelangan tangan milik Wonwoo kini berpindah ke pipi tirus milik Wonwoo. Mencubitnya pelan.

"Enak kali ya kalo punya pacar sifanya kaya kamu, lucu gemesin gitu" lanjutnya.

Makanya jadiin aku pacarmu dong ─ww

"Ga ada hubungannya kali kak. Lagian ga enak, asem" balas Wonwoo. Emang dasar dirinya tsundere, pikiran sama omongan tuh selalu aja beda.

"Udah ah berenti ngambeknya, naik cepetan" dan Wonwoo menggeleng sekali lagi, menolak perkataan Mingyu.

"Udah mau telat nih, cepetan"

"Peduli amat"

"Wonwoo"

"Hng"

"Jeon Wonwoo"

"Hm?"

"Kim Wonwoo"

"Apa sih kak?" sembur Wonwoo dengan cepat.

Pipinya memanas.

Kenapa coba si Mingyu itu harus ngeganti marga Wonwoo jadi marga dia? Kan Wonwoo baper.

"Ayo naik, nanti telat" akhirnya Wonwoo luluh. Dia pun segera duduk di jok belakang motornya Mingyu setelah sebelumnya Mingyu memakaikannya helm cadangannya yang membuat pipinya tambah memanas.

"Maaf ya, saya bawa motornya bakalan ngebut. Lima menit lagi bel masuk soalnya. Jangan bilang ke mamah kamu ya" ujar Mingyu.

"Gimana kak?" tanya Wonwoo sedikit berteriak.

"Pegangan" titah Mingyu yang langsung melajukan motornya dengan cepat. Wonwoo sendiri sih dengan senang hati berpegangan kepada Mingyu.


Ini apa?!

─290617