Midnight Fantasy
by Kai Amakusa
Naruto © Masashi Kishimoto
Romance | Hurt | Supernatural |Friendship | Typos
Sasuke | Sakura
Don't Like, Don't Read
.
"Kau siapa?" tanyaku takut saat aku melihat sesosok pemuda berjas hitam rapi mendekatiku, sosok itu semakin dekat. Aku terpaku di tempat, tampak wajah seorang pemuda yang bisa dibilang tampan, ah tidak, sangat tampan walau sangat pucat, rambut raven yang mencuat ke belakang layaknya pantat ayam, tubuh tegapnya yang menambah plus dalam penilaianku. "A-apa kau h-hantu?" tanyaku asal yang ku harap jawaban yang keluar dari mulutnya adalah –
"Hn, iya"
-tidak.
-Midnight Fantasy-
"APA?" bagus, sekarang di didepanku ada seorang hantu berwujud manusia. Seharusnya aku lari saat ini, tapi kakiku masih belum bisa bergerak dan hantu di depanku ini entah kenapa terlihat mengintimidasiku dengan tatapan dinginnya itu. Lagi, aku menyesal sudah melepaskan diri dari nyamannya tempat tidurku.
Hantu itu memandangi kaki ku, dan tersenyum tipis. Apa dia sedang membaca mantra untuk menyembuhkan kakiku? "Kakimu terkilir. Apa kau bisa berjalan?" tanyanya.
"Kalau aku bisa, aku pasti sudah lari dari tadi," kataku kesal. "Apa benar kau hantu?" tanyaku lagi sekedar memastikan.
"Kau tak percaya?" tanyanya balik, dingin.
"B-bukan seperti, hanya saja..."
"Tidak semua hantu menakutkan dan jahat, Sakura,"
"K-kau bisa membaca pikiranku?"
"Aku hantu," tegasnya, hantu tampan itu bersandar di dinding dan memasukan tangannya ke dalam saku celananya, pesona hantu itu terlalu besar. "Kau tak takut padaku?"
"Awalnya, tapi sepertinya kau hantu yang baik dan kau juga tam...," segera aku menutup mulutku setelah hampir keceplosan. Dia menoleh padaku dan memberi tatapan 'apa'-nya, aku menggeleng cepat. "Apa... apa kau bisa membawaku ke kamar, hantu baik?"
"Kalau aku bisa, aku pasti sudah menggendongmu ke kamarmu dari tadi," seketika hantu tampan sedang menggendongku ke kamar terbayang dalam benakku dan sukses membuat wajahku memanas. "Dan lagi, aku punya nama, panggil aku Sasuke"
"Sasuke?"
"Hn,"
"Darimana kau tahu namaku? Apa kau penghuni lama rumah ini? Apa yang membuatmu meninggal? Apa ada hantu lain yang tinggal di sini selain kau? Apa menyenangkan menjadi hantu? Apa..."
"Cerewet," geramnya kesal memotong pertanyaanku.
"Maaf, Sasuke. Aku baru sekali ini bertemu dengan hantu, apalagi hantu baik sepertimu," kataku pelan.
"Dasar," Sasuke menghela nafasnya dan mulai menjawab pertanyaanku dengan singkat. Walaupun dia hantu baik, tapi tetap saja sifatnya sangat dingin padaku. Apa sifatnya memang begitu saat hidup dulu? Saat aku bertanya kenapa dia meninggal, dia hanya diam dan menatap kosong ke depan. Sepertinya dia tak ingin membahas hal itu, pasti itu adalah kenangan buruk bagi Sasuke. Aku harap, kami bisa bersahabat.
-Midnight Fantasy-
Kring kring kring! Akhirnya bel pulang sekolah berbunyi, ku hirup nafas dengan lega saat pelajaran yang ku benci berakhir. Sebenarnya hari ini aku di larang sekolah oleh kedua kakakku, mereka mencemaskan keadaanku setelah menemukanku tertidur di tangga saat pulang tadi pagi. Dengan dalih ada ujian, mereka terpaksa mengijinkan ku berangkat sekolah. Masalah hantu baik, aku menyembunyikannya dari mereka. Aku tak ingin di anggap aneh, dan aku juga menganggap pertemuan ku dengan Sasuke hanya mimpi.
Setelah merapikan mejaku, aku bergegas keluar kelas untuk segera mencari gadis misterius itu. Aku masih penasaran jika kalian tanya kenapa padaku. Samar - samar aku mendengar suara tangisan seorang perempuan, apa mungkin ada temanku yang menangis? Suara tangisan itu berasal dari kamar mandi perempuan, ku buka pelan pintu berwarna putih itu, "Permisi.."
"Hiks hiks hiks," seorang gadis berambut hitam panjang sedang duduk bersimpuh di lantai kamar mandi dengan menutup wajahnya, dress putih panjang membalut tubuhnya. Apa dia murid sini? Kenapa dia tak memakai seragam yang sama denganku?
"Hei, kau tak apa?" panggilku pelan sembari mengusap bahunya yang bergetar.
"Kau siapa?" gadis ini menengadahkan wajahnya, kemudian dia melihatku. Aku terhenyak, menutup mulutku dengan kedua tanganku dan berjalan mundur. Terkejut? Tentu saja, sangat malah, gadis yang ku panggil itu ternyata hantu, wajahnya hancur, sebelah matanya berlubang dan mengeluarkan darah. "Kau bisa melihatku?" tanyanya kemudian berdiri menghadapku, kakinya tak menapak di lantai.
"KYAAAAAA... HANTU!" teriakku dan segera keluar kamar mandi, bergegas meninggalkan tempat itu secepat mungkin.
Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku bisa melihat hantu sekarang? Kenapa aku mengalami hal – hal yang aneh sejak kemarin? Apa ini ada hubungannya dengan kecelakaan dan gadis misterius itu? Aku harus segera menemukannya, dan meminta penjelasan darinya.
Kemana pergi gadis misterius itu? Aku belum bertemu dengannya setelah beberapa jam menulusuri setiap gang di sekitar tempat ku bertemu dengannya kemarin. Dia tidak ada di manapun. Apa dia bukan orang sekitar sini? Aku menhela nafas putus asa, dan menelusuri jalan pulang ke rumah. Hari sudah menjelang malam, aku tak ingin membuat kedua kakak ku mengkhawatirkanku.
-Midnight Fantasy-
"Wah... dia cantik sekali,"
"Jangan menyentuhnya,"
"Aku hantu, aku tak bisa menyentuhnya, Teme,"
"Merepotkan,"
"Jangan berisik,"
"Aku tak berisik,"
"Kalian bisa membangunkannya nanti,"
"Hei, dia tampak tak nyenyak,"
"Ini karena kau, baka!'
"Diamlah,"
Samar – samar aku mendengar percakapan seseorang, ah tidak, sepertinya banyak orang di dalam kamarku. Apa Gaara mengajak teman – temannya masuk ke kamarku? Ah kenapa aku berpikiran seperti itu? Walaupun Gaara sangat menyebalkan, dia tak mungkin mempertontonkan adiknya yang cantik ini ke teman - temannya saat tertidur begini? Kalau dia melakukan hal itu, berarti dia sudah siap menuju alam lain.
"Ngghh," perlahan ku buka mataku, "KYAAA!" teriakku tiba – tiba saat melihat beberapa pemuda yang mengelilingi tempat tidurku, dan seorang pemuda berambut kuning dengan cengiran lebar duduk di sampingku, hawa dingin langsung menyergapku. Ku tarik selimut ku dan bergerak menjauh, "Ka-kalian siapa?"
"Kami hantu," jawab mereka serempak.
"APA?"
"Apa yang kalian lakukan?" suara bariton menginterupsi kekagetanku, ku arahkan kepala ku menuju sumber suara itu. Hantu baik itu berjalan mendekati tempat tidurku dan menjitak kepala jabrik si rambut kuning. Jadi kemarin aku tak sedang bermimpi dan Sasuke benar – benar ada?
"Teme, aku juga ingin punya teman manusia," gerutu si rambut kuning seraya mengusap kepalanya yang baru saja di jitak oleh Sasuke.
"Kami juga," sahut pemuda lain serempak.
"Tidak boleh," bentak Sasuke.
"Kenapa kau tidak memperbolehkannya? Kau menyukai gadis berambut merah muda ini ya?" tuduh pemuda berambut dan berbola mata coklat, di masing - masing pipinya terdapat tatto.
"Bukan begitu, Kiba. Munculah satu persatu, kalian membuatnya takut," jelas Sasuke.
"Maaf," balas mereka serempak.
"Sakura," panggil Sasuke, "Kau tak apa?" aku menganggukan kepalaku. "Mereka hanya tak sabar bertemu denganmu setelah kejadian kemarin," jelasnya lagi.
"Jadi kalian penghuni di sini?" anggukan serempak menjawab pertanyaanku.
"Sebenarnya penghuni rumah ini dulu ada banyak, tapi sekarang hanya tinggal kami berlima,"
"Eh? Kenapa?" tanyaku ingin tahu pada pemuda yang di panggil Kiba oleh Sasuke tadi.
"Mereka sudah di jemput," jawab si rambut kuning dengan wajah murung.
"Di jemput? Oleh siapa?" tanyaku lagi, tapi mereka semua diam dan terlihat menundukan kepala atau memandang arah lain, tak ada yang menjawab pertanyaanku. Aku tambah penasaran dengan siapa yang menjemput mereka. Apa ada batasan waktu untuk mereka tinggal di dunia ini?
"Tidurlah, kami harus pergi," Sasuke membuka suaranya.
"Eh? Jangan! M-maksudku, maukah kalian menjadi temanku mulai sekarang?"
"Eh? Kau ingin berteman dengan kami? Apa kau sudah gila? Kami hantu," si rambut kuning menatapku tak percaya.
"Aku tak punya teman di sekolah, kedua kakak ku pun jarang di rumah, aku kesepian. Dan, bukankah pertemanan tak mengenal siapapun teman kita? Walaupun kalian hantu, aku tak masalah dengan hal itu."
"Baiklah, kita teman sekarang. Namaku Naruto, Uzumaki Naruto, salam kenal," balas si rambut pirang dengan cengiran lebarnya. Aku tertawa kecil melihat tingkahnya yang semangat.
"Aku Nara Shikamaru," sahut pemuda berambut hitam bentuk nanas.
"Namaku Inuzuka Kiba," celetuk pemuda yang tersenyum lebar padaku.
"Sai, panggil aku Sai," pemuda berambut dan bermata hitam sembari tersenyum dan tangannya membawa sebuah buku.
"Kau manis," celetuk ku tanpa sadar.
"Jangan tertipu dengan senyum palsunya, Sakura. Dia sangat berbahaya," bisik Naruto. Aku terkikik mendengarnya.
"Aku mendengarmu, rubah mesum," sahut Sai yang masih mempertahankan senyumnya.
"Jangan bertengkar," aura menyeramkan keluar dari balik punggung Sasuke, mereka pun memilih diam setelah mendapat death glare dari hantu raven itu. "Kita pergi," lanjutnya dan sedetik kemudian dia menghilang.
"Dasar Teme! Baiklah, Sakura-chan, kita pergi dulu. Kami akan menemuimu hanya saat tengah malam, tunggulah kami. Sampai jumpa besok, Sakura-chan," Naruto melambaikan tangannya dan menghilang, lalu diikuti oleh Shikamaru dan Sai.
"Dan satu lagi, rahasiakan tentang kami dari orang lain. Bye, Sakura-chan," Kiba tersenyum dang menghilang. Hawa dingin yang tadinya menyergapku kini berangsur hilang seiring perginya mereka. Walaupun mereka hantu, mereka adalah temanku sekarang. Sabaku Sakura sekarang tidak sendiri lagi, dia mempunyai teman sekarang.
-Midnight Fantasy-
Sudah 3 bulan aku berteman dengan kelima hantu itu, mereka teman baik dan selama 3 bulan itu, kelima hantu itu menghilang satu per satu, hanya tinggal Sasuke dan Naruto. Dan sampai sekarang aku belum tahu siapa seseorang yang menjemput Kiba, Shikamaru, dan Sai itu. Aku benar – benar ingin tahu apa yang terjadi di dunia perhantuan.
Dan juga selama ini aku seperti memiliki kemampuan untuk melihat makhluk astral, tapi untunglah yang ku temui semua hantu baik, kadang.
Di sekolah pun aku sama sekali belum mempunyai teman karena kemampuan baruku ini, mereka menganggap aneh dan menjauhiku. Terserah apa kata mereka, aku sudah tak peduli. Berteman dengan kurasa sudah cukup dan membuat ku merasa tak sendiri.
"Kurang 2 menit lagi," ku tatap jam dinding bergambar rubah yang menunjukan waktu 11.53 itu. Aku memang selalu menunggu mereka saat tengah malam karena hanya saat inilah aku bertemu dengan teman hantuku itu, apalagi dengan yang pertama kali ku temui itu mencuri banyak perhatianku, walaupun dia terlihat sangat dingin.
Apa aku salah mencintai hantu? Tidak kan? Cinta tak mengenal siapa dan kenapa, cinta itu sebuah naluri, tak bisa di bohongi dan membohongi.
Dan entah sejak kapan aku mulai lebih detail dalam penampilanku saat menemui mereka, mungkin lebih tapatnya si raven itu. Hahaha aku benar – benar mencintai Sasuke. Jam berdentang 12 kali, dan kini saatnya mereka muncul. Ayolah, cepat muncul cepat. Aku sudah sangat merindukan Sasuke, aku ingin segera bertemu.
.
.
"Ini sudah hampir jam dua, kenapa mereka belum muncul juga? Kemana Sasuke dan Naruto?" tanpa sabar, aku keluar dari kamar ku dan menelusuri setiap ruangan di lantai dua, " Tidak ada di manapun, mungkin mereka di bawah"
Ku turuni tangga satu persatu seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari keberadaan mereka. Aku jadi teringat ketiga hantu yang sudah di jemput, mereka sering berada di tangga ini. Shikamaru yang sedang memarahi Kiba dan Naruto saat mereka berdua bertengkar sambil berlarian di tangga atau Sai dengan senyumannya duduk di tangga sambil membaca buku. Aku jadi merindukan ketiga hantu itu.
"Sasuke, kau ada di mana? Naruto!" teriakanku menggema ke seluruh ruangan. Namun tak ada jawaban yang ku terima, tak ada angin semilir dan hawa dingin yang menyapaku. Sebenarnya mereka ada di mana? "Sasuke!" teriak ku lebih keras, tak ada jawaban lagi. Tiba – tiba sebuah pertanyaan melintas di kepalaku,
apa mereka sudah di jemput?
_TBC_
Hei, I'm back 'o')/
Bagaimana dengan chapter 2 ini? Semakin aneh atau semakin gaje?
Genre berubah ke supranatural sesuai pendapat reviewer..
Next chapter, rate di naikan karna ada "samting wrong" mwehehehe *ketawa nista* *plakk
Thanks for Uchiharuno Susi, Zaku nii-chan, Princess Ice'z, Mrangelo and Silent Reader
Thanks for read this fanfic :3
Keep or Disc? Kalian yang menentukan, minna...
Mind to review again?
