"Arigatou Sensei, mohon bantuannya," ujar Sasuke seraya membungkukkan tubuhnya guna memberi salam pada sang wali kelas―Sarutobi Asuma―yang akan mengajarnya di kelas nanti.
Sasuke tidak menyangka, kalau sekolah tempatnya akan menuntut ilmu itu ternyata seperti ini. Gedung sekolah yang tidak terlalu mewah, letak sekolah yang tidak istimewa―bahkan terkesan jauh dari keramaian, serta suasana sekolah yang sedikit aneh dibanding sekolahnya dulu. Cukup membingungkan mengingat sekolah ini adalah sekolah unggulan di kota ini.
Setidaknya Sasuke menilai semua itu dari luar gedung sekolahnya.
"Ya, sama-sama Sasuke, aku juga butuh bantuanmu." Jawab Asuma dengan ramahnya, sementara bibirnya masih mengatup menjepit puntung rokok yang terlihat menyala-nyala. Sasuke memperhatikan, padahal di sekolah ini sudah ada peringatan dilarang merokok.
Hmm… Wali kelasnya yang satu ini sepertinya tidak terlalu patuh dengan peraturan sekolah. Menarik, itu artinya Sasuke tidak akan merasa bosan dengan suasana sekolah yang kaku akan peraturannya. Mungkin saja suasana kelasnya juga tampak santai nantinya.
Walaupun terkadang Sasuke terlihat serius, tapi dia juga tidak suka dengan keadaan yang kaku. Dia lebih suka keadaan yang serius, namun rileks. Sangat cocok untuk otaknya yang suka berpikir namun tidak terkesan memaksa. Sekolah ini sepertinya memenuhi kireterianya sebagai salah satu sekolah terbaik versi dirinya.
Sasuke melihat Asuma mematikan rokoknya ke dalam asbak yang diam-diam dia sembunyikan. Lalu berdiri menghadap Sasuke seraya merapikan kemejanya dan menyemprotkan sedikit parfum untuk menyamarkan aroma nikotin yang sebelumnya sedikit menyengat di hidung. Bandel juga guru ini, berani berkucing-kucingan dengan aturan sekolah.
"Apa yang kau lihat, Sasuke? Tolong jangan katakan ini pada siapapun, termasuk anak-anak." Asuma menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan sedikit cengiran menghiasi wajahnya. Padahal kalau dilihat dari penampilannya, sepertinya dia bukanlah guru yang suka mengekang peraturan. Tapi sepertinya seseorang tidak bisa dinilai dari penampilan luarnya saja.
Sasuke terdiam, dia tidak berjanji akan merahasiakannya dari siapapun, namun juga tidak punya niat untuk membocorkannya. Sasuke tidak punya urusan dengan hobi gurunya yang terkadang mengingatkannya pada kakeknya―Uchiha Kagami―yang juga maniak akan benda berbentuk lintingan tembakau tersebut. Tujuannya ke sini adalah untuk belajar.
Asuma perlahan berjalan melewati Sasuke, lalu sedikit menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa Sasuke ikut ke kelas bersamanya. Asuma akan memperkenalkan Sasuke sejenak ke kelas karena sekarang bukan jam mengajarnya di kelas tersebut, kelas tiga-empat. Perlahan, Asuma mulai membuka pintu dan melangkah keluar, Sasuke mengikutinya.
Sasuke terkesiap, dia melihat ke kanan dan ke kiri guna mencari tahu seperti apa nuansa pembelajaran di kelas lain sebelum dia memasuki kelasnya sendiri. Kelas dua-delapan, tampak begitu hening karena guru sedang sibuk mengajarkan sesuatu pada anak muridnya. Bibir guru itu tampak bergerak-gerak sesuai kata yang tertulis di bukunya.
Dengan wajah dinginnya yang terkesan penasaran, Sasuke menolehkan kepalanya lagi. Sekarang kelas tiga-satu, dengan ruangannya yang begitu terang tentunya membuat semangat belajar seketika muncul. Di dalam sana tampak sekali beberapa orang murid tengah dimarahi oleh sang guru karena―mungkin―ketahuan menyontek. Sasuke mengetahuinya dari tulisan di papan tulisnya yang bertuliskan 'Test'.
Berjalan maju lagi, terdapat kelas tiga-dua dan tiga-tiga yang berada di samping kanan dan kirinya. Di kelas tiga-dua sedikit ribut, karena guru yang mungkin tidak sedang berada di kelasnya. Suasana yang khas sekali untuk murid-murid remaja seperti Sasuke. Sepertinya Sasuke tidak akan menyukai suasana kelas yang ribut seperti ini, dia suka suasana yang sepi, tapi santai.
Sudah empat kelas yang dilihat Sasuke, ada kelas dua-delapan, tiga-satu, tiga-dua, dan tiga-tiga. Sekarang tinggal kelasnya, kelas tiga-empat yang belum dilihatnya. Eh! Benar juga! Ke mana kelas itu?
Sasuke menemukan persimpangan di ujung lorong lantai kedua tersebut. Yang satu mengarah ke kanan yaitu tangga ke lantai bawah dan lantai ketiga, dan yang satu lagi mengarah ke kiri. Sedikit janggal untuk kedua lorong yang bersimpang tersebut, kedua lorong itu sangat gelap, tidak ada lampu yang dinyalakan untuk meneranginya.
Asuma mengambil jalan ke kiri, berarti benar dugaan Sasuke, memang lorong inilah yang menjadi jalan menuju calon kelasnya. Sedikit bingung karena lorong itu begitu jauh, padahal yang terlihat hanyalah tembok tertutup yang begitu gelap keadaannya. Kenapa hanya kedua lorong ini yang tidak diberi penerangan?
Di ujung lorong, tepat di tembok ujung, akhirnya Sasuke menemukan papan kelas bertuliskan tiga-empat. Semakin aneh karena kelasnya yang terletak di ujung lorong yang tepat di tembok, tidak ada jalan lainnya lagi. Dan papan yang bertuliskan nama kelasnya tersebut juga tampak aneh, sangat besar untuk papan penunjuk kelas.
Sasuke mencermati kejanggalan pada papan kelas yang tergantung di atas pintu kelasnya tersebut. Tampak tua, rapuh, dan terlihat mengelupas di berbagai sisinya. Padahal keadaan papan kelas di lorong lain terlihat begitu bagus, tapi ada apa dengan kelas ini?
Lalu, di balik tulisan 'kelas tiga-empat' yang dicat di permukaan papan itu, terlihat seperti ada tulisan lain yang tidak jelas terlihat. Tidak tahu apa itu, tapi Sasuke bisa sedikit membaca tulisan 'yes' di balik kata 'tiga' dan 'no' di balik kata 'empat'.
"Sasuke, pintunya di sini," ujar Asuma setengah berteriak saat mengetahui Sasuke sedang melamunkan papan kelasnya. Wajahnya mengernyit tidak suka ketika melihat Sasuke yang begitu serius memperhatikan papan kelasnya ketimbang wali kelasnya sendiri.
"Iya Sensei!" jawab Sasuke lalu berlari menuju pintu yang dituju Asuma. Sekilas, dia melirik ke belakang untuk melihat papan kelas yang agak gelap karena tidak adanya penerangan.
Papan kelas itu, tepat di bagian belakangnya Sasuke melihat tulisan. Sebuah kumpulan huruf abjad dan angka dari nol sampai sembilan. Di tengahnya terdapat lubang yang kemungkinan untuk penempatan jarum yang biasa ada pada papan undian.
Papan dengan kumpulan abjad, angka, dan lubang jarum. Serta tulisan 'yes' dan 'no' pada papan itu juga, Sasuke sudah bisa menyimpulkan mengapa papan kelas ini begitu besar, dan papan apa ini sebenarnya.
Papan Ouija, papan pemanggil setan.
.
.
―"From the girl, emanates a deep mystery."―
.
Nothing © Reicchi Ditachi
Naruto © Masashi Kishimoto
.
Inspired from the novel
Another © Yukito Ayatsuji
.
M rated
Horror / Mystery
Warning: AU, M for bloody content, OOC, Umpatan kasar, Typo
Don't like, don't read!
Summary:
Bertemu dengan Haruno Sakura, seorang gadis misterius dengan sebelah mata diperban, bukanlah kebetulan bagi Uchiha Sasuke. Gadis itu membawanya ke dalam misteri kematian seorang perempuan 15 tahun yang lalu. Siapa gadis itu sebenarnya?
.
.
Weird Class
.
.
.
Papan Ouija.
Sebuah papan permainan yang sudah ada sejak zaman romawi kuno, bahkan jauh lebih lama dari saat itu. Dahulu, orang-orang romawi biasanya menggunakan papan ini untuk menentukan suatu keberuntungan dari seseorang dengan bantuan arwah atau makhluk halus. Biasanya nasib mereka akan ditentukan oleh papan ini jika mereka akan menghadapi hukuman.
Bukan hanya di Eropa saja, beberapa permainan serupa juga berada di Mesir. Berbekal dengan sebuah papan bertulis dan jari-jari sepasang manusia, mereka melapalkan mantra-mantra sihir yang mengundang keberadaan makhluk tak kasat mata tersebut. Biasanya papan ini hanya digunakan untuk keputusan darurat saja, tidak digunakan setiap saat.
Tidak hanya di kedua tempat itu juga, permainan yang sama persis juga ditemukan di China. Namun kali ini sudah lebih modern, papan itu biasa digunakan untuk sekedar berkomunikasi dengan alam lain. Atau bisa dikatakan hanya untuk bermain-main, mulai dari kalangan anak-anak sampai dewasa mulai tertarik dengan papan permainan yang tidak bisa dianggap remeh ini.
Konon, nama Ouija berasal dari bahasa Perancis yang artinya 'ya' dan 'ya'. Maksud dari kedua kata yang sama tersebut adalah untuk mengisyaratkan bagi para pemainnya bahwa mereka tidak akan bisa kembali ke jalan terang. Mereka akan dibimbing secara terus-menerus oleh arwah yang mereka panggil menuju kegelapan, dan mereka tidak akan bisa menolaknya, hanya bisa mengatakan 'ya'.
Bukan suatu benda yang bisa dianggap remeh, papan itu bukanlah papan biasa pada umumnya. Papan itu mengandung unsur mistik yang lebih kental dari papan permainan lainnya. Cara pembuatan papan Ouija pun juga tidak mudah, bukan sembarang kayu yang digunakan untuk pembuatan benda ini. Sebuah kayu khusus dari pohon tua yang sudah dibumbui dengan nuansa mistik di dalamnya.
Kembali ke Sasuke, laki-laki itu dengan percaya dirinya masuk ke dalam ruang kelas. Asuma yang berada di depannya sama sekali tidak berbicara, dia terlihat lebih pendiam. Mungkin penglihatan Sasuke yang salah, tapi dia seperti melihat wajah Asuma lebih pucat dari sebelumnya. Matanya seperti mengintai waspada ke sekeliling kelas.
Sejujurnya Sasuke ingin sekali menanyakan apa yang terjadi pada Sensei-nya tersebut. Perubahan suasana yang drastis sangat dirasakan oleh Sasuke ketika melangkahkan kakinya memasuki ruangan ini. Walaupun Sasuke tidak berniat mempedulikan hal itu, tapi nuansa yang tidak wajar itu terus mengusiknya. Ada yang membuat instingnya tergerak untuk memberitahunya tentang keadaan yang tidak beres ini.
Sudi tidak sudi, Sasuke harus menekan perasaannya agar tidak terlalu terbawa suasana kelas yang tidak biasa ini. Dia tidak ingin hari pertamanya sudah dilalui dengan pengalaman yang tidak menyenangkan.
Berbicara tentang suasana yang tidak biasa di kelas tiga-empat, memang terlihat sangat tidak normal. Seluruh muridnya sama sekali tidak memberikan respon apapun sebagaimana layaknya murid lain yang―seharusnya―tampak senang dengan kehadiran siswa baru di kelasnya.
Tapi Sasuke benar-benar tidak menemukan hal itu di kelas ini. Atmosfer di kelas ini sulit sekali terbaca olehnya. Sebagian dari mereka tampak menyukai kedatangan Sasuke―terlihat dari raut wajahnya yang sedikit cerah―namun di balik rasa senang itu terdapat seperti perasaan―cemas?
Apa yang dicemaskan mereka pada Sasuke?
Sasuke berusaha untuk tidak mempedulikannya, dan bersikap sebiasa mungkin agar tidak terbawa suasana tegang yang disajikan kelas tiga-empat ini. Hari pertamanya bersekolah sepertinya tidak akan berjalan mulus seperti bayangannya.
"Nama saya Uchiha Sasuke. Saya berasal dari Tokyo, mohon batuannya." Sasuke memperkenalkan dirinya singkat diiringi dengan tundukan kepalanya yang menunjukkan perilaku sopan pada teman-teman barunya. Mengangkat kembali kepalanya, lalu menatap para teman sekelasnya dengan tatapan menyelidik. Berharap sebuah respon kecil diberikan mereka.
Tenten tampak tersenyum kecil, karena sudah terlebih dulu mengetahui Sasuke sebelum teman-temannya. Sementara Neji hanya terdiam, wajahnya datar, seperti tidak ada yang spesial dari kehadiran Sasuke. Beberapa orang yang lain seperti laki-laki berkepala kuning yang duduk di sebelah Neji hanya menaikkan sebelah alisnya, namun tidak bisa dipungkiri bahwa wajahnya terlihat senang. Sedangkan seorang gadis berkacamata di depan laki-laki itu hanya menatapnya menyelidik.
Suasana sudah lebih menghangat sekarang, tidak terlalu tegang seperti sebelumnya. Sasuke kembali mengarahkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, dan seketika pandangan itu terhenti pada satu kursi di tengah-tengah murid. Tepatnya seseorang yang menghuni kursi tersebut, membuatnya kembali terpaku seperti sebelumnya―seperti saat Sasuke berada di lift rumah sakit.
Rahangnya mengeras, tubuhnya mengejang sedikit. Mata obsidiannya terbuka lebih lebar, untuk menangkap sesosok gadis yang duduk di kursi tersebut dengan lebih jelas. Ketika Sasuke benar-benar yakin dengan yang dilihatnya, seketika tubuhnya terasa seperti kaku. Aliran darah seperti berhenti tiba-tiba.
Gadis aneh yang mengantarkannya ke ruang mayat tadi pagi.
"Sasuke, silahkan duduk di sana," ujar Asuma memberitahu Sasuke di mana dia akan duduk. Di belakang gadis itu, tapi sedikit menyamping ke kiri. Sekarang Sasuke menelan liurnya, membasahi tenggorokan yang tercekat tadi. Sekaligus merilekskan tubuh, dia mulai melangkah santai ke kursi yang dimaksud Asuma.
Melewati gadis bermahkota pink itu, melihatnya sekilas, lalu dengan cepat kembali membuang wajahnya ke arah lain dengan raut wajah yang tersentak kaget. Sasuke melihatnya, Sasuke melihatnya!
Haruno Sakura―menyeringai dengan tidak wajar.
.
.
.
.
(Nothing)
Bel istirahat telah berbunyi, menandakan sudah berakhirnya jam pelajaran seni yang cukup membuat Sasuke kesal setengah mati. Syukurlah pelajaran itu cepat selesai, sebab materi pelajaran seni tadi adalah seni musik. Sasuke yang tidak suka keramaian seperti itu, tentunya merasa tidak suka ketika harus mendengar bunyi bising bersahutan dari alat-alat musik tersebut.
Sudahlah, yang berlalu biarkan berlalu. Sekarang Sasuke ingin memakan bekal yang sudah dibawanya dari rumah. Bekal kali ini cukup berbeda dari biasanya, sebab bahan makanan di rumah Rin lumayan lengkap. Tidak seperti saat Sasuke tinggal di Tokyo dahulu, setiap hari dia hanya bisa memasak ramen dan kari karena memang bahan yang ada di lemari pendingin cuma itu-itu saja.
Baru saja Sasuke akan membuka kotak bekalnya, tiba-tiba saja Sasuke harus merasakan tubuhnya hampir terjengkang ke belakang karena dirangkul seseorang.
"Waw! Si pendatang baru ternyata membawa bekal ya?" laki-laki yang merangkulnya tadi adalah murid berambut kuning yang duduk di sebelah Neji. Kulitnya yang sedikit lebih gelap—karena panas matahari—dari teman-teman yang lainnya membuat Sasuke lebih mudah mengenali laki-laki ini.
Sasuke melemparkan tatapan tajamnya ke arah murid berambut kuning tersebut.
"Idiot! Panggil dengan namanya, Naruto!" kali ini suara perempuan terdengar, Sasuke menolehkan kepalanya ke kanan.
Gadis yang baru saja bersuara itu datang menghampirinya. Kemudian melirikkan mata beriris merahnya ke arah Sasuke, memandangnya sebentar, lalu menatap lelaki kuning yang berdiri di depan gadis itu—yang artinya laki-laki itu berada di kiri Sasuke. Dan kembali menatap Sasuke.
"Aku Tokuyama Karin, ketua 'pengurus' kelas di sini. Dan si Idiot yang baru saja merangkulmu itu Uzumaki Naruto," gadis itu mengulurkan tangannya untuk meminta jabatan tangan dengan Sasuke. Sementara sebelah tangannya lagi membetulkan letak kacamatanya lalu merapikan poni rambut merahnya yang sedikit berantakan.
Sasuke menyambut uluran tangan itu, menjabat tangan Karin. Basah, namun bukan basah karena dicuci. Kemungkinan karena tangan itu berkeringat sama seperti Tenten sebelumnya. Tunggu, mengapa semua orang di kelas ini tangannya berkeringat? Sebegitu gugupkah mereka ketika berkenalan dengan orang lain?
Tapi Sasuke tidak menemukan kegugupan di wajah gadis itu, wajahnya terlihat rileks dan santai saja. Tidak tegang seperti Tenten dan Neji tadi. Senyumnya juga tidak tampak dipaksakan dan terkesan lepas begitu saja, gerak-gerik tubuhnya juga tidak gelisah. Hampir tidak ada yang salah pada Karin ini, kecuali telapak tangannya.
Namun… ada yang janggal dengan perkataan Karin tadi. Ketua pengurus kelas katanya?
"Bukankah ketua kelasnya adalah Neji? Lalu mengapa kau juga ketua kelas di sini?" Sasuke mengernyitkan alisnya. Matanya kembali menyelidiki setiap raut wajah yang akan ditampakkan Karin.
Gadis bermahkota merah itu tersenyum kembali, "Ya ketua kelasnya ada dua, kelas tiga-empat ini memang agak khusus."
Agak khusus?
Sasuke mengernyitkan alisnya kembali, pertanda dia tidak mengerti maksud yang dikatakan Karin. Ketua kelasnya ada dua katanya? Seumur-umur Sasuke bersekolah, dia tidak pernah menemukan dua orang sekaligus yang menjabat sebagai ketua kelas sebelumnya.
"Kalau kau ketua kelas juga, lalu siapa yang menjadi wakilnya?" ini dia yang Sasuke bingungkan dari tadi, jika ketua kelasnya ada dua, maka siapa yang menjadi wakilnya? Atau mungkin, ada berapakah wakilnya?
Senyum itu belum kunjung hilang dari bibir Karin, "Itu, perempuan yang di sana, Tenten."
Sasuke baru saja akan bertanya kembali, namun dipotong kembali oleh kedatangan laki-laki berambut mangkuk yang menghampiri Karin.
"Karin! Apa kamu punya perban? Tanganku terluka," ujar laki-laki itu seraya menunjukkan tangannya yang berdarah karena—mungkin—tergores benda tajam.
Bukannya jijik, tapi entah mengapa sekarang selera makan Sasuke jadi menurun.
Sasuke sadar, wajah Karin berubah panik. Mata hitamnya menatap gadis yang segera berlari ke depan kelas itu. Kemudian perempuan itu segera mengambil perban dan obat merah dari dalam kotak P3K yang terletak di samping papan tulis dan segera melemparkannya pada laki-laki yang terluka tadi. Setelah itu, gadis itu bergerak mendekati laki-laki itu dan terlihat berbisik-bisik.
Karin berlari kembali ke depan kelas, menyeka sedikit keringatnya, lalu berteriak dengan lantang.
"Dengarkan aku, jauhi semua benda tajam ataupun benda yang memiliki sisi dan sudut tajam pada hari ini! Lee baru saja terluka tadi, jadi kukatakan, kalian lebih berhati-hati pada hari ini! Lebih baik kalian tidak keluar kelas dulu sebelum waktunya aman!"
Raut wajah anak-anak di kelas ini tiba-tiba saja berubah setelah mendengar pengumuman dari Karin tersebut. Air muka mereka tampak lebih pucat, khas orang cemas dan ketakutan. Keringat dingin perlahan membanjiri wajah mereka. Sasuke semakin tidak mengerti, karena ada seseorang yang terluka saja cemasnya sampai seperti itu?
Terlebih lagi Karin yang menurut Sasuke sikapnya cukup berlebihan, itu hanya luka gores biasa, mengapa ditanggapinya sampai seperti itu? Sampai diberikan perban segala, padahal diobati dengan antiseptik saja juga bisa.
Tunggu, bicara tentang perban…
BRAAAK!
"Sasuke! Kau mau kemana!"
Haruno Sakura, gadis dengan mata tertutup perban itu. Pantas saja Sasuke merasa janggal, dia tidak menemukan kehadiran gadis itu sedari tadi.
Dimana dia?
.
.
.
.
(Nothing)
Sasuke menemukan gadis itu tengah menggambar di area taman sekolah.
Seperti biasa, wajahnya yang teduh terlihat tenang. Mata hijaunya yang sayu menatap dingin buku sketsa yang berada di tangannya. Tangannya yang halus bergerak pelan, menggoreskan sebuah buku yang digenggam sebelah tangannya dengan tinta pena miliknya.
Dan gerakan tangan itu terhenti ketika gadis tersebut menyadari kehadiran seseorang di dekatnya. Haruno Sakura pun mengangkat kepalanya, menatap sosok laki-laki bertubuh tinggi yang berdiri di hadapannya.
Sasuke sedikit tersentak, ternyata benar gadis ini adalah perempuan yang ditemuinya tadi pagi di rumah sakit. Sasuke pasti tidak salah lagi, gadis bernama Haruno Sakura itu memiliki lilitan perban di kepalanya, yang melintang ke mata sebelah kirinya. Dan gadis yang saat ini tengah menatapnya sekarang pun juga sama, tidak ada satupun ciri yang berbeda dari perempuan tadi pagi.
Tiba-tiba saja pemuda itu merasakan napasnya tercekat, dan Sasuke menarik napasnya perlahan, "Kita bertemu kembali, Haruno-san, dan aku ingin bertanya padamu."
WUSSSSHH!
Angin tiba-tiba berhembus kencang entah dari mana, menerbangkan dedaunan kering dan benda ringan apapun yang ditemuinya. Buku sketsa milik Sakura pun juga ikut terbang terbawa angin.
Sakura menatap bukunya yang terbang itu sejenak lalu kembali menolehkan kepalanya ke arah Sasuke. Gadis itu menatap sinis kepadanya.
"Mengapa, kau mengajakku berbicara?" suara bening itu terlantun kembali, kali ini dengan nada yang agak tajam daripada yang didengar Sasuke tadi pagi. Mata hijaunya memicing, menandakan kalau Sakura sama sekali tidak menyukai kehadiran Sasuke di tempat ini.
Sasuke terdiam sejenak, memikirkan sedikit perubahan sikap dari Sakura yang tadi pagi. Sakura yang ditemuinya tadi pagi sangat pendiam, bicaranya pun datar tanpa ekspresi.
"Apa yang kau lakukan di ruang mayat sepagi itu?" Sasuke memutuskan tidak menghiraukan pertanyaan Sakura barusan, dia malah bertanya balik.
Kali ini Sakura yang terdiam, dari ekspresi wajahnya, perempuan itu terlihat tidak ingin menanggapi pertanyaan Sasuke. Tapi akhirnya, bibir gadis itu terbuka juga.
"Memberikan sesuatu untuk separuh diriku." Jawabnya singkat tanpa penjelasan lebih lanjut.
"Tapi mengapa harus di ruang mayat?" Sasuke bertanya lagi, kini tubuhnya bergerak mendekat ke hadapan Sakura.
"Karena dia ada di sana."
"Siapa separuh dirimu itu? Apakah orang yang berdiri di ujung lorong basement tadi?"
Hening.
Ah, Sasuke bahkan tidak sadar, sejak kapan dia jadi banyak berbicara seperti ini? Dan sejak kapan keingintahuannya ini menjadi begitu besar? Hanya karena satu orang perempuan aneh yang bertemu dengannya di basement rumah sakit tadi pagi, dia bisa menjadi pribadi yang berbeda dari biasanya.
Sekali lagi, Sasuke melihat senyum itu. Sebuah senyum seringai mengembang kecil di bibirnya.
"Uchiha Sasuke… kau polos. Penuh keingintahuan. Tapi akan lebih baik jika kau berhati-hati." Suara itu lebih mengarah ke peringatan, Sakura mengangkat sebelah tangannya untuk menyibakkan poni yang menutupi sebelah matanya. Sehingga perban yang menutupi mata kirinya semakin terlihat jelas.
Sasuke mulai merasakan hawa tidak enak menguar di sekelilingnya, "Apa maksudmu?"
Seringai itu semakin lebar, gigi putih gadis itu kini terlihat jelas. Sementara angin yang bertiup di taman itu kini berhembus semakin kencang, nyaris seperti badai. Bahkan Sasuke dapat melihat, entah sejak kapan, langit yang tadinya cerah kini sepenuhnya kelabu.
Mata viridian gadis itu tepat tertuju ke arah Sasuke, mengunci pemuda itu agar tidak berpaling dari tatapannya. Rambut merah muda sebahunya melambai berantakan karena tertiup angin kencang. Namun seringai yang muncul di wajah pucat itu belum kunjung hilang juga.
Satu kalimat yang meluncur dari bibir tipis itu, membuat Sasuke membeku seketika itu juga.
"Namamu, dekat sekali dengan kematian..."
GLEGAAAR!
Detik berikutnya, petir menyambar sebuah pilar di atas gedung sekolah. Setelahnya, Sasuke tidak melihat sosok gadis itu lagi. Dia telah menghilang.
Pandangan Sasuke hanya menemukan sebuah buku sketsa yang tiba-tiba sudah kembali berada di kursi taman tersebut. Dan buku itu...
Bergambarkan sketsa dirinya...
.
.
.
.
(Nothing)
Laki-laki berusia 15 tahun itu tidak habis pikir.
Sasuke yakin tadi dia tidak salah lihat, gambar yang berada di buku sketsa itu adalah dirinya. Mulai dari gaya rambutnya, bentuk wajahnya, sampai perawakan tubuhnya juga mirip. Dan lagi, sketsa itu hampir selesai, bahkan ada beberapa bagian yang sudah diwarnai.
Semua sketsa itu tidak masalah jika tidak ada satu bagian yang janggal di sana. Sketsa itu juga tidak akan membuat Sasuke berpikir sekeras ini jika tidak ada hal yang aneh di buku sketsa itu.
Gambar itu cukup bagus, wajah Sasuke terlihat sangat nyata di sana, postur tubuh di sana juga sesuai dengan dirinya. Meski gambar latar belakang gambar itu sedikit menyeramkan—warna abu-abu dan hitam mendominasi, seperti langit kelabu. Tapi hanya satu yang membuat Sasuke terfokus pada gambar yang hampir selesai itu.
Tanggal awal digambarnya sketsa itu.
10 Maret.
Sasuke mengingat-ingat tanggal hari ini. Hari ini adalah tanggal 9 April, dan hari ini pula dirinya pertama kali memasuki sekolah Kamakura Minami. Baru tadi pagi dia memperkenalkan dirinya sebagai Uchiha Sasuke ke seluruh murid di kelas tiga-empat.
Jika benar sketsa itu dibuat tanggal 10 Maret, itu artinya sebulan yang lalu Sakura sudah membuat garis awal sketsa tersebut. Sementara Sasuke baru bertemu dengan gadis itu tadi pagi, di lorong lift rumah sakit.
Bagaimana bisa Sakura menggambar perawakan Sasuke dengan detil dari sebulan lalu jika laki-laki itu baru bertemu Sakura hari ini?
Lalu pembicaraan Sakura tadi, apa maksudnya dengan 'namamu-dekat-dengan-kematian'? Sasuke rasa namanya tidak seperti nama seorang pembunuh, namanya juga tidak membawa sial. Lalu apa maksudnya dengan kata-kata tadi? Apa Sakura hanya berusaha mengancamnya karena dia tidak suka Sasuke mendekatinya?
Ah, begitu banyak pertanyaan di kepala Sasuke mengenai gadis itu sekarang.
Sasuke membuka pintu kelas yang berada di hadapannya.
GREEEK.
"SASUKE! DARIMANA KAU! SEHARUSNYA KAU TETAP DI SINI!" sembur Karin galak begitu Sasuke membuka pintu kelas. Mata merahnya menyala garang, wajahnya marah mengancam. Sungguh berbeda dengan sikapnya tadi yang ramah.
Sasuke mengernyitkan alisnya, pertanda dia tidak suka dibentak seperti itu. Datang-datang dimarahi seperti itu, padahal Sasuke tidak melakukan kesalahan apa-apa.
"Aku dari taman sekolah," jawab Sasuke berusaha untuk tenang. Padahal emosinya cukup terpancing juga mendengar nada bicara dari Karin yang seolah ingin mengajaknya berkelahi.
Karin melipat kedua tangannya di depan dada, "Apa yang kau lakukan di sana?" nada bicaranya agak turun, sepertinya Karin melemah karena wajah ketidaksukaan Sasuke tadi.
"Sedikit berbicara dengan seseorang," jawab Sasuke acuh tak acuh seraya menaikkan kedua bahunya. Pikirannya kembali melayang ke kejadian barusan, Sakura yang mengancamnya, dan tiba-tiba menghilang.
"Siapa?" Karin kembali bertanya dengan nada menyelidik. Ini yang tidak Sasuke sukai dari Karin, anak ini terlalu banyak bertanya dan ingin tahu semua hal.
Sasuke menarik napasnya sebentar, lalu mengeluarkannya lagi. Sejenak dia memandang ke arah luar jendela, hujan gerimis turun dengan anehnya. Lima menit yang lalu, tepat saat Sasuke menemukan Sakura di taman sekolah, langit masih dalam keadaan cerah. Namun setelah pembicaraan singkatnya dengan Sakura, langit tiba-tiba berubah drastis seperti ini.
"Haruno Sakura, dia aneh sekali. Apa di depanmu juga begitu?" akhirnya Sasuke menjawab dengan pelan.
DEG.
Semua kegiatan murid-murid di kelas seketika berhenti. Termasuk Tenten dan Neji yang sedang memakan bekalnya—Tenten pun nyaris tersedak karenanya. Bahkan siswi-siswi yang sedang berbicara dengan hebohnya saat itu juga langsung terhenti dari aktivitasnya. Semua murid di kelas tersebut mengarahkan pandangannya ke arah Sasuke.
Sasuke tersentak, melihat semuanya yang menatapnya dengan tidak biasa. Respon mereka lebih aneh dari kejadian laki-laki berambut mangkuk yang terluka tadi. Ada yang terkejut—seperti tidak percaya, ada juga yang cemas dan khawatir, ada juga yang langsung ketakutan begitu mendengar Sasuke mengatakan hal itu.
Ketika itu juga, Sasuke menyadari, atmosfer kelas ini telah sepenuhnya berubah. Suasana yang tidak biasa memang berada di kelas ini, sejak awal Sasuke sudah mencurigainya. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh murid-murid di kelas ini, sesuatu yang tidak diceritakan mereka pada Sasuke.
Entah karena situasi yang mempengaruhi, atau sekarang kelas ini memang terasa lebih gelap. Sekarang Sasuke merasa sedikit bergidik dengan teman-teman sekelas yang masih menatapnya intens. Mata mereka seperti menyorot, menyala-nyala terang, dan mata itu diarahkan tepat ke arah Sasuke.
Tidak lama, Naruto terlihat membuka mulutnya, berusaha berbicara dengan kelu.
"S-siapa itu? A-aku tidak mengenalnya!" sebuah bantahan keluar dari lisan itu. Sasuke mengamati tingkah laku Naruto sekarang, laki-laki itu gemetar, namun cengiran paksa berusaha dia tampilkan untuk menyamarkan gemetar tersebut.
Tapi Sasuke tidak bisa dikelabui, dia tahu apa yang dirasakan Naruto sebenarnya.
"A…ahahaha… Haruno Sakura itu siapa Sasuke?" Tenten juga menyetujui bantahan yang dilontarkan Naruto sebelumnya, gadis itu tertawa mencurigakan.
"Heh! Kau mengigau ya Sasuke?" sahut seorang laki-laki bernama Kiba yang berdiri di ujung kelas.
"T-Tenten benar, Sasuke, siapa itu Haruno Sakura?" ujar laki-laki berambut mangkuk yang sedang duduk di kursinya.
Sasuke memandangi mereka dengan bingung, mereka tidak mengenal Sakura katanya? Bagaimana mungkin? Sakura duduk diantara mereka tadi pagi, masa tidak ada satupun dari mereka yang menyadarinya? Lagipula, kalau Sakura belajar di kelas ini, itu artinya Sakura merupakan salah satu murid kelas tiga-empat ini. Tapi mengapa mereka tidak mengenal teman sekelas mereka sendiri?
Sekarang, mereka semua menertawai Sasuke, bahkan beberapa diantara mereka mulai mencemooh Sasuke dengan kata-kata 'tukang mengkhayal' atau 'anak baru bodoh'.
Namun jika didengarkan lebih saksama, tertawa mereka terdengar ganjil. Terlalu dipaksakan, seolah-olah menjadikan sesuatu yang mengerikan untuk tetap dianggap lucu bagi mereka. Dari cara tertawa mereka, murid-murid di kelas ini seolah ingin menghibur diri sendiri dari sesuatu yang menakutkan.
"Apa yang terjadi dengan kalian, dan apa-apaan reaksi kalian itu?" Sasuke tidak bisa menahan dirinya lagi untuk bertanya, apa yang sesungguhnya terjadi di kelas ini?
Tidak ada yang meresponnya, semua masih tertawa seperti tadi.
"Sasuke, tidak ada yang bernama Haruno Sakura di kelas ini, mungkin kau salah orang." Karin tersenyum dan menghampiri Sasuke, sebelah tangannya menyentuh tangan Sasuke untuk menggenggamnya.
"Aku melihatnya belajar di kelas ini sedari tadi! Aku juga bertemu dengannya di taman sekolah!" Sasuke menepis tangan itu, lalu menatap Karin sinis.
Karin mendengus sebal, lalu mengambil secarik kertas dari saku kemejanya. "Ini absen kelas tiga-empat, coba cari namanya kalau tidak percaya!" Karin menyerahkan kertas absen tersebut pada Sasuke.
Mata hitam Sasuke menelusuri kertas absen tersebut, dari atas kebawah, keatas lagi, dan kebawah lagi. Berharap menemukan nama 'Haruno Sakura' di secarik kertas tersebut.
Tapi ternyata nihil. Tidak ada.
Kalau begitu, siapakah Haruno Sakura yang ditemuinya?
Wajah Sasuke mengeras, rahangnya menegang, bulu kuduknya merinding. Angin yang tidak diketahui dari mana asalnya tiba-tiba datang dan membelai daerah tengkuk Sasuke. Murid-murid yang tertawa lepas kendali pun membuat Sasuke semakin bergidik. Seluruh memorinya terkuak, mengenai papan kelas yang terbuat dari papan Ouija, murid-murid yang aneh, sampai eksistensi seorang Haruno Sakura yang diragukan.
Apa yang sebenarnya terjadi di kelas ini?
.
Gadis bermahkota merah muda itu hanya memandang Sasuke dari luar kelas tiga-empat, menyandarkan tubuh mungilnya ke dinding koridor yang gelap. Mata hijaunya tampak terlihat terang di kegelapan.
"Berhati-hatilah, Sasuke..."
Kemudian, sosok gadis itu hilang ditelan kegelapan.
.
.
.
.
To Be Continued
Preview:
Chapter 3: Do you exist?
"Sasuke, berhentilah mengurusi sesuatu yang tidak nyata!"
"Etto… Sasuke-kun, ini untuk keselamatanmu..."
.
"Kelas tiga-empat itu bukan sembarang kelas, pernah ada kejadian mengerikan di kelas itu."
"Jelaskan padaku, serinci mungkin."
"Semua berawal dari kematian Haruno lima belas tahun yang lalu..."
"H-Haruno?"
.
"Katakan padaku, kau itu nyata atau tidak?"
"Jika tidak, apa yang akan kau lakukan?"
.
A/N:
Waw… berapa tahun saya nelantarin fic saya ini? Harap tolong dimaklum ya… saya lagi kena WB niiiihhhh T^T
Nah, apa seremnya udah nambah di chapter ini? apa misterinya udah lumayan di chap ini? atau malah menurun? Aduuuhhhh…. Kritik dan sarannya tolong sampaikan lewat review yaaa… biar saya bisa mengkoreksi penulisan lagi niiiihhh :D
Emm… untuk yang kritik di chapter satu, saya lupa namanya, makasih banget kritiknya yaa! XD saya jadi gak serampangan lagi buat latar fic, saya udah searching dan bertanya-tanya sama guru-guru saya dan hasilnya chapter 1 kemarin udah saya ubah. Makasih banget! Makasih banget! Minta kritiknya lagi boleh gak :D
Oke, say hi to me, Reicchi!
Jakarta, March 8th 2012 (24:20)
Mind to leave a review?
