- Chapter 1 -
Izuki menyesap teh yang masih mengepul di cangkirnya dengan enggan. Alisnya berkerut, jakunnya naik turun ketika tenggorokannya terpaksa menelan cairan yang mungkin sampai saat ini belum ada kata yang dapat mendeskripsikan rasanya dengan tepat. "Bahkan teh buatan ibuku jauh lebih enak," ujarnya ketika meletakkan kembali cangkir yang masih setengah penuh itu ke atas tatakan di atas meja dengan asal-asalan.
"Maaf saja, aku bukan ibumu yang cantik dan pandai memasak dan blah blah blah," sebuah suara menyahut. Nada jengkel suara itu, entah kenapa saat mendengarnya Izuki malah merasa begitu tenang. Begitu juga dengan suara pisau beradu dengan kayu yang bergema di ruangan kecil yang saat ini ditempatinya. Pun suara gerutuan lirih dan bunyi plung yang terdengar ketika lelaki berambut abu-abu kecoklatan yang berdiri memunggunginya di seberang ruangan itu memasukkan irisan daging ke dalam panci. Mungkin karena suara-suara itu adalah satu-satunya pembuktian bahwa dia tidak sendiri? Entahlah.
Izuki menumpukan sikunya di sudut meja dan meletakkan dagu di atas telapak tangannya yang terbuka. Bibirnya tersenyum miring penuh arti. "Dan bahkan ibuku selalu menggosongkan panci ketika memasak air."
"Hah, jadi sekarang kau berani mengejekku." Suara itu terdengar tidak peduli namun Izuki dapat mendengar senyuman disana.
"Hu um."
"Kau ingin mati, ya?"
"Kalau aku ingin mati, aku tidak akan meraih tangan kasarmu tadi."
"Kau!" lelaki itu menggeram dan berbalik menghadap Izuki. Sendok sayur besar teracung di tangannya. "Tanganku boleh kasar, tapi aku tidak akan pernah menghina orang yang baru saja menyelamatkan hidupku yang menyedihkan dengan mengatakan teh buatannya tidak enak atau tangannya kasar."
Suara berderak ketika kaki kursi yang didudukinya bergesek dengan lantai kayu menggema di ruangan ketika sang Pangeran berdiri. Hanya butuh lima langkah baginya untuk menyeberangi ruangan dan menghampiri pria yang telah menyelamatkan hidupnya yang menyedihkan petang tadi. "Maaf, deh, maaf. Tehnya enak, kok." Tangannya meraih sendok sayur yang masih teracung. "Masih kurang apa? Biar aku bantu memasak," tawanya ketika menempatkan diri di samping pria itu, menghadap panci yang mengepulkan uap berbau daging. Perutnya mulai melilit lapar.
Lelaki itu juga ikut berbalik, kini menyibukkan diri dengan pisau dan bawang setelah sendok sayurnya dirampas. "Kau tidak berniat mengoreksi ucapanmu tentang tangan kasarku?" ucapnya setelah beberapa saat.
"Hm? Tanganmu memang kasar, kok!"
"Kau ini!" Izuki tergelak ketika tangan kasar yang telah menyelamatkannya mengacak rambut hitamnya.
Mereka bertemu sore tadi. Bukan bertemu, lebih tepatnya dia ditemukan oleh pria ini sore tadi, ketika tangannya sudah mati rasa dan hampir melepaskan pegangan pada batang kayu dimana dia menggantungkan hidupnya, dalam arti harfiah (Izuki enggan mengakui, tapi ternyata dia lebih lemah daripada sebatang kayu lapuk, mungkin sudah saatnya dia harus melatih ototnya kembali). Dengan seutas tambang yang entah didapat dari mana, pria tersebut menuruni jurang layaknya pahlawan kesorean dan meraih tangan Izuki yang sudah gemetar untuk membawanya naik.
Begitu sampai di atas, tanpa banyak kata dia digiring oleh penolongnya menyusuri hutan, melewati celah-celah sempit diantara batang pohon yang berlumut. Tanpa banyak bertanya juga Izuki menurut karena bertemu dengan manusia di tengah ribuan pepohona tua merupakan hal yang cukup melegakan baginya. Hari telah gelap ketika mereka sampai ke sebuah pondok yang berdiri beberapa meter dari tepi sungai; sungai yang sejak semalam dia susuri sebagai rute kabur. Aneh karena sebelumnya dia sama sekali tidak menyadari ada pondok yang berdiri di sana.
Pondok itu kecil, hanya terdiri dari tiga ruangan. Satu kamar mandi, satu kamar tidur, dan satu ruang tengah atau yang Izuki sebut ruang multifungsi. Ruang dimana dia berdiri saat ini. Setelah mandi dan berganti pakaian, yang tentu saja dipinjamnya dari pria tersebut, dia didudukkan di ruang multifungsi ini dengan segelas teh hangat disorokan di hadapannya. Selanjutnya, inilah yang selanjutnya terjadi.
"Lalu, apa yang kau lakukan di sini?" Suara pria itu membuyarkan lamunannya. "Hei, jangan diaduk terus, nanti dagingnya hancur!"
"Dari awal dagingnya memang sudah hancur. Cara mengirismu payah, sih!"
"Ck!"
"Apa yang aku lakukan di sini? Memasak, tentu saja. Memangnya kau tidak lihat?"
Pria itu menggeram. "Maksudku, apa yang kau lakukan di sini," tangannya membuat gerakan melingkar, "di dalam hutan ini."
"Kalau begitu aku juga ingin bertanya. Apa yang kau lakukan di sini?" Izuki meletakkan sendok sayur di meja di samping tungku dan tangannya melakukan gerakan melingkar yang sama dengan pria di sebelahnya. Kebetulan sekali pria ini membawa arah pembicaraan mereka ke sana karena dia memang mempunyai banyak pertanyaan di dalam benaknya sejak adegan penyelamatannya tadi sore. "Bagaimana kau bisa menemukanku di dinding jurang itu, karena setahuku tempatnya tersembunyi, dan tadi juga sudah petang hari. Jangan salah, bukannya aku tidak senang dan berterima kasih telah diselamatkan, aku hanya penasaan. Sejujurnya aku sudah ingin bertanya tentang hal ini sejak kau membawaku ke pondokan, karena, tentu saja seperti kebanyakan orang tua, ibuku sering berpesan untuk jangan memercayai orang yang baru aku kenal. Tapi kupikir kau tidak terlihat seperti orang jahat, apalagi kau juga telah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkanku." Selama racauannya Izuki menggerakkan dan melambaikan tangannya kesana kemari, tidak menyadari raut bosan yang ditunjukkan lawan bicaranya. "Tapi kau benar-benar tinggal di tengah hutan ini sendirian? Bahkan kau sampai membangun pondok segala."
"Sudah?" adalah sahutan singkat yang dilontarkan pria yang sekarang berdiri berkacak pinggang satu tangan sambil bersandar di meja dapur. Satu alis terangkat.
"Hah?"
"Sudah selesai melanturnya?"
"…kau membangun pondok ini sendirian?"
Pria itu menghela nafas panjang, seakan mamaklumi kebodohan dan kepolosan Izuki. "Pindahkan supnya ke mangkok dan bawa ke meja itu." Dia menunjuk satu-satunya meja di ruangan itu. Segera setelahnya dia berbalik menuju seperangkat perabotan kayu tersebut dan duduk di salah satu kursi dengan satu kaki menyilang di atas kaki satunya.
"Eh, supnya sudah matang?"
"Sudah. Pindahkan saja dan bawa ke sini!"
"Iya, iya," jawab Izuki sekenanya. Suara metal beradu selama beberapa saat memenuhi ruangan ketika Pangeran Heart tersebut memindahkan sup dari panci ke dalam mangkuk, sampai akhirnya ia tidak tahan dengan kesunyian yang membuatnya sedikit tidak nyaman. "Hei," ujarnya lirih. "Aku tahu kau sedang mengelak dari pertanyaan-pertanyaanku. Tapi paling tidak jawablah pertanyaanku yang satu ini. Aku capek menyebutmu hanya dengan pria ini dan pria itu. Kau punya nama, kan? Siapa namamu?"
"Heh, rasanya bagus juga disebut dengan pria ini dan pria itu. Terdengar misterius." Pria itu terkekeh sebentar dan berhenti setelah Izuki memelototinya. "Baiklah, baiklah. Sebut saja aku Fukui. Dan aku tidak mengelak dari pertanyaanmu, Tuan Tidak Sabaran. Sekarang cepat bawa mangkuknya kemari, aku sudah lapar."
"Tsh, 'sebut saja aku Fukui'?" Izuki mendesis kesal namun dibawanya juga dua mangkuk sup itu ke meja, satu diletakkan di depan pria yang sekarang diketahuinya bernama Fukui, satu diletakaan di seberangnya, di depan kursi yang akan didudukinya. Pantatnya nyaris menyentuh dudukan kursi ketika pria dihadapannya kembali menyalak.
"Kau menyuruhku memakan sup dengan tangan? Cepat ambilkan aku sendok!"
Kini giliran Izuki yang menghela nafas. Entah apa yang dipikirkannya petang tadi ketika dia menerima uluran tangan Fukui. Rasanya dasar jurang jauh lebih menyenangkan daripada di sini, mungkin.
"Ini!" ujarnya singkat saat menyerahkan sendok. Tak sepatah katapun dikeluarkan oleh keduanya selama prosesi makan malam sederhana itu. Izuki mempergunakan kesempatan tersebut untuk memerhatikan keadaan ruangan dengan seksama. Dia perlu mencari jalan kabur alternatif dan mungkin senjata jika suatu saat keadaan darurat memaksanya untuk mempertahankan dirinya sendiri. Siapa tahu Fukui punya niat jahat, karena, yah, tidak ada salahnya, kan, berjaga-jaga.
Ruangan yang ditempatinya saat ini kecil namun cukup besar jika dibandingkan dengan dua ruang lainnya; kamar mandi yang disesaki bak mandi dan toilet hanya menyisakan sedikit ruang untuk bergerak, begitu pula dengan kamar tidur yang hanya cukup untuk diisi satu ranjang kecil tanpa kasur dan meja yang dipenuhi tumpukan pakaian. Ruangan ini, sebaliknya, cukup luas untuk ditempati berbagai perabotan. Tepat di seberang pintu masuk, berbagai perlengkapan berburu seperti tombak, anak panah, dan busur tergantung di dinding. Juga sebuah cermin kecil berbingkai unik yang terlihat salah tempat. Di bawahnya, senjata-senjata lain tertumpuk di atas dipan kecil. Dilihat dari tebalnya debu yang menyelimuti, sepertinya senjata-senjata itu sudah lama tidak dipergunakan. Dipan yang sedikit lebih besar diletakkan tepat di kiri pintu masuk. Dua langkah di depannya, di samping jendela, adalah satu set meja kursi yang saat ini sedang ditempatinya. Dapur sederhana yang hanya ditandai dengan adanya satu buah tungku dan meja kecil dengan berbagai peralatan memasak diletakkan asal-asalan di atasnya menempati seberang meja makan.
Benak Izuki melayang kembali pada kamarnya di istana. Meski dia selalu bosan jika terlalu lama berada di sana, rasanya kamarnya jauh lebih ceria daripada pondokan ini. Saat bosan di kamar dan tidak bisa keluar (saat ia sedang diskors, misalnya), dia bisa berjalan mondar-mandir, berputar-putar, berlari, bahkan jungkir balik di dalam kamar. Di sini? Tidak, terima kasih. Salah gerak sedikit saja, bisa-bisa tombak di dinding melayang jatuh ke kepalanya. Karenanya Izuki bertanya-tanya, apa yang akan dilakukan oleh pria yang dengan rakusnya menenggak kuah sup di hadapannya ini jika sedang bosan.
Omong-omong tentang pria tersebut, sang Pangeran belum sempat memerhatikannya lebih lekat. Izuki ingat ketika mereka berjalan berdampingan menuju pondokan ini, tinggi tubuh mereka tidak terpaut jauh, mungkin hanya empat atau lima sentimeter. Postur tubuh mereka juga tidak jauh berbeda. Tubuhnya langsing namun terlihat kuat dengan balutan tunik abu-abu polos sebatas setengah paha. Lengan bajunya dilipat hingga siku, memperlihatkan lengannya yang kuat dan terlatih. Sabuk kulit yang sudah agak usang berwarna coklat tua melingkar di pinggang. Pedang yang sore tadi terikat di sana telah dilepas. Bordiran ungu berpola rumit tapi tidak terlihat berlebihan tersemat melingkar di ujung bawah tunik dan di sekitar kerah. Kerah berdirinya terbuka sampai setengah dada, memperlihatkan liontin yang tergantung pada benang hitam yang dililitkan dua kali di leher jenjangnya. Celana hitam yang tidak terlalu ketat namun juga tidak longgar membalut kakinya. Ujungnya tidak terlihat karena dimasukkan ke dalam sepatu bot kulit yang lapisan luarnya telah mengelupas di beberapa bagian.
Tidak ada yang istimewa bagi Izuki, malah terlihat terlalu biasa. Dia sudah biasa melihat sesuatu yang jauh lebih glamor. Apalagi sebulan yang lalu dia baru saja dipertemukan dengan penguasa Diamond yang tanpa malu menyematkan emas dan permata di setiap bagian yang memungkinkan pada jubah-jubah sutra mereka yang berkibar. Satu-satunya yang menarik perhatiannya dari pria ini adalah liontin yang tergantung di dadanya.
Liontin itu berwarna putih, mungkin terbuat dari perak, berbentuk mahkota berujung empat dengan lambang Empat Kerajaan pada tiap-tiap ujungnya; Spade dan Club di ujung terluar diikuti dengan Heart dan Diamond di kiri kanan lubang tali. Tidak ada ukiran, tidak ada sulur, atau ular yang melilit, tapi ada kesan yang mengatakan bahwa liontin itu bukan liontin biasa yang bisa didapat dengan mudah di kios-kios perhiasan di ibukota. Terutama dengan adanya lambang keempat kerajaan disana. Guru-gurunya di istana sering berkata bahwa tidak baik membawa lambang kerajaan lain pada diri kita, karena selain bisa dianggap merendahkan kerajaan tersebut, bisa-bisa kita disebut penghianat dan dimasukkan ke dalam penjara. Bicara tentang pelajaran, sepertinya dia pernah melihat lambang berbentuk persis seperti liontin itu di salah satu buku pelajarannya. Atau di salah satu buku tebal di perpustakaan istana. Tapi dia tidak ingat pada bab apa dan di buku yang mana.
"Sudahlah, aku yakin kau juga punya ini," ujar Fukui dengan jari menunjuk ke dadanya. "Tidak perlu menatapnya sampai matamu hampir keluar begitu."
Sadar secara tidak langsung dia juga telah memandang dada lawan bicaranya dengan begitu intens, Izuki membuang muka, malu. "A-aku tidak menatap apapun."
Pria berambut abu-abu itu mendengus, dengan gerakan sambil lalu mengancingkan tuniknya sampai leher. "Ya, ya, terserahlah," ujarnya sambil menggeliat ke belakang. Kursinya yang tidak kuasa menahan berat tubuhnya hampir terjungkal ke belakang namun dengan tangkas pria itu dapat menyeimbangkan tubuhnya kembali dengan cepat. "Mungkin di tempat tinggalmu itu tidak disebut dengan menatap, tapi itulah yang aku tahu. Maaf, aku tidak seterpelajar dirimu."
Seringaian yang ditunjukkan pria di hadapannya itu membuat Izuki merinding. "Apa, sih, yang sebenarnya ingin kau katakan? Katakan saja langsung!"
"Hm? Hmm... Apa yang kau lakukan di tempat itu? Bergelantungan seperti monyet. Dan jangan bilang kau sedang melatih otot, karena kau hanya buang-buang waktu."
"Kau juga belum menjawab pertanyaanku. Kau tadi bilang tidak sedang mengelak dari pertanyaanku, kan? Kalau begitu jadilah laki-laki dan buktikan kata-katamu!"
"Hei, hei, hei! Kalau kau tidak menyadarinya, aku bukan satu-satunya laki-laki di sini."
"Aku tidak menjanjikan apapun."
"Tapi akulah yang bertanya padamu lebih dahulu. Jadilah laki-laki dan jawab pertanyaanku maka aku akan menjawab pertanyaanmu. Cukup adil, kan?"
Izuki diam tidak menjawab. Dia berdebat dengan dirinya sendiri apakah dia harus mengungkapkan jati dirinya yang sebenarnya pada pria ini. Apakah dia bisa dipercaya? Tentu saja tidak. Kalau begitu, bagaimana dia harus menjawab pertanyaan tersebut tanpa menimbulkan kecurigaan? Dia bisa berkata dia adalah anak tuan tanah di salah satu desa tepi hutan yang kabur dari kawin paksa, tapi dia tidak tahu satupun nama desa yang ada di sana. Selain itu, dia juga harus memikirkan identitas dan nama palsu yang cepat atau lambat pasti akan ditanyakan oleh Fukui.
Ketukan di meja membuatnya mengangkat kepala dan bertemu pandang dengan Fukui. "Oi, aku menunggu!" Ketika Izuki masih tetap membisu, pria itu melipat kedua tangannya di atas meja dan mencondongkan tubuhnya ke depan. Dia berkata dengan suara berat, sangat berbeda dengan suara cempreng bernada tidak peduli yang selalu ditunjukkannya. "Aku bertanya, apa yang membuat Pangeran Izuki kabur ke tengah hutan ini sendirian tanpa pengawal."
Tubuh Izuki menegang mendengar ucapan Fukui barusan. Dia tahu identitas aslinya. Dia tahu kalau dia adalah seorang pangeran. Tapi kenapa dia seakan memberi kesan dia tidak tahu apa-apa? Lebih dari itu, apa tujuan pria ini menyelamatkan dirinya? Apa dia akan menjadikannya tawanan dan meminta tebusan yang jumlahnya tidak masuk akal dari kerajaan? Apa mungkin dia adalah mata-mata dari kerajaan lain yang ingin mengorek informasi dari dirinya? Tapi bukannya kerajaannya sedang tidak berkonflik dengan kerajaan-kerajaan lainnya? Atau mungkin dia adalah pembunuh bayaran? Dia kerap mendengar cerita tentang seringnya pembunuh bayaran dikirim oleh musuh kerajaan untuk membunuh anggota keluarga istana. Tapi bukannya petang tadi pria ini menyelamatkannya? Siapa sebenarnya pria di hadapannya ini?
Didorong rasa kalut, terkejut, dan takut, Izuki berdiri mendadak dari kursinya, menyebabkan kursi yang baru saja didudukinya terjungkal ke belakang. Beruntung tadi dia sempat memerhatikan ruangan tersebut karena sekarang dia tahu pasti kemana dia akan melangkah. Mundur dua langkah, punggungnya sudah menyentuh dinding. Di samping kiri, berbagai macam senjata menumpuk di atas dipan. Tangannya meraih satu pedang teratas, dan langsung menyesal. Pedang itu terlalu berat. Dengan kesal dia melempar kembali pedang itu ke tempatnya semula dan mengambil pedang yang lebih kecil. Puas dengan pilihannya, Izuki mengibaskan pedang ke depan. Tangannya masih terasa sakit akibat bergelantungan hampir setengah hari di batang kayu, tapi tak dipedulikannya. Kini ujung pedang mengarah pada pria yang sedang bersandar santai di kursi dengan pegangan sendok mencuat dari bibirnya.
"Apa tujuanmu? Siapa kau sebenarnya?" Izuki berteriak lantang, selantang yang bisa diucapkan dengan suara gemetar.
Pria itu kembali menyeringai, terlihat menggelikan dengan sendok di mulut. Dalam kondisi normal, Izuki pasti sudah tertawa terbahak-bahak sembari melontarkan lelucon garingnya. Tapi tidak saat ini. Pemandangan di depannya membuatnya semakin begidik.
"Tidak perlu heboh begitu. Sudah aku bilang namaku Fukui." Tanpa memedulikan pedang yang teracung ke arahnya, Fukui berdiri dan berjalan menghampiri Izuki. Izuki yang merasa terpojok kembali mengacungkan pedang dengan sikap mengancam. "Letakkan sajalah benda tak berguna itu. Kau tidak lihat mata pedangnya tumpul." Untuk membuktikan ucapannya, Fukui menggenggam ujung pedang yang mengarah ke dadanya. "Nah, kan! Tanganku tidak luka."
Mata Izuki membulat. Dia merasa tak berdaya. Dia merasa lemah. Tanpa pengawal-pengawalnya, dia bukan siapa-siapa. Dia tak dapat melindungi dirinya sendiri. Sekarang dia baru menyesal tidak menuruti perkataan ayahnya untuk belajar bertarung dan berpedang. Menyesal telah mengatai adiknya sebagai boneka ayahnya yang tidak mempunyai kebebasan. Seharusnya dia juga tidak menyisihkan buku-buku cerita kesatria dan menganggapnya tidak berguna. Semua bacaan akan berguna pada saatnya karena kita tak tahu apa yang akan menghadang kita di masa depan. Di atas segalanya, dia menyesal telah berpikiran sempit dan memilih kabur dari masalah.
Memanfaatkan kelengahan Izuki, Fukui merenggut pedang dengan menariknya dari bagian ujung yang telah terlebih dahulu ada dalam genggamannya dan melemparkannya ke samping. Tanpa membuang waktu, Fukui membantingkan kedua lengannya di kedua sisi kepala Pangeran Heart yang gemetar, membuat tubuh sang Pangeran kembali menegang.
"Sudah aku bilang, kan! Tidak perlu heboh begitu. Segalanya tentang diriku yang kau skenariokan dalam otak kecilmu itu, Pangeran, semuanya salah."
Jika memungkinkan, Izuki ingin lebih merapatkan dirinya ke dinding ketika Fukui semakin mencondongkan tubuhnya ke depan selama dia berbicara. Senyum miring yang kadang berubah menjadi seringaian tak pernah lepas dari bibir yang hanya berjarak sejengkal dari wajahnya. Sang Pangeran semakin tak kuasa menahan gemetar tubuhnya. Situasinya saat ini benar-benar seperti kata pepatah; keluar dari mulut singa, masuk ke mulut buaya.
"A-apa yang kau inginkan? Kalau kau ingin emas–"
"Kau tak pernah mendengar perkataan orang lain ya, Pangeran?" Tangannya mulai memainkan surai hitam Izuki. "Aku tak ingin emasmu, atau nyawamu, atau apalah itu. Aku bukan bandit, bukan perampok, bukan pembunuh bayaran seperti yang kau pikirkan. Aku hanya seorang pria biasa yang memilih tinggal menepi di dalam hutan karena jengah dengan kehidupan kota yang penuh muslihat. Tidak bermaksud jahat sedikit pun. Kau boleh tenang."
"Kau pikir aku akan memercaya–" Kemudian suatu pikiran menyeruak ke dalam benaknya. "Hei, bagaimana bisa kau tahu yang aku pikirkan?"
Pria dihadapannya terlihat berpikir sejenak. "Karena aku memang bisa membaca pikiran," sahutnya asal. Tangannya masih memilin dan melintir rambut Izuki.
Mata sang Pangeran membulat. "Benarkah? Ternyata begitu. Jadi karena itu kau bisa tahu kalau aku pangeran?" Kini ketika situasi kritis sudah berangsur-angsur berlalu, Izuki juga berangsur-angsur kembali menjadi dirinya yang polos dan blak-blakan. "Nafasmu bau daging."
Bibir berkedut, pembuluh darah menegang di pelipis, secepat dia menyudutkan Izuki, secepat itu pula Fukui berbalik dan kembali duduk di kursi, menyempatkan diri memberdirikan kursi yang beberapa saat lalu dijatuhkan Izuki dalam perjalanannya. "Pakaianmu meneriakkan 'Aku pangeraaan' pada setiap orang, bodoh!" Tangannya mengibas-ngibas jengkel. "Kalau kau memang ingin kabur, kaburlah dengan cerdas. Pilih baju yang tidak terlalu menyolok."
Sang Pangeran tercengang, mulutnya membentuk huruf 'o' sebelum akhirnya dia memutuskan untuk mengamati kembali pakaian yang dipakainya. Tunik hitam? Oh, iya. Dia sudah berganti dengan pakaian yang dipinjamkan Fukui.
"Mantel merah marun dengan lambang hati berwarna hitam tanda anggota keluarga kerajaan. Lencana kain hitam dengan ornamen mata burung bermanik hijau tanda putra atau putri raja. Dan siapa lagi pangeran Heart yang ceroboh, tengil, dan payah, kalau bukan Pangeran Kedua, hm?
"Hei, aku mendengar penghinaan di sana!"
"Memang aku sedang menghinamu. Kenapa? Kau mau menuntutku dimasukkan ke dalam penjara?"
Izuki memberengut. "Aku bukan jenis orang yang seperti itu."
"Aku tahu."
"Sepertinya kau tahu terlalu banyak untuk ukuran penduduk hutan."
"Apa aku mendengar penghinaan di sana?"
"Aku memang menghinamu."
"Hah, kau terlalu meremehkanku jika menganggap tinggal di hutan membuatku buta akan dunia luar. Tidak sepertimu yang terkurung di dalam istana dan hanya mengetahui dunia hanya dari buku, bukuku adalah realitas. Dan realitas adalah bahan baku yang digunakan penulis untuk menyusun sebuah buku. Dengan kata lain, aku dua langkah di depanmu dalam hal kehidupan."
"Iya, aku tahu aku memang masih bau kencur."
"Baguslah."
"Kau tidak mendengar nada sarkastis di sana?" Ketika tak ada jawaban, sang Pangeran melanjutkan, "Lalu, kenapa tadi kau pura-pura bodoh? Maksudku kau memang berniat menyembunyikannya, kan, kalau kau tahu identitasku? Tadi kau benar-benar memberi kesan bahwa kau punya maksud tersembunyi. Apa yang terjadi kalau kebetulan pedang yang aku ambil tadi bukan pedang tumpul."
Fukui mendengus. "Satu-satunya pedang yang tidak tumpul di sini hanya itu." Dengan dagunya dia menunjuk pedang yang diletakkan asal di atas dipan kayu di sisi kiri pintu. "Dan aku cuma ingin menggodamu saja, hanya ingin tahu bagaimana reaksimu. Ternyata luar biasa menarik." Kembali dia terkekeh.
Suara bergemeresak membangunkan Izuki.
Otaknya sudah terjaga namun sepertinya badannya masih menuntut untuk diberi waktu lebih untuk istirahat. Karena itu, dia masih membiarkan matanya tertutup mesti telinganya dapat mendengar dengan jelas sumpah serapah yang berasal dari sebelah kanannya. Sesuatu membentur kayu ranjang yang saat ini ditidurinya menyebabkannya bergetar sedikit, lebih banyak sumpahan dia dengar, juga suara gesekan sebuah benda berat yang ditarik.
Nafas sang Pangeran Heart tercekat. Benaknya yang sudah terjaga selama beberapa saat meraba-raba mencari memori dan setelah beberapa saat akhirnya berhasil merumuskan situasi dan kondisinya saat ini. Kemarin ketika dia sudah hampir terjatuh ke dalam kuburan yang digalinya sendiri, seseorang meraih tangannya dan menariknya keluar. Mereka berjalan ke sebuah pondokan, makan malam, berdebat, hampir berkelahi (sepihak), bersepakat, kemudian pergi tidur.
Bersepakat. Tentang Fukui. Dia telah bersepakat dengan dirinya sendiri bahwa pria itu bukanlah orang jahat yang patut diwaspadai. Izuki mengutuki dirinya sendiri dalam hati. Kenapa dia begitu mudahnya memercayai orang yang baru saja ditemuinya? Bisa jadi, kan, pria itu hanya berpura-pura baik, manis di mulut, tapi kemudian menusuknya diam-diam dari belakang. Seperti sekarang ini misalnya. Mungkin saja benda berat yang sedang ditariknya adalah peti mati yang disimpannya di bawah ranjang, siap menelan korbannya, yang dalam kasus ini adalah Izuki. Boleh saja dia bukan perampok atau pembunuh bayaran seperti yang telah ditegaskannya semalam, tapi selalu ada kemungkinan lain. Psikopat misalnya. Bagaimanapun juga, dia telah menjalani kehidupan berat dengan tinggal sendirian di tengah hutan. Rasa kemanusiaannya, walaupun sedikit, pasti telah terkikis.
Dia harus kabur. Dan dengan sangat cepat.
Suara bergemeresak itu terdengar lagi. Izuki membuka sebelah matanya perlahan, dan langsung memicing kembali. Cahaya matahari yang menerobos masuk ke dalam kamar melalui jendela kecil di samping ranjang begitu menyilaukan matanya. Dilihat dari intensitas cahayanya Izuki menebak tengah hari sudah hampir berlalu. Ah, berarti dia sudah tertidur cukup lama.
Kali ini terdengar suara bergemerincing, seperti suara beberapa benda metal saling bertumbukan. Detak jantung pria bersurai hitam itu berhenti sesaat kemudian berdegup dengan cepat. Dia harus segera kabur. Setelah menghitung satu sampai tiga dalam hati, pada hitungan keempat, sang Pangeran bangkit berdiri kemudian melompat ke arah pintu yang terbuka.
Berhasil! Teriaknya dalam hati. Seruan kaget pria yang telah menyelamatkannya kemarin menjadi latar musik paling indah yang pernah didengarnya. Kecuali takdir berkata lain melalui selimut yang selama beberapa jam yang lalu melindunginya dari dinginnya udara malam. Kakinya yang tersandung kain lusuh itu menyebakannya terjungkal dan dahinya yang terantuk daun pintu menimbulkan latar musik paling menyedihkan sepanjang sejarah. Izuki mengerang kesakitan.
"Apa yang kau lakukan, bodoh?" Dua lengan menariknya bangun dengan kasar. "Dahimu berdarah. Diamlah! Jangan bergerak-gerak begitu!" Begitu berhasil terduduk, Fukui segera memeriksa dahinya, sesekali menyentuhnya dengan jari-jarinya yang kasar.
"Ouch!"
"Tidak usah manja." Tanpa peringatan Fukui memukulkan telapak tangan yang tadi digunakan untuk memeriksa dahinya ke puncak kepala sang Pangeran. "Hanya berdarah sedikit, tidak ada yang parah. Tunggu di bangku itu, aku akan segera kembali." Pria itu bangun dan beranjak menuju pintu depan namun sebelum mencapainya, dia berhenti dan berbalik kembali menghampiri Izuki. Tanpa kata, dia mengalungkan kalung rantai yang tergenggam di tangan kanannya ke leher sang Pangeran. "Jangan coba-coba melepasnya!" Dia memperingatkan kemudian berbalik dan pergi.
Sepeninggalan Fukui, Izuki segera bangkit dan berjalan menuju dipan panjang di samping satu-satunya pintu yang ada di pondok itu. Benaknya berteriak-teriak memerintahkannya untuk segera kabur, tapi entah kenapa hatinya terasa berat. Izuki masih bisa merasakan jemari Fukui menyentuh dahinya, terasa lembut dan menenangkan. Seperti tangan ibunya saat mengelus dahinya ketika demam, atau tangan besar Kagami yang membelai kepalanya saat dia sedang gundah. Tangan yang ingin melindungi.
Izuki menggeram jengkel. Kenapa dia begitu lemah hanya dengan sedikit kebaikan yang ditunjukkan orang lain padanya. Itulah mengapa dia selalu tidak sadar sejak kecil dia selalu dibully sang kakak. Hanya dengan senyuman, kata-kata manis, dan sedikit iming-iming hadiah, dia selalu dengan senang hati melakukan apapun yang diperintahkan kakaknya.
"Apa yang kau lamunkan, hm?"
"Hah?" Sibuk dengan pikirannya sendiri, Izuki tidak sadar Fukui sudah kembali ke pondok dan telah duduk bersila di sampingnya. Di tangannya tergenggam beberapa lembar daun. Butir-butir bening air masih tersisa di permukaannya, beberapa mengalir ke telapak tangan pria itu dan kemudian menetes ke lantai kayu. "Ah, bukan apa-apa."
Fukui hanya mengangkat bahu tidak peduli dan mulai menyibukkan diri dengan dedaunan di tangannya. Setelah membolak-balik dan memilih selembar daun yang agak besar dan berwarna lebih muda dari beberapa lainnya, pria itu memasukkannya ke mulut, mengunyahnya. Izuki mengernyit.
"Hei, aku bisa memasakkanmu sup kalau kau masih punya daging. Tidak perlu menjadi vegetarian menyedihkan seperti ini," ujarnya hati-hati.
"Siapa yang vegetarian?"
"Kau. Lagipula, daun apa itu? Kau kenyang hanya dengan memakannya beberapa lembar?"
Tanpa disangka, Fukui memuntahkan kembali daun yang sudah remuk itu ke telapak tangannya, membuat Izuki meringis jijik.
"Hieek, apa-apaan kau ini? Menjijik– Hei apa yang kau lakukan, lepaskan aku! Hei!" Tidak memedulikan teriakan histeris Izuki, Fukui menarik dagu Pangeran Heart tersebut dan menempelkan daun remuk bercampur ludah itu ke dahinya, menekannya terus agar tidak jatuh ketika pria yang lebih kecil darinya itu berontak.
"Berhenti meronta!" katanya kemudian setelah beberapa saat Izuki masih juga belum berhenti menggeliat. "Aku tidak punya obat di sini. Hanya rumput Plantain ini yang bisa aku gunakan untuk mengompres lukamu. Sekarang pegang ini, biar aku carikan kain," tambahnya sebelum beranjak ke kamar tidur.
"Kan kau bisa memperingatkanku dulu. Biar aku sendiri yang mengunyahnya." Izuki mencebik kecil.
"Memangnya kau doyan?" sahut Fukui dari ruang sebelah. Sesaat kemudian dia keluar membawa selembar kain. Dengan hati-hati dia ikatkan kain itu di seputar dahi Izuki, menutupi sepahan daun Plantain. "Kau boleh mencoba mengunyahnya besok pagi ketika kita menggantinya dengan yang baru. Semoga bengkaknya tidak semakin menjadi. Nah, selesai. Jangan dipegang-pegang." Tangannya menepis tangan Izuki yang mencoba menyentuh maha karyanya tersebut. Sang Pangeran menurut.
"Terima kasih," ujarnya kemudian.
"Hm."
Selama beberapa saat, tidak ada dari mereka yang berbicara. Fukui bersandar santai di dinding kayu. Di sebelahnya, Izuki duduk di ujung dipan dengan kaki menggantung. Suara kicauan burung terdengar dari luar. Izuki belum pernah mendengar burung berkicau bersahut-sahutan sedekat ini. Satu-satunya suara hewan yang rutin menyapanya di istana hanyalah suara jengkerik. Dan kuda. Dan domba dan sapi. Tapi tak pernah sekalipun suara-suara itu membuatnya merasa sedekat ini dengan alam seperti yang saat ini dirasakannya.
Izuki selalu merasa bahwa dirinya adalah manusia urban yang mengagumi berbagai macam benda ciptaan manusia; patung, lukisan, bangunan. Ajakan yang sesekali dilontarkan ayahnya untuk mengajaknya berburu dan bersatu dengan alam selalu ditolaknya. Tapi kini ketika dia merasakan secara langsung, duduk di dalam pondok di tengah hutan, dengan terkejut dia mendapati dirinya cukup menyukainya. Suara air bergemericik yang berasal dari sungai semakin menambah damainya suasana.
"Kau masih menaruh curiga padaku, ya?" tanya Fukui tiba-tiba. Suaranya terdengar jauh dan sedikit menuduh, membuat Izuki merasa bersalah, agak merasa bersalah.
"Tidak, aku hanya–"
"Tidak perlu berbohong. Tadi kau berniat kabur, kan? Entah pikiran aneh apa lagi yang merasuki benakmu, tapi biar aku tegaskan sekali lagi. Aku sama sekali tidak bermaksud jahat. Kau boleh tinggal di sini sesukamu. Kalau kau merasa aku cukup mencurigakan dan kau merasa tidak aman, kau boleh pergi. Tapi aku sarankan, lebih baik jangan pergi ke dalam hutan ini lebih jauh, karena kau tidak akan menjumpai apapun. Hanya ada laut di ujung sana. Aku juga tidak menyarankanmu untuk kembali ke istana. Keadaan sedang kacau di sana. Jadi lebih baik kau tinggal di sini."
Keadaan sedang kacau? Tentu saja. Hari ini adalah hari yang telah dijanjikan untuk melakukan pemboyongan dirinya ke Diamond, tapi sang tokoh utama malah menghilang. Dia bertanya-tanya bagaimana ekspresi yang ditunjukkan Kuroko ketika mendapati tempat tidurnya kosong kemarin pagi. Dia benar-benar ingin melihat perubahan ekspresi pelayannya yang biasanya berwajah datar tanpa ekspresi. Ayah dan ibunya, dan mungkin Jack Kiyoshi dan Kagami pasti kalut dan langsung memerintahkan seluruh pelayan dan pengawal untuk mencarinya di setiap sudut istana. Izuki menghela nafas. Seketika dia merasa sangat bersalah.
"Mungkin sebaiknya aku pulang saja."
Ucapan singkatnya menimbulkan reaksi yang tidak disangka-sangka. Fukui langsung menegakkan duduknya. Tangan kasanya menggenggam pergelangan tangan sang Pangeran dengan erat. "Jangan!" teriaknya. Ketika Izuki hanya memandangnya dengan tatapan kaget bercampur bingung dan curiga, pria itu membuang mukanya dan dengan ragu-ragu melepaskan genggamannya. "Maksudku, keadaan sedang kacau di sana. Bahaya bagimu untuk tiba-tiba muncul."
"Keadaan di istana kacau karena kau culik aku."
"Hah? Siapa yang menculikmu?"
"Sudahlah. Aku yakin bisa memecahkan masalah ini. Aku punya palu di kamarku." Ketika hanya tatapan melongo Fukui yang didapatinya, Izuki melanjutkan. "Lagipula, darimana kau tahu situasi di ibukota sedang kacau? Tidak mungkin kau datang ke ibukota dan saat ini sudah ada di sini."
"Temanku datang tadi pagi. Aku tahu darinya." Dengan mengabaikan seruan 'kau punya teman?' dari Izuki dia melanjutkan, "Kalau tebakanku benar, kau kabur karena menghindari pernikahan dengan Raja Diamond, kan? Usaha setengah-setengahmu untuk kabur akan sia-sia kalau kau kembali sekarang."
"Usahaku tidak setengah-setengah," Izuki menyalak. "Aku berusaha keras."
"Hah, tidak percaya. Kau bahkan tidak mempersiapkan apapun. Makanan dan baju ganti misalnya. Atau senjata. Aku bertaruh kau juga tidak punya tujuan."
"Aku menjatuhkan tasku saat aku terperosok ke dalam jurang kemarin. Dan aku punya tujuan! Aku berniat bersembunyi di sini selama beberapa hari sampai rombongan Diamond enyah dari kerajaan."
"Kalau begitu tetaplah di sini. Sampai beberapa hari ke depan. Dan jangan pernah melepaskan kalung itu." Fukui menambahkan, setengah mengancam.
Izuki hampir melupakan kalung yang melingkari lehernya. Tangan sang Pangeran secara tidak sadar bergerak ke atas dan memainkan batu hitam yang tergantung di kalung rantai itu. "Kau tahu," ujarnya kemudian, "kau sangat misterius. Dengan tindakan dan ucapanmu. Aku tidak tahu apakah aku harus memercayaimu atau tidak."
Fukui tersenyum. Bukan senyum miring atau seringaian yang selalu ditunjukkannya, namun senyum lembut yang menenangkan. Sorot matanya juga berubah, tidak lagi menusuk atau menghakimi, tapi sorot mata peduli dan pengertian Sebelah tangannya terangkat dan dengan sangat hati-hati membelai pipi Izuki. "Kau bisa memercayakan hidupmu padaku. Aku tidak akan mencelakai orang yang sudah aku jaga sejak lahir."
