Baiklah, ini chapter ke 2 dari Ada Apa Dengan Namine dan Roxas?
Dan sekarang, tanpa banyak basa-basi, PLEASE ENJOY THE STORY!
Disclaimer: Kingdom Hearts itu milik Square Enix
Ada Apa Dengan Namine dan Roxas (chapter 2)
Back to Reality...
"Ohhh... Jadi begitu." Kata Sora dan Riku.
"Iya." Kata Namine dan Roxas. " Tapi aku tidak bisa terus seperti ini!" Sayangnya, bel tanda masuk kembali ke kelas sudah berbunyi (sudah 45 menit tah cerita itu? Waduh!). Mereka serempak bangkit dari tempat duduknya, memandang kantin yang mulai sepi, lalu berjalan ke kelas masing-masing.
"Namine, gue tahu elu nggak bermaksud mengakhiri hubungan sama Roxas, iya kan?" tanya Riku.
"Tentu saja tidak, Sor. Tapi apa yang udah dia lakukan terlalu menyakitkan hati gue!" jawab Roxas.
"Tapi sampai sekarang, lu masih suka dan cinta sama Namine kan?" tanya Sora."Iya sih, Riku. Tapi..." jawab Namine. Namun langsung dipotong oleh Riku.
"Tapi inilah saatnya! Ini adalah ujian bagi perasaan kalian berdua!"
"Siapa tahu, Namine akan benar-benar berubah menurut pikiran lu. Tapi inget, Rox. Sekeras apapun lu menyembunyikan perasaan lu, kau takkan bisa menyembunyikannya lama-lama." Kata Sora.
"Iya, mungkin itu alasan dia menceritakan hal itu semua." Kata Roxas. "Tapi tetap saja ia tak bisa menggunakan alasan itu untuk membenarkan tindakannya!"
"Sudahlah, Namine. Sekarang lebih baikkau tenangkan diri sendiri dulu. Nanti, kalau waktunya sudah tiba, kau bisa akhiri atau menlanjutkannya sampai nafas terakhir. Itu pilihanmu." Saran Riku. Namine memandang Riku, saudaranya itu, sebelum mengangguk "Iya."
"Cobalah rileeks dulu. Lalu pikirkan apa yang harus kau lakukan setelah ini. Ingat satu hal: hidup adalah pilihan." Saran Sora.
"Iya deh, pak guru..." jawab Roxas dengan santainya.
"DAN JANGAN MANGGIL GUA PAK GURU! DASAR MULE! MUKA BULE!" seru Sora, cukup keras sampai terdengar oleh Namine dan Riku.
"Itu suara Sora." Kata Namine. "Jadi, lebih baik aku ke kelas terlebih dahulu. Aku tak mau melihat wajahnya berada di kelas terlebih dahulu."
"Ya udah. Ke kelas dulu ya!" kata Riku. Mereka berpisah menuju kelas masing-masing, termasuk Sora dan Roxas.
Malam hari (eh, gue udah bilang ini hari apa belum? Belum ya? Hmm... Gimana kalo hari sabtu aja? Apa? Setuju? Kalo setuju kita kembali ke story), biasanya anak-anak remaja pada keluar malam-malam untuk malam mingguan. Kecuali Sora. Ia terpaksa keluar untuk membeli nasi goreng dikarenakan Ibunya tak sempat membuat makan malam.
"Dan sekarang bensin di motor gue abis. Sial banget ya gue hari ini..." kata Sora pada dirinya sendiri.
Sementara itu, Namine sedang berjalan untuk meminta maaf pada Roxas karena kejadian 'saos' tadi siang. Ia membawa sepiring kue bolu yang ia buat dirumah setelah ia pulang sekolah.
"Ku harap ia mau menerima permintaan maafku." kata Namine dalam hati.
Di depan rumahnya, Riku bersiap-siap untuk menuju rumahnya Roxas untuk merencanakan kembalinya hubungan Roxas dan Namine. Tapi ia menyembunyikannya dari Roxas sendiri.
"Kuharap Roxas mau menerima Namine lagi." Harapnya.
Sementara Roxas, ia sedang menonton televisi di ruang keluarga d lantai 2. Saat itu, keluarganya sedang menghadiri acara makan malam antar pengusaha sukses (wajar dia orang kaya ^_^)
"Membosankan!" serunya. Ia sudah menonton 4 DVD kesukaannya, main PS2, internetan, tapi ia masih merasa bosan.
"Gue harap ada kejutan malam ini." harap Roxas dalam hati. Tak lama, bel rumahnya berbunyi.
"Siapa yang datang malam-malam begini?" tanya Roxas dalam alam pikirannya. Ia membuka pintunya dan terkejut, karena seseorang mendorongnya hingga terjatuh.
"Roxas! Roxas!" kata seseorang itu. Ia melihat lebih jelas lagi. Ternyata ia seorang perempuan!
"Xi, Xion?" tanya Roxas.
"Aku melihatnya, Roxas! Aku melihatnya bersama perempuan lain!" kata perempuan yang bernama Xion itu. Ia menangis sejadi-jadinya.
"Xion, sudahlah. Kau tenangkan diri dulu. Ayo duduk di ruang tamu." ajak Roxas. Roxas akhirnya memapahnya ke ruang tamu.
"Ada apa, Na? kenapa kau datang sembil menangis tersedu-sedu?" tanya Roxas.
"I, ini so, soal Axel." katanya terisak-isak. "Ax, Axel se, selingkuh dengan perempuan lain." ia lalu kembali menitikkan air mata.
"Sudah ya, sabar." kata Roxas sambil mengelus punggungnya, mencoba menenangkannya. setelah Xion mulai sedikit tenang, Roxas memberanikan diri untuk bertanya.
"Bagaimana kejadiannya kau bisa melihat Axel bersama perempuan lain?" tanya Roxas.
"Si, siang itu aku la, lagi ingin ke wc. Ku, kudengar ada seseorang yang me, mengaduh. Sa, saat ku membuka pi, pintu, ter, ternyata A, Axel berciuman dengan perempuan lain." ceritanya sambil terisak-isak. Ia membenamkan wajahnya kedada Roxas, tangannya melingkari badan Roxas yang besar, alias Xion memeluknya.
"Tidak apa. tidak apa, Xion. Menangislah. Mungkin itu akan membuatmu menjadi lebih baik." kata Roxas. Ia mengelus-elus rambut perempuan itu. Xion yang menangis dan memeluk Roxas, dan Roxas (terlepas dari permasalahan antara ia dan Namine) yang mengelus rambut Xion, berada di posisi seperti itu sampai...
"PRANG!"
Terdengar suara piring yang terjatuh, atau lebih mirip sesuatu yang dibanting. Xion langsung melepaskan pelukkannya dan bersamaan dengan Roxas melirik ke arah pintu masuk. Mereka melihat seorang anak perempuan, seumuran dengan mereka. Di dekat kakinya terdapat pecahan piring, beling-belingnya pun tersebar. Kue-kue juga berserakkan disekitarnya. Mukanya penuh dengan rasa pengharapan ini hanya mimpi, kekecewaan, kemarahan dan kesedihan. Ia adalah Namine.
"Na, Namine..." sebelum sempat ia menjelaskan, akhirnya meledakkan isi hatinya di rumah Roxas.
"Kau sudah membuatku sedih saat kau memutuskan hubungan kita. Aku juga membuatku kecewa saat mengajakku berkelahi. Dan aku masih bisa memaafkanmu, Roxas." kata Namine. Ia tak bisa menahan air matanya lebih lama lagi. "Dan sekarang, aku melihatmu dipelukan perempuan lain? Aku benci kau, Roxas! Aku benci! Kau playboy, buaya darat dari segala buaya! Aku tak ingin melihat wajahmu lagi!" Namine langsung berlari, membanting pintu rumah Roxas sebelum Roxas mampu mengejarnya.
"Roxas, bisa ceritakan aku apa yang sedang terjadi?" tanya Xion. Roxas hanya terdiam.
"Roxas? Roxas!" Xion mulai menggoncang-goncangkan badan Roxas. Tetap tak ada respon.
Sora saat itu sedang membayar nasi goreng pesanan ibunya. Saat ia ingin keluar mengambil motornya, sekilas ia melihat seorang anak perempuan berlari sambil menangis.
"Itu Namine, kan?" pikirnya. Ia mencoba menajamkan pandangannya yang minus itu dan yakin itu Namine. Ia langsung berlari meninggalkan motornya untuk mengejar Namine.
Namine berhenti di sebuah jembatan yang tinggi, dimana ia menyadari inilah saat untuk mengakhiri semuanya. Ia melepaskan cincin yang menempel di jari manis tangan kanannya tersebut dan mengingat kembali saat Roxas memintanya menjadi pacarnya.
Flashback...
"Emm... Namine. Udah mendingan sekarang?" tanya Roxas.
"Iya. Kepalaku memang masih agak pusing, tapi aku baik-baik saja." jawab Namine. Sudah beberapa hari sejak Namine sadarkan diri di rumah sakit. Dan sudah beberapa minggu setelah kecelakaan itu. Roxas sudah beberapa hari ini tidak masuk sekolah untuk menjaga Namine.
"Emmm... Roxas..." kata Namine.
"Apa?" tanya Roxas.
"Apakah orangtuaku datang ke sini?" tanya Namine. Roxas menggeleng pelan.
"Tapi, saat kau koma di UGD orangtuamu datang. Mereka khawatir setengah mati akan keadaanmu. Dan mereka memintaku menjagamu sampai keluar dari rumah sakit." ia lalu tertawa. Tapi tidak dengan Namine. Roxas melihatnya. Ia melihat wajah Namine yang memerah. Bukan karena ia sakit atau malu, tapi karena kesal.
"Ada apa, Namine? Mukamu merah?" tanya Roxas. Seperti baru tersadar dari alam pikirannya, Namine menggelengkan mukanya.
"Tidak, tidak apa kok." jawabnya. Ia mencoba tersenyum tapi setengah dipaksakan. Roxas tahu hal itu.
'Ia sepertinya mempunyai masalah dengan keluarganya.' pikirnya. Ia ingin menanyakan hal tersebut namun ia segera menghapus pikiran itu dari pikirannya. Ia tak ingin membuat keadaan Namine lebih buruk lagi. Saat Namine menoleh ke arah lain, Roxas mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.
"Emm... Namine?" panggil Roxas pelan. Namine menoleh ke arah Roxas.
"Ada apa?" tanya Namine. Roxas menarik nafas dan memberikan benda tersebut pada Namine. Benda itu adalah 2 buah cincin berwarna perak dilengkapi ukiran R N di lingkarannya, inisial Roxas dan Namine.
"Ro, Roxas..." Namine tak bisa berkata apa-apa.
"Aku cinta padamu, Namine." tanya Roxas pada akhirnya. "Maukah kau jadi pacarku?". Tiba-tiba Roxas tersentak kaget karena air mata mengalir membasuhi pipi Namine.
"A, aku mi, minta maaf ka, kalau ti..." kali ini Roxas yang tidak bisa apa-apa. Karena saat itu pula Namine merangkul Roxas dengan cepat. Namine membenamkan wajahnya ke dada Roxas.
"Kau tak tahu sudah lama aku ingin sekali kau mengatakan itu." kata Namine disela-sela tangisnya. "Aku juga mencintaimu, Roxas." Roxas akhirnya merangkulnya balik. Mereka berpandangan sesaat. Jantung mereka berdebar cepat. Sedikit-demi sedikit, perlahan-lahan tapi pasti, Namine dan Roxas saling mendekatkan wajah mereka. Semakin dekat... Semakin dekat... Semakin dekat... Sampai...
BRAAAAAKKKKKK...
"Namine! Sarapannya sudah siap!" seru seseorang. Namine dan Roxas seketika menjauh. Mereka melihat ke asal suara. Di depan pintu, berdiri seorang anak laki-laki yang membawa sebuah kantong kresek berisi makanan. Ia adalah Sora.
"He, sori ganggu saat-saat kalian berdua. Gue keluar dulu ya! Silahkan melanjutkan kembali. Tapi jangan nyampe kebablasan lo!" kata Sora dengan enaknya lalu keluar ngeloyor kamar.
"Sora!" seru Namine dan Roxas bersamaan. Mereka lalu perpandangan satu sama lain, dan tertawa kecil.
Back to Reality...
"Namun saat itu sudah berlalu." kata Namine pada dirinya sendiri. Ia berdiri di susuran tangan jembatan saat ia melihat cincin itu sekali lagi. Ia meyakinkan diri untuk melakukannya. Ia mengambil ancang-ancang untuk membuang cincin itu ke sungai...
Sampai sebuah tangan menghentikan pergelangan tangannya...
Siapakah sebenarnya Xion? Siapakah yang menahan Namine untuk tidak membuang cincinnya? Temukan jawabannya di chapter selanjutnya di Ada Apa Dengan Namine dan Roxas (chapter 3)
Please dunk RnR nya!
