Title :
Mjin Bruid
Genre :
Romance
Pair :
Netherland x Fem!Indonesia (OC)
Disclaimer :
Hetalia © Hidekaz Hiyamura
Story © RallFreecss
Warn :
AU!Human
Jansen duduk bersandar pada dinding rumah sakit, wajahnya tampak gusar, matanya sudah hampir menyerupai mata panda. Entah sudah berapa hari ia terjaga hingga larut menunggu Kirana sadarkan diri. Ya, sejak insiden jatuhnya mereka ke dalam sungai tempo hari, Kirana tak kunjung membuka matanya.
Ah, sakit hati Jansen melihat gadisnya itu terbaring tak berdaya di tempat tidur.
Karena hal ini, acara perikahan mereka pun jadi terpaksa ditunda hingga Kirana siuman. Ah, padahal sudah sangat tak sabar untuk bersanding bersama Kirana di atas pelaminan. Menggandeng tangan Kirana yang mengenakan gaun putih yang menawan, serta dirinya yang dibalut oleh tuxedo dengan warna senada.
Hm? Mungkin Kirana lebih ingin mengenakan pakaian adat Jawa pada acara pernikahannya. Tapi, Jansen inginnya gaun dan jas lengkap. Ah, kalau sudah begini, ia harus siap berdebat dengan calon isterinya itu nanti, setelah Kirana sadar dan kembali sehat tentunya.
Ia tak ingin memperburuk keadaan kekasih hatinya kembali memburuk karena keegoisannya. Walaupun keras kepala seperti itu, Jansen juga sangat menyayangi Kirana, teramat sangat sayang malah. Saking sayangnya, diminta mengarungi samudra untuk mengetuk pintu hari Kirana pun ia sanggup.
Oke, Jansen, kau mulai Out of Character loh.
Jansen menghela nafas, kemudian matanya ia arahkan keluar jendela. Sebuah pohon berdiri kokoh di sana, daun-daun yang mengiasi pohon itu tampak sudah berwarna kecokelatan dan telah banyak yang berguguran. Ah, pohon yang kesepian, seperti Jansen.
Sekali lagi ia menghela nafas, ia tak suka hal ini. Ia ingin segera mendengar suara tambatan hatinya lagi, ia ingin segera melihat Kirana tersenyum padanya lagi, ia ingin bersama gadis itu lagi dan untuk seterusnya.
"Kirana..."
"Yo! Jansen!" seseorang menepuk bahunya pelan, ketika ia menoleh, Jansen langsung memasang wajah tak senang. Bagaimana tidak? Orang yang menepuk bahunya itu adalah Antonio Fernandez, orang paling menyebalkan seantero jagad raya (bagi Jansen).
Dari belakang, seorang gadis dengan kitty-smile yang dipercaya sebagai adik perempuan Jansen—Bella Peeters—tampak turut tersenyum pada sang kakak.
"Goede Morgen, Broer." Sapa Bella ramah pada Jansen. Pemuda itu tak menjawab, ia hanya mendengus. Antonio lantas duduk di samping Jansen dan menepuk-nepuk punggung pemuda itu pelan.
"Sudahlah, sudahlah, jangan pasang wajah tak senang seperti itu. Harusnya kau berterimakasih pada kami. Karena, berkat kami acara lamaranmu berlangsung sukses." Ujar Antonio berbangga diri, Bella hanya cengengesan di sana.
Jansen mendengus, "Berjalan lancar katamu?"
"Jadi menurutmu jatuh dari jembatan itu berjalan lancar? Kau memang merencanakan agar aku jatuh ke sungai, ya?" tanya Jansen ketus, Antonio nyengir dengan lebarnya.
"Ayolah, yang itu kecelakaan." Kata Antonio. Bella mengangguk setuju, "Kebakaran stand itu sudah di luar dugaan kami. Kami tak pernah menyangka hal seperti itu akan terjadi." Tambah Bella, berusaha meyakinkan Jansen.
"Huh, dan karena hal-hal yang berada di luar dugaan kalian itu telah membuat Kirana jadi seperti ini!" suara Jansen meninggi, dahinya tampak berkedut. Anak-anak, Jansen tengah marah besar saat ini.
Bella dan Antonio menelan ludah getir. Ah, Jansen yang tengah mengamuk itu mengerikan.
"Kalian telah membuat seorang gadis yang lahir dan besar di negara beriklim tropis merasakan dinginnya air sungai Amstel pada pertengahan musim gugur." Jansen menatap keduanya tajam, tatapannya itu seolah dapat membunuh mereka kapan saja.
"Broer... Sudahlah, jangan seperti itu, semua itu murni kecelakaan, oke? Tidak ada yang bisa disalahkan di sini." Ucap Bella takut-takut, Antonio hanya bisa mendukung dengan anggukan pelannya.
Jansen menghela nafas, ditariknya keluar pipa kesayangannya dan hendak mulai merokok. Membiarkan aroma tembakaunya memenuhi rungan. Tapi, dengan cepat tangan Bella menghentikannya.
"Dilarang merokok di rumah sakit," Bella mengingatkan, Jansen kembali memandang tak senang. Antonio hanya tertawa gugup di sana.
"Tch, aku mengerti. Aku tidak akan menyalahkan kalian lagi." Ujar Jansen akhirnya. Sebuah senyuman lebar merekah pada wajah Antonio dan Bella. "Sungguh!?"
Jansen mengangguk, wajahnya masih datar, tangannya kini ia lipat di depan dada.
"Tapi dengan syarat," tambah Jansen. Mendadak, senyuman dari kedua orang itu meredup, karena mereka yakin, syarat yang Jansen berikan pasti tidaklah mudah.
"Kalian berdua harus merencanakan acar pernikahan kami sesukses mungkin, aku tidak ingin ada cacat sedikitpun." Ujar Jansen ringan, mendengarnya Bella dan Antonio mengangguk antusias. "Roger!"
"Dan tentu saja, semua biayanya kalian berdua yang tanggung." Jansen menambahkan untuk kesekian kalinya. "EEEEEHHH!"
Suara Bella dan Antonio memenuhi ruangan, para perawat serta pasien yang ada menatap mereka horor. Mulut keduanya terbuka lebar, selebar gerbang-gerbang yang ada di Admont Abbey Library, Austria.
"Ka-kau hanya bercanda kan, Jansen..?" Antonio bertanya ragu-ragu. Jansen melirik, ia tersenyum miring, agak tipis, tapi tampak sangat mengerikan bagi Antonio.
"Apakah aku pernah bercanda padamu, Antonio Fernandez?" Jansen balik bertanya. Laki-laki itu diam, ia tersenyum pahit. Sayang sekali, Jansen Peeters belum pernah melontarkan candaan padanya, bahkan candaan garing sekalipun tak pernah.
Jadi, kali ini pun sudah pasti bukan sekedar guyonan untuk mencerahkan suasana hati. Sudah dapat di pastikan jika Jansen 100% serius. Nah, apakah kalian siap mendengar tangisan dari dompet Bella dan Antonio yang kesepian selama tujuh hari tujuh malam? Jangan khawatir, kalian tak akan menyesali apapun.
Jansen tersenyum puas, Bella dan Antonio terpuruk. Ia mungkin kakak paling kejam yang pernah ada. Coba bayangkan, kakak macam apa yang menyuruh adiknya untuk membayar semua biaya pernikahannya?
"Broer... Kau kejam sekali.." keluh Bella sambil berpura-pura menangis, air mata buaya.
"Air matamu tak akan merubah apapun, Bella." Ucap Jansen tak begitu peduli, mendengarnya Bella hanya cemberut.
Jansen kemudian beranjak dari tempat duduknya, "Mau kemana kau?" tanya Antonio.
"Pekerjaan menanti, aku harus mencari uang untuk menafkahi keluargaku nanti." Sahut Jansen datar sambil melenggang pergi.
"Kirana bagaimana?" kini giliran Bella yang berteriak, tanpa menoleh sedikit pun, kakaknya itu dengan santai mengatakan bahwa semuanya ia serahkan kepada Bella dan Antonio. Sebentar, apa kepala pemuda spiky itu terbentur sesuatu?
Bella dan Antonio saling bertukar pandang, bingung. Laki-laki itu, memang sulit untuk dimengerti. (Mungkin memang hanya Kirana yang mampu melihat isi kepalanya.)
-x-
Hari itu, pukul 06.30 pagi hari, matahari sedang hangat-hangatnya. Jansen duduk di meja kerjanya dengan kertas-kertas yang bertumpuk di sekitarnya. Saat mentari mengintip dari ufuk timur, ponsel pemuda spiky itu berdering. Konsentrasinya terusik.
Sebuah panggilan dari adiknya, Bella. Ada apa?
Jansen pun langsung mengangkat panggilan itu, "Hal—"
Ia tak sempat menyelesaikan salamnya, Bella keburu nyerocos di seberang sana. Jansen termangu, maniknya membulat sempurna. Mulutnya terbuka lebar.
Pemuda itu tiba-tiba saja berlari menyambar jaketnya dan membuka pintu dengan kasar. Tanpa peduli dengan lingkungan sekitar, ia membawa tubuhnya menuju parkiran di lantai dasar dan segera naik ke atas mobilnya.
Dengan kecepatan tinggi, mobil itu melaju di jalanan yang masih cukup sepi. Laju mobilnya menurun ketika berbelok memasuki gerbang sebuah rumah sakit, ya, rumah sakit tempat di mana Kirana dirawat.
Setelah memarkir kendaraannya dengan benar, Jansen kembali berlari kencang menuju kamar di mana Kirana di rawat. Bella dan Antonio hendak menghentikan langkahnya dengan acara basa-basi favorit mereka ketika Jansen menampakkan batang hidungnya. Tetapi, pemuda itu langsung berlari membuka pintu kamar perawatan Kirana.
Ketika pintu terbuka tampaklah seorang gadis yang Jansen kenal betul parasnya duduk di atas tempat tidur sembari menatap keluar jendela, menyaksikan dedaunan berjatuhan ke tanah.
"Kirana..?"
Gadis itu lantas menoleh, sebuah senyum merekah ketika manik onyxnya yang mengilap karena sinar mentari menangkap sosok Jansen yang terlihat amat sangat berantakan.
"Jansen, Goede Morgen." Sapa gadis itu dengan suara yang begitu lembut.
Pemuda dengan jaket dan scraf itu langsung menghambur pelukan ke arah gadis itu. Kedua lengannya memeluk gadis itu erat, membuat keduanya dapat merasakan kehangatan satu sama lain.
"Maaf membuatmu menunggu, Jansen." Ujar gadis itu pelan,
"Selamat datang kembali, mjin liefde." Bisik Jansen.
Pelukan mereka melonggar, kini keduanya saling bertukar pandang. Wajah Kirana mulai merona ketika Jansen mendekatkan wajahnya dengan miliknya. Kini jarak wajah mereka hanya sekitar 5 centi, bahkan mungkin kurang. Hidung mereka pun kini telah bertemu, tinggal bibir saja yang belum.
Jansen hendak memotong jarak sudah sangat tipis itu agar ia bisa mencapai bibir Kirana—setidaknya itulah harapannya—gadisnya langsung mendorong tubuh Jansen mundur dan memalingkan wajahnya.
"Tidak boleh..." tolak Kirana, "Setidaknya untuk sekarang tidak boleh..."
Jansen menatap kebingungan, "Kenapa?"
"Kita..." Kirana menundukkan kepalanya, "Kita?" ulang Jansen.
Kirana mulai memainkan jemarinya, berusaha menghilangkan perasaan gugupnya, "Kita..."
Jansen terus menunggu, menunggu kekasih hatinya itu menyelesaikan kalimatnya.
"Kita kan belum menikah.. Jadi ciuman di bibir itu agak.." gadis itu langsung menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Untuk kesekian kalinya, pemuda dengan berkas luka di dahi itu melongo. Oh, dia lupa kalau Kirana adalah nona muda yang seperti itu ya.
Sunyi menyapa, angin yang berhembus masuk melalui jendela seolah menertawakan mereka berdua yang tak bisa mengatasi kecanggungan yang mereka ciptakan sendiri. Memalukan.
"Kalau begitu," Jansen memulai, Kirana mendongakkan kepalanya. Antonio dan Bella diam-diam mengintip dari balik pintu, mencoba mencari tahu apa yang akan dilakukan pemuda itu.
"Kalau begitu ayo menikah di sini dan sekarang juga," Kirana melongo, Bella nyaris berteriak, Antonio menahan tawa. Si surai hitam pekat tak merespon, ia berpikir kekasihnya itu tengah bercanda. Tapi nyatanya Jansen jarang sekali bercanda pada Kirana dan saat ini ia sangat serius.
"Aku Jansen Peeters bersedia untuk terus berada di sisimu, Kirana Kusnapaharani dalam suka maupun duka. Terus mencintaimu dan membimbingmu dan membina keluarga bersamamu dengan senang hati hingga ajal memisahkan kita. Meminangmu sebagai isteriku, sebagai pendamping hidupku."
Pemuda itu—Jansen menatap lurus ke arah Kirana, tangan kanannya menggenggam erat tangan gadis itu. Sementara si gadis tampak bingung harus merespon apa, matanya bergerak ke sana ke mari. Mencoba mencari sesuatu yang mungkin bisa membuatnya menjadi lebih tenang. Ooh, bagaimanapun ini sangat mendadak, Kirana tak tahu harus berkata apa.
Jansen menunggu, masih menunggu dengan tenang sambil terus menatap belahan jiwanya lekat-lekat—dan hal itu membuat Kirana semerah tomat yang siap dipetik—dan tentu saja, Jansenlah yang akan memetik tomat itu.
"A-aku..." gadis itu membuka mulutnya, Jansen menatap penuh harap.
"Ki-Kirana Kusnapaharani.. Menerima, kau Jansen Peeters sebagai suamiku, sebagai pendamping hidupku. Dan aku pun bersedia untuk terus bersamamu dan mengukir banyak kisah serta membina keluarga bersamamu dengan penuh cinta hingga ajal memisahkan kita.."
Kirana memejamkan matanya, menghela nafas lega, jantungnya berdebar kencang.
Ku pikir jantungku akan meledak... pikir Kirana geli.
Kini manik hijau milik Jansen dan onyx milik Kirana saling bertemu, saling memandang penuh kebahagiaan.
"Dengan begini kau resmi menjadi isteriku, Kirana." Jansen tersenyum puas, sexy sekali—pikir Kirana. Gadis itu tersenyum kecil sambil mengangguk malu-malu.
"Dan kau pun, kini menjadai suami sah ku, Jansen."
Dengan gerak cepat Jansen memotong jarak yang memisahkan mereka, membiarkan bibir mereka saling bertemu—untuk pertama kalinya. Hanya sebuah ciuman lembut, tapi itu pun sudah cukup baginya dan tentu saja bagi Kirana.
"Ikh hou van je, Kirana." Pemuda itu menarik sudut bibirnya sedikit sambil mengacak-acak surai hitam milik Kirana. "Aku juga mencintaimu, Jansen."
Antonio dan Bella tak sanggup menahan diri ketika pasangan itu berpelukan dengan meseranya. Keduanya langsung berlari ke dalam dengan senyuman lebar di wajah masing-masing.
"SELAMAT ATAS PERNIKAHANNYA!"
-x-
AN : Dan berakhir dengan tidak elitenya *digaplok*
Okeh, mungkin buat saya ini udah cukup soalnya ide uda buntu xD Tolong maafkan sumpah pernikahan abal-abalan itu, berhubung saya belum pernah menikah jadi saya nggak tau yang benernya gimana. Oke, akhir kata terimakasih banyaaak untuk kalian yang udah ngefave, ngefollow, ngeripiu, dan ngebaca pastinya *terbar bunga*
Ikh hou van je!
