Sasuke: 16 tahun

Itachi: 25 tahun

Deidara: 50 tahun

Chapter 1 pertemuan

"Jangan meremehkan ku, Itachi." Seorang pemuda berambut hitam dengan bagian belakangnya mencuat ke atas tengah berusaha menebas Itachi, pria berambut hitam panjang dengan dua goresan unik di bawah matanya.

"Teruslah bermimpi saudaraku." Itachi membalas dengan seringaian mengejek, palu besar di tangannya terus menangkis tebasan yang di arahkan padanya sambil sesekali mencoba untuk menyerang balik dengan palunya ataupun menendang dengan kakinya.

"Sialan kau!" Sasuke mengumpat, kini tak hanya tebasan dari pedangnya saja namun kakinya sudah ikut andil dalam menyerang sang kakak.

Itachi dan Sasuke terus saja saling serang dan bertahan, tubuh topless mereka menari-nari di bawah pancaran terik matahari, kadang berhenti untuk mengambil nafas lalu di lanjutkan dengan serangan yang terlihat ingin saling bunuh, meski itu hanya latihan.

Uciha Itachi dan Uciha Sasuke adalah anak dari seorang raja human dari Lordaeron, satu dari tiga kerajaan besar di benua itu yaitu raja Uciha Fugaku. Raja Fugaku adalah raja yang sangat bijaksana dalam memimpin kerajaannya karna itulah tidak pernah terjadi pemberontakan ataupun kudeta terhadapnya yang notabene memiliki wilayah yang sangat luas,daerah kekuasaannya berbatasan langsung dengan kota para High Elf,Kul'Thalas di barat dan Kul'Durei di timur. Tidak hanya memiliki wilayah yang sangat luas, namun Raja Fugaku juga memiliki armada tempur yang sangat kuat baik di laut, darat ataupun udara, dia pun juga mempunyai persahabatan yang sangat kental dengan Raja dari Kul'Thalas Namikaze Minato.

"Berhentilah berlari seperti pengecut!" Sasuke menatap geram pada kakaknya yang terus saja menghindar kemudian berlari dengan gostur mengejek.

"Apa? Aku tidak bisa mendengarmu!." Itachi meletakkan telapak tanganya membentuk sebuah corong di dekat daun telinganya, seakan-akan dengan cara itu pendengaranya akan lebih baik.

"Grrr!" Sasuke menggeram dan tendangannya makin keras dan cepat ke arah Itachi.

"Sudahlah Itachi, tidak baik terus mengejeknya begitu, nanti tampannya luntur lagi." Sosok wanita cantik bersurai pirang dan bermata biru berjalan dengan santai ke arah dua saudara yang tengah saling ejek, tubuh langsingnya bergoyang indah begitupun dengan rambutnya yang panjang seakan menari ketika kaki jenjangnya menelusuri rumput di bawahnya.

"Haha! Sejak kapan si sombong ini tampan, Dei?." Kata itachi sambil menunjuk pada Sasuke, sontak saja muka Sasuke merengut kesal.

"Grrr." Geram Sasuke.

"Dasar kau." Kata wanita itu sambil menjitak kepala Itachi keras.

"Kau jahat sekali Dei." Itachi meringis kesakitan, tanganya mengelus kepalanya yang benjol bulat besar.

"Sejak kapan aku jadi orang baik, Tachi?" Katanya dengan wajah menyeringai yang membuat dou Uciha merinding. Mata biru Deidara melirik si bungsu dengan pandangan menilai."Umurmu 16 tahun kan?" Tanyanya pada Sasuke di samping Itachi.

"Ya, kenapa memangnya?" Sasuke mengangkat alisnya, heran dengan pertanyaan wanita di depanya.

"Ku rasa kau sudah cukup dewasa untuk memiliki patnermu." Kata Deidara, sementara Itachi hanya diam mendengarkan percakapan patnernya dengan Sasuke adiknya.

Patner yang dimaksud disini adalah patner dalam sebuah pertarungan, setiap Knight wajib memiliki patner yang bisa mendukungnya dalam setiap pertarungan, seperti menyembuhkan luka, ataupun pemulihan Mana. Patner itu biasanya dari ras para High Elf, karna para High Elf memiliki kemampuan yang di anggap sangat mumpuni untuk mendampingi para Knight, mereka biasanya di sebut Mage, namun tidak di wajibkan juga dari ras Elf, dari ras Human juga sebenarnya bisa, mereka yang mempunyai kemampuan mirip dengan mage dari ras Elf itu biasanya disebut Priest, hanya saja kemampuan Priest tidak sebaik para Mage.

"Hn, tapi aku tidak butuh." Jawabnya dengan santai. Deidara hanya menghembuskan nafas pasrah melihat kelakuan adik patnernya yang sangat mirip dengan Raja Fugaku, ayahnya dan Itachi.

"Dia memang sangat mirip ayah kami, keras kepala." Itachi mendekati Deidara, matanya menatap pada adiknya yang berjalan menjauh kedalam hutan.

"Aku tau. Kau pikir berapa lama aku mengenal kalian." Jawab Deidara,

"Dua puluh tahun ya?" Jawab Itachi, keningnya mengernyit mengingat sesuatu."Dan berarti usiamu lima puluh tahun sekarang!" Pekik Itachi."Harusnya kau jadi nenek ku,kau tau?" Lanjutnya sambil menatap Dedara mengejek. Mata Deidara berkilat tajam mendengar perkataan pria disampingnya.

"Jika wanita cantik, mulus,dan seksi ini di sebut nenek. Lalu pria yang berkerut di wajah itu di sebut apa? Kakek buyut?" Itachi hanya tertawa mendengar nada ketus yang di keluarkan Deidara.

"Aku hanya bercanda Dei. Kau ini, cepat sekali marah." Itachi menjawab setelah tawanya reda, wania di sampingnya hanya memalingkan wajah sambil pipinya di kembungkan, marah.

"Hm!.Hei! Awas kau ya!"Suara Deidara melengking nyaring ketika pipinya di cubit keras, sementara sang pelaku hanya berlari, jadilah mereka saling kejar-kejaran di tengah lapangan, beginilah keseharian Itachi dengan wanita pirang yang mengejarnya, entah kenapa melihat wajah kesal wanita itu menjadi hiburan tersendiri baginya.

0O0

Sasuke berjalan cepat di tengah hutan, wajahnya bersungut-sungut kesal pada kakaknya dan patnernya yang selalu saja mempermasalahkan 'sudah saatnya kau mempunyai patner' itu terus. Apa sih pentinya punya patner? Hal merepotkan seperti itu hanyalah untuk orang lemah.

"Jangan! Hiks."

Sasuke berhenti dari jalanya ketika mendengar suara anak kecil dari arah jam sebelas, matanya memicing tajam sambil pedangnya sudah di keluarkanya dari sarungnya. Perlahan kakinya melangkah ke arah suara tersebut dengan hati-hati.

"Diam Bocah!"

Suara berat terdengar dari arah yang sama membuat Sasuke makin waspada, pegangannya pada gagang pedangnya semakin erat dan Kakinya melangkah dengan pelan.

Pelan.

Pelan.

Matanya membelalak ketika melihat anak perempuan pirang yang tengah di sekap sosok Troll pria, anak pirang itu terlihat berusaha berontak, namun kaki tanganya sudah di ikat di kangkangkan menyilang berdiri di pohon kanan dan kirinya. Tanpa pikir panjang Sasuke langsung menerjang Troll tersebut dengan pedangnya.

.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Sasuke pada gadis tersebut setelah mengalahkan Troll tadi.

"Si-siapa kau? Jangan sakiti Naru." Bukanya menjawab, gadis itu malah bergetar ketakutan ketika Sasuke mendekat berniat melepaskan ikatanya.

"Tidak apa-apa, aku cuma mau melepaskan ikatanmu saja kok." Kata Sasuke lembut, sedikit heran juga dia, biasanya dia hanya bersikap lembut pada ibunya, Mikoto, tapi entah kenapa sifat itu dia tunjukkan pada bocah yang baru di kenalnya. Aneh.

"Benarkah?" Anak itu mulai percaya, mungkin karna sikap lembut Sasuke.

"Ya. Aku orang baik kok." Jawab Sasuke.

Sasuke pun melepaskan ikatan di kedua tangan dan kaki si bocah pirang itu, ada banyak hal yang membuat Sasuke heran, salah satunya. kenapa bocah Elf ini ada di sini?, dia hanya mengangkat bahunya karna memikirkan hal-hal yang bukan urusanya.

"Kenapa kau ada disini? Elf kecil." Tanya Sasuke ketika ikatan si bocah sudah dilepaskannya.

"Naru mengikuti kakak Naru."Jawab bocah itu, wajahnya tertunduk ke bawah, rasa takutnya karna kejadian barusan belum hilang di benaknya.

"Seharusnya kau di rumah saja adik kecil, atau kau bermain dengan teman-teman mu, bukanya berjalan sendirian di hutan. disini banyak Troll dan monster berbahaya." Sasuke menenagkan ketika dilihatnya anak di sampingnya masih merasa ketakutan.

"Naru tau."Jawabnya pelan. Sasuke kembali berdiri sambil membersihkan bagian belakangnya yang kotor.

"Kita pulang." Sasuke mngulurkan tanganya pada gadis pirang yang masih duduk disampingnya."Kenapa?" Tanyanya saat melihat gadis itu belum juga menyambut uluran tanganya.

"Naru disini saja, menunggu kakak Naru." Jawabnya sambil menggelengkan kepala.

"Kau mau di tangkap Troll tadi?" Tanya Sasuke.

".." Gadis itu menggeleng.

"Kalau begitu kita harus keluar dari hu_

"Itu dia bos!, dia yang melakukannya!" Troll yang tadi di hajar Sasuke kembali membawa sepuluh temannya, dengan angkuh dia berjalan di samping Troll yang lebih besar yang kelihatanya itu pemimpin mereka.

"Jadi bocah ini yang mengganggumu ya?" Tanya pemimpin Troll itu pada Troll di sampingnya.

"Mau apa kalian?" Sasuke bertanya dengan nada ketus, dagunya terangkat keatas dengan pedang yang sudah tercabut dari sarungnya, sementara gadis pirang disampingnya kini bersembunyi di antara kakinya." Mau minta di hajar lagi?" Lanjutnya

"Sombong kau bocah!" Troll tersebut mulai mengeluarkan pedang besar ditanganya yang di ikuti oleh semua anak buahnya."Kita lihat, apa kau bisa berkata sombong setelah mulutmu ku robek!" Dengan cepat Troll itu sudah berada di depan Sasuke dengan pedang yang siap memotong kepalanya.

Namun reflek Sasuke yang memang cepat, lebih dulu menusukkan pedangnya ke arah dada Toll itu. Darah berwarna hitam mengucur dari lubang yang di buat Sasuke di dada makhluk itu, namun Troll itu masih bisa berdiri tegap dan masih mencoba menyerang Sasuke dengan lebih brutal dan cepat. Tak mau kalah, enam Troll lainya ikut menyerang dengan tak kalah brutalnya.

Ke tujuh Troll terus menyerang Sasuke. Dua di kanan, tiga di kiri, satu di depan, dan satu di belakang, sementara tiga Troll lainya adalah para Mage, yang bertugas menyembuhkan luka ataupun memulihkan Mana, hal itulah yang membuat sang pemimpin Troll tidak terpengaruh ketika dadanya ditusuk Sasuke.

Sasuke yang mulai terdesak akhirnya kecolongan juga, sabetan pedang Troll di belakangnya mengenai punggungnya, tendangan Troll di depanya telak mengenai pinggangnya, sementara serangan lain masih mampu dihindarinya, ataupun ditangkisnya dengan tangan.

Merasa sudah terdesak, Sasuke mulai berfikir cepat, otak cerdasnya mulai mencari pemecahan, kenapa serangannya tidak berpengaruh, padahal tebasan pedangnya pastilah akan menimbulkan luka yang parah di tubuh Troll-troll itu, matanya pun tertumpu pada tiga Troll lainya yang berada lima belas meter di depanya.

Matanya sedikit terbelalak ketika menyadari apa yang di lakukan tiga Troll trsebut, makhluk yang dikiranya hanyalah ras bar-bar yang tidak mempunyai kepintaran dan hanya bertindak menuruti nafsunya ternyata adalah makhluk yang sudah terstruktur, pantas saja serangannya yang begitu kuat dan keras, dapat di redam begitu saja, belum lagi tebasannya yang telak mengenai organ vital mereka. Tentu saja, itu semua bisa terjadi karna ada Mage di antara mereka, yang bertugas mengcover seranganya dan menyembuhkan luka rekanya.

Kini dia tau siapa yang harus di bunuhnya terlebih dahulu. Matanya mengedarkan pandangan, kemudian keningnya mengernyit menyadari jika Troll yang melawanya hanya berjumblah enam yang satunya?.

"Kyaaa!"

Sasuke menolehkan kepalanya kebelakang, untuk kesekian kalinya matanya membelalak ketika melihat gadis pirang yang di tolongnya kini sudah berada di dekapan Troll yang di panggil bos tadi, pedang tajam milik Troll itu teracung di depan leher kecil si gadis pirang.

"Jika kau melawan, gadis ini akan." Jari tangan kiri Troll itu melintang berjalan di udara di depan lehernya."Mati."Katanya dengan seringaian yang kemudian timbul di wajah hitamnya.

Sasuke menjatuhkan pedangnya tanda dia menyerah, semua rencana jeniusnya menjadi kacau saat Troll sialan itu menyandera gadis pirang itu, kini apa yang harus diperbuatnya?. untuk pertama kalinya dia menyesali saran orang-orang agar dia memiliki seorang sial.

Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak luka sabetan dan memar di tubuhnya ketika para bar-bar itu menghajarnya dengan sepenuh 'hati' mereka, namun bukan Sasuke namanya jika dia menyerah dan meminta ampun, tubuhnya boleh saja dihajar habis-habisan dan tidak berkutik, namun otaknya terus berfikir untuk mencari celah agar dapat melepaskan gadis itu dari Troll yang menyekapnya.

Dalam situasinya yang hampir di ujung tanduk, matanya tertuju pada cairan hitam di depanya, ya itu adalah darah dari Troll pemimpin mereka yang kini menyekap si gadis, darah tersebut membentuk garis lurus yang secara tidak sengaja terinjak Troll yang menyekap gadis pirang menyeringai di antara ringisan saat tendangan dan pukulan Troll di dekatnya menyapa tubuhnya.

Dengan gerakan sigap, iapun mengambil pedangnya yang tergeletak begitu saja di tanah, dengan gerakan yang tak terduga pedang itu langsung di tancapkanya ke tanah yang terdapat ceceran darah hitam, Mana petir miliknya di hantarkanya pada pedangnya yang kemudian merambat pada darah hitam itu hingga menyengat Troll yang berada di jalur petir itu. Seketika tubuh Troll itu tegang dan roboh, sesekali listrik terlihat keluar dari tubuhnya.

"Menjauh dari sana!" Sasuke langsung mengintruksi gadis itu untuk menjauh ketika si penyekap roboh, tanganya merogoh kantongnya dan melemparkan batu merah ruby pada gadis itu.

"Ambil itu!" Sasuke mulai panik ketika melihat pemimpin Troll itu mulai kembali berdiri, namun gadis pirang yang masih shock hanya memandang batu merah itu dengan tatapan kosong.

"Itu milik kakak mu, jika kau mengenggamnya kau akan di bawa ketempat kakakmu."Kata Sasuke pada akhirnya, beruntung gadis itu pun tersadar dari diamnya, dia mengambil batu itu, namun Troll yang menyekapnya sudah bersiap mengayunkan pedangnya pada gadis itu, dengan nekat, Sasuke melemparkan pedangnya pada Troll itu, namun hanya mengenai pedangnya dan hanya membuatnya terdorong sedikit kebelakang.

Percaya dengan apa yang di katakan Sasuke, anak itupun memungut batu berwarna merah tersebut. Seketika cahaya berputar di samping gadis itu, cahaya yang sangat terang hingga membuat mata para Troll yang memang tidak kuat dengan cahaya pun buta sesaat.

0O0

"Kau benar-benar tidak mirip perempuan Dei." Itachi berkata pada wanita di sebelahnya, mereka tengah berbaring telentang di atas rumput, kelelahan.

"Dan kau Uciha yang sangat tidak Uciha Chi."Balas Deidara sambil menolehkan kepalanya kesamping, wajah mereka saling berhadapan, biru bertemu hitam.

Deg!

Jantungnya seakan mau copot dari tempatnya dan wajahnya mungkin kini merona hebat karna dirasakanya wajahnya memanas. dia memang sudah menyadari perasaanya pada wanita di sampingnya itu, hanya saja dia belum siap untuk mengungkapkan perasaanya. Namun sesuatu dalam hatinya terus mendorongnya untuk mengatakan kata sakral itu, lama berkecamuk dalam pikiranya, akhirnya ia merasa tidak ada salahnya untuk di coba, kapan lagi momen yang pas selain sekarang, tidak ada yang melihat ataupun yang akan mengganggu jika dia menyetakan perasaanya, mereka hanya berdua. Lalu tunggu apa lagi?.

Di tariknya nafas dalam-dalam untuk mengumpulkan kepercayaan dirinya, matanya menutup rapat lalu membuka kemudian dengan mulut yang sudah siap melontarkan kata-kata cinta yang akan di sampaikannya pada wanita pirang di sampingnya.

"Dei. Aku men_

"Sasuke!" Deidara tiba-tiba berdiri dan berlari ke arah depan, meninggalkan Itachi yang mematung dengan mulut yang terbuka di belakangya.

"Cintai mu." Sambungnya pelan di iringi hembusan angin yang seakan mengatainya 'bodoh' kemudian.

"Dasar adik pengganggu." Umpatnya dalam hati ketika matanya melihat siluet Sasuke di seberang padang rumput yang baru keluar dari arah hutan dengan langkah terseok penuh luka. Dia bukanya tidak menyukai Sasuke, tapi dia tidak mau menolong anak itu karna dia tau sifat Sasuke yang selalu ingin lebih baik darinya, dia malah akan menyakiti Sasuke jika datang dan memberi pertolongan padanya dan membuat Sasuke lebih membencinya. Tidak, terima kasih.

"Ada apa Sasuke? Siapa yang melakukanya?" Tanya Deidara dengan kepanikan yang kentara dalam suaranya, dengan sigap dia menaikan tangan kanan Sasuke di bahunya untuk membantunya berjalan.

"Jangan bilang jika kau di hajar dan kabur dari pertarungan." Itachi berjalan menuju mereka, tangannya di masukkan dalam saku celananya.

"Itachi!" Deidara menatap pria di depanya geram."Kau sama sekali tidak membantu tau!" Itachi hanya memutar bola matanya bosan.

" ," Itachi mendekati kedua makhluk berbeda ras dan warna rambut di depanya dengan wajah malas.

"Disini kau rupanya bocah sombong." Tiga bayangan hitam muncul di balik semak-semak hutan di belakang mereka. Itachi memicing melihat sosok di dalam hutan, lalu beralih pada Sasuke disampingnya.

"Mereka yang menghajarmu Sas?" Itachi bertanya pada Sasuke yang kini terduduk di rumput dengan nada meremehkan, Sasuke yang ditanya hanya memutar bola mata bosan dengan tabiat kakaknya yang memang suka meremehkan siapapun lawanya.

"Mereka berbeda Itachi, percayalah!." Sasuke memperingatkan."Mereka memiliki sesuatu yang berbahaya" lanjutnya pelan.

Mendengar perkataan Sasuke, senyum timpang terpatri di wajahnya."Itulah yang selalu dikatakan para pecundang."Katanya, sambil berjalan santai ke arah para sosok di dalam hutan dengan santai.

"Terserahlah." Jawab Sasuke pelan. Deidara yang melihat kelakuan patnernya hanya menggelengkan kepala.

"Butuh bantuan?." Tanya Deidara. Itachi menghentikan langkahnya.

"Tidak! Mereka hanya Troll, aku tak akan terluka ataupun kehabisan Mana!" Jawab Itachi.

"Haah, aku merasakan pirasat buruk." Kata Deidara pelan, namun masih bisa di dengar Sasuke di sampingnya.

"Kau ikuti saja Itachi, Dei." Sasuke memberi saran. Deidara langsung menatap Sasuke dengan pandangan bertanya.

"Tapi bagaima_

"Aku bisa menjaga diri, lagi pula aku berada di tengah lapang, cahaya matahari akan merusak mata mereka jika mencoba menyerang." Jelasnya.

"Yasudah. Kalau ada apa-apa, kau teriak saja."

"Aku tidak akan melakukan hal memalukan seperti itu Dei." Jawabnya ketus. Deidara hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal untuk melampiaskan kekesalanya pada bocah di depanya itu.

" . Aku pergi." Katanya sambil berlari kecil ke arah hutan tempat Itachi dan para Troll tadi.

"Hn." Jawabnya pelan.

0o0

"Menyedihkan sekali, ternyata tidak hanya sombong, tapi juga suka mengadu seperti anak kecil. Hahaha!" Tawa mereka menggelegar sambil menatap Itachi di depan mereka yang sudah siap dengan palu besarnya.

"Dan lihat, siapa yang datang ini tuan?" Tanya anak buah Troll itu pada busnya dengan nada mengejek.

"Ayah nya mungkin, ayah yang suka memanjakan anaknya, atau saudaranya? Brother complex dong kalau begitu hahaha!" Mereka kembali tertawa lantang, kedutan-kedutan besar sudah memenuhi dahi Itachi karna kesal dengan ucapan para Troll jelek di depanya, matanya menatap tajam seakan tatapanya bisa membunuh makhluk di depanya.

"Woow! Tatapan si ayah galak membuat ku takut bos!" Kata salah satu Troll di sebelah kanan dari sang bos sambil memasang gostur ketakutan yang berlebihan, di sambung dengan tawa yang lainya kemudian.

Kini bukan hanya dahi nya yang berkedut, urat tanganya pun bermunculan, menahan marah, bahkan kuku nya pun memutih karna terlalu keras meremas tanganya sendiri. Tidak bisa di maafkan mereka, makhluk rendahan seperti mereka berani-benainya mengejek dirinya, ini sungguh keterlaluan, sangat keterlaluan malah.

"Mungkin mulut kotor kalian perlu sedikit di berikan pelajaran sopan santuh, eh?" Dengan angkuh Itachi mengangkat wajahnya tinggi. dia tidak boleh terpancing oleh perkataan Troll-trol itu, dia harus menegaskan kastanya dan kasta monster di depanya, ras terhormat sepertinya tidak boleh terbawa emosi, tidak boleh.

Wajah pemimpin Troll itu menegang marah, mendengar perkataan Itachi yang menurutnya lancang, dia menoleh pada anak buahnya mengisyaratkan sesuatu. Mengerti dengan isyarat sang bos merekapun mundur tiga langkah kebelakang.

"Kita lihat, seberapa bisa kau mengajari ku sopan santun" kata sang bos, dua Troll di belakangnya mengangkat kedua tongkat mereka ke atas. Kabut tebal seketika muncul dari tongkat-tongkat mereka.

Itachi yang melihat itu hanya mengengkat alisnya merasa ada yang aneh dengan Troll di depanya. Hanya halusinasinya atau apa, dua Troll di belakang bos mereka itu seperti_

"Astaga!" Pekik Itachi sedikit terkejut, kini dia mengerti kenapa Sasuke memperingatkanya tadi. Ah kau memang bodoh Itachi.

"Terkejut?" Kata sang bos yang sudah menghilang di balik kabut yang sudah sangat tebal." Kalian pikir kami berdiam diri saja setelah kalian dan para Elf itu membantai suku kami?" Suara itu kembali bergema di dalam kabut." Heh! Kami tidak se-bar-bar itu Human" sambungnya.

"Apa maksud mu?" Itachi berputar-putar mencari dari mana asal suara itu, pandanganya sudah tidak dapat di gunakan lagi di dalam kabut yang sangat pekat itu.

0o0

Sasuke bersandar di batang pohon besar yang ada di tengah padang rumput luas, matanya terpejam rapat bukan karna tidur, namun dia hanya mengistirahatkan tubuhnya untuk memulih kan Mana yang terkuras saat mengeluarkan sihir petir tadi. Sebagai seorang Warrior, kapasitas Mana nya sangat lah sedikit dikarnakan teknik-tekniknya yang memang tidak memerlukan Mana untuk menyerang, berbeda dengan kakaknya yang seorang Paladin dan Deidara yang seorang Mage, mereka memang terlatih menggunakan sihir, jadi otomatis Mana mereka pun besar.

Ingatan Sasuke kembali pada gadis pirang yang di selamatkanya tadi, entah kenapa otaknya tidak bisa melepaskan ingatanya tentang gadis kecil itu, apa mungkin aku tertarik padanya? Jangan bercanda. Sudut bibirnya terangkat miring ketika menyadari apa yang tengah dipikirkanya barusan.

"Kurasa Otakmu mengalami luka serius. Sasuke" Sasuke membuka matanya ketika mendengar suara di sampingnya." Ayao kita pulang" sambung orang tersebut yang ternyata Deidara.

Selama di perjalanan mata Sasuke tidak berhenti menatap punggung kakaknya, ada yang aneh dengan Itachi. Bukanya dia suka untuk berdebat atau pun saling ejek dengan Itachi, tapi melihat pria itu hanya diam saja sekembalinya dari hutan membuatnya aneh juga,

"Kau baik-baik saja Itachi?" Tanya Sasuke, biar bagaimanapun tidak akurnya mereka, tapi dia teteplah menyayangi Itachi yang notabene kakak satu-satunya.

"Hn." Jawabnya singkat, alis Sasuke sedikit terangkat mendengar jawaban dari pria berambut panjang di depanya, lalu dia menoleh pada Deidara di sampingnya meminta jawaban.

"Aku pun tidak tau Sasuke. Dia tiba-tiba seperti itu saat aku menemukanya." Jawab Deidara, Sasuke hanya mengangkat bahu mendengar ucapan Deidara.

"Dei kau pulanglah ke Kul'Thalas, persiapkan apapun yang dibutuhkan untuk perjalanan kita satu bulan dari sekarang!" Itachi tiba-tiba berhenti, membuat orang di belakangnya juga ikut berhenti.

"Memangnya kita mau kemana Chi?" Tanya Deidara heran, setahunya mereka diliburkan dari Quest apapun, dan dia yakin hari ini liburanya masih belum berakhir.

"Ada yang harus kukerjakan, dan pekerjaan itu tidak bisa di lakukan disini." Jawab Itachi kembali berjalan.

"Baiklah jika memang begitu, sampai bertemu sebulan lagi." Deidara berjalan ke arah gerbang portal Lordaeron, dimana portal itu tersambung dengan portal yang ada di di Kul'Thalas, memungkinkan mereka untuk berpindah-pindah dengan cepat. Portal itu sendiri terletak di tengah halaman istana, dengan empat menara yang menjadi alat pertahanan jika terjadi sesuatu, bentuk portal itu adalah seperti empat kerucut sempit dan tajam, yang ditengahnya terdapat bola cahaya berwarna biru keputih-putihan.

"Kenapa tiba-tiba?" Tanya Sasuke di belakang Itachi. Mendengar pertanyaan Sasuke, Itachi membalikkan tubuhnya.

"Ada sesuatu yang tidak beres, mulai sekarang kau carilah Mage ataupun Priest mu. Aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi nanti, tapi aku harap kau akan jadi lebih kuat untuk melindungi Lordaeron dan Human." Katanya dengan tatapan yang sulit untuk Sasuke artikan.

Belum sempat Sasuke bartanya. Itachi sudah berjalan cepat ke arah istana. Apa yang sebenarnya terjadi kak. Sasuke menatap Itachi khawatir.

"Apa yang sedang mengganggumu Itachi"

Tbc

Saya sangat berterima kasih buat anda-anda yang sudi berkunjung untuk sekedar membaca pic saya ataupun bagi yang sudah memberikan respon kepada saya melalui review, sekali lagi saya ucapkan terima kasih...

A/N

Disini semua jenis tentara dari ras Human di sebutnya Knight.

Saya memang mengadopsi dari game warcraft ataupun lord of the ring, tapi jalan ceritanya sudah saya permak, jadi tidak akan sama dengan game dan novel di atas.