A/N: Fict ini mengambil setting cerita yang sama dengan fict When Our Time Stops by Nagisa Yoriko. Sebelum baca fict ini, sangat disarankan untuk membaca fict itu agar mengerti, ya~ (^-^)/Makasih buat kak Nagisa yang udah gila-gilaan fangirlingan couple incest keceh ini :* /ketjup basah/ Dan makasih juga udah diizinin ngambil setting fictnya, maaf kalo fict ku standar :3 /mojok/


FreeOuji Koji

BahagiaCrimson Emerald

Rin Matsuoka X Gou Matsuoka

.

.

.

.

Gou hamil: Bulan Kedua


Mentari pagi. Menyeruak di balik rimbun daun bagai kanopi. Burung-burung bernyayi, terbang kesana kemari. Manusia mulai menjalankan aktifitas di awal hari. Terutama warga di pusat kota yang sudah berangkat kerja dengan setelan rapi. Berbeda dengan warga-warga diatas, seorang Ibu muda bernama Gou Matsuoka. Justru masih larut dalam mimpi indahnya. Wajah cantik wanita itu terlelap damai—dengan dada naik turun secara teratur.

Pun sang suami tak kuasa tuk membangunkannya. Lelaki berambut merah keunguan itu justru bangun lebih dulu dan berkutat di dapur—menggantikan pekerjaan sang istri yang tengah hamil anak pertama mereka. Rin Matsuoka—pria yang akan segera menjadi Ayah itu mengenakan singlet hitam favoritnya. Ia belum mandi—karena bangun tidur langsung kemari. Ke dapur, segera membuat sarapan pagi untuk sang istri.

Bukan hal sulit, sebab Rin sendiri hingga lulus SMA tinggal di asrama. Menyebabkan ia pandai memasak beberapa masakan sederhana yang biasa dijadikan menu sehari-hari—termasuk sarapan.

Rin mematikan penggorengannya. Setelah itu berkutat dengan penggorengan yang lainnya. Tangan kekar berotot—yang ia tahu selalu disukai istrinya itu melambungkan sebuah telur goreng mata sapi untuk Gou. Melayang dengan sukses, lalu mendarat dengan sisi terbalik yang sempurna.

Rin menyeringai ketika melihat hasil kerjanya, ia meletakkan telur goreng itu di atas piring. Di samping dua lembar roti tawar yang baru keluar dari pemanggangan. Harum sarapan sederhana buatannya semerbak—mengepulkan asap keperakan yang membuat perut Rin keroncongan. Sebab ia juga belum makan, dan setelah ini berniat akan membangunkan sang istri—Gou. Agar wanita itu bisa turun dan mereka akan sarapan bersama.

"Ini terlihat lezat, Onii-chan!"

"Waaa~!" Rin berteriak—kaget setengah mati begitu ia berbalik menemukan wajah cantik Gou yang mendongak menatapnya. Sepasang mata ruby itu mengedip cantik—heran melihat tingkah sang suami yang terkejut bukan kepalang. Tampak berlebihan menurut Gou.

"Kau mengagetkanku—" Rin berbisik dengan nafas terengah—setelah ia berhasil menguasai dirinya kembali. Mendengar itu tawa Gou pecah—suara lembut bernada renyah itu menggoreskan rona merah muda di kedua pipi sang suami. Antara malu dan gengsi—Rin tidak terlalu yakin mana yang lebih mendominasi. Namun ia percaya tengah merasakan keduanya.

Mendengus, lelaki itu kemudian meletakkan piring sarapan Gou di atas meja. Gou ternyum di akhir tawanya, wanita itu akan menarik kursi makan untuknya—namun sang suami dengan cepat menarikkan kursi yang sama untuknya. Mencegah Gou, dan melakukannya terlebih dahulu. Gou duduk setelah Rin menarikkan kursi untuknya tanpa kata 'silahkan', sepertinya lelaki itu memilih untuk tutup mulut pasca dipermalukan oleh sang istri beberapa saat yang lalu.

'Merajuk' batin Gou saat melirik ekspresi Rin yang tampak didatar-datarkan. Bukannya membuat Gou takut, ekspresi itu justru membuatnya geli. Ia tak menyangka ternyata Rin punya sifat tsundere yang cukup memalukan. Tapi Gou tak ingin menertawakannya lagi—sudah cukup pikirnya. Maka dari itu Gou menahan ledakan tawanya dengan senyuman, cepat-cepat mengunyah potongan rotinya.

"Setelah makan, mandilah. Aku sudah menyiapkan air hangat dalam bak mandi. Hati-hati ketika berjalan, lantainya licin dan aku tidak ingin kau tergelincir. Itu dapat membahayakan anak kita." Gou melirik—pada Rin yang mengalihkan pandangannya dengan pipi merona ketika menyelipkan kata 'anak kita' dalam perintahnya. Senyum Gou diam-diam melebar, wanita cantik berambut merah dikucir itu terkikik pelan.

"Onii-chan—" Rin mengangkat wajahnya dari piring sarapan, menoleh pada Gou yang menatapnya dengan bibir menarik senyuman.

"Kau jadi sangat perhatian pagi ini, tapi aku suka." Hanya sebaris kalimat sederhana, sebuah pujian biasa. Namun reaksi yang Rin terima sungguh luar biasa—wajah memerah hingga ke telinga. Membuat Gou tak bisa menahan celosan tawa renyahnya—meski berusaha ditutupi dengan kedua tangannya.

Tsundere terkadang memalukan, tapi Gou dapat menyimpulkan. Rin—sang suami. Jadi pria manis penuh perhatian ketika bersikap—tsun tsun.

-tsundere.

Rin tak mampu mengenyahkan tawa halus Gou—kulit wajahnya tiba-tiba menghangat.

.

.

.

End or Tbc?


Ini fict apa coba? QwQ)) Maaf ya, tiba-tiba pengen lanjutin fict ini tapi malah berakhir gaje seperti ini. Yah, jadi terserah reader aja deh mau gimana. Karena sebaiknya kalian meninggalkan review ya?