Disclaimer: Tsukipro the Animation © Tsukino Talent Production

Summary: [Shu x Eichi] Quell ff. Ngajak makan siang bareng doang bro, gak ngajak hidup bareng kok./Jangan malu, kalau mau nambah jus, bilang aja. Tanganku pandai melakukan banyak hal, termasuk meremas—jeruk.

Thanks to: Yuyu arxlnn (Quell keluarga idaman bangettt x)), Sara Heiyan (sip, pasti dilanjut, semoga humornya masih nyangkut di chap ini~) Asagiri Reika (siip, pastinya lanjut~ aku juga butuh asupan kazokuberu :'))

a/n: karena aku mempublishnya di beberapa tempat dan bertanya ttg nasib gender Eichi. Sip, gendernya ngambang aja :') jadi Eichi dan beberapa karakter lain bisa dibayangkan fem! atau bl.

Written for self satisfaction. Nonprofit purpose.

XoXo-XoXo-XoXo

Blessing in Disguise © Kiriya Arecia

XoXo-XoXo-XoXo

Diterima.

Bukan—bukan tentang lamaran Shu, tapi tentang lamaran pekerjaan. Eichi berhasil diterima bekerja di perusahaan Tsukino. Pekerjaannya di belakang layar, membantu sutradara dan bertugas sebagai asisten, memastikan tidak ada hal-hal kecil terlewat hingga mengakibatkan kekacauan saat syuting. Misalnya, saat ada adegan dramatis sepasang kekasih berpelukan di bawah derasnya air hujan, padahal sebenarnya hari saat sedang syuting langit cerah. Mereka membuat hujan buatan; memakai selang. Itu salah satu tugas Eichi, mengarahkan para kru agar air hujan yang jatuh terkesan alami dan adegan tersebut sanggup membuat baper penontonnya.

Beda divisi dengan Shu, jadi syukurlah.

Nggak sering dimodusin walau kadang disamperin, diajak makan bareng. Jelas Eichi sungkan, banyak pandangan beraura cemburu padanya karena hal itu, Eichi takut plot hidupnya jadi kayak sinetron hanya gara-gara dia kerja di bidang yang berhubungan dengan sinetron kejar tayang dan karena ia dekat Shu. Shu adalah salah satu jajaran cowok ganteng koleksi perusahaan Tsukino. Yang menjadikan Shu sebagai gebetan banyak.

Bagaimana kalau dia nanti dibully, difitnah, dikurung di toilet—err itu plot cerita naskah syuting film tadi siang. Eichi kebawa suasana—

Lagi pula, para pegawai di sini rata-rata adalah orang baik dan ramah. Tapi tentu saja, yang namanya manusia punya sifat positif dan negatif. Jadi Eichi ingin menjalani hidup aman, dengan menjaga hubungan antar rekan kerja dan dunia sosialisasinya.

(Maaf, kita baru ketemu. Bisa selow aja gak mas.)

Eichi berucap kalem pada Shu waktu itu, dan ditanggapi dengan senyuman hangat.

(Ok.)

Pedekate dulu. Kalau versi barokah, namanya taaruf.

Izumi Shu, pegawai divisi HRD di Tsukino Pro. Lelaki tampan, umur masih di angka dua puluh sekian. Lebih tua dari Eichi beberapa tahun. Pernah bekerja sebagai model, tapi memutuskan untuk jadi pegawai yang lebih jelas nasibnya. Gaji stabil, tidak merokok, punya mobil sendiri, dikenal sebagai sosok ramah, betah tetap bertiga dengan Issei dan Ichiru yang ternyata adalah anak dari kakak perempuannya yang meninggal karena kecelakaan pesawat bersama suaminya.

Itu informasi yang didapatnya ketika berada di ruang pantry bersama rekan kerjanya. Eichi terharu, lelaki itu baik hati sekali. Lebih fokus kepada anak-anak dibanding romansa hidupnya. Bagaimana mungkin ada orang yang menolak lelaki seperti itu—?!

Kan bodoh namanya kalau menolak lelaki yang memiliki potensi sehebat itu—?

Eh—tunggu.

XoXo-XoXo-XoXo

Eichi nggak sepenuhnya nolak kok!

Ia hanya—memastikan tidak salah dalam memilih pasangan hidup. Makanya selow.

Asam di gunung, garam di laut bertemu dalam satu belanga.

Kalau jodoh, gak akan kemana!

XoXo-XoXo-XoXo

Cafeteria, masih ramai seperti biasanya. Namun Eichi masih belum terbiasa santap siang di sana.

"Eichi, ayo duduk di sini, di sampingku." Tawaran itu ditujukan padanya oleh Shu dengan lambaian tangan.

"Eh… tapi—" Eichi merasa tidak sanggup untuk berada di sisi Shu.

"Jangan sungkan." Ucap Shu lagi.

Gimana nggak sungkan, Sera Rikka—pembawa acara masak-masak di tv, duduk di sebelah kanan Shu. Di sebelah kiri, ada Okui Tsubasa, desainer terkenal yang tadi jadi bintang tamu di acara gosip (Tsubasa digosipkan pacaran dengan pengusaha tambang batu bara, namun telah di konfirmasi itu hanyalah rumor belaka), di kursi berseberangan dengan Rikka, ada John-san—penyanyi solo yang tampil nyanyi di acara musik oi-oi-oi tadi pagi.

Cafetaria berasa seperti wilayah penuh orang terkenal. Maklum saja, perusahaan besar. Eichi gak kuat melihat pemandangan seperti ini nyaris tiap hari. (Kemarin dia ketemu Mikazuki-san di acara reality show settingan). Mereka semua terlalu mabushii. Minus mata bisa nambah ini.

Eichi menghembuskan napas, berusaha menguatkan hati. Gak apa Eichi, lihat mereka makannya sama kayak kamu. Makan nasi juga—

Eh—tunggu, itu Rikka makan sayur doang sama salad buah.

Tsubasa—makan steak tenderloin.

John-san minum kopi starbuk malika.

Shu makan spaghetti sauce italiano.

Eichi memegang nampan berisi sepiring nasi goreng dan teh es.

Dunia mereka beda.

XoXo-XoXo-XoXo

Syukurnya, tiga orang terkenal itu sudah selesai makan duluan, pergi setelah ngasih tanda tangan untuk Eichi. Gara-gara Eichi menatap mereka penuh sparkle rasa terpesona. Mantaplah, dikoleksi, atau dijual saat keuangan terancam di akhir bulan.

Shu menumpu dagu, memperhatikan Eichi makan siang. Tehnya hanya disesap sedikit demi sedikit biar lambat habis. Biar bisa sama-sama lebih lama. Peduli amat cafeteria ramai pada antri pengen duduk.

Dia sedang memperjuangkan calon pasangan masa depannya di sini.

"Shu hebat ya, dekat dengan para artis."

"Ah, tidak juga. Itu karena memang seperti ini pekerjaanku. Dan aku memang sudah berteman dengan mereka sejak lama."

"Begitu…"

"Lagi pula tidak sedekat itu kok dengan mereka. Tsubasa punya hubungan dekat dengan Shiki. Dan Rikka sedang pedekate dengan Murase Dai."

"Ohh—perenang terkenal itu. Aku tidak menduganya!"

Ada beberapa perenang yang Eichi tahu dan sering terlihat di televisi. Perenang paling terkenal bernama Nanase Haruka, juga Matsuoka Rin—yang sekarang berada di Australia. Murase Dai sendiri adalah perenang yang sekarang sedang naik daun [?].

Jadi Sera Rikka sedang dekat dengan Murase Dai. Whoa—ini gosip yang terjamin keakuratannya untuk disebar di pantry! Tidak diduga, Rikka-san orangnya agresif juga. Ah, tunggu, ini privasi, mana boleh disebar begitu saja. Ghibah itu dosa, Ei.

"Yaah, mereka cocok sih, menurutku." Eichi mengangguk-angguk.

"Tapi kadang aku juga sering melihat Shiki bersama Rikka sih. Jalan bareng, atau mungkin diskusi tentang pekerjaan...?" Ucap Shu pelan.

"Eh…" Eichi bingung, mesti ngeship Shiki x Tsubasa atau Shiki x Rikka.

Shu senyum ganteng, "Kalau aku sih, pengennya dekat dengan Eichi."

Uhuk.

Blushing ini, kemana menyembunyikannya.

[Blessing in Disguise]

Shu ingin mengajak Eichi makan siang bersama (untuk ke sekian kalinya), tapi sayang sosok yang dicari tidak dapat ia temukan di ruangan tempatnya biasa berada. Shu menghela napas, sepertinya Eichi sudah pergi ke cafeteria. Atau mungkin sibuk kesana-kemari ngurusin persiapan syuting.

Segera menuju cafeteria yang mulai dipenuhi keramaian, Shu menemukan surai kecoklatan yang tampaknya begitu lembut untuk disentuh.

Shu berdehem, menyadari Eichi sedang makan siang bersama Shiki. Ini tidak bisa dibiarkan.

"Oi, Shu." Shiki menyapa dengan kalem.

"Eh Shu, apa kau sudah makan siang?" Tanya Eichi.

Shu menggeleng. Pengennya kan ngajak kamu bareng, Shu membatin.

"Kalau begitu, ayo makan bersama di sini. Aku akan jaga kan kursi kosong di sebelahku ini." ujar Eichi lagi.

Eaa, malah duluan di ajak Eichi. Shu senyum, "Oke."

Tidak perlu waktu lama untuk memesan makanan, karena Shu memilih menu yang simple. Grilled Cheese Sandwich. Soalnya melihat Eichi saja rasanya sudah memuaskan hati.

"Tumben kalian makan berdua."

"Iyaa, tadi kebetulan ketemu di lobi."

"Jadi aku ajak dia makan siang bareng. Sekalian dia aku traktir. Berbagi rezeki."

Shiki kalem, tapi senyum iseng pada Shu. Matanya seakan mengisyaratkan perkataan; ngajak makan siang bareng doang bro, gak ngajak hidup bareng kok.

"Makasih banget lho, Shiki-san, sudah mau traktir. Nanti kalau aku gajian, aku traktir balik deh."

Shiki tahu aja orang lagi usaha pedekate malah diusilin.

Smartphone Shiki berbunyi setelahnya. Pertanda pesan masuk. Isinya segera dibaca oleh Shiki.

"Duluan ya, Tsubasa minta dijemput."

"Salam buat dia. Bilangin terima kasih." Ucap Shu.

"Heh? Terima kasih buat apa…?"

Shu senyum penuh makna. Terima kasih karena gara-gara Tsubasa, artinya sekarang dia bisa berduaan dengan Eichi.

XoXo-XoXo-XoXo

Jauh, jaraknya memang terlalu jauh sehingga rasanya menjadi beban. Sejak awal memang sudah jelas. Hingga akhirnya Eichi mengambil keputusan yang susah payah ia pikirkan ini.

Nyari apartemen yang lebih dekat dengan kantor tempat kerja.

Tidak ada masalah sebenarnya dengan apartemen sekarang—kalau mengabaikan tentang jarak yang jauh menuju kantor. Walau jauh, tempatnya nyaman dan sewanya murah, dan enaknya dekat warnet sejam tiga ribu, pulang pergi kerja sejauh ini cukup melelahkan. Apalagi kerjaannya sibuk banget sampai-sampai sering pulang larut malam dan juga begadang.

"Sedang mencari tempat tinggal baru…?"

Eichi terperanjat, tidak menyangka Shu tiba-tiba muncul dari belakang. Saat ini dia sedang mencari tawaran sewa apartemen secara onlen pakai laptop kantor sambil ngopi di café baru dekat perusahaan mereka. Masih masa promosi, jadi termasuk hemat. Kapan lagi dapat menikmati hal semacam ini kalau tidak saat; gajian awal bulan, diskon, promosi, dibayarin.

"Iya, hehe. Soalnya apartemen sekarang terlalu jauh dari kantor."

"Kursi di depanmu kosong, kan?" setelah mendapat jawaban berupa anggukan, Shu duduk dan memesan menu yang dipromosikan. "Mau aku bantu mencari?"

"Nanti malah ngerepotin."

"Enggak kok, aku punya kenalan yang kerja jadi agen perumahan. Namanya Haiduki Fumihiko-san. Dia pasti senang kalau dapat klien."

"Benarkah? Boleh deh. Makasih Shu!"

Gak nawarin buat tinggal serumah? Tadinya sempat kepikiran, tapi kan sedang usaha secara slow. Soalnya kalau terburu-buru, nanti orang yang dikejar bisa risih dan menjauh kan?

Shu ingin membuat orang yang disukainya merasa nyaman bersamanya.

"Btw, sekalian nomor ponselmu biar gampang dihubungi nanti."

"Oh iya."

Modus Shu tetap jalan.

[Blessing in Disguise]

Berkat bantuan dari Shu, tidak sulit menemukan apartemen yang ideal bagi Eichi, lagipula pada dasarnya Eichi tidak terlalu pilih-pilih, yang penting harga sesuai dengan tempatnya.

Tidak banyak barang yang dibawa untuk pindahan, jadi ketika ada tawaran untuk dibantu oleh rekan kerja, Eichi menolak secara halus. Tempat tinggal baru, tidak buruk juga. Kamarnya terletak di lantai tiga, nomor dua ujung. Balkon belakang apartemen langsung menghadap ke jalanan. Eichi menumpu tangan di railing, menatap nyala lampu-lampu rumah dan perkotaan yang menyala. Cahayanya seakan bermaksud mengalahkan kerlipan bintang di langit. Malam pun, kota ini selalu terlihat begitu hidup. Menoleh ke samping balkon, Eichi melihat seseorang yang tampak familiar—

Okui Tsubasa-san!

Eichi secara refleks menepi ke tembok like a ninja. Syukurnya setiap sisi balkon belakang kamar tetangga terhalang tembok sebagai pembatas balkon dan penjaga privasi. Kecuali jika sengaja melongok [mengintip] dari balik tembok untuk melihat situasi balkon apartemen sebelah.

Apa di sebelahnya merupakan apartemen Tsubasa?

Tsubasa tinggal di apartemen sederhana ini?

Secara perlahan Eichi kembali mengintip.

Ada Shiki di sebelah Tsubasa! Dan wajah mereka terlihat begitu dekat. Dekat sekali.

Jangan-jangan di tempat ini mereka sedang—no, no, no. Jangan mikir yang aneh-aneh!

Suara-suara terdengar lagi. Eichi menengok lagi secara sembunyi-sembunyi. Rasa penasaran memenuhi hati.

Suara yang lembut ini… Rikka-san?!

Apa threesome?!

Tunggu, di sebelah Rikka ada penampakan sosok yang tinggi—Murase Dai?!

Ini pasti foursome?! Skandal!

"Ahh—kau, Eichi kan? Yang waktu itu makan bareng Shu." Tsubasa melihatnya sambil tersenyum. "Mau ikut bergabung dengan kami? Nambah satu gak masalah nih, biar rame."

Ka—kalau nganu berlima, sebutannya apa?

Curiosity killed the cat. Eichi berkeringat dingin, sadar ia telah tertangkap basah melihat mereka.

"E—eh? A—aku tidak berpengalaman dengan hal semacam itu."

XoXo-XoXo-XoXo

Maafkan Eichi karena telah berpikiran yang aneh-aneh. Maklum, kebanyakan nonton drama. Eichi membatin sambil menatap gelas berisi jus jeruk di tangannya. Ada banyak cemilan tersedia di meja. Televisi LCD menampilkan tayangan sinetron bervolume sedang dimana salah satu tokohnya diperankan artis terkenal You Haduki, berperan sebagai karakter cowok kedua yang naksir heroine (tapi heroine naksir cowok pemeran utama).

Ternyata Tsubasa dkk cuman ngumpul-ngumpul doang. Bukan kumpul kebo.

"Jangan malu, kalau mau nambah jus, bilang aja. Tanganku pandai melakukan banyak hal, termasuk meremas—jeruk." Rikka menyelipkan rambutnya ke sisi telinga. Elegan.

Eichi nyaris keselek jus jeruk. Eichi juga lumayan pandai pada pekerjaan dapur, kalau urusan di ranjang belum tahu—

"Heeh~ jadi Eichi tinggal di kamar sebelah. Aku tidak menduganya!" ucap Tsubasa.

Eichi menjawab canggung, "Baru pindahan hari ini kok, hehe."

Baru pindah ketemu hal mengejutkan kayak gini.

"Oh, gitu toh. Kalau begitu kita mungkin akan sering ketemu, ini tempatku tinggal dan membuat berbagai rancangan desain. Aku memilih tempat ini karena pemandangannya bagus dan menginspirasi, juga dekat dengan butik tempatku bekerja. Dan mumpung sedang senggang, kami ngumpul-ngumpul di sini, walau jarang sebenarnya."

"Maklum, pada sibuk sih." Ucap Rikka mengiyakan. "Tapi aku sering mampir ke sini sebenarnya, karena biasanya aku atau Shiki bantuin Tsubasa nyari inspirasi untuk desainnya."

"Yang sering beralasan sibuk banget sih Shiki dan Dai-chan ya." Tsubasa menusuk pipi Dai. "Diajak ngumpul paling susah."

"Woi." Dai tampak merasa risih dengan gangguan dari Tsubasa. "Soalnya kalau ketemuan di café, pasti ribut kan. Skandal apalah-apalah. Itu merepotkan."

"Itu benar sih…" Eichi mengiyakan. "Orang populer selalu mendapatkan sorotan lebih."

"Aku orang yang mendedikasikan diri untuk bekerja dengan serius." Ujar Shiki kalem.

"Hebat sekali, Shiki-san." Sahut Eichi. Tapi kalau terlalu serius kerja, nanti pacar kurang perhatian loh.

"Tempat tinggalku ini rahasia, jadi jangan bilang-bilang dengan yang lain ya, Eichi." Tsubasa mengangkat telunjuknya.

Hanya tempat tinggal biasa aja kan ya—

"A—aku mengerti."

Tsubasa memeluk Shiki yang sedang duduk di kursi dari belakang, "Tapi kadang aku dan Shiki berisik, jadi harap maklum ya—"

Berisik ngapain emang?!

XoXo-XoXo-XoXo

Ya pastinya berisik karena kerja merancang desain lah. Emangnya ngedesain itu gampang. Haha… Eichi mencoba berpikiran positif.

XoXo-XoXo-XoXo

[tbc]

XoXo-XoXo-XoXo

a/n: kayaknya terlalu banyak ngereceh di chap ini?! Issei dan Ichiru akan kembali muncul di chap selanjutnya, karena shuei tanpa si kembar gak afdol yh.

1] Asam di gunung, garam di laut bertemu dalam satu belanga. 2] Curiosity killed the cat. (peribahasa)

24/06/2018

-Kirea-