"Aku Daniel."

OoO

Aku menyambut uluran tangan lelaki itu. Namanya Daniel, jadi aku harus memanggilnya siapa? Kak Daniel? Daniel? Hmm ini sulit

"salam kenal kak, saya Jihoon. Park Jihoon"

Ia tersenyum mendengarku membalas perkenalannya dengan baik. Dua gigi serinya yang seperti kelinci mencuat keluar. Tangan kanannya mengusap pelan rambutku "ah kau lucu sekali."

Tangannya yang besar terasa dingin, ia tersenyum, namun di matanya terdapat sesuatu yang misterius. Aku tidak merasakan kehangatan disana. Perlahan aku menyentuh tangannya yang mengusap kepalaku dan membawanya turun dari kepalaku.

"ah maaf kak, saya sudah terlambat. Permisi sebelumnya"

"hm iya sudah jamnya kau masuk. Segeralah nanti kamu terlambat."

Ia membalikkan badanku dan mendorong pelan pundakku menyuruh aku segera pergi.

"Selesai kelas, kalau sempat kesinilah"

OoO

Dengan malas aku menuju ruang kelasku. Mencarinya cukup sulit di universitas sebesar ini. Setelah menemukan kelas, aku segera mencari tempat duduk. Mencari tempat sestrategis mungkin.

Woojin terlihat sudah akrab dengan beberapa mahasiswi disana. Ia terlihat asik bercanda dan memamerkan lelucon-leluconnya. Aku masih menatapnya dari kejauhan. Malas ikut berbincang disana.

Seorang mahasiswa masuk ke dalam kelas. Ia menggunakan hoodie abu-abu yang menutupi seluruh kepalanya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Saat ia menoleh ke arah kelas, semua mahasiswa di kelas menatapnya. Wajahnya teduh dengan rambut hitam yang lembut serta bentuk wajah yang tegas, pipi sebelah kanannya terdapat 3 buah bintang yang membentuk rasi segitiga.

Ia memilih duduk di kursi paling belakang yang tidak terjamah siapapun. Wajahnya lesu, namun tetap menyiratkan harapan. Setelah mendapatkan kursi ia segera mengambil ipod dan menyumpal telinganya dengan earphones. Ia menopang wajahnya dengan satu tangan lalu menatap lurus ke arah luar.

"Hoi!"

Aku menoleh ke sumber suara. Aku sudah tahu sebenarnya siapa yang bersuara.

"Hmm?"

"Kau dari mana saja hah?"

"Aku disini sejak tadi." Jawabku datar

"Kau pasti bertemu seseorang di lorong tadi kan? Ada kakak tingkat yang kau sukai jangan-jangan. Hm Jihoonku sudah besar ya"

Woojin menatapku sambil menguyel pipiku dengan kedua tangannya. Aku agak risih. Namun aku malas menyuruhnya diam. Jadi aku biarkan dia meremas pipiku sampai dia puas.

OoO

"kau lihat orang itu?"

"siapa?"

"seseorang yang duduk di pojok kelas. Dia terlihat bukan seangkatan kita. Menurut gosip yang kudengar dari teman-teman, dia itu harusnya lulus tahun ini. Entah kenapa dia menunda kelulusannya."

Aku menatap Woojin. Merasa tertarik dengan ceritanya. Namun aku berpura-pura

"itu bukan urusan kita. Tidak usah mencampuri urusannya."

"aku tidak mencampuri urusannya. Aku hanya memberitahumu apa saja yang kudengar." Jawab woojin terlihat kesal dengan tanggapanku.

Maaf Woojin, aku tertarik mendengarnya namun lebih baik tidak usah diperpanjang.

Woojin meninggalkanku pulang duluan. Katanya ia harus pulang ke rumah lebih awal hari ini. Jadi dia pamit padaku dan langsung meninggalkanku.

Aku juga harus pulang

Ah sebentar...

Aku melupakan sesuatu

'Selesai kelas, kalau sempat kesinilah'

Ah aku melupakan Daniel. Aku telah mengiyakannya. Ini sudah sangat sore. Ya mungkin saja dia sudah pulang. Tapi bagaimana kalau belum?

Akhirnya aku pergi ke sana mencari Daniel. Dan memenuhi janjiku.

Aku sampai di lorong tempat aku berjanji. Menatap sekelilingnya. Mencari Daniel. Namun aku tidak menemukan siapapun disana. Lorong itu kosong tanpa manusia. Kalaupun ada manusia itu pasti aku.

Ya sudah kuduga dia sudah kembali-

"Ah kau datang juga. Aku menunggumu sejak tadi."

Sumber suara itu membuatku berbalik badan mencari sumbernya. Daniel tepat berada di belakangku tersenyum tangan kirinya bersembunyi di balik kantung. Wajahnya terlihat bersinar terkena semburat cahayanya oranye, badannya tinggi dengan bahu yang lebar semakin membuatnya terlihat proporsional. Aku seperti kentang sekarang.

"Ah maafkan aku tadi ada kelas sampai sore. Kukira kamu sudah pulang."

"oh belum, aku menunggumu karena kau berjanji padaku." Senyum daniel sambil perlahan mengacak rambutku.

"Kau lucu. Aku belum pernah bertemu orang sepertimu."

Daniel berdiri di depanku, masih memperlihatkan senyumnya. Seperti ada yang aneh, ia terlihat sepi dan senyumnya terasa hambar.

"Ya kalau begitu. Mari kita berteman."

OoO

Aku masih di lorong itu, bersama daniel. Hari semakin sore. Kami duduk di lantai. Menceritakan kisah masing-masing. Kurasa Daniel cukup menyenangkan untuk seorang teman. Ia mendengarkan dengan baik dan menceritakan suatu hal yang juga membuatku tertarik.

"ah aku merindukan seseorang." Daniel memejamkan matanya sambil menghela napas panjang lalu bersandar pada tembok di belakangnya.

Aku menatapnya perlahan. Merindukan siapa? Hmmmmm

"siapa yang kau rindukan?"

"Seseorang, dia sahabat baikku. Namun, sejak kejadian itu ia tidak pernah berbicara padaku lagi."

Matanya terlihat sedih saat mengatakan itu. Aku hanya bisa diam. Menatapnya seperti ini sebenarnya cukup membuat hatiku terluka. Siapa sebenarnya orang yang dimaksud?

Setelah kalimat itu keluar dari mulut Daniel, kami menjadi diam. Bisu seribu bahasa dan hanya duduk di dalam gelapnya lorong malam. Aku menatap Daniel yang diam memandang sesuatu yang tidak jelas.

"Ia juga berjanji padaku untuk datang ke sini. Namun, aku belum melihatnya hingga hari ini."

Aku menatapnya perlahan. Ia tersenyum sambil mengatakan itu tapi hatinya pedih. Aku tahu itu aku tahu.

"Tidak apa kau masih punya aku."

Hei bagaimana aku bisa mengatakan itu. Apa yang keluar dari mulutku? Danielpun seperti bingung. Ia menatapku dan tetap diam seperti sedang menganalisis perkataanku tadi. Ah aku rasa aku baru mengatakan hal bodoh

"ah. Sudah malam, ayo kembali. Ibuku mencariku nanti." Ujarku sambil perlahan bangun dari posisi dudukku.

Tidak terasa sudah malam. Bagaimana ini? Pasti ibu sangat khawatir. Ya aku akan pulang sekarang

"Aku harus pul—"

Tangan itu melingkar di badanku. Tangan itu dingin. Melingkar di sepanjang badanku, mengikatku untuk tidak pergi. Daniel memelukku dari belakang.

Setiap sentuhannya terasa dingin. Aku terdiam disana membiarkan Daniel memelukku. Perlahan ia meletakkan dagunya di bahuku. Nafasnya terasa dingin di leherku. Mengapa ia sedingin ini? Dan aku masi diam menunggu dia mengatakan sesuatu.

Ia masih diam bersandar dipundakku sambil memelukku dari belakang. Wajah daniel ditenggelamkan ke pundakku sambil ia terus melingkarkan tangannya di diriku. Dingin tubuhnya perlahan berpindah ke arahku.

"Eng--, kau ding—"

"Jangan pergi. Aku membutuhkanmu."

"Ayolah kita bisa bertemu lagi besok." Jawabku mengelus lembut tangan daniel sekaligus menghangatkannya.

"kau berjanji akan datang?"

Aku menganggukan kepalaku tanda aku mengiyakan.

OoO

Ya dia aneh

Tangannya dingin sekali. Seluruh tubuhnya mungkin dingin.

Tapi senyumnya hangat, lebih hangat daripada matahari pagi hari dan telur rebus buatan ibuku.

"Permisi, boleh saya duduk disini?"

Aku menoleh ke sumber suara itu. Ah laki-laki rasi bintang segitiga itu lagi. Mengapa ia memilih duduk di sebelahku?

"ya silahkan."

Ia tersenyum perlahan. Senyum yang sama seperti senyum Daniel. Senyum hambar yang sama. Ia duduk dan langsung mengalihkan pandangannya ke tempat lain.

Aku menatapnya penuh pertanyaan. Ah buat apa aku mempertanyakan dia. Aku tidak mau peduli dengan hal-hal tidak penting ini.

Aku kembali pada duniaku. Mengambil handphoneku. Ada pesan masuk. Dari Woojin

'aku titip absen ya'

Baru saja perkuliahan di mulai. Sudah mulai bolos saja. Dasar.

Aku mengambil buku tulis dan pulpenku mempersiapkan kelas dan segalanya dengan baik. Diam-diam aku menatap ke arah laki-laki rasi segitiga itu. Memperhatikan segala fitur wajahnya dari dekat.

Iya menatap ke arah jendela dengan tatapan yang kosong. Telinganya masih tersumbat earphone putih yang mulai menguning. Wajahnya memiliki gestur yang tegas.

Tangannya memiliki jemari yang cukup panjang dengan pergelangan yang cukup kuat. Tergantung sebuah gelang hitam disana.

"Halo? Ada perlu apa denganku?"

Kalimat itu membuyarkan lamunanku.

"Ah maaf. Saya sedang melihat langitnya."

Laki-laki rasi segitiga itu menciduk ku memperhatikannya lama. Aku segera mengalihkan pandanganku ke arah jendela yang ditatapnya. Maaf aku tidak sengaja memperhatikanmu.

"Lain kali tolong lebih sopan. Kau mahasiswa baru kan?"

Ia menaikkan setengah bibirnya menunjukkan ketidaksukaannya terhadap pandanganku. Apa salahku memandangnya?

Sensitif sekali orang ini. Pantas ia tidak punya teman.

OoO

Setelah kelas selesai. Sesuai janjiku, aku akan bertemu dengan Daniel di lorong itu.

Aneh sekali. Ia selalu sendiri di sana. Mengapa ia tidak menghabiskan waktu dengan teman-temannya? Atau sekedar bermain, mengerjakan tugas dengan teman-temannya? Aku bingung.

Aku setengah berlari ke arah lorong. Dari kejauhan aku melihat Daniel sedang bersandar di tembok. Melihat ruang kaca itu lagi dengan sendu. Ah aku akan terbiasa dengan ini semua.

"Hei. Maaf aku agak terlambat."

Daniel masih diam menatap ruangan kaca itu. Ia sepertinya tidak menyadari kehadiranku.

"Hei."

Tanganku melambai di depan wajahnya untuk menunjukkan aku ada disana.

"Oh. Kau sudah datang. Selamat sore"

Dia terlihat terkejut dengan kehadiranku namun keterkejutan itu berganti dengan senyum manis seketika. Ia segera merangkulku.

Kami seperti biasa duduk di bawah. Aku menceritakan berbagai kehidupanku di kampus maupun di rumah. Biasanya Daniel juga menceritakan segalanya. Ia banyak berbicara. Ia sangat suka kalau aku membicarakan tentang ibuku dan segala perjuanganku untuk bisa masuk universitas ini.

"Ah aku merindukan semuanya"

Aku menatap Daniel lalu tersenyum. Handphoneku Tiba-tiba berbunyi. Aku segera mengeceknya.

Ah hanya pesan dari Woojin

'Hey! Aku membelikan kau sesuatu. Kau sudah mengabsenkan ku kan?'

Ah dasar orang ini. Aku membalasnya sambil tersenyum.

"siapa dia?"

"temanku. Woojin. Dia baik sekali dan baru saja—"

"Berhenti. Aku tidak ingin mendengarnya"

Tatapan Daniel berubah menjadi lebih dingin dari malam ini. Ia terlihat marah. Tapi kenapa?

"Ada apa?" tanyaku agak kebingungan.

"Jauhi dia."

OoOoOoO

Wowowoowowowoowowowoowowowoowowowowowowowowowowoowowowowowoowowowowowowoowo

Ini fenfict apaan si

Maaf kalau emang agak gajelas saya sadar saya tau saya mengerti

Tolong tapi diterima aja dulu y mohon kritikan dan sarannya gaes

Mohon maaf kalau ada kesalahan kesalahan yang terjadi

Hope u like it bruh

Disclaimer: YMC, Wanna one