Hearts of Glass

Chapter 2: Kuramochi Youichi

.

.

.

Kalian diperbolehkan tertawa terbahak ketika mendengar seorang Kuramochi Youichi mengatakan bahwa Sawamura Eijun adalah seseorang yang misterius.

Sawamura Eijun menyukai makanan manis, untuk pemuda seusianya tergolong hiperaktif dan berisik, tidak tahu malu, pengetahuannya soal baseball sangat minim, seorang pekerja keras, pantang menyerah, membawa semangat pada seluruh anggota tim dengan suaranya yang lantang dan keras, tanpa sadar memantrai semua orang di dekatnya untuk menyayanginya, semua emosinya terukir jelas di wajahnya, dan yang paling penting, dia bodoh. Silahkan jabarkan sendiri apa maksud bodoh tersebut.

Bagi sebagian besar orang, Sawamura Eijun adalah banyak hal kecuali misterius.

Tetapi sebagian besar orang tidak tahu kalau Sawamura Eijun memiliki sebuah kotak kecil berwarna hitam dengan tulisan 'milik Eijun' di tasnya saat ia pertama kali masuk ke asrama Seidou. Kuramochi Youichi, juga, bukan sebagian besar orang yang tidak berani mengintip barang milik juniornya sendiri. Ia berani menyelidiki ponsel junior barunya, ia berani menyelami barang pribadi milik si junior. Ia berani mengikuti instingnya secara alami.

Kotak itu, dari sekian banyak barang pribadi yang ia selidiki, adalah satu-satunya hal yang tidak berani ia buka. Satu-satunya hal yang membuat instingnya menjeritkan peringatan keras untuk ditinggalkan kembali ke tempatnya. Bahwa jika ia tidak menuruti peringatan itu maka ia akan melakukan sebuah kesalahan fatal. Tentu saja, Kuramochi Youichi menuruti peringatan itu.

Sebagian besar orang yang mengenal Sawamura Eijun tidak tahu kalau pemuda berambut cokelat itu pernah pulang sangat larut dengan mata sembap dan sebuah liontin bola baseball berwarna kuning kusam di tangannya. Mereka pun tidak tahu kalau setelah ia memberikan liontin itu pada Furuya, Sawamura mendapat mimpi buruk yang cukup membuat Kuramochi serta Masuko bangun dan panik semalaman. Mereka tampak tidak pernah menyadari kalau Sawamura memiliki liontin berwarna ungu gelap berbentuk kumbang yang selalu ia genggam saat sebelum pertandingan, dengan mata tertutup dan helaan napas panjang. Mereka tidak tahu seorang Sawamura Eijun mengalami mimpi buruk yang membuatnya merintih hampir setiap hari.

Kuramochi Youichi tahu semua itu karena ia bukan sebagian besar orang namun ia menolak berkomentar, menolak bertanya, menolak mendengarkan pikirannya yang berkata kalau ia akan tahu semua jawabannya di dalam kotak hitam milik Sawamura. Ia memilih untuk berpura-pura tidur saat Sawamura masuk ke kamar di waktu yang sangat-sangat larut. Menolak mendengarkan isakan halus dari si junior di kasur atas. Menolak bertanya soal liontin mitt berwarna kuning kusam yang muncul entah darimana keesokan paginya.

Kuramochi tidak pernah (belum) menyesali keputusannya itu.

.

.

"Liontin itu."

Kuramochi behenti menolak saat seorang Furuya Satoru menghampirinya dan menanyakan soal liontin.

"Liontin hancur milik Miyuki-senpai, ada dimana?"

Wajah Furuya yang pucat dan panik setelah anggota tim baseball Seidou menggendong Sawamura ke ruang kesehatan membangunkannya dari lautan pikiran tentang malam-malam panjang berisi isakan halus Sawamura, kotak hitam, mata sembap seolah sehabis menangis berjam-jam, botol kecil berisi vitamin milik Sawamura, dan liontin mitt di atas meja.

"Memang mau kau apakan liontin itu?"

Kuramochi menatap Furuya curiga. Tangannya bergerak halus ke saku celananya yang berisi pecahan liontin kuning berbentuk mitt milik Miyuki. Kuramochi mengingat kembali bagaimana Miyuki idiot itu (tidak sengaja) menjatuhkan liontin miliknya begitu saja untuk diinjak seorang anggota tim baseball yang sedang berlari untuk pemanasan. Mengingat rintihan dan air mata Sawamura saat ia dibawa ke ruang kesehatan. Mengingat bagaimana dengan refleks ia mengamankan pecahan liontin itu karena instingnya berteriak untuk melakukan itu. Tidak peduli dengan Miyuki yang berlari menghampiri Sawamura dan Furuya di tengah lapangan.

Furuya sama sekali tidak gentar melihat ekspresi kelam dan amarah yang Kuramochi tunjukan secara tidak sadar. Ia justru mengangguk halus dan menghela napas lega pada si senior.

"...senpai simpan saja liontin itu baik-baik."

Satu alis Kuramochi terangkat saat melihat Furuya berbalik dan meninggalkannya begitu saja. Furuya berbicara seolah liontin itu sangat penting dan liontin itu tidak kehilangan nilai berharga meskipun sudah hancur—seolah liontin itu sama sekali tidak pecah. Kuramochi mengambil satu pecahannya dari saku celananya, dan menatap pecahan di telapak tangannya itu lamat-lamat.

Mungkin ia berhalusinasi, namun liontin itu terasa lebih berat dan dingin dari sebelumnya.

.

.

Miyuki mengangkat sebelah alis saat Kuramochi menyodorkan pecahan liontin berbentuk mitt miliknya. Liontin itu sudah pecah, mau diapakan?

Kuramochi yang paham betul jalan pikiran teman satu kelasnya itu segera melayangkan satu tendangan ke pinggang Miyuki. Tidak sempat untuk sepenuhnya menghindari serangan tiba-tiba itu, Miyuki menggertakkan giginya menahan sakit. Baru ia akan memprotes dan bertanya, tetapi ia terhenti ketika Kuramochi melempar plastik kecil berisi pecahan liontin itu padanya dan berkat refleksnya sebagai catcher, ia menangkap plastik itu dengan mudah.

"Berikan pada Sawamura. Dan minta maaf padanya."

Kuramochi menahan keinginannya untuk menonjok wajah mengernyit Miyuki dengan menendang tembok lorong sekolah yang sama sekali tidak bersalah. Ia tidak mengerti kenapa pikirannya tidak mau berhenti memutar Eijun yang menangis dan merintih karena mimpi buruk pada malam dimana liontin mitt itu diberikan.

.

.

Hal misterius lain yang ada pada Sawamura Eijun adalah bagaimana ia bisa meyakinkan semua orang kalau kejadian dimana ia terjatuh dan menangis hingga pingsan kemarin itu adalah akibat kelelahan. Kuramochi mengepalkan tangannya dengan sebal, menahan diri memiting si kouhai idiot itu saat ia terbata-bata menjelaskan kalau sebenarnya itu hanya karena dia kurang tidur. Kuramochi tidak bisa bilang Sawamura berbohong, karena ia memang melihat dan mendengar Sawamura bermimpi buruk hampir setiap hari.

("Apa itu benar, Kuramochi, Masuko?" Pelatih Kataoka bertanya kepada keduanya, yang berdiri samping tempat tidur Eijun di ruang kesehatan. Kuramochi mendecih sebal, membuang muka dari Sawamura yang keringat dingin di rumah sakit, sementara Masuko mengangguk.

"Sawamura—" Masuko menjeda, memikirkan kata-kata yang akan ia ucapkan, "—memang memiliki kesulitan tidur."

Kuramochi tidak melewatkan Sawamura yang menghela napas lega ketika Masuko tidak mengatakan apapun soal mimpi buruk.)

Dan kejadian itu seolah terlupakan begitu saja, Pelatih sama sekali tidak mengungkit kejanggalan Sawamura yang kesakitan karena kurang tidur (memang bisa begitu?), Sawamura kembali menjadi seseorang yang sangat berisik, Miyuki masih menyebalkan, Sawamura dan Miyuki bertengkar seperti sepasang kekasih bodoh dan astaga (Kuramochi mengerjap, kedua maniknya melebar) apakah liontin mitt itu kembali utuh atau apakah itu liontin baru tapi bagaimana—

Terdengar jeritan memilukan Sawamura Eijun ketika dipiting oleh Kuramochi Youichi tepat ketika ia melangkahkan kaki masuk ke kamarnya.

"MOCHI-SENPAI! MEMANGNYA APA SALAHKU?!"

Jeritan Eijun mengeras saat Kuramochi meningkatkan tenaga untuk memiting, "KAU TIDAK MEMBERI HADIAH PADA SENPAI YANG SEKAMAR DENGANMU?! SEJAK KAPAN KAU BERANI PILIH KASIH, HAH?!"

"MEMANGNYA SIAPA YANG PILIH KASIH?! APA MAKSUD—" Perkataan Sawamura terpotong oleh jeritan lain.

"JANGAN PURA-PURA TIDAK TAHU, BAKAMURA! KAU MEMBELI LIONTIN BARU UNTUK MIYUKI TAPI TIDAK SAMA SEKALI UNTUKKU?!"

"LION—OH!"

Sawamura menggeliat di bawah Kuramochi, lalu berguling ke samping sehingga Kuramochi terpaksa menyingkir dari tubuhnya kalau tidak mau membentur rak sepatu. Ia mendecak sebal dan hendak mencekik Sawamura dengan lengannya sebelum ia dihentikan oleh si junior yang menatapnya lurus.

"Kalau senpai ingin liontinnya, aku akan membuatkan satu untuk Mochi-senpai juga."

Kuramochi mengerjap. 'Membuatkan'—?

"Tapi—" Kuramochi memperhatikan bagaimana sepasang netra madu Sawamura bolak-balik menatap wajahnya lalu pandangannya turun ke bawah—Kuramochi mengikuti dan eh, apakah Sawamura menatap dadanya?—sebelum Sawamura mengernyit dan tampak berpikir, "—Mochi-senpai sama sekali tidak membutuhkannya sekarang."

'Membutuhkan'? Kuramochi menggeram sebal dengan misteri baru yang ditunjukkan Sawamura Eijun sebelum ia bergerak cepat menyandung kaki si junior dan membantingnya tanpa ampun ke lantai kamar.

.

.

Kuramochi Youichi hampir menjambak rambutnya sendiri melihat Sawamura Eijun yang memberikan sebuah liontin kuning kusam berbentuk bulan sabit (Todoroki berteriak 'WOAH PISANG MINI!' dengan antusias dan manik berbinar) pada Sanada Shunpei tepat sebelum pertandingan latihan dengan Yakushi dimulai. Kuramochi melewatkan Furuya dan Miyuki yang memucat sesaat sebelum menatap si ace Yakushi itu dengan aura membunuh yang membuat anggota tim lain mundur.

Ah, bahkan Chris-senpai di bench sana tersenyum ganjil melihat Sanada Shunpei dan liontin baru di tangannya.

.

.

Dari semua lantunan yang pernah Sawamura dengar, lantunan milik Kuramochi Youichi adalah satu dari sedikit lantunan yang terdengar kuat dan membawa semangat. Sawamura tidak mengerti kenapa senpainya itu menginginkan sebuah liontin ketika jelas-jelas tidak ada yang perlu disembuhkan.

.

.

.

To be Continued

A/N: Sepertinya fanfik ini akan berakhir dengan sedikit chapter. Itu pun kalau saya kuat menyelesaikannya sobs (Melirik fanfik MC lain yang terlantar). Iya jadi semakin berganti chapter maka sudut pandangnya berubah hehehe.

Spoiler Next Chapter: Takigawa Chris Yuu