Hallo, semuanya!

Maaf ya lama banget updatenya, jujur aja sekarang saya sedikit keteteran karena sekolah mulai padat.

Terima Kasih banyak untuk kak Nirmala Azalea Maurish, Lacie Fraij, Circle Calliope, dan LarasGEE.

Maaf bila tidak berkenan.

Oh ya, nama tokoh ada yg diganti dikit.

Let's move….!

Song : Baby Mine ()-Allison Krauss

You are my star

CHAPTER II : BABY MINE, BIRTH.

Flash back ke 17 tahun yang lalu…

3 Maret 1988

Highlands Hospital, Winchmore Hill, North Central of London

"Baby mine, don't you cry

Baby mine, dry your eyes

Rest your head close to my heart

Never to part, Baby of mine"

Seorang wanita muda yang baru saja melahirkan sedang bersenandung dengan suaranya yang lembut untuk putra pertama yang baru saja dilahirkannya. Bila kau bertemu wanita ini, kau akan mengira dia adalah jelmaan Snow White karena kulitnya yang putih bersih, bibir penuhnya yang merah, mata cokelat yang hangat, rambut hitam yang bergelombang yang menjuntai sepanjang punggung hingga 7 cm diatas pinggang, dan perawakannya yang kecil. Dia sedang menggendong putranya, seorang bayi mungil yang sama putih bersihnya, rambut lembut hitam dan bila kedua kelopak matanya terbuka akan terlihat dua buah bola mata merah cemerlang yang menakjubkan, sungguh baik ciptaan Tuhan. Wanita ini mendekatkan pipinya ke pipi putranya yang keduanya sama – sama bersemu merah.

"Little one when you play

Don't you mind what they say

Let those eyes, sparkle and shine

Never a tear, Baby of mine"

"If they knew sweet little you,
They'd end up loving you too.
All those same people who scold you
What they'd give just for the right to hold you."

"From your head down to your toes

You're not much Godness knows

But your soul precious to me

Sweet as can be, Baby of mine"

Bayi tersebut menggeliat sedikit namun tetap terlelap. Wanita muda itu tersenyum dan berbisik.

"My dear, kau tahu bahwa aku sangat bahagia sekarang karena kau telah terlahir di dunia dengan selamat. Bukannya aku sombong dan ingin membuatmu sombong, kau adalah putra dari Putri Mahkota Amelia Selene Alcraz dengan Victor Michaelis. Dan namamu adalah Sebastian, Sebastian Michaelis. Kau keturunan 'mantan' calon Ratu. Kuharap kelak kau akan tumbuh sebagai orang yang baik luar dalam, Nak!".

Wanita itu mengecup lembut dahi putranya. Tiba – tiba seseorang masuk kedalam kamar sang Putri Mahkota.

"Mia, kalau aku tidak salah, kau sekarang bukan Putri Mahkota lagi, Sayang. Tapi kau adalah istriku, Amelia Michaelis.", laki – laki itu terkekeh, diikuti tawa ringan Amelia.

"Dear, aku ingat, sangat ingat! Ayolah, panggil aku dengan nama panggilanku, Mia! M-I-A! MIA!".

Laki – laki itu semakin intens tertawa. Laki – laki yang muncul adalah suami Mia, Victor Michaelis. Seorang pemuda yang cukup berhasil, di usianya yang ke 26 tahun ini dia berhasil menjadi ketua cabang perusahaan terkenal, Phantom Corp. Dia adalah satu – satunya penerus Marco Michaelis, seorang investor besar di Phantom, Corp.

Laki – laki ini seperti dewa dari Yunani dengan bola mata berwarna merah, rambut perak yang lurus, kulit putih pucat, tinggi badan sekitar 187 cm, dan memakai jas hitam dan kacamata.

"Lihat dia, Victor! Matanya, wajahnya, bahkan hidungnya mirip sekali denganmu! Bahkan aku yakin rambutnya akan selurus rambutmu. Namun akan sehitam rambutku!", ucap Mia sambil mengelus pipi putranya lalu tersenyum manis. Victor mengambil alih si bayi dari gendongan Mia dengan lembut agar yang sedang tertidur tidak terbangun dan menangis.

"Kau, Sebastian Michaelis, putraku, aku berdo'a kepada Tuhan agar kau tumbuh menjadi orang yang tangguh dengan kepribadian yang baik. Kau harus tangguh sepertiku, banyak sekali yang akan berusaha merebut kedudukanmu, Nak. Kau hartaku yang tiada satupun menandingimu. Aku pasti akan melakukan apa saja untuk kebaikanmu, bahkan bila harus menggadaikan nyawaku. Demi Tuhan.", Victor berbicara tentang janjinya yang tulus kepada bayi kecil dalam gendongannya. Setelah lama menatap putranya, dia mengecup lembut puncak kepala putranya.

"Plus que ma proper vie, Mi vida." Victor dan Mia sama – sama tersenyum memandang masa depan mereka.

5 Maret 1988

8.00 am. GMT.

Highlands Hospital, Winchmore Hill, North Central of London

"Oh, my little princess! Apa kabarmu sayang?", seorang pria setengah baya masuk kedalam kamar Mia dan menyongsong untuk memeluk putrinya yang sudah 1 tahun tidak bersamanya.

"Daddy! Oh, Dad! Oh, My Lord!", pekik Mia. Dia langsung memeluk laki – laki yang merupakan ayahnya itu.

"Oh, Dad, I miss you so much! It has been a year! Dad, kok tambah gemuk ya? Dad pasti males olahraga lagi deh, duuuuh! Oh ya, Mom mana?", tanpa jeda Mia merongrong ayahnya dengan pertanyaan – pertanyaan setelah melepas pelukan mereka. Dan seorang wanita cantik setengah baya masuk.

"Hello, my little princess! Bagaimana kabarmu, suamimu dan cucuku?", ucap wanita itu sambil tersenyum, lalu melebarkan lengannya untuk menyambut pelukan.

"Oh, Mom! Thanks God! Mom ini, gak berubah ya! Aku baik, Victor baik dan Sebastian, cucumu sangat baik!", jawab Mia juga tanpa jeda.

"Apa kau tidak merindukan rumahmu, Coronalis di Alcraz, Mia?", tanya wanita itu.

"Tentu saja aku merindukan Alcraz, kau, Dad, Edward dan rakyat Alcraz. Bahkan aku merindukan mawarku! Apa kalian juga merindukanku, Mom?", Mia menjawab balik dengan pertanyaan.

"Tentu saja kami semua di Alcraz sangat merindukan dan mengkhawatirkan putri mahkota yang akan melahirkan ini!", jawab ibunya Mia sambil mencubit pipi merah Mia. Dan Mia hanya mengaduh kecil.

Kedua ini adalah orang tua Mia, Dimitri Alcraz dan Eleanore Alcraz yang merupakan raja dan ratu sebuah monarki kecil dekat Alaska. Dimitri adalah pria tegap dengan rambut hitam keriting sebahu, kulit putih, bermata zamrud dan meski usianya yang mendekati 45 tahun, tetap terlihat bekas – bekas kemenawanan sang Raja. Sedangkan Eleanore, sangat mirip dengan Mia, hanya saja rambutnya yang berwarna cokelat mahoni sangat lurus. Putri salju berambut kayu. Warna matanya cokelat susu dengan kulit putih pucat seperti kapur, namun memiliki tekstur lembut. Ada sebuah tahi lalat dibawah bibir kecilnya. Pasangan ini sangat serasi satu sama lain, bahkan dalam pakaian tebal karena Inggris berbeda dengan Alcraz yang sedikit hangat.

"Jadi, ini cucuku, Sebastian Michaelis.", tanya Eleanore kepada Mia. Dia melihat bayi mungil di dalam box bayi yang terbuat dari kayu eboni. Dimitri dan Eleanore mendekati box bayi tersebut.

"Ya, Mom, Dad, nama yang indah untuk malaikat kecilku. Dia akan menjadi laki – laki paling gentle di dunia. Seperti kau dan Victor, Dad!", ucap Mia.

"Yes, I wish him too, oh God!", jawab Dimitri.

KLIK!

"Mia, kita akan kedatangan tamu istimewa! Astaga! Demi Tuhan! Dad, Mom, kalian sudah sampai?", Victor masuk kedalam kamar Mia dan shock di tempat karena tamu istimewa yang dia maksud telah ada didalam ruangan.

"Hey, Victor! Apa kabarmu, Nak?", Dimitri memeluk Victor lalu tersenyum.

"Dad, I'm alright! Tapi, kenapa sih kalian gak menghubungiku kalau sudah sampai Airport? Kan bisa kujemput langsung.", Victor menggerutu karena niatnya untuk memberi kejutan kepada Mia jadi gagal.

"Oh, maafkan kami, Victor. Kami tidak ingin merepotkanmu dengan menjempt kami, sedangkan kau sedang repot mengurusi Mia dan bayinya dan harus memenuhi pekerjaanm sebagai kepala cabang Phantom, Corp. Aku tidak ingin membuatmu dipanggil Vincent karena lalai.", ucap Dimitri dan Eleanore tersenyum.

"Ya, Victor, setelah George mendapatkan berita bahwa Mia telah melahirkan, aku langsung merongrong Dimitri agar secepatnya menyuruh Edward untuk mempersiapkan perjalanan kami ke London. Dan ini juga kejutan untuk kalian. Aku tudak tahu bahwa kau berniat menjemput kami, sayang.", Eleanore menjelaskan. Victor menghela nafas. Dia sangat menyayangi kedua orang tua Mia, karena orang tuanya telah meninggal dan membuatnya harus mengemban tugas keluarga Michaelis. Dia pun tersenyum kepada kedua orang yang menjadi orang tuanya itu.

"kalian tidak boleh meminta maaf kepadaku, Dad, Mom. Kalian selalu tahu yang terbaik utuk kami. Maafkan aku ya Mom, Dad! Aku hanya khawatir dengan kalian.", jawab Victor dengan senyum lembut.

"Tentu anakku!", jawab Dimitri.

"Oh, Dad! Kenapa Edward tidak ikut saja sekalian? Aku rindu sekali padanya! Dan ingin sekali menggodanya! Aku yakin Alessandra Trancy selalu datang ke Alcraz, bukan?", tanya Mia sambil menggendong Sebastian karena bayi itu terbangun tapi tidak menangis. Lalu, Victor berjalan mendekatinya dan berdiri disamping Mia.

"Well, Mia. Dia harus tetap di Coronalis. Ada sedikit masalah disana, sayang. Tapi jangan khawatir, dia bersama Alessandra. Dan hanya small bug kok!", Dimitri terkekeh.

"Tapi, apa benar tidak apa – apa?", tanya Victor.

"Tentu, sayang! Vincent telah mengirim kakak Alessandra yang berada di Berlin untuk membantu penyelidikan masalah tersebut.", Eleanore menjelaskan dan menenangkan kekhawatiran putra – putrinya.

"Ah, Nak! Kami harus ke hotel sekarang, usia sangat membuat semangatku tertekan! Benar sekali kata – katamu Mia, aku harus lebih rutin berolahraga!", Dimitri menguap setelah melirik jam tangan dan mendengus.

"Oh, oke! Aku akan memanggil Leon untuk menyiapkan mobil dan mengantar kalian ke rumah. Tunggulah! Dan jangan membuatku harus terkena serangan jantung saat masih muda lagi, Dad!", ancam Victor. Dia keluar kamar setelah mencium lembut pipi Mia dan Sebastian.

"Hehe, tentu, tentu!", jawab Dimitri enteng.

"Haaah, Mia! Maafkan kami! Kami jadi merepotkan kalian!", Eleanore mengerutkan keningnya tanda dia meminta maaf,

"Tenang, Mom! Tak ada yang salah! Victor sangat senang kalian datang. Tentu kalian tahu alasannya. Dia ingin yang terbaik untuk kalian, dan keluarganya.", jawab Mia sambil tersenyum, dia mengalihkan matanya ke arah bayi dalam gendongannya yang mulai teridur lagi.

"Oh, Mia! Dia sangat mirip dengan Victor. Tetapi ada dirimu juga dalam dirinya. Sangat menawan. Aku tidak bisa membayangkan setampan apa dia nanti. Akan lebih dari Victor dan Dimitri mungkin.", Eleanore memuji cucunya lalu menyentuh pipi merah Sebastian dengan sentuhan lembut jarinya yang kurus.

"Iya, Mom. Sangat menawan. Dan dia berhasil mencuri hati siapa saja yang melihatnya.", gumam Mia.

"Mom, Dad, Leon sudah di Lobby!", Victor tiba – tiba masuk.

"Oh, oke! Dah sayang! Dah Jagoan kakek! Huh, kakek! Mia, kau membuatku menjadi kakek diusia muda, Nak!", ujar Dimitri dengan gerutuan karena harus menjadi kakek diusia muda.

"Dah, sayangku! Kita bertemu nanti ya! Dah Sebastian!", ucap Eleanore. Wanita itu mengecup kening Mia dan Sebastian.

"Dah, Mom, Dad! Hati – hati!", jawab Mia.

Lalu, Dimitri, dan Eleanore meninggalkan kamar. Meninggalkan Victor, Mia dan Sebastian.

1.00 pm. GMT.

"Mia! Huaaa! Kangen banget deh!", seorang wanita muda cantik berambut blonde stroberi memeluk Mia. Dia mirip sekali dengan boneka porcelain, dengan kulit putih lembut, dan mata biru besar. Sedang disampingnya berdiri seorang pria yang berusia 3 tahun diatasnya yang sekarang berusia 24 tahun. Pria ini berkulit sama dengan Rachel, orang Inggris umumnya, rambut hitam kebiruan, mata cokelat, sebuah tahi lalat dibawah mata kirinya. Dan senyum menawan dalam sikapnya yang terlihat sangat gentleman. Keduanya seperti pasangan pangeran dan putri dari negeri impian.

"R-Ra-Rachel, aku gak bisa nafas!", Mia tersedak sedikit karena terkejut dan tak bisa nafas akibat pelukan Rachel. Dia tidak menyangka sahabat baiknya akan datang dan dia datang bersama berita yang baik dan seorang pria.

Rachel adalah sahabat dekat Mia. Ayah Mia, Dimitri pernah bertamu ke kediaman keluarnga Durless. Sejak saat itu Mia dan Rachel menjadi sahabat meski Rachel 2 tahun lebih muda daripada Mia.

"Mia, kenalkan, ini Vincent Phantomhive, tentu kau kenal karena dia dekat sekali dengan keluarga kerajaan. Dan Vince, kau tentu ingat putri mahkota yang jatuh hati kepada sahabatmu, Victor!",ucap Mia.

"Well, salam kenal, Mia! Baru kali ini aku bertemu putri mahkota dalam acara tidak resmi. Senang sekali rasanya, bertemu istri sahabat kecilku. Victor itu adalah sahabatku sejak kami kecil.", ucap Vincent dengan gentlenya.

"Sama – sama Vincent. Aku juga senang sekali bertemu denganmu lagi. Sudah lama sejak kau menghadiri kenaikan tahta adikku, Edward. Dan teirma kasih karena kalian berdua telah menyempatkan waktu untuk menjengukku sedangkan kalian sendiri sedang mempersiapkan pernikahan, Victor pasti senang sekali kau datang, Vincent. Dan Rachel, ada banyak sekali hal yang ingin kuceritakan kepadamu.", ujar Mia.

"Tentu saja! Tenanglah, Mia. Kebetulan Vincent punya waktu dan we're well prepared!", jawab Rachel dengan lembut dan mengerling ke arah Vincent. Vincent tersenyum lalu merangkul Rachel.

"Oh, ya mana Sebastianmu, Mia?", tanya Rachel.

"Dia ada di box itu, sedang tertidur, Rachel.", jawab Mia. Telunjuknya yang kurus mengarah ke box eboni di dekat kasurnya. Rachel dan Vincent mendekati box tersebut.

"God! Dia- sangat Victor! Tampan sekali!", ucap Rachel. Vincent mengangguk tanda setuju. "Sangat Victor!", ulang Vincent.

"Tentu saja! Aku kan ayahnya.", tiba – tiba Victor menyeletuk.

"Kenapa sih gak bilang kalau udah sampe, Vince?", gerutu Victor.

"Husss, sayang!", Mia mencubit lengan Victor. "Aw!", Victor menaduh dan mengelus lengannya yang pasti membiru karena tenaga putri mahkota Mia setara dengan petarung aikido.

"Tenang saja, Mia. Pasti si Tuan Perfeksionis ini akan menggerutu kalau jadwalnya terganggu.", ejek Vincent sambil meninju pelan lengan Victor dan terkekeh.

"Hehe.", Victor hanya menunjukkan cengirannya yang khas.

"Hm, sayang, aku baru sadar kalian berdua mirip, mungkin lebih cocok kalau kalian menjadi adik kakak. Perbedaan kalian hanya warna rambut, kau hitam kebiruan sedangkan Victor perak.", Rachel menilai.

"Oh iya, bener tuh!", Mia setuju dengan penilaian Rachel.

Vincent dan Victor menyeringai bersamaan. Telah banyak sekali yang menilai seperti itu.

"Jadi, kapan kalian menikah?", tanya Victor.

"2 bulan lagi. Aku harus menyiapkan semuanya dengan baik.", jawab Vincent.

"Mia, nanti bawa Sebastian ya!", bujuk Rachel.

"Oke!", Mia mengangguk pelan.

"Ah ya, Mia, aku dan Vincent mau makan siang dulu di restoran depan rumah sakit sebentar. Tadi dari kantor kami langsung kesini.", Rachel membawa tasnya.

"Hah? Kenapa gak bilang? Kan bisa kupesankan dulu, Rachel.", gerutu Mia.

"Ah, tidak apa kok, Mia. Kami tidak ingin merepotkanmu, aku udah dengar kalau Yang Mulia Dimitri dan Eleanore ada di London. Vincent yang memberitahu. Vince, ayo sekarang kita jalan! Nanti kami kembali kok, Mia! Tenang saja, aku juga ingin konsultasi kepadamu, dan agar Vincent bisa main lagi dengan Victor. Dia sudah lama sekali ingin lepas dari kewajiban perusahaan dan bersantai.", ujar Rachel.

"Hati – hati Rachel, Vincent!", Mia memperingatkan.

"Yes, Miss. Daah!", jawab Rachel. Rachel melambaikan tangannya ke Mia dan Vincent meninju lagi lengan Victor lalu menyeringai.

"Yeah!", Victor menjawab tantangan tersembunyi Vincent lalu memutar bola matanya.

Tiga tahun kemudian…

14 Desember 1991

8.00 am. GMT.

St. Andrew's Hospital, North Hampton, East Midlands.

"Kak, akan kau beri nama apa bayi 'langit' ini?", tanya seorang wanita muda berambut merah api yang terpesona oleh bayi di gendongannya kepada wanita berambut blonde stroberi yang terbaring di kasur sebelahnya.

"Ann, aku belum tahu. Aku berfikir akan lebih baik jika aku merundingkannya dengan Vincent terlebih dahulu tentang nama putri kecil kami.", Rachel menjawab dengan suara lirih sambil tersenyum.

Mereka berdua adalah kakak beradik Rachel Phantomhive dan Angelina Durless. Angelina atau yang biasa dipanggil Madame Red adalah adik kandung satu – satunya Rachel Phantomhive. Dia memiliki rambut, mata, aksesoris, dan pakaian dengan warna senada, merah. Dia sangat elegan dan menarik dengan warna mencolok yang dicintainya. Wajar saja dia akrab disapa "Madame Red". Sedangkan Rachel adalah wanita cantik yang lembut dengan rambut blonde stroberi halus yang panjang, mata yang sebiru malam, dan dia sangat anggun. Kepribadian keduanya sangat baik, bahkan dimata orang – orang lain. Tidak lupa seorang lagi yang ada di ruangan itu, bayi yang baru dilahirkan Rachel adalah putri pertama Presdir Phantom Corp., Vincent Phantomhive. Phantom adalah perusahaan besar yang ada di Inggris yang turun menurun sejak ratusan tahun yang lalu.

"Sungguh, bayi ini, adalah bayi tercantik yang pernah kulihat, puji Tuhan.", ujar Madame Red.

Tentu saja, tidak akan ada satupun yang mampu menampik pesona bayi mungil itu. Dengan kepala yang bulat, pipi kerubim yang bersemu merah, rambut lembut senada dengan warna langit malam, kulit porselen yang lembut dan seputih salju. Dan bila kedua kelopak mata dengan bulu mata lentik itu terbuka, akan terlihat sepasang mata yang sewarna dengan rambutnya yang biru gelap, dan identik dengan mata ibunya. Bahkan wajahnya didominasi wajah ibunya, tapi rambut dan hidungnya adalah identik dengan ayahnya. Tetap saja dia terlihat seperti kedua orang tuanya.

"Benar, tapi... Ann, dia- sangat rapuh.", Rachel mengambil alih bayinya dan memeluk erat si kecil dengan sendu.

"Kak, meski dia juga mengidap asma sepertimu, tapi, kalau kita jaga baik – baik tuan putri kecil ini, dia akan baik – baik saja. Percayalah padaku, kak!", Angelina meyakinkan kakaknya.

"Ya, aku pasti akan berusaha sebaik mungkin agar dia tidak menderita seperti aku.", lirih Rachel. Rachel menatap putrinya dengan tatapan meminta maaf yang sendu. Kesedihan seorang ibu yang tidak bisa melawan takdir bahwa putrinya tercinta juga mewarisi penyakit yang diturunkan secara genetis, asma. Rachel mengecup lembut pipi bayinya.

9.18 am. GMT.

"Racheeeeeeeeel! Apa kabar, cantik?", seorang jelmaan putri salju masuk kedalam ruangan. Tangannya bergerak untuk memeluk Rachel.

"Oh, Mia! Aku sangat senang kau datang! Aku merasa sangat baik, lebih dari yang sebelumnya! Maaf banget aku jadi membuatmu harus ke Inggris, padahal kau sedang berlibur di Alaska.", kedua sahabat itu berpelukan.

"No problem, Rachel. Aku tidak mungkin melewatkan hari dimana aku bisa menjenguk sahabatku yang baru saja melahirkan, ini adalah hari yang sangat membahagiakan. Dan selain itu, Victor juga ingin sekali main dengan Vincent. Semenjak kalian berbulan madu ke Rio, kami belum sekalipun bertemu kalian lagi. Hanya lewat telefon bukan? Dan Sebastian juga sudah tidak sabar untuk pulang ke London.", jelas Mia panjang lebar. Dia menyadari penjelasannya sangat panjang karena wajah Rachel sedikit bingung. Mereka berduapun tertawa, terdengar seperti gemerincing lonceng.

"Oh, Tuhan! Inikah putrimu?", Mia menghampiri bayi yang tertidur diatas kasur Rachel.

"Iya, Mia. Dia putri 'langit'ku.", jawab Rachel.

"Dia- sangat cantik. Tidak. Dia...", Mia tidak sanggup melanjutkan.

"Unbelieavable and Amazing!", sambung Angelina yang sudah masuk kedalam kamar sambil terkekeh.

"Wow, Ann! Kau benar!", Mia mengacungkan jempolnya kearah Ann, seketika dia terdiam dan terkejut sedikit.

"Ann! Demi 7 lautan! Kau sekarang sudah besar ya! Dan sangat menawan!", Mia terpekik. Seingatnya, dulu ketika menghadiri pernikahan Rachel, Ann yang memakai gaun merah, masih sangat muda. Dan sekarang sudah terlihat kedewasaan Ann dengan jelas.

""Thanks, Mia!", jawab Ann tersipu.

"Ah, ya. Mana Sebastian, Mia?", tanya Rachel. Ann meletakkan buket bunga dan keranjang buah di meja buffet disamping kasur Rachel.

"Err- dia sedang menyiapkan kejutan untukmu, Rachel. Dia bahkan tidak mau memberitahuku, dia bekerja sama dengan ayahnya. Entah mengapa mereka berdua sangat kompak! Kau pasti akan terkejut.", Mia memutar bola matanya, seperti yang biasa dilakukan Victor.

Pada saat yang sama, pintu kamar Rachel terbuka pelan dan terlihat mawar – mawar putih dalam sebuah buket bunga. Lalu, seorang bocah yang berusia 3 tahun lebih 9 bulan yang sedang tersenyum muncul dibaliknya.

"Bibi, ini untukmu.", ucapnya dengan suara tinggi khas anak – anak. Bocah kecil ini sangat menggemaskan dengan lesung pipi.

"Oh, terima kasih banyak, sayang!", Rachel menghampiri bocah itu, merunduk dan menerima buket bunga dari bocah itu.

"Kau pasti Sebastian, bukan? Aku Rachel Phantomhive, sahabat dekat ibumu. Aku tahu dirimu karena aku menjenguk ibumu setelah melahirkanmu. Kau sudah besar ya sekarang, Sebastian.", ucap Rachel untuk memperkenalkan dirinya dengan senyum manis yang mampu membuat anak kecil menangis terdiam dan menjadi tenang.

"Senang bertemu denganmu, Bibi Rachel. Aku Sebastian.", jawab Sebastian membalas senyum Rachel. Bola matanya yang merah terttp sepenuhnya dan menampilkan kedua lesung pipinya. Sungguh pemandangan yang akan membuat malaikat – malaikat kecil di lukisan musium merasa jelek.

"Kau mirip sekali dengan ayahmu, sayangku.", ucap Rachel. Sebastian hanya tersipu, pipinya memerah.

"Mia, apa kau bertemu Vincent?", Rachel bangkit berdiri, dan menatap Mia. Dia bingung karena Vincent tidak juga kembali.

"Ya, tadi di dekat lift kami berpapasan. Dan dia langsung menculik Victor. Huh!", gerutu Mia. Mia dan Rachel tertawa begitupun Sebastian dan Angelina.

"Mom, bolehkah aku lihat adik kecil? Tapi bisakah Mom menggendongku? Aku tidak sampai.", pinta Sebastian.

"Oke, Mom akan menggendongmu, sayang. Tapi berjanji pada Mom, kau tidak akan mengganggunya, karena dia sedang tidur.", Mia menempelkan telunjuknya di bibir kecil Sebastian. Sebastian mengangguk.

Mia menggendong putranya lalu berjalan ke dekat Angelina, dan mendekati box biru dekat kasur Rachel. Angelina telah memindahkan keponakannya di dalam box bayi.

"Wah, dia lucu sekali. Sangat mirip dengan Paman Vincent tapi juga Bibi Rachel, Mom!", puji Sebastian.

"Siapa namanya, Bibi Rachel?", tanya Sebastian.

"Dia Alice Mary Phantomhive, Sebastian.", jawab sebuah suara berat. Suara merdu yang berat tersebut berasal dari seorang laki – laki yang memasuki kamar Rachel, Vincent. Dia bersama Victor yang tersenyum lembut kearah Sebastian.

"Wow, nama yang indah!", puji Mia. Angelina terkekeh setuju.

"Nama yang sangat cocok untuknya, kau darimana, sayang?", tanya Rachel.

"Aku dari perpustakaan rumah sakit untuk mencari buku nama!", Vincent merogoh saku mantelnya dan membuka buku kecil panduan memberi nama. "Hm, lihat ini, sayang! Alice, aku mengambilnya karena putri kita sangat kecil dan dia sangat 'ciel' dan Alice itu sangat mendekati keindahannya. Mary, itu seperti nam yang cocok untuk bayi kecil yang terhormat ini, aku harap dia akan menjadi wanita terhormat.", jelas Vincent. "Bagaimana?",tanya Vincent.

"Oh, aku tidak akan berkata apa – apa, nama itu sangat indah. Aku menyukainya. Jadi, nama panggilannya adalah Ciel, karena dia seperti 'ciel'.", jawab Rachel.

"Jelas sekali itu cocok dengannya, Rachel.", puji Mia. Victor mengangguk setuju dengan Mia. "Langit keluarga Phantohive.", ujar Victor.

"Ciel ku yang manis!", ujar Ann dengan nada. Semua orang tertawa bahagia. Bayi yang menjadi pusat perhatian itu tetap terlelap. Sebastian yang masih digendongan Mia terus menatap Ciel dengan takjub.

"Ciel, kau memang 'ciel'.", gumam Sebastian.

To be continue...

Terima kasih telah membaca FF saya.

Maaf banget saya tidak bisa secepatnya update. Karena saya tidak bisa melepaskan kewajiban sekolah. Sedangkan tahun depan saya harus sudah UN. Semoga saya berhasil, Amin.

The biggest appreciation for Allah SWT who has given the most gracious gift to me.

And for the readers! Please for the review! ^^

Your soul is precious to me.