A/N: Ga nyangka ternyata banyak yg suka padahal OOC. Haha. Makasih yang udah review. Seperti yang sudah dijanjikan, inilah chapter 2 dari fic Cerita Di Balik Cerita. Silahkan dibaca. Warning: AU tapi canon, canon tapi AU (?). OOC, karena emang sengaja dibikin OOC. Spoiler for manga 558,559,573.
Cerita Di Balik Cerita
Naruto © Masashi Kishimoto
Waktu terus berjalan dan tanpa terasa anime sudah sampai di season invasi Pain. Sutradara mengerahkan segala kemampuannya dalam bidang film di season ini. Ia harus memutar otak untuk membuat adegan penghancuran Konoha oleh Pain. Awalnya ia berpikir untuk membuat adegan ledakan dengan special effect di komputer. Tapi ia merasa itu kurang dramatis, akhirnya ia menyewa lahan kosong di tengah hutan untuk dijadikan desa Konoha tiruan. Kemudian ia akan menghancurkan bangunan-bangunan di sana dengan menggunakan dinamit saat adegan penghancuran. Beruntung sang produser tak banyak protes dan memberinya dana besar, tentunya produser juga ingin anime ini sukses.
Hasil akhirnya sangat memuaskan. Adegan penghancuran itu sukses, sangat dramatis!
Kalau dihitung, season invasi Pain sudah berjalan 3 bulan. Kini cerita anime sudah mencapai episode 166 dan pertarungan sudah mencapai puncaknya. Tokoh utama sudah tertangkap Pain dan ditahan di tanah dengan besi chakra menancap di sekujur tubuhnya. Sekaranglah saatnya adegan yang sangat ditunggu Naruto, sesuai dengan judul episode ini, Confessions.
Sebaliknya, Hinata justru benci adegan ini. Ia harus berakting mengungkapkan cintanya kepada Naruto. Pasti Naruto akan menggodanya lagi. Hinata tidak mau adegan ini gagal, semakin sering ia gagal, semakin sering pula Naruto menggodanya. Akhirnya Hinata meminta Sakura untuk mengajarinya karena menurutnya, dialog di bagian ini agak sulit.
"Ya, dialog di bagian ini memang agak berbeda dengan dialog-dialogmu sebelumnya," ujar Sakura saat membaca dialog Hinata. "Kita tahu dalam anime ini tokoh perempuan yang kau perankan itu pemalu dan lemah lembut. Tapi khusus dalam adegan ini kondisinya sedikit berbeda. Dalam adegan ini kau menyelamatkan tokoh utama dan menghadang Pain, jadi kau harus bisa mengucapkan dialogmu dengan tegas. Tegas di sini bukan berarti keras dan berteriak. Tapi tegas yang masih dalam batasan sifat lemah lembut yang dimiliki sang karakter. Kau mengerti?"
Hinata mengangguk mengerti.
"Sekarang coba praktekkan, aku ingin dengar."
Setelah itu Hinata mengucapkan dialognya hingga ke bagian terakhir. "… Karena aku mencintaimu."
Baru saja Sakura akan menilai dialog Hinata, seseorang menyahut di belakang.
"Aku juga mencintaimu Hinata-chaaan!"
Hinata terlonjak dan menoleh ke belakang tapi tidak melihat siapa-siapa. Sebenarnya tanpa melihat pun Hinata sudah tahu siapa orang tersebut. 'Pasti dia bersembunyi!' batin Hinata.
"Sakura, aku ke belakang dulu ya? Aku ingin memberi pelajaran orang yang barusan mengganggu latihan kita."
Sakura langsung terkikik. "Silahkan Hinata."
Beberapa menit kemudian Naruto tampak berjalan sambil mengusap-usap kepalanya, sesekali ia mengaduh kesakitan. Tadi Hinata sudah menghadiahinya sebuah jitakkan.
"Kau kenapa Naruto?" tanya Lee yang heran dengan keadaan Naruto.
"Ah, pasti gara-gara Hinata," ledek Kiba.
"Hahahaha." Semua yang ada di sana langsung tertawa terbahak-bahak, termasuk Sasuke, Gaara dan Shino, momen yang jarang kalian dapatkan di manga dan anime. Naruto mendengus kesal.
"Kau juga yang salah Naruto," ujar Sasuke. "Sudahlah, jangan terus menggodanya, biarkan dia berlatih dialog. Lebih baik bergabung bersama kami."
Naruto mengamati teman-teman seprofesinya itu, ternyata hampir semua berkumpul di sana. Tidak mengherankan sebenarnya, karena sekarang waktunya istirahat. Sutradara sedang mengecek lokasi untuk adegan selanjutnya, jadi kegiatan shooting belum dimulai.
Setelah Naruto mendekat, Naruto langsung kaget melihat pemandangan dihadapannya. Di sana ada billiard, TV layar lebar, game console dan setumpuk cemilan. "Wow, siapa yang membawa semua ini ke tempat shooting?"
"Dia." Semua orang menunjuk sosok berambut orange rancung yang memakai jaket Akatsuki, pemeran Pain Tendo yaitu Yahiko.
"Season invasi Pain masih panjang Naruto. Ini hutan, tidak ada hiburan sama sekali, jadi aku membawa semua ini agar kita tidak bosan di lokasi shooting," kata Yahiko sambil nyengir.
"Whoaa, kau memang gokil!" seru Naruto semangat, ia beradu tinju pelan dengan Yahiko kemudian bergabung dengan yang lain, bersenang-senang.
Sutradara sudah memastikan kalau lokasi pengambilan gambar sudah cocok. Semua kru sudah bersiap-siap dan sekarang saatnya adegan pernyataan cinta tokoh perempuan kepada tokoh utama.
Adegan dimulai saat Naruto telungkup di tanah dengan besi tiruan tertancap di sekujur tubuhnya. Saat Pain akan membawa Naruto, Hinata melompat dan mencoba mencegah Pain.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya!" seru Hinata. Sakura tersenyum di tempatnya, Hinata mengucapkan dialog dengan intonasi yang tepat, sesuai dengan yang diajarkannya.
Naruto terkejut melihat Hinata datang menyelamatkannya. "Kenapa kau kemari? Cepat lari! Dia terlalu kuat untuk-" Kata-kata Naruto langsung dipotong oleh dialog Hinata selanjutnya.
"Tidak. Aku tahu aku hanya sedang egois."
"Apa yang kau katakan?" tanya Naruto. "Di sini sangat berbahaya!"
Jeda sejenak. Hinata meneguhkan hatinya, ia pasti bisa mengucapkan dialog selanjutnya dengan lancar. Lagipula sekarang ia tidak bertatapan langsung dengan Naruto, kalaupun Naruto mengatakan atau berbisik 'aku juga mencintaimu' sesaat setelah Hinata menyelesaikan dialognya (sesuai janjinya dulu), konsentrasi Hinata tidak akan terganggu.
"Aku di sini karena keinginanku sendiri. Selama ini aku selalu menangis dan menyerah. Aku hampir menuju ke arah yang salah. Tapi kau menunjukkanku arah yang benar. Aku selalu mengejarmu dan berusaha menyusulmu. Aku ingin bersama denganmu. Kau mengubahku, senyumanmu menyelamatkanku."
Rentetan kalimat yang diucapkan Hinata mulai melembut. Naruto terkesima, kagum dengan penjiwaan Hinata di bagian ini.
Hinata melanjutkan dialognya. "Jadi aku tak takut mati untuk melindungimu. Karena… aku mencintaimu," kata Hinata, mengakhiri dialog panjangnya. Tak lupa setelah itu ia memasang kuda-kuda, bersiap menyerang Pain.
Hening.
Di luar dugaan, Naruto tidak membalas apa-apa. Hinata pastikan kalau dirinya memang tidak mendengar bisikan Naruto. Sekarang Hinata malah merasa aneh. Tunggu dulu! Seharusnya Hinata bersyukur Naruto tidak mengganggunya, kenapa sekarang ia jadi terkesan mengharapkan Naruto untuk membalas dialognya?
"CUUUTT! Bagus Hinata! Istirahat 15 menit dan bersiap untuk adegan pertarunganmu dengan Pain."
Teriakan sutradara menyadarkan Hinata dari pemikirannya. Ia mencoba menghilangkan pikiran-pikiran aneh itu dari kepalanya.
Hinata duduk di sebuah balok kayu. Tapi ternyata seberapa kuatpun Hinata mencoba melupakannya, pemikiran tentang Naruto terus saja muncul di kepalanya. Kenapa Naruto tidak membalas dialognya seperti yang direncanakan? Bukankah Naruto sangat menunggu-nunggu momen itu?
"Aku juga mencintaimu."
Tubuh Hinata serasa membeku saat sebuah suara lembut berbisik di telinganya.
Hinata menoleh, di sampingnya ada Naruto yang sedang tersenyum. Kemudian Naruto duduk di samping Hinata.
"Kenapa melamun? Memikirkanku?" tanya Naruto dengan percaya diri.
Hinata kaget, lagi-lagi Naruto berhasil membaca pikirannya. Tapi ia tak mungkin mengakui itu di depan Naruto. "Bukan urusanmu!" jawab Hinata ketus.
"Hahaha. Ini, minumlah." Naruto memberikan sekaleng softdrink dingin kepada Hinata.
Dalam keadaan normal, biasanya Hinata akan menolak pemberian Naruto atau kemungkinan kedua adalah Hinata menerima minuman yang ditawarkan Naruto kemudian langsung mengusirnya. Tapi kali ini berbeda, Hinata membiarkan Naruto duduk di sampingnya. Ada pertanyaan yang sebenarnya ingin Hinata tanyakan.
"Naruto."
"Hmm?"
"Umm.." Hinata berpikir sejenak. Sebenarnya ia malu akan menanyakan hal ini, tapi di sisi lain ia juga penasaran. "Kenapa kau… kenapa kau tidak membalas dialogku tadi? Bukankah awalnya kau merencanakan akan membalasnya?" tanya Hinata.
"Aku takut kau kehilangan konsentrasi. Aktingmu tadi bagus sekali, aku tak mau kau harus mengulang adegan itu," jawab Naruto serius. Tiba-tiba Naruto menyadari sesuatu. "Hei tunggu dulu, jangan-jangan tadi kau mengharapkanku membalas dialogmu ya?"
Oh sial! Hinata tidak memperhitungkan kalau Naruto akan membalasnya dengan kalimat itu. Hinata juga baru sadar betapa memalukannya pertanyaan yang diajukannya tadi. Sekarang Hinata semakin terlihat kalau ia mengharapkan Naruto membalas dialognya.
"Ti-tidak!" jawab Hinata kelabakan.
"Jangan bohong Hinata-chan," goda Naruto. Kalau sudah seperti ini, pasti akan terjadi perdebatan panjang antara mereka berdua.
"Aku tidak bohong!"
"Ayolah, akui saja."
"Tidak!"
"Akui saja, jangan malu-malu, hehe."
"TIDAK!"
Setelah season invasi Pain berakhir, manga berlanjut ke season pertemuan lima Kage dan perang dunia ninja ke-4. Di sana cerita semakin seru karena konflik semakin meruncing. Semua negara ninja terlibat perang melawan Tobi, Kabuto dan pasukannya.
Rating manga ini semakin melesat naik. Sutradara bertekad membuat anime yang digarapnya mengikuti jejak kesuksesan manga-nya, bahkan kalau bisa lebih sukses. Ia kembali menyiapkan lokasi khusus untuk medan perang dari jauh-jauh hari.
Semangat sang sutradara ini berbanding terbalik dengan mood Naruto. Naruto malah bosan karena Hinata jarang datang ke lokasi shooting. Masalahnya adegan yang menceritakan Hinata memang sedikit. Maklum saja, sekarang cerita sudah fokus ke perang. Padahal Naruto berharap bisa satu adegan lagi dengan Hinata.
Namun tak disangka, Masashi Kishimoto kembali memberikan kejutan di tengah season perang dunia ninja. Ia seperti mendengar doa Naruto. Di manga chapter 558-559 ada adegan dimana tokoh utama yang saat itu sudah dalam mode Kyuubi datang menyelamatkan tokoh perempuan yang diperankan Hinata. Saat itu tokoh perempuan sedang terdesak dan dikepung musuh.
"Maaf aku terlambat," kata Naruto saat menangkis serangan lawan.
Para kru yang melihat Naruto pasti mengira kalau senyum yang saat ini diperlihatkan Naruto adalah akting. Padahal itu adalah senyuman tulus Naruto. Posisinya yang melindungi Hinata seperti sekarang membuatnya senang, ia jadi merasa seperti melindungi Hinata sungguhan, bukan akting.
"Sekarang semuanya baik-baik saja," lanjut Naruto tanpa melepas senyumannya.
Adegan selanjutnya Naruto malah dicurigai Neji sebagai Zetsu putih yang menyamar. Di sinilah bagian dialog Hinata, Hinata di sini membela Naruto.
"Dia bukan Zetsu. Kau bisa melihat dari matanya. Selain itu dia datang menyelamatkan kita." Hinata beralih ke Naruto. "Maaf, semua orang mencurigaimu."
Naruto menggeleng. "Tidak apa-apa. Sekarang kita tidak bisa bertahan di sini terus. Aku akan mencari Zetsu putih lainnya, ayo kita pergi bersama."
Hinata menunduk. Di bagian ini diceritakan tokoh perempuan bicara dalam hati. Ia merasa lemah dan kecewa pada dirinya sendiri. Ia ingin melindungi tokoh utama tapi akhirnya malah selalu dirinya yang dilindungi.
"Jangan khawatir. Lagipula kita belum impas, aku baru menyelamatkanmu sekali, padahal kau sudah menyelamatkanku dua kali," ujar Naruto.
Hinata tersenyum dalam hati. Ironis sekali, tokoh utama yang diperankan Naruto pun diceritakan bisa menebak isi hati tokoh perempuan. Persis seperti Naruto yang seringkali bisa menebak isi hatinya.
"A-aku tidak mengkhawatirkan itu," kata Hinata.
"Itu terlihat jelas di matamu. Jangan merasa dirimu lemah. Kau kuat," kata Naruto sambil tersenyum.
Senyuman itu. Senyuman Naruto terlihat begitu tulus di mata Hinata. Apa benar Naruto sedang berakting? Hinata jadi merasa aneh. Adegan-adegan dan dialog-dialog yang dilakukan Naruto seperti mengandung makna lain. Coba saja lihat dialog Naruto barusan.
'Itu terlihat jelas di matamu'.
Apa mungkin untuk menebak isi hati Hinata selama ini, Naruto juga melakukan hal yang sama dengan tokoh utama? Yaitu melihat mata Hinata? Entahlah.
Tanpa Hinata sadari, pipinya memerah sendiri, rona merah itu muncul begitu saja tanpa Hinata kontrol. Ini benar-benar memusingkan, Hinata merasa tidak sedang berakting.
"Ayo!" ajak Naruto.
Hinata tersadar dan melanjutkan dialog yang harus diucapkannya. "Baik."
"CUT!"
Adegan berakhir. Orang lain mungkin mengira Naruto dan Hinata sedang berakting, padahal dalam hati mereka, mereka merasa sedang tidak berakting. Ekspresi dan dialog terasa mengalir begitu saja.
Mungkinkah ini chemistry antara mereka berdua?
Kehadiran Hinata hanya 2 chapter manga dan dibuat jadi 1 episode saja di anime-nya. Naruto harus kembali kecewa karena setelah itu tidak ada lagi adegan dirinya dan Hinata. Tiga bulan kemudian, barulah ada adegan Hinata lagi, tepatnya di chapter 573. Di sana Hinata tidak bicara, ia diceritakan bicara dalam hati sehingga dialog dan aktingnya dilakukan di waktu yang berbeda.
Meski ini hanya adegan Hinata sendiri, tapi Naruto tetap bersyukur karena minimal Hinata datang ke tempat shooting. Chapter 573 menceritakan tokoh utama sedang mati-matian melawan Tobi (yang identitas aslinya belum diketahui). Semua teman-temannya diperintahkan untuk membantu, termasuk tokoh yang diperankan Hinata. Di saat berlari untuk mencapai tempat tokoh utama berada, tokoh perempuan tersebut berbicara dalam hati.
Untuk akting berlari, Hinata sudah selesai melakukannya. Kini tinggal ia mengisi suara untuk adegan itu. Diam-diam Naruto memperhatikan Hinata yang sedang mengisi suara.
"Aku selalu… selalu mengejarmu, bahkan hingga sekarang. Tapi saat perang ini berakhir aku akan menghentikannya. Selanjutnya aku akan berada di sampingmu, menggenggam tanganmu. Berjalan bersamamu. Tunggu aku."
"Terlalu cepat Hinata," kata sutradara. "Cobalah lebih lambat sedikit."
Naruto tertawa sendiri. Andai saja dalam kenyataan Hinata juga mengucapkan kalimat itu kepadanya. Ah, Naruto terlalu banyak berharap. Tanpa Naruto ketahui, seseorang sudah memperhatikannya lumayan lama. Sosok itu kemudian mendekati Naruto, menggeser kursi dan duduk di samping Naruto.
"Tobi? Aku kira siapa," ujar Naruto saat menyadari seseorang duduk di dekatnya.
Tobi melepas topengnya dan menghela nafas panjang. Kemudian ia ikut memperhatikan Hinata. "Aku merasa Masashi Kishimoto memang ingin membuat kedua tokoh ini bersama. Apa kau juga berpikir seperti itu Naruto?"
Naruto terkekeh. "Tidak tahu, tapi kuharap kau benar."
Setelah shooting selesai, Naruto tidak mau begitu saja pulang dan berpisah dengan Hinata. Ia masih ingin menghabiskan waktu dengan Hinata. Ia putuskan untuk mengajak Hinata pergi ke suatu tempat. Ia belum menentukan tempatnya, yang terpenting Hinata mau dulu diajak olehnya.
"Hinata, apa kau ada acara setelah ini?" tanya Naruto penuh harap.
"Memangnya kenapa?" Hinata balik bertanya tanpa menoleh ke arah Naruto. Ia sibuk untuk bersiap-siap pulang. Saat beres-beres, tiba-tiba dua buah kertas warna kuning jatuh dari atas meja.
"Hei apa itu?" tanya Naruto penasaran.
Hinata mengambil kedua kertas itu. "Ini tiket nonton konser Ikimono Gakari. Sakura memberikan dua-duanya padaku. Tadinya ia dan Ino mau nonton tapi ia lupa kalau ada shooting iklan, sedangkan Ino ada keperluan lain yang mendadak."
Naruto hanya ber-oh ria.
"Aku tidak ada teman. Mau menemaniku?" tanya Hinata refleks.
Hinata sendiri tak percaya dirinya tiba-tiba mengajak Naruto. Ternyata tanpa Hinata sadari, jarangnya jadwal shooting-nya dan berkurangnya intensitas pertemuan mereka akhir-akhir ini, membuat Hinata merasa ada yang hilang saat Naruto tidak ada disampingnya. Ia merindukan ocehan-ocehan konyol Naruto yang selalu menggodanya. Hanya saja sifat keras kepala Hinata menolak untuk mengakui itu semua.
Mendengar Hinata mengajaknya pergi, tentu saja Naruto tidak menolak. "Mau! Ayo pergi!" seru Naruto bersemangat.
"Tunggu, apa kau mau pergi dengan tiga pasang coretan yang mirip kumis kucing itu?" tanya Hinata, jari telunjuknya menunjuk pipi Naruto. "Bersihkan dulu wajahmu!"
"Maaf, aku terlalu bersemangat, haha. Tapi bukankah ini keren ya?" Naruto memasang pose yang (menurutnya) cool.
"Tidak! Cepat bersihkan itu!"
Konser berlangsung seru, Naruto baru tahu ternyata Hinata sangat menyukai band yang beberapa lagunya sempat menjadi opening dan ending anime mereka itu. Mungkin ini juga yang menjadi salah satu alasan ia mengajak Naruto, pasti Hinata ingin nonton tapi tak ada yang bisa diajak menemani. Di beberapa lagu Naruto sempat mendengar Hinata ikut bernyanyi, termasuk di lagu Blue Bird, Hanabi dan Sakura. Sekarang Naruto mengakui kalau suara Hinata lumayan bagus.
Saat acara berakhir dan penonton membubarkan diri, Naruto dan Hinata dikagetkan oleh teriakan seorang remaja perempuan.
"Itu Naruto-kun dan Hinata-chan!"
Beberapa saat kemudian sekitar 15 orang langsung mengkerubuti Naruto dan Hinata.
"Boleh aku minta tanda tangan dan foto bersama?" tanya salah satu dari mereka. Naruto langsung tahu kalau mereka penggemar dirinya dan Hinata. Ia lupa kalau sekarang anime yang dibintanginya sudah sukses dan masuk di jajaran anime dengan rating terbesar.
"Boleh," kata Naruto ramah. Sedangkan Hinata diam saja, mungkin ini hal yang baru bagi Hinata, jadi ia sedikit canggung.
Semua penggemar mereka meminta tanda tangan dan mengambil foto secara bergantian. Di akhir sesi foto, penggemar yang memakai t-shirt bertuliskan NHL Forever, meminta pose foto yang agak berbeda.
"Sekarang aku minta foto kalian berdua, hanya berdua. Bisakah kalian merapat dan berpegangan tangan?" tanyanya.
Naruto mengerutkan keningnya. Sedangkan Hinata sudah bersiap-siap menjauh.
"Aku mohon. Aku NaruHina lover," kata penggemar tersebut sambil menunjuk t-shirt-nya. "Aku sangat mengharapkan pose kalian sedang berpegangan tangan."
Naruto dan Hinata beradu tatapan. Saat itu juga Hinata langsung menggelengkan kepalanya, menolak. Tapi Naruto berusaha membujuknya. "Tidak apa-apa Hinata."
"Tapi-"
"Ini demi penggemar. Karena merekalah kita ada, karena mereka juga kita jadi terkenal."
Hinata berpikir sejenak. Kata-kata Naruto ada benarnya. Yah, maklum saja, Hinata memang tidak biasa dikerubuti penggemar seperti ini. Jadi ia tak tahu pentingnya penggemar bagi dirinya. Akhirnya Hinata mengangguk setuju.
Senyum Naruto melebar. Ia meraih tangan kiri Hinata dengan tangan kanannya, menyelipkan jemarinya di jari-jari lentik Hinata dan merapatkan badannya dengan badan Hinata.
Penggemar lalu mengambil foto Naruto dan Hinata beberapa kali. Setelah itu ia dan penggemar lainnya berterima kasih dan mohon diri.
Naruto melirik tangannya yang masih menggenggam tangan Hinata. Ia ingat kata-kata Hinata di shooting tadi siang.
'Aku akan berada di sampingmu, menggenggam tanganmu. Berjalan bersamamu.'
Naruto sadar, dalam kenyataan Hinata tidak akan mungkin mengucapkan kalimat itu meski Naruto sangat mengharapkannya. Tapi paling tidak, malam ini ia ingin menggenggam tangan Hinata dan berjalan di sampingnya. Naruto yang awalnya akan melepas genggaman tangannya akhirnya mengurungkan niatnya. Ia malah melanjutkan perjalanan pulang mereka dengan tangan yang masih bertautan. Hal ini langsung disadari Hinata.
"Bukankah acara fotonya selesai? Kenapa masih memegang tanganku?" tanya Hinata.
"Aku takut kau tersesat," canda Naruto.
"Baka, aku bukan murid taman kanak-kanak!"
"Hahaha."
Hinata mendengus kesal, ia berusaha melepas pegangan tangan Naruto tapi Naruto memegang tangannya erat. Akhirnya ia pun pasrah. Lama-kelamaan, hati kecil Hinata justru merasakan kalau dirinya nyaman dengan posisi mereka. Hinata merasa terlindungi.
Tangan Hinata yang awalnya tegang karena meronta-ronta, kini berubah rileks. Naruto merasakan perubahan ini dan hanya tersenyum simpul.
Alur cerita manga karya Masashi Kishimoto nampaknya sudah mencapai akhir. Di akhir perang dunia ninja diketahui kalau ternyata Tobi adalah Sage of The Six Paths, sang pencipta dunia ninja. Sage of The Six Paths ingin memusnahkan semua orang di dunia karena merasa kalau dunia ninja sudah kacau, perang dimana-mana, tidak seperti dulu. Ia beranggapan dengan memusnahkan semua umat manusia, ia bisa membuat dunia baru yang penuh kedamaian. Tapi menurut sang tokoh utama itu cara yang salah, sekarang dunia ninja sudah damai, kelima negara sudah bersatu. Perdamaian bisa terus terpelihara jika kelima negara saling menghargai satu sama lain. Akhirnya Sage of The Six Paths menyadari kesalahannya, meski ia terlambat. Ia sekarat dan sesaat sebelum ia mati, ia mempercayakan perdamaian dunia ninja kepada sang tokoh utama.
Pertarungan hebat lainnya terjadi setelah itu. Yaitu antara tokoh utama dan tokoh yang diperankan Sasuke. Memang benar, Itachi sudah menjelaskan semua masalah yang berkaitan dengan pembantaian Uchiha. Ia juga menyuruh Sasuke untuk mengurungkan niatnya menghancurkan Konoha. Dengan berat hati Sasuke menuruti kakaknya, namun Sasuke tetap berambisi untuk bertarung dengan tokoh utama.
Pertarungan berlangsung seru, jauh lebih seru dibanding pertarungan mereka di air terjun kematian 3 tahun lalu. Mereka saling mengeluarkan jurus andalan mereka. Dari pertarungan yang panjang, diketahui kalau mereka imbang. Saat mereka merasa mencapai limit kekuatan, tokoh utama dan Sasuke menyerang dengan jurus andalan mereka, Rasengan dan Chidori.
Rasengan dan Chidori beradu dan menciptakan ledakan besar.
"HEBAAAT!" teriak Sasuke di saat semua orang asik membaca manga chapter terakhir.
"Diamlah Sasuke!" kata Naruto yang berada di sampingnya.
Saat itu semua artis dan kru sedang melihat chapter terakhir dari manga Masashi Kishimoto dalam sebuah monitor besar. Mereka sudah selesai shooting, tapi sutradara mendapat telpon dari Masashi Kishimoto kalau manga terakhir sudah release. Karena saking penasarannya, akhirnya semua yang di sana sepakat untuk membaca manga itu bersama-sama dalam sebuah monitor besar di tempat shooting.
Dan akhirnya kehebohan lah yang terjadi. Apalagi manga chapter terakhir ini spesial dengan 35 halaman.
"Apa kau tidak melihat pertarungan kedua tokoh itu yang begitu hebat? Kita akan shooting adegan hebat itu Naruto, aku tidak sabar!" kata Sasuke bersemangat.
"Aku tahu, tapi aku penasaran. Cepat buka halaman selanjutnya!" bentak Naruto, yang lain mengangguk setuju.
Adegan di halaman selanjutnya memperlihatkan kedua tokoh terkapar di tanah. Berbeda dengan dulu, kini tokoh yang diperankan Sasuke tersenyum dan mengulurkan tangannya, membantu tokoh utama untuk berdiri. Tokoh berambut raven itu juga menuntunnya menemui ninja medis. Ia bilang kalau kekuatan mereka memang seimbang dan saat itu sang pemuda raven mengakui kalau mereka adalah sahabat. Tokoh utama terharu dan mengajak sahabatnya untuk pulang ke Konoha. Tapi sahabatnya menolak, ia lebih memilih untuk berkeliling dunia bersama timnya, tim Hebi. Tapi ia berjanji sesekali akan mengunjungi Konoha.
Selanjutnya diceritakan tokoh utama diangkat jadi Hokage ke-6. Sahabatnya yang berambut raven hadir di sana menyaksikan pelantikannya, sebelum akhirnya pamit untuk berkeliling dunia sesuai rencananya.
Semua yang membaca terharu melihat betapa kentalnya nilai-nilai persahabatan yang terkandung dalam manga ini.
Sasuke menekan tombol next untuk melihat halaman selanjutnya. Lembar selanjutnya adalah…
"Wow!"
Itulah reaksi semua yang hadir di sana saat melihat halaman tersebut. Di sana terpampang satu halaman penuh gambar tokoh utama dan tokoh perempuan yang sedang berciuman.
Semua orang langsung menatap Naruto dan Hinata untuk melihat reaksi mereka. Naruto terlihat tersenyum senang sedangkan Hinata kaget.
"Kurasa di anime kalian juga harus melakukannya," kata sutradara.
Mata Hinata langsung membulat.
Adengan ciuman langsung terbayang dalam otak Hinata. Dirinya berciuman dengan Naruto? Yang benar saja!
To Be Continue…
A/N: Ternyata TBC lagi. Haha. Ada beberapa perubahan cerita, jadi jumlah katanya makin bengkak. Saya putuskan untuk motong setengah cerita dan disimpan di chap 3 biar ga terlalu panjang. Tapi jangan khawatir, chapter 3 di publish hari ini juga. Sampai chap 2 ini gimana menurut kalian? Baguskah? Review lagi ok.
Buat kurirana: NHFD itu setiap tanggal 10 April, tapi setelah saya liat event tahun ini, ternyata untuk perayaannya berbeda tiap tahunnya. Yang jelas sih sekitar tanggal 10.
Arigatou
-rifuki-
