If You Know Why
06110527
[ChanBaek, YeolBaek]
-Nopsbrna-
EXO
• • •
"Jadi, kau ini siapa?"
"Haruskah aku menjelaskannya lagi?" baekhyun bertanya dengan nada tidak suka. ingin tahu sekali.
"Bukan namamu!" Jawab Chanyeol dengan suara kesalnya.
"lalu?" Baekhyun menatap pria jangkung didepannya dengan tatapan menyebalkan khasnya, dia mengambil coklat panas yang berada digelas putih kecil, lalu menyeruputnya sambil matanya melirik Chanyeol dengan pandangan yang -masih- terlihat menyebalkan.
Pria jangkung tadi menghela napas, menatap anak anjing didepannya dengan tatapan ingin membunuh, namun dia mengkesampingkan niat membunuhnya, "kenapa kau datang kerumahku, dan dengan alasan rindu dengan rumah pohon." balas Chanyeol sambil menekan kata 'rindu dengan rumah pohon' yang jelas-jelas terlihat mengejek dimata Baekhyun.
"aku memang merindukan itu, ini rumah lamaku! jadi bebas ketika aku merindukan bagian dari rumah ini!" tukas Baekhyun, dirinya semakin tersulut emosi ketika pria jangkung tadi menjawabnya dengan seringai dibibir tebalnya. "tapi rumah barumu sudah dibeli Baekhyuniee."
Anggaplah Baekhyun anak tidak sopan sejagat raya, karna kali ini dia mengambil majalah dibawah meja dan melemparnya ke kepala sang 'pemilik rumah' tanpa ampun dan sangat keras.
Sedangkan yang dipukul meringis kesakitan dan menatap manusia mungil dihadapannya, "Kau sangat kasar dalam ukuran anak bayi."
Baekhyun melotot mendengar pengakuan sang pemilik rumah, baru saja ia ingin memukul orang didepannya dengan majalah, sebuah tangan menghalanginya, memegang tangannya sehingga tergantung diudara.
"Kalian berisik!"
Tolong ingatkan Baekhyun untuk menutup mulutnya saat ini, hei bahkan liur nya hampir menetes *ewh.
"Kau berbicara seperti itu, seolah kau pemilik rumah, tuan Kris Wu."
Kris mematung, menatap pintu berdaun dua didepannya dengan pandangan datar, "ya aku hanya anak angkat!" lalu setelahnya keluar rumah dengan berjalan kaki dan meninggalkan raut bingung dari Baekhyun.
"Dia kena-"
"-jangan mengalihkan omonganku, Byun!"
Rasanya jika dia tidak memiliki sopan santun, Baekhyun ingin menghampiri lelaki bertubuh besar dan bertelinga lebar itu, lalu menendang tulang keringnya dengan kemampuan hapkido yang dimilikinya. Namun sayang seribu sayang, baekhyun masih memiliki hati nurani dan sopan santun untuk menghargai tuan rumah ini.
"Aku hanya ingin bermain, ayolah aku merindukan ini!"
Park Chanyeol menatapnya tajam, hidungnya mengkerut lucu lantaran tidak mendapat kepuasan dari jawaban dari yang lebih kecil. "Dimana rumahmu?"
Wajahnya menegang, tubuhnya kaku seolah Tuhan menghentikan hidupnya untuk beberapa saat, ketika chanyeol dengan entengnya menanyakan rumahnya.
"Apakah aku yakin untuk bercerita dengan-mu Chanyeol-ssi?"
Merasa diberikan keraguan, Chanyeol mendesis dan bergumam, setan kecil. Namun hanya gumaman. "Lagipula jika kau menceritakannya, aku tidak peduli, jadi lebih baik kau tidak usah menceritakan padaku. Itu hanya sia-sia."
"Aku di usir dari rumahku. Oleh ibu tiriku tepatnya."
Kali ini gantian, rongga kehidupan Chanyeol seperti berhenti, menatap si mungil dengan pandangan tak terbaca. "Jangan mengasihaniku!"
Alis mata Chanyeol naik, seolah bertanya 'kenapa?' dengan Baekhyun, "Jika kau mengasihaniku, aku merasa sebagai makhluk terlemah disini!"
Hampir saja Chanyeol terbahak dengan keras, jika saja sekarang dia tidak sedang -berusaha- bersikap cool, munafik sekali kau park!
"Kau berfikir seperti itu?"
"Hu'um..."
Entah Chanyeol menyukai dirinya saat menghela napas, katakan itu aneh karna lagi-lagi sekarang dirinya sedang menghela napas rendah, "Kau boleh tinggal disini, rumah ini sepenuhnya hak-ku. Eomma dan Appa ku jarang kesini. Maka dari itu, aku mengizinkanmu tinggal disini. Lagi pula tidak buruk untukmu, mengingat kau pernah tinggal dirumah ini."
Sebut saja Baekhyun gila karna dirinya sekarang sedang senyum, Chanyeol malah membayangkan senyum itu seperti senyum mengerikan yang sering berada difilm Zitao tonton.
"TERIMAKASIH CHANYEOL-AH!!!"
Beban berat sangat menggangu Chanyeol, namun tak dapat dipungkiri bahwa Chanyeol tersenyum menerima pelukan dari Byun, aroma strawberry begitu menguak mengobrak abrik indra penciumannya.
"tapi aku tidur dimana?"
"Dikamar sebelahku."
Baekhyun melongo, merasa speechless. Pertama, karna kamar sebelah Chanyeol adalah kamar yang termasuk besar ukurannya. Kedua, warna kamar itu dominan bewarna Pink dan Ungu.. astaga.
"Kalau kau mau, kalau tidak kau bisa tidur di rumah pohonmu itu.." seringai chanyeol muncul, menampakkan lesung pipi yang dimilikinya. omong-omong.. Baekhyun masih ada dipangkuannya, sedang memeluknya, dan Chanyeol dengan posesif menahan pinggangnya.. Apakah itu terlihat seperti anak yang sedang jatuh cinta?
"Aniya! aku akan tidur dikamar itu. Walaupun kau kejam.."
Chanyeol menyeringai, mendorong baekhyun lembut guna menurunkan anak itu, "ada syaratnya, tidak semudah itu orang asing masuk ke rumahku. Mendapat kamar yang lumayan bagus pula."
Mata sipit itu membola, menatap Chanyeol tidak percaya, hei orang itu tidak ikhlas memberikan penginapan untuknya! "Layani aku, bukan tentang 'itu' tapi ya sebagaimana bibi Jung.. Namun pekerjaanmu tidak seberat pelayan lainnya."
Baekhyun bungkam. Andai dia tidak di usir, andai rumah kyungsoo besar, andai dia tidak kesini. astaga?!! "Baiklah."
"Sekarang kau boleh ke kamarmu yang manis itu Baekhyunie!" goda Chanyeol sambil menyeringai kala melihat baekhyun yang sangat sopan pergi dari hadapannya ke kamar barunya.
"Tapi chanyeol-ah!"
Langkah mungil itu terhenti, menarik perhatian pria jangkung yang masih terduduk di sofa. "Bagaimana dengan bajuku?"
Chanyeol menatapnya dalam, memikirkan bagaimana caranya, "Pakai dulu baju milikku. Baru setelahnya kau bersiap-siap untuk membeli baju."
Pria mungil itu lantas mengangguk. Melanjutkan langkahnya sambil memikirkan bahwa Chanyeol sangat baik padanya. Namun sebuah kalimat meluncur dari mulut seorang park chanyeol. sehingga membuatnya menyesali pujian tadi.
"Kau tetap seorang pelayan Baekhyunie!!"
ASTAGA...
*
"Baekhyun.. Kumohon.. Pulanglah.. Astaga! kenapa aku tidak mengetahui alamat rumah lamanya?!"
Jongin berdecak kesal menatap pintu rumah ibu tiri Baekhyun, sepertinya Baekhyun benar-benar pergi.. "Baekhyun.. Kumohon, kembalilah.. Aku menghawatirkanmu.."
"sebagai seorang hyungmu."
Kemana perginya anak itu, Jongin menunggu dibalik tembok gang depan rumah Baekhyun. Menatap miris pintu itu merasa gagal menjadi seorang kakak.. Dia sudah kalah, Kyungsoo tidak mau memberitahunya.
Perlahan Jongin mengambil Handphonenya, jarinya menari dengan lihai di atas layar benda berbentuk persegi panjang itu. Lalu meletakkan ditelinganya.
"Kyungsoo.. kumohon."
Disebrang sana, terdengar helaan napas Kyungsoo, tanpa Jongin sadari, Kyungsoo menangis semalaman. Menangisi hidup sahabatnya, dan menangisi kisah cintanya, terus.. Sampai dia terlalu berenang dikesedihan, sehingga dia melupakan kenyataan bahwa dia telah menyukai laki -laki yang sedang berbicara ditelpon dengannya.
Dengan berat hati, Kyungsoo mengambil secarik kertas di dinding kamarnya, menariknya dan menciptakan warna berbeda dari tembok lainnya karna solatip yang dia tempelkan.
Suaranya bergetar ketika memberitahukan alamat rumah Baekhyun. secepat itu pula Jongin menusuri alamat yang diberitahukan oleh kyungsoo.
Satu kata yang dapat mendeskripsikan semua yang ditatap Jongin. Luar Biasa.
Ditelusurinya semua bangunan yang ada dihadapannya rata-rata memiliki dua lantai. Yang tiga lantai hanya beberapa, dan itu memudahkannya. Karna kyungsoo bilang, rumahnya berlantai tiga.
Setiap papan yang ada didepan rumah, dia baca. Mencari nama blok dan nomer rumah.
Setengah jam berlalu, dirinya menghembuskan napas pasrah, dia merasa lelah. Terlalu banyak rumah disini. Sesungguhnya ini merepotkan!
"Baiklah.. Mungkin besok masih bisa.."
Baru saja dia ingin mengendarai si Nini -motor-kesayangannya, jika saja dia tidak meliat atensi baekhyun berjalan santai menuju sebuah toko kecil disana.
Secercah harapan muncul ke peradaban. Senyum Jongin sangat lebar, terlalu senang ketika melihat puppy kecilnya disana. Baru ingin menghampiri, lagi-lagi langkahnya terhenti kala melihat seorang pria menyusul pria mungil itu dan merangkulnya posesif.
"astaga, siapa dia?"
*
Baekhyun menggerutu kasar kala dirinya diperintahkan oleh pria bertelinga besar untuk membeli pranko ditoko dekat persimpangan. Dia menghembuskan napas kasar lalu memakai jaket hitam Chanyeol dan pergi ke Toko itu.
sesampainya ditoko buku dia mengucapkan apa yang diperintakan chanyeol, dasar manusia bossy!
Matanya menelusuri barang-baran yang terjual disana, lalu dia menengok ke seluruh persimpangan, sampai dia membeku ketika retinanya mendapatkan etensi pria yang sangat dibencinya.
Park Chanyeol.
"Kau membeli pranko sangat lama! Kau menggoda ibu ini dulu ya?!"
Si jangkung itu merangkul bahu Baekhyun, hei dia saja baru sampai, kenapa mahluk ini mengatakan sangat lama?
"Lepas jika kau masih menyayangi kakimu itu Chanyeol-ssi!"
Chanyeol terkekeh, entah kenapa dia sangat senang menggoda Baekhyun. padahal mereka baru bertemu kemarin, ya kemarin.
"Kau tak tahu diuntung yaa?"
Si Mungil berdecak malas, Pranko sudah ditangannya, dia segera memberikan itu pada Chanyeol yang sibuk menggodanya sejak tadi.
"Aku ingin pulang!"
Akhirnya mereka berjalan pulang dengan jalan kaki, ini sungguh melelahkan mengingat udara sangat terasa menyengat kulit. "Chanyeol-ah.."
Yang merasa terpanggil menoleh, menghadap pada anak serigala didepannya, Chanyeol terhipnotis (karna mata amber yang dimiliki simungil) tiba-tiba. Dia tidak menjawab panggilan Baekhyun, masih menatap si mungil dengan tatapan yang tidak dapat dibaca.
"YAK! PARK YODA!"
Dan saat itulah Chanyeol tersadar. "Kau baru saja mengumpat? Byun Baekhyun?"
Oh tidak. Baekhyun ingin menenggelamkan diri di kamar pink nya itu.
"Aku memanggilmu dan kau tidak menyautku!" Dirinya membela diri, menatap manapun asal tidak ke mata orang yang masih kesal dengan umpatannya tadi.
Pria Jangkung tadi terdiam, lalu melanjutkan langkahnya, meninggalkan yang lebih mungil dengan seribu tanda tanya di kepalanya.
"Kau baru saja menulikan telinga lebarmu itu tuan park!"
Anggaplah Baekhyun berani atau lebih tepatnya sok berani karna baru saja mengumpat digumamannya. Hei Chanyeol tidak tuli sehingga dia tidak mendengar itu, "diamlah!'
Baekhyun melirik Chanyeol dari ujung matanya, menatap bengis pada yang lebih tinggi. Melupakan bahwa dia tidur dirumah Chanyeol semalam.
Laki-laki mungil itu merasa ingin mengganggu yang lebih tinggi, entah kenapa, hey tidak salah kah? dulu dia juga suka mengganggu Kyungsoo dan Jongin kok.
Baekhyun tersenyum ketika sebuah ide licik melewati kepalanya, dia berjalan mensejajarkan langkahnya pada langkah lebar Chanyeol. Lalu dia membuka resleting Jakect milik Chanyeol yang dipakaikan ditubuh mungilnya.
Mengacak-acak rambutnya tak beraturan, sehingga rambut itu berada di atas bulu matanya, seperti poni. Menggigit bibirnya yang tipis, entah dia dapat ide darimana sehingga dia benar-benar menunjukkan seolah sedang hancur karna diperkosa oleh om-om belang. Astaga pikiranmu itu Byun!
Bibirnya merah merekah setelah dia menggigitnya, dia menyusul Chanyeol lagi dan menarik ujung jaket yang dikenakan Chanyeol. Menyebabkan Chanyeol menoleh, menatap tajam padanya, "daddy.."
Astaga. Aku tidak bertanggung jawab apa yang akan terjadi kedepannya Byun-ku. Chanyeol mengeram rendah didepannya. Merasa akan meledak saat itu juga ketika retinanya menatap bocah didepannya.
ㅇㅇㅇ
ㅠㅠㅠㅠ
YUHU GAES!
AYEM KAMBEKKKKK
Duh part duanya ada kesan manis-nya gak si. Ada melownya kah? ge bacanya sambil denger lagu don't go..
MAKASIH YANG UDAH MAU NGEREVIEW FF GE?!
terhura wew:') yauda Ge tidak mampu berkata-kata.. MAKASIH BUAT KALIAN YANG MAU MAMPIR DICERITA ABSURD NYA GE OKE?!
folow ge di @firelightbooo!!
Pai-Pai!
엑소
