"Eh, Taekwoon! Kamu kenapa ganti warna rambut? Emang boleh sama sekolah?"

Salah seorang teman sekelasku, Irene berteriak mewakili seluruh anak perempuan. Aku pun penasaran. Kenapa mendadak sekali! Kegantengannya yang semula— kuakui- hampir mencapai 80% sekarang naik jadi 1080% hanya karena warna rambut mirip kakek-kakek itu!

Taekwoon mengusap rambutnya dari depan dahi kearah belakang. SiaLaN. WOY JANTUNG, KENAPA SIH KAMU BEGINI. Aku reflek memegangi hidungku, takut mimisan lagi. Karena serius, badanku panas dingin tiap lihat dia, degdegan parah, persis seperti saat aku lihat Kai EXO menari dengan seksinya.

"Ada pemotretan nanti siang. Harus begini rambutnya. Terang banget ya?" Tanyanya serius. Jarang-jarang lihat Taekwoon serius seperti ini. Maksudku, memang raut wajah dia seserius itu setiap hari. Hanya saja, ia kali ini bertanya serius akan penampilannya.

"Bagus kok. Cocok denganmu." Aku mengiyakan jawaban Eunji.

"Ah, bagus deh. Soalnya sehabis ini aku tidak mau mewarnai rambutku jadi hitam lagi." Jawaban Taekwoon membuatku gigit jari khawatir. Jadi sampai empat bulan kedepan, aku harus sekelas dengan si rambut putih yang ganteng banget begini?

Astaga, Hakyeon, kamu kemana aja baru sadar kalau Taekwoon ini ganteng?

Aku benar-benar tidak tenang.

"Oh ya Hakyeon." APAAN. KOK TAEKWOON MENDADAK MANGGIL NAMAKU?! "Kumpulan soalnya sudah difoto kopi belum? Minggu depan kita TO. Sebaiknya belajar lewat soal-soal itu."

Oh. Benar. Aku kan sekretaris. Dan dia ketua kelas. Berarti selama periode fokus UN ini.. aku akan disibukkan dengan dia perihal foto kopi dan penyusunan jadwal pendalaman materi.

Sepertinya aku harus menyiapkan tisu setiap hari.

"Udah." Jawabku singkat.

Dari sudut mataku, Taekwoon terlihat hendak menghampiri mejaku. Tapi aku segera bangkit membawa seplastik fotokopian soal-soal latihan untuk try out. Aku tidak mau orang itu mendekatiku. Sungguh. tidak bisa.

"Sini aku bantuin bagi-bagiin."

"Tumben banget lo bantuin bagi-bagi. Biasanya juga paling males." Sindirku, sambil berusaha meredam gejolak jantungku yang mau melompat.

"Gapapa. Kapan lagi bisa bagi-bagiin ini bareng sama perempuan yang mimisan didepanku?"

"HALAAAAAH ALASAAN APAAAN." Pekikku kesal. Alasan bodoh. Gak logis. Tapi tanpa bilang apa-apa lagi, aku langsung menyerahkan setengah tumpukan fotokopian itu. "Mintain uang fotokopiannya sekalian. Uang kas kita bakal dipakai buat makan-makan." Ingatku pada Taekwoon yang kemudian mulai membagikan kumpulan kertas ke barisan kanan, sementara aku di barisan kiri.

Setelah mengikuti empat jam pelajaran pertama, aku langsung bergegas ke ruang konseling. Seharusnya sih ketua kelas yang datang. Tapi si Taekwoon sedang sibuk mengurus surat izin tidak masuknya untuk beberapa hari nanti. Kenapa tidak wakil ketua kelas saja? Karena tidak ada. Kepengurusan kelasku setelah ketua kelas langsung turun ke sekretaris dan bendahara.

Jadilah aku disini, menerima informasi dari guru konseling tentang penerimaan mahasiswa perguruan tinggi jalur undangan, sekolah kedinasan, dan program vokasi.

Tanpa mau sibuk berbicara didepan kelas, aku hanya mengetikkan informasi itu sejelas-jelas dan serinci-rinci yang aku bisa lalu mempostnya di notes grup kelas. Karena murid sekelasku itu saking sudah dekatnya jadi bebal. Mana mau dengar celotehan tentang begituan. Apalagi dari perempuan. Bisa diledek malah nantinya.

Aku mengambil binder dan membuka weekly plannerku. Aku berfikir untuk mengikuti semua jalur masuk perguruan tinggi karena aku ini super malas. Aku tidak mau sibuk belajar untuk mengikuti ujian tulis. Lebih baik aku ikut jalur-jalur begini deh, gak apa apa kalau dapat D3 juga.

Ketika aku mencatat, tiba-tiba sebuah tangan menjulur kehadapanku membawa roti dan susu. Aku menengok keatas dan hampir saja terjengkang kalau aku tidak menahan diri.

Itu Jung Taekwoon.

KENAPA TIBA-TIBA BAWAIN ROTI SAMA SUSU?!

"Jangan salah paham. Wongeun kelas ipa 4 yang nitip padaku."

"Oh." Aku mengangguk dan menerima roti+susu itu. "Terimakasih sudah mau repot."

"Kamu juga sering repot karena aku. Tidak masalah. Kita impas."

Oh, sadar juga dia kalau suka merepotkanku. Aku mengangguk saja, berusaha untuk tidak peduli dengan Taekwoon dan penampipan barunya, karena sumpah... Bener-bener kayak ngeliat artis.

Eh. Taekwoon memang artis deng.

Maksudku, kayak ngeliat idol yang suka nari seksi di panggung. Ya Tuhan aku gak kuat deket-deket sama ni orang!

"Sejak kapan kamu dekat dengan Wongeun?"

Lah, Taekwoon belum beranjak ternyata.

"Dari awal kelas dua belas." Jawabku. "Kenapa?" Tanpa menoleh.

Aku menunggu suara jawaban dari Taekwoon sambil menggambar di weekly plannerku. Tapi yang kudengar justru bunyi berisik khas plastik yang dibuka. Aku melirik, dan dia justru sedang meminum susu yang diberikan Wongeun padaku!

"TAEKWOON! ITU SUSUKU!"

"Aku minta dikit!" Tukas Taekwoon lalu meletakkan kotak susu itu di mejaku. "Lagipula, kamu udah punya dua."

"ANJING."

AKU KESAL SETENGAH MATI. Untung masih sempat memukul lengan orang itu sebelum dia benar-benar kabur. Kalau tidak, mungkin sepatuku sudah melayang ke arah mejanya.

Kurang ajar sekali mulut sialan Jung Taekwoon itu.