Disclaimer : Bungou Stray Dogs bukan milik Riren. Friend of My Brother is my original story.
Rate: T
Pair : Dazai Osamu & Atsushi Nakajima
Genre : Romance, hurt/comfort, humor, drama, and school life.
Warning: AU School, OOC, typo, gaje, gak sesuai dengan EYD, shonen ai romance, and many more.
.
.
.
.
Waktu berlalu dengan cepat dan musim sudah berganti menjadi musim panas yang identik dengan liburan yang panjang. Tapi, liburan musim panas tetap saja tak dirasakan oleh para anak organisasi seperti OSIS. Contohnya seperti Atsushi dan Ryunosuke yang harus datang ke sekolah saat liburan musim panas karena ingin meminta laporan hasil kerja mereka selama musim semi.
Sesampainya disekolah, kakak beradik Nakajima itu pun disambut oleh pemandangan sekolah yang sangat sepi. Ya... efek dari liburan musim panas. Kakak beradik ini tentu saja sudah mengganti seragam mereka dengan kemeja putih dan celana berwarna hitam tanpa memakai blazer mereka.
Dengan langkah gontai, keduanya berjalan menuju ruang OSIS dan tak butuh waktu lama keduanya telah sampai diruang OSIS. Setelah keduanya membuka pintu, seketika hawa sejuk pendingin ruangan menerpa wajah mereka. Atsushi merasa seperti menemukan oasis di padang gurun yang panas.
"Wah... kalian cepat sekali datangnya. Tapi, aku masih lebih cepat dari kalian."
"Gak peduli. Ini laporan dariku dan kalau ada yang masih kurang segera bilang padaku."
"Terima kasih, Ryunosuke kun. Atsushi kun, mana laporanmu?"
"Laporanku sudah ada di Chuya senpai."
"Nanti aku memintanya pada Chuya. Terima kasih sudah bekerja keras selama 3 bulan ini, Atsushi kun. Terus semangat, ok?"
"Tentu saja, senpai. Aku selalu bersemangat."
"By the way, kau akur sekali sih dengan Chuya?. Chuya kan orangnya galak dan cerewet pake banget lagi. Kau pernah di omelin sama si cebol itu?"
BRAK!
"Mana mungkin aku mengomelinya karena dia anak baik dan sopan. Memangnya seperti kau yang tengil dan seenaknya sendiri. Kau bicara apa tadi tentangku, hah?"
Orang yang dibicarakan oleh Dazai tadi pun muncul sambil menggebrak pintu ruang OSIS. Chuya pun langsung melangkah mendekati Dazai.
"Aku hanya bilang Chuya itu baik dan memiliki hati yang hangat walau kadang galak dan cerewetnya itu gak ketolongan."
BLETAK!
Satu jitakan maut mendarat dengan indah di kepala Dazai dan menghasilkan 1 benjolan besar di kepalanya. Atsushi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang ketua OSIS yang suka sekali menggoda sang sekretaris yang galak nan cerewet itu.
Begitulah keseharian Atsushi sejak bergabung dengan anak OSIS yang memiliki sikap dan sifat yang aneh tapi memiliki kinerja yang sangat luar biasa dan memiliki prestasi yang membanggakan. Para penggurus dan anggotanya juga memiliki kelebihannya masing-masing dan sangat unggul dalam hal prestasi baik di dalam sekolah maupun luar sekolah terutama sang ketua OSIS yang terlihat slengean tapi kecerdasannya berada jauh di atas rata-rata.
Atsushi ingat jika kakaknya pernah cerita tentang prestasi yang di raih oleh Dazai mulai dari kejuaraan tingkat nasional hingga kejuaran tingkat internasional baik dalam bidang akademik maupun non akademik. Selain itu dia selalu mendapat peringkat pertama di sekolah dengan nilai perfect. Selain itu Dazai pernah jadi model majalah dan iklan untuk beberapa brand yang cukup ternama. Atsushi hampir tak percaya jika sang kakak tak menunjukkan bukti dari ucapannya. Benar-benar diluar dugaan di balik kelakuannya yang konyol.
Atsushi pernah sempat berpikir jika kakak kelasnya yang satu itu adalah anak yang ajaib dan juga aneh.
.
.
.
.
.
Tiga hari setelah pengumpulan laporan, Dazai kembali menghubungi 4 sahabatnya itu melalui video call yang berisikan tentang segera berkemas barang-barang untuk liburan. Berikut percakapan mereka melalui video call.
"Morning all..."
"Dazai brengsek, bisa gak sih tidak ribut pagi-pagi buta begini?"
"Chuya jangan marah dong. Aku kan hanya ingin mengucapkan selamat pagi dan ingin memberitahukan sesuatu."
"Sesuatu? Tentang apa, Dazai senpai?"
"Awas saja kalau itu tidak penting, Dazai. Ku pastikan kau akan mendapat masalah."
"Tenang, tenang, Kunikida kun. Kali ini aku akan mengumumkan suatu hal yang penting. Kita akan vacation sama-sama. Kalian setuju kan?"
"Vacation? Ke mana Dazai senpai?"
"Pertanyaan bagus, Atsushi kun. Kita mau pergi ke salah satu villa milik keluarga ku atau mau ke salah satu pulau pribadi milik keluargaku?"
Atsushi hanya bisa cengo setelah mendengar tujuan perjalanan yang kedua. Atsushi sampai penasaran seberapa kaya keluarga kakak kelasnya ini sampai memiliki pribadi yang lebih dari 1 pulau.
"Aku pilih villa saja."
"Kunikida telah memilih, Chuya mau pilih apa?"
"Aku pilih ke villa saja."
"Ok. Ryunosuke kun dan Atsushi kun lebih suka ke mana?"
"Aku terserah saja mau ke mana."
"Aku juga, senpai."
"Baiklah. Sudah di putuskan jika kita berempat akan liburan di salah villa milik keluargaku. Saatnya berkemas teman-teman karena aku akan menjemput kalian 1 jam lagi. Jaa..."
Sambungan terputus dan video call keempatnya pun berakhir.
"Ayo segera berkemas, Atsushi. Aku tak mau si baka itu cerewet lagi karena kita berdua terlambat."
"Baik, onii chan. Atsushi mau siap-siap dulu."
Segera Atsushi berlari ke kamar dan mengemas barang-barang yang di perlukan olehnya untuk liburan ke villa.
.
.
.
.
.
Beberapa jam setelahnya, keempat pemuda itu kini berada di dalam bus pribadi yang telah di modifikasi menjadi sebuah ruangan kecil di dalamnya. Untuk kesekian kalinya Atsushi di buat terkejut oleh Dazai dan juga kekayaannya yang tidak kira-kira. Selama perjalanan Chuya, Akutagawa, dan Kunikida sibuk dengan urusannya masing-masing. Atsushi pun mulai merasa bosan dan akhirnya dia memilih untuk tidur saja. Tapi, baru mau memejamkan mata tiba-tiba ada sebuah suara yang mengejutkannya. Suara itu sangat jelas ditelinganya seakan berbisik tepat di depan telinganya.
"Atsushi kun..."
"Huaaaaa..."
Atsushi pun sukses terkejut akibat perbuatan Dazai barusan. Sementara Dazai tertawa senang saat melihat reaksi Atsushi yang lucu. Atsushi pun merenggut kesal karena mendengar Dazai menertawai dirinya.
"Tidak lucu, senpai!"
Dazai segera menghentikan tawanya sebelum junior kesayangannya ini marah kepadanya.
"Maaf, Atsushi kun. Habis reaksimu lucu sekali jadi aku tidak tahan untuk tertawa. Oh, ya, aku ingin kau mendengar suatu lagu bersamaku. Apa kau mau, Atsushi kun?"
"Lagu apa, senpai?"
"Kau dengarkan saja dan aku yakin kau pasti suka dengan lagunya."
"Baiklah. Ayo segera dengarkan lagunya."
"Kita pakai earphone saja dengarnya karena lagu ini hanya ku dengar berdua dengan Atsushi."
"Kenapa hanya berdua denganku?"
"Karena lagu ini spesial hanya untukmu, Atsushi kun."
Atsushi terdiam dan tak bisa berkata-kata. Entah kenapa udara di sekelilingnya terasa lebih panas dari biasanya sehingga membuat wajahnya merasa kepanasan. Belum lagi detak jantungnya berdegup secara abnormal sejak Dazai mengatakan hal yang sangat manis bagi para perempuan.
Dazai memberikan sebelah earphone nya ke Atsushi dan mulai memutarkan lagunya. Sebuah lagu dengan bahasa asing tapi entah kenapa membuat Atsushi merasa senang dan bahagia. Walau tak mengerti arti dari lirik yang di nyanyikan tapi Atsushi dapat merasakan maknanya yang terkesan manis dan romantis. Tanpa sadar Atsushi sangat menikmati lagunya hingga kepalanya bersender di bahu Dazai dan Dazai pun tersenyum melihat reaksi Atsushi setelah mendengar lagu yang di putar.
"Apakah kau menyukai lagunya?"
"Aku menyukainya, senpai. Entah kenapa maknanya sampai padaku walau aku tidak begitu mengerti terjemahan liriknya."
"Begitu, ya. Suatu hari nanti aku akan memberitahukanmu terjemahan dari lagu itu."
"Kenapa tidak sekarang, senpai?"
"Karena belum saatnya. Sekarang kau tidur dulu karena perjalanan masih jauh. Tak apa-apa jika kau ingin meminjam bahuku hingga terlelap."
"Kau tidak keberatan, senpai?"
"Tidak. Sekarang tidur saja, ya. Selamat beristirahat anak manis."
Perlahan tapi pasti mata Atsushi semakin berat dan rasa mengantuk sangat dirasakan Atsushi. Tak butuh waktu lama akhirnya Atsushi pun terlelap dan mulai memasuki alam mimpi. Dazai pun menyusulnya setelah beberapa menit kemudian.
.
.
.
.
.
Di sisi lain Ryunosuke merasa keadaan sekitarnya menjadi lebih tenang dam entah kenapa seperti ada yang hilang juga. Segera dia melihat ke sekeliling dan dia secara tak sengaja matanya menatap 2 sosok yang sedang tertidur dengan damai dan posisinya membuat siapapun iri. Tanpa ragu, Akutagawa segera berjalan ke arah mereka tapi sebuah tangan menghentikan langkahnya.
"Biarkan saja dulu seperti itu. Setelah si baka dan Atsushi bangun baru terserah kau mau apakan si baka itu. Lebih baik kau istirahat juga, Ryunosuke. Demi kesehatanmu juga dan aku harap kau akan selalu sehat-sehat saja."
"Baiklah, Chuya san. Terima kasih atas kepedulianmu padaku. Aku akan beristirahat sebentar."
"Sama-sama. Beristirahatlah dulu, Ryunosuke."
Ryunosuke langsung mencari posisi nyaman untuk tidur dan tak lama dia pun telah masuk ke alam mimpi. Sementara Chuya menikmati pemandangan diluar jendela sambil mendengarkan musik dari ipod nya.
.
.
.
.
.
Setelah empat jam perjalanan akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Atsushi tampak begitu excited saat melihat hamparan laut biru yang begitu luas dan segera dia berlari ke arah pantai tanpa mempedulikan kakaknya dan para senpai nya.
Atsushi merasa nyaman sekaligus agak geli saat menginjak pasir putih di bawah kakinya. Bunyi deru ombak dan suara burung camar menjadi pelengkap suasana pantai tropis yang indah. Tak lupa cuaca yang cerah yang cocok untuk melakukan aktivitas di pantai seperti berenang di laut, bermain voli pantai, dan hal menyenangkan lainnya.
"Atsushi kun, taruh barang-barang dulu. Setelah itu nanti kita main di pantai."
"Baiklah, senpai."
Atsushi segera berlari mendekati Dazai dan yang lainnya. Setelah itu kelima pemuda itu memasuki sebuah villa yang berada dekat pantai. Villa bergaya klasik berlantai 2 yang di cat berwarna putih gading. Setelah masuk ke dalam mereka di sambut oleh beberapa pelayan yang mengurusi villa itu.
"Selamat datang, Dazai sama dan teman-teman Dazai sama."
"Terima kasih telah menyambutku dan yang lain, Ranpo san."
"Sama-sama, Dazai sama. Saya akan menunjukkan kamar untuk teman-teman, Dazai sama. Silahkan ikut saya, tuan-tuan."
Atsushi, Ryunosuke, Chuya, dan Kunikida pun mengikuti Ranpo yang bekerja sebagai penjaga villa milik keluarga Dazai di daerah Okinawa. Kamar mereka berlima terletak di lantai 2 yang terdiri dari 3 kamar tidur yang masing-masing kamar sudah memiliki kamar mandi di dalamnya.
"Untuk kamarnya sudah ku tentukan. Atsushi kun dan Chuya tidur satu kamar di kamar yang berada dekat dengan beranda lantai ini, lalu Ryunosuke kun dan Kunikida kun tidur satu kamar di kamar yang dekat tangga, dan terakhir aku tidur di kamar yang berhadapan dengan kamar Atsushi kun dan Chuya."
"Kenapa adikku tidak satu kamar denganku?"
"Soal itu biarkan adikmu mandiri dan mencoba tidur bersama lelaki yang bukan kakaknya."
"Aku minta tukar."
"Tidak bisa, Ryunosuke kun karena aku telah memberitahu pada Ranpo san dan pelayan lain soal pengisi kamar di lantai ini."
"Kau kan bisa bilang lagi pada mereka, baka."
"Aku malas bicaranya lagi. Lebih baik kita segera bereskan barang-barang bawaan kita setelah itu kita main ke pantai, ya."
"Ok!"
Hanya Atsushi dan Chuya yang menanggapi perkataan Dazai dengan semangat sementara Ryunosuke dan Kunikida hanya bisa diam sambil menatap tajam pemilik villa ini.
Akhirnya mereka masuk ke dalam kamar. Chuya dan Atsushi langsung membelalakan mata mereka saat memasuki kamar yang ternyata berisikan berbagai macam barang yang bisa di katakan mewah dan bisa dikatakan cukup luas. 2 ranjang mewah berukuran double bed yang diselimuti oleh seprai berbahan satin berwarna putih gading dan di lengkapi oleh bedcover yang tebal dan halus.
Selain itu ada sebuah lemari besar dan meja kecil di samping ranjang masing-masing. Ornamen bagian langit-langit kamar terdapat ukiran bergaya vintage dan kamar itu juga di lengkapi berbagai benda lain yang terlihat antik dan unik.
Atsushi penasaran ingin melihat kamar mandinya. Setelah masuk ke dalam kamar mandi, Atsushi melihat sebuah ofuro yang cukup besar dan shower dalam sekat kaca buram. Aroma terapi begitu tercium saat memasuki kamar dan juga kamar mandi. Tentu saja membuat perasaan menjadi lebih rileks.
"Wah ofuro nya cukup besar juga."
"Chuya senpai, kau membuatku terkejut."
"Maaf. Ayo, segera beres-beres dan ganti baju karena setelah itu kita akan ke pantai."
"Baiklah, senpai."
Chuya dan Atsushi segera bergegas membereskan barang-barang bawaan mereka. Hanya butuh waktu sebentar, barang bawaan mereka telah selesai dirapihkan dan mereka pun sudah berganti baju.
Atsushi memakai sebuah kaus berwarna putih dan celana renang pendek berwarna royal blue serta tak lupa sepasang sandal jepit yang telah di pakai oleh Atsushi. Sementara itu Chuya memakai sebuah kemeja berwarna putih bermotif bunga tropis yang sengaja tak di kancing yang di padukan dengan celana renang berwarna hitam serta tak lupa sepasang sandal jepit menghiasi kaki mungilnya.
"Sepertinya kalian berdua sudah bersiap untuk ke pantai."
"Tentu saja, Kunikida senpai. Etto... onii chan ada di mana, ya?"
"Ryunosuke masih di kamar dan katanya dia akan menyusul."
"Begitu, ya. Tapi, tidak asyik kalau onii chan tidak ikut. Ano... Kunikida senpai, boleh aku masuk ke dalam? . Aku ingin mencoba mengajak onii chan."
"Silahkan saja. Aku dan Chuya akan menunggu di lantai bawah. Ayo, kita segera ke lantai bawah."
"Ok. Tapi, si baka itu ke mana ya?"
"Aku tidak tahu. Mungkin dia sudah ke bawah duluan."
"Mungkin. Ayo, segera kita ke bawah."
.
.
.
.
.
.
Atsushi pun masuk ke dalam kamar Ryunosuke dan Kunikida tapi dia tak menemukan sosok kakaknya di dalam kamar. Atsushi pun terus berjalan hingga ke beranda kecil yang berada di dalam kamar dan ternyata kakaknya sedang berdiri sambil memandang kejauhan.
"Onii chan..."
Seketika Ryunosuke tersentak kaget akan suara orang yang memanggilnya. Tapi, segera dia mengendalikan dirinya kembali dan menatap sang adik tercinta.
"Ada apa, Atsushi?"
"Ayo, kita pergi bersama ke pantainya, onii chan."
"Kau duluan saja. Aku akan menyusul nanti."
"Tapi, aku mau bersama onii chan ke sananya."
"Kau ini kenapa tiba-tiba mendadak manja. Tapi, jujur aku sedang malas untuk keluar di cuaca sepanas ini."
"Tentu saja panas, onii chan. Kau belum mengganti pakaianmu dengan pakaian renang. Ku mohon onii chan kita ke sananya bersama. Chuya senpai dan Kunikida senpai sudah menunggu di bawah."
"Baiklah. Aku kalah darimu, Atsushi. Aku mau ganti bajuku dulu. Kau tunggu di luar saja."
"Baiklah. Ku tunggu ya, onii chan."
Atsushi pun keluar dari kamar Ryunosuke dan Kunikida. Setelah beberapa menit, Ryunosuke pun keluar dan sudah berganti pakaian dengan kemeja tipis berwarna putih dan celana pendek hitam. Setelah itu keduanya pun turun ke lantai bawah untuk menyusul teman mereka.
.
.
.
.
.
.
Liburan musim panas telah tiba bagi kelima pemuda itu dan kelimanya pun menikmati setiap permainan yang mereka lakukan seperti bermain bola voli, lomba lari di atas pasir, dan hal-hal menyenangkan lainnya. Semunya terasa menyenangkan hingga ada suatu kejadian yang tak terduga menghampiri mereka semua.
Semua berawal sekumpulan anak perempuan yang sedang di cegat oleh 3 orang pemuda di ujung sebuah tebing dan tentu saja ketiga pemuda itu berniat tidak baik pada mereka. Atsushi yang sedang berjalan-jalan pun di daerah sekitar tebing segera menghampiri mereka walau rasa takut begitu di rasakannya.
"Sumimasen... bisakah kalian berhenti mengganggu mereka?. Ku rasa mereka tidak menyukainya."
Ketiga pemuda itu langsung menatap Atsushi dengan tatapan tidak suka. Salah satu dari mereka pun menghampiri dengan ekspresi wajah yang menyeramkan. Walau takut, Atsushi mencoba tetap berani demi melindungi sekumpulan anak perempuan itu.
"Kau bilang apa tadi, bocah?"
"Aku bilang hentikan mengganggu mereka karena mereka kelihatan tak suka."
Perkataan Atsushi sukses membuat 2 pemuda lainnya menghampiri Atsushi dan beberapa dari anak perempuan itu lari mencari pertolongan. Salah satu dari anak perempuan itu tak sengaja bertemu dengan Dazai dan yang lainnya. Segera Dazai dan yang lainnya menghampiri anak perempuan itu...
"Tolong..."
"Tenang. Ceritakan pelan-pelan apa yang terjadi."
"Tadi aku dan teman-temanku sedang melihat pemandangan dari atas tebing. Lalu ada 3 orang pemuda datang dan menggoda kami. Kemudian datang seorang pemuda berambut light grey datang dan berniat menghentikan mereka. Tapi, kini pemuda itu malah di pojokkan oleh 3 pemuda tadi. Aku takut terjadi apa-apa padanya."
Dazai dan Ryunosuke segera membelalakan matanya setelah mendengar warna rambut pemuda yang di sebutkan oleh anak perempuan itu. Ya... pemuda itu Atsushi dan kini dia dalam bahaya. Tanpa aba-aba Ryunosuke segera berlari menuju tempat yang di beritahu oleh anak perempuan itu. Dazai pun tak lama menyusulnya dan sebelum berlari dia mengatakan...
"Kunikida kun, tolong jaga dia. Chuya ikut aku."
"Baiklah."
Kunikida dan Chuya langsung mengikuti apa yang di perintahkan oleh Dazai. Dazai berharap Atsushi tidak kenapa-kenapa dan Dazai berjanji akan memberi pelajaran pada orang-orang itu jika mereka berani menyakiti Atsushi.
.
.
.
.
.
Kini posisi Atsushi kian terpojok dan semakin mendekati ujung tebing. Atsushi merasa semakin takut apabila melihat ke bawah di mana ombak dari laut menerjang tebing dengan keras. Walau tebingnya tak terlalu tinggi tetap saja akan berbahaya apabila jatuh ke bawah sana.
"Cih... sok berani jadi pahlawan dan lihat betapa kurusnya pergelangan tanganmu ini. Aku ragu jika kau laki-laki dan lebih baik kau mandi air laut sana daripada sok keren padahal aslinya takut."
Salah satu dari pemuda itu pun mendorong Atsushi ke belakang dan alhasil Atsushi langsung terjun bebas ke bawah tebing. Tiba-tiba seseorang berlari melewati 3 pemuda tadi dan ikut terjun untuk menyelamatkan Atsushi. Lalu tak lama pemuda tersebut langsung di hajar oleh Chuya dan seorang lainnya.
.
.
.
.
.
"Atsushi... Atsushi..."
Perlahan-lahan sang pemilik nama mulai merespon panggilan orang yang memanggil namanya. Kelopak mata yang tadi tertutup rapat kini mulai terbuka kembali. Samar-samar Atsushi melihat kakaknya dan Dazai menatap khawatir padanya.
"Onii chan... Dazai senpai..."
"Yokatta... akhirnya kamu sadar juga. Kau membuatku dan yang lain khawatir."
"Gomen ne, onii chan..."
"Daijobu tapi lain kali jangan seperti tadi lagi. Segera hubungi onii chan atau yang lain jika butuh pertolongan. Kau mengerti kan, Atsushi?"
"Ya, aku mengerti."
"Ne... Atsushi kun, bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Cukup baik walau masih agak pusing sedikit, Dazai senpai."
"Yokatta. Oh, ya, ini cokelat panas yang khusus di buatkan oleh Chuya. Minumlah dulu biar badanmu hangat."
"Terima kasih, senpai."
Atsushi pub mengubah posisinya menjadi duduk dan dia menerima gelas dari Dazai lalu meminumnya. Rasa hangat langsung di rasakan oleh Atsushi saat cokelat panas tersebut melewati tenggorokannya. Setelah di rasa sudah cukup hangat, Atsushi menaruh gelas tersebut di atas meja kecil.
"Onii chan, Dazai senpai, terima kasih banyak dan maaf merepotkan kalian."
"Kau ini jangan bilang begitu. Sudah sewajarnya aku menolongmu karena kau itu adikku. Mana mungkin aku membiarkan dalam bahaya. Tapi, yang menolongmu saat jatuh ke laut itu Dazai bahkan hingga memberikanmu nafas buatan saat kau tak kunjung sadar setelah jatuh ke dalam laut."
Seketika wajah Atsushi langsung memanas setelah mendengar sang kakak berkata jika Dazai memberikan nafas buatan untuk Atsushi. Walau memberi pertolongan tetap saja mereka berdua seperti berciuman dan itu merupakan ciuman pertama Atsushi. Atsushi kini tak berani menatap wajah senpai nya itu.
"Apa kau marah padaku, Atsushi kun?"
"Tentu saja tidak, senpai. Malah aku sangat berterima kasih kepadamu."
"Syukurlah kalau begitu tapi aku tetap merasa tidak enak padamu dan rasanya aku seperti mengambil ciuman pertamamu."
"Kalau bukan untuk menolong adikku, aku tak akan membiarkan kau melakukannya."
"Tapi, kalau boleh jujur aku belum pernah berciuman dengan siapapun jadi yang senpai lakukan saat menolongku adalah yang pertama."
"Majika?"
"Maji desu, senpai."
"Aku minta maaf kalau begitu, Atsushi kun. Aku sungguh tidak tahu."
"Daijobu, senpai."
"Hontou ni?"
"Hontou."
"Berarti aku boleh melakukannya lagi padamu, ya?"
"Eh?"
Tanpa aba-aba Ryunosuke langsung melayangkan satu pukulan ke arah wajah Dazai tapi sayangnya pukulan itu hanya mengenai udara kosong. Dazai dengan cepat menghindari pukulan itu.
"Tak akan ku biarkan kau melakukan hal itu pada adikku. Jika kau berani, langkahi dulu diriku."
"Jangan marah begitu, Ryonosuke kun. Aku kan hanya bercanda tapi kalau Atsushinya mau, aku akan menerimanya dengan senang hati."
"Dalam mimpimu, baka."
Tak lama pintu kamar Atsushi dan Chuya di buka dengan keras oleh seseorang.
"Kalian berdua bisa diam tidak, hah?. Tidak lihat kalau Atsushi masih belum pulih dan butuh istirahat tapi kalian berdua malah ribut. Kalian berdua mau ku pukul, hah?"
Chuya pun marah-marah sambil menunjuk wajah kedua orang yang membuat ribut di kamarnya.
"Tidak apa-apa Chuya senpai. Aku sudah merasa lebih baik dan terima kasih atas cokelat panasnya. Rasanya mengingatkan ku pada cokelat panas buatan okaa chan."
"Jika kau berkata begitu, baiklah. Sama-sama, Atsushi. Oh, ya, apa kau ingin makan sesuatu?. Biar nanti aku buatkan."
"Aku tak ingin merepotkanmu, senpai."
"Tak usah sungkan padaku, Atsushi. Tinggal bilang saja apa yang ingin kau makan. Aku akan membuatkannya untukmu."
Atsushi terdiam sebentar lalu berpikir ingin memakan apa. Hingga pada akhirnya dia memutuskan sesuatu...
"Aku ingin seporsi Chazuke, senpai."
"Baiklah. Akan segera ku buatkan untukmu."
"Chuya buatkan aku makanan juga dong. Aku lapar..."
"Cih... buat sendiri saja sana. Sudi banget buatin makanan buat orang macam kayakmu."
"Chuya pilih kasih. Chuya sayangnya sama Atsushi saja dan aku seperti anak tiri yang di abaikan."
"Orang sepertimu memang pantas di anak tirikan."
"Chuya kejam padaku. Apakah kau sudah lupa dengan janji kita dulu?"
"Akhiri drama bodohmu itu karena aku tidak akan terpengaruh."
"Chuya kejam! Chuya gak sayang aku lagi! Aku benci Chuya."
"Terserah kau mau ngomong apa. Aku tidak peduli dan lebih baik sekarang kau keluar dari sini karena kau hanya mengganggu istirahat Atsushi saja. Sini ikut aku dan Ryunosuke nanti tolong jaga adikmu jangan sampai orang ini datang mengganggu adikmu lagi."
"Tenang saja. Aku akan menjaga adikku baik-baik dari orang bodoh macam Dazai."
Dazai pun di tarik oleh Chuya keluar dengan cara menjewer telinga Dazai dan suara aduhan Dazai pun terdengar hingga ke lantai bawah. Atsushi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakukan para seniornya.
"Atsushi..."
"Ya?"
"Maafkan onii chan yang tidak bisa melindungimu dengan baik. Jika saja tubuh onii chan kuat, pasti onii chan akan melindungimu dari orang-orang yang ingin menyakitimu. Maafkan onii chan mu yang tidak berguna ini."
"Jangan berkata seperti itu, onii chan. Bagi Atsushi, onii chan adalah kakak terhebat yang Atsushi miliki. Tidak ada yang bisa menandingi kasih sayang mu padaku, onii chan. Sekarang Atsushi sudah besar dan Atsushi berterima kasih padamu karena waktu kecil dulu Atsushi selalu di lindungi olehmu dan kini biarkan Atsushi yang akan melindungimu seperti kau melindungiku dulu, oniichan."
Ryunosuke terdiam dan merasa terharu mendengar perkataan dari adiknya itu. Rasa bahagia pun menyelimuti dirinya. Ryunosuke merasa beruntung memiliki adik seperti Atsushi. Sudah penurut dan ramah, manis pula. Seketika Ryunosuke merasa tidak rela jika suatu saat Atsushi akan pergi meninggalkannya sendiri karena harus hidup bersama dengan orang yang dia cintai.
"Terima kasih, Atsushi. Aku merasa bahagia mendengarnya. Oh, ya, kau ingin makannya di mana?"
"Aku ingin makan di ruang makan saja. Aku tidak ingin merepotkan Chuya senpai."
"Kau yakin?"
"Tentu saja."
Atsushi pun segera turun dari ranjangnya dan mulai berjalan walau masih merasa sedikit lemas tapi dia masih bisa berjalan dengan baik. Di belakang Ryunosuke mengikutinya untuk berjaga apabila Atsushi terjatuh. Kakak beradik ini pun turun ke lantai bawah dengan tenang.
.
.
.
.
.
Setelah sampai di bawah, Atsushi dapat mencium aroma Chazuke yang membuat perutnya berbunyi. Ya... Atsushi mulai lapar.
Sesampainya di dapur, Atsushi melihat Chuya sedang menyiapkan makanan kesukaannya dan Atsushi tak menyangka jika salah seniornya itu tampak imut dalam balutan apron berwarna merah dengan motif polkadot putih.
"Wah... Atsushi kun, apa kau sudah kuat berjalan?"
"Tentu sudah kuat, Dazai senpai."
"Syukurlah jika kau sudah kuat. Ne, Atsushi kun, bagaimana tanggapanmu tentang tampilan Chuya sekarang?"
Mendengar Dazai mulai memancingnya untuk marah, Chuya segera menoleh ke sumber suara.
"Jangan di jawab pertanyaan dari orang gila macam Dazai. Abaikan saja, Atsushi."
"Kalau boleh jujur kau terlihat imut saat memakai apron itu, senpai. Aku berbicara seperti ini tidak ada maksud untuk mengejekmu karena ini murni dari apa yang ku rasakan."
"Terima kasih atas pujiannya tapi aku lebih suka jika kau mengganti kata imut dengan keren atau yang lain."
"Mana ada pakai apron bermotif polkadot bisa terlihat keren. Tapi aku setuju denganmu, Atsushi. Jika kau yang memakai apron itu, mungkin akan terlihat lebih manis dari Chuya."
BLETAK!
Sebuah jitakan mendarat mulus di atas kepala Dazai dan Dazai langsung mengaduh kesakitan serta mengelus kepalanya yang terkena jitakan dari seseorang.
"Jangan terus-terusan menggombali adikku terus, baka Dazai."
"Memangnya tidak boleh?"
"Kalau orangnya itu kau, tak akan ku biarkan karena aku tidak ingin adikku di gombali oleh orang bodoh sepertimu."
"Dasar Ryuunosuke pelit!"
"Tidak peduli!"
Sementara keduanya terus berdebat, Chuya dan Atsushi hanya bisa tersenyum melihat kelakuan keduanya yang terkadang bisa membuat siapapun tersenyum melihatnya.
Sungguh hari yang ramai bagi Atsushi dan yang lainnya. Musim panas mereka pun belum berakhir karena liburan musim panas masih sangatlah panjang.
.
.
.
.
.
.
つづく
.
.
.
.
.
Author Note:
Halo minna san ^_^
Riren balik lagi nih bawa chapter baru hohoho XD
Maaf Riren baru bisa publish ceritanya setelah sekian lama *ojigi ke Kissui san*
Semoga chapter kedua ini bisa membuat Kissui san dan para reader yang lain bisa terpuaskan dan Riren mohon maaf apabila masih ada banyak kekurangan dalam chapter ini, maklum ngerjainnya dengan mata yang tinggal 5 watt *jadi curhat kan*
Mungkin hanya itu yang ingin Riren sampaikan karena Riren udah ngantuk pake banget.
Sampai ketemu di chapter selanjutnya ya hehehehe ^_^
RIREN
