Disclaimer: Tadatoshi Fujimaki
Cast :
-Akashi Seijurou (Oreshi)
-Akashi Seijirou (Bokushi)
-Aomine Daiki
-Kise Ryouta
Warn: Angst (maybe:v), OOC, OC, Yaoi, Typo, Bikin sakit hati.
Summary:
"Cinta memang buta, seperti aku yang merelakan penglihatanku untuk cintaku padamu, Hey aku mencintaimu, bisa kah?"
Enjoy!
Terlihat dua pemuda sedang berdebat kecil di lorong sebuah apartemen
"Ada apa Kise? Tumben kau apartemenku?" tanya seorang lelaki dim tampan berambut dark blue.
"Aominechii kita putus!" kata seorang lelaki cantik berambut pirang pada seorang lelaki dim tampan berambut dark blue itu.
"Hah? Apa? Jangan bercanda Kise!" bentak seorang berambut dark blue yang dipanggil Aomine.
"Maafkan aku Aominechii tapi kita harus putus, orang tua ku sudah menjodohkanku, sekali lagi maafkan aku, aku mencintaimu," jelas lelaki pirang bernama Kise itu sembari berlalu dengan air mata menggenang.
*flashback*
Kediaman keluarga Kise.
Terlihat mereka sedang makan malam bersama, dan sang ayah pun mulai berbicara.
"Ryouta ayah akan menjodohkanmu," kata sang ayah sukses membuat Kise hampir tersedak ludahnya sendiri.
"Apa?! Ayah apa-apaan itu?! Jangan bercanda! Kau tak bisa menjodohkanku seenaknya dengan orang tak kukenal!" bentak Kise tak terima.
"Ryouta tenang sayang dengarkan ayahmu bicara dulu nak," sang ibupun angkat bicara.
"Perusahaan ayah sedang mengalami kemuduran Ryouta, ada teman kerja ayah yang akan berinvestasi diperusahaan ayah dan membantu perusahaan ayah, jadi untung menggabungkan kedua perusahaan kau hadus menikah dengan anak dari Momoi corp. Mengertilah Ryouta ini demi kelurga mu ya? Demi adik-adikmu, apa kau tega melihat mereka kelaparan?"
"Aku bisa membiayainya mereka dengan uang hasil model ku ayah," tawar Kise berkeras.
"Tidak Ryouta kau tak akan sanggup. Ayah mohon bantu ayah. Ini demi keluargamu."
"Tapi ayah aku sudah punya-"
"Lelaki Dim itu? Berharap apa kau padanya Ryouta? Dia tak akan bisa memberimu keturunan, dia juga belum mapam. Cukup Ryouta ayah tak ingin menyakitimu, jadilah anak baik dan lakukan!"
Kise hanya terdiam, dan akhirnya mengangguk pasrah dengan mata memerah, membuat sang ayah dengan cepat meninggalkan meja makan itu.
"Maafkan kami Ryou-chan, maaf," kata sang ibu menangis sembari mengelus tangan putranya itu.
"Tidak ibu, tak apa. Jangan menangis," Kise beranjak mendekati sang ibu dan memeluknya.
Flashback off.
"Jangan memutuskan seenakmu Kise!" bentak Aomine menarik kasar pergelangan Kise, menahan lelaki cantik itu untuk pergi.
"Maafkan aku Aominechii, tapi ini demi keluargaku, kuharap kau mengerti, jujur aku tak menginginkannya tapi ini demi keluargaku, aku tak bisa menolaknya, maafkan aku Aominechii," kata Kise memohon pengertian dari Aomine.
"Tapi kita bisa bicarakan dulu dengan orangtuamu kan?" kata Aomine berharap.
"Aku sudah memohon, dan menolaknya Aominechii tapi.. Hiks... Tidak bisa Aominechii! Maafkan aku... Hiks... Aku mencintaimu... Tapi ini demi keluargaku," kata Kise Aomine tak kuasa melihat kekasihnya menangis seperti itu tanpa sadar melonggarkan genggamanya, dan Kise dengan segera menarik tangannya, dan berlari menjau meninggalkan Aomine yang terdiam.
"KUSO!" maki Aomine dan mengacak rambutnya frustasi.
Sudah seminggu sejak kejadian itu dan Aomine masih belum bisa melupakannya. Ia sangat mencintai kekasihnya, ia tak ingin berpisah dengannya, tapi jika dipikir perjodohan itu memang demi kebaikan Kise, toh pada dasarnya hubungan mereka memang salah, hubungan sesama lelaki? Konyol! tapi cinta memang konyol bukan?
Cinta? Ada yang bilang jika kau mencintai seseorang tidak harus memiliki, melihatnya bahagia saja sudah cukup. Jadi? Apakah Aomine sanggup melepaskannya atas dasar statement itu? Ntahlah.
Aomine berjalan malas menuju kampusnya. Ya Aomine Daiki (21) seorang mahasiswa jurusan kriminologi semester 6.
Brakk
Suara benturan cukup keras hampir membuat Aomine terjungkal. Ia menoleh dan melihat seorang anak lelaki berambut merah terjatuh bersama sebatang pohon yang patah. Aomine segera berlari mendekatinya.
"Ittai... Ah! Syukurlah kau tak apa-apa," kata sosok itu. Aomine mengernyitkan dahinya, mencondongkan tubuhnya untuk mengintip sosok yang membelakanginya itu dan akhirnya sedikit menarik sudut bibirnya saat melihat seekor anak kucing dalam dekapan anak lelaki itu.
"Hey kau tak apa-apa?" tanya Aomine membuat sosok itu menolehkan kepalanya.
"!" Aomine sedikit terpesona dengan manik ruby bulat dan berkilau itu saat mereka betemu pandang. 'Indah' pikir Aomine saat melihatnya.
"Ah iya aku tak apa-apa," balas sosok itu segera berdiri namun-
Brukk
Ia kembali terjatuh, matanya membulat. Dan anak kucing dalam dekapannya sudah melompat entah kemana. Ia kembali berdiri namun terjatuh kembali.
"Sepertinya aku apa-apa," kata sosok itu menatap Aomine. Aomine yang melihat dan mendengarnya hanya tersenyum kecil, ia menundukan tubuhnya dan memgulurkan tangannya.
"Sepertinya kakimu terkilir, ayo! Aku akan memgobatimu," kata Aomine.
"Terima kasih," balas sosok itu meraih tangan Aomine untuk membantunya berdiri. Aomine melihat sosok yang hanya setinggi dadanya itu tersenyum, lantas menuntun sosok itu ketaman yang berjarak sekitar 10 meter dari mereka dan mendudukan sosok itu disebuah bangku taman.
"Kau tunggu disini sebentar, aku akan segera kembali," kata Aomine dan segera berlari menjauh.
"Orang baik," pikir sosok itu tersenyum.
Tak lama Aomine kembali membawa sebuah kotak... Pk3?
"Maaf... Hosh... Hoshh lama ya? Aku tadi pulang dulu..." ujar Aomine terengah-engah.
"Tidak, dan maaf merepotkan," ujar sosok itu menunduk.
"Tak apa, rumahku disekitar sini kok," kata Aomine ramah.
"Um," sosok itu mengangguk dan mulai mengangkat kembali wajahnya.
"Baik, permisi, aku akan mengobatimu," izin Aomine
"Ya silahkan," balas sosok itu tersenyum.
Aomine segera mengobati pergelangan kaki sosok itu, dan lalu membalutnya dengan perban.
"Ah iya aku Aomine Daiki, siapa namamu?" kata Aomine saat sudah selesai.
"Ah aku, Akashi Seijurou," balasnya.
"Heeh Akashi ya, kau sekolah dimana?" kata Aomine sembari mendudukan diri disamping Akashi.
"Di todai*. Kalau kau?"
"Hah?! Kau sudah kuliah?! Kupikir kau masih anak SMA!"
"Tidak sopan ya!" kata sosok itu pura-pura cemberut dan kemudian tersenyum. "Kau sendiri?"
"Ah aku juga disana! Kau semester berpa? Jurusan apa?" tanya Aomine penuh antusias.
"Ah benarkah? Aku semester 6, jurusan management bisnis," Jawab Akashi antusias.
"Kalau kau?" tanya Akashi
"Ah aku juga semester 6, tapi aku jurusan kriminologi!" jawab Aomine semangat. Ah sudah lama ia tak merasa sesemangat ini, setidaknya seminggu ini.
"Uwaaahhh kriminologi?! Keren! Bukankah itu jurusan jika kau ingin jadi seperti... detective?" tanya Akashi ragu.
"Ya kurang lebih seperti itu."
"Uwaah keren," kata Akashi tersenyum, membuat Aomine yang melihatnya terpana untuk sesaat, sebelum akhirnya ia memalingkan wajahnya kearah lain.
"Ah tidak sekeren itu kok," balasnya.
Merekapun membicarakan banyak hal hingga lupa waktu, bahkan Aomine melupakan jika dia ada kelas.
"ASTAGA! aku keasyikan ngobrol denganmu sampai tidak sadar kalau aku sudah melewatkan kuliah hahaha," kata Aomine saat melihat jam tangannya.
"Wahh maaf! karna aku kau jadi bolos kuliah," kata Akashi merasa bersalah.
"Tidak apa-apa toh aku juga sedang malas kuliah," balas Aomine seraya mengacak lembut surai Akashi.
"Aku juga sebetulnya ada jam dan sama sepertimu hahaha," kata Akashi tertawa, manik ruby miliknya menghilang saat ia tertawa, dan lesung pipinya, sungguh Aomine suka itu.
Setelah mengantar Akashi hingga ke depan apartementnya, Aomine pamit pulang, tentu saja dengan membawa oleh-oleh nomor hp sosok mungil bersurai merah itu, yang membuat Aomine hampir move on dalam sekali pertemuan. Aomine suka, suka sekali dengan manik ruby itu.
"Ahh Akashi manis sekali," gumamnya di perjalanan pulang. Kilasan pertemuan singkat mereka terus berputar dikepala Aomine, bagaimana sosok itu menatapnya dengan mata bulat berkilau, bagaimana manik indah itu menghilang saat sang empunya tersenyum. Aomine sudah lama tak merasa seperti itu, setidaknya sejak ia dan Kise resmi putus.
Kise? Senyum Aomine luntur seketika kala ia mengingat tentang mantannya itu.
"Kise, apa aku boleh move on darimu?" tanyanya.
"Aku mencintaimu, tapi aku tak mungkin memilikimu bukan?"
"Kalau begiti izinkan aku untuk membuka hatiku pada sosok yang baru saja kutemui, aku mungkin sudah jatuh hati pada pandangan pertama dengan anak itu," monolog Aomine.
Tbc...
