Naruto Disclamer Mashashi Kishimoto

Rate M


Safir birunya terbelalak lebar. Perutnya yang membunting besar itu membusung tinggi. Tangannya yang terikat tali kekang menarik-narik kuat spai putih yang menjadi alas tubuhnya.

Tubuh Naruko tak dapat menahan lagi siksa keji ini. Setelah Pain mencabut miliknya dari liangnya, Naruko masih harus merasakan kembali penderitaan hebat mendera tubuhnya yang tengah mengandung besar itu.

Hidan menyodok kuat miliknya tampa ampun keliangnya. Hingga jerit kesakitan itu menggema dalam kamar sederhana sebuah apartement yang menjadi tempatnya di sekap.

"Ugh... Sakit... sekali... ughhhh, ahnnnnnn..." Desahan-desahan itu lolos dari bibir mungilnya. Naruko melenguh erotis ketika mulut Hidan melumat kasar puting dada kirinya yang menjulang tegang.

Sementara tangan kanan pria bersurai perak itu dengan mahir, memilin bahkan mecubit puting kanan Naruko yang baru akan tegak. Sementara perut kekarnya tanpa ampun menindih perut buncit yang berusia delapan bulan itu.

"Aghhh.. mohon...hentikan... itu... itu... sa... sakit! Aghhhhhhnnn" Kian dalam, paha mengangkang Naruko yang menyangkut di pahanya membuat Hidan jauh mempercepat tempo genjotannya. Kontraksi kandungannya semakin menjadi-jadi bersama orgasme yang mulai menyerang kesadarannya.

Tak peduli tubuh tak berdaya yang tengah ia perkosa itu sedang membunting besar. Hidan menyemburkan deras spermanya dalam rahim wanita hamil itu. Membuat Naruko tak hanya merasakan nyeri pada perut buncitnya, tapi juga rasa panas yang membakar dari dalam rahimnya yang berisi nyawa itu.

"Mo...hon...hen...ti... kaaaaaaann," berteriak lebih kencang lagi Saat kedua telapak tangan Hindan meremas buah dadanya bagai memeras jeruk segar. Membuat sensasi aneh namun menyakitkan terutama pada buntalan besar yang ada pada tubuhnya.

Rasa sakit tak tertahankan yang bahkan membuat kesadarannya benar-benar lenyap.

"Sasuke... tolong..."

...

"Kau dimana Naruko?" Bergumam pelan, saat mata onixnya tak menemukan keberadaan wanita tercintanya di dalam rumah sederhana yang menjadi saksi cinta mereka.

Meraih kembali ponsel pintarnya dari dalam saku celana bahanya. Sasuke kembali menekan nomor ponsel yang ia hafal di luar kepala. Kembali. Nomor telepon yang ia hubungi malah mengeluarkan nada yang menandakan bahwa nomor itu tidak aktif. "Apa kau marah padaku?"

.

.

Flash back on

"Jadi Sakura-sama hamil lagi..." Berujar lirih sambil membelai kandungannya yang baru menginjak usia tiga bulan.

"Ini keajaiban... padahal dokter ahli sudah mengatakan rahimnya rusak ketika ia kecelakaan saat hamil Sarada."

"Kau akan kembali padanya." Naruko, wanita dengan surai emas itu mengerucutkan bibirnya lucu.

"Hei..." Sasuke, ayah dari janin yang dikandungnya itu mencubit gemas pipinya. "Bagaimana bisa aku meninggalkanmu, ada miliku yang paling berharga yang tertanam disini." Sasuke mengelus lembut perut yang mulai membuncit itu. "Lagi pula aku tak tahu janin yang di kandung Sakura itu lelaki atau perempuan."

.

"Akhirnya kau datang juga, ku kira kau akan membiarkan aku dan janin ini membusuk."

"Naruko jangan bicara sembarangan. Kau itu sedang hamil. Dan kenapa kau keluar malam-malam sepeti ini, kandunganmu masih rentan."

"Aku sedang ngidam, dan tak ada layanan pesan antar yang menjawab teleponku tengah malam begini... hiks... kau tak lagi peduli padaku..."

"Hei..., hei..." Merengkuh wanita hamil lima bulan yang berdiri diambang pintu. Sasuke mencoba menenangkan wanita yang amat ia cintai itu. Memapah Naruko duduk di sofa lembut lalu memeluknya hangat.

"Maafkan aku, aku janji akan lebih memperhatikanmu..."

"Janji?" Naruko mendongak dengan safir birunya yang mengerjap.

"Janji," jawab Sasuke sambil mencium keningnya yang tertutup poni pirang menyamping. Hingga sebuah dering telepon genggam pintar Sasuke melerai pelukan mereka.

"Sakura lagi?" Tanya Naruko dengan nada tidak suka yang kentara.

"Maaf Naruko, aku harus pergi, Sakura masuk Igd."

.

.

"Bagaimana kandunganmu?" Mikoto wanita cantik yang menjabat sebagai mertuanya itu hendak membelai perut silikonnya yang membuncit besar. Namun ia mengelak dengan sigap.

"Ah, baik-baik saja Kaa-san." Sakura mengambil jarak agar sang mertua tak kembali berusaha menyentuh perut hamil palsunya.

"Baik. Jaga dia baik-baik dan pastikan bahwa dia benar-benar bayi laki-laki. Suamiku akan mendepakmu dari rumah ini jika kau tak melahirkan pewaris untuk keluarga Uchiha."

...

"Nggghhhhhhhh...," menggeliat pelan, ketika pagi menyingsing. Sambil meringis menahan rasa sakit di perut dan sekujur tubuhnya yang terasa remuk karena permaian ganas dua pria yang telah memperkosanya.

Sambil mengumpulkan kesadarannya. Air mata tak terbendung mengalir dari safir birunya. Menangisi nasibnya yang sekarang terlentang tak berdaya menanti ajal bersama janin yang terkandung dalam tubunya.

Hingga tiba-tiba safir birunya terbelalak saat melihat sosok yang begitu ia kenal. Sosok wanita yang telah ia rebut suaminya.

"Sa.. sa... sa..ku...ra..."

"Hay...,"

Wanita yang dipanggilnya secara tergagap itu menyapanya dengan senyuman menakutkan.

"Kau?"

"Aku, ya memang aku yang meminta mereka membawamu kesini. Ah pasti sangat sakit ya dengan tangan terikat seperti itu."

Naruko merasakan tubuhnya kembali menengang. Ketika Sakura yang berdiri di tepian ranjang itu kian mendekat, dan melepaskan tali kekang yang mengikat tangannya.

"Akkhhhhhhhhhhhhhh..." Kembali berteriak kesakitan, ketika surai kuningnya di jambak oleh Sakura, hingga membuatnya terduduk diatas ranjang besar itu.

Selangkangannya yang baru semalam di obrak abrin oleh dua pria biadab itu, terasa perih seakan koyak, ketika Sakura menyeret tubuh telanjangnya itu dengan kasar.

"Mau... mau kau bawa kemana... aku..." Tanya Naruko ketakutan saat Sakura menyeretnya.

"Memandikanmu!" Jawab Sakura sambil menyeret tubuh wanita hamil tua itu ke kamar mandi.

...

"Hhhhhhhhhhhh..." Naruko terengah hebat saat Sakura menjambak surai kuningnya setelah menenggelamkan kepalanya ke ember berisi air penuh.

Byuuurrrrr

Sekali lagi, dokter kandungan itu kembali mencelupkan paksa kepala bersurai pirang itu ke dalam ember yang penuh dengan air. Membuat tubuh wanita hamil yang pernah menjadi perawatnya itu meronta hebat.

Hidung dan paru-parunya yang di penuhi oleh air semakin menyiksanya, ditambah lagi selangkangan dan sekujur tubuhnya yang telah di jamahi oleh dua bandit yang dibayar oleh Sakura itu terasa benar-benar perih.

"Hhhhhhhhh..." kembali terengah, saat Sakura mengangkat kepalanya dengan jambakan. Sorot mata safirnya memelas ke arah Sakura. "Cu...cu... kup.. aku mohon ampun, akhhhhhhhhhbbh..." kembali berteriak kencang tapi bukan karena siksaan Sakura. Melainkan kandungannya yang berkontraksi hebat.

"Sial! Bayi ini tak boleh lahir kurang bulan."

Bugh

Meninju kuat tengkuk wanita hamil itu hingga tak sadarkan diri. Dokter kandungan bersurai merah muda itu menyeret Naruko keluar kamar mandi. Melemparkan tubuh tak berdaya Naruko hingga terelentang diatas kasur. Sementara ia sibuk mengobrak-abrik isi tasnya.

Tersenyum licik sambil menatap suntikan yang ada di tangannya. Tanla buang waktu, ia tancapkan jarum suntik itu tepat di tengah perut Naruko yang membunting besar.

"Ugh." Lenguhan kecil pertanda sakit itu lolos dari bibir mungil Naruko ketika cairan dalam tabungan suntikan berpidah ke perut buncitnya. Menimbulkan sensasi panas hingga kandungannya terasa akan pecah.

Tbc

Harap tinggalkan jejak bila telah membaca.