Las Noches no Egao
Disclaimer : Tite Kubo
Rated : T
WARNING : minim-dialog
.
.
.
File 2 : Ulquiorra Schiffer
Ulquiorra berjalan sendiri di koridor menara 5 di antara tiang-tiang kokoh yang membentuk bayangan segitiga siku-siku sepanjang koridor tertimpa sinar bulan. Wajahnya masih tampak datar tanpa ekspresi. Tangannya ia masukkan ke dalam saku, tanda ia tengah tak ingin melakukan apapun.
Karena hari telah malam, setidaknya bulan telah bersinar di Las Noches.
Selalu begitu.
Terkadang Ulquiorra berpikir, mengapa Aizen tak menciptakan matahari di Las Noches? Bukankah dengan matahari, bulan dapat hidup berkesinambungan?
Ia sadar, dulunya ia hanyalah sebentuk arrancar kecil tanpa tujuan hidup yang kesepian di tengah-tengah gurun pasir putih yang terdampar di hadapannya kini.
Lalu, jadi apa ia sekarang? Ia harus berterima kasih dengan Aizen yang membentuknya sebagai bentuk sempurna arrancar, espada.
Dan juga, ia perlu berterima kasih atas statusnya sebagai espada terkuat keempat bagi Aizen.
Baginya sekarang, ia hanya perlu turut dan tunduk dengan sang penciptanya. Tidak ada salahnya, bukan?
Ia terhenti pada suatu angle dimana bulan di Las Noches tampak lebih dekat dari biasanya. Ia mendengus kasar kala salah satu debu pasir menyentuh hidungnya. Angin berdesir kencang menerbangkan berbagai macam debu-debu pasir hampa di Las Noches.
Apakah ia tak dapat melihat bulan tanpa terganggu hal apapun semacam ini?
Ia lebih memilih menutup wajahnya dengan satu tangan, membiarkan pasir-pasir itu bergerak beralunan ke arah kiri membawa serta rambut hitamnya. Seragam espadanya beterbangan teratur ke arah kiri.
Damai.
Kehampaan ini membuatnya damai. Namun, apakah Aizen akan selalu membuatnya terkurung dalam kehampaan ini?
Ia terlahir dalam sebuah kehampaan, dan ia tahu itu. Satu hal yang membuatnya tahu, lubang yang ada di bawah lehernya.
Ia dan teman-teman sesama espadanya terlahir tanpa hati.
Lalu, apa?
Ia menutup perlahan permata hijau cerahnya dengan damai, meresapi keindahan dalam sebuah kehampaan yang selalu ia rasakan kala menjadi seorang penghuni Las Noches. Ia adalah penghuni tetap Las Noches mulai sekarang.
Entahlah, mungkin sampai jurang hitam bernama kematian membawanya pergi hilang tanpa bekas seperti abu yang hilang dimakan udara.
Ia tahu, kehidupan tak akan pernah kekal abadi. Setidaknya, begitu yang dikatakan Aizen padanya. Bersikeras Aizen membuat formula awet muda, hal itu tak akan berpengaruh pada Ulquiorra maupun para espadanya.
Karena, mereka semua memang telah mati. Mereka telah mendapatkan kekekalan mereka.
Jika Ulquiorra dapat memilih apa yang lebih diinginkannya, ia ingin memilih terlahir kembali dengan sebuah hati, seperti yang dikatakan oleh nona muda yang menjadi tanggung jawabnya mulai kini.
Apa itu hati?
Nona muda yang menjadi tanggung jawabnya sekarang menjawabnya dengan pelan. Pelan sekali, hingga rasanya Ulquiorra tak sanggup mendengarkannya. Suara itu terdengar sebagai sebuah lirihan dibandingkan sebuah jawaban mantap bagi Ulquiorra, namun ditahankannya niatnya untuk meminta Orihime memperjelas penjelasannya yang sudah cukup panjang itu.
Apakah sebenarnya, ia mempunyai hati sebelum terlahir kembali?
Tidak, Ulquiorra tidak pernah melupakan masa lalunya yang hanya sebatang kara di tengah-tengah gurun pasir Las Noches. Jadi, mungkin hati tak akan pernah ada dan tak akan pernah terlahir dalam dirinya.
Tetapi, bagaimana kalau nona muda itu menciptakan hati untuknya? Bukankah itu adalah ide yang bagus?
Namun, sekali lagi, jawaban nona mudanya membuatnya patah semangat. Ia hanya dapat menerima bahwa dirinya memang terlahir 2 kali tanpa hati.
Akankah ada kehidupan ke-3 atau ke-4 dan seterusnya untuknya, dengan hati?
Apakah ia terlalu gelap untuk mendapatkan sebuah hati yang membuat nona muda yang menjadi tanggung jawabnya itu menjadi sekuat itu?
Harus ia akui, nona muda yang menjadi tanggung jawabnya kini, Orihime Inoue, memang seorang wanita tangguh. Bukan sepenuhnya wanita, ia gadis.
Ia kini bermandikan sinar bulan Las Noches, seraya berjalan menuju kamar Orihime menunggu. Ia berjalan bersama arrancar pembawa makan malam manusia yang baginya tak bisa dikatakan lezat. Ia tetap berjalan dengan datar. Mata hijau gelapnya menyapu datar pemandangan di depannya yang biasa ia lihat setiap saat ingin pergi menuju kamar tempat dimana gadis itu dikurung.
Harus diakui, Ulquiorra sepertinya nampak penat dengan malam yang selalu dicurahkan Aizen di Las Noches. Tapi, apa kuasanya?
Ia harus mencintai segala ciptaan Aizen, apapun, termasuk malam kelam yang hanya berhias bulan bulat besar sabit yang bahkan menyinarinya selama hampir setahun ini. Setahun? Ah, ia tahu istilah itu dari Orihime.
Orihime mengajarinya banyak hal tentang kehidupan dunia lain, dan Ulquiorra merasa terbantu karenanya.
Hei, sejak kapan Ulquiorra jadi tertarik dengan nona mudanya satu ini?
Ia kini telah sampai tepat di depan pintu besi berjendela jarang layaknya kerangkeng penjara yang kini menjadi kamar milik Orihime. Ia mengetuknya pelan, lalu masuk dengan langkah santai. Ia melihatnya, melihat kembali air mata itu menghiasi mata abu-abu Orihime. Ia tampak berantakan sekarang.
"Makan, Onna." Hanya sebait kata itulah yang dapat ia ucapkan sebagai pengganti kata selamat malam bagi Orihime yang langsung menyeka air mata dari mata abu-abunya.
"Baiklah, Ulquiorra." Orihime berdiri, mengambil sup dari nampan yang dibawa arrancar pelayan di sebelah Ulquiorra, lalu duduk di atas tempat tidur tipis putih menempel di dinding kamarnya yang remang. Balkon ia biarkan terbuka. Ulquiorra merasa heran dengan Orihime yang telah banyak berubah sekarang. "Kenapa?"
Orihime mendapati Ulquiorra tengah memandanginya dengan pandangan heran. Ulquiorra membuang pandangannya jauh ke atas bulan Las Noches.
"Makanlah." Ulquiorra berjalan menuju balkon. "Atas perintah Aizen-sama, aku menemanimu sampai kau menghabiskan makananmu."
Sebenarnya, ini adalah kehendaknya sendiri. Kehendaknya untuk menemani Orihime yang kalut dalam perasaan bersedih yang terlalu lama baginya.
Apakah gemerlap dunia Las Noches masih kurang bagi Orihime? Ia bahkan sudah diperlakukan sebagai seorang putri!
"Ba-Baik." Orihime menurut. Ia memakan sup itu secepat yang ia bisa, namun jauh dalam lubuk hati Ulquiorra, ia berdoa agar Orihime menghabiskan makanannya lebih lama.
Lebih lama, lebih lama lagi hingga rambut jingga itu tak secepatnya menghilang dari pandangannya.
Ulquiorra menatap pemandangan malam itu sekali lagi. Sekali lagi, tak ada rasa bosan menyinggahinya. Mungkin, perasaannya berbeda kala ia tengah bersama Orihime.
Bisa didengarnya, suara seruputan Orihime dan suara lintingan alat makan yang diperbuat Orihime. Ia merasakan deru nafasnya kian bertambah cepat, dan ia tak tahu apa artinya itu.
Tiba-tiba, suara damai itu berhenti bersahutan. Ulquiorra menoleh tak lama kemudian, lalu melihat Orihime telah meletakkan alat-alat makan yang dipakainya tadi ke atas nampan di atas meja.
"Terima kasih, Ulquiorra." Orihime mendongak ke atas, melihat ke arah Ulquiorra yang mengambil nampan tersebut. Orihime tersenyum, manis sekali.
Ah, sekelebat memori terbayang dalam benak Ulquiorra.
"Tidak mungkin untukmerasakan hal yang persissama seperti orang lain...tapi ketikakau berduasaling mempedulikansatu sama lain,kalian mampu menariksedikit jarak dan menjadi lebih dekatbersama-sama.Kupikir itulah artinya hati yang menjadi satu."
Kembali Ulquiorra menghembuskan nafas berat, lalu keluar dari ruangan sepersekian meter itu. Ia menoleh ke belakang sekali lagi, memastikan Orihime tak kembali menangis.
Kini ia tahu, mengapa Aizen tak menciptakan matahari untuk Las Noches.
Karena, Las Noches telah mendapatkan matahari baru yang kelak akan menyinari warna-warna monokrom di Las Noches.
Ulquiorra dapat melihatnya, dapat merasakannya.
Orihime akan membawa suatu dampak baru bagi Las Noches.
To Be Continued
.
.
.
AN: Trims buat yang sependapat sama saya kalau Ulquihime itu emang nyes nyes(?) Haha XDD Saatnya balas review:
Sarah1x: Bener XDD Ahaha, chapter depan mungkin lebih nyes dari chapter ini ==a Thanks for review
Crow Inaba: Hehe, Ulquihime is so damn cuteee~! Oh iya, judul ini kayaknya perlu dirombak ulang deh ==a soalnya arti judulnya kan 'Senyum Las Noches' kok malah jadi nyes nyes(?)an nih =A=; Ini chap 2 nya ^^ Iya, nih, kalo Ulqui gak mati, udah dari dulu aku kirim SMS(?) ke Tite Kubo minta jodohin mereka di perkawinan sesame espada nyahaha~! XD Thanks for alert and review!
Yosh, Review again?
130612 -kags
