Back to Back

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : OOC, aneh, typos everywhere, gaje.

Genre : Romance, Hurt and little bit Drama.

Pairing : Pure SasuSaku

Summary ; Uchiha Sasuke, siswa berandalan yang suka mencari masalah dengan para guru dan ketua dewan murid, Haruno Sakura, ketua dewan murid yang keras terhadap pelanggar aturan. Mereka berdua saling berbagi rahasia yang sama, yaitu mereka telah dijodohkan. 'Punggung itu tak pernah bisa kuraih selama dihatimu masih ada orang itu,'

.

.

.

Saat melihat gadis itu, ia langsung menganggap gadis itu aneh. Rambutnya berwarna soft pink, seperti permen karet yang sering ia makan dan bola matanya berwarna hijau terang. Sasuke pikir, gadis itu ingin menarik perhatian orang -orang dengan penampilan anehnya namun akhirnya Sasuke sadar bahwa rambutnya asli dan ia tidak memakai contact lens.

Haruno Sakura.

Nama gadis itu.

Sakura pertama kali bertemu dengannya saat pesta ulang tahun Uchiha Corp yang ke delapan puluh dua tahun. Ayahnya dan ayah Sakura membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan bisnis, ibunya saling memuji dengan teman arisannya dan Itachi memberikan pendapat cemerlangnya tentang perubahan kebijakan ekonomi di Eropa pada teman-teman Fugaku. Sasuke yang masih berusia delapan tahun hanya melihat mereka tanpa ada niatan untuk bergabung.

Sasuke kecil hanya melihat punggung Itachi yang rasanya semakin jauh. Dulu ia dan kakaknya itu sangat dekat namun semenjak Fugaku menyuruh Itachi mendalami bisnis sejak dua tahun lalu. Tidak ada lagi Itachi yang mengajak Sasuke jogging bersama tiap akhir pekan, tidak ada lagi Itachi yang diam-diam mengambil tomat kesukaannya hingga membuat Sasuke membalasnya dengan mencampurkan sereal Itachi dengan makanan hamster, tidak ada lagi Itachi yang menjadi kakak idaman semua orang.

Punggung Itachilah yang selalu ia lihat sekarang. Bukan lagi senyum hangat sang kakak, kalaupun senyum hanya senyum lelah yang selalu Itachi tunjukkan.

Sasuke terus melamun hingga ia melihat gadis itu. Haruno Sakura dengan rambutnya yang diikat pigtails dan gaun pinknya yang mengembang. Gadis itu tertawa sambil memakan es krim dengan temannya.

Sasuke kecil tidak tahu bahwa gadis yang memiliki senyum sehangat angin musim semi itu akan membuatnya menjadi orang yang sangat egois nanti.

.

.

.

Pertunangan.

Bagi Sasuke yang masih berumur tiga belas tahun, itu hal konyol. Ia merasa seperti bidak catur milik Fugaku dalam menjayakan Uchiha Corp dan dia menentang hal itu habis-habisan hingga ayahnya marah dan tidak menganggapnya ada selama dua bulan, namun akhirnya ketegangan mereka dicairkan oleh sikap ibunya.

Ibunya meminta Sasuke untuk melihat dulu siapa gadis yang ditunangkan dengannya. Setelah Sasuke telah mengetahui siapa calonnya, Sasuke dapat menerima atau menolaknya dengan syarat jika pemuda tanggung itu menolaknya, ia harus mendalami bisnis dari ayah dan kakaknya, tak peduli jika ayahnya nanti tidak akan menganggapnya ada lagi.

Namun akhirnya Sasuke menerima pertunangan yang berlandaskan bisnis dan rasa hutang budi itu, karena gadis itulah yang ditunangkan dengannya. Siapa lagi kalau bukan Haruno Sakura?

Selain itu, sikap Sakura yang tampak menerima Sasuke sebagai tunangannya saat mereka diumumkan bertunangan oleh kedua orang tua mereka, membuat Sasuke diam-diam bersyukur, berpikir bahwa Sakura ternyata juga membalas perasaan diam-diamnya. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain orang yang kau cintai juga mencintaimu kan?

Uchiha Sasuke memang naif saat itu.

.

.

.

Sasuke menyukai Sakura. Entah sejak kapan.

Mungkin saat Sasuke mendengar Sakura mengatakan kekagumannya pada desa-desa kecil di Jepang yang belum tersentuh tentang modernisasi dan melestarikan budaya Jepang yang sangat kental ketika di pesta ulang tahun presdir pengusaha ekspor-impor, atau saat Sakura tertawa dengan suaranya yang seperti lonceng di lorong sekolah mereka. Atau mungkin saat pertama kalinya mata gadis itu bertemu dengan matanya?

Terkadang Sasuke mengutuk harga diri Uchiha yang tampaknya turun-temurun dalam darah mereka. Sasuke tak pernah mengajak Sakura bicara kecuali saat makan malam bersama, itupun karena di paksa oleh ibu mereka, Sakura tak tampak keberatan saat Sasuke hanya melewatinya saat mereka berpapasan di lorong sekolah atau saat Sasuke tiba-tiba mengajaknya ke halaman belakang mansion Uchiha untuk membicarakan hal-hal remeh seperti tugas sekolah, film action terbaru di bioskop, bahkan berapa jumlah action figure di kamar Sasuke.

Namun Sasuke memiliki sebuah rahasia sendiri. Diam-diam saat seluruh murid pulang dan hanya tersisa murid-murid yang memiliki kegiatan klub, Sasuke akan menyelipkan sebuah kertas dengan satu kalimat singkat yang cukup manis menurutnya di loker Sakura dan keesokan harinya, Sasuke akan melihat pemilik punggung mungil itu berdiri di depan lokernya dengan wajah memerah.

Tapi sayangnya kebiasaan kecil yang berdampak besar itu tak bisa Sasuke pertahankan lagi. Karena kejadian sore itu . . .

.

.

.

Sasuke mengeringkan telapak tangannya sambil berjalan di lorong menuju kelasnya. Jam sekolah sudah selesai namun Sasuke bertahan karena kebiasaan kecilnya.

"Aku tahu itu, aku tahu itu,"

Sebuah suara di balik dinding lorong membuat Sasuke berhenti berjalan, suara itu berasal dari tikungan lorong yang berjarak tiga langkah dari Sasuke, tikungan lorong untuk keluar dari gedung sekolah.

Sasuke kenal suara itu, suara milik Yamanaka Ino, sahabat Sakura.

"Sakura, kau menyukai Itachi-san kan, bukan Uchiha Sasuke itu?"

Apa?

"Hei, kau tahu itu dari mana?"

Itu suara Sakura. Sasuke hapal dengan suara itu dan tentang Sakura yang menyukai Itachi...

Sial.

"Dasar bodoh! Dari tatapanmu saat kau tahu dijodohkan dengan adiknya, aku sudah tahu, Sakura. Kau jelas kecewa saat itu!"

Sakura ternyata menyukai kakaknya yang hebat itu? Yang selalu dibangga-banggakan ayahnya?

"Ino, suaramu jangan terlalu keras. Bisa saja ada yang mendengarkanmu,"

Ada dengusan disana, "Hell, di jam-jam ini hanya ada murid yang ikut ekstrakulikuler dan kita berdua, Sakura. Mereka tidak akan repot-repot hanya untuk mendengarkan gossip para gadis,"

Kemudian helaan nafas, "Memang aku sedikit kecewa saat tahu dijodohkan dengan adiknya Itachi-san,"

"Aku tahu itu!"

"Tapi bukan seperti itu, Ino Pig!"

Ah, jadi seperti itu. Ternyata gadis itu menyukai kakaknya, Sasuke mendengus untuk menahan perasaan sesak dalam dadanya.

Jadi percuma saja Sasuke setiap hari menunggu sekolah sepi dan berani mengambil resiko dikunci oleh satpam sekolah hanya untuk menyelinapkan surat-surat kecil di loker Sakura karena pada akhirnya Sasuke tetap melihat punggung mungil itu.

.

.

.

Sejak itu, Sasuke berubah. Tidak ada lagi Uchiha Sasuke yang manis, yang diam-diam menyelipkan surat singkat yang manis ataupun Sasuke yang selalu memperhatikan wajah Sakura yang memerah di depan loker tiap pagi.

Yang ada adalah Uchiha Sasuke yang membeli rokok illegal dan mencari musuh di luar sekolah sana. Musuhnya kebanyakan adalah preman jalanan yang sering memalak siswa-siswi di Konoha Shippu Gakuen Den atau murid berandalan sekolah lain yang mencari gara-gara dengannya. Reaksi Fugaku saat mengetahui anak bungsunya menjadi seperti ini? Jangan ditanya. Pria paruh baya itu hampir membuat Sasuke babak belur tiap harinya di awal perubahan Sasuke dan kini ia tidak memedulikan Sasuke lagi.

Ayahnya sudah tidak peduli lagi, ibunya terus-terusan membujuk agar Sasuke menjadi anak baik seperti dulu dan kakaknya—kakak tersayangnya yang membuatnya secara tidak langsung seperti ini—selalu melemparkan tatapan kekecewaan dan maaf pada Sasuke.

"Uchiha Sasuke!"

Sebuah teriakan tidak menghentikan acara merokok Sasuke di taman belakang. Sasuke hanya mendecih namun tetap melanjutkan menghisap batang tembakaunya, ia menghembuskan asapnya ke langit. Tidak memedulikan gadis yang siap-siap marah dibelakangnya.

"Apa-apaan kau? Kau sudah bosan hidup hingga merokok di lingkungan sekolah, hah?!" bentak gadis itu kesal.

Ah. Tunangannya yang pura-pura perhatian.

Sasuke hanya meliriknya sekilas dan membuang batang rokok yang terselip di bibirnya, bukan karena takut atau khawatir dengan teriakan amarah Sakura akan terdengar orang lain tapi karena batang rokoknya memang sudah hampir habis.

Gadis itu menarik nafas, tampaknya ingin menenangkan amarahnya namun Sasuke keliru, "Sudah berapa kali kau melanggar peraturan di bulan ini, hah?! Jangan karena kau itu—"

Berhenti. Jangan bertingkah seolah kau peduli padaku jika di dalam hatimu masih ada dia.

"Diam," suara dingin Sasuke memotong teriakan amarah Sakura. Sakura menutup mulutnya, wajahnya memerah karena kehabisan nafas dan juga tatapan tajam pemuda itu.

Sasuke berdiri dari posisinya dan berbalik menghadap Sakura, tak menyembunyikan raut dinginnya yang semakin dingin. "Jangan pernah memerintahku," ucapan itu mengudara seiring dengan langkah yang diambil untuk menjauhi Sakura.

Meninggalkan Sakura yang hanya diam, menatap punggung tegap Sasuke yang semakin mengecil dan hilang dari pandangannya, menghilang dibelokan taman belakang sekolah.

Namun Sasuke tak penah benar-benar pergi. Kebiasaan lama yang sulit dihentikan.

Ia berdiri di balik pohon yang besar dan menunggu Sakura masuk ke dalam gedung sekolah. Dan Sasuke memperhatikan punggung mungil gadis itu.

'Punggung itu tak pernah bisa kuraih selama dihatimu masih ada orang itu,'

.

.

.

Sasuke nyaris terlonjak saat mendengar pintu kamarnya berderit, pertanda bahwa ada seseorang yang masuk tanpa izin ke daerah kekuasaannya. Bau samar strawberry dan vanilla membuat Sasuke tahu siapa yang berani masuk tanpa izin.

"Kenapa kau datang kemari?" sapa Sasuke pada gadis yang masih berdiri di tepi pintu. Wajah gadis itu tampak bingung dan sedikit panik.

Sasuke bersyukur lampu kamarnya ia matikan sebelum ia mandi, Sakura tidak perlu tahu kamarnya seperti apa.

"Kenapa lampunya tidak dinyalakan?" tanya Sakura dan tampaknya ia sedang meraba-raba dinding di sekitarnya untuk mencari saklar lampu.

"Jangan nyalakan lampunya," larang Sasuke cepat. Ia berjalan mendekati Sakura, tak peduli dengan penampilannya yang baru saja mandi dan ia hanya memakai celana panjang. Sakura menahan nafasnya saat mencium bau maskulin di dekatnya. Sasuke menahan kekehan di ujung lidahnya saat merasakan sikap kaku Sakura. Benarkah ini ketua dewan murid yang tadi siang meneriakinya?

"Pergilah, jangan pernah masuki kamar ini lagi." kata Sasuke dan melangkahkan kakinya, membuat Sakura berjalan mundur hingga keluar kamar. Sasuke langsung menutup pintu kamar yang berada dibelakangnya.

"Aku dan keluargaku datang kemari karena—"

"—di undang ibuku?" potong Sasuke. Sakura mengangguk sekali.

Sasuke menundukkan wajahnya, ingin berusaha mengintimidasi gadis yang berada di dalam kungkungannya. Sial. Jantung! Jangan terlalu kencang!

"Dasar menyebalkan," bisik Sasuke di telinga merah Sakura. Setelah itu, ia langsung berbalik dan meninggalkan Sakura untuk menyembunyikan pipinya yang memerah.

Bau parfum gadis itu tidak berubah dari dulu. Terkesan kekanakkan, strawberry dan vanilla tapi Sasuke menyukainya. Sasuke mengacak rambutnya kasar, berharap imajinasi liarnya cepat pergi dari kepalanya di balik pintu itu.

.

.

.

"Greenland Hotel tak akan bertahan lama, saham mereka turun drastis di Kakori Group. Kakori Group bukanlah perusahaan yang bersih, penggelapan pajak membuat mereka semakin mundur dan tinggal menunggu waktu saja, dua perusahaan besar gulung tikar," Kizashi berceloteh dengan Fugaku sedangkan Mikoto dan Mebuki membicarakan tentang sekolah dan universitas untuk kedua remaja tersebut.

"Ya, untunglah kau menyarankanku untuk tidak menanam saham di Kakori Group. Kalau aku menanam saham 3% di perusahaan bermasalah itu, hancurlah Uchiha Crop sekarang, kita tidak akan makan makanan enak ini," Kizashi terkekeh dan Fugaku menyeringai tipis.

Sasuke memotong grilled mushroom chopped steak perlahan, ia yakin bahwa pembicaraan tentang kebangkrutan dua perusahaan itu akan berganti dengan topik biasa.

"Kudengar Itachi mengadakan kerja sama dengan perusahaan General Electric, bukankah itu menakjubkan? Itachi masih semuda itu namun dia telah mendapatkan kepercayaan dari salah satu perusahaan terkaya di dunia. Kau pasti sangat bangga memiliki anak seperti Itachi kan, Fugaku?" puji Kizashi di sela-sela menyantap seafood cream gratin miliknya.

Steak enak itu langsung terasa hambar di lidah Sasuke. Pembicaraan ini lagi, lagi-lagi Itachi. Selalu saja Itachi.

Fugaku menyeringai namun sorot matanya tak menampik bahwa ia sangat bangga dengan anak sulungnya, "Ya, dengan kerja sama itu, Uchiha Corp memiliki kesempatan untuk semakin melebarkan sayapnya di bidang teknologi Jepang,"

"Itu bagus, Fugaku-kun. Teknologi adalah investasi yang sangat menguntungkan di era ini, Uchiha Corp dapat menyuntikkan dana pada Universitas Tokyo atau Universitas Osaka untuk menciptakan karya yang berteknologi tinggi," puji Kizashi.

Sasuke menatap makanannya tidak berselera, lagi-lagi pembicaraan ini. Tentang Itachi, kakaknya sendiri. Betapa hebatnya sang kakak dalam melihat kesempatan kerja sama, betapa baiknya Itachi pada semua orang atau betapa berbahayanya Itachi saat menghadapi lawan-lawan bisnis ayahnya. Apa mereka tidak bosan terus-terusan membicarakan Itachi?

Sasuke tak tahu bahwa tunangannya memperhatikannya dengan dahi berkerut.

"Tapi Sasuke pasti bisa seperti Itachi kan? Kurasa Itachi dan Sasuke bisa bekerja sama untuk menguasai perekonomian Jepang nantinya," tanya Kizashi pada Sasuke yang hanya menatap makanannya.

Sasuke mengangkat kepalanya saat merasakan ada yang menendang kakinya, melirik sekilas pada pelakunya dan kembali memakan makanannya pelan.

"Ada apa, Sasuke-kun? Kau kurang enak badan?" tanya Mebuki yang tampaknya juga menyadari keanehan diamnya Sasuke.

Sasuke mengangguk singkat dan mengalihkan atensinya ke Sakura yang memperhatikannya, "Sakura, jika kau sudah selesai. Kau bisa menyusulku di taman belakang?" tanya Sasuke. Tanpa menunggu jawaban dari sang gadis, pemuda itu berdiri dan meninggalkan dua keluarga tersebut.

Ia harus menyelesaikannya sekarang.

Sasuke tahu bahwa Sakura telah berada di belakangnya sedari tadi, gadis itu berdiri disampingnya. Sasuke baru sadar bahwa gadis itu sangat mungil, tinggi gadis itu hanya sampai bahunya saja.

Berhenti Sasuke! Dihatinya, hanya ada kakakmu! Uchiha Itachi yang selalu dibangga-banggakan orang tuanya!

"Berhentilah,"

"A-apa maksudmu, Sasuke-kun?" cicit Sakura. Sasuke meringis dalam hati, kemana sikap berani dan keras yang selalu ditunjukkannya?

"Kau tahu apa maksudku, Haruno. Berhentilah berharap atau kau akan semakin sakit,"

Setelah mengucapkan itu, Sasuke langsung berbalik. Ingin segera masuk ke kamarnya dan meratapi semuanya, seperti pecundang sejati.

"Tunggu," Sakura menangkap tangan Sasuke.

Sasuke menatap Sakura, wajah Sakura memerah, seperti menahan tangis namun Sasuke rasa, seharusnya ialah yang berekspresi seperti itu. Dia adalah korban di sini.

"Aku yang akan pergi kali ini,"

Sasuke melihat punggung rapuh milik gadis itu perlahan-lahan menghilang dari pandangannya. Harusnya ia senang karena Sakura pastinya senang, gadis itu bebas darinya kan? Sakura menyukai Itachi, kakaknya kan?

Tapi kenapa jantungnya berdebar dengan cara menyakitkan seperti ini?

.

.

.

"Kekacauan apalagi yang kau lakukan sekarang, Sasuke?" suara dingin Fugaku menyapanya saat Sasuke baru saja pulang dari sekolah. Seperti biasa, penampilannya hancur karena menerima tantangan kelahi dari preman jalanan.

Sasuke melirik pria yang berstatus ayahnya, tanpa ada niatan menyapa balik. Sudut bibirnya juga robek jadi ia tidak mau repot-repot membalas sapaan sarkasme Fugaku.

"Kau pasti senang kan karena Haruno Sakura telah memutuskan pertunangan kalian dan merayakannya habis-habisan dengan berkelahi seperti anak jalanan?"

Sasuke rasa jantungnya sempat berhenti berdetak sedetik saat mendengar itu.

"Perjanjian tetap perjanjian, Sasuke. Kau akan memulai pelajaran bisnis denganku atau kakakmu besok malam, tidak ada waktu untuk berkelahi atau membolos pelajaran lagi," kata Fugaku sambil berlalu pergi, meninggalkan Sasuke dan Mikoto yang berada di ruangan itu.

"Ini," Mikoto mendekatinya dan tersenyum sendu, wanita itu mengulurkan sebuah surat dengan tulisan 'Untuk Uchiha Sasuke,'

Surat dari Sakura.

.

.

.

Hei, jika kau sudah membaca ini. Mungkin aku sudah pergi meninggalkan Jepang. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih.

Terima kasih, terima kasih telah mau memintaku menyerah.

Terima kasih telah membuatku pernah memimpikan bagaimana rasanya bersandar di bahumu.

Terima kasih atas kenangan yang telah kita rajut bersama walau selalu diisikan teriakan penuh kemarahanku.

Aku juga sangat berterima kasih karena kau selalu melihatkan punggung tegapmu.

Karena punggung tegapmu membuktikan bahwa kau bukanlah khayalanku semata walau punggung itu tak akan pernah bisa kuraih.

Terima kasih, Sasuke-kun

Dan maaf jika aku selalu menganggumu.

.

.

.

Sasuke duduk di ranjang empuknya, tangan kirinya mencengkram kertas tak berdosa itu. Ia tersenyum kecil namun sarat dengan sakit dan kekecewaan.

"Kau pikir hanya kau saja yang melihat punggungku? Aku juga hanya bisa melihat punggungmu, Sakura bodoh,"

Uchiha Sasuke untuk pertama kalinya merasa menyesal membuat keputusan.

.

.

.

You're so good at leaving

And I'm too bad at making you stay

Maybe this is the best for us

.

.

.

TBC? Or End?