DISCLAIMER: Ojamajo Doremi (c) Toei Animation, 1999-2004. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini.
Catatan Author: Masuk di chapter 2!
Kali ini, saya akan menceritakan tentang saat dimana ibu Aiko pergi meninggalkan Aiko dan ayahnya, saat ia memutuskan untuk bercerai. Disini juga dijelaskan tentang alasan Aiko lebih memilih tinggal bersama ayahnya. Baca saja ya? :)
Aiko's Life
.
Chapter 2 – My Broken Family: Okaachan's Left
"Aku tidak tahan lagi!" seorang wanita berambut hitam pendek memasukan semua pakaiannya kedalam sebuah tas koper dorong miliknya, "Kau terus-terusan saja memaksaku berhenti dari pekerjaan itu! Kau tidak pernah mencoba untuk mengerti bahwa pekerjaan itu sangat berarti buatku!"
"Bagaimana aku bisa mengerti tentang hal itu?" balas sang suami dari wanita itu, "Atsuko, kau tahu... pekerjaan itu membuatmu lupa akan tugasmu untuk mengurus keluarga kita! Gara-gara pekerjaan itu, kita kehilangan calon anak bungsu kita! Karena pekerjaanmu itu juga Aiko sempat mengalami kecelakaan saat bermain!"
"Itu semua tidak ada hubungannya dengan pekerjaanku!" bantah wanita itu, "Kau boleh mengatakan apapun, tapi itu semua tidak akan pernah mengubah keputusanku. Aku akan pergi dari sini dan membawa serta Aiko, dan akan kubuktikan bahwa aku bisa mengurusnya sendiri, meski aku tidak berhenti bekerja dan hanya mengurusnya sendiri tanpamu!"
"A-atsuko, kumohon... bukan itu solusi yang kuharapkan dari permasalahan kita."
"Aku tahu. Ini memang bukan solusi yang kauharapkan kan? Kau lebih mengharapkan kalau aku berhenti dari pekerjaanku! Bukankah begitu?"
Sang suami terus membujuk wanita itu agar tidak pergi dari rumah yang selama ini mereka tempati bersama seorang anak mereka, Aiko, tapi tetap saja wanita itu bersikeras untuk pergi. Ia tidak tahan akan suaminya yang selalu saja menyuruhnya untuk berhenti dari pekerjaannya yang dianggapnya sangat penting dalam kehidupannya.
Wanita itu lalu bergegas menuju ke kamar anaknya, menarik sang anak keluar dari sana dan mengajaknya untuk pergi bersamanya.
"Okaachan, kemana kita akan pergi?" tanya gadis kecil berambut biru itu, "Kenapa otouchan tidak ikut bersama kita?"
"Kita akan pergi ke tempat yang lebih baik," jawab sang ibu, "Okaachan sudah tidak tahan lagi untuk tinggal disini."
"Tapi okaachan, kurasa kita juga harus mengajak otouchan. Kasihan otouchan kalau dia sendirian saja disini."
"Aiko..."
"Siapa yang akan memasakkan makanan untuk otouchan? Siapa juga yang akan mencuci baju otouchan? Siapa yang akan mengurus otouchan kalau kita meninggalkannya sendirian disini?" Aiko melepas genggaman tangan ibunya dan berlari menuju sang ayah yang masih duduk bersimpuh dihadapannya, "Okaachan, kumohon. Bawa otouchan bersama kita."
"Tapi okaachan tidak bisa melakukannya, Aiko."
"Onegai, okaachan. Kasihan otouchan kalau kita meninggalkannya sendirian."
"Baiklah. Kalau begitu, lebih baik Aiko tinggal disini saja dengan otouchan," akhirnya wanita itu memutuskan, "Okaachan akan pergi sendiri saja."
"Okaachan..."
"Aiko, jaga otouchanmu ya? Okaachan akan pergi sekarang," seketika wanita itu berlari keluar dari rumah itu, "Sayonara."
"Okaachan!"
.
.
Tengah malam.
Aiko terus saja menangisi kepergian ibunya di dalam kamarnya, sambil mendekap harmonika mungilnya yang dibelikan oleh kedua orangtuanya saat terakhir kali mereka berjalan-jalan bersama sebagai satu keluarga.
Sementara itu, sang ayah sedang minum sake di ruang makan. Ia masih frustasi akan keputusan istrinya untuk bercerai.
Tak lama kemudian, Aiko menghampiri ayahnya ke ruang makan. Sambil menyodorkan harmonikanya, ia berkata, "Mainkan ini, otouchan."
"Eh?"
"Mainkan ini supaya aku tidak merasa sedih lagi."
"Aiko..." lelaki itu berpikir sebentar, kemudian ia mengambil harmonika yang berada di tangan sang anak, "Baiklah, otouchan memang hanya tahu beberapa nada sederhana, tapi otouchan akan berusaha untuk menghiburmu."
Selama beberapa saat, Aiko merasa sedikit tenang saat mendengar permainan harmonika dari ayahnya, sampai ketika tiba-tiba ia menyadari bahwa ada tetesan air yang jatuh dari wajah ayahnya: ayah Aiko menangis.
Lelaki itupun menghentikan permainan harmonikanya, lalu mendekap putrinya dengan erat. Mereka menangis bersama.
"Mulai hari ini, kita harus berusaha untuk hidup tanpa okaachan..."
Catatan Author: Oke, akhirnya selesai juga chapter 2 ini...
Saya nggak bisa ngomong panjang lebar soal chapter ini, karena saya rada bingung mau ngomongin apa. Semua yang saya tulis disini bisa dilihat di season 1, jadi...
Satu lagi, meskipun fandom Ojamajo Doremi nggak lolos, tapi saya masih mau mengingatkan untuk para reader supaya ikutan polling IFA 2011 ya? Karena ini event tahunan yang hanya diselenggarakan setahun sekali. Jangan sampai tidak berpartisipasi ya?
Tunggu chapter berikutnya juga ya? Tapi jangan lupa RnR juga chapter yang satu ini. ^^
