Unperfectly Perfect—2nd grain : The Date, The Crickets, and The Kiss.


"Terima kasih untuk hari ini, Sehuna~" ucapan tipikal seseorang kepada kekasihnya setelah seharian berkencan. Luhan tahu kalimat tersebut sudah sering Sehun dengar di televisi, tapi pemuda manis itu tidak tahu lagi apa yang harus ia katakan selain kalimat saduran tersebut. Ini adalah kali pertama mereka benar-benar berkencan setelah tiga bulan bersama. Salahkan Luhan dan tugas akhir sekolahnya. Salahkan juga Sehun dan semua aktivitas klub basketnya.

"Harusnya aku yang berterima kasih, hyung...," pemuda yang lebih tinggi membalas, dengan senyum lebar di bibirnya.

Luhan tidak dapat mencegah suara ribut di dadanya ketika melihat senyum Sehun yang terlihat begitu indah. Dan Luhan bersyukur hanya dia dan Tuhan yang bisa menikmati senyum itu tiap saat.

Keduanya masih berdiri dalam keheningan—yang entah mengapa terasa menenangkan alih-alih canggung—di depan pagar rumah Luhan. Hanya saling bertatapan tanpa mengucapkan apapun. Suara angin malam yang bergesekan dengan dedaunan, suara jangkrik dan serangga malam lainnya seolah menjerit-jerit, mendorong Luhan untuk melakukan sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa.

"Ehm...," Sehun berdehem sambil menggaruk tengkuknya, matanya teralih ke jalanan beraspal di bawah kaki mereka dan otomatis memutuskan kontak matanya dengan Luhan. Luhan hanya terdiam sambil terus memandang Sehun.

"Xiao Lu...," Sehun membisikkan nama panggilan Luhan dengan nada lirih yang terdengar seperti orkestra di telinga Luhan. Pemuda itu selalu menyukai momen dimana Sehun mengucapkan namanya tanpa embel-embel 'hyung'.

"Y-ya...?" Luhan memandangi Sehun yang mulai memainkan jari tangannya. Pemuda manis itu diam-diam merutuki mulutnya yang entah mengapa jadi tergagap ketika melontarkan balasan.

"Eng... itu...," Sehun bicara dengan nada ragu-ragu dan ekspresi gugup yang membuat Luhan gemas.

"Kenapa, Sehunnie?" Luhan membesarkan kedua bola matanya, penasaran.

Alih-alih membalas, Sehun malah mencondongkan kepalanya ke arah Luhan dan di saat bersamaan tangan mereka berdua saling bertaut erat. Luhan semakin membesarkan matanya ketika menyadari seberapa dekat jaraknya dengan wajah Sehun. Perlahan, sangat, sangat perlahan, Luhan menutup mata. Berpikir bahwa mungkin hal inilah yang angin dan jangkrik tadi teriakkan—tentu saja bukan dalam arti harfiah.

Sehun terdengar menarik napas gugup di samping telinga Luhan, dan pemuda yang lebih pendek pun merasakan hal yang sama.

"Lu...," Sehun kembali berbisik dengan suaranya yang selalu berhasil membuat jantung Luhan berdetak dua kali lebih cepat.

"Sebaiknya kau segera masuk, aku seperti melihat bayangan appa di balik jendela," Sehun berujar, masih dengan berbisik dan nada gugup, merujuk pada ayah Luhan yang memang ia panggil 'appa'.

Luhan membuka matanya segera sambil mendesah kecewa. Persetan dengan teriakan para jangkrik itu! Semoga Sehun tidak melihatnya menutup mata. Semoga Sehun tidak tahu kalau Luhan sedari tadi menahan napas hingga dadanya terasa sesak. Semoga Sehun tidak mendengar bunyi detak jantungnya ketika wajah mereka sedekat tadi. Semoga Sehun tidak menyadari kalau sebenarnya Luhan mengharapkan sebuah ciuman!

"Eng... dan... hyung, kenapa kau berkedip begitu lama tadi?" pertanyaan Sehun yang diucapkan dengan nada benar-benar penasaran itu membuat Luhan mau tak mau merasa geli sendiri, alih-alih malu.

Ah, terkadang Luhan bingung siapa seme yang sebenarnya. Sehunnie-nya polos sekali, sih...

"Sehuna~," Luhan menatap Sehun (yang juga menatapnya) dengan mata berbinar dan senyum tertahan.

"Ya?" Sedangkan Sehun hanya memasang ekspresi heran karena bukannya menjawab pertanyaannya, Luhan malah memanggil namanya.

CUP.

"Aku mencintaimu...," ujar Luhan lirih sebelum memalingkan wajahnya yang terasa panas, dan berlari kecil masuk ke halaman rumahnya. Ini mungkin tidak masuk akal, tapi Luhan mendengar para jangkrik di luar sana sedang bersorak kegirangan.

Sehun mematung, menatap kosong ke arah Luhan yang tengah melambai singkat ke arahnya dengan wajah memerah.

Selama perjalanan dari rumah Luhan ke rumahnya, Sehun tak mampu berhenti tersenyum seperti orang bodoh sambil memegangi pipi kanannya yang baru saja bersentuhan dengan bibir Luhan. Mungkin setelah ini ia akan langsung tidur tanpa mencuci wajahnya terlebih dulu.

.


End of the drabble


.

.

a/n : saya benar-benar sedang kecanduan hunhan akhir-akhir ini. bahkan setiap nonton video OT12, yang saya perhatikan hanya bagaimana mereka berdua berinteraksi. tapi menulis fic dengan pair yang belum biasa saya tulis memang sulit. ㅠ,ㅠ

.

BIG thanks to :

piyoo (selamat sudah jadi pe-review pertama~) | Shim Yeonhae | Kazuma B'tomat | arvita kim | J clou | 1013ginger | baby reindeer | siscaMinstalove | kkeynonymous (aku tahu siapa kamu sebenarnya~ bikin akun lah, biar kita bisa PM-PMan~)

dan risyaaacf,yang ternyata bisa katrok juga. :*

.


your concretes, comments, and good critism will be very very appreciated. mind to review? :3