Semuanya berawal dari seorang pria tan yang mengetuk pintu kamar apartemennya di suatu pagi. Dia bilang, dia salah mengetuk pintu. Kyungsoo mempercayainya karena raut terkejut dari lelaki itu ketika mendapati wajahnya saat pintu terbuka.
Kyungsoo hanya mengangguk dan menutup pintu apartemennya kembali ketika si lelaki tan meminta maaf dan mengutarakan kesalahannya.
Lalu seterusnya, kejadian itu terulang lagi dan lagi. Setiap pagi, dengan alasan yang sama seperti sebelumnya dengan tambahan beberapa kalimat seperti; 'Aku tidak bisa mengingat dengan baik' atau 'Oh ya ampun! Ku pikir penyakit lupaku semakin parah' Yahh.. seperti itu. Dan Kyungsoo hanya perlu mengangguk lalu menutup pintu setelahnya.
Tapi untuk kali ini, Kyungsoo pikir dirinya tidak akan diam lagi. Si lelaki tan itu tak hanya mengetuk pintunya di pagi hari tapi hampir setiap waktu.
Untuk pertama kalinya Kyungsoo merutuk pada pekerjaan yang sangat di sukainya. Menjadi seorang penulis bukanlah hal yang mudah, ia butuh ketenangan dan keheningan di rumahnya.
Namun pekerjaannya harus terganggu karena si lelaki tan yang Kyungsoo ingat bernama Kim Jongin – dia mengenalkan dirinya tempo hari yang lalu.
"Maaf Tuan Kim, ku pikir anda sudah bisa mengingat dengan baik di mana kamar temanmu itu?"
Kyungsoo melihat mata lelaki itu membola sesaat setelah ia melontarkan kalimat tersebut. Tetapi dengan cepat ekspresi itu berubah menjadi tawa yang jenaka di telinga Kyungsoo. Kyungsoo memandang bingung pada lelaki itu, tidak ada yang lucu disini, dan ia sendiri tidak sedang melucu.
"Tolong maafkan aku Tuan Do, tapi aku juga berpikir, aku tidak bisa kalau tidak mengetuk pintu apartemenmu".
Kalimatnya terlalu membingungkan. "Huh? Kenapa?" Kyungsoo bertanya sambil bersandar pada dinding disampingnya.
Lelaki tan itu tersenyum, lebih pada menyeringai sebenarnya.
"Karena aku selalu mengingat wajahmu di balik pintu ini".
.
.
©2017 Fafasoo202 Present [ 27 April ]
[][][] Knock Knock: 1.531 word [][][]
.
.
Kyungsoo memijat pangkal hidungnya dengan keras. Kepalanya sakit karena rasa kesal pada seseorang yang terus saja mengganggunya. Kalau saja memungkinkan, Kyungsoo ingin sekali pindah dari sini dan memboyong semua pekerjaannya ke tempat yang lebih sunyi atau bahkan tak terlihat sekalipun. Masalahnya, tidaklah memungkinkan. Karena dirinya belum menyelesaikan buku keduanya dengan benar. Itu artinya tidak ada benda tidak ada uang. Ia punya simpanan tapi nominalnya tidak akan cukup jika harus meninggalkan apartemen ini dan mencari apartemen lain.
Lagi pula,
Kyungsoo suka disini..
Balkon apartemennya langsung menghadap pada taman kota. Ia bisa memandang berbagai kegiatan manusia dari atas sini. Dan itu selalu memberinya inspirasi dengan latar suara hiruk pikuk kota.
Tapi...
Semuanya buyar. Karena satu orang bernama, Kim. Jong. In.
Kyungsoo meneguk kopi terakhirnya, lalu beralih memandang pada seonggok manusia tan yang sedang mengisi kulkasnya dengan berbagai sayuran, buah dan beberapa minuman vitamin.
"Kau tahu? meminum kopi terlalu banyak tidak bagus untuk tubuhmu yang kecil itu"
Ia mendengus dan berjalan menuju westafel, meletakkan gelasnya sebelum berbalik menghadap orang lain yang berada di rumahnya. "Apa pedulimu?" tanya Kyungsoo sarkasme.
Kim Jongin balas memandangnya, lalu tersenyum lebar sampai matanya menghilang.
"Tentu saja aku peduli. Sekarang, aku ini tetanggamu".
"Apa maksudmu?"
"Mmhm... jika kau memerlukanku, aku di kamar sebelah" dia tersenyum lagi.
"HAH?!"
Dia berjalan mendekati Kyungsoo yang masih terkejut di tempatnya. Sebelah tangannya terangkat dan mengusap rambut hitam Kyungsoo dengan gemas. "Kau ini! Bagaimana bisa kulkasmu itu hanya berisi minuman bersoda dan makanan instan saja. Kau harus makan makanan bergizi agar pertumbuhanmu tidak terhambat". Ujarnya begitu lugas.
Kyungsoo menangkis tangan si lelaki tan itu, matanya menatap tidak suka pada kehadiran Jongin.
"Kau pikir aku ini anak kecil apa?! Jika sudah selesai menggangguku silahkan pergi dari sini. Aku harus segera merampungkan buku ku. Kehadiranmu disini menggangguku, kau tahu?" Ini untuk yang pertama lainnya Kyungsoo mengumpat sekaligus kagum karena dirinya bisa membuka mulut dan berbicara panjang seperti tadi.
"Baiklah.. baiklah.. aku akan pulang. Ingat! Jika kau perlu bantuan, aku di kamar sebelah", setelah mengucapkan itu Kyungsoo melihat lelaki tan itu beranjak meninggalkan apartemennya dengan langkah ringan.
**Knock Knock**
Kyungsoo berpikir Kim Jongin tersinggung dengan kata-katanya seminggu yang lalu. Lelaki itu tidak pernah lagi mengetuk pintu kamarnya. Lagi pula siapa yang peduli. Itu hal yang bagus untuk Kyungsoo, jadi dia bisa berkonsentrasi penuh pada pekerjaannya.
Tapi, ada yang aneh kali ini...
Inspirasi dan imajinya menguap begitu saja.
Jika biasanya dalam waktu seminggu, Kyungsoo bisa mengetik sampai sepuluh halaman kali ini ia hanya mampu mendapatkan lima halaman saja.
Pagi menjelang...
Kyungsoo membuka selimut yang menggulung tubuhnya dengan mata setengah tertutup. Kemudian ia bergegas menuju kamar mandi untuk membasuh wajah sebelum kembali menghadap macbook miliknya di atas meja.
Serius! Ia masih mengantuk. Tadi malam Kyungsoo bergadang hingga pukul 2 pagi, dan sekarang bangun tepat pada pukul 5. 3 jam bukanlah waktu yang optimal untuk manusia mengistirahatkan dirinya. Kyungsoo butuh waktu tidur yang lebih, namun pekerjaannya menanti. Bahkan editornya sudah mengingatkan hampir setiap hari bahwa deadline sudah semakin dekat.
Sekembalinya dari kamar mandi, Kyungsoo langsung menuju dapur dan membuat segelas kopi untuk dibawanya ke kamar sebagai teman di pagi buta seperti ini. Rutinitas yang buruk.
Dengan tarikan nafas panjang setelah mengaktifkan macbooknya, maka Kyungsoo mulai larut pada dunianya.
2 jam terlewati.
Kyungsoo mengamati cangkir kopi di tangannya yang kosong. Ia menghela nafas dan beranjak menuju dapur (lagi) demi segelas kopi supaya matanya tetap terjaga.
Ketika tangannya baru menyentuh toples gula, perutnya meronta. Kyungsoo beralir pada almari pendingin di sebelah pantry, dan melihat isinya yang masih penuh dengan sayuran juga bahan makanan lainnya.
Kyungsoo harus bergegas kembali bekerja, tapi dirinya kelaparan. Jadi, Kyungsoo mengambil kimchi dan telur dari dalam sana. Ia akan membuat nasi goreng kimchi dan telur gulung saja.
Kyungsoo sudah bersiap untuk mengocok telur yang baru saja ia pecahkan, saat tiba-tiba suara nyaring terdengar. Kyungsoo benci ketika ia sedang melakukan sesuatu –apapun itu, ada yang mengganggu.
Oh ya, sebenarnya Kim Jongin tidak benar-benar berhenti mengganggunya.
Jika bukan ketokan pintu, maka sekarang Kyungsoo akan selalu mendengar musik yang sangat nyaring dan membuat telinganya sakit yang berasal dari kamar sebelah setiap pagi.
Kyungsoo buru-buru melepas apron merahnya dan berjalan kesal menuju pintu.
Saat ia tiba di depan pintu kamar dengan nomor 1213 itu nafasnya mulai memburu.
Tok..
Tok..
Tok..
"Iya,, aku segera datang"
Amarahnya semakin memuncak ketika pendengarannya menangkap suara itu dari dalam sana.
Pintu terbuka dan menampakkan sosok tan dengan balutan kemeja putih serta celana kain hitam yang menggantung di pinggangnya.
"Wah! Aku mendapatkan tamu... dan..." lelaki tan itu melirik jam tangannya, "...sepagi ini?" tanyanya lalu beralih menatap Kyungsoo.
Kyungsoo tersenyum sinis, "Tapi maaf Tuan Kim Jongin, aku kesini bukan untuk bertamu. Bisakah kau mematikan musikmu itu. Suaranya membuat telingaku sakit"
"Silahkan masuk Tuan Do, kau mau kopi?"
Kyungsoo mengernyit mendengar balasan dari Kim Jongin, ia mendengus sebelum berbicara lagi.
"Bukankah sudah ku katakan, aku tidak—"
"Yah! Lepaskan!"
Kyungsoo meronta ketika tiba-tiba saja Kim Jongin menarik tangannya dan menyeretnya menuju ruang tamu, kemudian menghempaskannya ke sofa.
"Senang kau bekunjung Tuan Do Kyungsoo"
Ia menghela nafas panjang berupaya agar rasa amarahnya mereda, Kyungsoo beralih menatap meja di depannya. Tumpukan dokumen dan laptop yang terbuka membuat Kyungsoo berpikir, 'Bagaimana bisa dia bekerja dengan musik yang nyaring seperti ini?'
Kyungsoo berdiri dan memandang datar pada Jongin. "Maaf, sepertinya aku mengganggu pekerjaanmu. Sebaiknya aku kembali. Dan tolong, pelankan musiknya" kata Kyungsoo.
"Tidak, Do Kyungsoo. Kehadiranmu disini tidak menggangguku, kau tahu?"
Sialan.
Kyungsoo merasa dia pernah mengucapkan kalimat yang tak jauh berbeda dari kalimat yang barusan Jongin lontarkan. Ia terkekeh, dan menyorot Jongin dengan tatapan tajamnya.
"Ahh,, tapi kurasa, lebih baik aku pergi. Pekerjaanku juga belum selesai. Permisi".
Kakinya menghentak nyaring melewati pria itu. Kyungsoo membuka pintu dan menutupnya dengan keras. Apasih maksud lelaki tan itu?
Dia orang yang aneh.
**Knock Knock**
Perlahan tapi pasti,
Ia mulai terbiasa dengan keberadaan lelaki tan di sebelah kamar apartemennya, ia terbiasa dengan ketokan pintu di setiap pagi (lagi), ia terbiasa dengan mulut berisik lelaki tan ketika melihat dirinya dengan segelas kopi, ia perlahan juga mulai terbiasa dengan pengakuan blak-blakan dari bibir lelaki tan itu.
Kyungsoo sedang menikmati sarapannya pagi ini,
Terima kasih pada Kim Jongin yang kini selalu datang ke apartemennya sebelum dia berangkat bekerja demi membuatkannya sarapan yang lumayan enak. Kyungsoo pernah protes untuk yang satu ini, ia hanya tidak ingin menjadi pengganggu pekerjaan orang lain, tapi setelah Kim Jongin bilang, 'Aku adalah CEO nya' mulutnya bungkam seketika.
Ia menyerah dan akhirnya membiarkan Jongin melakukan semua yang dia inginkan.
"Jangan menatapku seperti itu!" desis Kyungsoo di sela-sela suapannya.
Kyungsoo heran pada Kim Jongin. Dia senang sekali memandangi wajahnya jika mereka sedang duduk diam seperti ini.
"Aku menyukaimu"
Ia menghela nafas, tangannya beralih memegang gelas kemudian meminum setengah isinya.
Tadi itu adalah pernyataan kesekian kalinya dari Kim Jongin. Kyungsoo sempat risih beberapa saat tapi mendengar betapa seringnya lelaki tan itu berucap seperti tadi... itu membuat tubuhnya tidak baik.
Ia akan bereaksi seperti; jantungnya berdegup semakin kencang, pipinya terasa panas, dan tangannya akan bergetar hebat.
Persis, seperti sekarang.
"Baiklah, aku sudah harus pergi" Kyungsoo lihat dia berdiri, memasang jasnya setelah merapikan dasinya yang sedikit miring, lalu mengambil tas jinjing hitam yang dia letakkan di atas pantry sebelum berjalan pelan ke arahnya.
Kyungsoo tak berani mendongak ketika sepatu pentofel hitam itu berhentit tepat di samping kursi yang ia duduki.
Sesaat kemudian, matanya membelalak ketika tangan Kim Jongin mengusap kepalanya pelan
dan lalu...
kecupan seringan kapas mampir di pelipisnya.
Tuhan!
Kyungsoo berharap degup jantungnya saat ini tersamarkan oleh langkah kaki Jongin yang beranjak dari tempatnya.
Mungkin,
Kim Jongin, sekarang tidak hanya mengetuk pintu apartemen saja..
tapi jua pintu hatinya.
Terkutuklah, lelaki tan bernama Kim. Jong. In.
END
Konbanwa~~
Hi hi hi... fafa disini :v membawa drabble yang idenya terlintas setelah datang ke festival korea dan melihat ada yang cover 'Knock Knock - TWICE'
Tapi, cerita ini gak ada sangkut pautnya sama lirik lagu tersebut.. hanya sekedar terinspitasi dari judul, dan jadilah judul drabbel ini(?) hehe:D
Sengaja membuat alurnya cepat, karena ini drabble. Jadi gak bertele-tele dan membosankan seperti ff chaptered milik fafa :3 Maaf ya kalo masih ada typo, fafa males ngedit *deep bow*
Udah deh curcolnya,,,
Let me see what y'all opinion about this chapter^^
So,
Mind To Review
