Back to Gakko?!
by.
airi shirayuki
Pokemon Black & White
ai: bisa juga ni cerita lanjut chapter 2 (gak nyangka) ada yang nge-review juga walau dikit. Mungkin di fandom ini untuk bahasa indonesia agak sepi, jadi ai maklumi. Thanks ya yang udah nge-review! senangnya! (nari-nari gaje)
?: ya bersyukurlah kalo begitu
ai: kamu lagi... petugas
?: mana ada petugas di cerita. Emang sapa? emang ada yang ngelamar jadi petugas di ni fic ancur?
ai: widih ngeremehin. Aku kan di sini yang jadi author, otomatis lo bisa gue hapus dari sini *death-glare*
?: AJAIB! AJAIB! * sujud-sujud kayak di iklan tv Djarum 76*
ai: o ya, ai minta maaf buat chapter pertama untuk bagian Disclaimer. ai malah nulis Vocaloid bukan Pokemon, yah akhir-akhir ini ai sering baca fic di fandom Vocaloid -_-', gomen!. Udah deh langsung aja!
Please Review! gak papa mau flame dsb. dll. dst. diterima dengan sah(?) tapi jangan pedes-pedes karena author gak tahan pedes walau cuma 1 cabe (?)
DISCLAIMER!
Pokemon bukan punya ai dan charanya bukan saudara ai PEACE! ^_^V
SUMMARY
pokoknya tentang sekolah dll. gaje ah!
WARNING!
mungkin banyak Typo dan cerita gak jelas jelek deh!. cerita dijamin aneh dan menimbulkan lola, gak bisa kedip, bengong, dll, dsb, dst, blablabla. Karakter OOC!
DON'T LIKE DON'T READ!
Chapter 2 : Hilbert's talents
Sudah 5 hari berlalu sejak dimulainya sekolah, Hilbert belum menentukan ekskul sama sekali entah karena penyakit malasnya masih beredar di Unova Pos (?) atau tidak tahu talentanya apa. Berpuluh-puluh club (emang ada berapa?) mengajaknya masuk, mungkin karena kondisi fisiknya memang pas atau dilihat dari intelejennya. Yang pasti Hilbert tidak mau ambil pusing.
"Hilbert, sampai hari ini kau belum pilih ekskul? mau jadi apa kau?" Hilda berkacak pinggang.
"jadi apa aja boleh" jawab Hilbert malas. Hilda hanya bisa menggelengkan kepala. Tiba-tiba lampu neon 500 watt nyala diatasnya. Tapi tukang listrik memohon ke author untuk numpang tampil sebentar aja.
"hemat listrik!" neonnya dimatikan dan diambil oleh tukan listrik tadi.
"yah, idenya hilang dong!" Hilda pun jadi kecewa.
"ya udah, idenya dikeluarin dulu ding! Cepetan, entar lagi gua mau numpang syuting di film tr*n leg**y! Tu film banyak lampunya, jadi boros listrik!"
"bukannya tuh film udah liwat dah jaman bahula ya? iye..iye.. ni tukang cerewet amat!" Hilda jengkel.
"Hilbert, nanti istirahat pertama tunggu aku di kantin, kita cek talentamu apa!" Hilbert hanya angguk-angguk malas.
PETT! neonnya diambil tukang tadi.
"udah gak dipake to? gue ambil ya!"
"iya..iya..udah sana pergi! *nendang tukang listriknya ke studio lain*"
SKIP waktu pelajaran..
Hilbert sekarang sedang menunggu di kantin.
"sori lama, ayo!" Hilda mengajak Hilbert ke lantai 3.
"kita coba talenta musikmu dulu. Ini ruangannya" mereka berdua berhenti di depan ruang klub musik. Hilda mengetuk pintu ruangan. Seorang gadis membukakan pintu.
"ah, kamu yang tadi minta bantuan, ayo masuk!" Hilda menarik Hilbert masuk.
"itu anak yang kau maksud?" Hilda mengangguk.
"Hilbert, ini Sara wakil ketua klub musik ini. Sara-senpai, ini Hilbert" Hilda mengenalkan keduanya.
"selamat datang di klub musik! sekarang kita cari talentamu apa!" pertama, Sara memberikan gitar listrik kepada Hilbert.
"ini cara mainnya gimana?" tanya Hilbert. Sara menjelaskan cara bermain juga kunci-kuncinya dalam 5 menit.
"o...begitu ya..." Hilbert sudah lancar mengganti kunci dsb.
"coba kamu mainkan lagu ini. Yang gampang dulu aja" Sara memberikan partitur. Dengan sekali lihat Hilbert sudah bisa dengan lancarnya. Semakin lama Sara semakin memberikan lagu dari yang easy sampe yang hard dan dalam beberapa menit Hilbert sudah menguasainya.
Lama-lama Hilbert bosan dan melihat upright di pojokan.
"waktu kecil aku pernah belajar sedikit tentang piano" Hilbert memainkan lagunya Debussy- Reverie'. Sara dan Hilda melongo.
"c..coba...kamu main alat ini..." Sara memberikan alat itu ke Hilbert.
"biola?" Hilbert mengambilnya.
"kamu tahu cara ma-" Hilbert memainkan lagu Canon in D mayor. Sara jadi gregetan gak tahan.
"Hei Hilda! siapa anak ini?!" Hilda mengingat-ingat.
"eto...ibunya seorang pianis, kakeknya pemain biola terkenal, ayahnya-" Hilda menoleh ke arah Sara yang gregetan jadi gak enak.
"hhhhhh...kamu..." Hilbert berhenti main dan menoleh ke Sara.
"AYO CEPET GABUNG KE KLUB KU ANAK SUPER!" sontak Hilbert dan Hilda lari keluar. Sara mengejar mereka berdua bagai hewan buas yang kelaparan. Karena Hilbert larinya sekencang cita Hilda kalah cepat. Memikirkan Hilda yang lelet kayak sepeda ongkel bobrok maka Hilbert menarik tangan Hilda dan mengajaknya berlari seperti Ferarri tanpa asap. Mereka turun ke lantai 2 dan Sara tetap mengejar mereka. Di depan mereka ada 2 anak mengangkat meja.
"cih!" Hilbert menyuruh Hilda masuk ke ruangan seadanya karena yang dikejar adalah Hilbert. Hilbert melepas tangan Hilda. Hilda belok kanan masuk ke kelas 2-3 sementara Hilbert menerobos ke bawah meja (sleding rek!) yang masih terangkat dan berlari lagi. Semua yang melihat terpaku. Sara yang masih punya tekad satria baja pelangi melompati meja tadi dan berlari lagi sambil berkata,
"Hilbert, ayo masuk ke klubku!" aura setan nan gelap menyelubungi Sara.
"au ah gelap!" teriak Hilbert. Ia masuk ke kelasnya. Di sana ada Cheren dan Bianca.
"Hilbert, habis lompat galah ya? ngos-ngosan gitu" kata Cheren yang lagi duduk santai.
"lompat galah! lompat galah! gue malah lagi dikejar hewan buas gini main lompat galah!" omel Hilbert.
"lho, jadi buayanya penjaga kebun lepas ya?" tanya Cheren.
"BUKAN!" tiba-tiba ada suara gaduh.
JENG JENG *BGM*... Sara telah memasuki arena kandang marmut sodara-sodara *dieell- ditendang kelas 1-1*. Hilbert bergidik di belakang pojokan sebelah Cheren.
"sial, ketahuan!" Hilbert udah keringet dingin. Sara terseyum setan dengan manisnya (?).
"ternyata di sini kau Hilbert...aku menjemputmu! ayo masuk ke klubku!" Sara berlari ke arah Hilbert yang sudah dangdutan (=0=?). Cheren menarik Bianca menjauh.
"cih!" dengan sigap Hilbert melompati Sara tinggi. Semua menonton, bahkan udah ada yang beli popcorn *emang bioskop?* Hilbert mendarat dengan mulus dan terlihat keren *dari sedotan- ditimpuk-*.
"sudah kubilang berapa kali, aku gak niat masuk klubmu!" kata Hilbert sembari berdiri.
"APA?!" Sara geram.
"anak yang namanya Hilbert itu kasihan ya...harus berurusan sama Sara the beast dari kelas 3-1"
"ya...kita do'akan aja selamat" bisik para murid. Hilda sudah berada di depan pintu kelas 1-1 yang rame.
"Hilbert!" panggil Hilda. Hilbert tetap fokus. Sara berlari menerjang Hilbert, bel masuk berbunyi. Sara pun berhenti, lalu berjalan keluar.
"Ingat! aku gak akan nyerah sampe aku lulus sekolah ini!" Sara melotot dan kembali ke kelasnya. Hilbert yang keringat dingin langsung duduk di tempat duduknya dan menghela napas lega.
"kenapa sih dengan gadis itu?" Hilbert memijit pundaknya.
"kamu belum tahu? dia itu anak kelas 3-1 yang dijuluki 'Sara the Beast', biasanya anak yang jadi incarannya gak akan ketolong, untung kamu udah latihan di goa" kata Cheren. Hilbert menopang dagunya.
"iya ya, untung udah latihan di go-APA MAKSUDMU DI GOA HAH?! LU KIRA GUE MANUSIA GOA?! Aku kan latihan di hutan!" muncrat Hilbert. Cheren pake payung dapet darimana.
"ya maap. kalo kamu di hutan berarti tarzan dong!" Cheren menggoda Hilbert yang naik gunung turun gunung (?), guru pun masuk kelas dan pelajaran dimulai dengan aura gak enak di belakang pojok 2 bangku. Sementara itu...di meja ke 2 dari depan dan ke 2 dari kanan, seorang laki-laki berambut hijau menyeringai melihat Hilbert.
SKIP, waktu pulang...
Hilbert membereskan perkakasnya (kuli bangunan? *ditonjok*).
"nggg...Hilbert, sori untuk yang tadi. Sekarang kita coba di bagian olahraga yuk?. Ku..kujamin gak berbahaya tanpa bahan pengawet dan alkohol(?)" kata Hilda berhati-hati takut Hilbert marah soal tadi. Hilbert mengangkat tasnya ke pundak sambil menghela napas lalu tersenyum tipis menatap Hilda.
"ayo..." Hilda terdiam sejenak kemudian ia tersenyum.
"ayo! sekarang kita ke...panahan dulu terus ke kendo, terus basket, rugby, voli, futsal, tenis, lari, catur masuk gak ya? Terus ini itu, blablabla, dll.. Totalnya ada 12 lebih! ayo kita kunjungi satu-persatu!" semangat Hilda sambil mengepalkan tangan kanannya dan meninju ke atas.
"hee?! banyak banget! sekalian aja nginep di sekolah!" mereka berdua tertawa.
~Chapter 2 : Hilbert's talents-end-~
TBC
Bonus after that...
"bocah, masuk ke klubku!"
"tidak! masuk ke karate saja!"
"hei, itu calon anggotaku! jangan ganggu!"
"bocah itu pantasnya di basket tau!"
"gak! di kendo!" para senpai bertarung sengit sampai dateng badai beserta gledek dkk..
"sudah kuduga jadi kayak gini..." kata Hilbert sambil berlari.
"ehehe, kan salahmu sendiri punya talenta di semua bidang!" Hilda juga berlari di sebelahnya.
"kan kamu yang ngajak! tanggung jawab!"
"kamu juga harus!" dua-duanya yang masih berlari terdiam sejenak lalu menghembuskan napas dan tertawa.
"kita sama aja ya...~"
# 'ya, tetaplah tersenyum. Tetaplah disampingku. Tetaplah berlari bersamaku. Sebelum waktu tak bisa bersama kita lagi.' #
ai : gimana chapter 2? biasa aja atau tambah jelek?. Kalo masih banyak typo menari-nari di fic ini tetap ampuni saya karena pas ngetik ini lagi bulan puasa, maklumilah *ohohoho*
Patrick : a...*ngiler*
ai : euwh! jijai!
Spongebob: ...*jadi pajangan*
ai :...
? : ngapain lu melongo padahal lu yang masukin mereka ke fic ini *makan pisang*
ai : ...tambah rame aja...daripada melongo mending bales review! ((\(^0^)/))
Muyu-muyu
wahaha! biasa jeng, mereka juga pergi ke pasar burung bareng-bareng *lho? 0.0*
Yaw, nih chapter khusus buat ngetahuin bakat Hilbert yang ternyata gak ketulung BANGET
Ya, si tokoh utama emang sengaja di OC gak tahu tuh authornya yang buat *leh?* anggap aja tuh Hilbert keren plus pinter en perpect *beda sama ori -_-'*
Ni udah update dengan perjuangan '45!*kebakar bersama laptop sang teman perjuangan(?)*. Thanks udah mau repiew!
Numpang lewat
Byuh, namanya keren bangetz*alay mode* 'Numpang lewat~' (gaya operator)
Iya, characternya semua gue OOC-in biar ada suasana baru geto~(mungkin?)
Udah update, thx!
ALL : yang terakhir, NYUWUN REVIEWNYA GIH (?)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ED SONG TODAY : HI-FI CAMP- Kizuna~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
\ /
\ /
\ /
\_REVIEW ^_^v_/
NB : bisa request Ed song atau Op song!
