Naruto ( c ) Masashi Kishimoyo
"My Love Term: I Getting Stuck At Your Heart, Manager"
( c ) Hitomi Sakurako
CHAPTER 2 : Namikaze Naruto?
Ino dan Hinata segera menghampiri Sakura. "Sakura, coba lihat! Sasuke akan mengganti manajernya," kata Ino sambil memperlihatkan Sakura majalah fashion yang di dalamnya terdapat foto Sasuke.
"Itu bukan urusanku," kata Sakura cuek. 'Heh, aktor? Selalu saja mencari sensasi,' batin Sakura sambil melempar pandang keluar jendela.
Tampak Ino sedang mengerucutkan bibirnya, "Dasar kau ini," kata Ino.
"Itu tidak ada menarik-menariknya, Ino. Apa gunanya mencampuri urusan orang lain? Dia bukan sepupu kita, jadi untuk apa membicarakannya. Hinata, kau pasti berpikiran sama. Iya 'kan?" kata Sakura sambil menatap Hinata.
Hinata yang merasa di tatap hanya menundukkan wajah, "Aku berpendapat dengan Ino, Sakura-chan," kata Hinata. Sakura tercengang, "Apa!? Apa bersama dengan Ino sepuluh tahun membuatmu berubah, Hinata?" Ah, Sakura jadi lupa. Ternyata Hinata menjadi garang karena bersama Ino selama bertahun-tahun.
"Hehe, bagaimana, Sakura? Hinata berpendapat sama denganku, 'kan" kata Ino sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Bukan-bukan! Ini bukan salahmu, Ino. Bukan kau yang memulainya. Sebenarnya pada awalnya bermula pada sosok aktor narsis itu. Gara-gara dia kau jadi seperti ini, bukankah dari dulu kau mengaguminya? Jadi jangan salahkan dirimu, Ino," kata Sakura menunduk sedih karena temannya terpengaruh oleh pesona aktor narsis dan bodoh macam Sasuke. Sakura berpendapat begitu karena melihat semua fans Sasuke sama saja. Sama-sama narsisnya dengan Sasuke.
"S-sakura? Jangan begitu," kata Ino dan Hinata sambil memegang pundak Sakura.
"KRIINGG!" Bel masuk berbunyi tanda di mulainya pelajaran. Ino dan Hinata segera kembali ke tempat duduk mereka sampai seorang guru wanita masuk.
"Selamat pagi," sapa guru itu dengan senyuman manis, sebut saja namanya Kurenai-sensei.
"Selamat pagi!" seru semua siswa dalam kelas.
"Keluarkan alat tulis kalian. Haruno-san, tolong bagikan kertas ini kepada teman-temanmu," pinta Kurenai-sensei. Sakura segera menerima beberapa lembar kertas yang di berikan Kurenai-sensei kemudian membagikannya ke teman-temannya.
"Konsentrasi dan mulailah bekerja,"
"Kita ulangan, ya, bu?" tanya Ino.
"Ya, apalagi, hm?!" tanya Kurenai dengan nada santainya.
Ino hanya menggerutu kesal, "Tenanglah, Ino. Kau pasti menyelesaikannya dengan baik," kata Sakura mencoba menenangkan Ino.
"Kau enak Sakura, kau 'kan pintar," kata Ino.
"Haruno-san, Yamanaka-san, aku harap kalian tidak sedang bekerja sama,"
"Tidak, sensei!" jawab Sakura kemudian mengerjakan ulangannya.
.
.
.
"KRIIING"
"Baiklah. Tunggulah hasil nilai ujian kalian. Saya permisi," pamit Kurenai-sensei sambil meninggalkan kelas.
"Huuuaahh! Lelahnya!" teriak Ino.
Sakura yang sedang membaca segera menoleh kearah Ino. "Huh, sudahlah. Jangan banyak menggerutu, Ino-pig," kata Sakura.
"Kau sama sekali tidak menghiburku, jidat,"
"Itu karena kau sangat berisik. Tunggu! Mana Hinata?"
"Hinata? Iya, ya. Kok gak kelihatan. Kita cari, yuk," ajak Ino cemas. Sakura segera menarik tangan Ino untuk pergi mencari Hinata.
Sementara itu, pada bagian Hinata...
"K-Kiba, tolong terimalah aku," kata Hinata pada seorang lelaki berambut coklat yang berdiri di hadapannya.
"Sudahlah, Hinata. Aku tidak bisa menerimamu. Aku hanya menganggapmu sebagai adikku, tidak lebih. Jadi maafkanlah aku," kata Kiba sambil menatap dinding yang ada di dekatnya. Ia tidak tega melihat tatapan sedih Hinata.
"Tidak apa-apa. Terima kasih karena kau masih menganggapku sebagai adikmu," kata Hinata mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh. Hinata berlari kearah taman belakang untuk melampiaskan kesedihannya.
Sementara itu Sakura dan Ino sedang berjalan mencari Hinata di semua tempat. Di WC, tidak ada. Di perpustakaan, tidak ada. Di UKS, tidak ada. Sakura dan Ino lelah karena terus berlari mencari Hinata di semua tempat.
"Lelahnya. Hinata mana, sih?" gerutu Ino.
"Tunggu! Kita masih belum mencari satu tempat,"
"Apa itu, Sakura?" tanya Ino.
"Taman belakang! Iya! Kita belum kesana,"
"Benar juga, ayo kita segera kesana,"
Di taman belakang...
"Hiks, hiks, Kiba, kenapa kau menolakku?" kata Hinata di sela-sela tangisnya.
PUK! "Hei, kenapa menangis disitu?" tanya seorang pria sambil menepuk pundak Hinata.
Hinata terkejut dan sontak menoleh kearah pria itu. "Anu...-kenalkan. Namaku Namikaze Naruto. Kau?"
"Hyuuga Hinata,"
"Kenapa kau menangis?"
"Aku ditolak oleh orang yang kusuka," mengingat itu, Hinata menjadi menangis lagi.
"S-sudahlah, Hinata," ucap Naruto sambil tersenyum ramah. Ia mencoba menenangkan Hinata.
Sakura dan Ino tiba di taman belakang. Keduanya berpencar untuk mencari Hinata. Sampai Ino mendengar,
"Hiks, Hiks, Hiks, kenapa kau membuatku bersedih?" gumam Hinata.
Ino membelalakkan mata mendengarnya. Yang jadi masalah adalah, Hinata bersama seorang pria asing dan berkata 'Kenapa kau membuatku sedih'? Itu artinya, lelaki tak berperasaan itu menyakiti Hinata.
"Sst, sini!" panggil Ino dengan suara yang sangat kecil. Sakura segera meghampiri Ino.
"Ada apa?"
Ino menunjuk kedua insan yang sedang duduk bersama. Ditambah lagi dengan isakan tangis dan perkataan 'Kenapa-kau-membuatku-sedih' milik Hinata.
"Kita harus menghampiri Hinata. Dia sangat sedih," ucap Sakura yang hendak menghampiri Hinata.
"Tunggu, Sakura. Aku kesal dengan pria itu," ucap Ino tiba-tiba.
"Kenapa?" Sakura menatap pria itu.
"Astaga, kau tak mengerti? Pria itulah yang membuat Hinata menangis," Ino membuat opini seenaknya.
"Apa? Benarkah? Ayo, kita hajar lelaki kurang ajar itu habis-habisan," kata Sakura sambil menyisingkan lengan bajunya seolah siap berkelahi.
"Tunggu! Aku akan mulai aba-aba. Pada saat hitungan ketiga kita hajar pria itu," kata Ino yang juga menyisingkan lengan bajunya.
"Baik,"
"Satu, dua, ti... -ga! Serang! Hiiyyaatt!" Ino dan Sakura melompat dari persembunyiannya. Dengan gesit, Ino menarik kerah baju cowok itu, sedangkan Sakura menjambak rambut pria itu. Keduanya segera memukul wajah Naruto dengan semangat(?). Hinata syok melihat sahabatnya ada di tempat ini dan menghajar lelaki yang tak bersalah. Sedangkan pria bernama Naruto itu menjerit kesakitan menerima setiap serangan dari kedua gadis berkekuatan badak itu.
"Hiiya, rasakan pukulan terakhirku," Sakura melayangkan pukulannya tepat di wajah Naruto. BUK!
"Sakura-chan! Ino-chan!" teriak Hinata sambil menjauhkan Naruto.
"Kenapa kau melindunginya, Hinata? Apa pria tak sopan ini mengancammu?" kata Ino.
"Bukan begitu!"
.
.
.
"Oh, jadi kamu sedang menenangkan Hinata yang sedang sedih, ya?" kata Ino sambil menyeruput jus anggurnya.
"Iya," jawab Naruto sambil mengompres lukanya dibantu Sakura dan Hinata.
"Maaf, Naruto-san. Kami tidak tahu, jadi tolong maafkanlah kami," ucap Sakura sambil menundukkan wajah. Ia benar-benar menyesal karena Ino. "Ini semua gara-gara opini aneh Ino!" teriak Sakura sambil menatap Ino tajam.
"Huh, lalu kenapa kau menurutiku? Dasar!" ucap Ino yang masih tidak mau kalah.
Sakura kaget. Benar juga, kenapa ia mengikuti perintah Ino. Sakura yakin pada saat itu ia juga dibutakan oleh kekesalan. "Yah, karena kau-"
"Sudahlah, tidak apa-apa. Aku memahami karena kalian saling menyayangi dan tidak tega melihat Hinata bersedih," ucap Naruto yang langsung menyela Sakura. Ia takut menimbulkan masalah antara Sakura dan Ino.
"Benar tidak apa-apa?" tanya Ino.
"Iya," ucap Naruto mantap.
Sakura menaruh kompres Naruto dan menatap Hinata.
"Jadi, siapa orang itu?" tanya Sakura.
"Orang siapa?" tanya Hinata.
"Yang membuatmu menangis," kata Ino melanjutkan perkataan Sakura.
Hinata tampak tidak ingin bicara. Sakura menghela napas kesal, "Kalau tidak ingin bicara kami akan-"
"Kiba-kun," potong Hinata cepat.
"Kiba?" ucap Sakura dan Ino terkejut.
"I-iya, aku mengungkapkan perasaanku padanya tapi ia menolakku dan hanya menganggapku sebagai adiknya,"
"Kalau begitu kita hajar dia, Sakura!" kata Ino sambil menarik tangan Sakura.
GREP! Namun Hinata menahan tangan Sakura yang mencoba untuk ikut dengan Ino.
"Jangan! Aku tidak ingin dianggap sebagai gadis cengeng yang hanya bisa mengadu kepada temannya apabila sedih,"
Sakura dan Ino tertegun mendengar penuturan Hinata, "Hm, benar juga. Ya, sudah. Kita tidak usah menghajarnya dan anggap masalah ini sudah selesai," kata Sakura sambil kembali duduk, diikuti Ino.
Naruto menampilkan cengiran khasnya, "Oh, ya. Kalian mau tahu tidak-"
"Tidak," potong Ino cepat.
Naruto mengerucutkan bibirnya, "Aku belum selesai bicara,"
"Hm, lanjutkanlah, Naruto," kata Sakura.
"Sasuke itu-" Ino dan Hinata penasaran ingin tahu kelanjutannya, namun pada saat Naruto ingin bicara, Sakura buru-buru memotongnya.
"Headset! Hinata, aku mau pinjam headsetmu dulu," pinta Sakura.
Hinata segera mengambilkan headset dari tasnya dan memberikannya pada Sakura.
Sakura memasang headshetnya dan menyetel lagu yang ingin ia dengar. Kemudian Sakura melihat Naruto melanjutkan ceritanya mengenai aktor narsis Sasuke. Sakura bersyukur tak perlu mendengar cerita itu. Sakura juga melihat Ino beberapa kali menjerit kegirangan mendengar cerita Naruto.
'Anak itu, padahal tadi dia tidak tertarik,' batin Sakura.
Nampak Naruto sedang berbicara dengan Ino dan Hinata kemudian menatap Sakura. Yang ditatap jadi bingung karena tidak mendengar cerita ketiga orang itu. Sakura melepas headsetnya.
"Apa yang kalian bicarakan? Kenapa menatapku terus?" protes Sakura.
"Begini, Sakura. Naruto-kun bertanya kenapa kau menolak mendengar cerita mengenai Sasuke dan Naruto mengira kau memiliki hubungan dengan Sasuke," kata Hinata.
Sakura memutar kedua bola mata (baca: bosan). "Sudah kubilang aku sama sekali tidak tertarik mengenai kehidupan aktor apalagi macam Saskey itu lagipula amit-amit kalau sampai aku punya hubungan dengannya," kata Sakura.
"Huh, kukutuk kau semoga terikat dengan Sasuke," kata Ino.
"Coba saja. Huh," Sakura menjulurkan lidahnya ke Ino.
"Hm, coba bayangkan kalau Sakura jadi pembantu Sasuke," timpal Naruto.
"Jangan mimpi!" sembur Sakura.
"Uwwaahh, aku tidak bisa membayangkannya! Pasti ada kejadian yang tidak di sangka seperti-" Hinata menatap Sakura sambil tersenyum- ralat! Menyeringai.
Sakura menatap Hinata seolah tak mengerti, "Seperti apa, Hinata?"
"Hhh, kau tahulah. Kalian 'kan hanya berdua di apartemen Sasuke. Bisa jadi kalian akan melakukan 'itu'" kata Naruto sambil menyeringai mesum.
BUK! Sakura baru saja melayangkan pukulan 'manis'nya ke kepala duren Naruto. Sedangkan Naruto hanya mengaduh kesakitan sambil mengelus kepalanya yang di pukul oleh Sakura.
"Tidak akan! Untuk apa aku terikat dengan Saskey? Aku tidak memiliki kesalahan tahu,"
"Kau punya!" kata Ino.
"Sudahlah, aku tidak mau mendengarnya," kata Sakura sambil mengerucutkan bibirnya.
.
.
.
"Hinata, Ino, aku pulang dulu. Sampai jumpa!" kata Sakura sambil berlari keluar kelas.
"Buru-buru sekali," kata Ino sambil menatap kepergian Sakura.
"Mungkin mau ketemu Sasuke," kata Hinata sambil terkikik geli.
"Yeah, mungkin. Hahahaha," Ino tertawa renyah.
"Ayo, pulang," kata Hinata.
"Iya, ayo!" kata Ino sambil berjalan menuju Hinata yang mendahuluinya.
SRET! "Eh? Uang? Kok ada di sini?" kata Ino sambil mengambil beberapa uang yang tergeletak di lantai kelas.
"Milik siapa?" tanya Hinata.
"Entahlah. Besok kita cari tahu saja,"
"Uang ini baru ada 'kan. Sewaktu semuanya pulang tadi tidak ada uang ini,"
"Coba kau periksa tasmu. Siapa tahu uangmu yang jatuh," kata Ino yang juga mengobrak-abrik tasnya.
"Aku ada," kata Hinata dan Ino bersamaan.
"Jadi?"
"Ah! Sakura!" teriak Hinata dan Ino bersamaan.
Sakura berjalan kearah halte. Kemudian ia duduk di salah satu bangku. Sambil menunggu bus, Sakura mengambil buku dari tasnya dan membacanya. Biasa, untuk mengurangi rasa bosan. Sebenarnya Sakura harus menaiki kereta supaya lebih cepat, tapi kebetulan ia tidak membawa banyak uang, akhirnya ia naik bus meskipun agak lama. Lama Sakura menunggu akhirnya bis yang ia tunggu datang juga. Sakura segera menaiki bus itu. Di dekat pak Sopir ada sebuah kotak untuk uang bayar. Sakura merogoh tasnya. Gak ada. 'Lho? Uangku mana?" kata Sakura panik.
"Cepatlah, nak! Banyak orang yang ingin naik," kata Pak supir.
"Ah, nanti saya bayar, pak," kata Sakura sambil duduk di salah satu kursi.
'Duh, bagaimana ini?' batin Sakura cemas.
Bis kemudian berjalan. Sakura tak berhentinya mengoceh tak jelas. Ia begitu panik saat ini. Uangnya mana?
Saat ini bis sedang berjalan di depan area apartemen yang menurut Sakura sangat mewah.
'Hm, aku tidak bisa membayangkan jika tinggal di tempat itu. Ibu pasti merasa sangat nyaman,'
Sakura melangkah maju mendekati Pak sopir yang sedang memberhentikan bisnya karena ada penumpang yang turun.
"Err-pak! Err-anu, ehm, bagaimana jika besok saja aku bayarnya,"
"Apa?!" Pak sopir itu tampak sangat syok.
Sakura terkejut mendengar teriakan supir bus itu. "Aku kehilangan uangku, pak. T-tapi aku selalu memakai bis ini kalau ke sekolah. Jadi besok pasti akan kubayar. Tolong biarkan aku menghutang kali ini saja," kata Sakura memohon.
"Aku tidak mau! Belum tentu kau menaiki bus ini lagi,"
"Pak, kumohon," kata Sakura memelas.
"Tidak!"
"Aku berjanji!"
"Tidak!"
"Pak, aku-"
"TIDAK! TIDAK! TIDAK! Turun dari bus ku sekarang,"
"Tapi rumahku masih jauh,"
"TURUN!" teriak Pak sopir sambil mendorong Sakura keluar dari bisnya.
BRUK! Sakura jatuh terduduk di atas aspal. Bis itu segera melesat pergi dengan cepat.
Sakura menundukkan wajah. Mau naik apa ia untuk pulang? Rumahnya masih harus butuh 10 menit waktu naik bis.
TIIN! TIIN! Sakura terkejut mendengar suara klakson mobil yang mendekat kearahnya. Sakura memejamkan matanya rapat-rapat. Entah mengapa ia tak dapat menggerakkan kakinya untuk menghindar. Sakura tak merasakan apa-apa. 'Apa aku mati?' batin Sakura yang masih memejamkan mata.
"Hei! Kamu orang gila, ya?!"
Sakura menaikkan alis sambil tetap memejamkan mata. 'Kok ada suara? Mungkin ini adalah iblis di akhirat,'
Sasuke begitu kesal menatap orang yang ada di hadapannya. 'Orang ini memang gila. Duduk di tengah jalan lagi. Tunggu! Rambut itu sepertinya aku kenal,' batin Sasuke.
Sakura membuka matanya perlahan. Yang ia lihat masih sama. Ada rumah, tiang listrik, mobil dan seseorang yang sedang menatapnya tajam. Tunggu, orang itu mirip...
"Ah, Saskey pantat ayam aktor narsis yang bodoh!" teriak Sakura sambil menunjuk orang di hadapannya yang ternyata adalah Sasuke.
"Kau yang waktu itu 'kan," ucap Sasuke mencoba mengingat wajah Sakura.
Sakura segera berdiri dari duduknya dan mencoba untuk berlari. Namun sayangnya, baru ingin maju selangkah, Sasuke buru-buru menahan tangannya.
"Jangan lari dari tanggung jawab," ucap Sasuke.
"A-apa? Aku salah apa? Tanggung jawab apa?" Sakura mencoba melepaskan tangannya dari Sasuke.
"Kau telah mengejekku waktu di restoran itu sekarang kau juga mengejekku barusan,"
"Itu hanya ejekan biasa. Tak perlu kau masukkan di hati," ucap Sakura.
"Apa? Tak perlu kumasukkan di hati? Dengar, ya, jidat. Aku selalu dipuja oleh semua orang dan kau adalah gadis pertama yang menjatuhkan popularitasku," Sasuke sangat tidak terima.
"Memangnya kenapa?" tanya Sakura.
"Kau harus menerima hukuman. Kau harus membayar-ehm! Tidak usah membayar. Kamu harus-" Sasuke memotong perkataannya membuat Sakura penasaran.
"Lalu apa maumu?" kata Sakura tidak sabar.
"Hmmm," Sasuke tampak berpikir. Kemudian tersenyum menyeringai evil.
"Jadilah manajerku,"
-TO BE CONTINUED-
Halo, minna.
Tolong beri saran dan kritik. Kirimkan saran anda ke kotak review yang ada di bawah. Ada yang penasaran ama kelanjutannya? #digiles
Sampai jumpa di chapter depan.
-Hitomi Sakurako-
