"Winter Bird"
VKOOK Fanfiction
Ragu membuat bisu.
Tawa menyerbu, menertawakan sebuah ketakutan.
Saat jawaban didepan mata, gejolak masih saja mempertanyakan.
Akankah malam menyuarakan lolongan penyambut ataukah pekat menyelimuti matamu?
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
Tak ada tindakan lain yang Taehyung lakukan selain terpaku menatapi buku yang setengah usang dihadapannya. Kuning yang memudar pada setiap sudut, lapuk yang menyamarkan sebuah tinta gelap yang luntur namun masih sanggup terbaca oleh pemahamannya.
Nama Jeon Jungkook tertulis.
Namun mendadak seluruh tubuhnya menggigil.
Tak ada ketenangan maupun kelegaan dari sebuah penjelas tanda tanya yang ia derita beberapa hari berlalu ini.
Menenggelamkan diri dalam kesepian tak membuatnya tenang. Bahkan seujung kuku menyentuh buku milik Jungkook, tak juga ia lakukan usai ia daratkan si kotak kuning usang diatas meja belajarnya.
Hanya berakhir menatapi.
Terlalu membuat rumit segala kemungkinan yang ia buat sendiri.
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
Waktu berjalan menjemput auman penjaga malam.
Namun tak kau biarkan sinar meraihmu, melainkan kelam.
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
Sadar bahwa gusar tak akan memberikan segala hal berarti, jemarinya meraih buku itu kembali.
Tak ada apapun pada halaman pertama setelah pergerakannya membuka sampul kuning Jeon Jungkook. Pun dengan lembar berikutnya. Hingga separuh lembaran dalam buku berlalu membuatnya putus asa.
Sebuah catatan dengan font tebal yang Taehyung anggap sebagai judul, ''Lembar pertama, hanya iseng'.
Berlanjut dengan serentetan tulisan tangan begitu rapi yang Taehyung ketahui itu tulisan Jungkook jika menengok kembali nama si marga Jeon tertera disampul buku.
'Aku tak pernah mengira sebuah ketidakberuntungan berakhir seperti ini.'
Bait pertama yang tertangkap oleh kedua bola mata Taehyung yang bergulir mengikuti setiap garis yang tergores dalam catatan milik Jungkook.
'Aku kira pagi begitu kesal padaku karena aku terlalu mencintai malam. Tapi pagi mengirimkan padaku sesuatu yang membuatku akan melupakan harapanku tentang membuat malam disepanjang hidupku.'
'Tak ada hal didunia ini terjadi tanpa maksud, dan aku mempercayai itu. Siapa yang menyangka terlambat ke sekolah ternyata membuatku bertemu dengannya? Kim Taehyung..'
Namanya tertulis dibait berikutnya. Sebuah permulaan kisah yang lenyap dari ingatan Taehyung. Seseorang menuliskan sesuatu tentangnya, dan bagaimana bisa seseorang ini dianggap bukan sesuatu hal yang berarti untuk Taehyung ingat?
Sesaat jeda hanya untuk merutuki segala yang mencoba menyembunyikan perihal Jeon Jungkook darinya, Taehyung merasa sesak melandanya. Kepala yang berdenyut nyeri dan pandangan matanya mengabur, hingga gelap.
Gelap yang menyelimutinya selama sekian detik dan terang yang membawanya berada ditempat lain saat ini.
Bukan lagi didalam kamarnya. Sebuah tempat yang Taehyung kenali menjadi bagian dari salah satu sudut bangunan sekolahnya.
Dinding yang menjulang tinggi, melindungi apa yang disebaliknya dari sisi luar.
Banyak pertanyaan dalam pikirannya saat ini. Tentang kenapa dia berada disini, apa yang sebenarnya terjadi dan apakah ini hanya sebuah kilasan mimpi.
Terlau banyak berdiskusi dengan batin memunculkan erangan kesal.
"Apa-apaan ini.. apa aku sedang bermimpi? Tapi barusan akuㅡ "
Kalimat Taehyung terhenti, saat ia dapati ada sosok yang lain disekitarnya.
"Apa iya aku harus memanjat saja?"
Itu hanya sebuah gumaman namun terdengar jelas tertangkap oleh pendengaran Taehyung.
Seorang pemuda bergerak mendekat pada dinding sekolahnya. Berseragam sama seperti yang sering Taehyung kenakan. Namun rupa yang asing tak membuat Taehyung merasa benar-benar asing.
"Jeon Jungkook.."
Hingga nama itu meluncur dalam gumaman bibirnya.
Sosok yang Taehyung tak tahu semacam apa wujudnya, namun hatinya berkehendak untuk mengatakan demikian.
Mungkin segalanya memang terhapus dari pikirannya namun tidak dengan rasa sesak didadanya.
Langkahnya tanpa kendali pikir bergerak lebih dekat, mencoba meraih pemuda yang tengah kepayahan berulang kali mencoba memanjat tembok sekolahnya.
"Jung.. Jungkook.."
Hanya beberapa senti tersisa namun seolah ada sebuah dimensi yang menghalanginya menggapai Jungkook.
Dinding tak kasat mata yang tak sanggup ia tembus.
Keterpakuannya pecah kala pendengarannya menangkap suara lain yang sangat ia kenali.
"Eii, kau juga terlambat?"
Derapan teratur menuju sosok Jungkook. Dan Taehyung terhenyak dalam laring yang tercekat.
Itu adalah dirinya. Seseorang yang datang pada Jungkook, adalah dirinya. Melihat sosok serupa dengannya sendiri membuatnya semakin tak mengerti apa yang tengah ia lalui saat ini.
"Kau lamban sekali. Memanjat dinding bukan seperti itu caranya, aku gemas menunggumu sejak tadi. Rasanya ingin kulempar kau segera melewati tembok itu"
"A-apa? Kalau kau kesal menunggu, kenapa kau tidak melompat saja? Aku juga tak menyuruhmu untuk menunggu"
Keributan ini serasa Deja Vu.
Seolah bagian dari dirinya pernah mengalami ini dan kali ini yang ia lihat adalah sebuah kilasan dari roll film yang diputar ulang.
Yang Taehyung lakukan hanyalah terpaku. Tersesat tanpa pemandu.
Hanya menyaksikan seperti apa dirinya disana terus berdebat dengan sosok Jungkook.
"Astaga, si tua Kim bisa memergoki kita disini kalau tak segera cepat. Kemarikan tas mu!"
Terdengar pekikan protes dari Jungkook saat 'Taehyung yang lain' merampas tas sekolahnya dan dengan cekatan membawa pemuda itu memanjat tembok demi menghindari kejaran guru.
Kepanikan terlihat saat itu. Dan terdengar juga bagaimana teriakan Jungkook dari seberang sana menanyai Taehyung, menawarkan bantuan namun ditolak. Karena Taehyung tahu dia jelas akan tertangkap basah.
"Lekaslah ke kelas, aku yakin belum terlambat untukmu"
Tak ada hal lain yang dapat disaksikan Taehyung selain melihat dirinya sendiri tertangkap oleh sang guru yang membawanya tanpa ampun menyumpah penuh janji akan derita.
Lalu gelap kembali menyelimuti penglihatannya. Membawa Taehyung kembali mengarungi sebuah lingkaran yang seolah membentuk pusaran mengirimnya ke tempat yang lain.
Kali ini kembali ke kamarnya. Dia yang terduduk dihadapan meja belajarnya dengan halaman bagian pertama catatan Jungkook yang masih terbuka. Kepalanya bertumpu pada meja.
Rasanya pening kembali menghantam, membuatnya kembali merasa bahwa barusan hanyalah ilusi.
"Aku tertidur? Tadi hanya mimpi.."
Pernyataannya terdengar gamang dan terlihat lebih membutuhkan jawaban daripada tanggapan.
"Oh, sudah melihat halaman pertama rupanya. Ini lebih cepat dari dugaanku.."
Belum selesai dengan segala kekosongan yang tengah ia isi dalam rongga kepalanya, hantaman keterkejutan bertubi-tubi menghujami Taehyung. Disebalik punggungnya, sosok gelap sore tadi, muncul tanpa asal muasal di dalam kamarnya saat ini.
"Bagaimana menurutmu?"
Kerutan kebingungan tercetak jelas di dahi Taehyung saat ditanyai semacam itu.
'Apanya yang bagaimana?'
Seolah semburan jawaban yang seperti itulah yang ingin ia ledakan.
Namun urung, ia telan kembali.
"Itu buku harian Jungkook. Kau terus menanyakan siapa Jungkook dan apa dia bagimu, maka kuberi kau jalan. Sebuah kilasan balik yang dapat kau lihat. Dan bukankah sudah kukatakan untuk hanya 'lihat, dengarkan dan jangan lakukan apapun'? Kau bisa mengacaukan segalanya jika saja tadi kubiarkan kau menyentuh Jeon Jungkook."
Terdiam. Taehyung tak merespon apapun. Hanya kembali teringat sebuah dinding yang menghalanginya saat jemarinya hendak meraih Jungkook. Jadi itu maksud dari 'jangan lakukan apapun'?
"Sudah mendapat ingatanmu kembali? Jadi siapa Jeon Jungkook?"
Gelap kembali tersenyum, begitu hangat usai menunjukan raut mengeras. Namun tak cukup menghangatkan kondisi Taehyung yang masih sama menggigil. Segala kebingungan ini menelan segala kewarasan di dirinya.
"Aku.. aku tak tahu"
Maka hanya gelengan lemah dan jawaban putus asa yang ia lontarkan.
Mendapati jawaban sebuah senyuman memaklumi dari sang gelap.
"Mungkin pada lembaran berikutnya, Kim Taehyung"
Menghantarkan semilir angin malam yang menyalurkan denyutan nyeri pada sekujur indera, sosok gelap itu lenyap sekali lagi. Meninggalkan Taehyung dalam kesibukannya mengendalikan diri.
Kembali memandangi tulisan tangan Jungkook.
'Itu adalah awal perjumpaan kami. Taehyung hanya memintaku terus berlalu, tanpa mengetahui bahwa aku menunggunya. Hingga jeritan yang begitu lucu kutangkap, dia membiarkan dirinya sendiri tertangkap oleh pak guru demi membiarkanku.. cukup diriku saja yang selamat, dan dia berusaha memastikan itu'
'Aku tak pernah berharap agar pagi selalu datang begitu cepat semenjak perjumpaan kami'
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
Musim yang baru, meminta sambut.
Segala hal baru, menunjukan diri terlepas dari kabut.
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
Riakan sungai yang mengalir tanpa halangan bongkahan es beku. Menatapinya dalam haru.
Lajur yang tak seharusnya menjadi jalanan yang Taehyung tempuh. Sebuah jembatan yang perlu baginya untuk memutar lebih jauh namun panggilan ajaib membawanya ketempat ini.
Satu lagi sebuah misteri yang tak ia pahami.
Walau segala ingatan musnah, namun hatinya terus mengingat segala rasa.
Diatas jembatan ini, mengirim sebuah perasaan kerinduan. Kehangatan yang merengkuhnya.
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
"Aku hampir menyerah, sungguh.. tapi bayanganmu terlalu nyata untuk tak kuhiraukan. Segalanya meremukanku, Jungkook-ah. Kenapa kau tak muncul saja dan membantuku meraih segalanya?"
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
-akhir dari bagian kedua-
Sepertinya menimbulkan banyak kebingungan disini dan kebosanan, tapi terima kasih untuk yang sudah menyempatkan membaca sampai pada baris kalimat ini.
Mind to review?
Regards,
Pyrhos's
