**Disclaimer**
Bungou Stray Dogs just by Asagiri Kafuka & Harukawa Sango
WARN : BoysLove, ABO, Lime/Lemon, OOC, Typo (always)
.
.
LOVELECTRY
CHAPTER II
Tiga jam, kira-kira itu waktu yang Dazai butuhkan untuk menemukan sebuah toko dengan plat 'Nakahara' kecil di depannya. Memang yang dikatakan Kunikida subuh tadi benar. SideD8 itu tempat yang tidak tersentuh hukum dan petugas keamanan walau Distrik 8 sendiri sangat menjujung tinggi hukum dan merupakan wilayah dengan keamanan tertinggi daripada 7 distrik lainnya.
Dazai sudah menyiapkan mentalnya, menyiapkan penampilannya, dan yang terpenting menyiapkan kata-kata untuk bertemu Chuuya. Seorang omega yang entah kenapa dari semalam suara, aroma, dan rupanya selalu lewat di pikiran Dazai.
Pintu dibuka kemudian Dazai masuk dan langsung disambut bau oli serta peralatan kemesinan yang tidak ia kenal selain obeng dan tang.
"Maaf, hari ini buka jam dua belas." suara itu bukan milik Chuuya melainkan seorang anak laki-laki berumur sembilan atau sepuluh tahun.
"Oh, aku mencari Chuuya, maksudku Nakahara." Jawab Dazai dengan senyum ramah andalannya.
Sejenak bocah lelaki itu melihat Dazai menyelidik, lalu ia tersenyum, "Aku panggil dulu, silahkan duduk."
Sebelum Dazai bertanya dimana ia bisa duduk, anak itu sudah pergi dan menghilang di balik pintu. 'Yah sudahlah, kalau tempatnya unik begini juga lebih menarik melihat lihat. Lalu, 'mech' di kotak itu maksudnya mekanik yah.'
Satu persatu ia melihat mesin-mesin yang tidak tahu apa fungsinya. Barang-barangnya dari rongsokan, namun bisa jadi mengkilap, bahkan menjadi hiasan berbentuk hewan. 'Tidak buruk' pikirnya.
"Apa maumu?" suara familiar —yang entah kenapa terasa sangat ia rindukan padahal baru semalam mendengarnya— itu akhirnya sampai ke telinganya.
Dilihatnya Chuuya yang mengenakan celana ponggol di atas lutut dan kaos putih oblong —yang kendur di lehernya hingga memerlihatkan bahu putih yang memaku perhatian Dazai— tengah berkacak pinggang dengan sexy disertai tatapan permusuhan di sebelah meja kasir.
'Apa tidak bisa diskip saja cerita ini dan biarkan aku memperkosanya? Sekarang! Disini!' Dazai untuk kesekian kalinya terpana, namun sangat disayangkan keinginannya tidak bisa terwujud sekarang.
Setelah menelan ludah ia menjawab dengan senyum manis tanpa mengungkapkan pikiran bejadnya barusan, "Chuuya, masih pagi. Jangan seram begitu."
Sayang sekali senyum manis —yang konon melumpuhkan seluruh wanita bahkan pria saat dia lewat— itu tidak berefek pada Chuuya yang berkata "Kalau tidak mau beli, keluar sana. Aku sibuk.." seraya memberi isyarat pengusiran dengan tangannya.
Tapi bukan Dazai kalau tidak bisa mengatasinya, dengan santai dan senyum yang setia terukir di bibir tipisnya ia memancing Chuuya, "Kau tidak tanya kenapa aku bisa tau rumahmu ini?"
Sesuai prediksi, Chuuya terpancing. Sapphire yang tadi terlihat sekedarnya kini diam-diam mengintip di sudut mata. Dia penasaran.
"Kau penasaran kan?" telak, Dazai bisa melilhat bibir tipis itu mengerucut kesal. Manis juga. "Aku akan beritahu, kalau kau temani aku sarapan. Tadi aku lihat kafe di dekat sini."
Tatapan menggoda Dazai dibalas dengan tatapan penuh curiga Chuuya. Walaupun ada keraguan mengenai apa yang bisa si mungil itu pikirkan tentang pria jangkung di depannya. "Tunggu disini." Ia menjawab singkat lalu pergi.
'Disuruh menunggu lagi, kalau kau mau mandi atau ganti baju aku diajak sajalah…' Dazai kembali berkomentar di pikiran nistahnya.
Kurang dari lima menit Chuuya sudah kembali, kini dengan jeans hitam panjang, masih dengan kaos yang sama hanya ditutup hoodie coklat yang dikancing hingga dada. Yap, cukup membantu karena Dazai tidak melihat bahu pelamah iman itu lagi.
Sepanjang jalan mereka berjalan bersebelahan, dan di sepanjang perjalaan itu Dazai mencium aroma manis, sangat manis dari Chuuya. Shamponya mungkin. Tapi apa ada shampo seharum itu di wilayah seperti ini? Dazai mengingatkan dirinya untuk bertanya nanti. Dan rasanya ia harus cepat karena tidak bisa berlama lama dengan aroma itu, membuatnya gila, seperti afrosidiak.
Saat tiba di kafe itu, Chuuya langsung menuju tempat duduk di sudut, terjauh dan sepi dari orang-orang. "Jangan bertele-tele, langsung jawab saja." ucapnya.
"Heh, mana boleh seperti itu. Kesepakatannya kau harus menemaniku sarapan. Sambil sarapan, kita mengobrol." Dazai melempar senyum polosnya lalu memanggil pelayan. Sementara Chuuya, ia hanya berdecih kesal.
"Omerice satu dan cappuccino satu yah. Lalu Chuuya?"
"Tidak usah, aku tidak bawa uang." Jawabnya singkat, benar-benar tidak berniat menemani Dazai serpertinya.
"Aku yang baik ini akan membayarnya, kau mau apa? Atau kupesankan saja? Atau sama saja?"
"Tapi aku tidak mau.."
"Chuuya, kau tidak boleh menolak niat baik orang loh.."
Raut Chuuya berubah, "Kau yang bayar?" Dazai mengangguk sebagai jawaban, sungguh membingungkan. Seumur umur tidak pernah ada yang mau membayar untuk Chuuya, walau cuma sarapan. Lantas ia mengambil menu, lalu membacanya. Makanan di sana bisa ia buat sendiri tapi kenapa banyak sekali angka di kotak harga. Dalam hatinya ia segan memesan karena takut menyulitkan Dazai.
Dazai kembali melihat perubahan raut itu. Kejudesan tadi hilang berganti dengan gelisah. Seperti malam itu. Dazai tidak tau Chuuya orang yang baik atau jahat, tapi wajah cantik yang ekspresinya bisa berubah-ubah dengan cepat —hanya dengan alasan simple yang bahkan kadang Dazai tidak tau apa—, ia benar benar tidak bisa lepas dari pesona Nakahara Chuuya.
"Aku tidak tau, kau saja yang pesankan." Kali ini benar benar ada rona merah di pipinya. Bukan ilusi seperti yang kemarin malam Dazai lihat. Melihat itu, tanpa sadar si surai coklat tersenyum, "Kalau begitu pancake madu dan lemon tea ini saja. Bagaimana?"
"Terserah.." ah, kontras itu semakin jelas, begitupun aroma manis yang sampai ke hidung Dazai.
Setelah pelayan itu pergi, yang ada hanya keheningan. Dazai menunggu Chuuya untuk bicara atau bertanya, sedangkan Chuuya tengah berpikir apa yang bisa ia katakan. Yah memang, ia ingin tau bagaimana bisa Dazai sampai ke rumahnya, ia juga ingin tahu kenapa Dazai mau mentraktirnya sarapan sampai mencari alasan agar Chuuya mau. Lalu ia juga ingin tahu tentang apa yang Dazai pikirkan tentang dirinya.
"Sudah selesai berpikirnya?" Dazai bertanya telak. Mengejutkan Chuuya yang langsung kembali dari pikirannya, "Jangan berpikir terlalu banyak, Chuuya. Aku kasihan melihat wajahmu kalau sedang berpikir."
"Hah?!" oke, Chuuya kesal sekarang. Ucapan pria yang menggunakan kemeja cream dan rompi hitam di depannya itu sangat tidak membantu.
"Begini saja," ucapan Dazai terpotong oleh pelayan yang menyajikan pesanan mereka. Setelah berucap terimakasih ia melanjutkan, "Kita akan bertanya satu pertanyaan secara bergantian, bagaimana? Dimulai dari aku."
"Baiklah.." Chuuya menurut.
"Chuuya, kau seorang mekanik ya?"
"Iya.. Seperti yang kau lihat, yang tadi itu rumah sekaligus tokoku. Nah sekarang giliranku," Chuuya menjawabnya dengan singkat lalu melanjutkan, "bagaimana kau tau rumahku?"
Dazai menyeruput cappucinonya kemudian ia merogoh kantung dan memberikan kotak P3K kecil pada Chuuya. "Semalam kau tidak memintanya dan aku lupa mengembalikannya."
"Ohh ini…. Aku bahkan tidak sadar ini hilang. Aku tidak memeriksa barang barangku semalam." Chuuya menyimpan kotak itu di kantung hoodienya.
"Chuuya, belum pernah ada yang mentraktirmu yah?" sekali lagi telak. Bagaimana pria itu tau apa yang ada di pikiran Chuuya.
Mekanik itu hanya menggeleng lembut sebagai jawabannya. "Lalu giliranku-"
"Aku tidak mau jawab kalau kau tidak makan atau minum."
Kaget, itu yang bisa Dazai lihat di wajah Chuuya sekarang. Bahkan saat kaget pun dia masih cantik. "Ayo makan sini.." inisiatif, atau mungkin modus, Dazai memotong pancake itu dengan garpu sebelum mengarahkannya ke mulut Chuuya.
Mata biru itu membulat dan ada semburat merah tipis di sana, malu bercampur kesal, namun Chuuya membuka mulutnya. Satu suapan masuk, dan dengan itu senyum kembali menghiasi wajah Dazai yang tampan.
"Puas kau?! Sekarang—"
Lagi-lagi kalimatnya dipotong Dazai. Kini dengan tanga pria itu yang ada di hadapan Chuuya, mengisyaratkan untuk berhenti bicara, "Kunyah dulu, lalu minum lemon teanya, setelah itu baru bicara."
Menyebalkan sekali dia, tapi entah kenapa Chuuya malah menurut dan melakukan yang dimintanya. Sebelum Chuuya meneguk tehnya, Dazai menambahkan, "Kalau kau tidak memakannya, akan kusuapi sampai habis." Dan sukses membuat Chuuya tersedak.
"Gila kau ya?!"
"Lebih gila mana sama orang yang meledakkan rumah bangsawan dalam semalam?"
Chuuya menggeram, "Iya. Aku mengerti! Aku makan! Sekarang giliranku!"
"Silahkan.." muncul lagi senyum manis –sialan– yang menggoda Chuuya untuk mengikat pria itu di lampu jalan sebrang kafe ini.
"Kenapa repot repot datang ke SideD8 hanya untuk mengantar barang itu? Sampai mengajak dan membayariku sarapan, bukannya terbalik?"
Dazai terdiam. Dia sendiri tidak tau harus memberi jawaban apa untuk pertanyaan itu. Bukan karena tidak mau, tapi dia tidak tau. Dazai paham di awal, ia datang untuk bisa bertemu lagi dengan Nakahara Chuuya, untuk bisa berkencan atau mungkin tidur bersama malam nanti. Mengajak sarapan atau tanya jawab seperti ini bukan rencananya.
"Oi, Dazai Osamu!"
"Iya Chuuya, aku dengar." ia menghela napas. "Kalau kubilang, aku ingin berkencan denganmu, bagaimana?"
Harapan Dazai untuk melihat rona merah itu lagi tidak terpenuhi. Chuuya hanya terdiam dengan mata birunya yang melihat mata Dazai. Beberapa detik sunyi sebelum akhirnya, "Hah? Kencan? Denganku? Kau ini benar benar gila yah?"
"Memangnya kenapa?"
"Mana ada yang mau melakukan hal-hal seperti itu denganku. Dasar bodoh.." Chuuya menjawabnya tak acuh, fokus pada pancakenya yang tinggal setengah. Reaksi yang sama seperti saat seorang gila memberi berita kalau besok akan kiamat, tidak akan ada yang peduli. Namun Dazai adalah Dazai, jika itu penting ia akan membongkarnya sampai ke dasar. Tapi kenapa hal ini menjadi penting?
"Selanjutnya pertanyaanku, kenapa tidak ada orang seperti itu?"
"Itu pertanyaan sulit." Chuuya meneguk tehnya, "Kau lihat, aku miskin, bodoh, jelek, kumuh, lusuh, cacat, asosial, hobiku meledakkan rumah atau mencari masalah dengan para orang kaya, mungkin karena itu." ia tertawa di akhir kalimatnya. Bukan tawa paksaan, ia melihat dirinya sendiri dan menertawakannya.
"Begitu kau memandang dirimu Chuuya?"
"Hm?" nada sendu itu menarik perhatian Chuuya. Raut yang tidak pernah Chuuya lihat tertuju padanya. Raut yang tidak pantas ditujukan untuknya "Kenapa?"
'Aku juga tidak tau'
Dazai kembali ke dalam pikirannya.
Kembali ke awal, seharusnya Nakahara Chuuya hanya menjadi mantan-mantan teman malamnya yang lain. Tidak ada perasaan peduli, sedih, ingin tau, menolong, seharusnya tidak ada. Tapi kenyataannya, saat ini Dazai ingin sekali menarik pria mungil itu ke pelukannya. Walaupun orang itu tidak butuh, tapi Dazai ingin. Bagaimana bisa ada makhluk serapuh dia masih bisa hidup di dunia yang penuh keputus asaan seperti ini?
"Kau melamun lagi…" sebuah cubitan di tangan membangunkan Dazai dari pemikirannya. Sebuah sentuhan singkat dengan kulit hangat Chuuya. "Jawaban Chuuya tidak bisa dipahami sih. Jadi aku harus berpikir dulu kan.."
"Hah? Jadi kau mau bilang itu salahku?"
"Aku tidak bilang begitu kok.."
"Sialan kau!"
"Nah,, karena aku sudah selesai sarapan, tanya jawabnya juga selesai. Ayo keluar."
Dazai meletakkan uang di atas meja, sesuai janji ia yang membayar semuanya. Chuuya hanya bisa melihat setumpuk uang yang keluar dari kantung Dazai hanya untuk seorang seperti dirinnya. "Hei." Ia memanggil Dazai begitu melewati pintu masuk kafe itu. "Memang aneh rasanya. Menurutku aku harus ganti uangmu."
Dazai tertegun karena ucapan itu. Baru beberapa saat lalu Dazai memujinya dengan sebuah ironi paradoks, tapi sekarang ia berpikir —pria yang ditraktirnya ini bodoh atau apa yah?
"Buat apa? Kan aku yang mengajakmu."
"Tetap saja rasanya asing. Aku tidak pernah makan, minum, atau menggunakan sesuatu selain dari hasil pekerjaanku. Dan kita juga baru bertemu semalam, bahkan belum ada dua belas jam. Bukankah itu aneh kalau tiba-tiba kau mengajakku sarapan dan membayar semuanya?"
"Ya ampun Chuuya.. Ini hanya sarapan. Tidak ada yang aneh dengan mentraktir orang lain sarapan."
"Tapi kan—"
"Iya iya.. Aku mengerti." Dazai sekali lagi menyadari kalau Chuuya itu benar benar keras kepala. Berdebat dengan melihat wajah memelasnya itu tidak akan berakhir baik bagi Dazai jika dilanjutkan. Mengalah, Dazai berkata, "Besok kalau aku datang lagi, buatkan saja aku pancake dan lemon tea seperti tadi." ucapnya.
"Baik." kali ini Dazai kembali bingung karena Chuuya menurut dengan mudahnya. Padahal tadi itu hanya permintaan asal-asalan yang sekedar lewat. Bahkan ia tidak tau Chuuya bisa masak atau tidak. Tapi yah sudahlah, yang penting pria itu berhenti merengek dengan wajah minta disiksa seperti tadi. Urusan besok pikirkan besok saja.
Mereka hanya berdiri di sana beberapa lama, Chuuya tidak tau bagaimana caranya mengatakan 'terimakasih sarapannya' karena akibat syarat itu ia harus mengucapkan 'sampai jumpa' walau sebenarnya ia tidak ingin berjumpa lagi dengan Dazai.
Sementara Dazai, dia sangat mengenal dirinya sendiri yang pasti akan memperlama kesempatan untuk lebih dekat dengan Chuuya bagaimanapun caranya. Seketika matanya melihat sebuah keramaian yang tidak biasa di daerah itu, "Itu apa Chuuya?" tanyanya seraya menunjuk ke arah kerumunan seratus meter dari mereka.
"Oh, tempat wisata. Sebuah danau besar."
"Ayo kesana.."
"Hah? Untuk apa?"
"Aku ingin lihat, ayo pandu aku." Dengan cepat ia menyambar topi yang bertengger di kepala Chuuya. Membuat pria itu memekik kaget dan mau tidak mau mengikuti Dazai yang berlari ke arah gerbang danau.
"Karena sudah di sini, temani saja aku yah Chuuyaaaa~~"
Perempatan kesal muncul di dahi Chuuya, tangannya mengepal geram ingin meninju si brunette, namun batal saat Dazai memasangkan kembali topi itu di kepala Chuuya. Menepikan benang-benang jingga itu ke telinga yang memerah, "Nah, sudah manis lagi." Dan kini merah itu merambah ke wajahnya.
"Aku temani sampai jam dua belas oke?"
Dazai mengangguk senang dengan senyum menang, membiarkan Chuuya yang lucu itu melewatinya dengan tertunduk dan mencibir ingin memutilasi Dazai.
Di tepi danau ia berhenti di belakang si mekanik yang melihat danau itu dengan tatapan nostalgia. "Sudah lama sekali tidak kesini. Dulu tidak seramai ini."
"Chuuya pernah ke sini?"
"Dulu, saat masih sembilan tahun aku naik perahu sampai ke tengah, tiba-tiba dayungnya terjatuh dan tenggelam. Karena tidak bisa mendayung, akhirnya aku nekat berenang. Bodoh sekali." Ia tertawa. Tawa yang memaku pandangan Dazai karena ada kepahitan di sana.
Mata hazelnya menelaah tempat ramai itu. "Kenapa ada tempat seperti ini di Side?"
"Untuk menikmati hidup. Semua orang pasti butuh yang namanya liburan kan? Karena itulah mereka yang jenuh dengan kehidupan keras di SideD8 akan pergi kemari untuk menghilangkan penat. Kau lihat kan? Penduduk Side juga orang biasa yang perlu mengajak peliharaannya jalan-jalan, piknik dengan keluarga, bermain air dengan teman sebaya, atau berkencan dengan kekasih."
"Kencan yahh.." Dazai kembali menelaah sekeliling. Memang di tembat ini banyak sekali pasangan yang berkencan. Di bawah pohon oak, di tepi danau, di pinggir pagar taman, atau hanya berjalan dengan berpegangan tangan.
Melihat itu, manik kakaonya beralih pada tangan Chuuya yang tertutup gloves hitam. Iseng, Dazai mencoba meraih tangan itu. Namun secepat refleksnya bisa bekerja, Chuuya entah dengan gerakan apa mengunci tangan dan menendang kakinya hingga akhirnya ia terjatuh di atas rumput hijau dengan Chuuya yang duduk diatasnya. Teringat waktu pertama bertemu, tapi kini Chuuya yang terkejut.
"Ya ampun. Kupikir siapa, ternyata kau." Ia langsung melepas jegatannya dan berdiri.
"Chuuya, kau ini mekanik atau pegulat sih? Sakit loh terbanting dengan punggung dan langsung diduduki olehmu."
"Maaf. Aku terkejut tiba-tiba ada yang menyentuhku."
"Kau pikir apa? Penculik?"
"Alpha yang tertarik, mungkin."
Wajah itu lugu, namun Dazai tidak mengerti. Tadi dia bilang tidak ada yang tertarik dengannya tapi sekarang dia bilang alpha yang tertarik. Dazai tidak mengerti, atau lebih tepat, belum bisa dimengerti.
"Yang lebih penting," Chuuya kembali bersuara, "kenapa tiba-tiba kau menyentuh tanganku?"
"Oh ituuu…" Dazai melempar senyum polos, "Aku ingin kita bergandengan tangan dan berkencan selayaknya kekasih."
…
…
…
"Hah?" satu kata dari Chuuya setelah hening yang lama. Namun Dazai tidak terkejut, malah akan aneh kalau reaksi Chuuya berbeda dari ini.
"Begini… Aku mulai mengerti dirimu sejak di kafe tadi. Aku tidak berniat mengatakannya karena Chuuya pasti akan berkata aku salah walau kenyataannya aku benar." Terlihat Chuuya mengangkat sebelah alisnya bingung. "Yang jelas, karena sudah mengetahui itu aku semakin merasa sangat-sangat ingin berkencan denganmu. Ayolah, sekaligus Chuuya melepas penat. Bukankah Chuuya juga manusia biasa yang butuh kesegaran?"
Dazai meyakinkan dengan mengedipkan sebelah matanya, "Sampai jam dua belas."
Samudra kembar itu masih menjelaskan kalau Chuuya masih berpikir, dan akhirnya ia menjawab dengan mengenggam tangan Dazai.
Kaget. Dazai mencerna dalam kepalanya kenapa jantungnya berdebar begitu Chuuya menyentuhnya. Seharusnya ia yang membuat Chuuya berdebar, bukan sebaliknya.
"Sampai jam dua belas yah.."
Tapi bagaimanapun juga rencana Dazai behasil. Perlahan, walau Chuuya itu sekeras es batu abadi, tapi perlahan Dazai akan meluluhkannya. Dengan ucapan kecil, dengan sentuhan kecil, dengan perhatian kecil, bahkan walau mereka tidak tau hal-hal kecil itu akan menjadi cinta yang sangat besar di kemudian hari.
"Sekarang kita mau apa? Aku tidak pernah berkencan."
Sejujurnya Dazai juga tidak begitu yakin dengan dirinya. Jika yang dimaksud berkencan adalah berhubungan intim di atas ranjang sepanjang malam, ia sudah lebih dari pengalaman. Tapi jika yang dimaksud berkencan adalah melakukan hal-hal romantis seperti berjalan bersama ke arah matahari terbenam sambil berpegangan tangan, zero, Dazai tidak pernah melakukan itu dalam hidup dan mimpinya.
"Ayo naik perahu." Terimakasih pada kecerdasan Dazai yang bisa mencari jawaban dengan cepat.
Chuuya tidak sempat menjawab saat tangannya digenggam balik dan ditarik oleh Dazai. Chuuya tidak mengerti kenapa bisa dia begitu menurut pada pria gila satu itu. Sungguh.
Kira-kira setengah jam, mereka sudah berperahu sampai ke tengah danau dengan perahu sewaan yang dibayar dengan uang Dazai. Tempat mereka berhenti mendayung sepi, riak-riak kecil dari ikan yang berenang membisik suara jernihnya air. Sedikit berkabut walau hampir tengah hari. Rasanya menenangkan.
"Dazai?"
"Ya Chuuya?" Dazai balas memanggil Chuuya dengan senyum mengembang bahagia.
"Seperti katamu, aku butuh liburan dan aku sedang menjalankannya dengan menaiki perahu ini. Tapi, aku tidak bisa paham satu hal."
"Apa itu Chuuya?" Dazai memerlebar senyum manisnya.
"Kenapa kau terus menggenggam tanganku sejak kita berhenti mendayung. Dan kenapa kau harus duduk di depanku padahal ada setengah meter lagi di belakangmu?"
Raut malu itu sungguh menggemaskan. Dazai sudah melihatnya berkali-kali hari ini, namun rasa bosan belum menganggunya. Malah ia merasa tidak akan bosan jika terus melihatnya 24 jam sehari.
"Chuuya sayang,,," suara Dazai melembut, disengaja untuk meluluhkan si sinoper namun air muka lugu yang merona itu tidak berubah. Dazai mengeratkan genggamannya, memikat, lalu lanjut berkata, "Aku kan sudah bilang kalau aku ingin berkencan denganmu. Kalau kau menganggap ini liburan, silahkan. Tapi aku menganggap ini kencan. Jadi, sekarang boleh aku minta cium?"
Iris sapphire itu tampak sepenuhnya, kaget, semburat itu semakin merah. "Tu-tunggu!" Chuuya tergagap, gemetar, tubuhnya mundur saat Dazai mencondongkan tubuhnya. Wajahnya tampan, putih, dengan garis muka yang terpahat rapi. Sangat indah dilihat mata biru Chuuya.
Sigap, Chuuya bangkit berdiri. Membuat Dazai berdecih karena gagal dengan rencananya. Padahal ia yakin sudah menggunakan suara, kata-kata, dan wajah yang tepat untuk situasi seperti pendekatan fisik.
"Ini tidak benar. Tidak benar…" Chuuya mengatur napasnya, ternyata godaan Dazai tidak gagal sepenuhnya. "Kita harus pulang. Maksudku, aku harus kembali untuk membuka toko."
"Chuuya pelit, padahal hanya saling menempelkan bibir saja." Dazai membuang tubuhnya ke belakang, bertumpu dengan tangan kokohnya. Ia membuang wajahnya yang merengut manis, namun tidak membuat Chuuya iba karena yang dikatakannya sangat salah bagi Chuuya.
"'Hanya' kau bilang?"
"Umm…" hazel itu bertemu dengan si azure. Mereka saling menatap, saling mencari di dasar masin-masing. Chuuya menemukan kehampaan tanpa rasa di dalam hazel, sedang Dazai menemukan kesepian yang sangat kuat di azure.
"Aku salah. Maaf.." Dazai berucap terlebih dahulu.
"Aku mau pulang. Putar perahunya." Chuuya mengabaikan maaf itu dan berniat kembali ke duduknya. Namun sebelum sempat bergerak, perahu itu oleng karena gelombang danau. Chuuya kehilangan keseimbangannya, jatuh sudah terlintas di kepalanya dan dia hanya menutup mata.
Dia pasti sudah jatuh ke dalam danau itu jika saja Dazai tidak menangkap tangannya dengan sigap dan menariknya. Walau berakibat Dazai kembali menjadi bantalan bagi Chuuya.
Tapi kini Chuuya tidak menduduki atau menancapkan pisau di lehernya. Pria itu hanya menyandarkan wajahnya di dada Dazai dengan tubuh gemetar. Aroma manis itu semakin pekat saat Chuuya hanya berjarak hati dengan Dazai. Jika bukan karena aura kelam yang terisat di tubuh pria itu, mungkin Dazai sudah memutar posisi agar Chuuya yang berada di bawahnya.
"Kau baik?"
Tidak ada suara yang terdengar, sebagai jawaban, jari-jari kurus Chuuya meremas kemeja cream Dazai. Apapun hal itu, Dazai hanya bisa mengetahui kalau rasa yang mengalir padanya ini adalah rasa takut. Chuuya sedang ketakutan. Tanpa ia sadari, tangannya sudah bergerak melingkari tubuh si mungil. Memeluk Nakahara Chuuya untuk melindunginya. Sesuatu yang tidak pernah Dazai lakukan.
"Sudah baik baik saja?" tanya Dazai begitu Chuuya keluar dari dekapannya dan mengangguk sebagai jawaban.
"Aku tidak bawa air, ayo kita keluar dari danau ini dan beli beberapa makanan." Begitu Dazai ingin mengambil dayung, tangan Chuuya menghentikannya lalu berkata "Aku ingin kita di sini sebentar lagi.
Dazai melihat warna gelap di permata favoritnya, sebuah perasaan yang untuk pertama kalinya Dazai melihat titik lemah dari kesendirian itu.
"Jadi, Chuuya takut air?" Dazai memulai topic dengan nada lembutnya. Tidak ingin menganggu Chuuya.
"Bukan itu."
"Takut ada buaya yah?"
Ada helaan napas terdengar, "Kau mau dengar ceritaku?"
"Ceritamu? Tentu saja! Aku ingin tau lebih banyak tentang Chuuya. Ceritakan padaku."
"Awalnya aku tidak takut sama sekali. Aku selalu ingin bermain di danau ini dulu." Dazai menyimak dengan baik sementara tangannya menggenggam tangan Chuuya. Pautan kecil itu tidak mengandung nafsu seperti yang sudah-sudah, hanya ada harapan agar sedikit saja ia bisa memberi Chuuya kekuatan melawan rasa takut yang menelannya saat ini.
"Tadi aku ceritakan pertama kali aku ke sini dan menaiki perahu bukan? Aku bohong saat bilang dayungnya jatuh. Sebenarnya saat itu aku pergi ke sini untuk menangis."
"Menangis?"
"Jangan meledekku."
"Kenapa aku meledekmu?" raut sedih itu ditangkap mata Chuuya.
"Ada apa dengan mukamu itu? Ceritaku baru awalnya."
"Sebentar, awalnya sudah mengharukan." Dazai menarik napas dalam, "lanjutkan."
"Dasar kau ini." Ada setarik senyum di sana dan itu cukup membuat hati Dazai kembali hangat setelah tertular ketakutan Chuuya.
"Hari itu benar-benar hari yang buruk." Chuuya memulai ceritanya, "Ibuku meninggal. Ayahku kesal, marah, lalu mengusirku setelah dia puas menendangku. Aku tidak tau mau kemana selain pergi ke tampat dimana tidak ada yang bisa merasakanku. Aku menerobos kemari, menaiki perahu hingga ke tengah. Lalu beberapa saat aku menangis disini, segerombolan anak datang mengerjaiku. Mereka datang dengan beberapa perahu lalu mengaitkan tali di perahuku, menariknya bergantian dari beberapa arah sampai aku tidak bisa berdiri bahkan duduk dengan tegak. Yang kulakukan hanya berpegangan pada sisi perahu dan memejamkan mata."
"Mereka mengambil dayungku, melemparkannya seperti bola tangan sampai dayung itu terjatuh ke air. Aku tidak bisa memikirkan hal yang akan terjadi selain sendirian di sini semalaman karena tidak bisa pulang. Aku pikir mereka juga memikirkan hal yang sama. Mereka melemparkan sebuah papan padaku, tapi aku tergelincir saat ingin menangkapnya. Seperti yang tadi terjadi, perahu bergoyang dan aku jatuh ke dalam air."
"Saat itu sekitar pukul tujuh atau delapan malam, hujan, pertengahan musim gugur. Airnya dingin sekali. Bahkan setelah bertahun tahun aku masih bisa merasakan tekanannya yang seperti menelanku. Semuanya gelap di dalam sana. Yang bisa kulihat hanya gelembung dari sisa napasku dan permukaan air yang semakin jauh. Semenjak itu, aku merasa takut kalau jatuh apalagi tenggelam."
"Chuuya…" Dazai mengeratkan genggaman tangannya. Membelai pipi Chuuya lembut untuk memberi pria itu kekuatan. "Jangan takut." Sambungnya. "Kalau kau jatuh aku akan menangkapmu. Kalau kau tenggelam, aku akan menarikmu kembali ke permukaan. Jadi, Chuuya tidak perlu takut lagi."
Senyum itu tulus, hangat. Seperti matahari yang meninggi di atas kepala mereka. Menyesakkan dengan lembut seperti uap air yang menyentuh kulit Chuuya.
"M-memangnya kau siapa hah?"
"Teman kencanmu.." tawa Dazai mengakhiri sebagai jawaban kalimat malu-malu Chuuya. "Lalu, bagaimana kau keluar dari air?"
"Oh, seorang kakek-kakek menyelamatkanku. Dia yang merawatku, dan mengajari tentang mekanika. Toko itu juga milliknya. Nama Nakahara juga miliknya. Aku tidak berhubungan dengan ayahku lagi sampai kudengar kabar dia meninggal karena kecanduan obat-obatan. Yah, aku sudah menebak dari jauh-jauh hari sih kalau dia akan mati dengan sebab itu."
Chuuya mengendikkan bahunya. Menutup mata seakan itu bukanlah hal yang penting. "Ngomong-ngomong Dazai,"
"Hm?"
"Sampai kapan kau menggenggam tanganku seperti itu?"
"Tentu saja sampai aku puas."
Lalu pukulan Chuuya mengakhiri pembicaraan mereka setelah senyum laknat Dazai. Mereka kembali ke tepi, Dazai membeli sebotol air mineral, memberikannya dan kembali mengikuti Chuuya yang sebenarnya sudah tidak peduli. Terserahnya sajalah.
"Oh iya," Dazai bersuara, "kafe yang tadi masih Distrik 8 kan? Atau sudah masuk wilayah Side?"
"Perbatasannya. Di wilayah lain mungkin dibatasi oleh kawat kawat rendah tapi daerah ini istimewa. Kau lihat itu?" Chuuya mengarahkan matanya ke sebuah patung seekor burung elang. "Itu batasnya."
"Hmmm….. Unik juga. Orang-orang Side8 tidak mencurinya? Pasti patung sebesar dan seartistik itu mahal kalau dilelang kan?"
Benar memang. Ukurannya sebesar Chuuya, warnanya hitam legam, mengkilap dan bersih. Di matanya ada batu merah yang menyala nyala memantulkan cahaya matahari yang bersinar terik. Dazai beralih melihat pria di sebelahnya yang membalas dengan mata kecewa. Apa dia salah bicara?
"Aku miskin memang, tapi aku tidak mencuri, Dazai."
Tepat. Ucapan itu memukul si brunet, memaku kakinya. Nada sendu itu sampai ke telinganya dan ketika itu juga ia mengutuk dirinya yang mengatakan hal remeh itu.
"Maaf Chuuya." Ia memohon. "Bukan maksudku." Kenapa ia memohon?
"Tidak apa. " Chuuya kembali berjalan diikuti Dazai.
"SideD8 itu tempat yang ganas, itu benar. Tapi bukan berarti tidak ada hukum dan peraturan di sini. Tempat ini hanya tidak tersentuh aturan pemerintah yang mengutamakan kaum atas. Di sini, kami hidup dengan aturan tidak tertulis yang melarang kami untuk merugikan alam dan orang lain. Saat ada yang ketahuan melanggarnya, walau sedikit saja, saat itulah hidup hanya tinggal kenangan saja. Tapi yah.. Tidak ada orang sepertimu yang tau itu. Biar dibilang orang baik dan dermawan sekalipun, di duniamu tidak benar benar ada orang yang hidup tanpa menginjak orang lain kan?"
Setiap kata diucapkan dengan penuh rasa, seakan pria itu mengatakan 'dunia kumuh tempat aku hidup ini lebih baik daripada pora-pora di kota sana'. Dia benar benar berbicara melalui hatinya pada Dazai.
"Kau kuat sekali Chuuya." Dengan lembut ia memuji.
"Apa?"
"Tidak. Aku hanya bilang, tatanan rambutmu aneh sekali, Chuuya." Dazai tersenyum jahil seraya memainkan ujung rambut jingga Chuuya dengan jarinya. Ternyata rambutnya selembut ini, wangi.
"Hah? Aku rasa bukan itu yang kau katakan tadi."
Karena Chuuya menolehkan wajahnya tepat saat Dazai membaui helaian rambut panjang di bahunya, membuat mata mereka bertemu. Sangat dekat sampai Dazai bisa merasakan aroma manis itu lebih pekat. Memandang mata biru indah itu lebih dalam, "Kau indah sekali Chuuya…"
Kini ia bisa melihat kulit putih di wajah Chuuya menyala merah. Seketika pria mungil itu melompat mundur, "A-apa?!" Tergagap, membuat wajahnya tambah manis dan Dazai ingin sekali menciumnya sekarang.
"K-kau ini bi..bicara apa ..hah?" Chuuya memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan malu. Sementara Dazai hanya tersenyum manis berusana menahan nafsu dengan tingkah menggemaskan itu. "Kau ngapain juga lama lama di sini? Sudah pulang sana. Hush hush..!"
"Tega kau mengusirku, Chuuya?"
Wajah memelas itu tidak imut sama sekali, dan Chuuya sudah cukup dengan hari yang aneh dan tidak biasa ini. Dengan penuh kasih sayang dia pun mendorong Dazai menjauh untuk bisa pulang, atau minimal pergi sajalah dari pandangan Chuuya karena –Demi Tuhan- panas yang membakar wajah ini sungguh memalukan!
"Iya iya aku pulang. Aku akan pulang. Tapi…." Dazai menggantung kalimatnya, membuat Chuuya berhenti dan melihatnya, masih dengan rona merah di pipi. "..tapi, setelah Chuuya memberi 'Good Bye and See You' kiss".
Dengan senyum laknatnya, sejenak Dazai bisa melihat bongkah es situ membulat pertanda Chuuya sendang berpikir. Indah sekali, seperti bulan biru di langit putih. Tapi tak lama, ia kembali melihat nyala merah yang naik ke wajah pria itu. Segera Dazai putuskan, ia akan sering sering menggoda Chuuya karena keluguan mekanik itu sungguh menghasilkan sebuah mahakarya.
Yah, walau berujung dengan sikutan di tulang rusuknya seperti yang barusan, lalu disambung dengan "Mati saja kau sialan!" dengan nada tinggi.
TO BE CONTINUED
Ini M kok.. Masih M, cuma belum waktunya. Sabar saja yah...
Kalau ada typo, maaf ye.. Ga diedit lagi soalnya. Dan sekali lagi, ini ff omegaverseku yang pertama jadi banyak banget kekurangan. Karena itu, jika ada saran/kritik/komentar apa aja terutama yang membangun, berikan padaku~~
.
btw, karena ujianku sudah selesai, aku akan mulai melanjutkan ff-ff yang terbengkalai itu. Walaupun mungkin sudah terlupakan tapi sayang ga dilanjut ampe happyend.. Ya gak ya gak? ya dong~
.
Demikian dariku, chapter 3 akan dilanjutkan setelah saya up unbl. Mungkin kamis depan, diusahakan secepatnya deh.. :'v
See you~
