Lovepedia :
(A True)
.
.
.
Pair :
Johnny x Hansol
Warning!
Oneshoot, Boys Love,
Typo's, OOC, Rated-T
Enjoy!
.
.
.
Untuk pertama kali setelah sejak pindah ke Seoul dua tahun lalu, menjadi siswa popular dan memiliki penggemar, Johnny jatuh cinta pada pemuda kalem berambut pirang—teman terdekat dikelas. Semangat belajarnya terasa sempurna, setidaknya ketika nama Ji Hansol terngiang dalam kepalanya tiap kali ia pergi ke sekolah.
Johnny akan terus tersenyum bila didekat Hansol, tapi tidak untuk kali ini. Padahal sekarang hari kelulusan mereka. Alih-alih bahagia, Johnny menekuk wajah sedari terakhir membaca pernyataan dirinya telah lulus.
"John, senyum." Hansol terkekeh, melihat bagaimana ia menarik kedua pipi Johnny, agar bibir pemuda yang lebih tinggi itu terlihat tersenyum. "Kau ini kenapa 'sih?"
Johnny belum menjawab, setelah Hansol melepas tangan dari wajahnya ia seolah merasa hampa, kehilangan sentuhan lembut itu meski Hansol sempat mencubit pipinya keras. "Nanti malam kau tidak boleh kemana-mana."
"Huh? Memangnya kau siapa melarangku per—"
"Kita harus bicara, hyung." Itu ucapan terakhir Johnny sebelum ia mengusap kepala Hansol, "Jam tujuh. Tunggu aku dirumah." Membuat pemuda manis berambut pirang itu kebingungan, menatap punggung tegap Johnny yang menjauh pergi.
Lovepedia : (A True)
a NCT's fanfiction
Johnny x Hansol
Oneshoot, Boys Love, Typo's, OOC, Rated-T!
Hansol pikir ia akan dibawa Johnny ke pesta kelulusan yang di adakan sekolah, atau taman bermain, atau restoran, atau tempat apapun itu kecuali sejak Johnny datang ke rumah, mereka bahkan tidak pergi kemanapun.
Hansol menatap jengah pemuda yang memiliki darah Amerika itu, berpikir mengapa ibunya malah membiarkan Johnny masuk kalau tahu-tahu sibuk bermain game diranjangnya. Euforia kelulusan masih melekat, tapi Hansol benar-benar bosan.
"Kau menyebalkan, John." Hansol membanting tubuhnya sendiri pada kasur, berbaring tengkurap disisi Johnny yang sibuk bermain game di ponsel. Wajah Hansol beringsut menempel bantal, enggan menatap Johnny yang tertawa terkekeh-kekeh. "Katamu kita harus bicara. Kalau tahu begini lebih baik aku pergi."
Hansol semakin cemberut ketika Johnny malah tergelak puas. Ia beranjak dari kasur menuju balkon, menatap keindahan langit. Mengalihkan kekesalannya dengan melihat bintang-bintang di atas sana.
"Aku suka padamu. Itu yang harus kita bicarakan."
Hansol menoleh ketika Johnny tiba-tiba ikut berdiri disampingnya. Ia menggeleng, tak percaya mendapati wajah serius pemuda itu, perkataannya, tatapan matanya, Hansol tidak suka Johnny yang terlihat serius seperti ini. Kesannya ada rasa sakit terpendam, dan Hansol benci bila itu yang sedang terjadi pada Johnny.
"Jangan bercanda. Sebenarnya bukan itu 'kan yang ingin kau bicarakan denganku? Iya 'kan?"
"Aku tidak bercanda."
"Johnny Seo." Hansol berbisik, mencegah langkah Johnny yang hendak mendekat. "Kau—"
"Kubilang aku suka padamu. Aku sudah jatuh cinta sejak pindah sekolah." Johnny tidak bohong, atau seperti yang Hansol bilang, ia sama sekali sedang tidak bercanda. Johnny tumbuh besar di Chicago, kembali ke Seoul karna tuntutan pekerjaan ayah sekaligus menyelesaikan sekolahnya, dan sekarang atau mungkin beberapa waktu kedepan dia harus kembali ke tempat dimana ia dibesarkan. Tapi ia harus menyelesaikan masalah dulu—masalah 'hatinya' dengan Hansol.
"Aku serius." Suara pemuda itu merendah, seolah debar jantungnya terpendam ketika Hansol diam tak bergeming, menundukkan kepala. "Aku hanya ingin mengatakan ini dan.., orang tuaku akan kembali ke Chicago. Aku.., ikut mereka."
Hansol seketika mengangkat kepalanya untuk menatap Johnny. Ia merasa amat kesal, hingga saat ini Hansol nyaris menangis saking tak bisa menahan sesak didadanya karna ucapan pemuda itu, tapi disaat yang sama ia juga tidak bisa berbuat apapun. Johnny menyatakan cinta ketika dia akan pergi. Apa-apaan?
Dan sialnya, Hansol juga menyukai Johnny, setidaknya ia baru sadar ketika situasi sedang menegang seperti sekarang. Perasaan senang saat bersama Johnny, kebersamaan mereka, perhatian dan kebaikan Johnny padanya semata-mata hanya menganggap itu wajar, sebagai teman. Tapi debar jantung menggila ketika bersama Johnny menyadarkan hatinya—bahwa selama ini ia memiliki perasaan yang sama.
"Kapan kau berangkat?"
"Jam sembilan. Hari ini."
Hansol menunduk, melirik arloji putihnya pada pergelangan sebelah kiri, pukul delapan. Ia menatap Johnny lagi, pandangannya mulai buram seperti ingin menangis. Tersisa satu jam lagi dan Johnny akan pergi. Secepat itu?
"Brengsek!" Hansol rasanya ingin meledak, ia memukuli dada Johnny dengan kepalan tangannya yang lemah. "Kau menyebalkan, Johnny Seo!" Dan terus mengumpati pemuda itu dengan kata kasar, melampiaskan amarahnya. Bahkan lebih dari ini Hansol tidak pernah merasa marah seperti ini, meledak-ledak begini.
"K-kenapa baru bilang?" Hansol mulai lelah, tidak lagi memukul dan tergantikan dengan menangis. "Kenapa?"
Johnny menunduk, mempertimbangkan apa yang harus dilakukannya ketika tangis Hansol perlahan berhenti. Untuk beberapa detik mereka kembali mengangkat kepala bersamaan, menatap satu sama lain. Johnny tidak mau menjawab pertanyaan Hansol sebelumnya, baginya perasaan mereka lebih penting dari apapun.
"Untuk kali ini, aku akan mengatakannya lagi. Tidak peduli kau menjawab ya atau tidak, tapi aku tetap mengatakannya. Ji Hansol, aku suka—"
"Bohong!"
Johnny terkejut ketika Hansol menjerit, kembali menangis seraya meremas surai pirangnya. Ketika Hansol mundur beberapa langkah, ia kalah cepat dari Johnny hingga tubuh rapuh Hansol tertarik beringsut kepelukan pemuda itu.
"Kau tidak menyukaiku, John. Kau bohong!" Hansol meraung di dada Johnny. Sampai-sampai ia berpikir bahwa lebih baik dia patah hati lalu Johnny pergi menyisakan luka dihatinya. Hansol akan cepat melupakan hal seperti itu, dari pada mereka saling mencintai tapi Johnny pergi membawa separuh hatinya. Ini lebih menyiksa.
"Aku sayang padamu, hyung." Johnny berbisik di antara ia mengecupi puncak kepala Hansol. Aroma manis yang menguar dari sana akan selalu ia ingat, akan selalu ia rindukan.
"Aku benar-benar sayang padamu. Aku mencintaimu." Perlahan Johnny memberi jarak, kembali menatap Hansol yang kini bungkam. "Oke, tapi setidaknya beri aku alasan kalau kau tidak mau bersamaku, tapi jika kau menginginkanku, katakan 'ya'." Johnny mempertaruhkan hati pada pemuda di hadapannya ini, berharap besar.
Berharap apa yang ia inginkan akan terjawab dengan 'Ya' namun Johnny paham cinta tidak perlu melakukan itu. Dia tetap berdiri, mengamati tiap emosi dari pancaran mata indah Hansol. Menunggu dari tiap hela napasnya hingga Hansol berjinjit, tangannya melingkari leher Johnny untuk mempertemukan bibir mereka.
Johnny tersadar dari keterperangahan, juga menyadari satu hal, bahwa Hansol hanya diam mencium bibirnya tanpa menuntut. Tapi dengan segera ia mulai menyesap lembut bibir Hansol, hingga pemuda itu ikut membuka diri untuk membalas ciumannya.
Tapi sekali lagi Johnny harus pergi, perlahan melepas tautan mereka untuk memeluk Hansol erat. Pemuda itu membisikan kata-kata sayang, membuat Hansol ingin menangis lagi, namun dia menahan itu agar Johnny bisa tegar, meski ia juga perlu ketegaran.
"Terima kasih, hyung. Jaga hatimu sampai aku kembali."
Walau Hansol tidak atau belum menjawab, tapi setidaknya Johnny tahu apa kebenarannya. Bahwa mereka memang memiliki rasa yang sama, hati yang sama, meski akan berpisah tapi ia tahu mereka mampu bertahan.
Dan Hansol berjanji akan menyatakan perasaannya ketika suatu saat Johnny kembali, meski Johnny sudah tahu kebenaran hatinya.
FIN
.
.
.
Hai ^^ aku kembali dengan pair Johnny X Hansol di chapter 2. Suka ngga? Maaf ya updatenya lama, dan keknya aku bakal update seminggu sekali, huhuhu T_T
Couple lain bakal nyusul ya, req terbanyak bakal aku dahulukan, kkk~
Next/Req : Yuta x Ten, Mark x Haechan, Taeil x Doyoung, Winwin x Kun, Jeno x Jaemin.
Yang review kemarin, fav&folw ffku, terimakasih banyak, maaf belum bisa balas :')
Thanks for read~
.
.
.
wini
