.
.
Chapter 2
-The Kidnapper!-
.
.
Satu minggu pun telah berlalu…
Sekarang aku tahu alasan, Kenapa Ibuku mengundurkan diri dari pekerjaan yang sudah bertahun-tahun ia jalani sebagai seorang Sekertaris. Rupanya Ibuku telah menikah dengan pria yang sebelumnya tidak pernah aku temui. Igneel Dragneel, sekarang pria itu benar-benar menjadi Ayahku yang baru.
Lalu siapa Ayahku yang sebenarnya? Itu adalah pertanyaan yang selama ini sulit aku jawab. Sungguh, aku sendiri bahkan tidak tahu siapa Ayahku. Semenjak lahir sampai sekarang, aku hanya mengenal Irene Scarlet, Ibuku. Foto-foto yang ada di buku Album atau pun yang ada pada dinding rumahku hanya ada foto-foto aku bersama Ibu.
Foto Ibu saat masih mudah wajahnya benar-benar sangat mirip dengan diriku yang sekarang, lalu bayi yang sedang ia gendong dalam foto itu adalah aku. Lalu foto saat aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar bersama teman-temanku tentunya. Ada juga foto-fotoku saat duduk di bangku Sekolah Menengah. Dan yang terakhir adalah fotoku bersama Ibu pada saat setelah upacara kelulusan SMA.
Rumah ini benar-benar menyimpan banyak kenanganku bersama Ibu.
Tapi sayang, mulai hari ini semua kenangan lama itu akan terhapus. Semua isi rumah kediaman Keluarga Scarlet telah dikosongkan, termasuk kamarku. Di kamarku, aku sedang memilah dan memilih semua yang aku perlukan. Mulai dari pakaianku, buku-buku, alat-alat Cosmetik, dan beberapa koleksi jam tangan yang aku beli dengan uang saku sendiri. Semuanya telah aku kemas rapih ke dalam Koper.
Alvarez City, mungkin disana aku akan bertemu dengan kehidupanku yang baru.
.
.
.
Alvarez City, 05-Mei-2018
Syukurlah, aku selamat sampai tujuanku, Alvarez's Air Port. Aku sudah melewati beberapa lorong dan menghadapi para petugas melakukan memeriksaan Visa dan Pasport. Sampai akhirnya, aku berhasil keluar dari Bandara sambi menggiring Koper miliku.
Aku datang ke kota ini seorang diri. Itu karena Igneel –Ayahku yang baru- sudah membawa Ibuku pergi lebih dulu ke kota ini dua hari yang lalu. Benar-benar pria tua yang menyebalkan. Ngomong soal pria tua itu. Aku dengar dia mempunyai seorang putra tunggal juga dan katanya sebaya denganku. Sayangnya aku tidak sempat menanyakan siapa nama putra tunggalnya Igneel.
Ah sudahlah, lupakan…
Oh ya, katanya Ibu akan menjemputku kemari. Dari tadi aku memperhatikan ke sekelilingku, aku tidak menemukan keberadaannya. Kebetulan disekitarku ada bangku yang biasa dipakai orang-orang ketika saat sedang menunggu kerabat mereka. Baiklah, aku sudah menempati salah satunya, dan Koper milikku aku letakan di dekat kaki kananku.
Yah, baiklah. Sepertinya aku memang harus menunggu sebentar. Sama seperti orang-orang yang berada disamping kanan dan samping kiriku. Jika nanti Ibuku datang menjemputku, sudah pasti aku akan melempar diriku untuk memeluknya. Aku sangat merindukan Ibuku.
"Aw?! Sakit!" lirihku. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa ada benda tajam yang mencoba menusuk punggungku.
"Nona, jika kau masih sayang dengan nyawamu. Lebih baik kau ikut aku. Sekarang!"Apa?! Siapa pria yang berbisik dibelakang telingaku ini. Pria ini baru saja mengancamku. "Oh ya, kalau kau berteriak sekarang maka jangan salahkan aku kalau benda tajam ini tiba-tiba menusuk punggungmu. Mengerti?"
Jangan bilang kalau benda yang masih menepi dipunggungku ini adalah sebuah pisau! Erza, kau harus tetap tenang. Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah, aku baru saja men-sugesti-kan hati dan pikiranku. Yah, aku harus tetap tenang.
"Apa yang kau inginkan dariku?" lirihku.
"Aku ingin kau ikut denganku." Jawabnya.
Saat melirik ke belakang aku melihat pria berkacamata hitam, memakai topi, dan mengengenakan jaket kulit. Kalau aku perhatikan, pria ini terlihat masih mudah dan aku merasa kalau pria ini juga cukup tampan jika kacamata yang dia pakai itu dilepas. Apa yang kupikirkan? Dia adalah seorang perampok.
Apa sebaiknya aku berpura-pura mengikuti keinginannya? Maksudku, siapa tahu ada kesempatan untuk bisa lolos darinya. Tidak, aku sama sekali tidak sedang berpikir kalau nanti ada seseorang yang akan berperan sebagai Malaikat yang nantinya akan menyelamatkanku seperti dalam film-film.
"Hey! Kenapa kau diam saja?! Ayo ikut aku!" paksanya.
Baiklah, sekarang aku sedang mengikuti perintahnya. Aku telah meninggalkan tempat dimana aku duduk tadi. Aku terus melangkahkan kakiku bersama pria yang diam-diam masih menodongkan pisaunya dipunggungku. Entah kenapa aku tiba-tiba malah berharap ada seorang Malaikat yang akan menyelamatkanku.
"Ayo masuk!" Pria ini baru saja menyeretku paksa ke dalam salah satu Lift yang kebetulan pintunya sudah dalam keadaan terbuka.
Setelah pria itu ikut masuk ke dalam Lift yang sama denganku, pintunya pun secara otomatis bergeser menutup. Ia bergegas menekan tombol B2. Tubuhku terasa ringan begitu Lift yang aku naiki ini bergerak turun ke bawah. Akhirnya Lift ini berhenti bergerak dan pada saat itu juga pintu pun terbuka. Gawat! Rupanya pria berbahaya ini membawaku ke Parking Area.
"Ayo keluar!" lagi-lagi pria ini menyeretku keluar dengan paksa.
Bagaimana ini? Aku merasa nyawaku semakin terancam! Pria berbahaya dibelakangku ini terus menggiringku entah kemana. Di tambah lagi, aku tidak melihat seorang pun yang berkeliaran di Parking Area. Yang aku lihat hanyalah deretan mobil-mobil mewah yang satu-persatu aku lewati bersama pria dibelakangku ini.
"Berhenti!" perintahnya.
"I-Iya, baiklah." Turutku.
Sebenarnya apa yang dinginkan pria itu dariku? Dia tiba-tiba menghentikanku di depan mobil sedan berwarna hitam mengkilap. Sepertinya aku pernah melihat mobil ini di salah satu majalah milik Ibuku. Kalau tidak salah ini adalah mobil Honda Civic.
"Sini, berikan Kopermu!" Dan pria ini tiba-tiba merebut Koperku.
"Tunggu! Mau kau apakan Koperku?!" cercaku.
"Sudah diam!" Jika dia berniat mencuri semua isi Koperku itu percuma.
Jika ingin tahu. Di dalam Koperku hanya ada alat-alat Cosmetic, buku-buku Novel yang belum selelasi aku baca, dan sisanya adalah semua pakaianku termasuk- Oh, tidak! Jangan sampai dia mengeluarkan pakaian dalamku, karena itu sangat memalukan.
Tapi yang kulihat, dia sama sekali tidak membuka Koperku. Ia malah sedang membuka pintu belakang mobil Honda Civic yang ada di depanku ini, lalu memasukan Koperku ke dalamnya. Eh! Apa mobil ini miliknya? Ah, tidak mungkin! Dia hanya sedang berniat mencuri mobil ini. Gawat! Jika ada orang lain yang melihat, mereka pasti akan mengira kalau aku adalah komplotannya. Jelas-jelas sekarang ini aku sedang disandra.
Setelah memasukan Koperku, dia langsung membuka pintu depan bagian kiri mobil ini, lalu bergegas menghampiriku. Tanpa mengatakan apa-apa, dia tiba-tiba menangkap dan mencengkram lengan kananku, lalu menggiringku membawaku masuk melalu pintu depan yang ia buka tadi.
Sial! Aku benar-benar lemah dan tidak berdaya.
Berteriak sekarang pun percuma. Aku hanya duduk pasrah sambil kepalaku bersandar pada sandaran kursi jok yang sekarang sedang kutempati ini. Apakah Tuhan ingin mengambil nyawaku sekarang lewat pria berbahaya yang masih berkeliaran di depan mobil ini? Yang bisa kulakukan hanyalah memejamkan kedua mataku. Jujur saja, aku tidak ingin mati sekarang.
"Baiklah, ayo kita berangkat! Hihihi…" tanpa sepengetahuan, pria ini tahu-tahu sudah berada di sampingku, duduk di kursi kemudi.
"Jika kau berniat membunuhku sekarang. Lakukanlah," bicara apa aku ini? Ucapan itu keluar dari mulutku begitu saja. Aku harap dia tidak mengabulkan permintaanku.
"Ghahahaha!" Dia malah tertawa keras. Baiklah, sepertinya bagi dia ucapanku barusan memang tidak berarti. Coba lihat, dia mentertawakanku sambil memukuli benda melingkar yang biasa dijadikan sebagai alat kemudi. "Erza, aku benar-benar tidak mengira kalau kau akan ketakutan seperti ini. Ghahaha!"
"Silahkan tertawalah sepuasmu wahai tuan peramp- Tunggu dulu!" Apa aku tidak salah dengar? Barusan dia memanggil namaku. "Katakan padaku! Kenapa kau bisa tahu namaku?!"
"Kenapa katamu? Baiklah kalau begitu." Dia pun mulai lepas topi beserta kacamata hitam yang sedari tadi ia pakai saat menyandraku. Oh, seperti dugaanku. Pria ini cukup tampan. Jadi siapa dia sebenarnya? Aku benar-benar ingin tahu. "Kita bicarakan nanti," Oh, tidak dia memiliki senyuman yang begitu manis.
Sekarang aku sedang berusaha untuk tidak menyukainya…
.
.
.
"Sekarang beritahu aku! Siapa kau ini?!" cercaku.
"Erza. Ayolah, tenangkan dirimu. Aku janji tidak akan mengulangi perbuatanku tadi." Bujuknya.
Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dia inginkan dariku. Waktu tadi di Bandara dia seperti berniat merampokku, menculikku, dan bahkan seperti ingin membunuhku. Tapi kenyataannya, sekarang ini dia seperti berniat untuk mengajakku bersenang-senang dengan mobil Honda Civic yang sedang dia kemudikan ini.
Mobil yang sedang aku naiki ini sedang melaju kencang melintasi jalan Fly Over yang menikung. Dan akhirnya mobil ini memasuki gerbang dan melintasi jembatan yang cukup panjang. Mobil ini melaju secara beriringan dengan beberapa mobil lainnya dalam kecepatan yang sama. Oh ya, aku tidak menyadari kalau pemandangan disini cukup bagus.
Aku melihat sungai yang lebarnya mungkin bisa diukur dengan panjangnya jembatan ini. Kebetulan cuaca hari ini sedang cerah. Ternyata langit di kota Alvarez terlihat lebih biru ketimbang aku melihat langit di kota Magnolia. Dari jarak jauh aku juga bisa melihat bangungan kota dan dibelakangnya lagi ada perbukitan.
"Tadi kau menyuruhku untuk tetap tenang, bukan?" Benar, sekarang perasaanku sudah mulai membaik karena nyatanya pria ini tidak melakukan hal yang macam-macam padaku. "Yah, mungkin kau sudah mengetahui namaku, tapi aku belum memperkenalkan diriku. Namaku Erza Scarlet. Dan kau?"
"Natsu," jawabnya singkat.
"Baiklah Natsu, katakan siapa dirimu?" tanyaku lagi, karena aku belum mengenal lebih jauh tentang dirinya tiba-tiba membawaku kabur dari Bandara. Ah, menyebalkan! Dia masih tidak mengatakan apa-apa padaku. "Hei! Cepat beritahu aku?!"
"Akh! Bisa tidak kau diam? Aku sedang mengemudi," dengusnya. "Aku tidak mengira kalau Ibuku yang baru ternyata memiliki seorang putri tunggal yang kasar dan cerewet."
"Aku tidak akan kasar dan cerewet kalau kau mengatakan-!" Tunggu sebentar! Barusan dia mengatakan Ibu baru. Apa jangan-jangan dia ini- "Apa… kau ini anaknya Igneel?"
"Yah, anggap saja itu benar." Apa sekarang dia marah padaku? Ucapannya barusan terdengar dingin.
"Kalau begitu nama lengkapmu Natsu Dragneel, benarkan? Itu berarti kau adalah saudaraku yang baru." Oh ya, setelah mengetahui siapa dia sebenarnya, entah kenapa semua rasa takutku lenyap seketika.
"Jika kau berniat menjadikanku sebagai kekasihmu yang baru juga tidak apa-apa."
"Kenapa?!" tanyaku terkejut, ia tiba-tiba menyatakan hal seperti itu padaku.
"Karena kau sangat cantik." Syukurlah dia kembali menatapku dan tersenyum padaku.
Kenapa Natsu mengatakan hal itu padaku? Padahal kita berdua belum lama menjadi satu keluarga. Dan Setahuku, yang namanya satu keluarga tidak ada yang boleh memiliki hubungan khusus. Entahlah, status kita berdua memang saudara. Tapi tetap saja Natsu bukanlah saudara kandungku.
"Oh ya, aku hampir lupa." Aku teringat soal Ibuku. "Bisakah kita putar arah? Aku ingin kembali ke Bandara."
"Tidak perlu."
"Hei, aku hanya khawatir kalau Ibuku sedang mencariku."
"Ibumu tidak akan datang."
"Kenapa?"
"Kau benar-benar bodoh. Tadi pagi Ibumu menyuruhku untuk menjemputmu di Bandara."
"Apa? Menjemputku? Lalu kenapa kau tadi berpura-pura jadi seorang penjahat untuk menyandraku? Dan kau juga meletakan ujung pisau di punggungku."
"Gahahaha!" Ah, menyebalkan. Lagi-lagi dia mentertawakanku. "Pisau katamu? Aku tidak mengira kalau kau benar-benar tidak bisa membedakan mana ujung pisau dan mana ujung kunci mobil."
"Jadi kau memang berniat menipuku!" cercaku.
"Baiklah, maafkan aku. Dan... Aku harap kau segera melupakan kejadian di Bandara tadi."
Jujur saja, aku merasa malu atas kejadian hari ini. Kalau aku pikir-pikir memang benar. Aku merasa kalau benda yang dia tempelkan waktu tadi di Bandara, ujungnya sedikit tumpul. Tapi tetap saja, semua orang akan mengalami perasaan takut yang sama sepertiku jika sedang dalam keadaan terancam. Aku bahkan mengira kalau hari ini aku akan mati.
"Erza, ayo kita pulang,"
"Iya, kita pulang."
Hari ini… Yah, aku merasa kalau hari pertama menginjakku di kota Alvarez ini cukup menyenangkan buatku. Mulai dari kejadian ketika aku disandra oleh seorang pria yang sempat membuatku ketakutan, namun ternyata dia adalah Natsu Dragneel― Putra tunggal dari Ayahku yang baru.
Oh ya, sebentar lagi mobil ini akan memasuki gerbang yang dimana kita akan sampai di Ibukota Alvarez.
"Natsu, kalau boleh tahu. Berapa usiamu?"
"Usiaku? Yah, usiaku baru bertambah menjadi 19 tahun."
"Oh, ternyata usia kita sama."
"Ayolah Erza, itu belum bisa dikatakan bahwa kita satu usia jika kau tidak memberitahuku kapan tanggal lahirmu."
"Baiklah, aku terlahir pada tanggal 17 Juli 1998."
"Oh, ternyata tanggal lahir kita sama."
"Tidak mungkin! Kau hanya meniru kata-kataku barusan."
"Memang. Ghahaha!"
"Menyebalkan!"
Baiklah, sepertinya aku juga tidak sabar untuk menunggu apa yang terjadi padaku di hari esok…
.
-To Be Continue-
.
Seandainya penjahat seperti itu ada di dunia nyata. Maka siapa yang ingin culik? Tolong angkat tangan! Ahahaha... XD
.
