BAEKHYUN

(TESA FROM MARGA-T)

Jalan cerita sama persis hanya tulisan gue tulis lebih baku dan mungkin Negara dan kota akan gue ganti jadi Korea-Australia, karna seting aslinya Indonesia-Australia. Kalau untuk karakter udah pasti gue ganti jadi EXO member. Karena gue CHANBAEK SHIPPER jadi untuk novel ini atau novel lain nanti yg gue akan remake akan gue isi karakter utamanya ChanBaek, no yang lain-lain.

NOTE: Karena novel ini judulnya memakai nama tokoh utama (TESA), jadi gue ganti jadi BAEKHYUN.

ChanBaek

Remake

Tesa from Marga T

GS

Asrama mahasiswa itu sangat luas, terdiri lebih dari tiga puluh blok. Masing-masing blok bertingkat lima dan setiap tingkat mempunyai tiga puluh delapan kamar. Tidak mengherankan bila banyak di antara penghuni yang tidak saling kenaI, apalagi orang-orang Barat memang tidak begitu usil terhadap urusan orang lain.

Baekhyun sudah hampir setahun di Perth, namun kenalannya boleh dibilang cuma terbatas pada kawan-kawan setingkat yang kerap dijumpainya di dapur. Kyungsoo dan Yixing merupakan kawan eratnya, sama-sama dari Seoul. Xi Luhan, teman Yixing, juga menempati tingkat yang sama, tapi dia sudah hampir tiga tahun di situ, Jadi sudah lebih biasa dengan kehidupan asingnya.

Baekhyun kerap kali merasa rindu pada rumah, terlebih kalau dia teringat apa yang menyebabkan dia pergi merantau sejauh itu. Memang terhadap orangtuanya dia berdalih tidak lulus tes masuk perguruan tinggi dari Universitas favoritnya, ya sebaiknya belajar saja ke luar negeri, toh biayanya tak beda banyak dengan perguruan tinggi swasta.

Namun kini dia agak menyesal dan kerepotan sendiri memikirkan biaya. Kiriman dari rumah terlalu pas-pasan, kalau tak mau dibilang kurang. Dia tak berani menuntut lebih banyak, sebab tahu keadaan orang tuanya yang terus jatuh sejak ia duduk dibangku menengah keatas. Sebelum mengizinkannya pergi, ibunya sudah bertanya belasan kali apakah dia akan sanggup hidup dengan ongkos sebegitu, dan dia sudah menyanggupi. Waktu itu dia sudah bertekad: lebih baik mati kelaparan di Iuar negeri daripada hidup kenyang di depan hidung seorang pengkhianat! Dan nama yang punya hidung itu adalah Kris! Hidung-nya mancung, wajahnya tampan, namun hati-nya culas.

Pada sebuah pesta, Baekhyun memperkenalkannya pada Zitao, teman sekelasnya. Tak disangka, Kris sampai hati mengecohnya. Zitao terpaksa mesti dinikahinya. Yah! Belum jodoh, bisik hatinya kalau sedang melamun. Tapi kalau sedang ingat tentang rasa sakitnya, ingin rasanya meracuni hati yang culas itu. Namun dia selalu merasa ngeri membayangkan sel penjara dan segala momok yang berkeliaran di sana dalam seragam. Akhirnya, seperti biasa cuma air mata yang meleleh turun. Setelah berpikir ribuan kali, dia nekat mau pergi meninggalkan semua kenangan pahit di belakang. Dia bertekad mau melembari sejarah hidupnya dari mula lagi. Namun kini...!

Kalau dia tidak segera mendapat tambahan uang, dia harus angkat kaki dari sini, menyetop kuliah, balik ke rumah Mama, menangis tiap malam memikirkan nasib!

Baekhyun menghela napas sambil mengaduk sop bening, makan siangnya hari itu. Dia begitu asyik dengan lamunannya, sehingga kedatangan Luhan mengejutkannya.

"Hei, aku dengar orang menghela napas. Kau kah itu? Wajahmu keruh sekali, ada apa, sih? Urusan si dia?"

"Boro-boro memikirkan orang lain, memikirkan hidup sendiri saja sudah kalang kabut. Aku tidak mau pacaran sebelum sekolah beres. Tidak ada duit! Apa kata orangtuaku kalau aku sampai gagal, padahal mereka sudah keluar uang begitu banyak?! Pacaran! Huh!" Sekejap pikirannya yang sedang pusing teringat pada Kris, dan jengkelnya meletup.

"Hey, kau ini seperti yang pernah patah hati saja! Kelihatannya kau anti laki-laki, ya? Kan tidak semuanya jelek, Baek. Coba, misalnya pacarku...!"

Baekhyun menghela napas. Sungguh Luhan ini tak pernah peduli perasaan orang lain. Kalau sudah menduga orang pernah patah hati, ya tak usah dong pamer pacarnya yang nomor Satu itul Kan cuma bikin hati yang patah itu makin merana, bukan?! Tapi Baekhyun sudah tahu sifat Luhan. Di mana saja, pada siapa saja, dia selalu berusaha membanggakan pacarnya yang tak pernah diperkenalkannya pada siapa pun. Alasannya, takut direbut! Kalau soal begitu sih, kau tak perlu takut padaku, pikir Baekhyun sinis. Aku ini paling pantang merampok pacar orang, sebab sudah aku rasakan sendiri betapa pahitnya bila pacar kita dirampas teman! Dan, yah, Itulah sebenarnya alasan utama yang membuatnya pergi merantau ke negeri orang. Sebab Kris telah dirampas oleh Zitao, teman karibnya di SMA yang kini telah berubah jadi musuhnya.

Tapi bukan itu yang memberati pikiran Baekhyun sekarang. Dia hampir kehabisan uang! Dan tak fahu mesti minta tolong pada siapa. Tentu saja bukan pada Luhan, pikirnya kembali dengan sinis, ketika gadis berambut coklat madu yang lincah itu terus nyerocos menyebutkan semua atribut yang menjadi kebolehan sang pacar.

Sekadar basa-basi, Baekhyun menanggapi setengah hati. Pikirannya sendiri bagaikan pusaran air yang berputar-putar pada masalah yang itu-itu juga. Dia kehabisan duit. Kalau tidak bisa mendapat kerjaan apa saja dia terpaksa bilang bye-bye dan pulang kampung!

"...dan hari Minggu nanti dia akan menerima piala juara tenis di kampus! Setelah itu makan siang beramai-ramai, sudah tentu aku diundang juga. Wah, dia dipuji Setinggi langit oleh profesornya. Liburan musim panas nanti dia mau diajak tim inti nya untuk pertandingan ke Darwin. Hebat sekali! Eh, ngomong-ngomong, masa kau cuma makan sop air doang? Mana kenyang Baek? Mari sini, aku barusan membeli banyak chips."

"Ah tidak, terima kasih. Aku punya telur dadar kok di kamar, sisa kemarin," sahut Baekhyun yang enggan menerima kebaikan orang lain, lalu cepat-cepat berlalu ke kamarnya, sehingga Luhan melongo, sebab biasanya mereka selalu makan di dapur sambil ngobrol. Tapi Baekhyun tidak mau dikasihani orang kalau ketahuan bahwa telurnya sebenarnya sudah habis tiga hari yang lalu.

Dua minggu kemudian sisa uangnya tinggal dua puluh dolar. Kalau dia hemat sekali itu bisa untuk makan dua minggu. Tapi dia terpaksa jalan kaki ke kuliah. Apa boleh buat? Mungkin sekali-sekali bisa menumpang teman-teman yang punya mobil. Tapi tentunya tak bisa setiap hari.

Dering bel pintu kamar membuatnya gugup. Cepat-cepat dibenahinya dompetnya yang lusuh dan kempes itu, lalu dibukanya pintu.

"Halo, boleh aku masuk?" seru Luhan seraya menerobos masuk sebelum diberi izin. Baekhyun menutup pintu lalu menemani Luhan yang sudah duduk di kasurnya. Sebelum dia sempat bertanya apa keper-luannya, gadis itu sudah nyerocos seperti petasan.

"Bukankah kau tempo hari ingin mencari uang, Baek? Maukah kau merawat orang sakit?"

Tentu saja dia mau. Tapi sakit apa? Kalau perawatannya sulit, pasti dia tak mampu.

"Sakit apa? Kalau tidak terlalu sulit, boleh saja. Kalau perlu perawatan khusus, mungkin aku tidak bisa."

"Oh, soal itu kau tak perlu khawatir. Sebenarnya ia tidak sakit, artinya tidak diam terus di ranjang. Tapi ia butuh pertolongan karena matanya buta. Kecelakaan dua minggu yang lalu. Dokter bilang, ada harapan dengan operasi dia bisa disembuhkan. Tapi harus menunggu enam bulan lagi. Itu pun cuma sebelah. Yang lain, beberapa bulan kemudian. Jadi kira-kira baru setelah delapan-sembilan bulan dia akan bisa melihat lagi. Dan selama itu, dia perlu pertolongan."

"Pasiennya laki-laki?"

"Ya."

Baekhyun menjadi ragu. Sanggupkah ia menolong orang itu?

"Dua tahun lebih tua dari aku."

Berarti empat tahun selisihnya dengan dirinya sendiri. Semuda itu? Ah, dia tak bias. Dia bukan perawat, tidak biasa melayani kebutuhan pribadi orang lain, apalagi laki-laki yang hampir sebaya dengannya.

"Aku tak bisa. Maaf."

Luhan menyebutkan jumlah honor yang lebih dari lumayan untuknya. Baekhyun berpikir lagi. Perasaannya enggan, sebab dia pasti akan kikuk dan malu menghadapi pasien seperti itu. Belum lagi kalau orangnya kuat. Bukankah dia sebenarnya tidak sakit?! Berarti jasmaninya sehat. Berarti... Ah, kau sombong, tuduh pikirannya yang cuma memikirkan soal uang. Kau lebih suka mati kelaparan daripada merendahkan diri sedikit menjadi pelayan orang lain.

"Aku sungguh tak mampu, Luhan."

"Memangnya kenapa?"

"Ya, pikir saja olehmu. Kalau dia mau ke kamar mandi atau ke toilet bagaimana aku harus menolongnya? Apakah aku harus memandikannya? Bagaimana kalau dia mencoba memperkosaku?"

Luhan meledak ketawanya. "Mengenai itu semua kau tak perlu khawatir, Baek. Waktu di rumah sakit dia sudah melatih dirinya ke kamar mandi dan toilet sendiri. Dia mempunyai kursi roda yang bisa dijalankannya dengan mudah. Tapi dia perlu bantuan kalau mau pergi keluar, misalnya kuliah. Harus ada orang yang akan memperingatkannya bila ada bahaya di jalan. Dia juga perlu bantuan di dapur atau dalam mencari bab-bab di textbook. Tugas-tugas seperti itu. Tidak susah kan? Tapi ada syaratnya."

"Apa?"

"Pertama, kau tak boleh memakai namamu kalau bekerja di sana. Kau harus mengaku bernama... siapapun, terserahmu. Kedua, kau tak boleh mengatakan perihal dirimu pada pasien itu, seperti alamatmu di sini maupun di Seoul, apa kuliahmu, dan lain-lain. Pendeknya kau tak boleh menjadi intim dengannya. Dan begitu dia berhasil dengan operasinya, kau harus berhenti, tak boleh sekali-kali memperkenalkan diri padanya! Setuju?"

Baekhyun bukan menjawab, tapi malahan bertanya lagi, "Siapakah pasien itu sebenarnya?" Dia merasa agak mendongkol diberi syarat-syarat seru-mit itu. Aneh sekali, pikirnya.

"Namanya Park Chanyeol. Calon tunanganku!" Hm. Kini Baekhyun mengerti dan malahan bisa merasa simpati terhadap kecemasan serta kekhawatiran temannya. Dia juga takkan mau calon tunangannya direbut orang... seandainya dia punya calon!

"Tapi, kalau kau begitu cemas dia nanti direbut olehku, kenapa tidak kau rawat dia sendiri saja? Dengan begitu, kau juga bisa menghemat, bukan?"

Luhan menghela napas. "Seharusnya memang begitu. Tapi masalahnya, aku ini tidak sabaran. Dalam seminggu saja aku sudah naik darah entah berapa kali melihat dia berbuat kesalahan. Atau kalau dia kehilangan semangat dan tak mau lagi mencoba. Dia sangat tertekan karena musibah itu dan gampang marah-marah karena alasan sekecil apa pun. Selain itu, aku tidak punya waktu. Aku harus mengikuti kuliah fulltime Aku juga harus pergi berenang, senam, dan lain-lain. Singkatnya, aku tidak sempat mendampinginya terus-menerus. Nah, aku beri kau waktu sampai besok untuk mempertimbangkannya. Aku jamin ia takkan memperkosamu!"

.

Memperkosaku?

Tentu saja tidak, pikir Baekhyun ketika melihat pasiennya. Chanyeol cuma punya waktu untuk memikirkan dirinya sendiri serta menangisi nasibnya. Mana dia sadar ada perempuan di dekatnya yang dengan mudah bisa dibekuknya. Dia cuma duduk saja di depan jendela dalam kamarnya di tingkat dua, dan sama sekali tidak mempedulikan kehadiran Baekhyun.

Park Chanyeol bertubuh tinggi dan tegap. Wajahnya yang tampan dihiasi batang hidung yang kuat, rahang yang tegar, dan bibir yang selalu terkatup rapat. Alisnya yang tebal berwarna hitam menaungi matanya yang tak kelihatan, sebab ditutupi kacamata hitam. Lucu juga melihat orang memakai kacamata berwarna pekat itu dalam ruangan yang tidak kemasukan cahaya matahari. Tapi barangkali itu perintah dokter? Baekhyun berniat menanyakannya suatu ketika. Sifat Chanyeol yang cepat marah segera ketahuan waktu siangnya Baekhyun menyuruhnya minum obat.

"Tuan Park, Anda harus minum..."

Tapi gelegar suaranya memotong perintah Tesa. "Berapa kali harus kukatakan bahwa aku tak mau dipanggil Tuan! Panggil aku Chanyeol saja, atau pergi kau dari sini! Enyah Sana!"

Baekhyun menggigil. "Ma... af... Tu... eh, Chan..yeol. Anda sekarang harus..."

"Jangan pakai Anda! Kau! Kau, kau, kau! Mengerti?" Baekhyun terdiam kaget, tak mampu bersuara.

"Mengertiii?!" gelegar Park Chanyeol membuat perabot dan dinding nyaris bergetar bagaikan dilanda gempa.

"Mengerti, Chan.. yeol."

"Nah, aku harus minum apa?" Suaranya lebih kalem.

"Kau harus minum obatmu. Mari aku bantu."

"Tak usah!" Chanyeol mengibaskan lengan menghalaunya pergi.

"Apakah obat itu bisa menyembuhkan mataku?"

"Aku... tak tahu."

"Nah, kalau tak bisa, percuma ku telan. Buang saja!" Lalu dia menghela napas dan kembali menatap ke luar jendela.

Baekhyun mendekat kemudian menyentuh lengannya dengan hati-hati, khawatir kena pukul lagi.

"Obat ini pasti ada gunanya, sebab diberikan oleh dokter yang merawatmu. Ayo, mari diminum."

Huh! Seperti membujuk anak kecil saja, keluhnya.

"Ada gunanya? Hm! Aku sudah menelannya puluhan butir, tapi kenapa mataku masih begini-begini juga? Tidak! Buang saja ke tong sampah. Jangan suruh aku menelannya!"

"Chanyeol, kau harus sabar. Matamu pasti akan pulih kembali," bujuk Baekhyun sambil menyentuh lengannya sekali lagi.

"Huh! Sabar! Sabar! Gampang saja kau bilang begitu, sebab kau sendiri bisa melihat dengan kedua matamu! Coba seandainya kau yang di tempatku, belum tentu kau tidak akan melolong-lolong, bukan?"

Baekhyun terdiam, tak bisa membantah.

"Ya, bukan?" desak Chanyeol dengan nada mengejek.

"Kok tidak berani menjawab? Ayo katakan, ya tidak?"

"Mungkin... ya," sahut Baekhyun pelan.

"Hm. Kau tak tahu betapa sengsaranya mesti tergantung pada orang lain seperti ini! Kau tak tahu betapa tidak sabarnya aku harus terikat di kursi begini! Aku tak pernah menghargai kedua mataku selama ini. Aku menerima mereka begitu saja. Telingaku, hidungku, mulutku, tanganku, kakiku, jantungku, hatiku, seluruh tubuhku! Aku menerimanya begitu saja, tanpa syukur sedikit pun. Kini setelah aku kehilangan penglihatanku, barulah aku sadari betapa bahagianya aku sebelum ini! Tapi sekarang segalanya sudah terlambat, Baekhee! Terlambat!"

Dan Baekhyun memperhatikan dengan rasa iba serta kaget ketika laki-laki gagah itu menunduk

menangis, menutupi wajah dengan kedua tangan. Baekhyun tertegun tak bisa berbuat apa pun. Akhirnya dikumpulkannya keberaniannya dan ditariknya kedua tangan Chanyeol dari wajahnya. Lalu dibukanya kacamata yang basah itu dan dibersihkannya dengan saputangan Chanyeol yang tergeletak di atas meja.

"Ini sapu tanganmu, sekalah air matamu. Kemudian kita akan minum obat itu."

Mendadak Chanyeol tertawa, sehingga Baekhyun mundur ketakutan. Barusan menangis, air mata pun belum lagi kering di wajahnya, sekarang malah ketawa?! Sudah gilakah pasiennya ini?!

Tapi dia segera mengerti dan bahkan ikut ketawa ketika Chanyeol berkata, "Betulkah kau akan ikut aku menelan obat itu? Kau bilang tadi 'kita'..."

"Oh, maksudku..." Baekhyun tersipu ditatap oleh pasiennya, seketika itu terlupa bahwa dia tak bisa melihat.

"Ha... ha... ha..."

"Ah, kau jahat! Maksudku, kau yang minum, aku cuma membantu memberikan pil serta air..." Tiba-tiba Baekhyun tertegun, sehingga gelas di tangannya tidak jadi diulurkannya kepada Chanyeol.

"Eh, kenapa kau jadi diam? Ada apa?"

"Oh, eh... tak ada apa-apa. Mari, aku bersihkan dulu wajahmu."

Diambilnya saputangan yang dipegang oleh Chanyeol, lalu dikeringkannya mata serta pipinya. Dia mengelap dengan amat hati-hati seakan khawatir mata itu akan remuk kena sentuhan. Chanyeol diam saja membiarkannya. Sebenarnya ia sudah setengah mabuk menghirup harum tubuh Baekhyun. Entah apa parfum dan sabunnya, pikirnya sesaat. Ketika Chanyeol meminta kacamatanya kembali, Baekhyun menolak dengan halus.

"Apakah gelas-gelas ini disuruh pakai oleh dokter?"

"Ya, kalau ada sinar matahari. Mataku belum boleh dirangsang terlalu kuat".

"Tapi di sini cukup gelap. Sama sekali tak ada cahaya. Lampu juga dipadamkan. Lebih baik tak usah kau pakai ini. Apa kau tahu, matamu indah sekali!"

"Jangan mengejek! Mataku buta! Mana mungkin bisa bagus!"

"Aku tidak berbohong. Matamu sama sekali tidak kelihatan berbeda dengan mata biasa. Tetap bercahaya dan bagus sekali. Aku rasa kerusakannya pasti terletak di bagian dalam, sehingga tidak tampak dari luar. Betulkah?"

"Ya. Dokter bilang, saraf dan retina, dan entah apa lagi, pokoknya memang di bagian dalam."

"Nah, ngomong-ngomong, kau tak boleh lupa obatmu."

"Hm. Kau menghiburku supaya hatiku senang, ya, dan gampang dibujuk minum obat!" sembur Chanyeol dengan nada kurang senang.

"Oh, sama sekali bukan begitu!" bantah Baekhyun.

"Obat ini kan demi kepentinganmu sendiri untuk..."

"Jangan sok mengajari! Aku kan mahasiswa FK! Pasti lebih tahu dari kau!"

Tiba-tiba hatinya merasa jengkel. Buat apa meladeni pasien kayak gini, lebih baik dia berhenti saja!

"Baiklah kalau kau tak mau menelan obat ini, bagiku tak ada persoalan. Tapi aku tak mau ditegur oleh Luhan. Karena itu, aku rasa sebaiknya aku berlalu saja! Selamat siang, Chanyeol!"

"Hey! Hey! Kau mau ke mana?" seru Chanyeol dengan nada sedikit panik ketika mendengar langkah Baekhyun menjauhinya.

"Aku mau pulang dan tidak kembali lagi!" cetusnya kesal.

"Hey! Ah, rupanya kau juga suka ngambek sepertiku, ya! Hahaha! Kita sama. Ayolah jangan marah, Baekhee. Coba bujuk aku sekali lagi, pasti aku akan menurut. Meskipun racun, asal kau bilang harus kutelan, akan kutelan! Ayo, mana obatnya?! Entah apa khasiatnya, sih, sampai mesti dimakan terus tiap hari?"

Baekhyun tersenyum sendiri, lalu berjalan balik ke jendela. Diraihnya pil serta gelas dari meja dan disorongkannya.

"Kalau kau mau, aku bisa menelepon doktermu untuk menanyakan. Tapi menurut dugaanku, mungkin obat itu untuk melancarkan. peredaran darah di tempat yang luka supaya cepat sembuh. Dan kapsul ini untuk menghalau infeksi."

"Ya, ya, ya, aku rasa juga begitu." Dan seperti anak kecil yang patuh. Chanyeol meneian semua obat.

"Nah, aku sudah jadi anak baik. Kau takkan meninggalkan aku lagi, kan?" Chanyeol tertawa kecil. Rupanya hatinya sedang riang. Tapi beberapa waktu kemudian ketika Baekhyun mengusulkan untuk membacakannya sesuatu, dia kembali meradang.

"Aku bukan anak kecil!" teriaknya. "Enyah kau dari hadapanku!"

Baekhyun berlalu ke dapur dan duduk di sana sambil memperhatikan lalu lintas di bawah. Kemudian didengarnya lonceng berdentang tiga kali. Ia bangkit untuk membuat kopi dan menyiapkan makanan kecil.

Dari ruang depan tidak kedengaran bunyi apa pun. Berjingkat-jingkat dia mengintip. Ternyata Chanyeol tengah tidur di kursi rodanya. Kepalanya terkulai ke dada. Baekhyun mengambilkannya selimut dan menutupi sebagian tubuhnya tanpa membangunkannya. Lalu dia kembali ke dapur.

Wangi kue dadar rupanya membangunkan Chanyeol. Luhan telah memberikan resep kue itu padanya. "ini makanan kebesaran Chanyeol. Biar tiap hari kau bikin pun dia takkan bosan. Jadi gampang, seandainya kau tidak mau keluar membeli kue!" kata Luhan.

Chanyeol mendengus-dengus sebelum dia yakin bahwa itu bukan datang dari apartemen di atasnya.

"Baekhee!" teriaknya memanggil.

"Kau sedang bikin apa?" Lalu tiba-tiba teraba olehnya selimut yang menutupi kakinya. Dia ingat, tadi dia tidak pakai selimut. Jadi Baekhee...

"Oh, kau sudah bangun?" sapa Baekhyun yang muncul tergopoh-gopoh.

"Aku sedang membuat kue dadar. Tapi tidak tahu enak atau tidak, sebab aku belum pernah membuatnya."

"Tentu saja! gadis macam kau mana suka ke dapur, bukan? Hahaha!"

"Ah, kau membuatku malu!" kata Baekhyun merajuk, lalu cepat memperingatkan dirinya siapa dia. Kau tak boleh bermanja-manja padanya, katanya dalam hati. Dia kan cuma pasienmu dan pacar orang lain!

"Sabar. Semenit lagi pasti sudah matang!" Lalu dia bergegas kembali ke dapur, sebelum Chanyeol mendengar degup jantungnya.

Sore pertama itu mereka makan kue dadar berdua. Enak juga, walaupun sebagian keburu hangus sebelum diangkat. Yang hangus tentu saja di makan semua oleh Baekhyun, sehingga Chanyeol tidak tahu akan kegagalannya.

Tak lama setelah itu Luhan datang untuk melihat bagaimana keadaan Baekhyun. Untung masih tersisa kue dua buah.

"Tumben kau sore-sore begini kemari!" tukas Chanyeol bukan dengan nada kurang senang.

"Mau mengontrol, ya? Takut Selina sudah di makan macan, bukan?!"

"Kau ini ada-ada saja. Aku kebetulan kangen padamu, disangka yang tidak-tidak!" sahut Luhan cemberut. Aneh sekali, Chanyeol bisa jinak betul pada betinanya. Berbagai kata manis diobralnya supaya gadisnya jangan sampai ngambek.

Luhan akhirnya berkenan ketawa lagi, lalu melejit ke dapur di Baekhyun sedang sibuk mencuci perabot bekas bikin kue.

"Bagaimana? Bisa betah?" bisik Luhan sambil membantu mengeringkan piring dan gelas.

"Ya, dibetah-betahkan" bisik Baekhyun.

"Apakan tadi ia marah-marah?"

"Oh, aku sudah hampir lari pulang! Tapi kemudian teringat olehku uang yang kuperlukan." Baekhyun menghela napas.

Sabar, sebenarnya dia orang yang baik. Hanya masih belum bisa menerima keadaannya ini. Kalau sudah di sini seminggu, kau pasti akan merasa terbiasa." Luhan membujuknya.

"Apakah... apakah... matanya takkan... pulih lagi?"

"Ah, entahlah!" Luhan menarik napas. "Dokter bilang masih ada harapan. Tapi kita baru bisa bergembira setelah semuanya menjadi kenyataan, bukan? Karena itu dia murung terus. Menurut anggapannya, dokter cuma ingin menghibur dirinya."

"Tadi Chanyeol mengira, dia takkan pernah sembuh kembali?" bisik Baekhyun, menggigil dalam hati" Luhan mengangguk. "Begitulah."

Bersambung…