Chapter 2
Naruto. Bukan, Naruko!
Tiga hari telah berlalu sejak tinggalnya Naruko di apartemen Naruto. Naruto merasa senang karena ia tidak lagi kesepian saat berada di apartemennya. Setiap hari apartemen Naruto selalu ramai dihiasi ocehan-ocehan Naruko yang kadang menurut Naruto tidak jelas. Tak jarang mereka juga sering berdebat mengenai hal yang sebenarnya tidak penting dan tidak layak jadi perdebatan. Seperti ramen rasa apa yang paling enak? Berapa ukuran dada Nenek Tsunade? Atau kenapa jumlah perempuan di Konoha itu sedikit hingga banyak Jounin yang jomblo? Perdebatan-perdebatan seperti itu bisa berlangsung dengan sengit, berjam-jam, dan bahkan bisa berlangsung beberapa sesi. Tapi secara tidak sadar justru itulah yang membuat Naruto merasa nyaman atas kehadiran Naruko di apartemennya. Naruto merasa punya teman yang bisa mengimbangi sikapnya yang cenderung banyak bicara dan tak mau diam. Jika selama ini banyak orang bilang Naruto hiperaktif, maka bisa dikatakan tingkat kehiperaktifan Naruko berada setingkat di atas Naruto. Ah, mungkin karena dia perempuan.
Tapi disisi lain, bukan berarti kehadiran Naruko sepenuhnya menyenangkan bagi Naruto. Ada banyak hal menyebalkan yang terjadi karena membiarkan seorang perempuan tinggal di apartemennya. Ini nampaknya terjadi karena Naruto masih belum terbiasa dengan kehadiran Naruko. Itu wajar saja, sudah lebih dari 10 tahun Naruto tinggal sendiri di apartemen butut warisan Hokage Ketiga ini. Dan kehadiran orang baru disana menjadi hal yang benar-benar tidak biasa bagi Naruto.
Naruto memegang pelipisnya yang memerah, seperti terkena benda tumpul. Kenapa memerah?
Inilah contoh kejadian yang menyebalkan bagi Naruto. Kejadiannya berawal ketika pagi itu ia akan mandi dan ia tidak sadar kalau sudah ada sosok lain di kamar mandinya, Naruko. Tanpa baju, tanpa handuk, tanpa sehelai benangpun. Hanya aliran-aliran bening air yang mengaliri tubuh putih mulusnya.
Gadis telanjang dihiasi bulir-bulir air di lekuk tubuhnya yang sempurna. Laki-laki mana yang tidak terpaku melihat pemandangan seperti itu?
Dan Naruto termasuk remaja laki-laki yang normal karena sekarang ia sudah bengong melihat pemandangan di hadapannya, matanya membulat, air liur mulai menetes dari bibirnya. Sebenarnya Naruto sadar kalau dia yang 'menciptakan' fisik Naruko hingga sedemikian sempurna. Hanya saja kalau diberi pemandangan seperti ini Naruto juga nampaknya harus mati-matian menahan agar darah tidak keluar dari hidungnya.
Naruko langsung kaget begitu pintu kamar mandi terbuka. "A-apa yang sedang k-kau lihat?" tanya Naruko dengan terbata saat menyadari Naruto menatap tubuhnya tanpa berkedip.
Naruto langsung tersentak dan mengusap air liurnya dengan punggung tangan. Ia terlihat berpikir keras mencari alasan yang masuk akal. "Ah, aku-"
"Keluar! Dasar mesum!" potong Naruko sambil menutupi dadanya, serta berbalik memunggungi Naruto.
"Hei, kau yang salah!" bela Naruto. "Siapa suruh tidak mengunci pintu!"
Naruko sudah mulai kesal, diraihnya botol sabun di dekatnya dan ...
"Jangan sembarangan menyalahka-"
Bletak!
Botol sabun cair melayang mengenai pelipis Naruto dengan telak, sukses menghentikan pembelaan Naruto. Naruko membanting pintu kamar mandi dan menguncinya kali ini, tidak mempedulikan Naruto yang mengaduh kesakitan serta memaki-maki dirinya di depan kamar mandi.
Itulah kejadian yang membuat pelipis Naruto memerah. Kini Naruto duduk di ruang tengah dan mengusap-ngusap pelipisnya menahan rasa sakit yang belum juga hilang. Sesekali ia mengerutu sendiri, menyumpahi Naruko yang bersikap seenaknya. Sudah jelas Naruko yang salah karena tidak mengunci pintu kenapa malah dia yang dimarahi?
Di tengah kekesalannya, Naruto mendengar seseorang mengetuk pintu apartemennya. Naruto berteriak mempersilahkan orang tersebut masuk, ia terlalu malas untuk sekedar membukakan pintu.
Tak lama kemudian, orang tersebut masuk.
"Yo Naruto," sapanya.
Naruto menoleh sejenak, mendapati orang yang tadi mengetuk pintu, Kiba, berjalan ke arahnya. Kiba memang sering bermain ke apartemennya. Tapi kali ini ada yang berbeda, ada orang lain yang mengikutinya. Sesosok manusia dengan rambut berbentuk mangkok dan memamerkan cengirannya yang menyilaukan, Rock Lee.
"Yo Naruto!" sapa Lee bersemangat seperti biasa. Kiba kemudian menghempaskan dirinya di sofa di samping Naruto sedangkan Lee duduk di lengan sofa.
Tidak biasanya Kiba menemuinya bersama dengan Lee, kelihatannya sekarang ada acara berkumpul bersama Rockie 11 lainnya.
"Tumben kalian berdua kesini, ada apa?" tanya Naruto memastikan.
"Kenapa pelipismu?" tanya Lee, tanpa mempedulikan pertanyaan Naruto. Ia menyadari kalau dari tadi Naruto memegang pelipisnya. Kiba jadi ikut tersadar dan menegakkan badannya, mencoba melihat pelipis Naruto lebih dekat.
"Oh ini. Ini karena-"
Belum sempat Naruto menjawab, Naruko muncul dari pintu kamar. Menampakan setengah tubuhnya yang hanya dibalut handuk. "Naruto-kun, aku pinjam bajumu lagi ya," serunya tanpa mendengar tanggapan Naruto dan langsung menutup pintu.
Tiga pemuda di ruang tengah itu terdiam selama beberapa detik, masih memandang pintu kamar yang sekarang sudah tertutup.
Kiba dan Lee kemudian bertukar pandangan. Mereka seperti berusaha mengingat-ngingat sesuatu, mereka merasa pernah melihat gadis tadi. Rambut pirang panjang dan mata shapire. Beberapa saat kemudian keduanya kaget, saat otak mereka menemukan jawaban siapa sebenarnya gadis yang tadi muncul. Tapi kemudian ekspresi Lee berubah sendu, tangan kanannya memeluk Naruto, kemudian menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.
"Naruto, aku tahu selama ini kau hidup sendiri dan kau pasti kesepian. Tapi bukan begini caranya. Aku tidak percaya kau jadi seperti ini."
Dahi Naruto berkerut, tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Lee.
"Apa maksudmu?" tanya Naruto bingung.
"Kalau kau kesepian, lebih baik kau menghabiskan waktu dengan teman-temanmu. Kau bisa menemui aku, Kiba, Chouji, Shikamaru atau yang lain dan melakukan hal-hal yang lebih berguna. Kami sebagai temanmu tidak keberatan, malah kami senang jika kita menghabiskan waktu bersama. Bukan dengan cara seperti ini. Apa kau saking kesepiannya sampai membuat seorang bunshin, menyuruhnya menemanimu dan kalian melakukan... Ah, kau tahu sendiri lah," ujar Lee, diakhiri dengan helaan nafas panjang.
Naruto makin tidak mengerti, ia menoleh ke arah Kiba berharap mendapat penjelasan, tapi ternyata malah dibuat makin bingung saat Kiba juga mengatakan hal yang juga tidak Naruto mengerti.
"Padahal tujuan kami kesini sekarang adalah ingin mengajakmu berkumpul. Tapi ternyata kau..." Kiba tidak melanjutkan kalimatnya.
"Hei, aku benar-benar tidak mengerti," kata Naruto, ia menatap Lee dan Kiba bergantian.
Lee hanya kembali menghela nafas panjang, sedangkan Kiba geleng-geleng kepala dan kini ikut menepuk pundak Naruto.
Tak mendapat penjelasan dari keduanya, akhirnya terpaksa otak pas-pasan Naruto harus berusaha mencerna maksud perkataan Lee tadi.
Kesepian? Bunshin? Menemani? Melakukan?
Pupil matanya membesar saat kesadaran membentur kepala Naruto. Seorang gadis baru selesai mandi dan keluar dari kamarnya, kemudian meminjam baju pula. Pasti Kiba dan Lee mengira kalau Naruto dan Naruko sudah melakukan... Ah tidak! Mereka salah paham!
Naruto langsung berdiri, panik. "I-ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Aku bisa jelaskan semuanya."
Lee dan Kiba seolah tak peduli. Malah kini Lee memasang pose lebaynya, ia memegang erat kedua tangan Naruto dan mukanya makin sedih, matanya berkaca-kaca. "Aku tidak menyangka kau kehilangan keperjakaanmu pada bunshin-mu sendiri. Sadarlah Naruto, kalaupun memang kau sudah tidak kuat, banyak perempuan di luar sana yang-"
Naruto menghempaskan tangan Lee. Ini kacau, Naruto harus menjelaskan semuanya sebelum terlambat!
"Sudah kubilang ini tidak seperti yang kalian pikirkan! Dan satu lagi, aku dan dia tidak melakukan 'hal itu'!" seru Naruto dengan penekanan pada bagian 'hal itu'.
Kiba kembali duduk di sofa, kemudian menyeringai ke arah Naruto. "Pagi-pagi begini, bunshin-mu baru selesai keramas dan muncul dari dalam kamarmu. Berada satu kamar, sudah pasti satu tempat tidur juga. Bukankah itu sudah jelas kalau kalian sudah melakukannya?"
"Tidak! Aku tidak melakukannya! Harus berapa kali aku tekankan itu?" teriak Naruto frustasi.
"Lalu apa yang dia lakukan di kamarmu?" tanya Lee.
"Dia baru saja mandi, apa yang aneh?"
Kening Kiba kembali berkerut. "Tentu saja aneh baka! Sejak kapan bunshin mandi? Kau hanya tinggal menghilangkannya. Ayolah mengaku saja. Aku tidak akan membicarakannya kepada yang lain. Hanya aku, kau dan Lee yang tahu. Aku hanya berharap kau berubah. Kau sungguh mengkhawatirkan, melakukannya dengan bunshin-mu, bukankah dia itu dirimu sendiri?"
Naruto mengacak-ngacak rambut pirangnya. "Dengarkan aku! Kau mungkin mengira aku gila, tapi dia memang bunshin, hanya saja sudah tiga hari ini dia tidak ingin menghilang. Aku juga baru tahu kalau menghilangkan bunshin itu tergantung keinginan bunshin itu sendiri. Dia hanya ingin tinggal bersama denganku. Dan yang terpenting dia itu... perempuan, aku memberinya nama Naruko. Dan sekali lagi kuperjelas, aku dan Naruko tidak melakukan hal itu," jelas Naruto panjang lebar.
Tepat saat Naruto menyelesaikan kalimat itu, Naruko keluar dari kamar.
Kiba langsung mendekat ke arah Naruko. "Hahaha. Omong kosong. Perempuan dari mana? Dia laki-laki sama sepertimu, dia NA-RU-TO. " kata Kiba sambil menunjuk Naruko.
"Hanya karena dia punya dada yang lebih besar darimu- " Naruko mundur beberapa langkah mendengar kata-kata Kiba, tak lupa sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Bisa-bisanya ia mengatakan kalimat yang sama seperti Naruto. "-bukan berarti dia perempuan. Hahahaha."
Naruko kaget mendengar kata-kata Kiba, ia langsung menunduk. Naruko berusaha untuk tidak terlalu menanggapi perkataan Kiba, tapi tetap saja di dalam hatinya ia merasa sedih. Kiba benar, mau seperti apapun Naruto menjelaskan, pada dasarnya ia memang berasal dari bunshin Naruto, ia tidak akan dianggap sebagai individu yang berbeda, tidak akan dianggap sebagai perempuan, ia tidak akan pernah dianggap sebagai seorang remaja perempuan bernama Uzumaki Naruko.
Naruto menyadari keadaan Naruko, ia tahu kata-kata Kiba tadi pasti membuatnya sedih. Naruto menyeret Kiba dan menjauhkannya dari Naruko, kemudian berdiri di depannya. Sikap Naruto ini membuat Kiba dan Lee bertanya-tanya.
"Terserah apa katamu, aku mengatakan hal yang sebenarnya," kata Naruto pelan. Sejenak ia memandang Naruko dari bahunya kemudian kembali menatap Kiba dan Lee. "Dia memang bunshin-ku, tapi aku merasa dia berbeda. Dia ingin hidup seperti manusia biasa. Aku mengizinkannya dan memberinya nama. Karena itu, tolong jangan panggil dia 'Naruto' atau 'bunshin', panggil dia Uzumaki Naruko!"
Kiba dan Lee langsung kaget mendengar kalimat Naruto yang panjang lebar. Sementara itu tanpa Naruto ketahui, mata Naruko sudah berkaca-kaca.
Kenapa Naruto mau membelanya? Padahal 3 hari yang lalu Naruto tidak peduli dan bersikeras untuk menghilangkan Naruko. Naruko mengusap air mata yang kini sudah mulai keluar dari mata shapire-nya. Ia hanya seorang bunshin, persis seperti yang Kiba bilang. Asalnya pun tidak begitu jelas, yang ia tahu ia berasal dari gabungan sisi feminim Naruto dan juga chakra Naruto. Tapi kenapa Naruto mau melakukan ini untuknya? Naruto bilang ia berbeda dari bunshin-nya yang lain. Padahal yang ia rasakan, ia tidak berbeda dengan ratusan henge Naruto yang lainnya.
Kiba segera menjauh, melangkah menuju pintu keluar. "Kau benar-benar aneh Naruto, ayo kita pergi Lee. Naruto kelihatannya lebih memilih untuk berduaan dengan bunshin-nya."
"Ta-tapi-" Lee kelihatan bingung antara ingin mengikuti Kiba dan tetap di apartemen Naruto. Tapi akhirnya ia mengikuti Kiba.
"Lee," seru Naruto, membuat Lee berhenti sejenak dan berbalik memandang Naruto.
"Apa kau percaya padaku?" tanya Naruto.
Lee tidak menjawab, ia hanya mengangkat jempolnya dan memamerkan giginya yang menyilaukan. Ya, itu saja sudah cukup bagi Naruto untuk bisa mengartikannya.
"Terima kasih, Lee," gumam Naruto pelan. Ia tidak menyangka ia telah membela Naruko di depan Kiba dan Lee. Tadi itu ia hanya refleks karena melihat Naruko sedih. Semoga saja nanti ia bisa membuat Kiba percaya.
Sementara itu di luar apartemen Naruto...
"Lee! Ayo cepat," teriak Kiba.
Lee segera mengejar Kiba dan berjalan di sampingnya. "Kiba."
"Hm?"
"Kupikir Naruto benar."
"Apa yang membuatmu berpikir begitu?"
"Aku bisa melihat dari tatapannya padamu tadi, ia serius, ia tidak berbohong."
Kiba hanya diam, tidak membalas perkataan Lee setelah itu.
Naruto menghela nafas lega sekarang. Dalam hatinya ia memang membenarkan perkataan Kiba. Ia memang aneh. Sejak kapan ada shinobi membela bunshin-nya? Tapi seperti yang Naruto bilang tadi, ia merasa kalau Naruko berbeda, makanya ia tidak menyesal telah membela Naruko. Ia merasa telah melakukan hal yang benar.
"Maaf." Suara serak Naruko di belakang Naruto langsung menyadarkan Naruto dari pemikirannya.
"Maaf untuk apa?" tanya Naruto sambil berbalik untuk menghadap Naruko. Dan saat itu ia menyadari kalau pipi Naruko basah karena air mata yang tadi sempat mengalir. "Ke-kenapa kau menangis?"
"Aku tidak apa-apa. Aku minta maaf gara-gara aku Kiba jadi salah paham," lanjut Naruko.
Mendengar kalimat polos Naruko, Naruto malah tersenyum. Ia membiarkan Naruko melanjutkan kalimatnya.
"Aku takut... semua orang akan berpikiran seperti itu karena kita tinggal satu apartemen. Lalu, aku memang dikenal sebagai bunshin-mu, jadi pasti sulit meyakinkan mereka kalau aku perempuan. Naruto-kun jadi disangka orang aneh, maaf," lanjut Naruko, ia kembali menunduk sedih.
Naruto tidak melepas senyumannya, ia maju selangkah mendekati Naruko kemudian mengacak rambut Naruko. Naruko yang diperlakukan seperti itu mendongak dan langsung melihat Naruto yang tersenyum lebar. "Kau tidak perlu pedulikan aku, aku bukan tipe orang yang peduli pada perkataan orang. Dan kau harus ingat, aku juga tidak peduli pendapat orang lain tentangmu, yang jelas aku percaya padamu. Kau perempuan dan namamu adalah... Uzumaki Naruko."
Mendengar kalimat terakhir Naruto, Naruko merasakan pipinya memanas. Cepat-cepat ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Naruko jadi heran, Naruto itu bodoh tapi adakalanya kalimat yang diucapkannya penuh makna dan begitu menyentuh. Membuatnya malu sendiri.
"Hei, kenapa pipimu merah? Apa kau sakit?" tanya Naruto, oh ternyata Naruto masih bisa melihat semburat merah itu di pipi Naruko.
Naruko mendesah, perasaannya campur aduk antara malu dan kesal. Benar 'kan? Naruto itu bodoh! Siapa yang sakit? Baka!
Naruto akhirnya membiarkan Naruko yang tidak menjawab pertanyaannya, ia melirik jam dinding dan menyadari kalau hari sudah siang. "Sudah siang. Sekarang bersihkan pipimu, dan bersiap-siap. Kita akan pergi membeli baju untukmu," kata Naruto dan berlalu menuju kamar.
"Be-benarkah?" tanya Naruko tidak percaya. Matanya berbinar-binar, rasa sedih, malu, dan kesalnya langsung sirna mendengar Naruto akan membelikannya baju.
Naruto tertawa melihat perubahan mood Naruko yang drastis itu. "Hn. Kau tidak bisa terus-menerus memakai bajuku 'kan? Tunggulah, aku mandi dulu, setelah itu kita berangkat," kata Naruto sambil menutup pintu kamarnya, tapi ia sempat mendengar sorakan senang Naruko dari ruang tengah. 'Paling tidak sekarang ia tidak sedih lagi,' batin Naruto, kemudian melangkah menuju kamar mandinya.
Siang itu Naruto mengajak Naruko ke toko baju khusus perempuan yang cukup terkenal di Konoha. Sebenarnya Naruto sudah berniat membelikan baju untuk Naruko dari kemarin, tapi apa mau dikata, ternyata baru kesampaian sekarang. Sebagai orang yang mengizinkan Naruko tinggal di apartemennya, rasanya ia memang perlu membelikan baju untuknya. Naruko tidak bisa terus menerus meminjam bajunya. Selain itu, bukankah seorang remaja perempuan membutuhkan errr... pakaian dalam?
Setelah berada di depan toko yang dimaksud, Naruto menghentikan langkahnya. Melihat toko baju yang berdekorasi serba pink yang di dalamnya berisi ibu-ibu dan para remaja centil itu, nyali Naruto langsung menciut. Yang benar saja kalau ia harus masuk kesana. Awalnya Naruto berniat untuk memberikan uangnya saja kepada Naruko dan menyuruhnya membeli baju sendiri. Tapi Naruko bilang Naruto harus membantu memilih baju mana yang akan dibelinya (baca: memaksa untuk membantu memilih baju). Akhirnya mau tidak mau Naruto harus ikut, meskipun dengan terpaksa.
Tapi yang namanya perempuan memang senang belanja, begitu juga Naruko. Naruko berkeliling toko berjam-jam dan memilih banyak baju, padahal uang Naruto hanya cukup untuk 4-5 pasang baju saja. Akhirnya Naruko mencoba semua baju dan menyuruh Naruto memilih 4 pasang yang terbagus.
"Tunggu disini, aku coba dulu bajunya, setelah itu aku minta saranmu" kata Naruko kemudian berlalu menuju fitting room. Naruto hanya bisa menurut, ia duduk di kursi yang kebetulan disediakan disana. Sebisa mungkin ia tidak beradu tatapan dengan ibu-ibu dan remaja putri disana. Ia terlalu malu karena berada di tempat ini. Ia berdoa semoga saja ia tidak bertemu orang yang mengenalinya.
Tapi kelihatannya Naruto banyak dosa karena doanya ternyata tidak dikabulkan. Tiba-tiba seseorang memanggilnya.
"Kak Naruto!"
Naruto menoleh ke arah suara cempreng tersebut. Ia melihat teman satu team Konohamaru yang berkucir aneh, Moegi.
Naruto segera mendekatinya dan menyuruh Moegi memelankan suaranya agar tidak menarik perhatian. "Sssttt!"
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya mereka bersamaan.
Alis gadis berusia 12 tahun itu terangkat. "Hah? Apa maksudmu? Ini toko baju perempuan, wajar kalau aku ada di sini. Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau ada disini?" tanya Moegi. Kemudian ia tersenyum aneh. " Apa jangan-jangan kau ini..."
Pupil mata Naruto langsung membesar. "Jangan berpikir yang aneh-aneh! Bukan aku yang akan membeli baju!" Naruto melirik kantong belanja yang dijinjing Moegi. "Kau sudah belanja, sekarang lebih baik kau pulang. Cepar sana!" usir Naruto.
"Tapi aku ingin tahu kenapa Kak Naruto-"
"Cepat sana pulang!" bentak Naruto, membuat Moegi takut dan menurutinya. Moegi pulang walau masih penasaran dengan apa yang sebenarnya Naruto lakukan di toko baju perempuan. Setahu Moegi, Naruto bukan banci yang malam-malam merubah nama dan memakai baju perempuan. Atau membelikan baju untuk pacar? Naruto 'kan tidak punya pacar. Akhirnya Moegi mengangkat bahu dan melanjutkan perjalanan pulangnya, mungkin nanti ia bisa bertanya kepada Konohamaru.
Sementara itu Naruto segera kembali ke tempat yang tadi, tempat ia menunggu Naruko.
Setelah beberapa saat menunggu, Naruko keluar dengan baju pertamanya. Kaos tanpa lengan berwarna orange dan celana pendek setengah paha berwarna biru tua. Naruto tidak bisa membohongi dirinya sendiri, Naruko memang terlihat lebih cantik saat memakai baju perempuan.
"Bagaimana?" Tanya Naruko sambil memutar badannya di depan Naruto.
"Bagus," ujar Naruto sambil nyengir. Naruko tersenyum puas dan mencoba baju lainnya.
Dari 7 pasang baju yang dicoba Naruko, Naruto merasa kalau Naruko cocok memakai baju yang manapun. Ia tetap terlihat cantik saat memakai baju yang manapun. Naruto jadi merasa bangga telah 'melahirkan' seorang henge secantik Naruko. Tidak sia-sia ia melihat model-model majalah dewasa di toko buku bersama Konohamaru. Tapi dari ketujuh pasang baju itu, kebanyakan bawahannya adalah celana, bukan rok. Naruto bisa menyimpulkan kalau itulah selera Naruko. Mungkinkah ia tomboy? Hmm, mungkin saja.
Akhirnya Naruto menentukan 4 pasang baju yang menurutnya terbaik dan paling cocok untuk Naruko. Beruntung uang pembayaran dari misi kemarin lumayan banyak, jadi dompet Gama-chan-nya tidak terlalu cekak.
Naruto mengangkat kedua tangannya ke udara, di kedua tangannya ia memegang kantong belanjaan yang berisi baju Naruko. "Haaah, akhirnya aku bisa keluar dari toko serba pink itu. Berada lama-lama disana membuatku tidak nyaman."
"Hihi." Naruko tersenyum geli. "Apa uangmu masih ada?" tanya Naruko, di kedua tangannya ia memegang kantong belanjaan yang sama persis seperti yang dibawa Naruto.
"Yup. Kita masih bisa membeli bahan makanan untuk persediaan seminggu kedepan. Dan sebelum makanan habis aku pasti akan mendapat misi dan mendapat uang lagi," kata Naruto dengan percaya diri.
Naruko merasa lega, paling tidak ia tidak menghabiskan semua uang Naruto. "Terima kasih banyak. Aku janji akan mencari kerja dalam waktu dekat ini dan mengganti uangmu."
"Eh?" Naruto sedikit kaget mendengar keputusan Naruko ingin mencari kerja. Tapi melihat semangat Naruko, ia jadi senang. Ia semakin yakin kalau tekad Naruko untuk hidup sebagai manusia biasa tidak main-main, ia serius. "Ya, terserah kau saja," lanjut Naruto sambil ikut tersenyum bersama Naruko.
"Naruto-kun, kau mau teh hangat?" tanya Naruko dari arah dapur.
Hari sudah malam, Naruto dan Naruko sudah sampai di apartemen. Naruko merasa segelas teh hangat sangat pas untuk menghilangkan rasa lelah setelah seharian berbelanja. Naruko tahu Naruto juga kelelahan, bahkan ia tahu Naruto lebih lelah dari dirinya, makanya ia juga menawarkan teh kepada Naruto.
Tak ada jawaban.
Padahal Naruko tahu betul, Naruto ada di ruang tengah. Begitu mereka sampai di apartemen, Naruto langsung menjatuhkan dirinya di sofa. Jadi, dengan jarak yang kurang dari 4 meter ini rasanya tak mungkin Naruto tidak mendengar teriakan Naruko.
"Naruto-kun?" ulang Naruko karena tak kunjung mendapat jawaban.
Yang dipanggil tidak juga menjawab. Akhirnya Naruko melihat Naruto ke ruang tengah dan ternyata Naruto sudah terlelap di sofa. Naruko tersenyum kemudian mendekati Naruto, diperhatikannya wajah Naruto. Benar saja, Naruto kelelahan hingga langsung tertidur disini. Naruko membawa selimutnya di kamar dan menyelimuti Naruto. Malam ini tidak turun salju, rasanya ia akan baik-baik saja tanpa memakai selimut, jadi ia memberikan selimutnya kepada Naruto.
"Terima kasih untuk bajunya, aku suka. Dan terima kasih juga karena sudah menemaniku," kata Naruko sambil merapikan rambut Naruto yang berantakan. Saat itu ia kaget melihat pelipis Naruto yang merah, bekas dilempar botol sabun olehnya tadi pagi. "Naruto-kun, maaf tadi aku melemparimu sampai merah begini," gumam Naruko pelan, ia mengelus-ngelus pelipis Naruto dengan lembut.
Kemudian pandangan Naruko beralih ke wajah Naruto, menatap wajah polos yang sedang tertidur itu. Lama-lama melihat wajah Naruto, Naruko tak bisa menahan dirinya untuk membungkukkan badannya dan mengecup pipi Naruto.
Cup.
Tapi sedetik kemudian, Naruko langsung sadar akan perbuatannya. 'Apa yang baru saja kulakukan?' batinnya, panik. Ia segera kembali ke dapur dan melanjutkan kegiatannya membuat teh hangat. Dadanya berdegup kencang tanpa alasan yang Naruko mengerti. Hanya mengingat perbuatannya tadi saja langsung membuat pipinya memanas.
Naruko memegang dada kirinya, merasakan degupan jantungnya yang makin cepat. 'Perasaan apa ini?' tanya Naruko dalam hati.
Pagi harinya Naruto terbangun dengan mendapati selimut di badannya. Ia heran kenapa selimut itu ada padanya, seharusnya Naruko memakainya. Ia ke kamar mencari Naruko tapi orang yang dicarinya tak ada disana.
"Naruko! Kau dimana?" tanya Naruto, setengah berteriak.
"Aku di kamar mandi," seru Naruko dari dalam kamar mandi.
"Kau sedang mandi?"
"Tidak."
"Lalu kau sedang apa? Apa kau sakit perut?"
"Bu-bukan." Naruko berkata dengan terbata. Membuat Naruto makin penasaran apa yang dilakukannya di kamar mandi kalau tidak mandi dan tidak buang air.
Naruto baru akan bertanya lagi sebelum Naruko melanjutkan kalimatnya.
"Naruto-kun, se-sebenarnya ada satu hal yang kulupakan kemarin. Dan aku membutuhkannya sekarang juga, ini darurat. Apa kau bisa membelikannya untukku?" tanya Naruko. Dari nada bicaranya, Naruto merasa kalau Naruko sedang panik.
Naruto membuka dompet Gama-chan-nya, melihat uang yang tersisa disana. Setelah belanja baju dan persediaan makanan selama seminggu, dompet berbentuk kodok itu kembali 'langsing'. "Uangku tinggal sedikit. Apa ini sangat penting?" tanya Naruto.
"Sangat-sangat penting, harganya tidak mahal kok."
"Baiklah," ujar Naruto, mendengar kata 'tidak mahal' paling tidak itu tidak akan menguras uangnya. "Kau ingin aku belikan apa?"
"Umm… aku ingin kau membelikanku… pembalut."
"UAPAA?"
Andai saja Naruko bisa melihat wajah Naruto sekarang, ia sedang kaget sekaget-kagetnya. Permintaan yang simpel sebenarnya. Hanya tinggal pergi ke warung terdekat, cari pembalut, bayar, lalu pulang. Tapi masalahnya ini baru pertama kalinya seseorang memintanya membeli pembalut. Meskipun kasirnya pasti berfikir benda itu bukan untuk Naruto. Tapi tetap saja, Naruto tidak bisa membayangkan dirinya membeli benda itu. Uzumaki Naruto sang pembuat onar di Konoha membeli pembalut? Ah, yang benar saja!
"Aku mohon Naruto-kun, sudah kubilang ini darurat. Hanya kau yang bisa membantuku sekarang," kata Naruko dari dalam kamar mandi.
Disisi lain Naruto merasa kasihan juga. Akhirnya dengan berat hati ia melangkahkan kakinya menuju warung terdekat. Jaraknya hanya beberapa blok saja dari apartemen Naruto. Tapi, jarak sedekat itu terasa jauh, langkahnya terasa berat. Tapi akhirnya dengan susah payah ia sampai juga di warung tersebut. Tanpa buang waktu lagi, ia mencari rak tempat pembalut. Setelah itu ia mencari jenis pembalut yang telah Naruko sebutkan sebelumnya dan segera mengambilnya.
Namun tampaknya Tuhan senang sekali bermain-main dengan Naruto. Di ujung lorong tempatnya berada, Naruto melihat Moegi sedang diam memperhatikannya, ia terlihat kaget dan menutup mulutnya dengan tangan.
"Kak Naruto… kau…"
Naruto mengikuti arah pandangan mata Moegi yang ternyata melihat tangannya, yang kebetulan saat itu masih memegang pembalut. Ah, bagus sekali! Sekarang ia tahu kenapa Moegi begitu kaget.
Naruto menghela nafas pasrah, ia sudah capek dari kemarin berkelit terus di depan Moegi.
"Aku bersumpah Moegi, ini bukan untukku," ujar Naruto lemas.
To Be Continue…
A/N: Honestly, I feel stupid for writing this fic, especially this chap :p Ngerasa konyol deh pokoknya. Tapi terhibur begitu liat review, ga nyangka banyak yang suka. Ini jumlah review yang lumayan untuk sebuah crack pair. Kirain ga akan banyak yg suka. Nah, setelah baca chap 2 ini, gimana pendapat kalian? Idenya makin gila. Wkwk. Kalo kalian suka, ayo kita menggila lagi di chapter 3 nanti.
Bales review yg ga login:
temedobe: kalo pair sih udah ga bisa diganti. Semua yg review udah suka NaruNaru, kecuali kamu. Jadi maaf ya, sudah saya bilang ini idenya memang aneh. Tapi tenang aja, Naruko emang beneran cewek. Bisa dibilang Naruto dan Naruko itu ga sama, mereka manusia/individu yang beda meskipun awalnya Naruko berasal dari bunshin Naruto. Simak aja chapter depan, nanti akan ada penjelasan tentang Naruko.
Maaf ya buat reviewer yg ga login, saya ga bisa bales semuanya. Tapi kalo reviewer yg login pasti dibales lewat message.
Ada fanart lagi nih. Baju pertama Naruko terinspirasi dari gambar Naruko di bawah ini, hanya saja di fic ini celananya setengah paha:
i541[dot]photobucket[dot]com/albums/gg391/gre_rifky/Anime/Commission[dot]jpg
Dan ini gambar perjuangan Naruto dan Konohamaru supaya bisa bikin henge yg sexy (mestinya di kasih tau di chap 1 sih, tapi gpp):
i541[dot]photobucket[dot]com/albums/gg391/gre_rifky/Anime/ehs[dot]jpg
*ganti [dot] pake titik
Review… review… review…
Arigatou
-rifuki-
