(pasca)Adolesens

Cast : TaeKook with others

Genre : Slice of life, school life with bit romance and humor

Disclaimer : I just own plot and story

Summary :

"Setelah penolakan cintanya yang pertama, lantas hal tersebut membuat Taehyung menjadi berubah. Dan suatu ketika Jungkook mendobrak pintu rasional yang sebenarnya hanyalah ilusi. Karena dasarnya mereka berada di atas realita."

Happy Reading!

Bagian II : Perhatian

Ada sedikit kejanggalan yang Taehyung rasakan akhir-akhir ini. Sekitar sudah seminggu lamanya. Selalu saja ada satu orang yang sedia di depan kelasnya ketika dia baru keluar kelas. Itu pun dalam suasana dan keadaan yang selalu sama. Yang membedakan hanya siapa lawan bicara orang itu ketika Taehyung keluar. Bisa perempuan atau laki-laki, dari yang dia kenal sampai tidak, bahkan pernah sekali orang itu sedang berbicara dengan seorang guru di depan kelasnya.

Kalau Taehyung lebih peduli, dia bisa bertanya entah pada temannya atau orang itu langsung. Maksudnya, ada apa gerangan dengan di depan kelasnya? Apa orang itu tidak punya kelas sendiri? Atau sebenarnya orang itu adalah teman sekelasnya? Oh, tentu tidak. Taehyung tidak ingat kalau memiliki teman sekelas yang selalu terlihat berbicara dengan orang lain. Teman-teman sekelasnya cenderung berkelompok dan memilih di dalam kelas.

Hingga satu hari di mana hujan turun di sore hari. Taehyung yang baru keluar kelas bersama Taemin, sempat menggerutu dalam hati karena hujan turun.

"Jungkook, kau untuk apa selalu di depan kelas kami?" tanya Taemin, tanpa segan menyelipkan kata kami dalam kalimatnya. Penjelas dirinya dan Taehyung.

"Jadi, namanya Jungkook?" batin Taehyung berkata.

Orang yang bernama Jungkook itu hanya tersenyum. Lawan bicaranya sudah enyah, tinggal mereka bertiga. Taehyung tidak paham situasinya, tapi pandangannya yang menuju lapangan yang basah di bawah sana bisa merasakan bahwa ada pandangan berbeda yang berasal dari lawan bicaranya Taemin. Dan itu tertuju padanya.

"Apa dia memperhatikanku?"

Dan ketika Taehyung kembali menoleh, pandangan itu hilang. Rasanya langsung berubah normal, entah apa yang Taemin bicarakan dengan orang bernama Jungkook itu. Akhirnya dirinya bisa kembali berjalan bersama Taemin menuju tangga. Dan tanpa Taehyung sadari, sepasang mata sedari tadi memperhatikan punggung tegapnya yang lamban laun hilang ditelan jarak dan tangga.

Sebuah kemajuan yang baik! Jungkook menjerit tanpa suara di dalam kamarnya. Tak disangka bahwa hari ini terjadi begitu saja. Di mana, dia bisa melihat secara dekat plus jelas sosok bernama Kim Taehyung yang selalu diejek antisosial itu. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Ini hari yang luar biasa! Semuanya mendadak terasa manis bagi Jungkook. Meski dia belum berkesempatan mendengar suara Taehyung, tapi berada di dekat pemuda itu sudah cukup baginya walau hanya sebentar tanpa kontak apapun.

"Irene, kau harus paham! Barusan aku melihatnya dari jarak dekat!"

Jungkook tak peduli dengan suara omelan Irene karena suaranya yang menggelegar di telepon bisa merusak masker gadis itu. Jungkook tidak mempedulikan hal-hal lain ketimbang suasana hatinya yang sedang sangat sangat baik. Kini, bayangan wajah Taehyung semakin jelas di dalam benaknya.

Pemuda itu lebih tinggi darinya, hanya berbeda sedikit. Kulitnya cokelat meski tidak begitu, hidungnya mancung, kedua matanya memakai kacamata bulat yang pas di wajahnya, kakinya jenjang dengan tas biru muda pudar yang selalu menempel di punggung tegapnya yang lebar. Astaga, sudah bisa sedetail itu Jungkook mendeskripsikan seorang Kim Taehyung dalam waktu singkat.

"Oke, selama Jeon Jungkookie. Kau sudah resmi jatuh cinta!"

"Terima kasih!"

"Tapi kau harus tahu, jatuh cinta tidak sesederhana yang kau bayangkan."

Entah itu hanyalah peringatan dalam kemasan candaan atau memang kenyataannya demikian. Jungkook sedikit mengabaikannya. Persetan sulit dan mudahnya, nyaris tiga tahun di SMA baru kali ini Jungkook yakin dia sedang jatuh cinta walau baru beberapa hari lamanya.

Satu minggu, dua minggu, dan ini minggu ketiga. Kim Taehyung seringkali bersitatap dengan sepasang mata bulat dengan manik onix di tengahnya. Mata itu jernih, tampak bercahaya dan seolah memberitahu betapa berharganya tatapan itu. Entah ini sebuah kesengajaan atau tidak. Tetapi jika bukan sebuah kesengajaan, rasanya Taehyung mulai ragu.

Orang itu, Jungkook, selalu terlihat melewati kelasnya. Taehyung sebenarnya menolak percaya diri, bisa saja Jungkook sedang mencari seseorang dari kelasnya. Dan dia pun malas untuk berani menegurnya. Dia sering bersama Taemin, dan ketika Jungkook lewat tampaknya orang itu tidak mencari Taemin. Hanya sering melihat ke dalam kelasnya kemudian lewat begitu saja.

"Sebenarnya, siapa yang Jeon Jungkook cari di kelas kita?" Seolhyun berkata dengan agak keras kepada teman sekelompoknya ketika jam istirahat masih berlangsung.

Hingga seseorang timbul di daun pintu, diikuti sosok Jeon Jungkook yang baru saja dibicarakan. Sosok itu, Jungkook segera dapat menangkapnya di meja belakang pojok kanan, sedang makan bekal bersama beberapa temannya. Bahkan, Jungkook sudah mulai hafal teman-teman Taehyung yang rupanya cukup terkenal dan dia kenal. Hanya saja, pemuda itu seolah memilih tertutup, dia lebih banyak diam daripada berusaha turut terlihat.

"Hyun-ah! Aku pinjam kalkulatormu!" pinta Jennie, sosok yang datang bersama Jungkook. Dia sengaja tidak masuk.

Sedangkan Jungkook berusaha terlihat setenang mungkin. Walau sejatinya pandangan miliknya terus bertuju kepada orang bernama Kim Taehyung yang terlihat dari samping. Pemuda itu sedang makan dengan khusyuk, enggan berbicara ketika teman-temannya sedang berbicara.

"Mengapa dia begitu pendiam?"

"Terima kasih, Hyun-ah! Aku pinjam, ya. Oh, apa yang lain punya juga?" Jennie bertanya pada Seolhyun yang sejatinya menaruh curiga pada Jungkook.

"Ada, untuk siapa?"

"Apa Taehyung punya?" tanya Jennie tanpa ragu sama sekali.

Sontak raut wajah Jungkook berubah. Suara memanggil nama itu terdengar. Entah Seolhyun sudah berkompromi dengan Jennie sebelumnya. Tapi itu tidak penting. Yang terpenting adalah, bagaimana Jungkook harus bersikap ketika Kim Taehyung datang dengan sebuah kalkulator yang sebenarnya tidak benar-benar Jungkook butuhkan.

"Siapa yang pinjam?"

Jantung ini rasanya ingin berhenti berdetak saat itu juga. Keadaan memang dalam kondisi normal, tapi bagi Jungoook semuanya terasa merah muda. Waktu seolah berjalan lambat.

"Jungkook, Tae. Boleh, kan?"

Pemuda itu mengangguk. Menberikan kalkulator bewarna abu-abu, Jungkook menerimanya dengan senyum kaku. Tak pernah ia segugup ini pada orang baru. Lalu semuanya usai, suasana merah muda itu lenyap. Kembali pada suasana kelas yang agak sepi, Kim Taehyung kembali ke mejanya tanpa menoleh sama sekali dan Jennie sudah menariknya untuk meninggalkan kelas tersebut. Urusan mereka sudah selesai di sini.

"Ha ha ha. Kau harus lihat wajahmu barusan! Benar-benar konyol!" Tanpa malu, Jennie menertawakan Jungkook ketika mereka baru sampai kelas.

Gadis ini benar-benar cerdas. Niat hanya ingin meminjam kalkulator pada temannya untuk ulangan kimia nanti dengan mengajak Jungkook untuk bermodus. Rupanya keadaan mendukung sebuah pendekatan yang lebih jauh.

Pertama kalinya, Jungkook mendengar suara milik Kim Taehyung. Suara bariton yang benar-benar seksi di telinganya, meski hanya beberapa patah kata tapi rasanya Jungkook telah mendengar Kim Taehyung berpidato selama satu jam penuh.

Suara yang benar-benar khas!

"Apa kau tidak tahu, Jen? Lee Ssaem melarang menggunakan kalkulator!" tegur Mingyu ketika melihat yang lain mulai membawa kalkulator.

Dan Jungkook sebenarnya tidak butuh sekali dengan kalkulator itu. Dia lebih pede menghitung manual.

"Tak masalah, jam terakhir ulangan fisika. Pasti boleh, kan?"

Dan Jungkook tetap tidak benar-benar membutuhkan kalkulator itu. Tapi jika itu bisa membuatnya mendengar suara Taehyung, lagi, maka Jungkook rela meminjam terus pada pemuda itu.

-catus420