That Face
(Wajah Itu)
Original link : www asianfanfics com/story/view/554888/that-face-romance-baekyeol
(Ganti spasi dengan .)
Author : ChrissyJjang
Casts : Baekhyun, Chanyeol, EXO
Pairing : Chanbaek / Baekyeol , Hunhan , Taoris , Kaisoo, Xiuchen
Genre : Romance
Warning: Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy
Hope u enjoy~ ^A^
.
.
.
.
.
Baekhyun's POV
"Baek baby." Chanyeol mengerang pada ceruk leherku. Membuat tubuhku meremang tak berdaya, seraya aku mencengkerakan kuku tanganku pada bahunya.
"Jangan." Aku memohon, sedikit urung mendorongnya menjauh, dan ia tertawa dengan suara beratnya ketika mendengarku memohon.
Suaranya masih saja membuatku gila! Getaran ini tak juga hilang dan rona di pipiku tak juga memudar. Semua seakan akan ia menikmati melihat aku meleleh di hadapannya. Ini benar benar memalukan.
"Apa kau benar benar ingin aku untuk berhenti?" Ia mengerang, dan aku berusaha melawan lenguhan yang berusaha keluar dari bibirku.
"Ini sudah hampir pukul sepuluh." Aku bergumam di dadanya dan ia membeku.
Aku mencebikkan bibir ketika ia dengan tiba tiba menjauh dan terduduk di ujung sofa, seketika terasa begitu jauh. Aku terduduk pada lututku dan bergeser mendekat, melingkarkan lenganku pada bahunya.
"Maafkan aku." Aku berbisik di balik rambutnya.
"Kau tahu aku tidak bisa terima dengan kenyataan bahwa kau masih melakukan itu semua. Mengapa kau malah mengungkitnya?" Ia menggeram pelan dan aku menggigit bibirku merasa bersalah.
"Aku hanya tidak ingin kita memulai sesuatu yang tidak bisa terselesaikan." Aku mengaku pelan.
"Kau tidak bisa melupakan pekerjaan sekali saja? Untukku?" Ia bergumam dan aku menghela nafas tajam mendengar kata katanya.
"Chanyeol, aku tidak bisa bolos kerja begitu saja." Aku beralasan dengan penuh harap.
"Kau tidak pernah membolos seharipun? Ayolah Baek." Ia memohon, dan aku menahan keinginanku untuk menyerah.
"Chanyeol kau tahu aku ingin, aku hanya-"
"Tidak bisa?" Ia menyelesaikan kalimatku dengan tajam dan seakan mengingatkan, headsetku berdering dan aku bisa mendengar Lay memanggilku.
Aku menarik bibirku menjadi garis tipis dan menolehkan tatapanku ke Chanyeol sebelum tergopoh menuju sofa untuk mengangkat headset. Aku mendengar Chanyeol menghela nafas di belakangku dan berdiri, menarik tubuhku untuk sebuah goodbye kiss yang terlalu singkat dan melangkah keluar dari apartemenku.
Aku tahu ini menyakitinya, kenyataan bahwa aku masih bekerja. Tapi pilihan yang ada terlalu sedikit untuk laki laki sepertiku. Aku tidak pernah memiliki pengalaman kerja yang sebenarnya, selain di Exotica. Dan tagihan keuangan tidak akan berhenti hanya karena aku mendapat seorang kekasih. Aku akan melakukan apa yang harus ku lakukan, dan ku harap Chanyeol dan aku dapat bertahan melaluinya.
.
.
.
Aku terhuyung keluar dari kamarku, setengah sadar dengan ketukan di pintu yang tak juga berhenti. Membukanya, Chanyeol mengejutkan diriku yang masih setengah tertidur dengan menarikku ke pelukan hangatnya yang nyaman.
"Maaf sudah membangunkanmu, babe. Ku kira kau bakal sudah bangun jam segini." Ia menjelaskan merasa bersalah, dan aku menoleh ke arah jam dinding, menyadari bahwa sekarang sudah begitu siang. Aku mengusap mataku mengantuk dan tersenyum ke arahnya.
"Itu bukan masalah. Lagipula kau cukup tampan untuk menjadi sebuah pemandangan bangun tidur." Aku memuji sedikit menggoda, dan ia mengecupkan ciuman ke dahiku.
"Kalau begitu maukah kau ikut sarapan denganku? Aku sangat ingin berbicara denganmu mengenai sesuatu." Ia berujar tak sabar dan aku menyipitkan mata.
"Aku tahu sesuatu pasti membuatmu bersemangat, Yeol. Hal apa itu?" Aku bergumam, tapi ia hanya tersenyum lebar padaku.
"Kalau begitu, ayo pergi! Aku akan memberitahumu begitu kita tiba di sana." Ia berjanji, menggenggam pergelangan tanganku. Tapi aku hanya terkikik melihat kelakuannya dan menautkan jemarinya dengan milikku.
"Beri aku waktu sebentar. Aku baru saja bangun, ingat."
Ia menggembungkan pipi sesaat sebelum tersenyum lagi dan mendorongku masuk sedikit demi sedikit, seakan memberitahu ku 'pergilah, cepat'.
"Apa kau ingin menonton?"
Aku mengedipkan mata, dan pandangannya berbinar sesaat sebelum mengikutiku dengan patuh menuju kamar.
"Apa kau melakukan ini dengan sengaja?" Chanyeol menggeram di bahuku dan aku tersenyum seraya menurunkan celanaku seutuhnya.
"Tergantung. Apa itu berhasil?" Aku menggigit pelan telinganya dan ia menarik pinggulku padanya.
"Jangan. Aku harus bersiap. Atau kau ingin melewatkan sarapannya?" Aku menaik turunkan alisku, dan ia berdecak pada peringatanku.
"Pakai bajumu. Apa yang ingin ku tanyakan padamu sangat penting."
Aku mencebikkan bibir pada kendali dirinya yang tiba tiba kembali, dan memutar bola mataku sebelum melenggok menuju lemari pakaian, menyeringai mendengar kekasihku mendesis kesal.
.
.
.
Selama beberapa saat aku terlalu diam selama sarapan. Tapi begitu makanan kami tersaji, Chanyeol mendekatkan wajahnya ke depan seakan meminta perhatianku.
"Baekhyun, apa kau menyukai pekerjaanmu?"
Aku menarik nafas panjang pada pertanyaannya dan memfokuskan tatapanku padanya.
"Chanyeol, ini tidak se-simple itu. Aku membutuhkan gajinya. Tagihan keuanganku tak bakal berhenti, dan aku sudah terlalu banyak berhemat begitu lama. Aku terlilit hutang, dan pekerjaanku adalah satu satunya cara untuk laki laki sepertiku mempertahankan hidup...secara legal." Aku berusaha membela diri, memainkan sedotan di gelas minumanku.
"Itu bukan apa yang aku tanyakan. Aku bertanya, apa kau menyukai pekerjaanmu?" Suaranya tidaklah kasar atau mengancam. Ia terdengar seakan berharap, seraya tersenyum menunggu dari seberang meja.
"Tentu saja aku tidak menyukai pekerjaanku, Chanyeol. Aku membencinya. Dan ini semakin memburuk ketika mengetahui kau mempunyai kekhawatiran terhadapku. Dan aku sudah menyerah beberapa saat yang lalu tentang ini semua."
Aku memainkan bibirku dan memandang Chanyeol, sementara senyum separo terukir di wajahnya.
"Kalau begitu aku punya permintaan untukmu." Senyum separonya mengembang menjadi senyum lebar, dan aku mengerutkan bibirku memperhatikan.
"Jika ini tentang kau membayarku untuk seks, jawabannya adalah tidak." Aku menyipitkan mata, sementara itu ia tertawa dan meraih tanganku di seberang meja untuk menautkan jemari kami.
"Rekan kerjaku mendapat promosi dan posisi sekretaris sedang terbuka." Ia tersenyum, memandang sesekali pada jemari kami yang bertautan.
"Bekerja denganmu? Chanyeol, aku belum pernah menjadi sekretaris. Aku tidak akan pernah bisa mendapat pekerjaan itu." Aku mengerutkan dahi dan ia menggelengkan kepala, masih dengan tersenyum.
"Baekhyun, kau ingat bahwa aku adalah orang penting. Jadikan aku referensi dan kau bakal berpeluang untuk diterima, jauh lebih dari yang lainnya. Perusahaannya kompeten, dan kita bisa melatih sekretaris, selama kau masih mau untuk belajar."
Ia mengeratkan genggamannya pada jemariku. Aku memandang kepada ia dan jemari kita yang saling bertautan, sangat menyadari bagaimana ia menjadi nampak begitu berharap.
"Jadi itu yang membuatmu begitu bersemangat? Kau ingin aku mendaftar menjadi sekretaris?" Aku bergumam, balik meremas jemarinya dan ia mengedikkan bahu.
"Ini sempurna. Kau akan di sana, jam kerja normal dari pukul 9 hingga 5. Dan itu memberi gaji yang layak...dan aku tidak perlu menggila khawatir karena kekasih cantikku tak lagi menggoda orang orang asing lewat telepon."
Ia tidak lagi menutupi raut kekhawatiran yang telah lama disembunyikannya, dan aku menggigit bibirku merasa bersalah.
"Aku tidak yakin bekerja sebagai sekretaris akan menghasilakan gaji sebagus di Exotica." Aku bergumam dan Chanyeol menghela nafas.
"Memang mengapa? Pekerjaan ini membayar dengan cukup layak, dan...aku...sedikit berharap kau mau tinggal bersamaku."
Mataku melotot kaget sementara ia memandang ke atas meja.
"Chanyeol, aku tidak akan pernah bisa memanfaatkanmu seperti itu." Aku menolak dan jemarinya semakin mengerat dengan tanganku.
"Tapi aku menginginkannya. Kau tahu Baekhyun? Aku mengerti kita baru bersama beberapa minggu, tapi aku sungguh berpikir telah sangat, hampir, nyaris, jatuh cinta kepadamu." Ia tergagap sesaat di tengah ucapannya, dan aku ternganga ketika kalimat itu terucap.
Aku membiarkan ibu jariku bergerak menggambar hati di balik permukaan tangannya, hingga matanya kembali menatapku.
"Aku sangat, hampir, nyaris, jatuh cinta kepadamu juga."
Aku merona, dan Chanyeol mengangangkat telapak tanganku ke bibirnya, menciumnya lembut dan membuatku semakin merah terbakar.
"Kau tak tahu seberapa senangnya aku mendengarnya." Ia tertawa pelan, dan berdeham untuk menutupi suaranya yang sedikit pecah.
"Jadi, wawancaranya adalah besok pukul 11 siang. Apa kau yakin tak apa?" Ia mengubah topik, dan aku tersenyum pada ketidaksabarannya, kemudian mengangguk menjawab.
"Aku akan datang. Tapi jika aku tidak mendapatkan pekerjaan itu...aku tidak yakin bakal bisa pindah dan tinggal bersamamu." Aku bergumam menyesal.
"Kau akan mendapatkan pekerjaan itu, Love. Pekerjaan itu sempurna untukmu."
Ia tersenyum lebar dan membungkuk ke seberang meja, berharap aku melakukan hal yang sama. Aku menggelangkan kepalaku dengan dahi berkerut, melihat ke penjuru kafe.
"Jika kau mau menciumku kau harusnya membicarakan hal ini di rumah saja." Aku mengingatkan, dan Chanyeol memutar bola mata sebelum menarik pelan kerah bajuku dan mendaratkan bibirnya pada milikku. Sebuah senyuman masih terukir di wajahnya.
.
.
.
Aku sedikit malu ketika tiba di alamat yang Chanyeol berikan padaku. Aku sudah tahu bahwa ini adalah perusahaan besar, terkenal, dan sangat berpengaruh. Tapi bangunannya yang begitu megah seketika membuat aku merasa tersesat di balik setelan baju lamaku.
Aku sudah tidak mengenakan hal semacam ini sejak wisuda. Tapi beruntung aku tidaklah banyak tumbuh sejak saat itu. Namun tetap saja semua orang nampak berpakaian dengan sempurna, dan aku bersumpah mereka menilaiku bahkan sejak aku berkata bahwa aku memiliki janji wawancara dengan seorang 'Wu Yifan'.
Pada akhirnya aku hanya menarik nafas panjang menghadapi itu semua, dan dalam kurun waktu satu jam aku sudah terduduk di sofa kulit empuk, menunggu giliran wawancaraku.
"Byun Baekhyun?"
Aku berdiri dan tersenyum sopan pada pria yang menyebutkan namaku, lalu ia mengulurkan tangannya dengan wajah datar dan bersalaman singkat.
"Jadi, kau kenal Park Chanyeol." Ia berujar sambil mengambil tempat duduk berseberangan denganku.
Mungkin aku hanya berimajinasi, tapi ia nampak begitu puas dengan ucapannya. Aku mengabaikan hal itu dan berusaha menjawab dengan profesional.
"Ya tuan, dia...teman terdekatku." Aku berusaha untuk terdengar yakin. Tapi aku pikir pria tinggi berambut pirang itu menyadari pemujaan sekaligus keraguan di balik suaraku, karena ia menaikkan alisnya ragu.
"Baiklah, dan nampaknya kau tidak punya pengalaman kerja. Tidak sama sekali, Mr. Byun?"
Aku terbatuk kikuk pada pertanyaannya dan menundukkan pandanganku sesaat sebelum membenarkan.
"Tidak ada yang cukup berarti, tuan."
Aku dalam hati memuji diriku sendiri untuk jawaban samar yang aku berikan, dan menunggu jawabannya.
"Aku sungguh berharap kau menilai hal itu dengan benar, Mr. Byun. Karena Mr. Park banyak berharap padamu, dan well, siapa aku berani menyalahkan pilihannya untuk perusahaan ini."
Aku menelengkan kepalaku mendengar jawabannya.
"Maaf atas kebingunganku tuan, tapi aku belum pernah terpikir untuk bertanya pada Chan- Mr. Park mengenai posisinya di perusahaan ini. Siapa dia sebenarnya?"
Obrolan ini sedikit keluar dari topik sebuah wawancara tapi Yifan juga berujar terlalu jauh, jadi aku memanfaatkan keadaan. Hanya saja aku sedikit malu setelahnya ketika Yifan memandangku tertegun, membiarkan rahangnya sedikit jatuh terbuka.
"Kau tidak tahu...siapa Chanyeol di sini?" Tawa terbahaknya meledak pada detik berikutnya dan aku memandang pangkuanku tak nyaman.
"Well, paling tidak kau tak berpura pura tahu." Yifan menggelengkan kepalanya, membuat aku mengerutkan bibir pada godaannya. "Mr. Park adalah CEO sekaligus pendiri perusahaan SM Inc."
"Pendiri perusahaan..." Aku bergumam begitu saja.
"Ia orang penting." Aku berujar pelan dan Yifan terbatuk oleh tawanya lagi, membuatku kembali terfokus padanya.
"Ya, sangat penting. Mr. Byun, ia ingin kau menduduki posisi ini, jadi ini akan jadi milikmu jika kau bersedia."
Aku mengangguk begitu saja dan ia tersenyum sarkastis.
"Latihanmu bakal dimulai pada hari Rabu. Tolong tiba di sini pada pukul 9 pagi, dan siap untuk pelatihan." Ia memperingatkan, mengumpulkan file-ku dan bangkit berdiri.
Aku mengikuti setelahnya dan menjabat tangannya sekali lagi dan ia mengangguk.
"Kau lebih dari sekedar teman, Mr. Byun. Cobalah untuk tidak membiarkan siapun mengorek rahasia terkecil Chanyeol sekalipun tanpa permisi." Ia berujar, tanpa melepaskan tanganku.
Ia masih memasang wajah datarnya, dan aku pasti sudah sepucat hantu sekarang menyadari kenyataan bahwa ia tahu tentang hubungan kami.
Seberapa banyak yang dia tahu? Cara kami bertemu? Apa yang sudah ku lakukan?
Ada begitu banyak kemungkinan memalukan dan aku tidak bisa melakukan apapun kecuali membiarkan pandanganku tertunduk dan pamit undur diri.
.
.
.
"Baekhyun~" Chanyeol merajuk seraya membiarkan dirinya sendiri memasuki apartemenku.
Aku menoleh padanya, bibir bawah mencebik membentuk sebuah pout marah. Ia meraih wajahku ke tangannya dengan dahi berkerut.
"What's wrong, Love?"
"Seberapa banyak hal yang kau beritahukan Yifan tentang diriku?" Aku memaksa dan Chanyeol sedikit kembali rileks.
"Aku memberitahunya untuk tidak terlalu kasar. Idiot itu benar benar buruk dalam bertingkah. Apa yang dia katakan, Baek?"
Aku sedikit menjauhkan badanku dan ia mengerutkan dahi, menarikku kembali dalam pelukan.
"Dia bicara tentang banyak hal. Tidak sedikitpun di antaranya berkaitan dengan wawancara. Ia sepertinya tahu tentang aku...tentang kita. Chanyeol, apa ia tahu tentang pekerjaanku?"
"Mantan pekerjaan." Ia membenarkan, menyentuh hidungku.
"Dan aku tidak pernah menyebutkan hal itu, Baek. Aku memberitahunya bahwa seorang pria muda cantik akan menjadi sekretaris yang baru, dan secara kebetulan pria itu adalah cinta hidupku. Aku tidak ingin ia menakutimu, jadi aku memberitahunya untuk tidak terlalu jahat. Tapi orang itu sungguh aneh dan tidak bisa mengontrol percakapan yang normal." Ia berbicara panjang lebar, nampak begitu puas dan aku meringsut ke bahunya, semakin mencuri perhatiannya.
"Bicara soal mantan pekerjaan, kenapa tidak kau lewatkan saja formalitas wawancaranya, tuan CEO." Aku mencebikkan bibir dan Chanyeol seketika menjadi malu, mengusap bagian belakang lehernya.
"Aku hanya tidak ingin kau terlalu khawatir tentang pekerjaan ataupun uang. Aku sudah banyak berurusan dengan hal hal semacam itu, kau tahu?" Ia mengangkat bahu dan aku mengangkat kepalaku tersenyum padanya, melingkarkan lenganku pada lehernya.
"Kau tahu Chanyeol, aku belum pernah begitu materialistik tapi kau benar benar impian semua orang, bukankah begitu?" Aku mengedipkan mataku padanya dan ia menurunkan pandangannya setengah malu.
"Kau tidak suka orang orang menghabiskan uang mereka untukmu." Ia menebak dan aku mengangkat bahu.
"Aku biasanya menganggap hal seperti itu tidak perlu. Temanku Tao bakal menyukaimu. Kau bisa membelikannya semua Gucci di seluruh dunia." Lantunku dan Chanyeol nampak sangsi.
"Well, bagaimana jika ini memang perlu?" Ia bergumam dan aku menyipitkan mata.
"Apa yang telah kau lakukan?" Aku berusaha menggodanya dan ia mencium dahiku lembut.
"Hanya membeli beberapa barang untuk pekerjaan barumu. Aku sudah melihat lemari pakaianmu, itu begitu polos-"
Aku nengangkat alis, menunggu penjelasannya dan ia terkekeh.
"Hanya beberapa kebutuhan...dan sedikit tambahan yang ku pikir akan nampak manis kau kenakan."
Aku menghela nafas menyerah.
"Jangan terlalu memanjakanku, tampan. Atau aku bakal berakhir mengais makanan dari telapak tanganmu nantinya." Ia menggumam, mengeratkan lengannya di sekitar pinggangku.
"Apa kau berjanji?" Tanyaku.
Ia mengerang pelan, membuatku gemetar seraya beringsut mendekat.
"Menginaplah denganku malam ini?"
Ia hanya kembali bergumam dan aku memiringkan kepalaku bertanya tanya.
"Baiklah. Untuk merayakan!" Ia berujar pada akhirnya dengan senyum lebar.
"Karena aku sudah keluar dari pekerjaan lama?" Aku terkikik dan ia menggigit bibir, menyesal.
"Nampaknya aku juga perlu memerintahkan beberapa orang untuk mengemasi semua barang barangmu."
Aku memandangnya, sedikit kaget namun tersenyum pada akhirnya, nampak membuatnya lega.
"Kau benar benar bergerak cepat." Aku bergumam, bermain dengan rambut pada tengkuk lehernya.
"Hanya ketika aku terlalu bersemangat." Ia menjelaskan dan aku mengangguk, membungkuk untuk mencium ujung bibirnya, membuatnya mengerang mengantisipasi.
"Suaramu masih saja begitu mempengaruhiku." Aku berujar pelan di dadanya dan ia tertawa berat, tapi itu semua terhenti oleh ring tone ku yang seketika berbunyi keras.
Mata kami mencari sumber suara dan aku memberinya tatapan maaf yang nampaknya ia pahami, karena ekspresinya jatuh sebelum aku berbalik untuk mengangkat ponselku.
"Baekhyun! You fucking quit?" Suara Tao melengking di telingaku dan aku bergidik mendengarnya.
"Hey Tao. Yeah aku, um...aku keluar. Kau tahu 'lover boy'?" Aku menggumamkan kode nama yang kami buatkan untuk Chanyeol sebelumnya, seraya bermain dengan sehelai benang lepas di bajuku.
"Kami sudah bersama untuk beberapa waktu sampai sekarang dan well...dia menemukan sebuah pekerjaan baru untukku."
Aku tersenyum pada kekasihku, yang kemudian melangkah mendekat dan melingkarkan lengannya di sekeliling bahuku.
"Maaf sudah mengambilnya darimu, Tao." Chanyeol berujar keras, unuk membuatnya terdengar jelas di ujung sambungan, dan Tao mendengus.
"Sudah seharusnya begitu. Pelanggannya banyak yang marah, bahkan kepada orang baru yang menggantikannya. Belum lagi kami bertiga bakal terlalu banyak pesanan, tuan." Tao mengomel dengan bahasa campuran Mandarinnya, membuatku terkikik.
"Apa 'Dragon boy' masih sering menelepon?" Aku bertanya dengan suara pelan dan Tao menghela nafas, seketika teralihkan.
"Ya, begitulah."
Ia terdengar tidak terlalu bersemangat membicarakan hal ini, dan dalam hati aku membuat catatan untuk menanyakannya lain kali saat Chanyeol tidak ada.
"Kau tahu kita semua bahagia untukmu kan, Baek? Kau sungguh beruntung. Jongin masih berusaha mencari tahu apakah D.O adalah mantan kekasihnya atau bukan, dan Minseok masih belum memberi Chen Chen kesempatan."
"Pria itu sudah mengejar Minseok begitu lama bukan?" Aku terkaget dan Tao tertawa pelan.
"Hanya Tuhan yang tahu. Chen Chen pasti sudah jatuh cinta."
"Dan kau? Bagaimana kabarmu akhir akhir ini?" Aku mengambil inisiatif, mendengarkan berita tentang hubungan teman temanku, sementara Chanyeol memberiku kode untuk melanjutkannya.
"Pria itu masih sama saja. Idiot besar tak kan bisa melihat perasaanku bahkan jika aku memukul kepalanya dengan hatiku."
Aku mencebikkan bibir bersimpati mendengar penjelasannya.
"Pernahkah kau...berbicara padanya?" Aku mencoba bertanya dan Chanyeol mengangguk pada saran yang ku berikan, terlihat tertarik dengan situasi yang ku bicarakan.
"Ia tidak ingin bicara...ia ingin apa yang ia bayar." Ia bergumam, dan aku menghela nafas.
"Apa yang kau sukai darinya, Tao?" Aku mendengus, membuatnya tertawa pelan.
"Segalanya." Ia bergumam.
"Ia benar benar mempesona, bahkan tanpa perlu ia mencoba. Ketika pertama kali menelepon ia berbicara dengan bahasa Inggris. Itu benar benar manis dan kemudian ia mencoba berbicara bahasa Korea. Ia benar benar malu ketika ia mengetahui bahwa kami berdua adalah Chinese. Tahukah kau seberapa bersemangatnya aku berusaha untuk tidak tergagap? Ku pikir aku melayani seorang bule saat itu. Aku bisa menjadi seksi dan romantis bersamanya. Aku bisa menjadi tepat seperti apa yang ia inginkan dariku."
Aku menggigit bibir mendengar kata katanya.
"Kau yakin tidak menyukainya hanya karena ia Chinese, bukan?"
Ia mengerang mengiyakan kemudian kembali berbicara.
"Itu sangat berpengaruh. Ya, tapi aku bisa bilang bahwa agaknya ia tampan dan...kuat? Ia menerima tagihannya dengan pesona yang aneh, hingga membiarkanku meleleh pada tiap akhir malam." Jawabnya, dan aku tersenyum mendengar bagaimana ia menyampaikan perasaannya dengan begitu ekspresif.
"Jangan lupa, sepertinya ia juga kaya." Aku menggoda dan Tao kembali tertawa.
"Ia sempurna." Sebuah helaan nafas lagi.
"Oh God, ini sudah hampir pukul sepuluh. Aku harus pergi. Jangan lupa untuk sering sering mengontakku, Baekhyun. Aku harap bisa bertemu lover boy segera."
Ia mengucapkan selamat tinggalnya dan menutup sambungan, sebelum aku membiarkan diriku merebah di antara pelukan Chanyeol. Ia memidahkan tubuh kami ke sofa dengan kecupan kecupan lembut di bahuku.
"Exotica nampaknya benar benar melelahkan untuk kalian, huh?" Chanyeol bersimpati dan aku bergumam mengantuk.
"Kami satu satunya homoseksual operator telepon dewasa di Seoul. Itulah mengapa kami populer. Semua orang yang tertarik bakal datang menelepon pada kami-"
"Mereka." Chanyeol membenarkan dan aku berbalik untuk menempelkan bibirku pada miliknya.
"Ya, mereka."
.
.
.
T/N :
So... How is it guys? ._.
Eheee. Pendek binggo ya?
Well, I promise the next chap bakal lebih panjang dari ini^^
As always, thank you so much buat semua yang udah review di chapter description :
VNaaaa, Asmaul, Ovieee, yayahunnie, Devia494, Kimbyun9295, Park Rinhyun-Uchiha, lueksoluosby, christovitaa, Yessi94esy, Park Youngie, depiieee, baekvelvet, chanbaekvs, baekpie461, SeHunaa12, fwxing (Guest), chanbaeksf (Guest), maiolibel (Guest), Guest, ChanBMine (Guest), didadida (Guest)
All my luv for u. Review kalian adalah semangatku ;_;
Juga buat all readers yang sudah fave and foll, maupun yang sekedar liat liat. Yuks review, and gomawoyo~
Terimakasih juga atas saran yang kalian berikan mengenai project translate ff aku yang selanjutnya yaa. It means so much for me^^
Translate ff gs?
Sebenernya aku lebih prefer ke ff YAOI gaes. Tapi boleh lah kalo ntar nemu ff GS english yang bagus, kuy. Soalnya ff GS english emang ga begitu banyak dan sebagian besar yang terkenal pun YAOI. Tapi saran kalian tetap aku pertimbangkan^^
Yang penasaran sama ending ni sequel sad/happy. Eheee. Stay tune yak^^
(Note: Im not a fan of angst story :3)
Akhir kata, maaf atas typos dan bahasa yang kurang greget.
Pretty please review kuy!
mashedpootato ❤
