Telinga Doyoung masih belum mampu untuk terbiasa dengan dentuman musik keras yang terdengar di tempat ini. Dari balik meja bar, Jaehyun menawarinya minuman, tapi Doyoung harus tetap segar malam ini. Tidak boleh ada yang bisa mengganggu konsentrasinya, termasuk alkohol.

Orang mabuk terkadang kehilangan kemampuan untuk menyaring apa yang akan dikatakannya. Itu adalah alasan mengapa Doyoung mendatangi klub-klub malam untuk mencoba mencari petunjuk. Dua minggu yang lalu, ia mendengar berita soal penangkapan seorang buronan pencuri di kota sebelah, dan penangkapan tersebut terjadi di klub malam. Dari berita tersebut Doyoung terpikirkan untuk melakukan hal yang sama—mendatangi klub-klub malam untuk mencari petunjuk, syukur-syukur menemukan pelakunya. Siapa tahu satu dari sekian banyak pengunjung yang mabuk di sini malam ini mengatakan hal yang mampu membawanya menuju titik terang kasus pembunuhan Mark. Siapa tahu pembunuh bodoh itu malam ini datang kemari, minum sampai pusing dan mabuk, kemudian membeberkan pada bartender, atau orang-orang di sekitarnya, kalau enam bulan lalu ia membunuh seorang barista, tiga blok dari Kantor Kepolisian Seoul.

Maka dari itu, Doyoung mulai menyusun jadwal—klub mana saja yang harus didatanginya tiap malam. Karena ia hanya sendirian, tidak mungkin juga menyelidiki semua klub setiap malam, maka jadwal tersebut sangat diperlukan. Ia juga berusaha untuk menjalin hubungan baik dengan para bartender, siapa tahu mereka memiliki informasi penting yang dapat dibagikan kepada Doyoung, seandainya Doyoung berlaku baik pada mereka. Doyoung paham betul metode ini sangat banyak celahnya, apalagi ia hanya melakukannya sendirian. Salah satu kemungkinan yang akan terjadi adalah Doyoung memasuki klub X sementara si pembunuh masuk klub Y; itu pun kalau si pembunuh benar-benar tipikal orang yang pergi ke klub malam. Meskipun begitu, Doyoung tetap ingin mencobanya. Bagaimanapun juga Doyoung hanya bisa bergantung pada kemungkinan yang sangat, sangat tipis itu.

"Kau tahu kalau bar ini punya jus buah. Jadi kalau haus, silakan pesan," ucapan Jaehyun barusan menerobos pendengaran Doyoung. Doyoung mendongak, lalu mengangguk pelan. Ia tak punya rencana untuk minum apa-apa, sebetulnya. Tapi tentu saja ia tidak mengatakannya pada Jaehyun.

"Belum beruntung juga, ya?" Melihat Doyoung tidak berkata apa-apa, Jaehyun memulai pembicaraan. Doyoung bukan wajah baru bagi Jaehyun. Ia sudah tahu apa maksud dan tujuan Doyoung berada di klub seperti ini. "Mungkin seharusnya kau bawa pasukan, biar bisa inspeksi klub malam lain selain klub ini. Klub di Seoul nggak cuma satu, kau tahu."

Doyoung mendecih pelan. "Aku akan punya pasukan seandainya polisi benar-benar mempergunakan uang pajak kita untuk melakukan pekerjaannya."

Reaksi Doyoung barusan membuat Jaehyun mengernyitkan alis. "Apa maksudmu polisi tidak melakukan pekerjaannya?"

"Inspektur mana lagi yang malah menghabiskan waktu main-main di klub malam alih-alih menangani kasus yang seharusnya sudah terpecahkan sejak lama?"

"Maksudmu Inspektur Lee Taeyong?" Kerutan di dahi Jaehyun semakin kentara. "Astaga."

"Benar, kan? Astaga sekali, kan? Bagaimana perasaanmu sebagai penduduk sipil kalau kau tahu polisinya ternyata bersikap seperti —"

"Bukan, bukan." Jaehyun mengibaskan tangannya pelan. Bahunya bergetar dari tawa yang ditahan. "Kau tahu kalau Inspektur juga datang ke klub?"

Doyoung mengamati Jaehyun penasaran. "Apa sih yang ingin kausampaikan? Ya, saat aku tengah susah payah mencari petunjuk untuk pelaku pembunuhan adikku aku pernah melihat mereka menghabiskan waktu di klub malam seperti ini —"

"Ya itu karena mereka juga melakukan hal yang sama denganmu ini. Bukannya untuk bersenang-senang. Tahu sudah berapa kali aku diinterogasi oleh Inspektur Lee Taeyong? Aku saja sampai lupa." Jaehyun mendengus geli. "Mereka juga bergantung pada kemungkinan yang sama denganmu, Doyoung-ssi. Opsir Johnny, setiap kali ia datang kemari, selalu berdoa agar diberikan keberuntungan yang lebih. Sayang mungkin doanya tidak didengar karena sedang di dalam klub atau bagaimana — sampai saat ini, keberuntungan itu selalu tidak ada."

Doyoung terdiam. Ditatapnya nanar Jaehyun yang kini sedang merapikan gelas.

"Kau tidak mengada-ada, kan?"

"Aku dapat untung apa kalau aku mengarang cerita? Tidak ada."

Doyoung tidak dapat mencerna penjelasan Jaehyun barusan dengan seketika saja. Jarinya diketuk-ketukkan dengan cepat dan gelisah di atas meja bar. Otaknya mengingat kembali masa-masa di mana ia mengutarakan kekecewaannya terhadap kinerja polisi dengan cara yang dapat dibilang cukup kasar. Ingatan tersebut, ditambah dengan informasi yang diberikan Jaehyun, membuat batin Doyoung sedikit bergejolak.

Di tengah kekalutan pemikirannya, tiba-tiba suara yang familiar terdengar.

"Lho, kau juga sedang ada di sini?"

Inspektur Lee Taeyong.

.

.

.

Jika ada yang lebih pantas disalahkan atas kematian Mark — selain si pembunuh keji — maka orang itu adalah Doyoung.

Keduanya berseteru di ruang makan malam itu. Jungwoo belum pulang. Doyoung melempar sebuah buku jurnal ke atas meja makan. Mark sangat marah terhadap kenyataan kalau kakaknya telah melanggar privasinya. Tidak ada satupun yang Mark perbolehkan melihat isi jurnal itu, termasuk Doyoung dan Jungwoo. Hanya saja atas suatu kecerobohan, Mark yang lupa mengunci kamarnya secara tak langsung membiarkan Doyoung masuk dan menemukan jurnalnya.

Meskipun begitu, pelanggaran privasi adalah pelanggaran privasi. Mark mungkin lupa mengunci pintu, tapi bukan berarti Doyoung bebas memasuki kamarnya apalagi membuka-buka jurnal miliknya. Darahnya seketika naik ke ubun-ubun ketika Doyoung memanggilnya sepulang kerja ke ruang makan, kemudian memperlihatkan sebuah buku jurnal yang sudah terbuka di tangannya. Mark merasa terkhianati. Mark merasa tak dihargai. Ia tak bisa berpikir dengan jernih.

Begitu juga Doyoung.

" — Kenapa kamu nggak pernah bilang sama kami soal ini?" tanya Doyoung dengan geram yang tertahan. "Kenapa — kenapa kamu nggak pernah bilang kalau kamu punya pikiran untuk tinggal sendiri?"

Mark membuka tutup mulutnya, berusaha merangkai kata, namun tidak ada yang lolos dari bibirnya. Ia sudah terlalu larut dalam kekecewaan sampai-sampai ia kebingungan harus berkata apa.

"Mark Lee, jawab aku."

"Bu-bukankah itu hakku, Hyung?" Tenggorokan Mark tercekat, namun ia berusaha untuk tetap menjawab dalam desakan ini. "Maksudku, aku akan menggunakan uangku sendiri untuk menyewa apartemen, dan biaya hidup, dan —"

Doyoung melempar buku jurnal itu ke atas meja, menghasilkan suara yang cukup keras. Di halaman yang terbuka ada daftar apartemen di daerah Seoul dengan harga sewa terjangkau, lengkap dengan lingkaran-lingkaran merah yang berfungsi sebagai tanda. Di halaman selanjutnya ada daftar rencana: terdiri dari daftar hal apa saja yang harus Mark lakukan untuk bisa tinggal sendiri. Mark tidak bisa berteriak marah. Tapi tatapannya berubah. Menjadi semakin tajam.

"Kamu sudah nggak percaya lagi sama kakak-kakakmu?" tanya Doyoung ketus. "Apa yang membuatmu tiba-tiba ingin tinggal sendiri? Kakak-kakakmu nggak bisa jaga kamu? Kakak-kakakmu menyebalkan? Cerewet? Suka marah-marah tidak jelas?"

Mark menggeleng kencang. "Dengarkan aku dulu, Hyung —"

Kami sudah berusaha sepenuh hati menjagamu, memastikan kamu selalu merasa aman dan nyaman, lalu sekarang kamu malah berencana untuk kabur?"

"Hyung! Aku sudah bilang dengarkan aku dulu!" Kefrustrasian Mark sudah di ambang batas. Ia meninggikan suaranya, membuat Doyoung terbelalak. "Jangan menyalah-nyalahkan aku seperti ini padahal yang salah duluan itu Hyung!"

" Aku sudah bilang aku memang salah, tapi aku juga butuh penjelasan kenapa —"

" Lihat? Kamu nggak mau dengar perkataanku, oke!" Mark akhirnya menyerah dan meluapkan seluruh kefrustrasian yang menumpuk. "Setidaknya kalau aku nanti tinggal sendiri, nggak bakal ada omong kosong menyebalkan seperti ini!"

" Ya sudah, pergi saja sana!" teriak Doyoung, membalas suara Mark yang meninggi. Doyoung bisa tahu kalau Mark terluka atas ucapannya. Mark juga bisa tahu kalau Doyoung juga sama terlukanya.

"Memang mau pergi, kok! Nggak usah disuruh!"

Mengabaikan kondisi tubuhnya yang sudah letih bukan main, Mark akhirnya berjalan menuju pintu depan. Pergi meninggalkan rumah — tidak membawa apa-apa selain dirinya sendiri, dompet, ponsel dan satu buku saku. Pergi meninggalkan rumah dengan hati berat, dada sesak, gunungan rasa kesal, dan air mata menggantung di ujung-ujung matanya.

Jungwoo pulang satu jam setelah Mark pergi. Ia bertanya mengapa Doyoung hanya sendiri, dan Doyoung hanya menjawab "Mark pergi," sambil mengangkat bahu. Jungwoo merasa ada suatu hal yang janggal, tapi ia tak berani bertanya. Maka ia menerima penjelasan Doyoung — yang sebetulnya tidak jelas — dan duduk untuk makan malam.

Malam itu, tidak ada satu pun dari dua kakak beradik Kim yang bisa mengira kalau Mark tidak akan kembali. Dan bukan karena ia pindah untuk tinggal sendiri — tapi karena nyawanya sudah pergi.

.

.

.

"Nggak minum?"

Doyoung menggeleng pelan selagi Taeyong menarik kursi di sampingnya dan duduk di sana. Dahinya berkerut ketika mendengar Taeyong berkata "Jaehyun-ssi, yang biasa, ya," baginya kalimat Taeyong barusan perlu dipertanyakan. Taeyong menyadari kalau Doyoung sedang menatapnya dengan penuh tanya. Ia tertawa pelan.

"Jus jeruk."

Doyoung tidak merespon. Ia mengalihkan pandangannya. Berusaha fokus kembali dengan apa yang jadi tujuannya datang.

"Sendirian saja?" Kembali Taeyong berusaha untuk memulai pembicaraan.

"Seperti yang terlihat saja," jawab Doyoung singkat. Taeyong mengangguk-angguk.

"Sedang mencari seseorang, ya?"

Doyoung memelankan suaranya, sedikit bergumam. "Pembunuh adikku, kalau kau mau tahu."

"Sama kalau begitu. Mungkin hari ini kita bisa bekerjasama." Tanpa diduga Taeyong berhasil menangkap kata-kata Doyoung yang pastinya barusan melebur bersama dentum musik dari pengeras suara. Sang inspektur muda menambahkan sambil menepuk bahu Doyoung. "Semoga kita dapat keberuntungan yang besar hari ini."

Doyoung tak bisa menjawab. Dalam hati ia mengiyakan, tapi sulit untuk membawa kata iya tersebut ke mulut. Jadi ia hanya bisa diam, dengan pandangan mata yang beredar ke lantai dans, mengamati orang-orang yang berada di sana dengan pandangan menilai. Ia tak sadar bahwa saat itu juga Taeyong sedang mengamatinya — diam-diam, Taeyong memanggil Jaehyun dan memesan segelas jus jeruk lagi untuk Doyoung.

"Hei, minumlah dulu," panggil Taeyong ketika minumannya datang. "Ini akan jadi malam yang panjang. Kau butuh energi."

"Dari jus jeruk?" Doyoung memutar matanya.

"Bukan jus jeruk main-main, itu."

Doyoung baru saja membuka mulut untuk menanyakan maksud sang inspektur, tapi Taeyong sudah keburu mengeluarkan gestur yang bisa diartikan ayolah-coba-saja. Tidak bisa membantah lagi, Doyoung menurut. Satu seruput jus jeruk tersebut membuat kening Doyoung mengerut.

"Rasanya kok sedikit —" Doyoung kebingungan mencari kata yang tepat untuk mendeskripsikan rasa yang baru saja ia cecap. Mau jujur, takutnya Jaehyun mendengar komentarnya kalau rasa jus jeruknya kacau balau.

"Ekstra gula." Taeyong menjawab kalem. "Ada madunya juga sedikit. Tambah bubuk protein."

Kombinasi yang sungguh membingungkan. "Dan kau meminumnya?"

"Tentu saja. Nih." Taeyong membuktikan omongannya dengan langsung menenggak setengah gelas jus jeruk miliknya. "Rasanya aneh tapi lumayan memberimu energi untuk semalaman nongkrong di sini. Lebih manjur daripada kafein, menurutku. Kau tahu ketika kafein memberimu ilusi kalau kau masih kuat padahal tangan-tanganmu sudah bergetar? Aku benci sekali sensasi itu."

Doyoung paham betul sensasi yang Taeyong bicarakan. Ia juga tidak menyukai sensasi seperti itu, hanya saja Taeyong sepertinya tidak terlalu membutuhkan informasi ini. Maka Doyoung meraih kembali gelasnya, menyeruput jus jeruk sedikit-sedikit. Rasanya yang terlalu manis sedikit mengingatkan Doyoung pada the lemon buatan Mark, dulu jauh sebelum ia menjadi barista. Selalu kemanisan.

"... Maafkan aku."

Taeyong mengernyitkan dahi sambil menatap ke arah Doyoung, bingung. "Kau bicara denganku?"

"Bukan, ngomong sama jus jeruk." Doyoung mengeluh pelan. "Menurutmu dengan siapa lagi?"

"Minta maaf karena apa?"

"Menuduhmu yang tidak-tidak. Aku mana tahu kalau kau sering menghabiskan malam di klub sambil minum-minuman aneh untuk keperluan ini."

"Justru lebih bagus kalau kau tidak tahu. Ini kan rahasia." Taeyong sengaja memelankan suaranya di kata terakhir. Nyaris tak terdengar, tapi Doyoung bisa menangkap ucapannya. "Hm, bagaimana kabar adikmu?"

Ada yang sedikit mengganggu Doyoung pada perubahan ekspresi wajah Taeyong. Dari topik pembicaraannya, jelas ia menginginkan pembicaraan yang kasual, tapi ekspresi wajahnya jauh dari santai. Sangat serius dan awas, seolah-olah akan terjadi sesuatu dalam waktu yang singkat. Doyoung menduga inspektur di depannya ini telah menangkap sesuatu.

"Baik … baik saja." Doyoung berpikir akan lebih baik kalau ia meladeni percakapan ini. "Ia menitipkan salam untukmu."

"Oh! Salam balik, kalau begitu." Taeyong tiba-tiba mengeluarkan ponselnya, membuka kunci layar lalu menggulirkan layarnya berkali-kali. "Lihat deh, ini cewek yang waktu itu aku bilang ingin kukenalkan pada adikmu."

Taeyong menyodorkan layar ponselnya pada Doyoung. Pada layar tersebut yang terpampang jelas bukan foto seorang perempuan seperti yang dibilang Taeyong barusan. Yang Doyoung lihat adalah aplikasi jam yang menunjukkan pukul 5.

Mungkinkah Taeyong bermaksud menunjukkan arah?

Berbekal tebakan tadi, Doyoung berlagak memutar-mutar kursi yang didudukinya sesuai dengan arah tersebut. Arah jam 5. Tak lupa sambil menimpali ucapan Taeyong barusan dengan: "Ah iya dia cantik … tapi sayang sekali yang begini bukan tipe adikku" agar terdengar natural.

Arah yang ditunjukkan Taeyong barusan merujuk pada satu area dekat pintu masuk. Ada dua orang pria yang sedang berdiri di sana, bersandar pada pintu dan bercakap-cakap berdua. Hanya seorang yang bisa Doyoung lihat wajahnya dari sana. Pria berjaket kulit dengan kantung mata yang bahkan bisa Doyoung lihat dari jarak jauh. Sayangnya, Doyoung bukan penilai orang yang baik. Ia belum bisa memastikan apa yang membuat Taeyong menyuruhnya melihat ke arah pria itu.

Mungkinkah pria itu …?

"Kalau yang seperti ini, tipe adikmu bukan?"

Tiba-tiba Taeyong kembali menyodorkan ponselnya. Kali ini yang tampil di layar ponsel Taeyong adalah aplikasi memo dengan kata-kata pendek.2x (tgl 23-9-2017, 28-9-2017) perampokan, hutang, bunga hutang, rencana kabur luarkota PRIORITY TARGET Plan A: DNA

Doyoung merasakan tangannya bergetar membaca kata-kata tersebut. Meski bukan berbentuk satu kalimat utuh, Doyoung dapat menangkap makna di baliknya. Ia yakin mereka sudah berhasil mendapatkan satu petunjuk. Tidak boleh lepas lagi.

Kala itu di pikiran Doyoung hanya ada Mark, Mark, dan Mark.

.

.

.

"Hyung? Hyung bangun. Kafenya sudah mau tutup."

Jika boleh jujur, saat itu Lucas tidak tega membangunkan Jungwoo. Pemuda itu sudah sejak beberapa jam yang lalu duduk di salah satu sudut kafe, tertidur dengan wajah terbenam dalam lipatan lengannya. Hanya saja tidak ada pilihan lain. Akan lebih merugikan jika seandainya Jungwoo tidak dibangunkan.

Dengan suara saja tak cukup membangunkan Jungwoo. Lucas memutuskan untuk menggoyang-goyangkan pundaknya pelan. Cara ini yang berhasil. Jungwoo mengangkat kepalanya, kemudian mengerjap-ngerjapkan mata. Ia terdiam sebentar. Mengamati gelas frappuccinno dan piring kue kosong yang ada di hadapannya, kemudian menatap Lucas, kemudian menatap ke arah langit-langit. Tampaknya sedang berusaha menyadari sedang di mana dia sekarang dan mengingat-ingat kembali hal yang ia lakukan sebelum jatuh tertidur.

"Astaga." Jungwoo menggosok-gosok wajahnya. "Sudah berapa lama aku tidur?"

"Kayaknya sejak kue red velvet-mu habis dimakan, Hyung. Aku nggak tega bangunin. Temanku ada yang berusaha bangunin tadi, mau nawarin pindah tidur di ruang staf, tapi nggak bangun-bangun."

Jungwoo meringis. "Duh, maaf ya, aku merepotkan —"

"Nggak merepotkan, sih, manajerku juga nggak keberatan karena kafenya juga sedang nggak penuh-penuh amat."' Lucas menopang dirinya pada mop pel yang sedang ia pegang. Tinggal bagian bawah kursi dan meja Jungwoo yang belum dibersihkan. "Hyung sudah kabari Doyoung-hyung belum? Sampai jam segini kau belum pulang kan dia pasti khawatir."

Jungwoo menghela napas panjang. "Doyoung-hyung juga sedang nggak di rumah."

"Lho?" Mata Lucas membulat. "Sedang pergi ke mana?"

"Entah?" Jungwoo mengangkat bahunya. Nada suaranya penuh kebingungan juga kepasrahan. "Karena di rumah tidak ada siapa-siapa jadi aku main ke sini."

"Ah, begitu …."

"Dulu Mark bilang aku seperti kelinci."

Lucas terdiam, mengernyitkan dahinya. Kebingungan kenapa topik pembicaraan begitu cepat berpindah. Ia tak tahu apakah ia dapat memberikan respon yang tepat untuk kalimat yang baru saja diucapkan Jungwoo. Maka ia katakan saja hal pertama yang muncul di benaknya."Karena gigimu, Hyung?"

Jungwoo terkikik pelan. "Iya, salah satunya itu. Tapi ada alasan lain."

"Alasan lain?"

"Kelinci mati kalau kesepian."

Perkataan Jungwoo barusan terasa sangat kelam bagi Lucas. Apalagi, datang dari seseorang yang baru saja merasakan kehilangan akibat kematian. Lucas tidak mengklaim dirinya sebagai seseorang yang mampu membaca orang lain selayaknya buku yang terbuka (kemampuan Lucas yang paling hebat terkait menilai manusia adalah kemampuan untuk mengira-ngira apakah seseorang akan memesan frappuccinno atau americano, tapi itu pun masih sering salah) namun untuk kali ini, Lucas berani taruhan ia menangkap sinyal-sinyal tak mengenakkan dari Jungwoo. Ia tahu, Jungwoo pasti sangat sedih karena kehilangan adiknya, tapi agaknya bukan hanya hal tersebut yang membebani Jungwoo sampai saat ini. Ada hal lain.

"… Makanya, aku nggak pulang karena rumah sepi, aku nggak suka kesepian." Jungwoo tiba-tiba menambahkan sambil tersenyum pahit. "Rasanya sesak sekali kalau sepi begitu, biasanya kan ada Mark yang suka bawel menceritakan pengalaman di tempat kerja sama Doyoung-hyung yang nyanyi-nyanyi di kamar mandi. Akhir-akhir ini, kalau aku pulang ke rumah, semua lampu mati dan nyaris tidak ada suara sama sekali. Makanya sepulang kerja tadi aku langsung ke sini."

"… Ah." Lucas mengangguk-angguk. "Aku ngerti perasaan itu kok, Hyung. Kami sungguh nggak keberatan kalau besok-besok mampir lagi."

"Tidak kalau kafenya penuh. Kalau aku tidur lagi seperti tadi, gimana?"

Lucas tertawa pelan, kemudian mengangkat tangannya menunjuk-nunjuk pintu ruang staff. "Tuh, bisa tidur di situ, Hyung! Gampang! Mark juga dulu sering tidur di sana, hahaha."

"Pokoknya, aku tidak mau merepotkan. Kalau kafenya penuh, aku tidak akan datang. Kalau kafenya tiba-tiba jadi penuh saat aku sedang ada di sini dan sedang tidur, tolong segera usir aku!" Kalimat terakhirnya diucapkan dengan nada bercanda, tapi Jungwoo benar-benar serius dengan kalimatnya barusan.

"Iya, iya, baiklah." Lucas mengiyakan. Kepalanya mengangguk-angguk seperti penguin. "Omong-omong, maaf nih, Hyung. Boleh berdiri dulu nggak? Aku butuh mengepel lantai di bawah meja dan kursimu, nih."

"Oh! Oh iya, maafkan aku. Aku juga sekalian mau pulang saja kalau begitu." Jungwoo berdiri, kemudian mencangklong tas yang sejak ia sampai tadi belum pernah dibuka. "Terima kasih banyak sudah menjagaku di sini, Lucas. Sekali lagi maaf ya, kalau aku merepotkan."

"Sama sekali nggak merepotkan, Hyung, aku harus bilang berapa kali sih," kikik Lucas geli. "Hati-hati di jalan, ya! Jangan lupa kabari Doyoung-hyung."

Jungwoo mengangguk pelan tanpa suara. Setelah membungkuk sekilas sebagai tanda berpamitan. Jungwoo melangkah menuju pintu kafe dengan pandangan Lucas terpaku pada punggungnya.

Setelah beberapa langkah Jungwoo menjauh, Lucas akhirnya tak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya.

"Jungwoo-hyung?"

Jungwoo menghentikan langkahnya. Kepalanya menoleh ke arah Lucas. "Kenapa?"

"Hyung nggak … bertengkar dengan Doyoung-hyung, kan?"

"… Nggak, kok." Jungwoo menggelengkan kepalanya.

"Benar?" Jawaban Jungwoo barusan cukup meragukan bagi Lucas. "Bukannya mau ikut campur atau sok menasihati lho, Hyung, tapi—tapi begini lho, aku ini temannya Mark juga. Sahabat! Best friend! Dan aku yakin Mark pasti kecewa kalau kalian bertengkar dan saling berjauhan seperti sekarang, setidaknya berdasarkan yang kulihat, ya."

Jungwoo mengalihkan pandangannya dari wajah Lucas menuju lantai kayu yang tengah ia pijak. "Aku dan Doyoung-hyung nggak bertengkar. Sungguh."

"Sungguh?"

"Ya." Jungwoo mengangguk pelan. Suaranya yang sudah pelan menjadi semakin pelan. "Tapi maaf, Lucas. Sepertinya, meskipun kami saat ini tidak bertengkar pun, aku masih tetap akan mengecewakan Mark."

"Kenapa?" Lucas menatap Jungwoo bingung. "Hyung nggak salah apa-apa kan? Mark selalu bilang kalau dia punya kakak-kakak yang sangat baik, aku yakin sampai sekarang pun kalian berdua tetap kakak terbaik yang Mark punya. Seratus persen!"

Jungwoo terkekeh. "Aku nggak yakin. Aku … bukan kakak yang baik."

"Hyung—"

"Menurutmu apakah Mark akan tetap menganggapku kakak yang baik seandainya ia tahu kalau selama ini aku selalu merasa Doyoung-hyung tidak adil karena terlalu memprioritaskan adik angkatnya dibanding adik kandungnya sendiri?" Jungwoo bertanya pelan. Lucas mematung. "Maksudku, aku tahu kalau Mark meninggal. Dia dibunuh. Dan sampai sekarang belum ada kejelasan soal siapa yang membunuhnya, atas dasar apa. Pelakunya belum ditangkap dan diadili. Aku juga ingin Mark mendapatkan keadilan, sungguh. Tapi … tidak seperti ini. Tidak yang membuat Doyoung-hyung tidak mendengarkan pendapatku. Tidak yang membuat Doyoung-hyung sampai menyiksa dirinya sendiri karena itu."

"Itu …."

"Aku tahu itu. Aku tahu kalau usaha Doyoung-hyung mencari keadilan untuk Mark adalah hal yang wajar. Dan kau tahu? Pada kenyataannya aku masih tetap merasa kalau ini semua tidak adil bagiku.

Atmosfir ruangan berubah menjadi lebih sesak dan dingin. Padahal tidak turun hujan, tidak ada angin, tidak ada salju. Temperatur udara masih sama. Rasa dingin ini asalnya dari Jungwoo. Jungwoo dan hal-hal yang membuatnya sesak, hal-hal yang membuat hatinya dingin dan sedih. Semuanya keluar lewat kata-katanya, melebur dengan udara dan membuat atmosfir ruangan jadi berbeda. Lucas juga merasakannya. Sesak itu. Dingin itu.

"Menurutmu bagaimana?" Jungwoo memutar badannya, sekarang ia benar-benar menghadap pada Lucas. Tatapan matanya nanar, mencari jawaban. "Mark masih akan menganggapku kakak yang baik … atau tidak?"

Tak ada yang mampu menjawab.


a/n:

ok yes chapter depan adalah chapter terakhir. udah kebayang sih arah plotnya mau kemana menuju ending tapi masih harus memutuskan buat chapter depan mo dibikin full blown sinetron atau yaa dramatis tapi tensinya biasa-biasa aja. silakan kirim sms voting ke nomor di bawah ini dengan ketik REG (spasi) ENDING SINET atau REG (spasi) KALEM AJA CUY untuk menentukan tone dari ending cerita ini pajak ditanggung pemena

kalo masih bingung ya palingan sy itung kancing ajalah ntar

thank you sudah baca sampe sini!