Disclaimer: Still Konomi-sensei's, Konomi-sensei's and Konomi-sensei's.
Tennis no Oujisama not mine and never will be! Uhuhuhu...
Warnings: Shounen-ai implisit TezukaXFuji and OishiXEiji -sedikit pasangan" umum, MomoXRyouma, InuiXKaidou, FujiXRyouma, KawamuraXFuji, FujiXEiji juga terlalu banyak OOC. Don't like BL, jangan baca d mendingan. I've warned you;
+ Glory Days +
chapter 2
Genius 6: Egao no Riyuu
"Nyaaa", Eiji setengah tersedu menelungkupkan wajahnya ke atas meja. Disebelahnya terdengar senandung lirih dari Fuji. Merasa test mendadak seperti tadi seharusnya dihapuskan saja, "Aku benci matematika…."
Fuji menoleh dan mendapatkan wajah Eiji yang ditopang lengannya memandang ke arah halaman sekolah.
"Aku hanya bisa menjawab tiga dari sepuluh pertanyaan", rengekan Eiji terdengar putus asa, "itupun aku tak yakin…", dan terdengar lebih putus asa lagi. Terlihat berpikir sejenak, "Jadi jenius pasti menyenangkan…", ia menatap Fuji dengan wajah iri. Fuji membuka mata ketika mendengar kalimat sahabatnya. Insting terancam membuat Eiji tanpa sadar menjauh panik beberapa inchi kebelakang. Bersorak dalam hati ketika suasana ganjil tersebut dipecahkan oleh deringan bel pulang.
"Saa…, Eiji….ayo kita pergi. Jangan sampai kita terlambat sampai ke klub atau Tezuka akan menghukum kita", kata Fuji kembali dengan moodnya yang biasa. Eiji mengangguk ragu dan membereskan buku-bukunya. Sambil menunggu, Fuji memperhatikan setiap gerakan Eiji., "Jadi jenius tak selamanya menyenangkan Eiji…", bisiknya lirih. Menghela napas berat, "Mungkin tak pernah menyenangkan…."
"Fuji?"
Fuji menoleh dan mendapatkan Eiji telah berdiri menantinya di pintu kelas. Dia memaksakan diri mengubah kemuraman ekspresi wajahnya menjadi senyuman dalam sekejap. Menggeleng lembut, Fuji terus tersenyum, "Bukan apa-apa, Eiji. Bukan apa-apa. Aku cuma bilang jangan sampai bukumu tertinggal"
Ketika tubuh Fuji melewatinya., Eiji menggigiti bibir bawahnya. Baru tersadar dari lamunannya saat Fuji melambaikan tangan. Acrobatic player itu bergegas mengejar sahabatnya. Lalu berjalan menuju ruang klub Seigaku sambil menggamit tangan Fuji. Berbisik dalam hati, aku tadi mendengarnya, Fujiko…
Genius 7: Chain Reaction
Kesokan harinya matahari bersinar hangat. Keharuman musim semi sama-samar mulai tercium ketika Fuji turun dari sebuah mobil mewah, tersenyum lembut ke arah wanita cantik di belakang kemudi., "Kau benar-benar yakin?", kata wanita cantik tersebut. Fuji mengangguk.
"Hati-hati, Shuusuke", ia melambai.
Fuji tersenyum, "Kau juga, Neesan…". Kemudian berjalan memasuki gerbang.
Inui mengumpulkan seluruh Reguler di lapangan A. Membentangkan daftar latihan yang langsung membuatnya menerima lemparan bola penuh dendam dari Eiji, Ryouma dan Momoshirou. Kaidou berdesis tak sabar.
Momo mengintip dari balik pembatas lapangan. Dibelakangnya menyembul wajah Oishi, Kaidou dan Kawamura. Eiji mengeluarkan kepala dengan takut-takut dari balik bahu Inui yang terus menulis dan sibuk menggumamkan data-data dalam buku catatannya. Ryouma meneguk Fanta terakhirnya di sebelah Tezuka yang kali ini dengan ajaibnya sama sekali tidak menegur perbuatan mereka.
"Inui, kau gila! Mempertemukan Fuji dengannya adalah hal paling berbahaya di dunia!", Eiji merengut, bibirnya dilipat. Jelas tak menyukai kehadiran pemuda di sebelah Inui. Setengahnya lagi merasa kesal karena kebodohannya dengan melibatkan Inui dalam masalah Fuji.
"Itu masuk akal, Inui senpai. Bagaimana kalau Fuji senpai membunuh dia?", desis Momo menambahkan dengan khawatir.
"Hm…berdasarkan dataku. Fuji yang normal masih berakal sehat 100 jika dia tak mengenali orang itu", jawab Inui tenang tanpa mengangkat wajahnya dari buku ataupun mempedulikan tampang sakit hati sosok berambut ikal di sebelahnya. Sedangkan pemuda pendiam berambut coklat gelap yang sejak tadi menemaninya tertawa tak berdaya menyadari kebenaran dibalik data Inui.
"Che, setahuku akal sehat dan Fuji senpai hidup di dua kutub berbeda", gumam Ryouma. Diam-diam Tezuka setuju. Oishi berkali-kali meliriknya. Cemas luar biasa.
"Sekalipun dia tak berakal sehat, Fuji senpai yang normal tidak mungkin terlambat dalam latihan tenis, Echizen!"
"Mungkin dia terlambat karena menolong wanita hamil yang terjatuh di tengah jalan?", Ryouma dengan wajah polos mencoba memberi ide. Momoshirou terbengong dan sedetik kemudian cuma menggelengkan kepalanya seraya tertawa terbahak-bahak. Lengannya mencekik leher Ryouma.
"Oh, diam, Ochibi! Cukup diam", potong Eiji geli, "Fuji jelas jauh lebih pintar darimu dalam mengarang alasan tanpa perlu menjadi jenius"
"Ffssssshhhhhh"
Pembicaraan mereka terhenti saat melihat sosok Fuji memasuki lapangan. Dan Tezuka cuma mengharap kekuatan hatinya.
Genius 8: Matta Hajime yo
"Yuuta?"
Keheranan terlihat pada wajah Fuji kakak yang selalu tersenyum saat tak lama berselang kemudian pemuda berambut coklat gelap tersebut menyambutnya diikuti makhluk berambut ikal dengan senyum mencurigakan yang tidak diragukan lagi pastilah si manager St. Rudolph.
Yuuta si Fuji adik tersenyum datar menyambut kakaknya, sedikit berbasa-basi, "Halo, Aniki. Mizuki san memintaku mempertemukannya denganmu". Bibir Yuuta menipis, sebenarnya lebih tepat disebut memaksa, dia menambahkan dalam hati. Dahi Fuji mengerenyit gusar.
"Nfu nfu nfu…Ohayou gozaimasu, Fuji kun", Mizuki telah mengeluarkan raket dari dalam tasnya dan berdiri di hadapan Fuji dengan kepuasan penuh, "…bagaimana? Mau bertanding denganku?', sekarang dia membuka jaket olahraganya.
Ryouma yang melihat T-shirt dibalik jaket tersebut berpikir jika mungkin kini ia mulai memahami alasan Fuji senpai untuk selalu mengacuhkan makhluk yang satu itu. Baru membayangkan seluruh lemari pakaian Mizuki hanya berisi koleksi warna yang sama dalam berbagai gradasi saja sudah membuatnya bergidik mual.
Kedatangan Ryuuzaki sensei memutus pembicaraan mereka. Setelah memberikan beberapa instruksi dan berdiskusi sebentar dengan Tezuka dan Oishi, Ryuuzaki sensei menoleh ke arah Fuji yang sedang dipojokkan oleh Mizuki, "Fuji, kemari! Ada yang perlu kita bicarakan", panggilnya.
Ekspresi Fuji yang terlihat gembira dapat membebaskan diri dari Mizuki sudah dipahami oleh semua orang. Namun, mata seluruh Reguler membelalak saat mendengar Fuji menjawab, "Aku permisi dulu, Mizuki san". Dia membungkuk sebentar sebelum berlari menghampiri Ryuuzaki sensei.
Tanpa sadar Ryouma menjatuhkan kaleng Fantanya, menengok ke arah pemain kidal Seigaku yang seorang lagi, seakan meminta persetujuan, "Bu, Buchou...Fu, Fu...Fuji senpai benar-benar gila…"
"Inui senpai, datamu salah kali ini!", erang Momo dengan wajah pucat. Mereka terlalu terkejut, bahkan untuk menahan Mizuki yang sibuk berteriak-teriak kegirangan memanggil Fuji di tengah lapangan.
Genius 9: Song For You Aisubeki no Hito
Kaidou berjalan limbung. Efek Penaltea masih terasa di tubuhnya. Ia memang sudah lama mencurigai Inui menambahkan bahan-bahan ilegal berbahaya kelas A dalam ramuannya itu. Diluar insiden konyol Momo, sungguh luar biasa belum ada satu pun anggota Seigaku yang terpaksa harus dilarikan ke UGD karenanya.
Suara Ryuuzaki sensei samar-samar menembus tembok ketika Kaidou melewati ruang klub yang tertutup rapat. Dari gumaman-gumaman lembut yang terdengar familiar di telinganya, Kaidou dapat menebak lawan bicara Ryuuzaki sensei.
"Bicara tentang jus, tentu aku harus teringat dengan orang yang satu itu. Che", ia menggerutu. Siswa kelas dua itu baru saja hendak melangkahkan kakinya mengarah ke lapangan ketika dia mendengar Ryuuzaki sensei berbicara dengan nada sedih.
"… lalu apa jawabanmu?"
Kaki Kaidou terpaku di tempat. Lupa akan tujuannya untuk bergegas kembali ke lapangan.
"Hm…, entahlah, Sumire chan", jawabnya santai.
"…apa kau sudah memberi tahu yang lain?", Ryuuzaki sensei mengacuhkan kelakar Fuji barusan.
Diam. Kaidou benar-benar terdiam. Terkejut dengan berita yang baru diketahuinya hari ini. Dia memutar tubuhnya dan mendapatkan Tezuka dan Oishi berdiri kaku dibelakangnya. Oishi terlihat shock. Sedangkan Tezuka, tetaplah Tezuka, terus bersikap tenang meski tak kalah terguncang, wajah dinginnya menegang.
"Buchou —". Suara sayup Ryuuzaki sensei membawa Kaidou membali ke alam sadar.
"… apa Kikumaru sudah tahu tentang tawaran beasiswamu ini, Fuji?", tanya Ryuuzaki sensei letih.
Fuji menjawab lirih, "Aku tak ingin membuat Eiji bersedih"
"Bagaimana dengan Tezuka?"
Tiba-tiba Fuji membungkam. Oishi meremas keras bahu Tezuka yang menegang sebelum berbalik meninggalkannya. Tezuka…
Genius 10: Story wa Touzen ni
+ Oishi POV +
"Tezuka?". Kapten Seigaku itu diam. Wajahnya tak menunjukkan perubahan berarti, "Tezuka?"
Ia hanya menggeleng sebagai jawabannya.
Kemarin Eiji mengatakan Fuji bertingkah aneh! Kini giliran sahabatku yang bertingkah aneh! Ada apa sebenarnya dengan Reguler saat ini?
"Fuji", aku mencetus singkat. Wajah Tezuka mengeras sesaat. "Tezuka, aku sudah menjadi sahabatmu hampir tiga tahun lamanya. Aku tahu pasti apa yang mengganggu pikiranmu", jelasku bersimpati.
Tezuka terdiam. Lama. Memandang lapangan tenis Seigaku, "Sudah tiga tahun…"
Aku mengangkat alis, merasa heran dengan sikap sentimentil Tezuka yang baru kali ini kulihat. OK. Mungkin saja aku tak pernah benar-benar mengenalnya. Terakhir kali aku melihat wajah itu saat bahu Tezuka cedera dan dia harus…. Aku terkesiap, melihatnya dengan takut, "Tezuka, kau….? Kau... serius…?"
Ia mengangguk diam, "Tapi bagaimana dengan Seigaku? Bagaimana dengan kami? Bagaimana dengan…kau?", aku berbisik. Sakit hati. Entah bagaimana, tapi baru membayangkan wajah Eiji yang terluka mendengarnya saja sudah membuatku begini sakit hati.
Tezuka menatapku dingin, "Tak ada hubungannya denganku"
"Tak ada hubungannya bagaimana! Fuji itu teman satu timmu! Teman satu sekolahmu! Dan lagipula kau…"
"Oishi"
"Tezuka! Jangan berbohong, kau...", aku baru hendak memakinya lebih jauh saat kulihat lebih banyak lagi kebimbangan dalam matanya, "tapi Tezuka…, Fuji…"
"Cukup", Tezuka mengepalkan tangannya, mencari kekuatan, "... Ini yang terbaik bagi semuanya", suaranya tegas. Diplomatis. Khas Tezuka. Menunjukkan niatnya yang tak dapat diganggu gugat.
"Baik. Itu memang keputusanmu. Tapi Fuji…"
"Oishi"
Kau melarikan diri dari perasaanmu, Tezuka… "Kalau begitu aku tak bisa apa-apa lagi, Tezuka", aku tersenyum getir.
Ya Tuhan, Eiji… Eiji…Bagaimana aku mengatakan hal ini padamu…?
+ Tsuzuku +
Chapter kedua.
Duuuuhhhh, gw masih bingung gimana buat ending yang enak dari fanfic ini. Endingnya si dah kebayang, tapi...-nyengir bego-
Btw, special thx wat Narissa-Rei. Doumo wat 'u-know-what' di Citraland itu. Sori ya ngerepotin .
Gosh, gw nyaris mati sesak napas nahan jeritan tiap liat Kimeru;;;. Maaannn...He's drop dead gorgeous! Nyaa nyaa nyaa!
Dan wat yang pernah bilang bahasa gw kaku. Wew, gw sendiri juga bingung. Dah kebiasaan. Old habit die hard desu...PP.
