Warning : GS, gaje, typho, bahasa dan tanda baca tak sesuai EYD, alur terlalu cepat, kurang romantis, aneh, dsb.

Semua cast bukan punya saya, tapi cerita ini punya saya. Dilarang copy paste cerita. Dilarang bash cast di ff ini.

Saya pinjam nama cast dari Super Junior. Tolong yang sudah membaca, tinggalkan review untuk ff ini ya. Gomawo.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

(lanjutan flashback)

Aku menatapnya dengan seksama.

"Benarkah? Apa kau juga satu SMA denganku?", tanyaku kembali.

Sebuah anggukan tegas sebagai jawaban atas pertanyaanku.

"Tapi waktu SMA aku cenderung tertutup dan jarang bergaul. Kau ingat yeoja yang dijuluki penghuni pojok sekolah?", tanyanya kepadaku.

"Seingatku, aku pernah mendengarnya. Yeoja yang menghabiskan waktu di luar jam pelajaran nya untuk duduk di pojok sekolah. Seingatku, yeoja itu berkacamata dan rambut dikucir ekor kuda. Jangan-jangan itu juga kau?", aku bertanya penuh curiga.

"Ne, kau benar.", ia kembali tersenyum lebar.

"Dan kau tahu apa alasannya?", ia menatapku dalam.

"Ahni ya.", jawaku singkat, karena aku benar-benar tak mengerti alasannya.

"Karena dari pojok sekolah, aku bisa melihatmu dengan jelas saat kau sedang berkumpul dengan teman-temanmu di ruang latihan band.", ia kembali memandang ke arah langit.

Aku menghela napas panjang. Banyak ketidakmengertian yang aku pikirkan saat mendengar semua cerita yeoja ini.

"Apa kau menyukaiku?", tanyaku satelah kami terdiam sesaat.

Ia tidak menjawab. Hanya sebuah anggukan kecil sebagai penanda kalau ia mengiyakan.

Aku kembali berpikir, ada banyak hal yang misterius dari yeoja ini.

"Apa kita sekarang satu universitas?", tanyaku lagi. Sekarang ia benar-benar membuatku penasaran.

"Satu fakultas, satu jurusan hanya beda kelas.", jawabnya.

"Jadi kau juga kuliah di jurusan matematika?", tanyaku. Ia kembali mengangguk dengan wajah imutnya yang hanya bisa kulihat samar-samar.

"Lalu kenapa selama lima tahun ini kau tidak berani menemuiku? Hanya mengikuti diam-diam. Dasar yeoja aneh.", ucapku. Sesaat dia terdiam. Mungkin memikirkan jawaban yang akan diberikannya kepadaku.

"Aku ini tidak cantik, tidak pintar, bukan dari keluarga kaya. Aku juga tidak pandai bergaul dan tidak bisa berdandan. Jujur saja, terkadang aku merasa tidak pantas. Bahkan hanya sekedar untuk memiliki perasaan suka kepadamu.", ia menunduk. Aku yakin air matanya sudah mulai mengalir di pipinya.

Entah mengapa, hatiku terasa ngilu saat mendengarnya. Memangnya apa gunanya cantik, pintar, dari keluarga kaya, pandai bergaul, pandai berdandan. Bahkan aku seringkali dikhianati oleh yeoja-yeoja yang menang dari segi fisik dan tampilan.

Aku menghela nafas panjang.

"Apakah kau menilaiku serendah itu?", tanyaku kepadanya. Sekarang aku merubah posisi dudukku. Tidak lagi duduk berdampingan dengannya, tapi aku sengaja bergeser hingga sekarang bisa duduk berhadapan dengannya.

Dia mendongakkan wajahnya dengan pandangan tidak mengerti. Dan sekarang aku bisa melihat jelas jejak-jejak air mata di pipinya.

"Aku tidak pernah menilai seseorang dari hal-hal yang kau sebutkan tak kau miliki tadi. Aku lebih menyukai seorang yang tulus.", tersenyum aku kepadanya dengan senyuman terbaikku.

"Kalau kau merasa minder denganku, lalu mengapa tadi kau berani menarikku. Bahkan sekarang kau sedang duduk berhadapan denganku?", godaku kepadanya.

"Itu...karena ... aku takut kau nekat meloncat ke bawah sana.", ucapnya gugup.

"Gomawo, ne! Kau sudah menyelamatkanku. Meskipun badanku sekarang sakit semua. Kau benar-benar datang di saat yang tepat.", kulihat ia bisa kembali tersenyum. Kemudian ia menunduk, mungkin malu akibat ucapanku barusan.

"K...Kyuhyun ssi, apa kau punya masalah berat? Aku benar-benar khawatir denganmu. Mungkin kau bisa bercerita kepadaku.", tawarnya. Aku hanya terdiam mendengar ucapannya. Yeoja yang baru kukenal ini mungkin yeoja yang istimewa. Karena entah mengapa, dengan duduk dekat dengannya dan berbicara seperti ini hatiku sudah merasa tenang. Aku seperti terhipnotis olehnya. Apakah ada alasan logis untuk hal ini. Aku juga tidak tahu.

"Bisakah besok kita bertemu lagi? Sebenarnya aku masih ingin bebicara banyak denganmu. Tapi ini sudah terlalu malam. Kau ini kan yeoja, tidak baik seorang yeoja keluar malam-malam seperti ini. Lagi pula, bagaimana kalau orangtuamu mencari?", aku menatapnya lekat.

"Aku tinggal sendiri di sini. Orang tuaku petani, mereka tinggal di desa. Tidak ikut kemari.", jelasnya.

"Meskipun begitu, sebaiknya kau pulang sekarang. Ayo kuantar!", tawarku.

Dia mengangguk. Aku kemudian beranjak menuju sepeda motor sport ku yang kuparkir tidak jauh dari tempat kami duduk. Yeoja itu mengikuti di belakangku.

Aku menyalakan mesin motorku dan mempersilakannya naik. Diapun naik, tapi tidak berani berpegangan. Mungkin ia canggung kalau harus berpegangan. Namun kalau tidak pegangan, dia bisa jatuh. Akhirnya aku berinisiatif menarik kedua tangannya untuk berpegangan di pinggangku. Dengan kata lain, saat ini dia memelukku dari belakang.

Deg.

Jantungku berdegup kencang. Entah mengapa keadaan ini membuatku gugup setengah mati. Semoga saja dia tidak mendengar suara degup jantungku ini.

Beberapa saat berkendara, akhirnya kami sampai di sebuah komplek rumah yang bisa kubilang sedikit kumuh. Dia memintaku untuk berhenti di sana. Tapi aku bersikeras untuk mengantarnya sampai ke rumahnya.

Aku jadi mengerti kenapa dia merasa minder untuk mengenalku.

Kami berhenti di depan rumah kecil berwarna hijau. Dia kemudian mengetuk pintu rumah itu. Seorang wanita setengah baya yang mengenakan piama terusan warna biru membukakan pintu.

"Mianhe Kibum Ahjumma, aku pulang terlambat.", ucap yeoja itu.

"Kau tahu ini jam berapa Lee Sung Min?", tanya ahjumma itu. Yeoja yang ternyata benama Lee Sung Min itu menunduk.

"Jam sepuluh malam.", ucapnya lirih.

"Masih ingat aturan tempat ini? Lagipula kau sekarang berani mengajak teman priamu kemari malam-malam?", tanya yeoja itu sengit.

"Mianhe...mianhe ahjumma. Aku tidak akan pernah mengulanginya lagi.", ucap Lee Sung Min.

"Mianhe ahjumma. Tadi aku memintanya menemaniku mencarikan hadiah untuk temanku yang besok berulang tahun.", aku berusaha membantu agar Lee Sung Min tidak mendapatkan masalah lebih banyak.

Ahjumma itu memandangku dengan pandangan sengitnya.

"Kau tahu kan dia yeoja, seharusnya kau mengantarnya pulang sejak tadi!', ahjumma itu sekarang malah marah kepadaku.

"Sudah ahjumma, jangan marahi Kyuhyun ssi lagi. Aku yang salah. Aku janji tidak akan pernah mengulanginya lagi. Ehmmm ...Kyuhyun ssi pulanglah. Ini sudah malam.", Lee Sung Min memandangku dengan pandangan bersalah.

"Aku akan menjemputmu besok jam tujuh. Aku pulang dulu Sung Min ssi. Ahjumma, saya pulang dulu.", ucapku sambil membungkuk ke arah ahjumma itu. Aku lalu berbalik meninggalkan tempat itu. Tak peduli apa reaksi Sungmin atas ucapanku, yang jelas aku sudah bertekad untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengannya.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Pagi ini, entah mengapa aku berhasil memecahkan rekor bangun jam 6 pagi. Ini benar-benar luar biasa dan baru sekali ini terjadi selama 20 tahun aku hidup di dunia.

Aku juga tidak tahu bagaimana mekanisme tubuhku bekerja, sehingga aku bisa melakukan ini. Dan lebih gila lagi, saat ini aku sudah berada tepat di depan rumah yang ditinggali oleh yeoja itu, Lee Sung Min. Dengan resiko terkena amukan dari ahjumma aneh pemilik rumah ini.

Tapi entah mengapa, perasaan rinduku kepada Lee Sung Min bisa mengalahkan semuanya. Mengalahkan perasaan seganku kepada ahjumma aneh itu, bahkan membuatku sejenak melupakan masalah yang sudah mengatri di depan mataku.

Dan benar saja, begitu aku mengetuk pintu, munculah ahjumma aneh itu.

"Kau mau apa anak muda?", tanyanya kepadaku sambil berkacak pinggang.

"Anyeong ahjumma, saya ingin menjemput Lee Sung Min.", ucapku hati-hati.

Sebuah smirk tersungging di bibirnya. Pandangannya yang dingin membuatku sedikit merinding.

"Memangnya kau siapa?", tanyanya lagi.

Aku terdiam karena memang aku bukan siapa-siapa nya Lee Sung Min.

"Ahjumma, saya berangkat dulu ya. Ayo Kyuhyun ssi!", ajak Lee Sung Min yang muncul tiba-tiba dari dalam rumah.

"Kau mau membonceng namja itu Minnie?", tanya ahjumma itu sedikit melembut.

"Ne. Ahjumma jangan khawatir, saya bisa menjaga diri. Sampai jumpa nanti!", Jawab Lee Sung Min sambil membungkuk kepada yeoja setengah baya itu. Akupun melakukan hal yang sama dengan yang Sungmin lakukan.

Ahjumma itu hanya terdiam. Ia memandang kami berdua dengan pandangan sendu. Benar-benar ahjumma yang aneh.

Beberapa saat kami terdiam. Hanya deru angin dan suara kendaraan yang mengiringi perjalanan kami. Karena tak tahan terus menerus saling terdiam, akhirnya aku membuka pembicaraan.

"Hari ini kuliah apa saja?', tanyaku kepadanya.

"Kalkulus Integral dan Trigonometri.", jawabnya singkat.

"Nanti pulang jam berapa?", tanyaku kembali.

"Jam 3 sore, tapi aku harus bekerja paruh waktu di Butik.", ia kembali menjawab pertanyaanku dengan singkat.

Jawaban-jawaban singkat itu membuatku penasaran dengan ekspresi wajahnya saat ini. Karena itu kuperhatikan wajahnya diam-diam dari kaca spion. Dan ternyata, saat ini wajahnya sudah sangat merah. Mungkin efek karena berboncengan dengan ku.

Akupun tersenyum melihatnya.

TBC/END?

Akhirnya chapter 2 selesai juga.

Oiya, saya juga mau berterimakasih buat semua reviewer :

aidafuwafuwa, abilhikmah, WineKyuMin137, AmiraSJH, icaiiank.

Mianhe kalau ada kesalahan penulisan nama reviewer.

Terima kasih juga buat semua reader yang sudah memfollow maupun memfavoritkan ff ini

Sekali lagi tolong yang sudah membaca tinggalkan review ya ...

Gomawo ...