Words in 7k+ ! Mohon persiapkan mental.

-AqueousXback-


BAGIAN 1

Gedung dan bangunan lainnya terus silih berganti seiring dengan mobil BMW hitam melaju pelan menelusuri jalanan kota Incheon yang tak terlalu ramai. Di dalam mobil itu, terlihat dua pemuda yang sibuk berurusan dengan kegiatan masing-masing. Yang satu, sibuk dengan kemudi dan yang satunya lagi sibuk mengamati dengan khidmat jalanan terlewati. Tak ada satupun cicitan di antara kedua pemuda ini. Justru suara mesinlah yang menjadi penghantar keheningan di antara mereka berdua.

"Eh? Ada apa seonbae?" tanya pemuda yang kerjanya mengamati jalanan dengan khusyuk dan khidmat. Sebut saja Kim Taehyung.

"Aku ingin membeli sesuatu untuk dimakan." jawab pemuda yang megang kendali atas kelajuan mesin mobil. Sebut saja Kim Joonmyeon.

Taehyung tak menanggapi. Ia mengernyitkan dahinya. Ia menatap Joonmyeon sebentar lalu melemparkan pandang pada bangunan-bangunan dan sesuatu yang lain di kawasan ini. Sekejap, pandangannya pun tertuju pada satu restoran cepat saji. Ia kembali melihat Joonmyeon lalu menunjuk restoran cepat saji itu dengan ibu jari sambil menaikkan sebelah alisnya.

Joonmyeon tersenyum miring. Hoobae-nya ini mengetahui tempat yang dituju tanpa diberitahu secara jelas. "Kau ingin titip apa?"

"Cola dan burger keju." ucap Taehyung santai.

Joonmyeon melepas seatbelt yang memeluk badan atletisnya. "Kau tidak ingin ayam?"

"Ah..." Taehyung mulai bimbang. "Mau sih. Tapi-"

Tap.

Suara pintu mobil yang tertutup pun terdengar. Taehyung menatap datar sang seonbae yang sekarang tengah menyebrangi jalanan menuju restoran cepat saji.

"Aku tahu kau masih memikirkan investigasi yang tadi, Joonmyeon-seonbae. Aku juga tahu kalau kau mulai pusing gara-gara itu."

Sementara itu, Joonmyeon pun memasuki restoran cepat saji kemudian terdengarlah suara lonceng bel. Ia segera bergabung dengan barisan yang tengah mengantri untuk memesan menu. Setelah sekian menit menunggu, tibalah gilirannya untuk memesan menu yang diinginkan. Tapi sebelum ia mengatakan menu yang dipesan, ia menatap terlebih dahulu sang kasir yang memejamkan kedua matanya rapat. Ia pun mengangkat sebelah alisnya.

"Maaf tuan. Cepat katakan apa pesananmu. Kalau tidak, pelanggan lain akan pergi." ucap sang kasir.

Sebenarnya, tepat sebelum giliran Junmyeon berhadapan dengan kasir. Ia bisa melihat sang kasir dimarahi oleh karyawan yang sepertinya bekerja lebih lama karena kaca mata hitam yang menggantung indah di hidung bangir itu. Kacamata hitam milik sang kasir dilepas paksa oleh karyawan itu dan sekarang sang kasir memejamkan matanya rapat. Ada apa dengan mata sang kasir? Apa ada kelainan? Itulah yang membuat Joonmyeon sangat penasaran.

"Aku tidak akan mengatakannya sampai kau membuka matamu." ucap Joonmyeon.

Sang kasir pun mengumpat pelan lalu membuka kedua matanya penuh keraguan. Sementara Joonmyeon, ia mengamati penuh kedua mata sang kasir yang akan terbuka.

Kedua mata sang kasir pun terbuka dan sekejap Joonmyeon terpaku. Ia menatap dalam kedua manik hitam yang tampak bercahaya memaparkan sinar penuh kelembutan di dalamnya.

'Indahnya.' puji Joonmyeon dalam hati.

"Sekarang apa pesananmu?"

Joonmyeon terhentak. Ia pun langsung menyebutkan menu pesanannya. Sesudahnya, ia pun langsung menyerahkan uang ketika sang kasir menyebutkan jumlah harga sekaligus menyerahkan pesanan yang di pesan olehnya. Bukannya langsung pergi, Joonmyeon malah mendekatkan wajahnya pada wajah sang kasir tanpa aba-aba. Ia menatap lamat manik hitam sang kasir.

"Kau mempunyai mata yang sangat indah. Kenapa ditutup seperti itu?"

Sang kasir menyebikkan bibirnya. "Bukan urusanmu." Ia pun geram ketika melihat Joonmyeon yang tak kunjung meninggalkan antrian. "Jika tidak ada yang ingin kau pesan, silahkan pergi. Gajiku bisa dipotong gara-gara kau, sialan."

Joonmyeon mengangkat bahunya lalu pergi meninggalkan antrian. Baru lima langkah berjalan, ia pun berhenti. Ia mendengar suara sang kasir yang memanggil nama seseorang. Ia pun berbalik, ia melihat sang kasir menahan lengan seorang pemuda tinggi.

"Lepaskan bodoh!"

"Kumohon tetaplah disini setidaknya lima menit saja, Taekwoon-ah."

"Hah. Ternyata kau tidak berubah ya, si aneh Zhang Yixing. Kali ini lelucon macam apa yang kau katakan, hm?"

"Aku melihat bayangan hitam di pung-"

"Oh, aku ingat. Kau mengatakan hal yang sama pada saat itu dan tiba-tiba saja ibuku meninggal selang dua jam setelah kau mengatakan itu. Jadi, apa kau ingin bilang kalau aku akan mati? Maaf sekali ya, aku tidak percaya apa yang kau katakan."

Joonmyeon melihat pemuda itu pergi namun lengannya ditarik kuat oleh sang kasir.

"Kumohon tetaplah disini, Taekwoon-ah."

"SUDAH CUKUP! AKU MUAK MENDENGAR OMONG KOSONGMU BRENGSEK!"

'Drama macam apa ini?' batin Joonmyeon.

"Apa kau lupa? Aku bilang padamu berulang kali kalau aku tidak akan pernah percaya omong kosongmu itu. Dan apa kau lupa? Kenapa aku menyakitimu lalu meninggalkanmu? Itu karena kau..."

"Pembawa sial."

'Drama sekali.' komentar Joonmyeon. Ia melihat si pemuda tinggi itu berjalan meninggalkan sang kasir.

"Tiga menit saja Taekwoon-ah! Tetaplah disini tiga menit saja!"

"Kumohon percayalah Taekwoon-ah! Sekali ini saja."

Joonmyeon melihat si pemuda bernama Taekwoon keluar dari restoran itu. Melalui jendela besar di restoran, ia melihat si Taekwoon sedikit berlari menyebrangi jalan.

Brak!

Sontak seluruh insan yang berada di dalam restoran kaget bahkan berteriak histeris. Bagaimana tidak..

Si Taekwoon itu tertabrak mobil yang melaju cepat secara tiba-tiba. Kemudian terseret hingga beberapa meter.

Joonmyeon tergagap melihat kematian si Taekwoon itu. Perlahan, ia menoleh ke tempat kasir. Ia melihat pemuda bernama Zhang Yixing diam tak berkutik. Ia juga melihat kedua manik hitam yang indah itu bergelinang air mata.

'Jadi, dia.. si Zhang Yixing itu...'

Joonmyeon langsung meraih ponsel pintarnya di saku celana lalu menelpon ambulans dan pergi meninggalkan restoran.

Bukannya menuju ke tempat kejadian kecelekaan, Joonmyeon justru kembali ke mobil. Perdebatan sang kasir dan si pemuda tinggi itu masih melayang bebas di pikirannya. Hingga ia pun bisa menarik satu hal yang terasa sangat buram di otaknya.

Si kasir itu..

Peramal?

Indigo?

"Hei seonbae! Kenapa kau tidak ikut bantu evakuasi korban?"

Joonmyeon tersentak. Ia menatap Taehyung yang menempatkan tubuhnya di samping kemudi. Ia melihat Taehyung memijat pelan dahinya.

"Selama aku hidup, aku belum pernah melihat korban tabrakan se-mengerikan ini."

Joonmyeon berbalik menatap jalanan yang sudah ditandai garis polisi. Ia pun menghidupkan mesin lalu menjalankan kendaraan roda empat itu melawan arus balik jalanan.

'Sungguh tidak terduga.' komentar Joonmyeon di batinnya.

...


Mentari memberikan sejumlah kehangatan melalui sinarnya yang tak terlalu menyilaukan. Memberikan kesan penuh warna pada objek-objek yang terkena sinarnya. Kim Joonmyeon berjalan sambil membaca secarik kertas yang berisikan alamat. Ia menoleh kiri-kanan menyocokkan nomor rumah dengan tulisan yang ada di secarik kertas ini.

Joonmyeon berhenti. Ia menatap angka satu dan lima di kertas juga tembok rumah tak berpagar itu. Setelah dirasa cocok, ia menekan bel samping pintu kayu berwarna cokelat. Kemudian terlihatlah seorang pemuda bermata sayu di balik pintu.

"Siapa?"

Joonmyeon tak menjawab. Ia menatap datar pemuda bermata sayu dan lingkar hitam membengkak di dobel eyelid-nya. "Apa kau Zhang Yixing?"

"Iya." Zhang Yixing mengucek kedua matanya pelan kemudian memfokuskan pandangannya pada sosok di hadapannya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali melihat sosok tampan berbusana ala musim dingin. "Sepertinya aku pernah melihatmu."

"Aku yang waktu itu di restoran." ucap Joonmyeon tidak berbelit.

Yixing diam. Ia mengorek seluruh ingatan di memori otaknya. Setelah memakan waktu sekian menit, ia pun langsung menatap tajam sosok Kim Joonmyeon ini. "Apa maumu?"

Suara malas khas bangun tidur langsung berubah datar mencekam seketika. Hal itu membuat Joonmyeon takjub. Ia menyadari kalau Zhang Yixing sangatlah telat mikir alias telmi.

Tapi ngomong-ngomong. Joonmyeon sangat mengagumi muka bantal si Zhang Yixing. Terlihat sangat imut dan menggemaskan.

"Ada sesuatu yang ingin ku ketahui darimu."

"Apa?"

"Perihal kejadian kemarin." ucap Joonmyeon. "Aku ingin tahu maksud ucapanmu waktu itu."

Yixing mendelik. Ditutupnya cepat pintu rumah. Namun sayang, Joonmyeon menahan pintu rumah saat detik itu juga. Kemudian terjadilah baku dorong antar dua insan sama gender ini. Yixing pun tak berkutik ketika Joonmyeon mengeluarkan lencana polisi dari saku celana.

"Detektif Kepolisian Pusat Incheon." ucap Joonmyeon memperjelas identitas diri.

Yixing menghela nafas. Ia berjalan menuju bangku panjang yang berada di samping pintu diikuti oleh Joonmyeon di belakangnya. Ia mendudukkan tubuhnya di bangku itu kemudian menyandarkan punggungnya di tembok. Joonmyeon melakukan hal yang sama. Hanya saja Joonmyeon tidak ikut menyandarkan punggung.

"Aku yakin, kau pasti tidak percaya." Yixing buka suara di sela keheningan.

"Bagaimana kalau aku percaya?" ucap Joonmyeon enteng.

Yixing menatap tajam Joonmyeon. Mencari secercah kepastian dari sosok tampan itu dari kedua mata kuacinya. Ia menghela nafasnya pelan lalu kembali menyandar. Ia menatap kabut berawan menyembunyikan langit biru yang cantik.

"Aku bisa melihat kematian seseorang." ucap Yixing. "Aku melihat bayangan hitam di dekat orang itu, entah itu punggung, kepala bahkan bahu sekalipun. Ketika aku menyentuh bayangan itu, aku bisa tahu penyebab kematian seseorang itu."

Yixing memejamkan matanya pelan. "Aku tidak bisa mengendalikan ketakutanku ketika melihat bayangan itu dan aku langsung memperingati orang itu. Yang ada, aku dianggap gila oleh orang-orang."

"Dan jika kematian memang terjadi pada orang yang kuperingati, orang-orang menjauhiku. Mereka berpikir mereka akan seperti itu juga jika berurusan denganku."

Joonmyeon tetap diam dan menaruh seluruh perhatiannya pada ucapan Yixing.

"Dulu aku sering ketakutan dan menangis. Saat itu, ayahku memasangkan kacamata hitam padaku. Ayah bilang, bila aku memakai kacamata itu aku tidak akan melihat bayangan hitam. Karena itulah aku sangat bergantung pada kacamata hitam."

Yixing diam sejenak. Senyuman penuh kepaksaan merekah di wajahnya manisnya. "Apa dongengku menarik?"

"Itu bukan dongeng. Itu fakta tentang dirimu." ucap Joonmyeon.

"Tentu saja itu dongeng. Isinya saja tentang sesuatu yang tak mungkin orang perca-"

"Aku percaya."

"Eh?"

Joonmyeon meraih tangan kanan Yixing lalu mengusap lembut bagian punggungnya.

"Aku percaya apa yang kau katakan."

Yixing luluh dengan penuturan Joonmyeon. Ditambah lagi senyuman angelic yang menambah kesan tampan pada rupa pemuda ini.

Buru-buru Yixing menarik tangan kanannya dan membuang pandangannya ke objek lain. Ia jadi teringat dengan mantannya yang meninggal akibat tabrak lari. Mantannya juga mengatakan hal yang sama. Bahkan sangat persis.

"Penglihatan tidak biasamu itu adalah anugerah." ucap Joonmyeon. "Kau bisa menyelamatkan nyawa orang lain."

"Meskipun begitu, mereka takkan percaya!" teriak Yixing. "Penglihatanku ini pembawa sial bukan anugerah!"

Joonmyeon menggerakkan paksa tubuh Yixing hingga ke hadapannya. Ia menangkupkan wajah Yixing dengan kedua telapak tangannya.

"Kenapa kau masukkan ucapan laki-laki itu ke dalam hatimu, huh?"

Yixing diam tak menjawab.

"Bagiku, penglihatanmu adalah anugerah." ucap Joonmyeon lembut.

"Cih." Yixing tertawa remeh. "Kata-katamu membuatku jijik tau."

Chu.

Yixing terdiam seketika. Ia membulatkan maniknya kaget menyadari bahwa Joonmyeon mencium keningnya.

'Kenapa?' batin Yixing.

Joonmyeon menarik bibirnya dari kening Yixing lalu mengusap pipi Yixing dengan ibu jarinya.

"Sebenarnya, aku menyukaimu dan mengagumimu. Aku ingin mengetahui segalanya tentangmu lebih dalam lagi." ucap Joonmyeon.

Yixing terdiam akibat penuturan Joonmyeon. Ia pun menggigit bibir bawahnya.

"Aku percaya padamu, Yixing."

"Jadilah milikku."

Yixing memejamkan matanya kemudian menundukkan kepalanya. "Tolong berikan aku waktu untuk menata kembali hatiku yang telah hancur ini."

Joonmyeon memeluk erat tubuh ramping Yixing. "Aku akan menunggumu dengan sabar."

Yixing memejamkan matanya pelan. Seketika, rasa hangat menjalari dadanya. Ia pun menyamankan diri dengan menenggelamkan wajah manisnya di bahu lebar Joonmyeon.

"Ayo bekerja sama." ucap Joonmyeon.

"Kerja sama apa?"

Joonmyeon tersenyum. "Bekerja sama menyelamatkan nyawa orang."

"Aku tidak mau."

"Ayolah, Yixing-ah."

"Aku tidak bisa. Lagipula, untuk apa aku berusaha menyelamatkan orang lain, jika ayahku sendiri tidak bisa aku selamatkan."

Joonmyeon terdiam sejenak. "Jadi, ayahmu.."

Yixing tersenyum. "Ya, ayahku meninggal saat umurku lima belas tahun. Aku sendiri melihat dengan jelas bayangan hitam itu di balik punggung ayahku." Ia menggigit bibir bawahnya. "Aku tidak bisa melakukannya. Aku hanya bisa meringkuk ketakutan ketika melihat bayangan itu."

"Kau bisa." Joonmyeon pun mengusap lembut punggung Yixing. "Ada aku yang membantumu."

"Baiklah." ucap Yixing mengalah.

"Bagaimana kalau kita coba setelah makan siang?"

"Terserah kau saja."

...


"Coba kau lihat laki-laki itu, Detektif Kim."

Joonmyeon yang fokus ke jalanan, teralih ke massa yang tengah ricuh di pinggir jembatan. Sambil melambat kelajuan mobil, ia melihat satu orang laki-laki yang berdiri di undakan tembok, tiga petugas keamanan setempat, dan beberapa warga.

"Aku sering melihat dia. Dia selalu melakukan itu disini. Intinya, dia ingin diperhatikan." ucap Joonmyeon.

"Tapi dia akan mati." ucap Yixing pelan. "Aku melihat bayangan hitam itu."

"Tidak akan. Itu hanya akal-akalan dia untuk diperhatikan. Besok-besok, dia akan kembali melakukan hal itu lagi."

Joonmyeon terdiam ketika Yixing mendelik ke arahnya melalui sudut matanya. "Kenapa?"

"Kau tidak percaya?"

"Bukan seperti itu, Yixing-ah." ucap Joonmyeon. "Aku sering lewat sini. Aku juga sering melihat laki-laki itu melakukan hal yang serupa."

Yixing diam tanpa tanggapan. "Berhenti."

"Eh?"

"Kubilang berhenti." Yixing bersikeras.

Joonmyeon pun menghentikan kelajuan mobil dengan menginjak perlahan pedal rem sambil meminggirkan posisi mobil.

"Ayo kita tonton ini terlebih dahulu." ucap Yixing dingin.

Joonmyeon tak menanggapi. Ia melihat aksi 'minta perhatian' laki-laki itu.

'Sebenarnya aku tidak percaya.' batin Joonmyeon. 'Tapi, perasaan inilah yang membuatku ingin dekat denganmu melalui berbagai cara. Termasuk ini. Apa aku kejam?'

Baik Joonmyeon dan Yixing, mereka mendengar laki-laki itu berteriak, "TIDAK ADA TEMPAT YANG BERSEDIA UNTUK KUPIJAKKAN KAKI DENGAN TULUS TANPA KELICIKAN! TIDAK ADA HARAPAN UNTUK DUNIA YANG PENUH KETIDAKADILAN INI!"

"SELAMAT TINGGAL! SEMOGA KITA BISA BERTEMU LAGI!"

Joonmyeon kaget bukan main ketika melihat laki-laki itu loncat dari undakan tembok jembatan. Sontak, ia keluar dari pintu lalu berlari menuju undakan tembok jembatan. Ia melihat beberapa tim pertolongan di tepian sungai besar. Kemudian, ia melihat tim pertolongan menyelam mencari keberadaan laki-laki itu. Sekitar dua pulih menit, ia melihat tim pertolongan membawa tubuh laki-laki ke tepian kemudian diletakkan di tandu dan dibawa ke dalam ambulans.

"Benar-benar terjadi." gumam Joonmyeon pelan. Ia pun menggigit bibirnya kuat. "Sialan!" umpatnya. Sungguh, ia jadi tak enak hati karena tidak menyelamatkan laki-laki itu. Jati dirinya sebagai polisi tercoreng sudah karena kelalaiannya yang satu ini. Ia pun menenangkan pikirannya yang langsung berkecamuk dengan menarik dalam-dalam nafasnya kemudian menghelanya perlahan. Setelah dirasa cukup tenang, ia pun kembali memasuki mobil.

"Aku benar, kan?" ucap Yixing ketika Joonmyeon telah memasuki mobil.

Joonmyeon tak menjawab. Ia pun memasang seatbelt ke tubuhnya lalu menekan pedal gas perlahan memberikan kecepatan pada mobil untuk melaju.

"Sekarang, apa kau benar-benar percaya padaku?" ucap Yixing buka suara setelah sekian menit saling diam.

"Ya. Aku percaya." balas Joonmyeon. "Maaf, aku tak sepenuhnya percaya padamu."

"Tidak masalah." Yixing memalingkan pandangan ke sesuatu yang berada di luar jendela mobil. "Aku sudah terbiasa."

Joonmyeon diam. Ia pun memfokuskan diri dengan kemudi membiarkan seluruh pikirannya terpusat pada pergerakan tangan di setir mobil.

...


Stasiun kereta bawah tanah. Tempat pertama yang dikunjungi. Dengan keramaian penghuni bumi yang dirasa pas untuk mencoba aksi penyelamatan nyawa orang yang terancam. Joonmyeon dan Yixing berjalan memutari area stasiun sembari melemparkan pandangan pada manusia-manusia yang berada di area ini. Sambil melihat-lihat, tak sengaja Joonmyeon mencuri pandang ke arah Yixing yang berada di sampingnya. Ia bisa melihat tatapan Yixing yang sangat datar. Ia tak mengerti apa maksud dari tatapan itu. Apa Yixing tidak yakin dengan dirinya sendiri?

"Dengarkan apa kata hatimu, Yixing-ah."

Yixing menoleh. Ia kedapatan senyuman Joonmyeon yang terlihat sangat tampan. Di saat itu pula ia merasakan suatu getaran halus di dadanya yang membuat jantungnya berdegup kencang. Ia pun mengalihkan pandangannya dengan menundukkan kepalanya.

"Aku tidak yakin aku bisa." ucap Yixing pelan.

"Kau bisa." ucap Joonmyeon menyemangati. "Ada aku di belakangmu untuk memberikanmu semangat."

Yixing menggigit bibirnya. "Mereka tidak akan percaya."

"Akan ku buat mereka percaya." ucap Joonmyeon cepat.

Sontak, Yixing menoleh ke Joonmyeon yang berada di sampingnya.

"Percaya dirilah, Yixing-ah. Buanglah semua ketakutan dan ketidakyakinanmu."

Yixing menatap Joonmyeon sejenak. Perlahan, senyuman manis pun merekah di wajah cantiknya. Ditambah lagi, cengkungan dalam menyembul malu-malu di pipi kanannya.

Demi apa.

Joonmyeon terpanah oleh senyuman manis Yixing yang terasa sangat hangat dan lembut. Ia merasakan gejolak yang membara di dadanya. Dadanya serasa terhimpit oleh suatu perasaan yang membuat batinnya berbunga-bunga tanpa diketahui alasannya.

"Terima kasih."

Joonmyeon tersentak. Ia tersenyum sebagai tanggapan ucapan Yixing. Sekaligus menutupi perasaan aneh yang menyerangnya tiba-tiba.

Baru sekitar lima detik Yixing memalingkan pandangannya dari Joonmyeon, ia melihat bayangan hitam di samping seorang remaja berseragam sekolah yang tengah duduk di bangku tunggu.

"Aku melihatnya. Bayangan itu berada di samping gadis yang sedang duduk di bangku dekat reklame jadwal keberangkatan."

Joonmyeon berbalik. Ia mencari keberadaan gadis yang dimaksud Yixing. Tak butuh lama ia mencari gadis itu. Ia melihat seorang gadis berseragam sekolah duduk sendirian di sebuah bangku tunggu. Ia juga melihat tatapan linglung yang kosong dari gadis berseragam sekolah itu. Kemudian, ia menoleh ke samping tempat dimana Yixing berada. Ia bisa melihat tubuh Yixing yang gemetaran.

"Kau bisa, Yixing-ah." bisik Joonmyeon lembut.

Yixing memejamkan matanya rapat. "Bayangan itu mengerikan. Sekilas aku melihat makhluk aneh bermata merah."

Joonmyeon mengerti. Ia jadi tahu alasan mengapa Yixing selalu ketakutan melihat bayangan itu.

Yixing menghela nafasnya pelan. Ia meyakinkan dirinya untuk berani dan percaya diri. Ia menghapus bayang-bayang makian orang yang tak percaya pada ucapannya. Sesudahnya, ia pun berjalan menuju bangku tunggu di dekat reklame jadwal keberangkatan kemudian mendudukinya ketika telah tiba. Ia mengarahkan tangannya pelan ke bayangan hitam yang berada di samping sang gadis sekolahan. Terlihat jelas betapa takutnya ia dari sang tangan yang gemetar hebat.

Sekejap, sesuatu secepat flash kamera masuk ke alam bawah sadar Yixing. Di saat itulah ia melihat sang gadis berjalan menuju rel kemudian terseret oleh kereta yang melaju cepat. Ia memejam matanya perlahan guna bangun dari alam bawah sadarnya.

"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan selanjutnya." ujar Yixing.

Joonmyeon yang berada di samping Yixng tanpa diketahui kapan, hanya diam sambil memanggut dagunya berpikir. "Dari raut wajahnya yang kosong dan linglung, sepertinya dia ingin mengakhiri hidupnya lantaran depresi, benar?"

"Ya lebih kurang seperti itu."

Joonmyeon melihat Yixing menjatuhkan perhatiannya pada lintasan kereta yang masih sepi. Dugaannya benar. Gadis ini sedang dilanda depresi berat dan ingin mengakhiri hidupnya dengan menabrakkan diri pada kereta yang akan datang. Segera ia memalingkan pandang ke reklame jadwal keberangkatan. Ia dapat melihat jadwal kereta yang akan berangkat menuju Busan sekitar sepuluh menit lagi.

Joonmyeon merendahkan tubuhnya hingga sejajar dengan telinga Yixing lalu mendekatkan wajahnya. "Coba berbasa-basi dengannya. Seperti menanyakan jam?" bisiknya pelan.

"Tidak bisa." ucap Yixing. Ia pun menoleh ke arah Joonmyeon. Sontak, ia mematung. Wajahnya dan Joonmyeon sangatlah dekat. Jaraknya hanya sekitar lima jari. Ia pun menelan ludahnya pelan menetralkan diri atas perasaan bergejolak yang dirasakan dadanya. "Dia tidak bisa diganggu."

Joonmyeon menjauh. Ia pun menghela nafasnya pelan kemudian mengulum bibirnya. "Lalu?"

Yixing beralih menatap gadis berseragam sekolah yang nyatanya siswi SMA di sampingnya. Ia bisa merasakan kesedihan dan keputusasaan yang sangat mendalam pada gadis itu. Ia jadi tidak tega untuk membiarkan gadis itu menghabisi nyawanya sendiri. Gadis itu masih muda, dia masih mempunyai banyak hal untuk dilakukan.

"Tunggu saja." ucap Yixing pelan.

Joonmyeon tersenyum. Suara Yixing yang pelan itu terdengar sangatlah lembut. Ia sangat menyukainya. Ia ingin mendengarnya lagi. Sontak, batinnya tertawa. Baru sekian detik ia mendengar suara pelan Yixing yang terdengar lembut itu, ia jadi keracunan seperti ini.

Dasar manusia yang lagi jatuh cinta.

Joonmyeon dan Yixing langsng berada di posisi siap siaga ketika kedapatan gadis itu berdiri dan berjalan menuju batas teritori pengunjung dan kereta. Di saat itulah terdapat suara pemberitahuan bahwa kereta dengan tujuan Busan akan berangkat, dan para penumpang diminta untuk berdiri menjauhi garis putih -garis aman untuk para penumpang-. Kebetulan sekali, mereka (Joonmyeon, Yixing dan gadis itu) berada di batas yang dimana kereta akan memasuki terowongan. Tempat yang bagus untuk menabrakkan diri ke kereta karena kereta sudah melaju dengan kecepatan tinggi.

Terdengar suara kereta akan berangkat. Gadis itu melangkahi garis putih dan mulai mengambil ancang-ancang untuk menerjunkan diri ke rel. Joonmyeon dan Yixing tidak diam saja. Mereka segera menghampiri gadis itu.

Sekitar lima ratus meter lagi. Kereta itu akan mendekat.

Seratus meter.

Lima puluh meter.

Terdengar suara seluruh calon penumpang yang berteriak histeris lantaran aksi nekat seorang siswi SMA yang menerobos batas aman.

Dua puluh meter.

Sepuluh meter.

Tampak kereta yang hampir mendekat. Sontak, siswi SMA itu melompat ke rel. Dan pada saat detik itu juga, Joonmyeon langsung mencegat sang siswi SMA dengan menarik lengannya. Hingga akhirnya terjatuh dengan siswi itu berada di atas tubuh atletis Joonmyeon.

"Syukurlah." ucap Joonmyeon santai.

Siswi SMA itu kaget ketika kedapatan dirinya menghimpit seorang pria yang lebih tua darinya. Ia segera bangkit dan langsung mengumpat kasar. "Sialan. Aku ingin mati! Kenapa justru diselamatkan?!"

Joonmyeon bangkit dari posisi baringnya sambil mengernyitkan dahinya. "Hei. Kenapa kau bicara tidak sopan seperti itu pada orang yang lebih tua, huh?" jengkelnya. "Dasar pelajar zaman sekarang. Kenapa tidak ada sopan-santunnya sama sekali, huh? Untung saja ada orang yang berbaik hati menolongmu. Harusnya kau berterima kasih dengan lemah lembut bukannya mengumpat. Apa orang tuamu tidak mengajarimu sopan-santun, hah?" ucapnya panjang lebar. Persis sekali seperti kakek-kakek.

Siswi itu menangis. "Aku ingin mati! Kenapa kau menghalangiku!"

"Mujur ada orang yang menyelamatkanmu, tau." ucap Joonmyeon jengkel. "Lagipula kau masih muda, untuk apa bunuh diri."

"Hentikan Detektif Kim."

Joonmyeon langsung menoleh ke samping kanannya. Ia melihat Yixing yang berjalan menuju siswi SMA itu kemudian memeluknya. Seketika, ia merasa iri dengan siswi SMA itu.

"Mentalnya sedang tidak sehat saat ini. Tidak baik jika kau berkata kasar padanya."

Joonmyeon tertegun. Ia kagum pada sifat Yixing yang keibuan ini. Ah, ia jadi gemas sendiri dibuatnya. Sepertinya ia jadi lupa akan kekesalannya pada siswi itu yang sama sekali tidak tahu berterimakasih dan sopan-santun.

"Tenangkan dirimu." ucap Yixing lembut.

Siswi itu menangis sejadi-jadinya, kemudian mereda perlahan. Ia pun meloloskan diri dari dekapan Yixing dengan mendorong tubuh itu pelan.

"Haah.. sial sekali." gumam siswi itu.

Yixing tersenyum simpul. Dipinggirkannya pelan helai-helai rambut yang menutupi wajah siswi itu ke belakang telinganya. Siswi itu pun menegakkan kepalanya menatap keseluruhan wajah Yixing.

"Aku tidak tahu apa yang menjadi masalahmu hingga membuatmu memutuskan untuk bunuh diri." Yixing buka suara. "Kau masih terlalu muda untuk mati. Kau juga masih mempunyai banyak hal yang dilakukan di dunia ini. Jika kau mempunyai masalah, jangan coba untuk menanggungnya sendirian. Ceritakanlah. Temuilah orang yang dirasa pas untukmu bercerita dan berbagi."

"Tidak ada." siswi itu menjawab. "Tidak ada orang yang mau mendengarku."

"Benarkah? Bagaimana orang tuamu. Apa orang tuamu jahat?"

Siswi itu menggeleng pelan. "Mereka sangat baik padaku."

Yixing mengusak surai siswi itu pelan. "Jika kau masih memiliki orang tua yang baik padamu, apa salahnya untuk bercerita dengan mereka?"

"Aku tidak yakin. Ini masalah sekolah. Semua orang di sekolah menghakimi gara-gara aku penyebab kacaunya acara seminar. Mereka beramai-ramai menyumpahiku mati lewat Daum Cafe*."

"Coba secara perlahan." ucap Yixing meyakinkan. "Aku yakin orang tuamu pasti mengerti. Bahkan, mereka pasti marah karena orang-orang sekolahmu menghakimi bahkan menyumpahimu seperti itu."

Siswi itu diam sejenak. "Baiklah. Terima kasih banyak."

"Tentu." Yixing bangkit dari duduknya kemudian berjalan menghampiri Joonmyeon yang tengah menyandarkan punggungnya di tembok stasiun. Kebetulan ada mesin minuman kaleng di sebelahnya.

"Tunggu."

Yixing berhenti sejenak. Ia menoleh ke belakangan dan mendapati siswi itu menatapnya lekat.

"Kau siapa?"

Yixing bingung. Ia harus menjawab apa pada siswi ini. Tidak mungkin dia menjawab, 'pahlawan kebenaran'. Yang ada ditertawakan dan dianggap aneh lagi.

"Detektif."

Yixing kaget. Ia pun menengok Joonmyeon yang sedang santainya berjalan sambil menunjukkan lencana polisi kemudian merangkulnya dengan tanpa dosa. "Hei-"

"Karena bosan dengan investigasi kasus pembunuhan berantai yang marak terjadi akhir-akhir ini, kami memutuskan berjalan-jalan sejenak." ucap Joonmyeon santai. Mengindahkan tatapan setajam silet milik Yixing.

"Kebetulan sekali ada gadis kecil yang ingin bunuh diri di jam wajib sekolah. Karena detektif merupakan bagian dari kepolisian. Mau tidak mau, kami harus menyelamatkanmu sebagai bentuk pengabdian kami pada masyarakat."

'Bicara apa dia.' batin Yixing sedikit kesal.

"Begitu ya." ucap siswi itu. Ia pun membungkukkan badannya. "Terima kasih banyak."

"Jangan sungkan. Ini memang tugas kami kok." Joonmyeon pun menjauhkan lengannya kemudian berjalan menjauh menuju arah keluar stasiun.

'Lagak sombongnya sungguh menyebalkan.' komentar Yixing di batinnya. Ia pun tersenyum sejenak pada siswi SMA itu. "Jagalah dirimu baik-baik ya."

Siswi itu bangkit, kemudian mendapati Joonmyeon berjalan menjauh dan Yixing yang masih setia pada tempatnya. "Baik. Terima kasih banyak."

Yixing tersenyum sekilas. Ia segera menyusul Joonmyeon yang sudah benar-benar meninggalkan area stasiun bawah tanah.

...


"Apa-apaan yang tadi itu hah? Yang detektif itu kan kau, bukan aku." ucap Yixing sambil mengaduk-aduk jus stroberi dengan bibir dimanyunkan.

Joonmyeon menyeruput spaghetti khidmat. Ternyata, yang sangat kelaparan pada scene ini adalah si Detektif Kim Joonmyeon saudara-saudara.

"Biar keren gitu. Kalau kau bilang kau hanyalah pejalan kaki biasa, kau akan dilabrak lantaran 'orang asing yang kurang ajarnya ikut campur masalah orang'. Kau mau begitu?"

Yixing berdecak. "Terserah."

Joonmyeon pun menyeruput spaghetti terakhirnya. Setelahnya langsung menyambar lemon tea dalam sekali teguk. "Hah.. lega." ucapnya sambil mengelus perutnya lantaran kekenyangan.

Yixing tak memperhatikan, ia hanya memandang apapun melalui jendela kafe dengan tangan menopang dagunya. Sebelah tangannya yang bebas pun mengepal perlahan.

'Orang asing yang kurang ajarnya ikut campur masalah orang.'

Yixing menggigit bibir bawahnya. Galau-gulana, khawatir, cemas, tidak yakin, tidak percaya diri, takut. Semua perasaan itu bercampur menjadi satu kesatuan. Jika dipikir secara mendalam, yang dikatakan Joonmyeon itu benar. Ia merasa, apa yang dilakukan dan akan dilakukan di waktu yang akan datang itu percuma dan sia-sia saja. Semua orang pasti tidak suka jika ada orang asing ikut serta dalam urusannya.

Bunuh diri. Itu adalah urusan mereka, keputusan akhir mereka. Yixing sama sekali tidak berhak untuk ikut campur. Ya, kecuali jika yang bunuh diri itu adalah kerabatnya sendiri, ia pasti ikut turun tangan. Sayang sekali, ia sama sekali tidak ada kerabat di negeri ginseng ini lantaran kelakuan bodohnya dulu yang mencegat orang-orang melakukan ini-itu guna menyelematkan dari maut, kemudian ia pun berakhir dianggap gila.

Berbagai macam kecelakaan. Baik itu tertabrak, ditabrak, ditusuk, dan lain-lain. Yixing pikir, itu adalah takdir. Takdir itu bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat, bukan? Jadi, ia merasa tidak perlu ikut tangan untuk mereka yang akan mengalami kecelakaan. Itu artinya, ia menyalahi takdir yang berlaku. Harusnya, ia tak perlu melakukan apapun karena itulah takdir mereka dan itulah yang akan terjadi pada mereka.

Yixing pikir.

Ia tidak perlu melakukan hal bodoh yang hanya dilakukan di berbagai macam film, anime dan drama. Ia tidak perlu menjadi orang yang sok pahlawan. Sesuatu yang drama-heroik seperti itu tidak pantas dilakukan pada permasalahan manusia jaman sekarang. Kecuali, urusan pertahanan kenegaraan. Itu tentunya harus dilakukan.

Menyelamatkan nyawa orang yang terancam itu, sungguh bodoh sekali. Yixing tidak ingin melakukan itu lagi. Sudah cukup baginya. Bahkan lebih dari cukup baginya melakukan hal yang super bodoh seperti itu.

"Hei. Bibirmu bisa berdarah loh."

Yixing menghela nafasnya kemudian menatap Joonmyeon yang berada di seberangnya tidak senang. "Bukan urusanmu."

Joonmyeon tersenyum miring. Ia menatap Yixing yang kembali menjatuhkan fokus ke segala sesuatu yang berada di luar jendela kafe. Ia pun menyeringai tipis.

'Kau semakin manis jika berlagak dingin dan angkuh seperti itu.'

Joonmyeon berdehem. Membuang jauh-jauh kesetanan yang baru saja merasuki sampai-sampai pikirannya pun membayangkan sesuatu non-sense. "Apa kau melihatnya lagi?"

"Hm."

"Kenapa tidak bilang, eoh? Ayo."

"Tidak mau."

"Eh?"

Joonmyeon mengernyitkan dahinya bingung. Ditatapnya lagi Yixing yang berada di seberangnya, menuntut jawaban pasti dari pria manis ini.

"Aku tidak mau lagi."

Joonmyeon diam. Ia masih menuntut jawaban dari Yixing.

Yixing menoleh kemudian menatap Joonmyeon datar. "Aku tidak mau melakukan hal bodoh seperti itu." ucapnya mantap.

"Kenapa?"

Yixing menunduk sejenak melihat jus stroberinya yang masih utuh tanpa berkurang sedikitpun kemudian kembali menatap Joonmyeon. "Melakukan hal bodoh seperti itu sangatlah sia-sia."

"Tidak ada gunanya."

"Membuat orang terganggu."

"Hal bodoh seperti itu hanya ada di drama."

"Tidak ada orang yang mau mendengarkan bahkan menghargai."

"Jika-"

"Sudah cukup hentikan." ujar Joonmyeon cepat.

Yixing diam. Ia tak melepaskan pandangan tajam nan datar andalannya dari wajah tampan milik Joonmyeon.

"Kau tahu? Angka kematian negeri ini sangatlah tinggi. Melakukan 'hal bodoh' seperti yang kau maksud itu, sangatlah efektif untuk menekan angka-angka itu supaya tidak melonjak lagi. Lagipula, bukannya menyelamatkan nyawa orang lain yang terancam itu merupakan hal yang mulia?"

"Cih. Bagaimanapun juga, menyelamatkan nyawa orang lain yang terancam itu merupakan hal cengeng yang ada di drama!" Yixing menaikkan intonasinya. "Kegiatan itu justru bagus di drama-drama, tapi sungguh aneh dan tidak masuk akal jika dilakukan di dunia nyata! Aku tidak mengerti seorang detektif sepertimu mempercayai hal cengeng yang lazim di serial drama seperti itu."

"Lagipula, itu adalah takdir mereka sendiri! Dimana-mana, takdir itu mutlak dan tidak dapat dielakkan sedikitpun. Sungguh kurang ajar, jika aku-bahkan-kita merubah takdir yang datang pada mereka."

Manik Yixing mulai berkaca-kaca. "Sudah cukup. Aku tidak mau melakukan hal bodoh dan cengeng itu. Biarkan saja penglihatan pembawa sialku ini terus menghantuiku hingga mati."

"Penglihatanmu adalah anugerah." ucap Joonmyeon pelan dan penuh penekanan. "Sayang jika dibiarkan."

"AKU TIDAK PEDULI!" Yixing berteriak. Seketika, pengunjung kafe yang lain menaruh tatap padanya dan juga Joonmyeon. "Mau anugerah ataupun tidak, aku tidak peduli lagi! Aku tidak mau melakukannya! Aku lelah!"

"Aku tidak peduli dengan diriku sendiri, kau, dan bahkan orang lain! Jangan memperalatku brengsek!"

Joonmyeon diam. Ia menatap Yixing menaruh dahinya di permukaan ujung meja. Ia melihat bahu Yixing yang bergetar dan mendengar isakan tangis.

"Aku mengerti. Kumohon maafkan aku." Joonmyeon menaruh telapak tangannya di bahu Yixing kemudian mengusapnya lembut. "Berhentilah menangis."

"Aku tidak bisa memaksa kalau kau tidak suka dan tidak mau melakukannya lagi." ujar Joonmyeon. "Kita berhenti sekarang."

Yixing bangkit lalu menghapus air matanya cepat. "Bagus." Ia pun menatap tajam Joonmyeon. "Kau juga, harus berhenti berada di dekatku."

Joonmyeon mengernyit.

"Jangan pura-pura tidak mengerti." ucap Yixing dingin.

"Kenapa kau menyuruhku berhenti berada di dekatmu?"

Yixing tersenyum miring. "Karena kau ikut campur dalam urusan hidupku, brengsek."

Joonmyeon terserang rasa sakit yang teramat menyesakkan di dada dalam hitungan detik.

"Kau yang tiba-tiba datang ke rumahku. Kau yang tiba-tiba mengatakan kalau penglihatanku ini adalah anugerah. Kau yang tiba-tiba mengajakku melakukan hal bodoh dan cengeng. Dan bahkan kau yang tiba-tiba mengatakan kalau kau menyukaiku dan percaya pada omong kosongku. Bukankah itu jelas kalau kau ikut campur dalam urusan hidupku?"

"Jangan ikut campur dan jangan peduli padaku! Menjauhlah dariku."

Joonmyeon diam tak mengelak. Sedangkan Yixing menyeringai. "Jika kau tidak bisa, biar aku saja yang menjauh. Itu hal yang sangat mudah dilakukan untuk orang sepertiku."

Joonmyeon menatap Yixing dalam. "Aku tidak bisa." ucapnya pelan.

Yixing mendecih tak suka kemudian mengumpat.

"Aku sudah terlanjur peduli padamu. Aku sudah terlanjur ingin dekat padamu. Aku bahkan sudah terlanjur... mencintaimu." ucap Joonmyeon. "Karena itulah aku tidak bisa melakukannya."

"Munafik." ucap Yixing.

"Bagaimana bisa kau langsung menyebutku munafik tanpa melihat kesungguhanku, hah?"

Yixing terdiam. Ia melihat ekspresi wajah Joonmyeon mengeras.

"Aku tahu kau memiliki kisah cinta yang menyakitkan di masa lalu. Tapi bagaimana bisa kau langsung menyamakan masa lalumu dan masa sekarang tanpa berpikir dahulu? Bagaimana bisa kau langsung menyebutku munafik tanpa melihat kesungguhanku? Bagaimana bisa kau menyamakanku dengan mantanmu yang sudah mati itu, hah?!"

Yixing terdiam. Ia tak memiliki satupun kata untuk mengelak. Ia tersudut sekarang.

"Jawab aku, Zhang Yixing." ucap Joonmyeon penuh penekanan. "Jawab pertanyaanku. Aku butuh jawaban yang pasti darimu."

Yixing menggigit bibir bawahnya. Seketika, ia teringat bayang-bayang masa lalunya. Ia teringat ketika mantannya menamparnya sambil mengatakan kalau ia adalah pembawa sial kemudian pergi bersama orang lain. Ia ingat. Mantannya melakukan itu padanya di depan sebuah kafe saat hujan turun sangat deras.

"Tatap mataku, Zhang Yixing."

Yixing mengelak. Ia tidak berani untuk menatap manik kuaci Joonmyeon.

"Tatap mataku!" Joonmyeon menghadapkan paksa wajah Yixing dengan menggerakkan dagunya. "Tatap mataku dan carilah kesungguhanku."

Mau tak mau, Yixing harus menatap mata Joonmyeon. Membiarkan dirinya jatuh dalam tatapan tajam itu, mencari secelah kebohongan dari lautan kesungguhan yang membara dari manik cokelat gelap itu. Ia pun memejamkan matanya pelan kemudian menundukkan kepalanya.

"Kau harus berpikir jernih dan menganalisis terlebih dahulu sebelum mengambil kesimpulan." ucap Joonmyeon. "Kau boleh mengambil pelajaran dari masa lalu supaya tidak melakukan hal serupa yang berakibat fatal di masa mendatang. Tapi, tidak semuanya kau ambil dan menjadikan masa lalumu itu sebagai tameng. Kau hanya perlu mengambil sebagian saja."

"Menghindar itu perlu dan harus. Tapi kau juga harus mencoba. Walaupun pasti ada hal-hal yang akan membuatmu kembali merasakan rasa sakit yang sama di masa lalu. Cobalah. Cobalah kembali. Jika kau tidak ingin merasakan rasa sakit di masa lalu, kau bisa berhati-hati untuk melangkah."

Joonmyeon tersenyum lembut ketika Yixing menaruh pandang padanya. "Percayalah dan yakinkan dirimu, Yixing-ah."

"Maafkan aku, Detektif Kim. Aku.."

"Aku mengerti." ucap Joonmyeon. "Aku tidak bisa memaksa kok. Kalau kau ingin aku menjauh, aku akan melakukannya."

"Tapi percayalah."

"Aku adalah orang yang satu-satunya ingin berada di dekatmu, ingin mengerti semua tentangmu dan ingin menjadi pemberimu kekuatan."

Joonmyeon mengusap pipi Yixing dengan jempolnya. Kemudian tersenyum tatkala Yixing memandangnya. "Percayalah padaku, Yixing-ah."

"Halo, Joonmyeon-seonbae!"

Joonmyeon kaget akibat teriakan yang terdengar aneh kemudian menatap tajam si pemicu teriakan.

"Sudah lama ya tidak bertemu."

"Ha. Lucu sekali." Joonmyeon menepuk tangannya dua kali kemudian kembali menatap tajam si pemicu teriak aneh. "Aku bahkan tidak ingin bertemu denganmu selama-lamanya, asalkan kau tahu."

"Astaga seonbae, kenapa kejam seperti itu sih?" Kim Taehyung -orang yang mengagetkan Joonmyeon- tak sengaja menaruh pandang pada Yixing yang berada di hadapan Joonmyeon.

Joonmyeon risih melihat Taehyung yang menatap Yixing sang calon pacar secara intens seperti itu. Bahkan tidak berkedip sedikitpun. "Makin lama kau menatap dia seperti itu, akan aku colok matamu pakai garpu."

"Wah."

Joonmyeon memutar matanya malas. Ia tak mengerti mengapa dirinya harus satu grup dengan pria alien dalam penyelidikan. Apa dosanya hingga ia bernasib menyedihkan seperti ini.

"Kau apakan hyungnim ini, hah?" ucap Taehyung.

Joonmyeon mengernyit. Ia melihat Taehyung yang berjalan menuju Yixing kemudian mengelus pundak sang calon pacar seenaknya tanpa minta izin.

"Hyungnim, apa pria di depanmu ini menyakitimu?"

Yixing tidak menjawab. Ia mengalihkan pandangannya pada sesuatu apapun di luar jendela.

"Astaga. Ini tidak bisa dibiarkan." ujar Taehyung. "Hyungnim, walau kau tidak ingin melihatku tapi dengarkan apa kataku."

"Asalkan kau tahu, hyungnim. Pria di depanmu ini sungguh tidak baik padamu. Dia ini jahat dan licik. Dia akan mendekatimu perlahan dengan ucapan yang manis dan perlakuan yang hangat. Setelah dia mendapatkanmu, dia akan menyakitimu! Aku memperingatimu demi kesalamatanmu, hyungnim. Jangan pernah percaya pada dia. Apalagi pada kata-katanya itu, hyungnim. Jangan pernah!"

"Hei. Bicara apa kau ini hah?" Joonmyeon mulai kesal. "Kalau ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku, langsung saja. Tidak usah kau menggangguku seperti itu, bahkan memprovokasi pikiran orang seperti itu."

"Ups." Taehyung menutup bibir dengan telapak tangannya. Ia pun berbisik pada Yixing. "Ingat baik-baik apa yang kukatakan ini, hyungnim. Jangan percaya pada dia atau kau akan menyesal."

Kekesalan Joonmyeon sudah berada di ubun-ubun. Kejahilan Taehyung ini sudah di luar batas aman. "Kim Taehyung." panggil Joonmyeon dingin.

"Ya, seonbae?"

"Apa kau lelah hidup?"

Taehyung menautkan dua alisnya berpikir. "Lelah hidup? Belum tuh. Memangnya kenapa seonbae?"

Joonmyeon menyeringai. "Kalau kau lelah hidup, tentu saja aku ingin mencekik lehermu hingga putus."

"Tidak perlu, seonbae. Aku masih belum lelah hidup." ucap Taehyung sembari terkekeh pelan.

"Taetae-hyung, aku sudah selesai. Maaf lama."

Taehyung berbalik. Ia tersenyum melihat pria lugu nan manis ini. "Tidak apa, Kookie sayang."

Joonmyeon tersenyum miring. "Pedofil."

Brak!

Joonmyeon, Yixing, dan seorang pria yang dipanggil Kookie kaget karena Taehyung yang tiba-tiba saja menggebrak meja.

"Hei-"

Joonmyeon terdiam ketika Taehyung mendekatkan layar ponsel ke wajahnya. Ia melihat pesan dari pengirim yang diberi kontak 'Pak Kepala'. Ia pun membaca pesan yang terkirim itu seksama.

"Pertemuan.. darurat.. sekarang?"

Taehyung menjauhkan ponselnya kemudian memasukkannya ke saku celananya. "Aku tidak ingin dilabrak karena rekan satu kelompok tidak hadir pertemuan darurat. Makanya, aku memberitahumu." Ia pun menggenggam tangan sang pacar yang berseragam SMA itu. "Makanya, kalau kencan itu jangan terlalu serius. Nanti cepat tua loh."

Joonmyeon menajamkan pandangannya pada Taehyung yang mengedipkan sebelah mata kemudian pergi meninggalkan kafe. Ia menghela nafasnya. "Apa hubungannya?" ucapnya. Ia pun menatap Yixing yang masih tetap pada pose sebelumnya tanpa berubah sedikitpun.

"Hoobae-mu itu lucu ya." ucap Yixing.

"Lucu darimana? Aneh seperti itu." bantah Joonmyeon.

"Meskipun dia seperti itu setiap harinya, dia akan menjadi sosok yang berbeda ketika serius. Benar?"

"Benar." ucap Joonmyeon. "Dia sangat berbeda sekali jika berurusan dengan penyelidikan. Apalagi ketika terjun ke tempat kejadian."

Yixing tak menanggapi. Joonmyeon pun meraih ponselnya di saku celananya, dihadapkannya ke hadapannya kemudian menekan tombol penghidup layar. Ternyata Taehyung benar, Kepala Divisi mengirimkan pesan untuk datang ke pertemuan darurat. Ia berterimakasih pada Taehyung yang mau memberitahunya. Tapi, caranya itu yang sangat aneh sekali. Basa-basinya terlalu panjang. Kenapa tidak langsung pada intinya saja? Seperti itulah Taehyung dan ia sudah paham dengan sifat aliennya.

"Sepertinya aku harus mengantarmu pulang terlebih dahulu." ucap Joonmyeon sambil memasukkan kembali ponselnya ke saku celana.

"Aku sedang tidak ingin pulang."

"Kenapa?"

Yixing menghela nafasnya berat kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. "Tidak tahu. Sedang tidak ingin saja."

Joonmyeon tersenyum. "Jadi, kau ingin menungguku menghadiri pertemuan di kantor?"

"Tidak." ucap Yixing tajam. "Aku benci menunggu."

"Baiklah, baiklah." Joonmyeon berdiri kemudian berjalan hingga berada di samping Yixing. Ia pun memberikan telapak tangannya pada Yixing tapi Yixing membiarkannya. Pemuda manis itu langsung berdiri lalu berjalan mendahuluinya.

Joonmyeon terkekeh. "Jual mahal kau rupanya."

...


"Kim Jongin, seorang buronan penyelundupan narkoba dan senjata militer telah berhasil melarikan diri dari Pusat Tahanan Seoul pada sekitar pukul dua dini hari waktu setempat..."

Yixing sama sekali tak lepas fokus dari televisi bersiaran berita sekilas yang terpajang di toko elektronik. Ia menajamkan pandangannya pada foto buronan yang terpajang di siaran berita tersebut kemudian memejamkan matanya pelan. Ia merasakan sesuatu yang aneh di batinnya ketika melihat wajah buronan itu. Ia tidak tahu pasti perasaan apa itu. Tapi rasanya benar-benar mengganjal di dada.

Apa jangan-jangan..

Tidak mungkin.

Lagipula Yixing bisa tahu kematian seseorang lewat bayangan hitam dan bisa mengetahui penyebab kematiannya jika menyentuh bayangan itu. Itu artinya ia tidak bisa melihat kematian orang di dalam perantara, entah itu televisi, koran, maupun foto. Tentu saja, ia tidak memiliki kekuatan yang sehebat itu.

Tapi, rasanya sungguh sangat aneh. Rasanya sungguh sangat mengganjal. Yixing tidak tahu kenapa perasaannya tiba-tiba bergejolak tidak jelas seperti ini. Ia pun menghela nafasnya perlahan kemudian membuka kedua matanya pelan. Ia mulai mengangkat kaki meninggalkan emperan toko elektronik dan berjalan sesuai kehendak sang otak mengkoordinasikan.

Setelah sekian lama waktu berlalu, langkah Yixing pun berhenti di depan Lotte Mart. Ia bingung bagaimana bisa ia memilih untuk berkunjung ke tempat ramai seperti ini sedangkan ia sendiri sangat membenci keramaian. Tapi otak dan batinnyalah yang membawanya ke tempat ini. Juga, perasaannya semakin berkecamuk tak berkaruan ketika tiba di tempat ini. Ia pun menuju pintu masuk dan memasuki swalayan terbesar itu. Seketika ia merasakan hawa dingin dari pengatur suhu dan melihat banyak sekali manusia yang berlalu-lalang. Tanpa basa-basi, ia langsung berjalan bergabung dengan manusia-manusia yang berlalu-lalang itu.

Yixing pun telah tiba di lantai dua. Ia mengedarkan pandangannya melihat-lihat apapun objek yang tersedia tanpa terkecuali. Dahinya mengerut dalam. Perasaan di dadanya makin bergejolak tak keruan. Ia pun memegang dadanya. Tak mungkin kan ia bisa merasakan kematian selain menyentuh bayangan hitam. Langkahnya berakhir di tengah-tengah lantai dua. Ia melihat ke kirinya, terdapat toko aksesoris disana. Kemudian melihat ke kanannya, terdapat toko kosmetik disana. Ia pun menatap seorang wanita mengenakan atasan putih dan bawahan hitam yang tengah menunjukkan produk kosmetik pada orang-orang yang berlalu lalang. Ekspresi kaget langsung tercetak di wajahnya ketika melihat bayangan hitam di balik punggung wanita itu.

'Apa maksudnya?' batin Yixing bertanya. Ia pun berbalik kemudian berjalan menuju railing besi lalu menyandarkan tubuhnya ketika sampai. Ia berpikir apa maksud dari semua ini.

Buronan kabur.

Lantai dua Lotte Mart.

Wanita SPG itu.

Apa maksud dari ini semua?

Juga, perasaannya kenapa semakin bergejolak tak karuan. Perasaan yang dirasakannya itu seperti takut dan cemas. Kira-kira kenapa? Dan ada apa? Apa yang ingin disampaikan perasaannya? Apa yang akan terjadi pada waktu yang akan datang?

Apa?

Yixing tersentak dari pemikiran dalamnya. Ia mengambil ponsel yang berdering di saku celananya. Raut bingung menghiasi wajah cantiknya ketika melihat nomor tak dikenal di layar ponselnya. Ia pun menyapu kiri dengan jempol layar ponsel kemudian mendekatkannya ke telinga.

"Halo?"

"Yixing-ah."

"Detektif Kim?"

"Ya, ini aku. Kau sekarang berada dimana?"

Yixing berbalik lalu menyandarkan punggungnya di railing besi. "Lotte Mart, lantai dua."

"Kenapa kau kesana?"

"Aku tidak tahu." Yixing diam sejenak. "Aku hanya mengikuti perasaan aneh yang kurasakan."

"Perasaan aneh?"

"Hm."

"Tetaplah pada posisimu dan jangan berubah sedikitpun. Aku akan menyusulmu ke sana."

"Baik."

Panggilan berhenti dan Yixing memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya.

'Perasaan ini.. apa yang sebenarnya akan terjadi?'

...


"Apa aku terlalu lama?"

"Tidak."

Joonmyeon tersenyum kemudian melihat-lihat keseluruhan area Lotte Mart. "Tempat ini sangat cocok untuk berkencan. Berkencan dengan perempuan pastinya. Laki-laki mana mau kencan di tempat beratap yang padat seperti ini, benarkan?"

"Seperti itulah." ucap Yixing seadanya. Ia pun kedapatan Joonmyeon yang menatapnya intens sambil tersenyum padanya.

"Mau jalan-jalan ke tempat yang segar?"

Yixing mengangguk kemudian membiarkan telapak tangannya digenggam erat oleh Joonmyeon. Ia merasakan jantungnya berderu cepat dan pipinya memanas. Telapak tangan Joonmyeon terasa hangat, nyaman, dan kuat.

"Ayo berangkat."

Yixing tersenyum tipis sebagai balasan kemudian membiarkan dirinya dibawa Joonmyeon berjalan-jalan entah kemana.

...


"Terima kasih banyak untuk hari ini, Detektif Kim."

"Ah, jangan sungkan." Joonmyeon menghela nafasnya pelan lalu melihat langit malam. Tak banyak bintang berserakan di hamparan langit gelap itu.

"Oh iya." Segera Joonmyeon mengalihkan tatapan pada Yixing. Senyuman merekah di wajahnya ketika melihat Yixing sedikit menunduk. "Panggil saja Joonmyeon."

"Joonmyeon?"

"Eum." jawab Joonmyeon seraya mengangguk.

"Baiklah. Terima kasih banyak Joonmyeon-ssi."

"Joonmyeon-ah." ujar Joonmyeon membenarkan.

"Ya, Joonmyeon-ah."

Joonmyeon senyum tertahan. Ia sangat gemas sekali dengan pria manis yang berdiri di hadapannya ini. Ingin sekali ia menyubit-nyubit pipinya, mengusak surainya, dan mencium bibirnya kalau bisa. 'Imut sekali ya ampun.' batinnya.

"Oke. Aku pulang dulu. Tidur yang nyenyak ya. Mimpikan aku kalau bisa."

"Baik."

'Duh, kenapa makin manis saja sih kalau lugu seperti itu.' batin Joonmyeon tak tahan. Setelah mengirimkan senyuman tampan pada pria manis di hadapannya, ia pun bergegas menuju mobil yang terparkir tepat di depan rumah Yixing.

"Tunggu! Detektif Kim -ah, maksudku.. Joonmyeon-ah."

Joonmyeon berhenti melangkah kemudian berbalik. Ia menatap bingung Yixing yang masih berada di posisinya, tidak berubah sedikitpun.

"Aku.." Yixing menggigit bibir bawahnya pelan. Jantungnya berderu cepat dan tiba-tiba saja tubuhnya merasakan panas dan dingin sekaligus. "Ingin memberimu sesuatu."

Joonmyeon mengangkat sebelah alisnya. Bingung.

"Tunggu sebentar." Yixing langsung masuk ke rumahnya dan menutup pintu dengan keras. Ia pun menyandarkan punggungnya di pintu dan memegang erat baju yang menutupi dadanya. Seketika, ia merasakan jantungnya yang mulai berderu tidak karuan.

'Kenapa jadi seperti ini?' batin Yixing. 'Perasaanku tidak bisa ku kendalikan.'

Yixing memejamkan matanya lalu menghela nafasnya perlahan. "Tenanglah Yixing, tenang." gumamnya pelan layaknya membaca mantra.

Setelah dirasa cukup tenang, Yixing membuka kedua matanya. Ia segera mengangguk mantap dan membuka pintu rumahnya.

Joonmyeon sedari tadi bingung dengan 'sesuatu yang ingin diberikan Yixing', sekaligus menebak sesuatu apa yang ingin diberikan Yixing padanya. Ia pun kaget ketika melihat pintu rumah Yixing yang terbuka kuat kemudian kembali bingung bin penasaran melihat Yixing yang menunduk dan kedua tangan disembunyikan di punggung.

"Joonmyeon-ah.."

"Ne?"

"Aku harap kau tidak bergerak sedikitpun."

"Hah?"

Yixing menghela nafas kemudian meneguk ludahnya. Ia pun menatap Joonmyeon lalu berjalan pelan. Langkahnya perlahan berubah makin cepat dan ia akhirnya berlari. Ketika ia hampir berada di dekat Joonmyeon, ia mengalungkan kedua lengannya di leher Joonmyeon, memejamkan mata, kemudian-

Chu.

-berakhir dengan menempelkan bibirnya di bibir Joonmyeon.

Joonmyeon kaget bukan main. Hal itu sangat jelas melihat ekspresi bola matanya yang membulat besar. Ia merasakan kenyal-kenyal yang terasa hangat dan manis di bibirnya, kemudian mengedipkan matanya beberapa kali memastikan kalau ini nyata.

Bibirnya...

Bibirnya...

Bersentuhan secara langsung dengan bibir Yixing.

Rasanya, Joonmyeon ingin mimisan sekarang juga.

'Ini bukan mimpi. Tapi aku berharap ini mimpi.' batin Joonmyeon. Ia pun menatap wajah Yixing yang memerah padam lalu memejamkan matanya pelan. Ia menaruh kedua telapak tangannya di pinggang Yixing kemudian mendorongnya guna memangkas habis jarak tubuhnya dan tubuh Yixing.

Sontak, Yixing melepas ciumannya lantaran kaget. "J-Joonmyeon-ah. K-Kenapa sangat dekat?"

Joonmyeon menyeringai. Diusapnya lembut pipi Yixing. "Justru makin bagus seperti ini. Kita jadi lebih leluasa."

Yixing menunduk dan Joonmyeon langsung mendorong pelan dagu Yixing dari bawah. Joonmyeon tersenyum ketika melihat wajah Yixing yang memerah padam. Ia pun segera mengambil ancang-ancang. Memejamkan mata, mendekatkan wajahnya, lalu menciumi balik bibir Yixing. Ia mulai menunjukkan kepiawaiannya dalam hal berciuman. Meskipun ini baru pertama kali dalam seumur hidupnya.

Yixing memejamkan matanya lalu membalas semua pergerakan bibir Joonmyeon di bibirnya. Ia merasakan Joonmyeon memeluk erat pinggangnya dan juga lumatan Joonmyeon yang terasa lembut dan hangat. Ia kaget ketika lidah Joonmyeon berhasil masuk ke rongga mulutnya kemudian menyapu seluruh apapun di sana dan mengajak lidahnya bermain. Ia membalas semua arahan Joonmyeon melalui lidahnya. Tak sadar, ia pun mendesah pelan.

Meskipun sangat pelan. Desahan Yixing berhasil membuat Joonmyeon mengganaskan permainan lidah, lumatan, dan cumbuannya. Yixing membalas semua pergerakan lidah dan bibir Joonmyeon yang mulai tak terkendali lagi. Ia pun meremas dan menjambak surai Joonmyeon tanda ia sudah kehabisan nafas.

Joonmyeon tak perduli. Ia masih saja beradu bibir. Tempo deru nafas, suara kecupan, dan desahan Yixing -lah yang membuatnya semakin betah, bersemangat, dan ganas mengombang-ambing bibir Yixing. Ditambah lagi dengan jambakan dan remasan Yixing di surainya. Sepertinya, Yixing menginginkan yang lebih darinya.

Setelah sekian menit, Joonmyeon akhirnya melepas ciumannya. Nafasnya terengah-engah begitupula dengan Yixing. Ia pun menyandarkan dahinya di dahi Yixing.

"Terima kasih." ucap Joonmyeon pelan. "Aku sangat menyukai pemberianmu."

Yixing memejamkan matanya kemudian tersenyum. Ia merasakan deru nafas Joonmyeon yang sangat hangat dan juga suara Joonmyeon yang terdengar berat dan seksi.

Joonmyeon kembali menabrakkan bibirnya di bibir Yixing. Ia tak melakukan apapun di bibir Yixing dan hanya mengecup bibir itu dalam. Tidak lebih.

Yixing membuka matanya ketika merasakan bibir Joonmyeon menjauh. Pandangnya mengunci wajah Joonmyeon yang tersenyum teduh padanya.

"Hari ini, hari pertama kita ya?"

Yixing mengangguk pelan. "Aku percaya padamu, Joonmyeon-ah." Ia pun langsung memeluk erat Joonmyeon.

Joonmyeon mengeratkan pelukannya di pinggang Yixing, menghirup aroma tubuh Yixing di leher jenjang porselen itu, lalu mengecupnya pelan.

"Aku tidak akan menghancurkan kepercayaanmu padaku."

"Terima kasih, Joonmyeon-ah."

...


Yixing bergegas menuju Lotte Mart. Ia berlari tiada henti tanpa memperdulikan kakinya yang meraung kelelahan. Ia akhirnya telah tiba di Lotte Mart kemudian langsung menuju lantai dua.

Benar dugaannya.

Terdapat orang berpakaian serba hitam yang tengah menodong pistol ke khayalak ramai. Di sampingnya terdapat tas genggam. Ia tidak tahu apa isi tas genggam itu. Namun, ia menaruh kecurigaan yang sangat besar pada isinya.

Yixing kembali menatap orang itu dan mencoba mencuri pandang wajahnya yang tertutup topi. Bibirnya itu terlihat sangat mirip dengan foto buronan melarikan diri yang terpampang di siaran berita kemarin.

'Benar-benar terjadi.'

Khayalak ramai berteriak dan Yixing pun langsung kaget melihat wanita yang sama di hari kemarin disekap oleh buronan itu. Ia melihat dengan jelas mulut pistol yang menyentuh kepala si wanita.

'Apa yang harus kulakukan selanjutnya?'

...


Joonmyeon terus melahap kue beras milik bersama sambil menggonta-ganti siaran televisi.

"Halo, dengan Pusat Kepolisian Incehon. Ada yang bisa kami bantu?"

Fokus Joonmyeon mulai terbagi. Ibu jari sibuk menekan tombol remote dan telinganya mendengar ucapan Taehyung.

"Beritahu lokasi tepatnya, nona."

Jemari Joonmyeon pun berhenti dan terlihatlah siaran berita langsung. Dahinya mengerut dalam dan ia pun menggigiti bibirnya.

"Seonbae, ada kasus teror di Lotte Mart lantai dua dan ada satu orang yang dijadikan sandera."

"Ck." Joonmyeon mengepalkan telapak tangannya perlahan. Pandangannya masih fokus dengan siaran berita langsung yang meliput kasus yang disebutkan Taehyung.

"Seonbae."

Brak!

"Panggil yang lain dan hubungi tim penjinak bom."

"Baik, seonbae."

Taehyung pun meninggalkan ruangan. Sontak, Joonmyeon menggeram marah kemudian langsung bergegas menuju mobil dinas kepolisian. Ia segera memasuki mobil dan tepat sekali Taehyung sudah berada di mobil. Tanpa basa-basi, ia langsung mengendarai mobil dengan kecepatan maksimum menuju Lotte Mart.

"Tunggu aku, Yixing-ah."

...


Keringat dingin tak hentinya mengalir. Yixing merasakan tubuhnya membeku ketika merasakan besi mulut pistol yang terasa sangat dingin di kepalanya.

"Sepertinya, tiga menit lagi bomnya akan meledak." Buronan itu tertawa.

Yixing memejamkan matanya pelan. 'Apa yang harus kulakukan selanjutnya, Joonmyeon-ah? Aku binging. Tolong aku.'

Buronan itu tertawa makin keras dan sekapan lengan di lehernya melemah. Saat itulah Yixing mengambil kesempatan dengan menyikut perut buronan kuat. Si buronan -Kim Jongin terhentak ke belakang hingga lengannya pun meloloskan leher Yixing.

"Cih. Dasar bajingan sialan."

Yixing tidak bertanggapan apapun. Ia menendang kuat kepala Kim Jongin hingga terjatuh.

Kim Jongin tertawa. "Kalau jadi sandera, kau harus diam dan berlaku manislah padaku." Ia berusaha bangkit. "Bukannya berontak seperti ini. Jadinya aku kerepotan tau."

Yixing tersulut amarah. Ia langsung berlari menuju Kim Jongin dan mengarahkan tinju ke wajah ketika hampir dekat.

Namun..

...


Joonmyeon membeku di tempat setelah mendengar suara ledakan pistol. Amarahnya semakin menjadi ketika melihat darah tersembur keluar di dada kiri Yixing dan akhirnya terjatuh.

"Babi sialan."

...


Yixing berusaha untuk menjaga pandangannya supaya tidak menggelap. Ia bisa melihat orang-orang berbaju kepolisian datang mendekat. Namun, entah mengapa pandangannya semakin mengabur perlahan seiring rasa sakit di dadanya menjadi.

"Joon.. Myeon-ah.."

"Kena..pa.."

"Rasanya.. sa..kit.. sekali..."

Pandangan Yixing menggelap sempurna, ia pun akhirnya menutup kedua matanya pelan. Namun sebelum itu..

Ia bisa melihat Joonmyeon berlari ke arahnya.

- To be Continued -


*Daum Cafe : Sosmed Korea