Pair : Taekook, Minyoon, Namjin, etc
Main Cast : Kim Taehyung, Jeon Jungkook
Other Cast : Member BTS, Seventeen,GOT7,EXO dan Grup Idol lainnya
Rate : T – M
Genre : Romance, Friendship
Warning : Ingat ini hanya cerita fanfiction (bikinan Fans) jika ingin Judge pakai bahasa yang baik. DON'T LIKE DON'T READ. Typo berserakan. Bahasa berantakan. Terus M-PREG yaaaaa..
.
.
.
-In Tempore-
.
.
Happy Reading !
.
.
.
Chapter II : Transition !
.
.
Mereka kembali ke mobil, dan Taehyung melanjutkan perjalanan menuju apartemennya. Jungkook juga menikmati perjalanan dengan mendengarkan lagu di radio yang sedang di putar di dalam mobil tersebut. Sesekali dia ikut menyanyikan lagu yang dia hafal.
" Apa kau kuliah ?" tanya Taehyung kepada Jungkook.
" Tidak, aku belum menemukan dimana letak passion-ku dengan benar, dan yah.. aku belum melanjutkan sekolahku " jawab Jungkook. Taehyung kembali mengangguk.
" Mungkin tahun depan aku bisa kuliah, mungkin kau juga bisa membantuku jurusan apa yang bagus untuk aku ambil saat kuliah nanti " tawar Jungkook kepada Taehyung. Membuat Taehyung mengembangkan senyumnya.
" Tentu, kenapa tidak " jawab Taehyung.
" Jadi apa yang kau lakukan saat tidak kuliah ?" tanya Taehyung lagi.
" Seperti tuan muda lainnya, aku hanya bermalas-malasan di rumah. Makanya appa dan eomma ingin menjodohkanku, alasan yang tidak masuk akal " jawab Jungkook.
" Kau juga menerima pertunangan ini dengan lapang dada, tanpa protes?" tanya Taehyung, seolah ingin tahu kenapa pemuda kelinci itu menerima pertunangan mereka.
" Siapa bilang aku tidak menolaknya? Aku awalnya sangat menolak, karena seperti yang aku bilang tadi.. pertunangan adalah sesuatu yang harusnya sangat serius, bukan ? pertunangan itu mengikat dua orang, bukan hanya satu orang. Aku berpikiran bagaimana nanti jika kau menolaknya, bagaimana jika nanti gara-gara permintaan orangtua kita, kita menjadi anak yang akan membenci mereka. Bagaimana nanti jika aku diperlakukan tidak baik olehmu meskipun aku menerimanya. Bagaimana jika kau memiliki orang yang kau cinta, dan kedatanganku, pertunangan kita malah membuat dia terluka ?
meskipun aku tidak sedewasa orang lain, aku tidak mau keputusan kekanak-kanakan membuat semua orang sedih. Aku ingin sekali ini keputusanku benar. Makanya aku meminta hal kepada eomma untuk melakukan pengenalan kepadamu dulu, dan aku meminta jika kita memang tidak memiliki kecocokan atau salah satu dari kita mencintai orang lain, kita bisa membatalkannya. eomma menerima permintaanku dan aku menerima pertunangan ini. Bukankah itu adil ?" terang Jungkook.
" Oh ya, Taehyung-sshi ! kau memiliki seseorang yang kau cinta ?" tanya Jungkook selagi Taehyung menyesap penjelasan Jungkook.
" Orang yang aku cintai ? Hm, ada !" jawab Taehyung. Mereka sudah sampai di basemen apartemen Taehyung.
" Hm, begitu" tanggap Jungkook. Pendengaran Taehyung menangkap nada kecewa di kalimat singkat yang di tanggapi Jungkook tadi. Dia mendengus geli, kemudian turun dari mobilnya. Sebelum menutup pintu dia berujar yang akan membuat Jungkook mengulum senyumannya.
" Ada, tapi dulu " ucap Taehyung.
.
.
Mereka sampai di depan pintu apartemen Taehyung. Jungkook sedikit mengintip kearah dalam apartemen setelah Taehyung menekan password.
" Hm..Apa kau nyaman jika ada orang lain ?" tanya Taehyung sedikit ragu.
" Tentu saja tidak apa, mereka temanmu. Mana bisa aku langsung mengaturmu saat baru pertama kali datang kemari. Bersabarlah " jawab Jungkook.
" Hyung !" Daniel langsung antusias berlari kecil menghampiri Taehyung yang ada di dekat pintu. Pemuda yang lebih pendek dari Taehyung agak memiringkan kepalanya dari belakang Taehyung, melihat siapa yang memanggil.
" Aku sudah membersihkan ruangan " lapor Daniel. Taehyung masih menatapnya dingin. Di sofa dia melihat Seongwoo yang juga tersenyum ke arah mereka.
" Kim, tersenyum " bisik Jungkook. Taehyung yang mendengar kata itu, agak sedikit menaikkan bahunya karena terkejut Jungkook berbicara di telinganya. Taehyung mengangkat sudut bibirnya, agak tersenyum.
" Baguslah kalau kau tahu diri " ucap Taehyung. Dia menggandeng tangan Jungkook dan menyuruh Jungkook untuk duduk di sofa dekat Seongwoo.
" Annyeonghaseyo " sapa Jungkook dan sedikit membungkuk ke arah Daniel dan Seongwoo yang memperhatikannya.
" Wah, kau cantik sekali" Seongwoo mendekat dan mencubit pipi berisi Jungkook. Jungkook hanya tersenyum menanggapinya.
" Bagaimana bisa kau bertunangan dengan Tae-hyung, hm—" ucapan Daniel terpotong karena dia tidak mengetahui nama tunangan hyung-nya itu.
"—Jeon Jungkook" ucap Jungkook.
" Ye, Jungkook-sshi. Bagaimana bisa ?" lanjut Daniel.
" Berhenti mengintrogasinya Daniel, Jungkook ganti bajumu, pasti tidak nyaman memakai pakaian itu dirumah " ucap Taehyung. Jungkook mengangguk, sebelum pergi dia pamit sebentar kepada pasangan itu.
" Hyung, kenapa wajahmu lebam begitu ?" Daniel baru menyadari wajah Taehyung yang tidak bisa dikatakan dengan baik.
" Aku sedang malas cerita" jawab Taehyung. Dia mendudukkan diri, bersandar dan menutup wajahnya dengan tangan.
" Kami tidur disini, boleh hyung?" tanya Daniel takut-takut. Dia takut mengganggu privasi Taehyung yang kini memiliki tunangan. Meskipun Daniel sering menginap dan memakai kamar lain di apartemen mewah itu.
" Tanyakan saja kepada Jungkook" jawab Taehyung lagi. Seongwoo tersenyum mendengar jawaban Taehyung. Sejak kapan temannya itu perlu pendapat orang lain? Sejak kapan Taehyung tidak egois dan mengesampingkan prinsipnya sendiri.
Jungkook keluar kamar dengan pakaian Taehyung yang melekat di tubuhnya. Agak kebesaran memang, namun itu membuat Jungkook semakin terlihat imut. Dia duduk disebelah Taehyung dan menatap pemuda itu dalam.
" Tae, besok sabtu. Kita libur, mau double-date ?" tanya Seungwoo. Taehyung mendudukkan dirinya dengan benar dan menatap ke arah Jungkook.
" bagaimana ?" tanya Taehyung kepada Jungkook. Jungkook hanya mengangguk mengiyakan.
" Kalau kau tidak sibuk" jawab Jungkook lagi. Mereka terkejut karena Daniel berteriak sangat semangat.
" Assa ! kita bersenang-senang besok " semangat Daniel.
" Hm, Jungkook-sshi. Apa boleh kami menginap disini ?" tanya Daniel. Jungkook kembali mengangguk.
" Aku bisa tidur dengan Kim – ah dengan Taehyung, bagaimana Tae?" ujar Jungkook. Taehyung sedikit terkejut, nama kecilnya disebut oleh Jungkook. Entah mengapa ada kebahagiaan tersendiri ketika Jungkook melakukan itu.
" Hm, kau bisa tidur denganku " jawab Taehyung, membuat Daniel dan Seongwoo saling berpandangan. Mungkin benar Taehyung mulai membuka hati.
.
.
" Apa yang kau lakukan ?" tanya Taehyung kepada Jungkook yang mengambil bantal dan akan memindahkan kepada sofa single yang ada di dalam kamar Taehyung.
" Mau tidur, memangnya mau apa lagi ?" tanya Jungkook balik.
" Kenapa tidak tidur di tempat tidur ?" Taehyung menatap ke arah Jungkook.
" Aku ha—"
"—bukankah tidur bersama termasuk ke dalam hal yang dilakukan oleh orang yang bertunangan?" Taehyung mengambil kembali bantal yang di peluk Jungkook dan mengembalikannya kembali ke tempat semula. Jungkook merona, sungguh! Ucapan Taehyung dan seringaian Taehyung membuat pipinya memerah dan malu.
"Kim, ak—"
" Aku suka kau panggil seperti tadi, nama kecilku. Bisa kau sebut aku dengan panggilan itu kan ? jangan panggil margaku, setidaknya bukan aku saja yang bermarga Kim di dunia ini " pinta Taehyung. Jungkook sedikit menyeringai dan menyusul Taehyung yang sudah membaringkan dirinya. Dia menjatuhkan dirinya dan menelungkup menghadap ke arah Taehyung.
" Hm jadi Kim Taehyung ingin di panggil nama kecilnya, begitu ?" Taehyung mengangguk lucu. Tolong ingat bahwa itu adalah ekspresi manja yang hanya dapat di lihat oleh Jeon Jungkook, tunangannya.
" Hm, how about Taehyung ? ani ! ani ! Taehyungie ? Taetae ? like that ? Taehyungie ! Tae—" goda Jungkook. Taehyung total memerah. Menutup muka dengan kedua tangannya.
" Hentikan Jungkook, jangan membuatku malu " gumam Taehyung yang teredam oleh tangannya sendiri.
" Haha.. kenapa malu ? tadi siapa yang mau begitu ? hm, uri-taehyungie?" Taehyung langsung bangun dan menggelitik perut Jungkook, membuat mereka tertawa karena ulah masing-masing. Teriakan dan tawa mereka terdengar sampai ke kamar Daniel, membuat Daniel dan Seongwoo yang cuddle di kamarnya saling pandang.
" Jungkook itu, bisa merubah Tae-hyung dengan singkat ya sayang" gumam Daniel.
" benar, Dahaengida.. aku rasa Jungkook jelmaan malaikat" balas Seungwoo yang mengeratkan pelukannya di dada Daniel, kekasih mesumnya itu.
" Seperti kau, kan ?" gombal Daniel kepada Seong-woo.
..
" Hm, Taehyungie.. mohon bantuan untuk selanjutnya " ucap Jungkook yang masih menelungkup dan menatap Taehyung.
" Mendekatlah!" mendengar ucapan Taehyung, Jungkook beringsut mendekat ke arah Taehyung masih dengan posisi telungkupnya. Sedikit mengadah menatap wajah tampan yang dekat dengannya. Taehyung menangkup wajah Jungkook dengan kedua tangannya dan mengecup bibir ranum itu. Entah mengapa dengan sendirinya Taehyung melakukan itu. Awalnya yang hanya menempel saja, kini bibir Taehyung memberanikan diri untuk melumat bibir Jungkook. Jungkook terhanyut dalam permainan yang diciptakan Taehyung. Benar-benar memabukkan meskipun hanya sebuah ciuman, dan mereka melakukannya. Baru saja Taehyung berniat untuk semakin memperdalam ciumannya, namun Jungkook sudah melepaskan tangan Taehyung dari pipinya sehingga mau tidak mau Taehyung memundurkan wajahnya. Wajah mereka serentak merona, canggung.
" Jungkookie, its my first kiss !" terang Taehyung. Jungkook terkejut.
" Jinjja ?" tanya Jungkook tidak percaya. Taehyung mengangguk. Dan menyuruh Jungkook untuk tidur di lengannya yang ia jadikan bantal untuk manusia kelinci itu.
" Aku benar-benar tidak menyesal menerima pertunangan itu. Meskipun aku pernah mencintai seseorang melebihi sesuatu di dunia ini, entah mengapa semuanya menguap begitu saja. Sebelumnya aku minta maaf karena dari awal aku sedikit ragu denganmu, tapi sekarang aku mulai yakin" ucap Taehyung yang tidur menyamping menghadap Jungkook.
" Karena bibirku nikmat ya ? kau jadi yakin ?" tanya Jungkook. Meskipun bercanda, tapi Taehyung akui memang benar apa yang di katakan Jungkook.
" Hm, kau benar.. kau juga manis" lanjut Taehyung.
" Ternyata kau hanya peduli tampang Kim " gerutu Jungkook yang memanyunkan bibirnya.
" Manusiawi Kookie.. mataku membutuhkan sesuatu yang indah untuk dilihat. Dan kau tidak bisa diabaikan begitu saja " tanggap Jungkook.
CUP.
Taehyung kembali mengecup bibir Jungkook, membuat Jungkook menatapnya.
" Apa ini juga bagian dari apa yang dilakukan orang yang bertunangan ?" tanya Jungkook sambil mengelus rahang tegas Taehyung.
" Aku rasa begitu " jawab singkat Taehyung.
" Dan kau menang banyak" tutur Jungkook agak kesal.
" Kau juga menikmatinya" balas Taehyung tak terima.
" Whatever ! Oh, hmm… Tae, kau sudah mencintaiku ?" kali ini Jungkook yang melontarkan pertanyaan itu kepada Taehyung.
" On the way 25% " jawab Taehyung langsung.
" Wah.. cepat sekali !" Jungkook kembali menatap hazel tajam itu.
" Hm, cepat..kan?" Taehyung tersenyum ke arahnya.
" baru sehari, masih tersisa 99 hari lagi Tae" ucap Jungkook.
" Tak apa, biar nanti untuk seterusnya 100% nya genap, dan aku hanya mempertahankan rasa yang aku punya " ucap Taehyung.
" Kookie, ciuman kapanpun dan dimanapun sebagai tunanganmu, boleh ?" tanya Taehyung mengeratkan tangan satunya di pinggang Jungkook, berniat memeluk pemuda kelinci itu malam ini. Taehyung nyaman, walau mereka baru bertemu dalam rentang waktu hitungan jam. Entahlah, rasanya dia sudah lama tidak merasakan sebebas dan seringan ini.
"Tentu Taehyungie !" Jungkook mengecup singkat bibir Taehyung sebelum mereka benar-benar larut dalam tidur mereka.
.
.
.
Jungkook terbangun, merasakan pelukan yang merengkuh tubuhnya makin erat. Menatap pemuda tampan yang sangat polos ketika tidur membuatnya menyunggingkan senyum di pagi ini. Moodnya pagi ini benar-benar baik. Memutuskan mengecup sebentar bibir orang yang masih terlelap sebelum perlahan bangun agar tidak menganggu lelakinya itu.
Jungkook meregangkan otot-ototnya sebelum keluar untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Masih jam setengah 6.
" Kau su—"
"Kkamjjagiya!" Jungkook terkejut mendengar orang yang akan menyapanya di sofa, Jungkook mengelus dadanya agar detak jantungnya berubah lagi menjadi normal. Dua orang itu sudah bangun dan sedang berpelukan manja pagi-pagi begini.
" Haha, Mianhae Jungkook-sshi membuatmu terkejut. Kau sudah bangun ? kenapa pagi sekali ?" tanya Daniel. Seongwoo tersenyum ke arahnya tanpa berniat melepaskan pelukannya dari Daniel.
" Iya, Hm –"Jungkook benar-benar belum berkenalan dengan mereka.
" Daniel, Kang Daniel. Kita benar-benar belum berkenalan dengan resmi, eoh ? Ini Ong Seongwoo, kesayanganku " ucap Daniel kemudian mengecup pelipis Seongwoo.
" Ne Daniel-sshi" jawab Jungkook ramah.
..
Mereka memutuskan untuk jalan-jalan pagi di taman dekat apartemen, tentu saja dengan Daniel yang selalu menggenggam tangan Seongwoo-nya. Mereka bercakap, dan Jungkook mengetahui jika Daniel memiliki aparteme, sama seperti Taehyung, hanya berbeda lantai. Daniel memang menginap di apartemen Taehyung, dan mereka sepakat untuk menjadikan apartemen Daniel menjadi ruangan kerja mereka jika berada diluar kantor. Selain itu apartemen mewah Daniel juga menjadi tempat team kantor mereka berkumpul. Taehyung tidak keberatan sama sekali karena Daniel termasuk salah satu orang dekat dengan pemuda berkulit tan tersebut.
" Aku harap kau bisa mengerti bagaimana Tae-hyung, Kook-ah. Aku mengerti dibalik sifatnya yang sering menutup diri adalah bentuk dirinya yang tidak ingin dilukai, kau mengerti, kan ?" tanya Daniel. Daniel baru tahu jika Jungkook lebih kecil darinya. Jungkook mengangguk, membuat Seongwoo mengusap lembut surai lembut itu.
" Aku lihat sejak Taehyung membawamu datang kepada kami, dia mengalami perubahan. Kau tahu ? dulu dia sangat dingin, kami bahkan menambahkan julukannya menjadi Taehyung the next Grim Reaper.Kami semua memaklumi, meski harus bertahan dengan kecanggungan dengannya. Aku, Daniel, Jimin dan yang lainnya tidak satu dua hari mengenal manusia alien itu. Ekspresinya masih terbatas. Aku ingin kau mengubahnya, Ani—mengembalikan Taehyung kembali menjadi Taehyung yang seperti semula" tambah Seongwoo. Seong woo, Jeonghan dan Jimin, tiga uke yang cukup mengerti siapa Taehyung.
.
.
Sementara itu disebuah apartemen yang juga bisa dikatakan mewah, di salah satu kamar terlihat dua orang yang sedang berciuman panas. Di dalam selimut putih itu mereka tidak memakai apapun. Salahkan sang dominan yang belum merasa puas atas apa yang mereka lakukan malam tadi.
" Hyungghh…" si pemuda sipit yang sedang dikungkung itu mendesah karena lehernya menjadi sasaran jilatan pemuda pucat yang ada diatasnya. Beberapa tanda kemerahan tercetak jelas hasil karyanya.
" Chim.. aku mau morning seks.. aku benar-benar masih merindukanmu, Baby !" ucap Yoongi memandang Jimin yang tengah memerah itu. Sebelum Jimin menjawab, bibirnya kembali dikudeta oleh Yoongi. Sementara bibir mereka saling melumat, tangan Yoongi menelusup ke dalam selimut dan menggoda pantat Jimin dengan meremasnya. Jimin meleguh di sela pertarungan lidah mereka. Jari-jari Yoongi mendekat ke arah lubang yang akan menjadi sarang kejantanannya. Jari telunjuknya melakukan gerakan memutar di sekitar kerutan kecil itu. Jari telunjuknya masuk, membuat Jimin sedikit terlonjak karenanya. Karena tidak ingin membuang waktunya, Yoongi menambah satu jari lagi masuk dan kedua jarinya bekerja sama untuk melakukan gerakan menggunting. Berusaha melonggarkan akses masuk. Ciuman Yoongi menurun menuju nipple Jimin. Mengemut dan menggigit kecil tonjolan kecil merah muda itu.
"hyungghhh… cepat masukkanhh.. aku sudah ti—dakhh tahannhh.." desah Jimin terdengar, kepalanya mengadah karena kenikmatan yang di berikan Yoongi. Dirasa cukup, kejantanannya juga sudah sempurna menegang. Yoongi memposisikan kejantanannya di depan lubang anus Jimin.
" Chim, kau siap ?" tanya Yoongi. Jimin mengangguk. Dia benar-benar harus menuntaskan hasratnya segera. Yoongi memasukkan kejantanannya dengan sekali hentak. Jimin meringis dan mendesah.
" Ahhnn.. hyungghhh" desah Jimin. Sedikit menunggu, membiasakan lubang Jimin yang baru terisi.
" Hyung, move !" ucap Jimin. Yoongi yang mengerti langsung menggerakkan tubuhnya dengan aktif dengan tempo pelan.
" Ahhn.. aahh,.. hyunghh.. faster hyung " ucap Jimin.
" Ahhn.. kenapa lubangmu menyempit sayang.. " ujar Yoongi. Gerakan Yoongi mulai tidak beraturan. Desahan mereka saling bersahutan. Yoongi juga sering mengambil kesempatan untuk melumat bibir Jimin yang semakin menggoda atau tangannya memilin nipple Jimin dengan satu tangannya
" Hyunghh.. Chimh.. mau aahh.. ahhnnn hyungghh" Jimin merasakan kejantanannya semakin menegang, yang ia yakini sebentar lagi mengalami pelepasan.
" Ahhh..aaahhnn..hnn.. hyungghh " Jimin mengeluarkan spermanya dan itu mengenai perutnya dan perut Yoongi, sementara Yoongi masih sibuk mempercepat genjotannya agar ia juga mengalami pelepasan.
" Ahh,, ahh,, Chim.. aku akan keluar.. Ahh.." tepat pada genjotan kelima Yoongi mengeluarkan kejantanannya dari lubang Jimin dan mengeluarkan cairannya diluar. Yoongi masih sadar untuk tidak menyemburkan cairannya di dalam. Yoongi ambruk di atas Jimin. Mereka mandi keringat pagi hari.
" hyung, kau berat. Pindah !" ucap Jimin manja. Jimin mencintai laki-laki yang ada dengannya saat ini. Yoongi menatapnya dan tersenyum ke arahnya.
" Rasanya mimpi kau kembali hyung " Jimin membenamkan tubuhnya di dalam dada Yoongi. Yoongi mengelus pelan rambut kesayangannya itu.
" Aku disini sekarang, aku sudah berjanji akan kembali kepadamu. Dan aku menepatinya" ucap Yoongi.
" Hiks.. hiks" Jimin menangis.
" Waeyo ? Sayang ! hei ! kenapa menangis ?" Yoongi melonggarkan pelukannya dan melihat Jimin.
" Chi—Chim cinta Yoongi-hyung. hiks hiks" ucap pemuda mocha itu. Tanpa harus dikatakan Yoongi paham betul jika Jimin mencintainya, begitu juga sebaliknya.
" Hyung juga, Hyung juga cinta Jiminie, jangan menangis lagi" Yoongi tersenyum dan mengusap air mata di pipi kekasihnya itu.
" Jiminie, gomawo sudah menjaga Taehyungie saat hyung tidak ada di dekatnya. Hyung berjanji akan menyelesaikan masalah ini secepatnya. Hyung akan berbaikan dengannya, dan akan mengatakan yang sebenarnya kepada dia. Jadi Jiminie tetap dukung hyung dan Taehyung. Arra ?" jelas Yoongi. Ia mendapati kesayangannya itu mengangguk.
" Arra.. jangan lama-lama hyung.. aku mencintaimu dan aku juga menyayangi alien-ku itu, hiks" lagi-lagi ucapan manja yang di dengar Yoongi, mata Jimin masih berlinang dan hitung memerah. Ingin rasanya Yoongi kembali memakan makhluk menggemaskan itu.
" Ayo kita mandi, kemudian kembali tidur " ajak Yoongi.
" Hyung !" panggil Jimin yang melihat Yoongi sudah duduk.
"eung? Apa sayang ?" Yoongi melihat kekasihnya yang sedang memelas itu.
" Gendong ! Bokongku sakit. Kau harus bertanggung jawab hari ini " ucap Jimin cemberut. Tidak bohong jika bokongnya benar-benar sakit dan susah buat jalan.
" hanya hari ini ?" goda Yoongi.
" Selamanya !" teriak Jimin dan Yoongi terkekeh mendengar teriakan kekasihnya itu.
.
.
Taehyung terbangun dan tidak menemukan Jungkook di kamarnya. Setelah duduk dan berjalan keluar kamar dan sama, dia mendapati ruangan kosong. 'kemana semua orang ?' batinnya. Dia melirik jam di dinding dan sekarang sudah jam setengah 8.
Setelah membasuh muka, Taehyung beralih ke dapur membuat kopi untuk paginya yang kesiangan. Hari libur, dan biasanya Taehyung memang bangun seperti ini. Bermalas-malasan di rumah. Taehyung penasaran kemana perginya manusia kelinci itu. Ia mengambil ponselnya di kamar, dan kembali lagi duduk di sofanya.
'aku belum memiliki nomor teleponnya ' rutuk Taehyung dalam hati. Selanjutnya ia memutuskan untuk menelepon Daniel. Karena kamar yang ditempati Daniel pintunya terbuka dan tidak ada satupun orang disana.
" Kau dimana ?"
/" kau sudah bangun, hyung ? Kenapa lama sekali!"
" Kau dimana sekarang ?"
/" Di bawah ! Wae ?"
" Kau bersama Jungkook ?"
/Iya, aku kencan dengan 2 orang sekaligus. Pacar dan selingkuhanku akur"
" Sialan..cepat pulang. Aku lapar !"
/" terus kenapa jika kau lapar?"
" Buatkan aku sarapan bodoh ! atau suruh saja Seong-woo pulang, biar dia yang membuatkannya"
/" Tidak tanpa aku hyung. Tunggulah ! kami akan naik " sambungan telepon mereka terputus.
Beberapa saat menunggu ketiga orang itu masuk . Jungkook tersenyum melihat Taehyung yang tengah menatap mereka, tepatnya menatap Jungkook.
" Masih bangun kesiangan padahal sudah memiliki tunangan " sindir Daniel.
" Diamlah ! Seong-woo, aku lapar " ucap Taehyung. Seong-woo berlalu ke dapur yang di ikuti Daniel, Dan Jungkook ingin menyusul juga tapi tangannya di tarik Taehyung sehingga dia terduduk di paha Taehyung.
" Wae?" tanya Jungkook, menatap hazel yang ada di depannya.
" Morning kiss !" setelah mengucapkan itu, Taehyung menempelkan bibir mereka, melumat bibir Jungkook yang dingin.'sudah berapa lama mereka diluar ?'. Mereka saling melumat sampai Jungkook menepuk dada Taehyung.
" Haah.. sesak !" gumam Jungkook dengan wajah merahnya. Taehyung hanya mendengus geli.
" Ayo ke dapur, aku tidak mau kita gagal sarapan karena Daniel sudah menjadikan Seong-woo sarapannya " ucap Taehyung.
..
Mereka sarapan bersama, hari ini tidak jadi double-date. Daniel dan Seong-woo ingin pindah ke apartemen mereka saja. Takut menganggu pasangan baru katanya. Tapi mereka akan sering main kesini, ke apartemen Taehyung. Dan berakhirlah hari sabtu mereka dengan membantu pasangan itu pindah-pindah dan membersihkan apartemen Daniel yang mereka jadikan studio tempat mereka berkumpul dan bekerja melakukan dateline mereka.
.
.
.
Hari senin, Jungkook memutuskan untuk ikut ke perusahaan Taehyung. Setelah berbicara dengan Jaebum, Jungkook resmi menjadi karyawan magang disana. Berangkat bersama dengan Daniel dan Seong-woo, mereka sedang di dalam lift.
" Seong-woo, pasangkan—"
" No, no.. tidak lagi, Jungkook pasangkan dasi manusia ini. Terus-terusan meminta memasangkan dasi kepada kekasihku, kau tidak tahu kalau aku cemburu, hyung?" omel Daniel. Dia benar-benar bersabar selama ini karena dia harus melihat Seong-woo nya memasangkan dasi Taehyung.
" Kesinikan dasimu, Tae " suara lembut Jungkook mengalun, mulai memasangkan kain panjang itu di kerah Taehyung. Taehyung mengamati wajah yang sedang serius menyimpul itu. Daniel dan Seong-woo hanya menatap mereka. Taehyung benar-benar jatuh hati pada pemuda manis yang ada didepannya.
.
.
Mereka sampai di perusahaan, dan semua menatap ke arah mereka. Jungkook, sebuah pemandangan baru bagi mereka yang ada di perusahaan itu. Jungkook menunduk, sedikit malu karena dipandang begitu. Seong-woo mengamit tangan Jungkook dan tersenyum kearahnya.
" Kau cantik, dan sebentar lagi akan menjadi salah satu primadona disini " bisiknya, Jungkook melihat kearah kekasih Daniel itu.
" Kajja, masuk ruangan kita !" semangat Seong-woo. Sementara Daniel dan Taehyung mengekori mereka.
Mereka memasuki ruangan yang berwarna itu. Banyak ornament ataupun karakter-karakter game yang mereka ciptakan. Jimin dan Jeonghan pertama kali antusias melihat Jungkook. Mereka langsung mengajak Jungkook duduk dan mereka langsung akrab. 'ah dasar uke'
Jungkook tidak mengenalkan dirinya sebagai tunangan Taehyung, hal itu membuat Daniel, Seong-woo dan Jimin yang mengetahui itu sedikit terkejut pasca si kelinci itu mengenalkan diri. Tentu saja Taehyung juga sama terkejutnya.
" Aku Jeon Jungkook. Anak sahabatnya orangtua Tae-hyung. Aku harap bantuan ke depannya, terimakasin " Jungkook membungkukkan diri guna hormat kepada mereka semua. Eunwoo dari tadi memperhatikan pemuda manis itu. Sepertinya dia jatuh cinta kepadanya.
" Matamu jatuh !" sindir Hoshi yang ada disebelahnya. Jackson dan Hoseok tertawa melihatnya.
.
.
Mereka sedang makan siang, Taehyung menarik Jungkook ke sebuah ruangan yang cukup sepi, ruangan rapat.
" Wae?" tanya Jungkook.
" Kenapa tidak mengenalkan diri sebagai tunanganku ?" tanya Taehyung balik.
" Aku tidak ingin bekerja dan diberi kemudahan karena aku adalah tunanganmu dan mereka biarkan mereka tahu sendiri ada apa diantara kita tanpa perlu di beritahu " Jungkook memberi kecupan dibibir Taehyung sebelum keluar dari ruangan itu mendahui Taehyung.
..
" Aku dengar gosip, bahwa Woozie si pintar dari divisi musik menyukai seseorang di divisi kita, siapa kira-kira? Apa itu aku ?" ucap Jeonghan semangat. Hoshi dan Hoseok agak salah tingkah dengan apa yang dibicarakan pemuda berambut panjang itu
" Kalian akan dipikir lesbian " ucap Jackson.
" Wae? Kenapa lesbian ?" tanya Jeonghan lucu.
" Kalian kan sesama uke " jawab Jackson lagi.
" Yaa ! sialan kau !" teriakan Jeonghan bersamaan dengan tepukan keras dipunggung Jackson karena Jeonghan.
.
.
Malam ini mereka akan mengadakan pesta penyambutan Jungkook sebagai anggota di tempat mereka. Tim yang dikomandoi Jaebum itu sedang melakukan makan malam bersama dan dilanjutkan dengan acara minum-minum di salah satu tempat makan yang sering mereka datangi.
" Tae !" saat sedang mau ke toilet bersama Daniel, dia di hadang oleh seorang wanita. Nayeon. Orang yang dulu dia cintai. Taehyung masih memandangnya dan Daniel juga menghentikan langkahnya, memperhatikan mereka. Bagaimana pun Daniel tidak mau terjadi apa-apa dengan orang yang dia anggap hyung kandungnya itu.
" Bisa bicara sebentar ?" ucap wanita itu lagi. Taehyung keluar dari tempat makan itu diikuti wanita tadi. Sementara Daniel juga berencana akan mendengarkan apa yang akan wanita itu katakan.
" Ada apa ?" ucap Taehyung dingin. Nayeon tersenyum
" Tae, aku ingin kembali dekat denganmu, aku baru menyadari kalau aku mencintaimu. Bisakah aku ?" tanyanya. Dia mulai menangis, mengeluarkan air matanya. Taehyung beringsut mundur ketika wanita itu ingin memegang tangannya.
" Aku ti—"
" Kau harus bisa Tae, aku benar-benar mencintaimu. Kali ini tolong percaya kepadaku " wanita itu mendekat dan langsung menyambar bibir Taehyung. Taehyung terkejut, begitu juga dengan Daniel di balik tembok yang sedang menatap mereka.
" Tae – Oh, maaf mengganggu " Jungkook yang tadi disuruh mencari Taehyung karena lama tak kembali, harus mendapatinya sedang berciuman dengan wanita.
Taehyung sadar, ia langsung mendorong tubuh Nayeon.
" Tidak seharusnya kau melakukan itu" ucap Taehyung dingin.
" Kau harusnya sadar siapa yang membuatku seperti ini, dan kau seenaknya kembali ingin bersamaku ?" tanya Taehyung. Wanita itu menunduk. Terdiam dan menangis.
Taehyung pergi dari sana, menyusul Jungkook. Jungkook sedang sudah duduk bersama yang lainnya. Berlaku seolah-olah tidak ada yang terjadi. Taehyung menarik pemuda manis itu dan mencari tempat sepi untuk berbicara.
" Jungkook, tadi tidak seperti yang kau pikirkan" jelas Taehyung. Jungkook tersenyum kearah Taehyung, membuat Taehyung semakin merasa bersalah.
" Kim, masih banyak hari yang tersisa diantara kita. Tidak perlu terburu-buru. Silahkan bermain-main" ucapnya Jungkook dengan tenang. Lebih tenang malah.
" Apa maksudmu ?" tanya Taehyung.
" Aku tidak mengekangmu. Kau laki-laki bebas. Mana bisa aku melarangmu untuk sekedar bercumbu dengan orang lain " jelasnya lagi.
" Aku tidak seperti itu " bantah Taehyung.
" Kau hanya perlu membuktikannya Kim, toh persentasi cintaku masih 15%, masih bisa berubah seiring waktu, kita bisa lanjut atau membatalkan pertunangan ini nanti di hari ke 100" ucap Jungkook sebelum pergi dan kembali bergabung dengan yang lainnya.
.
.
.
To Be Continued
.
.
Maaf kalau rate M nya ga berasa , belum dapat inspirasi yang ngena.
Mau tanya, kalau konfliknya mau yang berat atau ga ? gimana gimana ?
Mungkin fict ini ga bakalan banya chapter ya.. takut banyak hutang, takut lambat up..
Hehehe…
Terimakasih yang udah mau mampir dan memberi masukan..
And See yaaaa to next Chap..
.
Aku menyayangi mu..
.
.
