Chapter 1
Sweet Lies
Boyxboy
Main pair: kaisoo
Rated:M
Typos
'Bahkan jika ini mimpi, biarkan aku memilikimu'
.
.
.
.
.
Kai menarik nafas dalam, menstabilkan deru nafasnya yang tak beraturan akibat baru saja berlari. Ia berdiri didepan sebuah pintu ruang rawat rumah sakit. Merasa cukup tenang, pemuda itu meraih gagang pintu, menggerakkannya kebawah, membuat pintu itu terbuka.
Disana, diatas sebuah katil, pemuda berkulit putih duduk dengan kepala berhias perban. Matanya menatap lekat kearah kai, membuat pemuda yang berdiri didepan pintu membentuk senyum bahagia dibibirnya.
"chan, , , " sebuah nama terucap dari bibir hati milik pemuda yang berstatus sebagai pasien.
Senyuman itu perlahan memudar, terganti dengan raut wajah terkejut bercampur bingung, menatap seorang dokter yang berdiri tak jauh dari katil. Pria berseragam dokter perlahan menghampiri kai.
"kabar baiknya, dia sudah bangun dan menurut pemeriksaan, kondisinya baik saat ini, tidak ada yang perlu dihawatirkan, tapi– sepertinya dia kehilangan beberapa ingatannya, temui dia dulu, setelah itu, datang keruaganku! " sang dokter menjelaskan, menepuk bahu kai sebelum berhambur keluar bersama seorang perawat yang mengekor dibelakangnya.
Langkah pelan, membawa kai menghampiri kyungsoo. Menatap pemuda bermata owl, seolah tak percaya.
"kyungsoo, , , "
"kyungsoo?! Siapa dia? Apa Itu aku? " jawab kyungsoo bingung menunjuk dirinya sendiri.
"kamu–tidak ingat apapun? " kai ragu
Pemuda itu menggeleng pelan, "aku hanya ingat kamu, chan! Kamu kekasihku! " jawab kyungsoo ringan.
Tidak dengan kai, yang semakin bertambah bingung. Situasi ini diluar dugaannya. Kai jelas tau jika kyungsoo sepenuhnya tidak ingat, atau katakanlah fikirannya kacau. meski ia dapat mengenali sosok kai, tapi pemuda itu justru menganggap kai sebagi kekasihnya, yang notabennya adalah orang lain bernama park chanyeol.
"chan, , , kepalaku sakit, apa yang terjadi denganku?, kenapa aku tidak ingat apapun?" rengek kyungsoo.
"kamu yakin?! Tidak ada hal lain lagi yang kamu ingat?– teman-teman kamu? Semuanya? "
Kyungsoo menggeleng. "aku hanya ingat kamu, fikiranku kosong chan, , , "
Kai masih terdiam, hingga tiba-tiba sepasang lengan memeluknya erat. Ya– kyungsoo memeluknya.
Pemuda bernama kai itu terhenyak seketika. Ini yang dinginkannya, ini yang diharapkannya. Katakan kai terobsesi. Ya memang benar– ia begitu terobsesi pada sosok kyungsoo. Ia ingin menyentuh pemuda itu, memeluknya bahkan memilikinya. Dan hari ini, rupanya tuhan masih berbelas kasih pada bajingan seperti dirinya. Pemuda itu– kyungsoo, berhambur memeluknya. Seperti mimpi– bahkan jika ini mimpi, kai tidak ingin terbagun, dan jika ini nyata, biarkan waktu berhenti saat ini juga.
"chan, kenapa diam?, aku siapa? Kenapa aku disini? " lanjut kyungsoo lagi.
Ragu. Tapi pemuda berkulit eksotis itu mulai membalas pelukan kyungsoo. Mengelus punggungya perlahan.
"gwenchana–, istirahatlah dulu, aku akan menemui dokter! "
.
.
.
.
.
"dia amnesia" sang dokter berkata yakin, sambil menatap hasil rontgen kepala milik kyungsoo.
"dari hasil pemeriksaan secara keseluruhan keadaannya baik, mungkin itu efek benturan dikepalanya, "
"ba–bagaimana dia bisa sembuh? "
"hm– pasien amnesia secara fisik tidak sakit, dia hanya kehilangan ingatannya, seperti kebanyakan pasien amnesia pada umumnya, kami tidak tau pasti kapan ingatannya akan kembali, tidak ada obat yang pasti untuk itu– tapi mungkin anda bisa membawanya ke tempat yang mungkin berkesan untuknya, atau bertemu dengan orang-orang terdekatnya"
Kai hanya mengangguk memahami penjelasan dokter.
.
.
.
Terkadang, kita tidak tau apa yang sedang tuhan rencanakan untuk kita. Semua situasi tak terduga, mengalir begitu saja. Sama seperti keadaan yang sedang dialami kai saat ini. Setelah sekian lama, ia terobsesi pada pemuda bermata owl itu, kini keadaan benar-benar memberikan kesempatan baginya. Dilema– pemuda tinggi itu seolah berada pada persimpangan jalan dimana ia harus memilih. Seperti hitam dan putih, sesuatu yang negatif atau positif, semua akan ada konsekuensinya. Mungkin jika ia orang yang baik, hatinya akan terluka lebih dulu, tapi jika ia buruk, maka orang lain yang akan terluka. Semua tergantung pada sebuah keputusan.
Dan disinilah kai berdiri, menatap sosok yang tengah tertidur. Perasaan kagum, beriringan dengan dilema besar.
.
.
.
Kai pov.
Namaku kim jongin, dan tidak ada yang tau itu, karena aku lebih dikenal sebagai kai. Bukan karena aku membenci nama kim jongin, tetapi karena bagiku nama itu terlalu indah untuk diriku yang sekarang.
Aku tak punya orang tua, bukan karena aku yatim piatu, tapi mereka yang menelantarkanku. Aku tau mereka buruk tapi tidak ada satu hal pun yang bisa memutuskan hubungan orang tua dan anaknya. Aku tetap seorang putra dari dua narapidana kasus penggelapan uang dan bisnis prostitusi.
Ada pepatah mengatakan jika orang tua berbuat buruk, maka anaknya juga akan menanggung bebannya. Mungkin sebagian orang percaya dan tidak, tapi– nyatanya pepatah itu benar bagiku. Orang tuaku menjual jasa pemuas nafsu, dan kini putranya juga menjajakan hal sama.
Aku seorang kai, mereka menyebutku casanova dunia malam. Aku seorang pemuas nafsu. Bukan yang biasa, kelasku tinggi. Tidak hanya wanita, tetapi juga pria. Mereka rela membuang jutaan won hanya untuk mendapat service terbaikku. Jangan heran– karena tidak satupun pelangganku kecewa.
Ada satu hal yang menjadi syarat ketika mereka membutuhkanku. Aku hanya memberikan serviceku– tidak menunjukkan wajahku. Ya, aku seorang cassanova bertopeng.
.
.
.
Flashback
Saturday night. Aku berjalan keluar dari sebuah kamar meninggalkan patnerku yang masih terkapar tanpa sehelai benang diatas ranjang. Rambutku kusut, dan kancing baju yang hanya tiga dari bawah kukancingkan serta topeng yang masih menjadi kedok wajah tampanku. Kakiku berjalan pelan, menyusuri koridor sambil melihat lantai dansa penuh manusia di lantai satu. Aroma alkohol menyeruak, musik memekakkan telinga, dan kepulan asap nikotin yang bercampur menjadi satu menyebabkan perokok pasif mendapat dampaknya.
Disana disudut lantai bawah, duduk 6 orang namja. Satu diantara mereka, aku sangat mengenalnya. Dia putra pemilik bisnis laknat ini. Terkadang aku iri, pada mereka yang terlahir dengan sendok perak dimulutnya. Sungguh beruntung.
Pekerjaanku mungkin memang memberi kenikmatan surga dunia, tapi dampak yang dihasilkan juga sangat menguras tenaga. Seperti biasa, setelah selesai dengan pekerjaanku, aku hanya ingin cepat cepat istirahat. Tidak ada hal yang menjadi hobiku ataupun menarik perhatianku. Hidupku abu-abu, membosankan.
Menghela nafas sejenak, aku mulai berbalik, kembali melangkah pelan menuju kamar pribadiku. Perlahan, aku mencoba memperbaiki simpul yang mengikat topeng dibelakang kepalaku.
Samar, aku mendengar derap langkah cepat –berlari, semakin dekat kearahku.
"permisi! Permisi!, maaf! "
BRUGH
Aku terjatuh kebelakang, setelah seseorang menabrakku dengan cukup keras. Reflek tanganku seketika mencoba menahan berat tubuhku.
Diam sejenak.
Sosok namja mungil yang juga jatuh dihadapanku. Menarik– sangat menarik. Kulitnya seputih susu, rambut hitam legam yang terlihat berkilau, mata seperti owl yang begitu indah, hidung mancung, bulu mata lentik, bibir ranum berbentuk hati, semua menjadi satu membentuk visual yang menakjubkan.
Aku terpana– he's so adorable. Tersadar dari itu, aku segera menunduk, menutupi mukaku karena aku baru sadar, jika topengku jatuh entah kemana. Mencoba tenang, aku berusaha mencari benda itu.
"ini! " sebuah suara selembut madu, menginterupsi. Kemudian tepat dihadapanku, tangan mungil itu menyodorkan apa yang ku cari– topeng. Tidak berfikir panjang, kuraih cepat benda itu untuk menutupi wajahku, lalu segera bergegas pergi dengan langkah cepat.
Tidak boleh seorang pun tau identitasku.
"maaf! " suara lembut itu muncul lagi dengan oktaf lebih tinggi. Aku tau kata itu ditujukan padaku. Tapi– aku tidak peduli.
.
.
.
.
This life has twist and turns
But it's the sweetest mystery
When you're with me
We say a thousand words
But no one else is listening
I will be
Every night and every day
No matter what may come our way
We're in this thing together
The dark turns to light
We both come alive, tonight
I'm talking bout forever
Never gonna let you go
Giving you my heart and soul
I'll be right here with you for life
Oh, baby all I wanna do
Is spend my every second with you
So look in my eyes
I'll be by your side
The storms may come
And winds may blow
I'll be your shelter for life
This love, this love
I mean it till the day I die
Oh, never gonna let you go
Giving you my heart and soul
I'll be right here with you for life
Oh, baby all I wanna do
Is spend my every second with you
So look in my eyes
I'll be by your side
Yeah, look in my eyes
I'll be by your side
For life
.
.
.
Aku ingat Malam itu, aku kembali. Mengesampingkan semua rasa lelah, aku kembali karena rasa penasaran yang luar biasa. Entah mengapa kali ini aku menuruti hatiku.
Duduk di dekat meja bar, lengkap dengan topi dan masker. Mataku hanya tertuju pada satu objek, namja mungil itu. Dia disana duduk bersama enam namja yang salah satunya adalah putra bosku. Semua tampak bahagia kecuali dia. Entah apa yang mereka bicarakan tentu aku tidak tau.
Tak lama, namja kecil itu perlahan melangkah, maju menuju sebuah corner tempat bernyanyi. Tepat ketika ia berdiri disana, musik yang memekakkan telinga mati. Berganti dengan lampu sorot yang menyoroti dirinya.
Oh tuhan– dia semakin menawan.
Ia memejamkan matanya sejenak. Sebelum kemudian mulai melantunkan sebuah lagu dalam bahasa inggris. Sekali lagi aku terhipnotis. Suaranya benar-benar menakjubkan, lembut menyapa pendengaranku. Semua seperti hipnotis. Aku merasa hanya ada aku dan dia ditempat ini. Dan ia menyanyikan lagu itu untukku.
Tuhan– aku jatuh cinta.
Ini pertama kalinya aku menemukan sesuatu yang menarik dalam hidupku. Ia seolah hadir dengan warna terang, menhapus warna abu-abu milikku. Aku ingin memilikinya. Tidak– aku harus memilikinya.
.
.
.
Tepuk tangan menyadarkanku bahwa ia telah selesai dengan pertunjukannya. Senyuman manis mengembang, dan sekali lagi, mampu melumpuhkan kinerja hatiku, membuat detak jantung menggila serta desir aliran darah yang tak terkendali. Tanpa sadar, aku berjalan pelan kearahnya.
Dekat – mendekat – semakin dekat.
Berhenti.
Ia berhampur berlari menuju seseorang yang tengah membuka pelukan untukknya. Ya– dia lebih dulu melemparkan dirinya pada pelukan pemuda tinggi itu.
Saat itu aku sadar, ia adalah seekor merak cantik dan aku hanyalah pipit tak bernilai.
.
.
.
Flashback off.
.
.
.
Aku merasakan tangan memainkan jemariku. Saat kubuka pelan mataku, aku menemukan sosok cantik dihadapanku. Ia duduk sambil memainkan jemari tanganku.
"kamu sudah bangun? " tanyaku mulai menegakkan kepalaku.
"dari tadi "
" kenapa tidak membangunkanku? "
"kamu terlihat sangat pulas, chan!, aku tidak tega"
Deg!
' Chan', aku baru ingat jika sosok dihadapanku ini sedang tidak ingat apapun. Sedikit terpaksa tapi aku tersenyum.
"harusnya kamu tetap membangunkanku!"
" aku lapar, !" kyungsoo berucap lirih.
"sebentar lagi suster akan datang membawa sarapan, !"
Kyungsoo menggeleng, "aku tidak mau makanan rumah sakit, tidak enak" ia mulai merengek manja, mempoutkan bibirnya.
Ini yang aku suka. Ini yang membuatku menyukainya. Sifat manjanya. Dulu– hanya pada chanyeol kamu bersikap seperti ini. Jadi– seperti inikah rasanya menjadi pacarmu. Aku ingin merasakan lebih, menjadi kekasihmu.
Tanpa sadar aku menatapnya lama, mungkin membuat ia tidak nyaman. Hingga kurasakan kedua telapak menangkup wajahku.
"kamu tidak apa-apa? " tanyanya bingung.
Aku tersenyum, mengangguk pelan.
"kamu ingin makan apa? "
"jampong, "
"baiklah, aku akan membelikannya untukmu! " jawabku sambil meraih kedua tangannya yang berada diwajahku, menggengamnya erat.
"chan– sebenarnya apa yang terjadi, kenapa aku bisa lupa semuanya– dimana ayah dan ibuku? "
Pertanyaannya seketika membuatku menelan ludah gugup. Namun sebisa mungkin aku mencoba tetap tenang. Mencari cepat dalam otakku, jawaban yang membuatnya percaya padaku. Sesungguhnya aku belum siap mengatakan yang sebenarnya.
"chan, " tanyanya lagi melihatku diam.
"jangan hawatir, semua baik-baik saja, aku akan memberitahumu semuanya saat kamu sudah sembuh, oke! "
"kenapa? "
"dokter bilang, kamu masih harus banyak istirahat, oke!, "
Kali ini ia mengangguk.
"baiklah, aku akan membeli jampong untukmu, tunggu ya! "
"jangan lama-lama, aku takut, "
Kali ini aku tersenyum, menenangkan hatinya.
.
.
.
Kai pov end.
.
.
.
Kyungsoo tampak murung malam itu. Sejak pagi tadi, kai belum kembali. Padahal ia bilang hanya membeli jampong sebentar.
Pemuda mungil itu, tak kunjung tidur. Ia terus memilin ujung bajunya tak karuan. Menunggu kekasihnya kembali. Ia mencoba tidur, tapi tetap saja tak bisa terlelap.
Entah karena apa, bulir air mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia berusaha sekuat tenaga menahannya. Menggigit bibirnya agar tidak menangis.
.
.
.
BRAKK!
seketika kyungsoo menoleh, mendapati kekasihnya sudah berada dipintu. Kai berjalan cepat mendekati kyungsoo, membantu lelaki itu untuk duduk.
Kyungsoo menscanning pemuda dihadapannya. Ia memakai celana jeans biru, sweater serta jaket kulit berwarna coklat, juga sebuah topi hitam yang bertengger di kepalanya. Tangan kanannya mententeng sebuah tas cukup besar berwarna hitam. Sementara tangan kirinya membawa sebuah paperbag.
Kai menjatuhkan tas besar hitamnya ke lantai, kemudian bergegas mengeluarkan sebuah celana jeans dan jacket dari paperbag yang dibawanya. Sementara pemuda dihadapannya hanya menatap bingung.
"pakailah ini, kita harus segera pergi dari sini! " kai berkata dengan sedikit tergesa.
"kita mau kemana? "
"nanti kamu juga tau, sekarang bergegaslah, "
"tapi–, " mata bulat itu ragu menatap kai.
"please, percaya padaku, aku kekasihmu, aku pasti akan menjagamu, nanti akan aku ceritakan semuanya dijalan" kai meyakinkan kyungsoo sambil menggenggam kedua tangannya erat.
Tidak punya pilihan lain, ahirnya kyungsoo menuruti perintah kai.
.
.
.
Tak lama, kyungsoo keluar dari kamar mandi. Ia menatap kai yang masih duduk diranjangnya sambil menejamkan mata. Tidak ada yang tau apa yang sedang difikirkannya kecuali dirinya sendiri.
Namun, kyungsoo bisa menangkap aura kegelisahan dari pemuda tan itu. Tampak kakinya terus bergerak tak jelas, mengetuk ubin dibawahnya. Ia juga tidak berhenti menggosok kedua tangannya, abstrak. Beberapa peluh tampak menghiasi pelipisnya yang hampir tertutup topi.
"chan?! Gwenchana? "
Kai membuka matanya, melompat turun dari ranjang, mendekati kyungsoo. Ia tersenyum sambil mengangguk pelan. Kemudian pemuda tinggi itu meraih tangan kiri mungil milik pemuda dihadapannya. Mengaitkan jemarinya dengan tangan kanannya – erat.
"kajja, !"
"chan, , , ki–"
Belum sempat kyungsoo menyelesaikan kalimatnya, kai terlebih dulu menempatkan jemari telunjuknya pada bibir kyungsoo.
"percayalah padaku!, "
Tatapan dominasi kai, membuat kyungsoo kehilangan kata-katanya. Ia hanya mengangguk, percaya pada pria dihadapannya.
Kemudian kyungsoo hanya pasrah ketika kai membawanya keluar dari rumah sakit. Mengajaknya entah kemana, ketika keduanya memutuskan untuk menumpangi sebuah taxi pada hampir tengah malam.
Kyungsoo jelas tidak tau kemana tujuan mereka pergi. Ia bahkan tidak tau jika pria disampingnya bukanlah kekasihnya. Tetapi – pada malam itu, si pemuda tan telah memutuskan sesuatu. Sebuah keputusan yang bahkan ia tidak tau bagaimana nantinya. Ia hanya mengikuti kata hatinya, menuruti ego besarnya – ia menginginkan kyungsoo jadi miliknya.
"mulai hari ini, namaku bukan kai, ataupun kim jongin– namaku chanyeol, kekasih kyungsoo,"
.
.
.
TBC
.
.
.
HEYYYYY, , , BACK AGAIN WITH MY NEW STORY, , , THIS IS WILL BE LONG STORY CHAPTER, , ,
OKE, , , JANGAN LUPA REVIEW, , ,
SEE YOU EVERY WEEK GUYS, , , LOVE YOU
–cloudsclear
