Hai MINNA~
Setelah sekian lama akhirnya saya bisa menyelesaikan fic ini *v*
Maaf sempat hiatus beberapa lama.
Semoga Minna~san menikmati final chappternya.
Terimakasih untuk yang selalu dukung saya juga. Review saya balas di bawah ya.
Happy Reading !
Satu tahun yang lalu
-OICHI POV-
Hari itu di bulan Desember,
Aku dan Nagamasa tengah resmi menikah selama tiga bulan, kami tentu saja belum di karuniai seorang anak. Bahkan kami masih tinggal dengan kakakku,Nobunaga Oda. Bukan berarti Nagamasa tidak sanggup membiayai hidup kami,namun saat itu rumah kami masih dalam proses pembangunan. Kami sudah tinggal di rumah Nii-sama selama dua minggu. Semuanya berjalan lancar,kami adalah keluarga yang bahagia.
Ya. Bahagia.
Walaupun Nii-sama adalah orang yang keras kepala dan egois,tapi aku tahu ia orang yang baik. Ia sangat menyanyangi keluarganya,terlebih istrinya Nouhime dan anak angkatnya,Ranmaru.
Malam itu sangat dingin, rasanya salju akan turun.
Nii-sama mengajak kita makan bersama di meja makan seperti biasanya. Namun malam itu ada yang berbeda, makanan di meja itu tampak mewah,bahkan ada lilin-lilin yang menghiasinya.
"Nii-sama.. Ada perayaan apa?" tanyaku.
Nii-sama terkekeh. Ia mengambil botol wine dan menuangkannya ke gelas. Nii-sama suka sekali minum wine.
"Aku akan memberitahukan kepada kalian setelah usai makan malam." Jawab Nii-sama mengumumkan.
Kami sekeluarga terdiam,tapi kami tahu ini adalah hal yang bagus. Karena Nii-sama merayakannya. Bukankah begitu?
Tapi mimik wajah Mitsuhide terlihat suram,seakan ia menanggung susuatu yang berat. Ada apa dengan dia?
"Ichi,mau tambah udangnya? Kau kan suka?" suara Nagamasa membuyarkan lamunanku. Aku menoleh dan menggeleng.
"Ah tidak,Nagamasa-sama.. Ichi sudah kenyang." Jawabku lembut.
"Aku mauu!" seru Ranmaru dengan kencang.
Nagamasa tersenyum lalu mengambilkan beberapa ke piring Ranmaru.
Ranmaru melahap makanannya dengan semangat. Ia bahkan menjilati jari-jarinya yang terkena saus kecap.
"Ranmaru! Itu jorok,jangan menjilati jemarimu sesudah makan." tegur Nouhime-sama.
Ranmaru hanya cengengesan.
Sepuluh menit berlalu.
Kami sudah selesai makan. Kami duduk dengan tenang,menunggu Nii-sama menyampaikan sesuatu seperti yang di janjikannya.
Kulihat Nii-sama mengelap bibirnya dengan tisu kemudian berdehem.
"Aku akan menyampaikan sesuatu pada kalian." Ucapnya. Ia menggengam kedua tangannya sendiri di atas meja.
Ia menunduk. Tampak mengambil nafas.
"Aku mengajak kalian makan secara istimewa seperti ini untuk berjaga-jaga kalau saja ini menjadi yang terakhir kita makan bersama-sama." Sambung Nii-sama.
Aku terlonjak.
Apa maksud Nii-sama?
Apa dia bercanda?
Tidak mungkin. Nii-sama orang yang serius. Ia tidak akan repot-repot mengerjai kami semua bukan?
"Suamiku,memangnya ada apa?" Nouhime-sama mengelus pundak Nii-sama.
"Dengarkan saja Nou!"
Nouhime-gishi mengangguk pelan.
"Sebenarnya.. Sudah seminggu ini aku ingin membuka mulut. Tapi kurasa sekarang waktu yang tepat. Perusahaanku, tempat keluarga kita bergantung.. sudah bangkrut. Tidak tersisa apapun. Dan.. tanpa adanya perusahaan itu. Kita tidak sanggup bertahan." Kata Nii-sama getir.
"Ap-apa? Kenapa kau tidak bilang dari awal,suamiku?" Nouhime-sama yang pertama membuka mulut.
Ranmaru hanya memandang dengan wajah polos. Tentu saja ia belum mengerti topik pembicaraan seperti ini. Seharusnya Nii-sama tidak melibatkannya.
"Ada lagi yang ingin kusampaikan." lanjut Nii-sama.
Kami terdiam.
"Maafkan aku,tapi selama ini aku sudah melakukan banyak penipuan di sana-sini. Semuanya demi uang dan uang. Sampai suatu hari ada seseorang yang mengetahui perbuatanku. Ia membeberkan kasus penipuan ini secara luas,itu yang membuat perusahaanku bangkrut. Dan.. Dia bahkan mengancamku. Ia akan membunuhku." Kali ini suara Nii-sama bergetar. Ia terdengar takut. Sangat ketakutan.
"A-ani ja?! Apa itu benar? Kau telah di ancam?" suara Nagamasa meninggi,ia juga tampak panik.
Nii-sama hanya mengangguk. "Berhari-hari ini aku mendapatkan surat ancaman. Tapi saat berusaha di lacak,bahkan aku dan anak buahku tidak dapat menemukan lokasi pengirimnya. Kurasa ia orang yang benar-benar hebat dan ulung."
"Ani-ja! Sebaiknya kau cepat lapor ke polisi!" sahut Nagamasa.
Nii-sama kini memandangnya geram. "Nagamasa! Apa kau bodoh? Kalau aku lapor ke polisi sama saja aku menyerahkan diri. Kalau polisi melakukan penyelidikan,mereka akan mengetahui aku adalah penipu dan aku kan di penjara!"
"Tapi.. mungkin saja ia hanya mengancam untuk menakut-nakutimu Nii-sama.. " ucapku. Aku berusaha membuat Nii-sama supaya lebih tenang.
"Ichi,pagi tadi ia mengirimku surat ancaman baru. Tulisannya berbeda dari yang kemarin." Muka Nii-sama memerah,ia seperti tengah akan meledak setiap saat. Entah apa yang di rasakannya.
Kecewa? Marah? Sedih? Menyesal?
Kurasa semuanya.
"Apa yang di tulis di surat itu Ani-ja?" tanya Nagamasa cepat.
"Bahwa ia tidak hanya akan membunuhku. Tapi juga seluruh keluargaku." Jawab Nii-sama.
Malamnya aku tidak bisa tidur. Jantungku berpacu dengan keras sampai aku dapat mendengar setiap dentumannya. Aku menarik selimut sampai ke dagu,berusaha memejamkan mata. Namun tak bisa.
"Ichi?" kemudian suara Nagamasa-sama terdengar di sebelahku.
Aku berbalik dan melihatnya. Ia menatapku dengan khawatir. Aku baru menyadari,mungkin Nagamasa-sama juga tidak bisa tidur.
"Nagamasa-sama.. Apa Ichi membangunkanmu?" tanyaku lembut.
Nagamasa tersenyum namun tampak di paksakan. "Aku belum tidur,Ichi."
"Nagamasa-sama.. Ichi takut. Takut sekali.." bisikku. Perasaanku tak karuan,rasanya mau menangis.
Nagamasa-sama menarikku dalam pelukannya. Ia mengelus rambutku. "Ichi,jangan takut. Apapun yang terjadi,aku akan melindungimu. Aku akan melindungi keluarga kita."
Tak terasa mataku mulai panas,aku menangis. Aku sangat ketakutan,tubuhku sampai bergetar.
"Tapi surat ancaman itu.."
"Shhh." Nagamasa memotong kalimatku. "Sayang,jangan di pikirkan. Tidurlah,aku akan memelukmu sampai kau membuka mata lagi. Kau akan aman dan baik-baik saja."
Aku mengangguk lemah. Kusembunyikan diriku di dalam pelukan suamiku.
Entah berapa lama aku tertidur malam itu. Namun tiba-tiba..
PRANGGG
BRAKK!
Suara itu cukup keras terdengar berasal dari lantai bawah. Bahkan aku sampai terlonjak bangun.
"Na-nagamasa-samaa.." ucapku panik. Jemariku menggenggam erat kausnya.
"Ichi,tetaplah di sini. Aku akan memeriksa." Perintah Nagamasa-sama. Ia hendak turun dari tempat tidur namun aku masih menggengam kausnya,tidak melepaskannya.
"Tidak,Ichi ikut."
"Jangan Ichi!Tetaplah di sini,aku akan kembali! " Tegasnya.
Aku hanya mengangguk lemah menyaksikan Nagamasa keluar dari kamar.
Aku meringkuk di tempat tidur dengan menggigiti kuku-kuku ku sendiri.
Aku bergetar hebat sangat ketakutan.
'Semoga tadi hanya suara tikus.. tenang ichi.. tidak apa-apa..' pikirku dalam hati.
Namun..
AAARGHHHHHHH
Suara itu amat kencang terdengar.
Suara Nii-sama!
Suara lolong kesakitan.
Aku terhenyak,jantungku seakan akan meledak.
ARGHHHHH JANGANNN ! AMPUNNN HUHUHU
Suara lain terdengar. Di selingi isak tangis yang memilukan.
Kali ini..
Suara Ranmaru!
Tidak! Aku tidak tahan!
Dengan cepat aku berlari keluar dari kamar itu. Aku menuruni tangga seakan setiap langkahku limbung,aku hendak terjatuh beberapa kali.
Sesampainya di bawah,aku benar-benar tidak percaya apa yang aku saksikan.
Aku tidak ingin melihatnya,namun mataku telah menangkap momen itu.
Nii-sama yang bersimbah darah. Ia tengah menggelepar di lantai dengan luka tusukan di dadanya. Mulutnya terbuka.
Nouhime tertelungkup di sampingnya. Gaun tidur biru sutranya basah oleh cairan berwarna merah yang terus keluar dari punggungnya. Luka tusukan Nampak di punggungnya.
Mitsuhide tengah bersandar di tembok,ia menunduk. Dadanya berdarah.
Dan..
Nagamasa-sama..
Tubuhnya yang tidak berdaya..
Tepat di depanku,Nagamasa-sama dengan luka di perutnya. Ia tampak megap-megap mencari udara.
Kemudian ia bernafas untuk yang terakhir kali sebelum menutup kedua matanya.
"AAAAAAAAAAAAAAA…" jeritku sambil menjambak rambutku.
Tidak!Ini pasti mimpi!
Ini adalah mimpi buruk!
Namun kemudian aku mulai menyadari keberadaan mereka.
Empat orang memakai topeng ski dan baju serba hitam yang memegang pisau.
Mereka menatapku.
Kemudian aku melihat Ranmaru. Ia masih hidup!
Ranmaru terduduk di tembok menangis dengan kencang.
"Haha.. ternyata masih tersisa dua orang." ucap seorang di antara mereka.
"Kita habisi saja yang kecil dulu."
Lalu mereka mulai menyeret Ranmaru tepat di hadapanku.
Aku tak sanggup lagi berdiri. Aku jatuh terduduk. Aku hanya bisa menangis dan meraung.
"Bagaimana nona? Kau mau melihat anak ini mati bukan?"
Mereka tertawa bersamaan.
"Ran.. Ranmaru.. Jangann.. Kumohon Jangan.." erangku lemah. Tanganku berusaha menggapai Ranmaru,tapi pandanganku kabur.
"Ran.. maru" erangku lagi.
"Kaakakk! Tolongg aku! Kak Oichi!" jerit Ranmaru.
Mereka manjambak rambut Ranmaru dan meletakkan pisau tepat di leher Ranmaru.
"Apa kita harus bunuh anak kecil tak berdosa ini juga?" tanya salah satu dari mereka kepada yang lain.
"Bos Hideyoshi bilang untuk membunuh semua keluarga Oda! Cepat lakukan!"
"Hmm baiklah. Bagaimana?kau siap nak?" tanya seorang dari mereka.
Lalu..
Pisau itu merobek leher Ranmaru. Ia hanya bisa melotot menahan sakit. Tubuhnya terguncang hebat kemudian ia berhenti bergerak.
"AAAAAAAAAAAAAAAA" kali ini aku menjerit lagi. Aku menjambaki rambutku dan menggelengkan kepalaku.
"Berisik sekali. Cepat habisi wanita ini sebelum..
DUK DUK DUK
"Tuan Oda? Ada apa di dalam? Apa baik-baik saja?" sebuah suara yang kukenal terdengar dari luar pintu. Suara tetangga kami, Matsu dan Toshiie.
"Sial!cepat pergi sebelum ketahuan!" ucap salah satu pembunuh itu.
"Tapi bagaimana dengan-
"Tutup mulutmu! Kita kabur lewat pintu belakang!"
Aku akhirnya berusaha mengumpulkan suaraku.
"Apa ada perampokan di dalam?!" jerit Matsu dari luar pintu.
"TO.. TOLOOONGGG!" jeritku frustasi.
"Aku akan dobrak pintunya!" seru Toshiie dari luar.
DUK DUK BRAK
Pintu itu sudah hampir lepas saat keempat pembunuh itu berlari lewat pintu belakang.
Dan mereka menemukanku.
Menemukanku yang berlutut tak berdaya.. Di depan mayat keluargaku.
Matsu menjerit ngeri. Dan Toshiie segera menghampiriku.
Kemudian pikiranku seakan di selimuti kabut tebal,sehingg aku tidak bisa memikirkan dan merasakan apa-apa lagi.
-OUT OF OICHI POV-
"Oichi! Kau baik-baik saja?" Toshiie berseru, mengguncang-guncang tubuh Oichi.
Namun Oichi hanya menatap ke depan dengan pandangan kosong.
Matsu menangis,ia menutup kedua matanya. "Aku tak sanggup. Ini terlalu mengerikan." Isak Matsu.
"Matsu! Cepat pulang dan telepon polisi serta ambulan! Cepat!" bentak Toshiie.
Matsu yang masih menangis berlari keluar, sedangkan Toshiie menggendong Oichi keluar dari rumah itu.
Oichi yang masih memandang dengan pandangan kosong.
EPILOG
Maria membawa sebuah nampan berisi makanan dan segelas air putih,kemudian meletakkan nampan itu di meja.
Ia menghampiri seorang wanita yang masih duduk di kasur rumah sakit jiwa itu,memandang jendela.
"Oichi.." ucap Maria sembari mengelus rambut adik iparnya. "Aku tak tahu apa yang harus kulakukan lagi untuk membuatmu sembuh. Tapi aku akan terus berusaha." Lanjut Maria.
Oichi hanya diam. Ia tak bergerak dan masih dalam poisi yang sama.
"Cepat atau lambat,kau pasti akan sembuh." Maria menangis kemudian menyeka air matanya dengan sapu tangan.
"Jangan… Me.. menangis.."
Maria terhenyak. "O-Oichi? Kau sudah mulai berbicara lagi?" seru Maria.
"Jangan.. Ber.. sedih.." ucap Oichi terbata-bata. Kini ia menatap Maria dan tersenyum kecil.
"Oichi!" Maria memeluk Oichi dengan erat. "Kau sudah semakin membaik! Aku janji,aku janji padamu akan berusaha menyembuhkanmu. Demi Nagamasa."
Oichi tersenyum dan balik memeluk Maria.
END
Balasan review :
della : akhirnya saya menyelesaikan fic ini :) semoga della suka. terimakasih sudah membaca fic sayaa dan terimkaasih supportnya^_^
Neneng Masamune : hehe.. Iya Ne-san, Cici juga baru sadar banyak typoo di chapter 1 sehingga ngrusak cerita. Aduhh T_T terimakasih sudah support selalu Ne-san. Semoga tetep suka dan enjoy baca fic cici hehehe.
Chacha Rokugatsu : Thankyouuu CHACHA-SAN buat suppport,dan fav nya. Fic senpai juga selalu aku tunggu apalagi tentang pair favoritku uhukk. Hehe.. Keep write senpai ^_^
