Author : "Konni minna~" *teriak pake toa*

Sasuke and Naruto : "BERISISK!" *nendang author*

Sasuke : "Cih, kita harus main lagi di fict gaje ini?"

Naruto : "Sabarlah teme, kita udah di kontrak nih, lagian aku juga suka kok karakter Naruto di fict ini," *pasang tampang Innocent bikin sasuke nosebleed dan author yg langsung meluk Naruto*

Author : "Kyaa… Naru-chan baiknyaaawwww…."

Sasuke : *Nendang author tepat di wajah* "Jangan sentuh dobe-ku"

Naruto : *blushing*

Author : *sambil ngelap darah yg keluar* "Haha… baiklah.. baiklah… lebih baik kita balas review dulu ya… review pertama untuk zoroutechhi. Iya.. tadinya saya juga pingin bikin Naru fem sasu, karena menurut saya Sasu yg cocok jadi tokoh ceweknya, tapi berhubung saya terbiasa di cekoki oleh teman fujoshi saya SasuNaru, maka saya gak bisa ngebayangin kalo Sasuke harus jadi cewek, hehe. Ok, udah update, review lagi ya…"

Sasuke : "for Superol, yup, setuju! Lagipula terlalu banyak ketawa bikin otot wajahku keram, thanks dah bantuin gue (?), ni udah update, review lagi ya"

Author : "Tambahan aja buat Superol, aku juga suka lho kalo sasuke cinta mati sama Naruto, hehe moga chap ini kamu sedikit puas ma karya saya… Ok, Naruto, Sasuke, segera bersiap-siap, karena kalian harus mulai berperan," *ngasihin script ke Naruto dan Sasuke*

Naruto : "Ok deh… Jaa minna… Happy reading…"


Lost Wing

By : Fuyu-yuki-shiro

.

.

Disclaimer :

Naruto itu karangannya Masashi Kishimoto kan? *digeplak sandal*

Fallen angel karya Mitsuki Kao (maaf kalau salah, author lupa judulnya)

.

.

Pairing : Sasu x femNaru

.

.

Warning : OOC (disini Sifat Sasuke dan Naruto ketuker), semi M, abal, GaJe, kata-kata yang njelimet, gender switch Naruto POV, dll

.

.


"Suke-teme!"

Seorang bocah berusia sekitar sepuluh tahun tengah memperhatikan bocah lelaki berambut pantat ayam yang tengah menutup kelopak matanya dan membaringkan tubuhnya di rerumputan hijau yang membuatnya merasa nyaman.

"Suke-teme!" panggil bocah berambut pirang panjang itu sembari menguncang-guncang tubuh teman mainnya.

"Hn…" si bocah lelaki hanya bergumam tak jelas karena tidurnya yang terganggu. "Jangan ganggu aku dobe," ucap bocah itu sembari membuka matanya, menampilkan mata onix miliknya yang langsung disuguhi oleh wajah tan sang bocah yang membuatnya hamper nosebleed karena jarak yang terlalu dekat dengan wajahnya.

"Menyingkirlah dobe," ucap bocah itu kasar. Membuat pemilik mata blue sapphire itu menggembungkan pipinya kesal, lalu menjauhkan wajahnya yang ada di atas lelaki berambut raven itu. Bocah lelaki itu kemudian bangkit dari tidurnya dan memandang bocah perempuan yang masih menggembungkan pipinya tanda merajuk. Bocah raven itu menghela nafas.

"Ada apa dobe?" Tanya bocah raven itu. Si bocah perempuan yang dipanggil dobe itu tidak menjawab. Masih merajuk. "Kalau kau masih merajuk, aku akan meninggalkanmu sekarang!" ancamnya sambil beranjak pergi, namun seseorang menarik baju hitamnya sehingga si bocah raven itu tak dapat bergerak ke mana-mana. Si bocah raven itu menoleh ke belakang dan menatap bocah perempuan berambut pirang panjang di belakangnya.

Si bocah berambut pirang itu menatap takut-takut wajah bocah lelaki. Mata blue sapphire miliknya berkaca-kaca penuh harap pada bocah yang memiliki mata hitam onix pekat. Melihat itu, dia jadi merasa bersalah, sepertinya ancamannya sudah berlebihan. bocah berambut raven itu kemudian memeluk dobe kesayangannya membuat mata blue sapphire orang yang dipeluknya membulat dan pipinya bersemu merah.

"Tenanglah dobe, aku tak akan meninggalkanmu, maaf aku tadi keterlaluan," ucap bocah raven itu.

"Benar?"

"Hn."

"Kau tak akan pernah meninggalkanku?"

"Hn."

"Selalu bersamaku? Tidak akan seperti ayahku?"

"Hn. Percayalah padaku."

"Kalau suatu saat nanti kita terpisah bagaimana?"

Si rambut raven kemudian melepaskan pelukannya, menatap bocah perempuan itu lekat-lekat.

"Aku akan mencarimu, apa pun yang terjadi, aku akan menemukanmu, dan aku akan menjemputmu untuk terus bersamaku, selamanya…" kemudian si rambut raven mencium kening bocah dihadapannya. Membuat bocah berambut pirang itu tersenyum hangat. Sehangat mentari pagi yang sangat di sukai si rambut raven. "Karena itu, jika kita benar-benar terpisah, tunggu aku ya, aku akan secepatnya menemuimu…"

"Hm.. aku akan menunggumu,"


OOOoooOOO


Aku membuka mataku secepat yang kubisa. Keringat dingin mengucur deras di setiap keningku. Mimpi indah itu lagi. Aku menatap ke bawah dengan pandangan yang menggelap. Rintik air mata turun membasahi pipiku. Janji lima tahun yang lalu itu kembali mengusikku. aku melirik ke arah jam weker yang ada di meja dekat tempat tidurku. Jam enam pagi. Kusingkap selimut dan berjalan ke arah kamar mandi.


OOOoooOOO


Normal POV

Lelaki berambut raven itu membuka matanya. kenangan akan masa lalunya bersama perempuan yang sangat dicintainya selalu hadir dalam mimpinya. Lelaki itu kemudian mengambil sebuah foto usang dari dompetnya, wajah seorang bocah perempuan berambut pirang yang di ikat dua olehnya tersenyum kea rah kamera, sementara dirinya waktu kecil menatap gadis itu dengan penuh sayang. Sasuke menghela nafas berat.

"Kalau suatu saat nanti kita terpisah bagaimana?"

"Aku akan mencarimu, apa pun yang terjadi, aku akan menemukanmu, dan aku akan menjemputmu untuk terus bersamaku, selamanya…"

"Karena itu, jika kita benar-benar terpisah, tunggu aku ya, aku akan secepatnya menemuimu…"

"Hm.. aku akan menunggumu,"

Sasuke menatap lembut foto itu. Setelah lima tahun mencarinya, akhirnya Sasuke menemukannya. Menemukan mentari kecilnya dulu. Menemukan Naruto dobenya.

"Jangan sok kenal ya… aku tidak pernah merasa mengenalmu,"

Sasuke kemudian terdiam. Mengingat pertemuan pertama setelah sekian lamanya dengan Naruto-nya yang menyakitkan.

"Apa salahku padamu dobe? Apa kau benar-benar telah melupakanku?"

End of Normal POV


OOOoooOOO


Aku menatap cermin yang ada di hadapanku. Memandang dingin pantulan dalam cermin itu. Aku tersenyum miris kemudian segera pergi dari tempat itu dan mengambil tas. Aku segera keluar dari kamarku dan turun menuju dapur dan aku terdiam tepat di depan meja makan.

Bukan makanan yang aku temui di meja makan itu, bukan. Melainkan beberapa uang kertas dan selembar catatan di sana.

Naruto, ibu akan dinas selama beberapa hari. Uang ini untuk kebutuhanmu.

Ibu

Aku tersenyum dingin membaca tulisan itu. Kemudian ku ambil uang beserta catatan itu dan melemparkannya ke tong sampah.

"Aku bias dapat uang sendiri tanpa perlu diberi olehmu, ibu." Ucapku sinis.


OOOoooOOO


Pulang sekolah…

Aku tak bias berkata-kata ketika Sasuke ada di depanku ketika aku baru keluar gerbang sekolah. Dengan gayanya yang santai dia menyandarkan dirinya di dinding dekat gerbang sekolah. Cuek. Namun ketika dia menyadari kehadiranku, dia tersenyum, jujur, senyum yang mengerikan.

"Hai, Dobe"

Sapanya dengan senyum iblis. Senyum yang amat beda dengan kemarin.

Aku bergidik….


OOOoooOOO


"Hanase!" teriakku sambil berusaha melepaskan cengkramannya di lenganku. Namun sia-sia. Tenaganya lebih kuat dariku. Jadi tak mungkin aku bias bebas darinya meski aku sudah berontak habis-habisan.

"Hei, Kau, lepaskan!" ucapku sekarang berteriak. Teriakanku mengundang banyak perhatian, namun tak ada seorang pun yang sepertinya berniat untuk menyelamatkanku. Aku mendengus kesal.

Menyerah, akhirnya aku pasrah saja akan di tarik ke mana, meski aku sebenarnya tidak suka berlama-lama bersamanya.

Tentu saja aku tak mau, karena aku takut, dia menyadari bahwa aku masih mengingatnya.

Aku takut untuk menyadari bahwa sudah begitu lama aku tidak menunggunya lagi…

Sejak kejadian itu, aku sudah tak pantas untuk berada di sisinya lagi…

"Ramen dua. Yang satu ukuran jumbo,"

Kudengar Sasuke berkata seperti itu. Eh? Aku menoleh ke kanan-kiri. Tanpa ku sadari aku sudah berada di depan kedai ichiraku dan Sasuke sudah tidak memegang tanganku lagi. Seharusnya aku kabur saat ini juga tapi…

"Duduklah dobe, kalau kau berdiri di jalan seperti itu, kau hanya akan menghalangi orang yang mau makan!" katanya terkekeh geli. Aku menggembungkan pipi kesal. Kemudian duduk di sampingnya dengan gaya terpaksa. Muka cemberut yang ditekuk dan mata yang menatap lurus ke depan. Tapi ekor mataku curi-curi pandang ke arahnya.

"Tak ada gunanya kau merajuk seperti itu dobe!" ucapnya menggoda.

"Aku tidak sedang merajuk, dan jangan panggil aku dobe, Bodoh!" ucapku. Dia hanya terdiam.

"Kau benar tidak mengenalku? Hei, Namikaze Naruto-chan!" ucapnya. Aku tak menjawab. Rasanya sulit untuk mengatakan bahwa aku tidak mengenalnya saat ini. Entah kenapa aku dapat merasakan aura kesedihan yang terpancar darinya. Aku menunduk. Tak menjawab. Berkali-kali batinku mengucapkan maaf padanya. Tapi apa akan terdengar olehnya? Kurasa tidak akan.

"Silakan ramennya," ucap pemilik kedai ramen Ichiraku kepada kami berdua. Uap ramen mengepul ke wajahku. Membuat wajahku panas. Kemudian aku merasakan kepalaku di tepuk-tepuk olehnya.

"Makanlah dobe, Ramen kesukaanmu kan?" sebuah pernyataan darinya kemudian dia membagi dua sumpitnya dan mulai melahap ramen yang dari dulu memang kesukaanku. Aku menatapnya sekilas kemudian melakukan hal yang sama dengan yang dilakukannya. Ramen yang seharusnya enak, jadi tidak terasa enak lagi dilidahku. Rasa haru menyergap hatiku. Apakah, selama lima tahun ini, dia benar-benar mencariku sampai ke sini? Apakah selama lima tahun ini dia mencariku sembari mengingat setiap detil apa yang aku sukai dan yang tidak aku sukai?

Jika ya, aku juga melakukan hal yang sama dengannya.

Aku tahu makanan favoritenya, tomat. Dia sangat suka sendiri. Dulu, dia sangat suka menatap langit di bawah pohon rindang. Ya… aku mengingatnya selama lima tahun ini, dan akupun menunggunya dia menjemputku. Tapi … jika saja kejadian itu tak terjadi padaku, mungkin saat ini aku akan bahagia bersama suke-ku.

"Naruto?" panggilnya membuatku mengerjap-ngerjapkan mataku. Ah, sepertinya aku melamun tadi.

"Hm?"

"Kau tak apa?" tanyanya sarat akan kekhawatiran. Aku menggeleng kemudian menyeruput ramenku dengan cepat. "Kau tidak terlihat bahagia," ucapnya aku masih diam.

"hei, apa kau masih ingat janjiku?"

"…."

"Kau masih menungguku kan?" desaknya membuatku seketika menggebrak mejaku. Aku menatap mata hitam onixnya dengan marah.

"Janji apa? Menunggu apa? Sudah kubilang aku tidak mengingatmu," ucapku penuh penekanan. Mata onix itu menatapku dalam, tak percaya. Aku mendesah.

"Sasuke, kumohon jangan ganggu aku lagi," akhirnya aku buka suara. Akhirnya aku mengalah untuk tidak berbohong padanya.

"Kenapa? Aku hanya ingin menepati janjiku," ucapnya. Membuatku menatapnya dengan tatapan terluka. Dan sebelum berkata-kata lagi ponselku berbunyi. Aku mengangkatnya.

"Moshi-moshi?"

"Naru-chan, mala mini bisa temani aku? Di hotel yang biasanya," ucap suara diseberang. Aku melirik Sasuke yang ada di sampingku yang kini tengah menatapku. Mata biru langitku kemudian meredup.

"Hm… tentu saja om," ucapku dengan nada yang dibuat tertarik. Mendengar itu, om-om yang ada di seberang sana, entah siapa hanya terkekeh kemudian memutuskan hubungan.

"Lihat? Aku bukan Naruto yang dulu lagi," ucapku padanya kemudian bergegas pergi namun tanganku dicekal olehnya.

"Jangan pergi! Jangan pergi ke tempat tua Bangka itu!" perintah Sasuke dingin. Aku menatapnya dengan tatapan benci kemudian melepaskan cekalannya.

"Kau bukan siapa-siapaku sehingga aku harus menurutimu!" ucapku kemudian berlari begitu saja. Meninggalkan Sasuke yang kini menunduk.


To Be Continued


Naruto and Sasuke : " …."

Author : "Hehehe" (sweat drop)

Naruto : "Lho? Kok jadi makin gaJe gini sih ceritanya?"

Sasuke : "Bener.. kok makin gaJe dan gak jelas (?)"

Author : "Ya… hehe..(n_n)a entahlah, sepertinya aku gak puny aide buat chapter ini. Tapi buat chapter tiga malah ada. (lho?) lebih panjang dari ini malah, hehe, gomenne minna,"

Sasuke and Naruto : "Ya… sudahlah… hei teme, tumben sekali ya kita ada di fict yg authornya gaje gini dan dak kreatif,"

Author : JLEB

Sasuke : "Sudahlah Dobe, kasihan kalau kau berkata terus terang kalau author kita ini gaJe, plin plan, gak bisa bikin cerita yg bagus, …

Author : (langsung bekap mulut Sasuke) "Cukup! Ok, minna, Review please…."