Gomenasai…. Telat update! Gara-gara demam si*****n yang menyerang saia, bikin saia gak bisa pegang compy sama sekali. -_-
Terima kasih banyak buat Icha Yukina Clyne, 00 Ayuzawa. 00, Iin cka you-nii, Uchiha Sakura97, Mitama134666, Natsu-BlackCat, Enji86, Undine-yaha, Rizu Hatake-hime, Yoe-chan Van Enviro, dan Natsuno Yurie Uchiha. Udah qu bales lewat PM ya... Terus, buat yang gak log in,
nee ounomia: Arigatou gozaimasu... Siip deh, ini udah update ya, meskipun telat,hehehe...
DArkAngelYouichi: iya tuh, Hiruma selalu bisa baek deh kalo sama Mamo,hehehe... Kaito? disini dia bakal bongkar identitasnya, :P Fb? , jangan lupa kasih tahu kalau kamu DarkAngelYouichi,
Hibari Hime: yayayay... Disini Hiru-chan udah mulai keliatan cemburunya! fufufufu... Makasih banyak! Tapi buat nama Kaito, dia gak ada hubungannya sama sekali sama dua orang itu ya,hehehe
Sweet miracle michu'17: Kaito? Baca chap ini nanti juga ketahuan KAito itu siapa XD Agen no.1 udah sampai chap 7, chap berikutnya masih lumayan lama, saia harus ngumpulin banyak data supaya gak bikin kesalahan lagi,hehe
sweetiramisu: iya...haha! Hiruma udah mulai keliatan cemburu di chap ini, moga aja reaksi cemburunya gak mengecewakan ya... Terimakasih, udah update ya!
F1124 AishiAnimeForever: hahaha... Makasih banyak ya, oke, ini udah update!
Disclaimer: Riichiro Inagaki-Yusuke Murata
Story: Mayou Fietry
Liburan Devil Bats secara tidak sengaja membuat Mamori bertemu seseorang dari masa lalunya. Reaksi Hiruma? Neraka bagi Devil Bats, saat kapten mereka berubah.
Kalau Setan Cemburu?
Pair: Hiruma Youichi, Anezaki Mamori
Semoga gak bosen sama pair ini
Rated: K+
Genre: Romance, Humor
Warning: OOC, OC, typo, ancur, humor gak kerasa, dan segala hal jelek lainnya
Don't like don't read
Special buat Icha Yukina Clyne yang udah banyak membantu dan gak pernah capek ngasih semangat, hehe…. Sebenernya ini fic lama yang dulu sempet qu delete.
.
.
.
Chapter 2
"Mamo-chan?"
"Eh?" mamori mengangkat wajahnya menatap pria di depannya, "kau?" ia mengernyit .
"Mamo-nee, You-nii sudah marah-marah tuh," kata Suzuna yang baru saja sampai diantara mereka.
"Kaito," ucap Mamori tanpa memperdulikan Suzuna.
"Hay," pria itu tersenyum.
Mamori membalas senyum pria di depannya itu, tetap mengacuhkan Suzuna.
"MANAJER SIALAN!" Hiruma meraung saat menyadari manajernya itu tidak melakukan perintahnya.
Mamori, Suzuna dan pria bernama Kaito itu menoleh ke asal suara. Tampak Hiruma tengah berjalan menuju mereka dengan menenteng M16. Pandangannya terlihat galak.
"Apa yang kau lakukan manajer jelek? Aku menyuruhmu mengambil minuman untuk bocah-bocah sialan, bukannya malah menggoda cowok sialan itu!" Hiruma bertanya tajam.
"Ah… Gomenasai, Hiruma-kun! Akan segera kuambilkan!" jawab Mamori setelah sadar ia melupakan tugasnya.
Tapi sebelum Mamori beranjak dari sana, Kaito menahan tangan Mamori dengan tangannya, "kau kasar sekali? Apa ibumu tidak pernah mengajarimu cara bersikap baik pada perempuan?" tanya Kaito pelan namun tegas, ia menatap Hiruma tak kalah galak. Mamori sedikit terkrjut dengan kata-kata Kaito, berani sekali ia menegur Hiruma.
Mendengar kata-kata pria itu, Hiruma menggeram, gigi-giginya bergemeletuk, dan tangannya mengepal, "apa pedulimu dengan ibu sialanku? Lepaskan tangan sialanmu dari manajer sialan!" Hiruma menembakan senjatanya kearah Kaito, membuat pria itu sedikit bergidik dan langsung melepaskan tangannya.
"Hiruma-kun hentikan!" Mamori setengah berteriak mengimbangi suara senjata Hiruma.
"Tidak usah banyak bicara manajer sialan. Kau tidak tahu bocah-bocah sialan itu sudah mulai minum air laut karena kau terlalu lama?" bentak Hiruma tajam.
"iya, iya baiklah," Mamori segera pergi dari sana dan mengambil minuman untuk teman-temannya.
Hiruma dan Kaito sempat beradu pandang sinis sekali lagi sebelum ia kembali menuju teman-temannya. Sedangkan Suzuna masih membeku di tempat menyaksikan drama perebutan seniornya tadi.
"Siapa pria kasar itu? Berani sekali dia memanggil Mamo-chan dengan panggilan sialan!"
Suzuna terkesiap saat Kaito menanyainya, ia menatap bola mata berwarna ungu gelap milik pria itu, "kau bertanya padaku?" Suzuna menunjuk dirinya sendiri.
"Kau pikir siapa lagi?" Kaito balik bertanya.
Mendadak antena di kepala Suzuna menegak, dan bergerak-gerak dengan lincah, "You-nii… Dia calon pacar Mamo-nee!" jawab Suzuna bersemangat, "fufufufu…. Sepertinya akan menarik," ia tersenyum licik.
"Calon pacar?" gerutu Kaito.
"Kau sendiri? Memangnya kau siapanya Mamo-nee?" Suzuna menghentikan tawanya dan kembali menatap Kaito, kali ini pandangannya sedikit galak.
"Aku?" Kaito tersenyum, "Mamo-chan dulu pacarku, tapi kami berpisah waktu aku pindah kemari," jawabnya tanpa menatap suzuna.
"You-nii punya saingan. Dia harus kuingatkan!" kata Suzuna heboh kemudian melepas in-line skate-nya dan segera menyusul teman-temannya, "You-nii….!" panggil Suzuna setengah berteriak.
"Apa cheer sialan? Daripada kau bikin ribut disini, lebih baik kau bantu si manajer sialan supaya pekerjaannya lebih cepat. Kau tidak mau kan, eyeshield 21 idolamu itu mati kehausan?" balas Hiruma bahkan tanpa menoleh kearah suzuna.
"Aku punya berita heboh buatmu, You-nii…," kata Suzuna sembari duduk di samping Sena.
"Aku tidak butuh berita sialan yang tidak bisa kujadikan bahan ancaman," jawab Hiruma cuek.
Suzuna menggelembungkan pipinya, kau pasti akan menyesal You-nii, pikirnya, " ya sudah kalau tidak mau tahu," akhirnya Suzuna kembali beranjak dari tempatnya, ia menyusul Mamori mengambilkan minum.
"Ne, Mamo-nee yang tadi itu siapa?" Suzuna bertanya saat ia dan Mamori membawakan minum untuk teman-temannya.
"Kaito, namanya Nauki Kaito, dia kenalanku," jawab Mamori singkat.
"Cuma kenalan? Kelihatannya kalian akrab…?" antena di kepala Suzuna mulai bergerak lagi, wajah cantik gadis itu menyeringai senang menggoda seniornya itu.
"Tentu saja Suzuna-chan, memangnya apa lagi?" Mamori balik bertanya dengan sedikit tegas. Suzuna hanya kembali menyeringai tapi tidak menanggapi perkataan Mamori barusan, karena mereka sudah berada diantara teman-temannya yang lain.
"Setelah sarapan nanti, kalian semua kuizinkan buat jalan-jalan, tapi tepat jam 3 sore latihan kembali dimulai, dan kalau ada yang berani terlambat. Begitu tiba di Deimon kalian akan jadi menu makan malam Cerberus," intruksi Hiruma saat mereka semua mendapatkan jatah minum dari Mamori dan Suzuna.
"Ah… Akhirnya, setelah ini ayo kita cari tempat makan yang enak," ajak Kurita pada teman-temannya.
"FUGO!" tanggap Komusubi.
"Cari game center saja," usul Kuroki.
"Lebih baik belanja komik," sahut Toganou
"Monta, nanti mau kemana?" tanya Sena sambil melirik Monta yang tengah meneguk minumannya.
"Entahlah, tapi sepertinya tidak usah main terlalu jauh, bagaimana kalau nanti kita tersesat?" usul Monta serius.
"Ahaha… Kalau itu sih serahkan saja padaku, selama ada aku yang jenius ini, kalian tidak akan tersesat," kata Taki dengan Pdnya sambil berputar-putar tidak jelas.
"Mustahil…!" jawab yang lainnya kompak minus Hiruma, Musashi, dan Mamori.
"Kau sendiri mau kemana Hiruma?" tanya Musashi.
"Aku akan mencari tempat yang bagus buat latihan nanti sore," Hiruma beranjak dari tempatnya dan melangkah masuk ke panginapan. Teman-temannya yang lain kemudian mengikuti.
Akhirnya liburan dimulai. Semua pemain Devil Bats berpencar menjelajahi tempat-tempat menarik di daerah itu, karena semalam mereka semua tertidur, mereka tidak tahu apa nama daerah yang mereka pijak. Tapi dimanapun sekarang mereka, mereka tahu kalau tempat ini adalah tempat wisata. Banyak yang menjajakan souvenir khas pantai yang bisa mereka bawa pulang sebagai oleh-oleh. Menarik.
"Tumben sekali, Hiruma-kun mengajak kita ke tempat menyenangkan seperti ini," kata Mamori saat ia bersama Suzuna, Sena, Monta dan Taki melihat-lihat salah satu toko souvenir.
"Iya benar, dan tumben juga You-nii memberikan kita wakti untuk jalan-jalan," balas Suzuna.
Mamori tersenyum kecil, entah kenapa ia jadi kepikiran Hiruma. Orang itu, biarpun membiarkan teman-temannya bersantai, dia tetap fokus pada latihan, "sepertinya aku harus membantunya," gumam Mamori pelan.
"Kau bilang apa, Mamo-nee?" tanya Suzuna yang hanya mendengar separuh dari perkataan Mamori.
"Tidak, bukan apa-apa. Kalian lanjutkan saja jalan-jalannya, aku akan menemui Hiruma-kun," jawab Mamori berpamitan pada teman-temannya.
"Cie Mamo-nee…. Ingin berduaan dengan You-nii ya… fufufu," Suzuna tertawa licik dengan antena yang berkeliaran kasana-kemari.
"Eh, bu-bukan begitu, aku hanya ingin membantunya saja, aku kan manajer," jawab Mamori agak gugup, "Sudah ya, kalian bersenang-senanglah, ja ne," malaikat itu melambaikan tangannya sambil berlari-lari kecil menuju penginapan. Sementara Monta berdecak kesal karena gagal membuat moment romantis bersama gadis pujaannya itu.
Baru saja Mamori akan memasuki penginapan, tangannya terasa ditarik seseorang hingga membuatnya hampir kehilangan keseimbangan, untung saja Mamori tidak terjatuh. Mata biru gadis itu menangkap sosok pria yang ia temui tadi pagi tengah tersenyum menatapnya, ia masih memegangi tangan Mamori erat.
"Kaito-kun, apa yang kau lakukan? Aku kaget sekali!" protes Mamori sebal. Semantara pria di depannya itu hanya tersenyum kecil.
"Tidak boleh ya? Aku kan ingin bertemu denganmu, sudah lama kan kita tidak seperti ini?" mata ungu itu menatap biru sapphire milik Mamori.
"Em, bisakah kau lepaskan tanganmu?" Mamori mengalihkan pembicaraan. Entah kenapa ia merasa tidak enak tangannya terus digenggam Kaito.
"Takut pacarmu yang galak itu marah ya?" Kaito sedikit menyindir tapi tidak melepaskan tangannya.
"Eh, bu-bukan. Enak saja, sejak kapan Hiruma-kun jadi pacarku?" meski berusaha menutupinya, tapi semburat merah di pipi malaikat itu tetap terlihat sedikit, "apa yang kau lakukan disini, kaito-kun? Terakhir kali, aku dengar kabar kau tinggal di Osaka," Mamori mengalihkan perhatian.
"Wah, jadi kau masih memikirkan aku ya," Kaito menjulurkan lidahnya. Mamori tersenyum, lucu sekali. Kaito makin imut sejak terakhir kali mereka bertemu sekitar tiga tahun lalu, "aku memang di Osaka, tapi selama libur sekolah. Aku baito di penginapan ini, yah, milik pamanku sebenarnya, dan sepertinya aku lebih banyak bermain dibandingkan bekerja, haha…," pria itu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Sekali lagi, Mamori tersenyum. Ia memandangi Kaito, mata dan rambut berwarna ungu gelap yang dulu sangat ia sukai, wajahnya yang tampak menggemaskan diusia tujuh belas tahun, "kau tidak banyak berubah ya, hanya saja sekarang kau tambah tinggi," kata Mamori setelah selesai dengan sesi penilaiannya.
"Hahaha… Tentu saja, aku kan selalu makan makanan bergizi!" jawab Kaito sekenanya, "sekarang bagaimana kalau kita jalan-jalan? Akan kutunjukan tempat-tempat menarik yang harus kau datangi, ayo..,"
"Eh.. Kaito-kun tidak bisa, aku harus-hey, tunggu dulu jangan menarikku!"
Kaito tidak mendengarkan satu hurufpun dari perkataan Mamori, ia terus menarik tangan Mamori dan jalan-jalan ke tempat yang menarik. Mamori sendiri sebenarnya agak berat. Padahal tadi ia ingin menemui Hiruma. Benar, bagaimana kalau ketahuan Hiruma? Siapa peduli. Inner Mamori memutuskan. Akhirnya ia lebih memilih menikmati perjalanannya dengan Kaito. Rasanya seperti kembali ke masa tiga tahun silam, saat mereka masih selalu menghabiskan waktu bersama.
Tak jauh dari tempat Mamori, tampak sesosok setan berambut spike pirang tengah menyeringai sinis, "keh, manajer jelek itu. Awas saja kalau dia telat buat latihan. Akan kubakar dia hidup-hidup," ujarnya sembari memamerkan deretan giginya yang runcing dan tajam. Matanya yang berwarna hijau ermald terus memperhatikan gerak-gerik sang malaikat. Sebuah pistol dengan sepuluh amunisi tergenggam di tangannya. Kalau pria itu berani macam-macam pada manajernya, maka Hiruma akan langsung melepaskan pelurunya pada Kaito.
Membosankan, awalnya pikiran Hiruma berkata seperti itu. Tidak menguntungkan sama sekali mengintai manajernya dan Kaito jalan-jalan, tidak ada yang menarik. Ia memejamkan mata hijaunya sejenak.
"Akh… Kaito-kun!"
Telinga elf milik setan itu berkedut mendengar jeritan sang manajer. Gelembung permen karet di mulutnya mendadak meletus, dan terlihat kilat kemarahan di mata hijau sang setan saat mata itu terbuka, meski hanya sekilas. Dengan cepat ia keluar dari persembunyiannya yang di atas sebuah batu besar.
Hiruma melompat dan mendarat dengan sangat akurat tepat di depan mereka. Ia mengarahkan pistolnya ke kepala Kaito, pandangannya masih terlihat galak, meski setan itu menutupinya dengan poker face andalannya. Ia kembali membuat gelembung dari permen karet di mulutnya.
"Apa-apaan kau?" Kaito sempat terkejut melihat Hiruma yang tiba-tiba menodongkan pistol padanya.
"Hiruma-kun," panggil Mamori.
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa kau menjerit tadi, manajer sialan?" tanya Hiruma tanpa memperdulkan reaksi dua orang itu.
"Kami jalan-jalan, singkirkan senjatamu dari kepalaku!" jawab Kaito tegas.
"Tidak ada apa-apa Hiruma-kun, tadi Kaito-kun mengagetkanku, jadi aku sedikit menjerit. Kau ke sini karena mendengar jeritanku?" Mamori menatap mata Hiruma penuh harap. Entah kenapa ia merasa senang kalau Hiruma datang karena mengkhawatirkannya.
"Cih, aku sedang tiduran di sana tiba-tiba mendengar suara sialanmu, manajer sialan. Kukira kau digigit ikan hiu, ternyata kau sedang kencan sialan dengan pria sialan ini," jawab Hiruma sambil menarik pistolnya, "sejak kapan kau mau jalan dengan orang yang baru kau kenal manajer sialan, seperti wanita rendahan saja?"
"Jaga bicaramu! Dan jangan panggil Mamo-chan dengan panggilan seperti itu. Asal kau tahu saja, aku pacar Mamo-chan," kata Kaito seraya menatap Hiruma galak.
Hiruma terkejut, tapi wajahnya tidak menunjukan sedikitpun ekspresi mikro, setan itu benar-benar sudah sangat ahli menutupi emosinya.
"Eh, bu-bukan begitu. Aku dan Kaito-kun sudah tidak berhubungan lagi sejak dia pindah. Tiga tahun lalu, benar kok!" kata Mamori tiba-tiba. Ia sendiri tidak mengerti kenapa ia harus menjelaskannya.
"Oh… Terus kenapa, kau pikir aku peduli. Kau tidak perlu menjelaskan padaku, kau pikir kau siapaku?"
DEG
Hati Mamori mencelos mendengar ucapan Hiruma, entah kenapa rasanya sakit sekali. Benar, memang dia siapanya Hiruma?
"Tapi karena latihan sialan dimulai sebentar lagi, kau harus kembali dan mengawasi latihan bocah-bocah sialan itu!" tanpa aba-aba Hiruma langsung merenggut tangan Mamori dan sedikit menyeretnya menjauh dari Kaito.
"Eh, Hiruma-kun hentikan!" Mamori rasanya sebal sekali, tadi Kaito yang menariknya, sekarang Hiruma.
"Diam manejer bawel!" tukas Hiruma tanpa menatap Mamori. ia bisa merasakan gigi-giginya bergemeletuk karena menahan emosi. Menyebalkan.
"Kau itu sok sekali! Jangan perlakukan Mamo seperti itu!"
Hiruma berhenti melangkah mendengar suara Kaito. Ia menoleh dengan cepat dan menatap tajam mata ungu tua Kaito, "apa urusanmu, cowok sialan? Mau kuapakan dia tidak ada urusannya denganmu!" Hiruma mempererat cengkramannya di tangan Mamori, hingga membuat gadis itu meringis menahan sakit.
"Tentu saja ada. Kau tidak dengar tadi aku bilang apa? Mamo-chan pacarku!" kata Kaito tegas.
"Cih," Hiruma berdecak kesal kemudian meraih pistolnya.
DOR
"Tidak usah sok mengaturku. Kau bahkan tidak mengenalku, kalau kau berani bicara macam-macam lagi, isi otakmu akan kukeluarkan!" ancam Hiruma serius.
Kaito sedikit bergidik mendengar ancaman Hiruma, ia tahu pria itu tidak bercanda dengannya.
Sementara Hiruma masih tetap menarik tangan Mamori sampai keduanya benar-benar jauh dari Kaito.
"Hiruma-kun lepaskan, sakit sekali!" Mamori sedikit meronta. Pria itu melepaskan genggamannya dengan cepat. Ia tidak sadar kalau mencengkram tangan Mamori terlalu keras. Ia menatap Mamori datar.
"Kita datang ke sini untuk melatih bocah-bocah sialan itu. Bukan untuk jalan-jalan dengan pacar sialanmu itu!" kata Hiruma datar, namun tegas.
"Iya maafkan aku, aku kan tidak sengaja bertemu dengannya," jawab Mamori pelan.
"Cih, tapi kau senangkan bisa berduaan dengan pacar sialanmu itu. Kau pasti tidak suka acaramu diganggu," Hiruma berdecak seraya mengalihkan pandangannya.
"Ti-tidak kok, dan satu lagi ya, Kaito itu sudah bukan pacarku lagi!"
"Dia pacarmu atau bukan kau pikir aku peduli!" Hiruma berbalik kemudian mulai berjalan meninggalkan Mamori.
"Eh, Hiruma-kun mau kemana? Kau bilang latihan sebentar lagi dimulai?" tanya Mamori sembari mengimbangi langkah Hiruma. Hiruma tidak menjawab pertanyaan Mamori, pura-pura tidak mendengarnya, "hey, Hiruma-kun dengar aku tidak?"
"Cerewet manajer jelek! Pokoknya kalau kau sampai tidak mengurusi bocah-bocah sialan karena pacar sialanmu itu aku akan membuangmu ke laut!" jawab Hiruma seenaknya.
"Hey!" Mamori menarik lengan kaos Hiruma, berusaha menghentikan langkah pria itu. Ia menatap Hiruma tajam tapi menghangatkan, "kau ngambek? Marahmu tidak seperti biasanya?" tanya Mamori setelah berhasil mendapatkan perhatian pria itu.
Hiruma sejujurnya agak terkejut dengan pertanyaan Mamori. Ngambek? Karena apa? Hiruma bingung sendiri, ia tidak merasa ngambek pada Mamori, ia membalas tatapan Mamori, "ngambek karena apa manajer sialan? Kau berharap aku cemburu karena kau bertemu dengan mantan pacar sialanmu itu?" tanya Hiruma balik. Ia tidak sadar sekarang sudah menambahkan kata 'mantan' pada panggilan untuk Kaito.
"Siapa tahu…," Mamori mengangkat bahu.
"Kichigai! Jangan harap!" jawab Hiruma tajam dengan poker face andalannya, "sekarang lepaskan tangan sialanmu dari kaosku, kau membuatnya melar!"
"Gomen," jawab Mamori kemudian melepaskan tangannya, ia memandang Hiruma yang mulai berjalan menjauh darinya. Mamori menghela nafas berat, ia merutuki dirinya karena menanyakan hal bodoh macam tadi pada Hiruma. Memangnya Hiruma siapa? Mana mungkin dia cemburu.
"Sedang apa kau manajer sialan? Ayo latihan!"
Mamori menoleh kearah Hiruma yang masih berjalan membelakanginya, ia tersenyum kecil kemudian menyusul Hiruma.
"Jangan lambat, bocah-bocah sialan!" teriak Hiruma saat mereka mulai joging menyusuri jalanan kecil di belakang penginapan.
"Yay~ Ayo Devil Bats….!" Suzuna bersorak memberikan dukungan, disebelahnya Mamori tampak memandangi mereka satu persatu, kemudian matanya berhenti saat menangkap sosok kaptennya yang berlumuran keringat, membuatnya tampak lebih err… keren?
"Monyet sialan, zig out!"
"Mukya!" Monta menjerit mendapat perintah tiba-tiba dari Hiruma. Ia melompat menghindari peluru milik kaptennya.
"Botak sialan, slant!"
"Baik,"
"Cebol sialan lebih cepat!"
"Hiieee….. Iya, baik Hiruma-san!" Sena dengan segera menambah kecepatannya sebelum tubuhnya terkena rentetan peluru dari Hiruma.
"Gendut, sedang apa kau? Dasar lambat!"
"Maafkan aku Hiruma, sepertinya aku kebanyakan makan tadi," Kurita terlihat kepayahan mengimbangi langkah teman-temannya yang lain. Ia bahkan tidak bisa menghindar dari muntahan peluru setan itu.
"Idiot sialan, quick out!"
"Ahaha… Serahkan saja padaku!"
Mamori tertawa kecil melihat mereka semua, "Hituma-kun semangat sekali," ucapnya pelan.
"Iya, You-nii benar-benar semangat hari ini," balas Suzuna.
"Cukup, bocah-bocah sialan!" intruksi Hiruma kemudian disambut dengan helaan nafas lega teman-temannya.
Seperti tadi pagi, mereka semua terkapar sambil menerima uluran minuman dari Mamori dan Suzuna, sekali lagi Mamori melirik Hiruma yang tengah mengelap keringatnya dengan punggung tangan. Ia terlihat lelah, pemandangan yang jarang sekali bisa dilihat. Ia tersenyum kecil.
"Minum dulu, Hiruma-kun," Mamori mengulurkan sport drink pada setan itu. Hiruma menoleh kemudian menyambar minuman itu tanpa bicara apapun. Ia langsung meneguknya.
"Minna, makan malam pesanan kalian sudah siap!"
Semuanya menoleh kearah suara. Terlihat di mata mereka sosok cowok dengan seragam pegawai penginapan hendak menghampiri mereka. Rambut dan mata ungunya terlihat sedikit bersinar terkena pancaran matahari sore.
"Tch," Hiruma berdecak kecil, "satu putaran lagi, bocah-bocah sialan!" perintahnya.
"HIIIEEE….!"
"Hiruma-kun, kau bilang tadi cukup. Jangan terlalu keras pada teman-temanmu!" protes Mamori. Ia berkacak pinggang di depan Hiruma.
"Tidak usah cerewet manajer sialan. Kalau kubilang satu putaran lagi, itu artinya satu putaran lagi. Cepaatt….!" Hiruma menembakan senjatanya membuat semua anggota Devil Bats langsung melaksanakan perintah kapten mereka karena tidak mau jadi korban keganasan peluru milik the commander from hell itu.
"Gyahaha… Hiruma benar-benar semangat ya," kata Doburoku-sensei sambil meneguk sakenya.
"Hm…? Bukannya sedang marah ya?" celetuk Musashi pelan sambil mengorek telinganya, ia kemudian bergabung dengan teman-temannya yang sudah mulai berlari.
Mendengar perkataan Musashi, 'antena cinta' di kepala Suzuna langsung menegak dan bergerak lincah kesana-kemari, awalnya menunjuk Hiruma kemudian Kaito yang masih mematung ditempatnya, lalu ke Mamori yang tengah sibuk melindungi teman-temannya dari serangan Hiruma.
"You-nii... Jangan-jangan kau….?" Suzuna kembali menunjuk-nunjuk tiga orang itu dengan antena-nya sambil mendekati Hiruma, "benarkan You-nii, kau cemburu? Keu cemburu? Kau cemburu?" ia bertanya dengan antusias. Tidak sayang pada nyawanya sendiri.
Tiga sudut siku-siku terlihat di atas pelipis sang setan saat mendengar kata-kata Suzuna, "bicara apa kau, cheer sialan? Kau pikir buat apa aku cemburu pada orang-orang sialan itu? Kau sudah bosan hidup, hah?" sang setan kembali menembakan senjata kesayangannya, kali ini targetnya adalah Suzuna.
"Kya~" gadis berambut biru gelap itu melompat dan berlindung di belakang Mamori.
"Hiruma-kun, kau bisa membuat Suzuna-chan terluka, hentikan!" Mamori kali ini benar-benar berteriak, mencoba mengalihkan perhatian pria setan itu dari keasikannya menyiksa teman-temannya.
"Dasar dua cewek sialan!" umpat Hiruma kesal, "kau, cheer sialan. Berani mengatakan hal-hal sialan seperti itu lagi, aku akan memenggal kepalamu dan menyerahkannya pada Cerberus.
Suzuna bergidik, begitu juga Kaito yang mendengar ancaman Hiruma. Sekali lagi, tidak ada kepura-puraan dalam ancaman pria itu.
"Cih," Hiruma berdecak kecil. Ia kemudian melirik Kaito yang tengah memandanginya dengan pandangan yang bisa dibilang, takut.
"Lihat apa kau, cowok sialan disana? Kembali ke penginapan sialanmu, atau aku akan menyuruh pemilik penginapan sialan itu memecatmu!" kata Hiruma tegas, dan seenaknya.
Kaito menelan ludah kemudian berbalik, "dia setan," ia bergumam pelan.
"Hiruma-kun," panggil Mamori sembari mengetuk pintu kamar Hiruma.
Sore itu, hari kedua mereka liburan. Hiruma memberikan waktu bebas pada teman-temannya. Seluruh anggota Devil Bats menyambutnya dengan sangat antusias. Setidaknya, sebelum mereka tahu bencana apa lagi yang akan mereka hadapi nanti.
"Hiruma-kun," sekali lagi Mamori mengetuk pintu kamar Hiruma saat si pemilik kamar tidak menanggapinya.
"Hiru-"
"Apa, manajer sialan? Berisik sekali kau!"
Mamori bisa merasakan jantungnya hampir copot melihat Hiruma yang tiba-tiba berdiri di depannya. Pria itu hanya membuka sedikit pintu kamarnya. Mamori memandangi Hiruma dari atas sampai bawah, rambut pria itu tampak berantakan dan matanya terlihat sayu, baru bangun tidur? Pikirnya.
"tch, kau menggangguku cuma untuk melihatku seperti itu, heh, manajer sialan?" tanya Hiruma ketus.
Mamori tidak meanggapinya, atau mungkin ia tidak dengar apa yang dikatakan Hiruma.
"Akan kututup," kata Hiruma kemudian mulai beranjak dari tempatnya dan mendorong pintu kamarnya.
Mamori sedikit terkejut, kemudian menggelengkan kepalanya kuat-kuat, "eh… Hiruma-kun tunggu dulu!" katanya. Telapak tangan kanannya menahan pintu yang siap ditutup Hiruma.
Pria itu kembali membuka pintunya, kali ini lebih lebar, "apa?" tanyanya.
"Persediaan obat-obatan habis, ini karena kau memaksa mereka latihan terlalu keras kemarin, dan aku yakin habis ini kau masih punya porsi latihan yang lebih gila," Mamori sedikit protes.
"Oh," hanya itu jawaban yang keluar dari mulut sang setan, "kalau begitu tinggal beli saja," lanjutnya, "sekalian permen karet,"
"U-"
"Pakai uangmu dulu, meskipun aku tidak menjamin akan mengembalikannya, kekekeke…."
"Mou, Hiruma-kun! Kau memerasku!" Mamori menggelembungkan pipinya, menandakan ia sangat kesal.
"Kekekeke….. Jadi cewek memang harus bisa dimanfaatkan begitu. Kekekeke….." Hiruma malah tertawa makin keras seraya melangkah masuk kamarnya. Pria itu menutup pintu kamarnya dengan sekali hentakan.
"Hiruma-kun baka!" gerutu Mamori sambil melangkah pergi dari kamar setan itu.
Ia keluar dari penginapan dan memandangi sekeliling, mencari teman-temannya. Meskipun hasilnya nihil. Sepertinya teman-temannya yang lain terlalu asik memanfaatkan waktu luang yang diberikan kapten mereka.
"Hufht," Mamori mendengus kesal. Ia berfikit kemana harus pergi mencari obat-obatan, juga permen karet? Mamori menggeleng frustasi. Sebelum ingatannya membentur nama seorang cowok, "benar, minta Kaito-kun mengantarku saja," ia menjentikan jarinya. Kemudian mengelilingi penginapan mencari sosok pria itu.
"Ah, Kaito-kun!" Mamori setengah berteriak memanggil cowok itu. Pria berambut ungu itu menoleh saat Mamori melambaikan tangan padanya. Ia sedikit berlari mendekati Mamori.
"Ada apa, Mamo-chan?" tanyanya saat ia tiba di depan Mamori.
"Uhm, kau tahu dimana apotek? Atau apapun yang menjual obat-obatan?"
"Tentu saja, ayo aku antar," Kaito mengulurkan tangannya pada Mamori.
"Tidak perlu, aku beli sendiri saja. Kau beritahu saja dimana tempatnya," tolak Mamori. Gadis itu bersenyum kecil pada Kaito. Meskipun mirip sebuah senyum palsu.
"Sebentar lagi gelap, aku tidak mungkin membiarkanmu pergi sendiri," Kaito mulai meraih tangan Mamori.
"Eh, tidak perlu, aku-" sekali lagi Kaito menarik tangan Mamori, membawanya menjauh dari penginapan.
Dari salah satu sudut jendela di penginapan itu. Tampak sesosok setan tengah memamerkan deretan giginya yang runcing, seolah siap mengoyak mangsanya hidup-hidup.
Mamori dan Kaito keluar dari sebuah mini market. Obat-obatan sudah lengkap, dan perman karet juga sudah dapat. Keduanya melangkah menyusuri jalan kecil yang sebenarnya bukan menuju kearah penginapan. Kaito yang mengarahkan Mamori untuk lewat jalan itu, ia ingin jalan-jalan sebentar lagi dengan gadis ini sebelum setan berambut pirang itu mengganggunya.
"Mamo-chan, kau mau dango?" tawar Kaito.
"Uhm, boleh juga, dimana yang jual dango?" Mamori memutar matanya, mencari sebuah kedai penjual makanan itu.
"Kau tunggu disini, akan kubelikan, yang jual dango disebelah sana," Kaito menunjuk kearah sebuah belokan. Mamori mengangguk karena memang ia sudah mulai merasa lapar. Sepertinya sebentar lagi waktunya makan malam.
Tak lama satelah Kaito menghilang dari pandangannya, Mamori merasakan handphonenya berdering. Sebuah panggilan masuk. Ia menerimanya.
"Moshi-moshi," sapa Mamori.
"Kau beli obat di Kutub Utara ya, manajer sialan? Kenapa lama sekali?" terdengar suara seorang setan membentaknya dari seberang telpon. Mamori sedikit menjauhkan handphonenya dari telinga. Ia tidak mau pendengarannya terganggu gara-gara ulah si setan.
"Gomenasai, Hiruma-kun," jawab Mamori pelan, "tadi Kaito-kun mengajakku jalan-jalan sebentar,"
"Cih, kau tidak tahu kalau bocah-bocah sialan itu sudah merengek karena kau tidak ada? Monyet sialan bahkan sudah hampir mati karena memikirkanmu!"
"Aku kan sudah minta maaf,"
"Sejak kapan aku menerima permintaan maaf? Pokoknya sekarang juga kau pulang!" Hiruma memutuskan. Nada bicaranya tidak bisa dibantah.
"I-iya, Hiruma-kun tapi Kaito-kun-,"
"Siapa peduli dengan bocah sialan itu?"
Mamori bergidik ngeri mendengar perkataan Hiruma. Sekali lagi ia merasa kemarahan Hiruma seperti tidak wajar, "baiklah," jawab Mamori akhirnya.
Ia memutuskan sambungan telpon dan menulis pesan singkat untuk Kaito. Kemarin untungnya dia ingat untuk meminta nomor Kaito.
Setelah memastikan pesan pada Kaito terkirim. Mamori melangkah dengan cepat melewati jalan yang tadi ia lalui dengan Kaito. Matahari semakin tidak terlihat. Mamori terus berjalan, makin cepat, ia tidak mau Hiruma dan teman-temannya yang lain terlalu lama menunggu.
Gadis itu menghentikan langkahnya sejenak untuk mengambil nafas, ia kemudian memandangi sekeliling. Tempat yang tampak asing baginya. Rasanya ia tidak lewat sini saat berangkat dengan Kaito tadi. Dari ufuk barat, matahari mulai meninggalkan singgasananya. Melukis semburat warna oranye di sudut lautan.
Jantung Mamori berdegup dengan cepat. Gadis itu bahkan bisa mendengar dengan jelas suara jantungnya yang keras, "dimana ini?" ia bertanya entah pada siapa.
Tsuzuku
Haah….. Rasanya cerita ini makin gaje aja,hehehe…. Humornya juga sama sekali gak kerasa. Sepertinya, chap depan fic ini akan owari, daripada nanti ceritanya tambah gak mutu. Dan saia juga sepertinya kehabisan ide :P hahaha...
Oke, silahkan tinggalkan reviewnya…. Kritik, sara, flame, dan semua yang ada dipikiran readers saat membaca fic ini
R
E
V
I
E
W
Please,please,please…
