Gintama by Hideaki Sorachi

Yuri presents

Office Hours Chapter 2: Sacchan si Mata-mata!

Warning: OOC, abal, alur kecepetan, dll. Silakan klik tombol 'Back' kalo kamu udah ga sreg baca. Hehe :D

A/N: Ingat, ini Gintama. Apapun bisa terjadi di sini. Animenya aja bisa nyeleneh, apalagi fanficnya?

_OfficeHours_

Bukan rahasia lagi Sakata Gintoki, direktur muda berumur tiga puluh tahun itu memiliki banyak penggemar. Hampir seluruh karyawati di Sakata Advertise Co. Ltd., terutama yang berstatus single, mengaguminya. Tampan, muda, berkharisma, memiliki jabatan, dan mampu menarik perhatian itulah beberapa kelebihan yang dimiliki oleh Gin. Siapa coba yang tidak kepincut?

Oh, bahkan author cerita fiksi ini pun tergila-gila dengan karakter Gin yang dia ciptakan sendiri. Serius.

Gin memang tipikal pria idaman, untuk sekarang dan masa depan. Karyawati yang mengaguminya pun tidak terhitung lagi. Bedanya, ada yang terang-terangan, ada yang sembunyi-sembunyi. Ada yang dengan lantang menyatakan, ada yang cukup cinta dalam hati.

Yang cinta dalam hati sih, biasanya karena sudah terlanjur punya pasangan. Dan sepertinya mereka sedikit menyesali keputusan mereka menjadikan suami mereka sebagai pilihan. Ini semua gara-gara pesona maut Gin yang ampun-ampunan.

Termasuk karyawati jomblo di bagian periklanan, yang menurut Gin, berbahaya. Gadis cantik berkacamata dan berambut ungu lurus jatuh, Sarutobi Ayame. Karena dia mudah akrab dengan orang lain, rekan-rekannya memanggilnya Sacchan.

Saking bahayanya, terutama untuk jantung Gin, Sacchan masuk ke dalam daftar karyawan yang tidak akan Gin hubungi secara langsung. Bila butuh apa-apa, Gin akan meminta bawahan Sacchan untuk menyampaikan pesannya. Kecuali jika kondisinya darurat, barulah Gin akan memanggil Sacchan secara langsung. Secara gitu lho, Sacchan kan team leader bagian periklanan.

Sacchan itu selalu nongol tiba-tiba. Tanpa hawa, tanpa suara. Ngakunya sih belajar teknik ninja, entah di desa mana. Karena kemampuannya itulah yang membuat Gin parno luar biasa.

Rahasia kecil nih ya, Gin itu takut sama setan.

Makanya dia tidak tahan mengalami shock therapy di setiap kemunculan Sacchan. Horor nian.

Ditambah lagi Sacchan sangat memuja Gin. Dia bilang, dia naksir Gin bukan karena faktor-faktor yang dilihat orang kebanyakan. Melainkan karena Gin mirip dengan tokoh fiksi ciptaan mangka yang memakai inisial gorila. Dulu Sacchan memang otaku sejati, namun semua berubah ketika pesona Gin sukses menancap di hati.

Seperti pagi ini, di rapat bulanan rutin. Sacchan sering salah fokus karena terperangkap oleh pesona menggoda Gin. Cuap-cuap bosnya itu bagaikan lullaby di telinganya, sangat menenangkan. Membuatnya keranjingan.

Kalau sudah begini, Hatori Zenzou yang harus turun tangan. Dia harus mengembalikan rekannya itu ke dunia nyata. Dari mulai mencubit, menjewer, menarik rambut, mencabut bulu kaki, pokoknya hal-hal sadis demi membawa Sacchan kembali dari dunia fantasi.

Jangan mengira Gin tidak tahu. Gin tahu, kok. Zenzou ribet sendiri demi menyadarkan rekannya, makanya Gin diam saja. Gin lelah dengan kelakuan Sacchan, jadi dia membiarkannya selama itu tidak mengganggu rekan-rekan yang lain. Lagipula, biarpun otak Sacchan suka menerawang liar ketika rapat, dia punya pendengaran serta daya ingat yang tajam. Keluar dari ruangan rapat pun Sacchan hapal semua petuah yang diberikan oleh Gin.

"Rapat pagi ini saya tutup. Terima kasih dan selamat kembali bekerja."

Satu per satu para karyawan meninggalkan ruang rapat. Zenzou masih sibuk menjenggut rambut Sacchan.

"Woy, Sarutobi, rapatnya udah selesai. Sadar, woy!" Zenzou setengah berteriak. "Ya ampun, ini bocah otaknya makin korslet dari hari ke hari," gerutunya.

"EHEM!"

Akhirnya sang direktur turun tangan.

Sacchan terbangun dari mimpi indahnya. "Eh? Lho? Rapat udah kelar? Zenzou, kenapa nggak ngomong dari tadi sih? Kan malu dilihatin Pak Gin sampai segitunya!"

"Oh, udah sadar ya? Baru aja matamu mau kucolok pakai kunai," kalem Zenzou.

"Terima kasih atas kerja kerasmu, Hatori." kata Gin.

"Itu sudah menjadi tugas saya, Pak." Zenzou menarik tangan Sacchan. "Buruan, kita udah ditinggal sama yang lain!"

Sacchan mendengus. "Iya, iya. Sabar dong!" Dia melirik Gin. "Sampai nanti, Pak Gin~"

"Ya, sampai nanti," jawab Gin malas. Seketika ia teringat sesuatu. "Ah, untuk Manajer Hijikata Toshirou, tolong jangan meninggalkan ruangan ini. Ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda."

Merasa namanya dipanggil–lebih tepatnya diberi titah–Toshi yang baru saja hendak keluar kembali duduk di kursinya. Ditatapnya sang bos besar dengan tatapan aneh.

Sacchan memandang Toshi cemberut. Yang dicemberutin sih masa bodoh. "Saya nggak disuruh tetap di sini nih, Pak? Nggak ada sesuatu yang mau Bapak diskusikan dengan saya?" tanyanya tidak mau kalah, alias kelewat pede.

"Nanti, suatu saat. Itupun kalau saya masih ingat kamu."

"Kyaaa! Bapak kejam tapi kereeeeen!" Sacchan fangirling-an seenak jidat. Zenzou tampaknya sudah tidak punya muka lagi untuk bertemu Gin. Sesegera mungkin dia menyeret kerah baju rekan sablengnya itu keluar. Dalam hati dia menyesal dulu merekomendasikan Sacchan masuk ke perusahaan ini. Semoga Gin masih berbaik hati agar tidak memecat Zenzou akhir bulan ini.

Semua karyawan sudah pergi, menyisakan Gin dengan Toshi.

"Duduknya ke sini dong, jauh-jauh amat." ujar Gin. Toshi pun pindah dari kursi paling ujung menjadi duduk di sebelah kursi direktur yang diduduki Gin.

"Mau ngomong apa?"

"Menurut kamu?"

"Kalau nggak ada yang penting, mendingan aku balik kerja. Proposal project baru yang kamu minta belum selesai tahu," tukas Toshi kesal.

"Please lah, lima meniiiiit aja,"

"Ya udah, cepetan!"

"Kamu cemburu ya, sama Sarutobi?"

Toshi kehilangan kata-kata.

Akh! Gin bego! Sudah jelas, kan? Kenapa pakai tanya segala?

"Nggak juga," kilah Toshi. Tsundere-nya kumat.

"Bohong kamu.." jawab Gin. "Kelihatan jelas kok, sorot matamu nunjukkin kamu pingin nelen dia bulat-bulat. Hehe.."

Toshi tidak menjawab. Gin dapat menangkap sorot mata biru baja itu berubah sendu. Pasti ada apa-apa, hanya saja tidak mau mengaku. Seperti perempuan.

Ralat, perempuan dan laki-laki sama saja. Ketika mereka sedang sedih tetapi tidak mau orang lain tahu, pasti akan bersikap sama.

"Maafin aku, yang. Seandainya aku nggak merekrut Sarutobi jadi karyawan, mungkin nggak akan begini jadinya..." Gin menggenggam erat telapak tangan Toshi yang dingin. "Aku nggak pernah menyangka Sarutobi bisa sampai segitunya. Kalau bukan karena aku merasa berhutang sama dia..."

"Lama-lama aku nggak tahan, Gin." Toshi bersuara pelan. "Rasanya kesal sekali, tapi aku nggak bisa berbuat apa-apa.."

"Yang..."

Toshi menundukkan kepalanya, menumpu keningnya dengan tangan kanan. "Aku nggak habis pikir dengan keadaan ini. Aku emosi, tapi aku nggak mau egois. Dia sudah menyelamatkan hidupmu, dia pantas menerima kebaikan darimu. Tapi... ini nggak adil buatku, Gin..."

Gin paham akan kesedihan kekasihnya. Gin ingin melakukan sesuatu, namun apalah daya segala kuasa yang dia miliki tak mampu dia lakukan.

Tidak ada yang tahu bahwa seorang Sarutobi Ayame yang dikenal masokis, genit, dan menyebalkan pernah sekali menyelamatkan nyawa Sakata Gintoki, jauh sebelum sang direktur memegang jabatannya saat ini.

Gin yang mabuk hampir ditabrak oleh truk. Jika bukan karena dorongan refleks dari Sacchan, mungkin sekarang Gin sudah duduk manis di alam baka, menunggu antrean masuk ke dalam neraka.

Sacchan terluka parah. Tangan kirinya patah. Gin yang belum mengenal Sacchan kala itu, berharap suatu hari nanti bisa bertemu kembali dengannya dan membayar hutang padanya. Gin bertekad bahwa apapun yang terjadi, ia tidak akan pernah mengabaikan kehadiran sang penyelamat hidupnya.

Namun siapa sangka kehadiran Sacchan terjadi di saat yang kurang tepat. Gin tidak pernah mempermasalahkan sikap genit gadis ungu itu, tetapi hal itu justru berimbas buruk pada Toshi, pria yang diam-diam menjalin hubungan kasih dengannya.

"Apa.. kita akui saja pada Sarutobi? Kurasa ini pilihan terbaik.." usul Gin.

Toshi melotot. "Ja-jangan! Apapun yang terjadi, pokoknya jangan!"

"Kenapa? Bukankah lebih baik begitu? Aku sedih tahu, liat kamu murung terus-terusan!"

Toshi termenung. Detik berikutnya, dia menghela nafas. Dia sudah mengambil keputusan.

"Aku takut kalau kamu mengakui hubungan kita, bisa-bisa kamu dilecehkan, Gin. Belum tentu juga Sarutobi bisa dipercaya. Seandainya dia nggak terima dengan kenyataannya bagaimana? Aku khawatir sesuatu yang buruk terjadi padamu..."

Gin tercengang, Toshi ternyata memikirkan dirinya sampai sejauh ini. Menandakan bahwa sekeras apapun Toshi enggan mengatakan cinta, pada akhirnya ia akan menunjukkannya. Lebih dari kata-kata.

Toshi tersenyum kecil. "Aku hanya harus lebih bersabar, Gin..."

Gin memeluk Toshi erat. Toshi membalas hal yang sama. Bersama dengan Gin, Toshi kuat. Bersama dengan Toshi, Gin merasa mampu melakukan apa saja.

"Terima kasih, Toshirou..."

_OfficeHours_

Sacchan kembali fokus pada pekerjaannya. Biarpun sekilas terlihat sulit diandalkan, kenyataannya Sacchan adalah karyawan yang profesional. Hasil kerjanya memuaskan, hingga tak jarang Gin keceplosan memberikan pujian.

Seorang klien mengirimkan e-mail penting. Sacchan membuka note pribadinya agar informasi yang diberikan oleh kliennya selalu dia ingat.

"Mana bolpoinku?"

Sacchan menggeledah meja dan bukunya, namun bolpoinnya tetap tidak ketemu. Langsung saja ia melesat ke ruang rapat, berharap bolpoin kesayangannya itu masih ada.

Beberapa langkah lagi tiba di ruang rapat, Sacchan dikejutkan oleh pemandangan yang baru pertama kali dia lihat.

Hijikata Toshiro, sang Manajer Pemasaran, keluar dari ruang rapat dengan wajah luar biasa memerah. Tangan kirinya digunakan untuk menutupi sebagian wajahnya. Toshi berjalan ke arah yang berlawanan dengan Sacchan, tampaknya ke arah toilet pria.

Sacchan mengerutkan keningnya bingung. Sejenak timbul kecurigaan dalam benaknya. Toshi baru saja keluar, itu berarti Gin masih ada di dalam...

Ah, baru saja dipikirkan, bos kesayangannya itu langsung keluar dari ruang rapat. Setelah menutup pintu, Gin nampak bergumam kecil lalu senyum-senyum sendiri. Beruntung Sacchan berdiri agak jauh, jadi Gin tidak menyadarinya. Gin berjalan ke arah yang sama dengan Toshi, menuju toilet pria.

Otak Sacchan berusaha mencerna apa yang terjadi. Apa maksudnya ini? Kenapa mereka memasang raut wajah seperti itu setelah berdiskusi secara pribadi? Setahu Sacchan, orang yang habis berbicara empat mata dengan Gin, akan kembali dengan raut wajah lesu. Entah karena dimaki-maki atau diberikan double job oleh sang bos besar. Tapi ini...?

Daripada menerka-nerka, Sacchan pun masuk ke ruang rapat, tak lupa menutup pintu. Diambilnya bolpoin yang tergeletak di meja tempatnya duduk tadi lalu dimasukkan ke dalam saku jas. Sacchan mendekati bagian meja paling ujung, tempat duduk khusus untuk Gin.

Kecurigaan Sacchan semakin besar, mengetahui ada dua buah kursi yang posisinya saling berhadapan. Mungkinkah diskusi antara Direktur dan Manajer harus berjarak sedekat ini? Mungkinkah sang Manajer tengah mengalami gangguan pendengaran sehingga harus mendekatkan telinganya ke sang Direktur?

Tidak. Bila itu memang terjadi, seharusnya Toshi menempatkan dirinya duduk di depan sedari awal. Bukan di ujung dekat pintu yang jelas-jelas berjauhan dengan Gin.

Mata Sacchan menangkap sebuah titik mengkilat di meja Gin. Titik itu adalah air. Tetapi seingatnya, selama rapat berlangsung Gin tidak minum air sama sekali, dan memang tidak ada gelas di mejanya. Mustahil juga Gin berkeringat, sebab suhu di ruang rapat sangat dingin.

Lalu ini air apa?

Dengan menyingkirkan rasa jijiknya, Sacchan mencolek setitik air itu lalu dijilatnya. Bola mata Sacchan terbelalak. Tepat seperti dugaannya, air itu terasa asin.

"Ini... air mata," gumamnya tidak percaya. "Kak Hijikata... kamu...,"

Sacchan menggeleng kencang. Benar, ini belum saatnya. Masih terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan. Bisa saja ini semua hanyalah kebetulan. Ya, kebetulan, meski ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sacchan mencoba positive thinking.

Namun semakin ia berusaha berpikiran positif, rasa curiga itu semakin mengganggunya. Sacchan memutuskan curhat ke Tae, rekannya yang menjabat sebagai HRD. Reaksi Tae di luar dugaan. Gadis itu malah menceramahinya panjang lebar, menganggapnya terlalu mencampuri urusan orang. Tae memang tipikal cuek, persis seperti Gin. Harus ditunjukkan bukti terlebih dulu, baru percaya.

Sacchan sebal. Dia bertekad untuk membuktikannya sendiri. Berharap kecurigaannya salah, jadi dia dapat kembali bekerja dengan tenang.

_OfficeHours_

Seminggu berlalu sejak kejadian aneh antara Gin dan Toshi muncul. Sacchan belum menemukan rencana yang bagus untuk mengungkap 'sesuatu' yang terjadi pada dua atasannya itu. Untuk sementara ini, dia hanya akan memperhatikan gerak-gerik mereka.

Sacchan tidak menguntit sembarangan, hanya memperhatikan lewat lirikan mata. Tampaknya mereka tidak menyadari kini tengah diawasi. Sesekali dia kembali bersikap genit pada Gin, tepat di depan mata Toshi. Namun sang Manajer tampak biasa saja, bahkan acuh sama sekali. Saat berpapasan pun Toshi menyapanya, dan mereka mengobrol seperti biasa.

Diam-diam Sacchan menganalisa ucapan, ekspresi, dan bahasa tubuh Toshi ketika mereka sedang berbincang. Sacchan sangat mahir dalam hal itu, mungkin pernyataannya mempelajari teknik ninja bukan omong kosong belaka. Ada ilmu tersendiri untuk menganalisa gerakan lawan.

Sialnya, Toshi juga sangat luwes dalam mengontrol emosinya. Sebagai Manajer, dia telah terlatih mengendalikan segala situasi. Sacchan mengakui cukup kesulitan 'membaca' sang Manajer.

Kini Sacchan berada di ruangan Toshi, berdiskusi perihal pembaharuan sistem periklanan yang akan diluncurkan oleh perusahaan. Merasa cukup, Sacchan bermaksud kembali ke ruangannya. Namun tiba-tiba dia teringat rencana terselubungnya.

"By the way, tadi aku lihat Pak Gin makan siang bareng cewek cantik di cafe seberang. Kira-kira siapa ya, Kak?" pancing Sacchan seraya membereskan berkas-berkas hasil diskusinya tadi.

"Don't know. Paling kliennya," sahut Toshi cuek.

Sacchan belum menyerah. "Masa? Kalau cuma klien, kenapa Pak Gin perhatian banget? Aku lihat cewek itu makannya belepotan, terus sisa nasi yang nempel di pipinya diambil dan dimakan sama Pak Gin! Gila ga tuh?"

"He? Masa, sih? Kamu salah lihat kali,"

"Kak, aku baru ganti kacamata minggu lalu dan mejaku berdekatan dengan meja Pak Gin. Nggak mungkin aku salah lihat, apalagi sampai berani mengarang cerita," Sacchan jeda sejenak. "Tapi kayaknya Kakak nggak tertarik sama gosip murahan cewek-cewek..."

"Nggak juga, sih. Lanjutin aja."

I got you!

"Hmm.. sebenarnya itu saja, Kak. Aku pribadi nggak masalah jika cewek itu memang pacarnya Pak Gin, soalnya perlakuan beliau berbeda dengan klien yang lain. Aku bisa menilai karena aku sering ikut Pak Gin meeting di luar. Tapi aku heran, kalau memang benar, kenapa Pak Gin selama ini selalu ngaku jomblo? Seharusnya dia jujur saja, kan, biar aku juga bisa mundur perlahan.."

Sacchan melirik Toshi. Raut itu tetap datar.

"Oh, begitu.."

What?

"Kakak nggak penasaran, nih? Yakin?"

"Nggak. Yang suka Gin kan kamu, kenapa aku yang penasaran?"

Oke, kali ini Sacchan kalah telak. "Eh, iya juga, ya. Hehehe..." tawanya terpaksa. Toshi pun tertawa kecil sambil geleng-geleng.

Namun mata tidak pernah berbohong. Tawa yang ditunjukkan Toshi hanyalah sebuah topeng.

Sacchan dapat menangkap kilat kebencian terpancar dari dua bola mata biru baja itu. Kebencian yang ditujukan untuk Sacchan semata.

_OfficeHours_

Gin melewati ruang bagian periklanan pagi itu. Tubuhnya lesu dan matanya mengantuk. Suasananya juga sangat sepi. Ketika melongo, Gin menemukan baru dua orang bawahan Sacchan yang datang sebelum...

"Pak Gin, selamat pagiii...!"

"Huwaaaaaa!"

Kepala Sacchan nongol tiba-tiba dari balik pintu. Gin kaget setengah mati. Pagi-pagi begini sudah dikasih shock therapy.

Sacchan cengar-cengir. "Bapak belum terbiasa dengan kemunculan saya, ya? Hahaha... Maaf ya, Pak. Habisnya Bapak selalu ngantuk tiap pagi, sih. Bapak sering begadang, ya? Ngapain aja, Pak?" cerocosnya kepo.

Gin kembali ke mode acuh dan mengantuknya. Dalam hati dia menyumpahi Sacchan tersambar petir saat ini juga, lalu berubah gender seperti tokoh di komik digital sebelah.

"Gesek-gesek pantat di rumah tetangga, biar tambah kaya," jawabnya asal. "Ya kerjalah! Lagian kepo banget sih kamu!" kesalnya.

Baru akan membalas sungutan Gin, sosok Toshi yang keluar dari lift tertangkap mata Sacchan. Kesempatan!

"Pak Gin jangan galak begitu, dong. Muka Bapak kusut, bajunya jadi ikutan kusut, deh. Sini, Pak, saya betulin dasinya,"

"Nggak us– hei!" Terlambat, Sacchan telah mengambil alih dasi merah Gin. Ya sudahlah, lagipula Gin memang kurang becus memasang dasi, bahkan sampai setua ini. Gin pun diam saja mengamati tangan lihai Sacchan membentuk simpul yang rapi.

Dalam diam, Sacchan melirik ke samping, tempat Toshi berdiri mematung. Termangu beberapa detik, kemudian berbelok menuju ruang bagian pemasaran di samping kanan lift.

Sacchan berani bersumpah itu pertama kalinya dia menyaksikan raut sang Manajer tampak begitu hancur.

TBC.