Thanks untuk yang udah mau baca and reviews ini aku lanjut cetiranya...
Chapter 2
Sembilan tahun kemudian…
Seoul, Korea Selatan…
Hari masih sore, mentari bergerak perlahan menuju peraduannya. Tapi angin masih berhembus. Menerpa semua yang bisa ia terpa. Tanpa sebuah mantel, pastinya orang-orang akan mengeluh kedinginan. Apalagi di temapt seperti ini… sebuah pelabuhan sepi di pinggir laut, yang terus saja ditiup angin laut yang dingin.
Tapi tidak dengan orang-orang ini. Orang-orang berseragam hitam ini. Mereka tak mengeluh kedinginan. Bukan hal itu yang ada di otak mereka sekarang.
Mereka tengah mengelilingi dua orang itu, dua orang itu yang salah seorangnya adalah pimpinan mereka. Pemuda beriris coklat, berambut pirang, yang tengah mengacungkan pistolnya. Matel hitam yang dikenakannya tanpa dikancing berkibar ditiup angin. Jas hitamnya melapisi kemejanya dengan sempura. Hanya ada beberapa kancing teratas kemeja yang terbuka. Tanpa dasi. Tadi ia tidak sedang dalam keadaan yang cukup mendukung untuk memansang dasi sebelum berangkat dari kediamannya.
Tangan kirinya yang tak memegang senjata, ia selipkan dalam mantelnya. Bukannya tidak mungkin ia sedang merasa dingin. Tapi sesungguhnya ia tidak dapat merasakan dinginnya angin yang menerpa ia akan selalu merasa dingin. Kehangatan memang telah lama meninggalkannya. Telah meninggalkannya sejak Sembilan tahun yang lalu. Ketika ia masih telalu kecil untuk bisa hidup sendirian di dunia ini. Ketika ia masih sangat butuh kehangatan dari seseorang yang disebut ayah. Ya, kehangatan itu pergi bersamaan dengan kepergian sang ayah.
Orang yang satu lagi, seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah sedang berlutut di hadapan pimpinan mereka itu. seorang pria yang sedang memperjuangkan hidupnya, meski ia harus memohon dan membuang harga dirinya. Rambut hiramnya. Warna kulitnya pucat bagaikan mayat, mungkin dia terlalu banyak bereksperimen di laboratorium anehnya.
"Kumohon, Oh-sajangnim… maafkan aku. Jangan bunuh aku. Aku bersumpah, aku tidak akan pernah mengganggumu lagi." Rasa takut memenuhi matanya.
Tapi sang pimpinan Aerokinesis… tak peduli. Mata coklatnya tak menunjukkan rasa belas kasihan sedikitpun. Yang ada hanyalah tatapan dingin… tatapan dingin tanpa ekspresi. Tanpa rasa kasihan, tanpa rasa iba, tanpa rasa bersalah.
"Kalau aku membunuhmu, kau juga tidak akan menggangguku lagi," katanya datar.
"O-oh-sajangnim! K-kumohon…" air mata mulai mengalir di wajah pria itu.
Memuakkan. Melihat seorang pria paruh baya yang menangis memohon-mohon kepadanya bukanlah sesuatu yang menyenangkan.
"Kau punya dua kesalahan besar. Yang pertama, kau mengganggu liburku," ucap pemuda pirang itu, "Kau dan organisasi ShiNee-mu membuatku harus turun tangan sendiri untuk menghancurkan kalian."
Rasa terkejut memenuhi mata pria itu. Ya! Ia tahu Oh Sehun memang sangat jarang turun tangan langsung dalam urusan organisasinya. Yang ia lakukan selama ini tidak lain dan tidak bukan hanyalah menggerakkan Aerokinesis dari balik layar.
Apa itu berarti… organisasi kami telah benar-benar mengganggunya?
…sial.
Tinggal sedikit lagi.
Tinggal sedikit lagi sampai kami bisa menghancurkan Aerokinesis.
Tapi… justru sekarang kami yang hancur.
Dan yang tersisa hanyalah… Ya, orang itu…! orang itu yang telah memberikan ide-ide briliannya. Dia masih hidup. Dia pasti masih ada di sekitar sini! Dia pasti akan menyelamatkanku!
Secercah harapan keluar dari sinar matanya. Tapi harapan itu musnah seketika. Musnah tak berbekas saat matanya bertemu pandang lagi dengan Oh Sehun, pemimpin Aerokinesis itu. kini… mata coklat itu memancarkan rasa muak yang amat sangat.
"Yang kedua…" ucap pria bermata coklat itu pelan.
Jemari putih pucatnya bergerak menekan pelatuk, dan… suara tembakan memenuhi udara. Tubuh yang tadinya sedang berlutut itu langsung terjatuh ke tanah. Hilang sudah nyawanya. Sang pemuda berambut pirang menyimpan pistolnya. Ia memang tak ingin pira paruh baya itu mendengar kesalahannya yang kedua…
"…Kau membuatku datang ketempat yang paling tak ingin kukunjungi." Ucapnya.
Ia lalu menghembuskan nafas, mengedarkan pandangannya di pelabuhan ini. Ya, ini adalah tempat itu. tempat yang paling dibencinya. Tempat dimana nyawa ayahnya terenggut selamanya…
Kenapa? Kenapa harus di tempat ini?
Still You
HunKai
Warning:
Yaoi, OOC, Typo's, Gaje, Abal, Aneh, dll
Rate: T-M
Osaka, Jepang…
Jongin bekerja di sebuah tempat hiburan. Dia kini berada di sebuah ruangan dan sedang duduk di samping laki-laki hidung belang. "Ini minumlah." Laki-laki itu meminta Jongin meminum wine namun Jongin terus menolaknya.
"Tidak mau," tolaknya sambil berusaha menyingkirkan tangan nakal laki-laki hidung belang itu. Ia tidak nyaman dengan perlakuan laki-laki itu namun dia terus menahan diri agar tidak pergi dari ruangan itu karena ia bisa terkena marah jika pergi.
Tapi sang pelanggan tetap memaksanya, ia menyodorkan gelas berisi wine tersebut dan tangan lain yang menganggur ia gunakan untuk memeluk Jongin. Teman Jongin yang baru tahu bahwa Jongin tidak bisa minum wine pun membantunya dengan mengambil gelas wine yang disodorkan pada Jongin itu dan disimpannya di atas meja.
Seorang laki-laki hidung belang lainnya mengeluarkan banyak uang dan ia berkata, "Aku akan memberimu uang lebih kalau kau mau minum ini." Menyodorkan uang tersebut pada pria berkulit tan yang kini tengah direngkuh oleh temannya itu.
Jongin berpikir sejenak sebelum meraih gelas tadi."Baiklah," jawabnya, meneguk wine tersebut dalam sekali tegukan. Pelanggannya itu kini sudah merengkuh tubuh ramping itu posesif, Jongin sebenarnya merasa risih dengan perlakuan pria itu tapi mau bagaimana lagi inilah pekerjaannya, ia butuh uang untuk melunasi hutang-hutang orang tuanya juga kehidupannya.
Ia hanya seorang pemuda lulusan SMA, sebenarnya ia tidak bodoh hanya saja tidak mungkin ia dapat bekerja ditempat yang lebih baik seperti perusahaan besar. Jaman sekarang mana ada perusahaan yang mau menerima karyawan yang hanya lulusan SMA.
Jongin merasa perutnya mual, setelah mendapatkan uang itu, dia pun segera berlari dari ruangan itu. ia berlari ke kamar mandi dan langsung memuntahkan wine yang ia minum. Temannya yang tadi pun menyusulnya dan membantunya dengan menepuk-nepuk punggungnya pelan, ia khawatir.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya.
Setelah dirasa lebih baik, ia duduk bersandar di dinding toilet yang sempit itu. "Bagaimana bisa dapat uang kalau seperti ini?" ujarnya frustasi, menutup mulutnya yang kini tengah terbatuk kecil.
"Mengapa kau terlihat sangat frustasi demi mendapatkan uang?" tanya temannya, "Kau sebegitu inginnya pergi ke Korea?" ia memandang Jongin, "Apa hidupmu akan berubah?" lanjutnya.
Jongin tersenyum kecil. "Setidaknya aku tidak akan terus hidup seperti ini." Ia bangkit dan temannya tadi membantunya.
Seorang pria paruh baya yang merupakan pemilik tempat hiburan masuk kedalam kamar mandi, ia berteriak, "Apa yang kalian lakukan? Ada banyak pelanggan! Cepat keluar!" para pria penghibur yang tengah berdandan segera keluar tapi tidak dengan Jongini juga temannya itu.
Ia menarik lengan Jongini dan memintanya agar kembali ke ruangan tamunya, namun ia terkejut saat melihat mata Jongin yang terlihat habis menangis.
"Lepaskan!" ujar Jongin dingin. "Aku akan keluar!" sang pemilik pup tersenyum, Jongin berjalan kedepan cermin didepannya. Membungkuk, kedua tangannya berpegangan pada wasthapel didepannya, matanya memandang pantulan tubuhnya disana. Sang pemilik pup melirik teman Jongin dan menatapnya tajam hingga ia berlalu meninggalkan keduanya.
Sang pemilik pup berkacak pinggang, "Sudah kubilang hari ini kita ada pelanggan penting, kan" ujarnya tajam dengan tatapan menusuk, "Cepat keluar!" perintahnya, setelahnya ia pergi meninggalkan Jongini yang diam namun air matanya menetes kepipinya yang mulus.
Tidak. Ia tidak boleh menangis sekarang. Segera ia usap airmatanya dengan kasar.
.
Malam yang berbeda, dimana Jongin berjalan dengan anggunnya, ditangannya ia genggam sebuah harmonica yang selalu ia mainkan selama ini.
Sang pemilik pup menghampirinya ia merangkul pudaknya, "Dia orang penting. Layani dia dengan baik. Dia orang yang sangat penting, mengerti." Peringatnya.
Jongin diam, ia melirik sekilas sang pemilik pup, kembali ia melanjutkan langkahnya menghampiri sofa yang terdapat diruang itu, ruang VVIP. Disana sudah terdapat beberapa pria penghibur yang sama sepertinya dan beberapa lagi pria yang katanya tamu istimewa, orang penting. Sebenarnya sepenting apa orang tersebut?
"Baiklah, semuanya! Kita mulai."
Setelah samapi ia duduk dengan anggunnya, semua orang yang ada disana bertepuk tangan menantikan aksinya. Dan ia segera memainkan harmonikanya.
Still You
Busan, Korea Selatan…
Wu Yi Fan atau lebih di kenal dengan nama Kris berjalan terburu-buru bersama asistennya-Xiumin- yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri- menuju sebuah kamar hotel. Xiumin memberikan kabar pada Kris bahwa ada seorang tamu yang sedang mencoba bunuh diri.
"Apa itu masuk akal?" tanya Kris sambil membaca dokumen ditangannya.
"Aku tidak tahu, aku harus bagaimana…" ia mencoba mengimbangi jalan Kris, "Situasinya sangat genting." Ujarnya.
"Lalu?"
"Untungnya tamu di kamar sebelah sudah pergi dan belum kembali." Jelasnya. "Andai saja gelasnya tidak pecah. Semuanya akan baik-baik saja!" lanjutnya.
Mereka mempercepat langkahnya ketika didengarnya suara berisik, Kris pemuda itu memberikan dokumen yang telah dibacanya pada asistennya.
Di tengah perjalanan menuju kamar hotel itu Kris bertemu dengan seorang tamu dan dia berusaha bersikap biasa seperti tidak ada kejadian seorang tamu yang mau bunuh diri.
"Selamat sore, Tuan" sapa salah seorang tamu hotelnya.
"Selamat sore," balasnya, ia tersenyum "Apa anda senang menginap dihotel ini?"
"Oh, ya. Semuanya sempurna."
"Baiklah beritahu saya kalau anda membutuhkan sesuatu."
"Ah, baiklah. Terimakasih."
"Selamat tinggal. Sampai jumpa." Ujarnya, sang asisten membungkuk dalam pada tamu tersebut.
Dan keduanya melanjutkan langkahnya kembali.
"Lepaskan aku."
Terdengar sebuah teriakan dari dalam kamar yang kini menjadi tujuannya, di depan kamar tersebut ada dua orang karyawannya yang bertugas.
Kris menghembuskan nafasnya pelan sebelum membuka pintu bercat coklat itu, didalam sana ia melihat keadaan kamar yang sangat kacau dan ada seorang wanita paruh baya tengah dipegangi ioleh dua orang petugas hotel agar tidak mencoba bunuh diri.
"Sudah berapa lama?" tanya Kris.
"Sekitar tiga menit." Jawab Xiumin.
Wanita paruh baya itu terus berteriak histeris meminta tangannya agar di lepaskan. "Lepaskan aku!"
Kris berkata dingin pada dua petugas hotel yang sedang memegang tangan wanita itu. "Lakukan apa yang dia minta."
Xiumin terkejut mendengarnya, "Kris!"
Wanita itu tiba-tiba menghampiri Kris dan manarik kerah bajunya. "Putraku meninggal. Lepaskan aku!" teriaknya kalap masih berontak karena kedua orang tadi menahan kembali kedua lengannya.
"Direktur." Panggilnya, ia mencengkram jas yang dikenakan Sehun. "Kau tidak peduli. Bagaimana denganku" tanyanya.
"Kami tidak berkuasa untuk ikut campur dengan apa yang terjadi di dalam ruangan" jelas Kris tenang, "Apa yang kau inginkan?" lanjutnya.
"Brengsek!" maki wanita itu, menangis dan cengkraman itu semakin kuat para petugas hotel segera menahanya namun Kris lebih dulu memegang kedua lengan wanita itu.
Wanita itu terlihat frustasi dan mulai menangis histeris.
Sehun segera merapikan pakaiannya, menghela nafas pelan. Ia menghadap Tao-asistennya. "Panggil keamanan dan obati lukanya, dan pastikan kau merawatnya dengan baik agar lukanya tidak berbekas." Tao mengangguk mengerti, "Dan bawa dia kerumah sakit, agar bisa istirahat."
"Baik,"
Ia berbalik, bersiap meninggalkan ruangan itu, namun terhenti ketika melihat wanita tersebut. ia memperhatikannya dalam. Wanita itu yang merupakan tamu di salah satu kamar hotelnya memegang dadanya, nafasnya terlihat sesak.
Kris berlutu, "Nyonya! Nyonya!" ia memandang asistennya yang terlihat bingung, "Pengang kepalanya" perintahnya.
Salah satu dari mereka mengangbil bantal dan meletaknya dikepalanya, Kris segera melakukan CRP dengan menekan dadanya berulang-ulang, "Bernafaslah!" perintahnya.
Wanita itu kesulitan bernafas, dan Kris masih setia memberikan pertolongan pertama. "Bernafaslah!" ucapnya lagi. Dan akhirnya wanita itu terlihat tenang dan mulai dapat bernafas dengan benar lagi.
Mereka bernafas lega, "Panggil ambulance"
Still You
Seoul, Korea Selatan…
Angin dingin berhembus kearahnya. Hari ini bukan saja hari berangin, tapi juga hari hujan. Hujan. Hujan yang datang di sore hari, membuat awan putih graduasi abu-abu menutupi warna langit dengan sempurna. Ribuan titik hujan jatuh membasahi bumi setiap detiknya, tepat didepan mata kelamnya.
Sehun tengah berbaring nyaman di atas sofa putih gadingnya. Sofa tersebut berhadapan langsung dengan jendela yang sedang terbuka lebar di hadapannya. Tangan kirinya ia biarkan tergeletak di atas sofa beludru itu. sedangkan tangan kanannya ia letakkan di atas tubuhnya. Tiga kacing teratas dari kemejanya masih terbuka. Ia tak peduli kalau itu dan juga angin beku yang terus saja berhembus akan membuatnya sakit atau masuk angin. Sedikit banyak ia lebih memilih untuk sakit. Sakit, artinya ia bisa berada di atas kasur nyamannya seharian. Ia bisa meninggalkan pekerjaannya di Word Corporation meski hanya untuk sehari. Ia bisa melepaskan beban hati dan pikirannya meski hanya untuk sejenak. Seperti sekarang, tapi tidak sepenuhnya.
Sehun menutup kedua mata coklatnya. Membiarkan kenangan demi kenangan terlintas jelas di otaknya. Kenangan itu datang di saat udara dingin menerpa kulitnya. Kenangan itu datang saat telingannya mendengarkan suara air hujan yang menabrak bumi. Kenangan itu datang saat sesekali rintik hujan yang tersesat masuk dan menyentuh ujung kakinya yang berada amat dekat dengan jendela. Kenangan itu, yang membuatnya jadi tidak menyukai hujan.
Bukan, ia tidak membenci hujan. Hanya tidak suka. Hujan membuatnya teringat pada hari pemakaman ayahnya. Juga membuatnya tersadar bahwa ia telah sendirian di dunia. Bukan hanya hujan. Kemarin ia harus datang langsung ke tempat itu. bekas pelabuhan yang orang-orang dunia hitam gunakan secara sembunyi-sembunyi untuk barang-barang illegal mereka. Dan hari ini… ia malah berhadapan dengan hujan yang siap membasahinya kalau ia pergi keluar sana.
Kedua iris coklatnya itu tertutup rapat. Ia sedang berusaha untuk tidur. Jarang-jarang ia bisa punya waktu luang di jam seperti ini. Biasanya dari pagi hingga sore ia harus berurusan dengan Word Corp. Lalu pekerjaan di Aerokinesis menanti untuk dikerjakannya saat malam tiba. nampaknya para anak buahnya tahu perasaannya benar-benar kacau karena kemarin harus datang langsung ke tempat itu. malah ia harus datang kesana dan membereskan organisasi… itu dengan tangannya langsung di hari minggu, satu-satunya hari istirahatnya dari Word Corp. karenanya, hari ini ia bisa pulang cepat tanpa ditahan oleh Suho sekertarisnya. Kini hanya tinggal selangkah lagi ia benar-benar tertidur. Namun seseorang mengetuk pintu ruangannya dari luar.
"…Masuk," katanya.
Seorang pria dengan senyum childis-nya membuka pintu mahogany itu. ruangan ini, sekaligus juga rumah yang menjadi markas besar Aerokinesis ini memang unik. Dari luar hanya akan terlihat sebagai kastil biasa… Biasa, kalau kita tidak ikut memperhatikan besar dan luasnya. Tapi dari segi gaya, rumah ini punya hampir separuh bagian bergaya barat, termasuk pintu mahogany ruangan sang pemimpin.
Sehun sudah membuka iris coklatnya, tapi belum juga melihat siapa gerangan yang baru masuk ke dalam ruangannya. Tapi ia tahu. Pria itu, Lee Donghae, melangkah masuk diikuti oleh seorang pemuda.
"Oh-sajangnim, saya membawa orang yang kemarin telah membantu kita menghancurkan organisasi ShiNee," lapor Donghae, "Ia yang memberitahu bahwa … akan melakukan transaksi senjata di pelabuhan itu."
Pemuda berambut pirang ini pun membutar kedua bola matanya, melirik pada pemuda itu. pemuda yang kini berdiri di belakang Donghae itu punya rambut hitam kelam, dengan iris coklat berwarna sama dengan dirinya. Kulitnya putih mulus hanya saja tidak sepucat warna kulitnya. Tingginya sedikit lebih pendek dari dari Sehun. Donghae sendiri memperkirakan umur pemuda ini tidak jauh dari sang pemimpin mereka.
Sepasang mata coklat itu beradu pandang dengan iris coklat sang pemuda lainnya. Mereka terus berpandangan selama beberapa detik berikutnya, samapi akhirnya Sehun menatap kembali pada hujan. Cukup pandang sekali, dan ia sudah tahu pemuda berambut hitam itu berbeda… ia berbeda. Berbeda dari kebanyakan orang yang akan ketakutan saat sadar mereka tengah berhadapan langsung dengan sang pimpinan. Tak ada rasa takut yang terpancar dari bola matanya. Kalaupun ada, Sehun tak bisa menangkapnya. Rasa takut itu sedang bersembunyi dengan sempurna di balik wajah dinginnya.
"Seperti yang telah saya katakana kemarin… bisakah ia masuk dalam…?" tanya Donghae.
Sehun tak langsung menutup matanya sejenak dan membukannya lagi sampai separuh terbuka. Bibirnya pun berucap, "Apa kau yakin dia bukan anak buah ShiNee?"
"Eh?" Donghae nampak terkejut.
"Kalau ia bisa menghianatai organisasinya sendiri, ia juga bisa menghianati kita," balas Sehun datar.
Yang terkejut bukan Donghae saja, tapi juga pemuda stoic yang ada di belakangnya. Ia menelan ludah. Ia tahu Aerokinesis bukanlah organisasi mafia biasa yang muda untuk dimasuki. Sudah berkali-kali ia mendengar tentang ujian maut yang harus di lewati oleh setiap calon anggota Aerokinesis. Karenanya, ia mencari jalan untuk masuk yang lebih mudah. Ia mencoba menyelamatkan tangan kanan sang Pimpinan, dan berhasil. Tapi ia tidak meyangka sang Pimpinan sendiri malah langsung mencurigainya. Tidak, ia belum siap untuk yang ini. Ia amat bersyukur ia tengah berada di belakang Donghae sementara mata sang pemimpin masih sibuk mengamati hujan. Kalau tidak begini, mereka pasti bisa langsung melihat ketakutan dan keterkejutan yang terpampang jelas di wajahnya.
"Kalau ia tidak ada, saya tak akan berada di sini sekarang," bela Donghae setelah diam selama lebih dari sepuluh detik.
Lagi-lagi pemuda dengan kulit putih pucat itu tak langsung memjawab. Ia lalu memejamkan kedua matanya. "Ganti bajunya sesuai dengan yang lainnya," katanya pada akhirnya, "Siapkan tempat untuknya."
Donghae segera menunduk dan berkata, "Terimakasih, Oh-sajangnim!"
Pemuda itupun sama, ia menunduk dalam kearah Sehun tanpa kata apapun dari bibirnya. Hah! Ia belum terbiasa mengucapkan terima kasih ala anak buah rendahan. Padahal yang sudah berterimakasih duluan justru tangan kanan yang pimpinan. Donghae pun mulai melangkah meinggalkan ruangan. Pemuda itu pun menyusul di belakangnya. Saat tiba gilirannya untuk menutup pintu, iris coklatnya melirik kearah Sehun. Kedua mata coklat itu masih tertutup rapat. Seolah tak ada tanda akan terbuka dalam waktu dekat ini.
Pemuda itupun menutup pintu ruangan kerja sang Pimpinan.
Seketika itu juga, Sehun membuka kedua matanya. Ia bukannya tak tahu ia tengah dilihati oleh pemuda itu. hanya saja ia belum siap untuk mempertemukan pandangan kedua pasang mata mereka lagi. Baru kali inilah ia merasa takut… dan kacau. Takut akan kedua mata itu… yang seolah bisa membaca perasaan yang selalu ia pendam di balik wajah tanpa ekspresinya.
Still You
Osaca, Jepang…
Jongin diam-diam keluar dari tempat hiburan itu. ia mempersiapkan sebuah tali sumbu yang di sambungkan dengan sebatang rokok yang ia nyalakan. Jika rokok itu habis makan otomatis tali sumbu itu akan terbakar dan bisa membuat kebakaran besar. Setelah selesai, ia pergi ke ruangan bosnya.
Jongin mengipas-ngipaskan sejumlah uang dan melemparkannya kemeja bosnya itu. bosnya memeriksa uang itu, "Lama tidak berjumpa," katanya, ia bangkit mendekat kearah Jongin, "Kau sudah punya banyak uang, ya?" tanyanya. Duduk di atas meja kerjanya. "Kau susah payah membayar uang judi ayah tirimu."
"Bukan urusanmu." Ujar Jongin dingin.
"Kau pikir semua sudah selesai?"
Ia menatap tajam sang bos, "Aku tidak akan terus hidup seperti ini." Kemudian meraih amplop berwarna coklat yang ada di atas meja dan memeriksa isi amplop itu dengan cermat, takut-takut bosnya akan menipunya. Ia melihat sebuah passport Jepang miliknya.
Ia tersenyum pada bosnya, "Jadi…" ia mengelus wajah bosnya lembut, "Terimakasih atas semuanya…"
Jongin akan pergi dari ruangan itu namun bosnya menahannya dengan cara memeluknya. Ia berkata, "Terkadang orang pintar sepertimu melakukan kesalahan saat bertemu dengan orang tua yang salah, yang membawamu ke Jepang setelah di adopsi. Hal menyedihkan bukan?"
Jongin terus memberontak mencoba melepaskan diri dari pelukan bosnya itu. namun bosnya itu memaksa membuka pakaiannya, Jongin menahannya dan berkata manis. "Biar aku yang membukanya," ia mencoba mengulur waktu hingga tali sumbu yang sudah ia siapkan itu membakar gedung tempat hiburan itu. Jongin semakin terjebak karena waktu yang ia perkirakan sedikit melesat, namun tidak lama kemudian tiba-tiba terdengar suara ledakan yang cukup keras dan hal itu langsung dimanfaatkan oleh Jongin untuk mengambil amplop coklat tadi dan berlari keluar dari ruangan bosnya.
Bosnya terlihat panic dengan gedung tempat hiburan miliknya yang terbakar, namun saat melihat Jongin kabur, ia pun langsung mengejarnya.
Jongin terus berlari melewati pemukiman penduduk. Sementara itu bosnya tadi terus mengejarnya. Jongin berusaha menjatuhkan rak berisi minuman kaleng dan hal itu berhasil membuat bosnya tersebut kehilangan jejaknya. Ia kembali beralari menuju stasius kereta, ternyata temannya sudah menunggunya dan ia sudah mempersiapkan koper Jongin.
Temanya melambaikan tangan saat melihat Kai berlari masuk kedalam kereta, "Jongie! Sampai jumpa… kau harus bahagia! Kau harus menemui ibumu!" Jongin tersenyum pada temannya itu.
Tiba-tiba bosnya tadi datang dan kembali berusaha menangkap Jongin. Teman Jongin menghalangi jalannya namun bosnya itu berhasil melewatinya dan terus mengejar Jongin. Jongin langsung masuk kedalam kereta dan saat bosnya itu mau masuk, pintu kereta susah tertutup.
Jongin menatap bosanya, bukan manatan bosnya lebih tepatnya ia berkata, "Kim Jongin yang kau kenal, sudah mati!"
Bosnya berteriak, "Aku akan menemukanmu! Aku akan menemukanmu! Jongin!" Jongin tersenyum sinis dan mengeluarkan air matanya. Kereta mulai berjalan dan pada akhirnya bosnya itu tidak berhasil menangkap Jongin.
.
Jongin sudah mengganti pakaiannya dan dia pun mencari tempat duduk di dalam kereta. Terlihat ada anak kecil yang terus menatap Jongin sementara ibunya sedang tertidur. Jongin tersenyum ia dan dibalas senyum oleh anak kecil itu. jongin melihat kalung yang dipakai anak kecil itu dan hal itu membuat Jongin teringat masa lalunya…
Flashback
Saat di sekolah itu, tempat dimana Jongin kecil menuntut ilmu sama seperti anak-anak lainnya yang. Dimana hari sudah siang bel pulang sekolah baru saja berbunyi, Jongin segera membereskan semua peralatan sekolahnya kedalam tasnya.
Tiba-tiba tiga orang teman sekelasnya menghampirinya dan seorang dari mereka menarik kalung Jongin. "Wow, kalung yang bagus." Ujarnya sinis. "Kalung ya. Ternyata anak yatim punya kalung juga." Lanjutnya.
Jongin masih diam, ia menahan nafas sebelum mengmbil paksa liotin itu lagi. Ia memandang mereka tak kalah sinisnya.
"Siapa yang mau denganmu, kalau kau galak seperti itu?" kata temannya yang lain.
"Pantas saja ibu pergi meninggalkanmu. Aku benar kan?" Jongin yang sudah tidak tahan lagi menampar pipi bocah lelaki itu keras.
"Kau!" geramnya. "Sialan kau!" maki bocah itu, ia menampar balik Jongin keras hingga tersungkur.
Baekhyun teman Jongin segera membantunya berdiri, "Kau tidak apa-apa?" tanyanya khawatir, Jongin mengangguk, ia bersiap membalas lagi tamparan anak itu tapi seorang guru segera datang menghampiri mereka.
"Apa yang kalian lakukan?" tanyanya, "Kau masih berani? Itulah mengapa kau selalu di ejek yatim piatu," ujarnya dingin. Jongin tidak peduli ia menampar kembali anak tadi.
"Kim Jongin! Apa kau ingin dikeluarkan?" peringat sang guru. Jongin tidak berkata apapun ia meraih tasnya dan membuangnya di tempat sampah yang ada di ruang kelas itu, dan setelahnya ia beranjak pergi.
.
Di panti asuhan Jongin kecil dihukum karena telah membuat onar disekolah dengan cara disuruh mengangat kedua tangannya sepanjang malam. Jongin diam-diam menangis. "Ibu… Aku takut. Bawa aku bersamamu…"
Flashback End
Seorang pramugari membangunkan Jongin yang tertidur di dalam pesawat. Jongin terbangun dan dia baru tersadar bahwa tinggal dial ah yang berada di dalam pesawat yang sudah mendarat di Korea. Jongin menghapus air matanya dan segera keluar dari pesawat.
Saat dibagian imigrasi, Jongin menyerahkan passport Jepangnya. Petugas bertanya, "Apa kau sedang liburan disini?" Jongin kebingungan. Petugas itupun akhirnya menjelaskan. "Jika kau datang kemari untuk bekerja maka itu tindakan illegal tanpa visa. Kau bisa di deportasi." Jongin diam saja tidak mejawab.
Jongin terdiam lama di depan bandara, dia terlihat kebingungan dan juga ketakutan. Jongin menggunakan topinya dan kemudian berjalan pergi.
.
.
.
To be Continue
