Moshi-moshi~

Kembali lagi dengan saya MC Shirayuki ^^

Shira sudah ketik semua chapter sampai tamat, dan final chapter Shira post minggu depan =)

Maaf buat reader yang menunggu sangat lama untuk chapter 2 ini, tapi Shira pastikan chapter 3 akan post minggu depan karena sudah ready XD

311 : Maaf baru sampat lanjut, terima kasih sudah bace dan review XD

CrazyChristina : I'm gonna finished this next week, XD

Skyla Phython : Inu sudah Shira usahakan complete XD

"Jumin Han" : speak

'Saeyoung Choi' : mind

Well, Happy Reading ~


Fandom :

Mystic Messenger

Disclaimer :

Cheritz

Author :

MC Shirayuki

Story :

MC Shirayuki

Genre :

Crime, Suspense, Romance, Humor(?)

Rating :

M (for safety and maybe gore)

Main Pairing :

Jumin Han X MC

Warning :

Typo, Maybe OOC and a little gore, Humor garing

DON'T LIKE ? DON'T READ !

Main Character :

MC : 18 tahun

Jumin Han : 27 tahun

707/Luciel (Saeyoung Choi) : 21 tahun

Zen (Hyun Ryu) : 23 tahun

Yoosung Kim : 20 tahun

Jaehee Kang : 25 tahun

Unknown (Saeran Choi) : 21 tahun

Side Character :

My original character from my Bio

Title : I'm Already Beside You


"What you saw is might not a truth or a lie.

You can think whatever you want, but I'll not let you get the truth.

I'm already beside you from the beginning.

Write down all the scenario of this tragedy before the red curtains is open."


"Apa yang kau lihat bisa saja bukan sebuah kebenaran atau kebohongan.

Kau dapat berpikir apapun yang kau inginkan, tapi aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan kebenarannya.

Aku sudah berada di sisimu sejak awal.

Menulis semua naskah tragedi ini sebelum tirai merah terbuka."


Chapter 2 : Suspicious

MC has entered the chatroom

Yoosung : I don't know, but why suddenly I felt a little scared?

707 : Don't worry! I'm SEVEN-ZERO-SEVEN! DEFENDER-OF-JUSTICE!

MC : God Seven please protect us~

707 : AWW~

MC : YEAH!

707 : LOLOLOL~

Yoosung : I'm serious… (-.-)

707 : I'm serious seconded ^^

Yoosung : Oh look at the time! It's LOLOL time!

Yoosung has left the chatroom

Jumin : I think Seven is not good for MC. It's like MC's mind is being strange with Seven.

707 : Strange? It's not strange, it's humor~

MC : I like humored people ^^

707 : OHH! MC, don't do that so suddenly! My heart is not ready~ 3

Zen has entered the chatroom

Jumin : Should I get the jokes lesson?

Zen : WHOA, THERE! You can't be serious!

Jumin : I'm serious.

MC : Why is so suddenly?

Jumin : I just must have been perfect at everything =)

Zen : What about you get taking photo lesson first? I mean, dude… why is that all photo you took is blur?

Jumin : Take a photo is a photographer's job (=.=)

707 : Yeah! Then I believe, drive is a driver's job! My baby car! (T.T) I can't forget that tragedy!

Jumin : I should try a motorcycle next time ^^

Zen : NOOO! AND NO! Just give up about that driving thing dude! And about jokes too.

MC : Jumin is funny~ ^^

Jumin : See, I even don't have to take a lesson/

Zen : Nah, I though I told you numerous times before. MC IS A KIND PERSON.

707 : My baby car…. =(

MC : There, there~ Don't be sad Seven... I'll be sad too…

707 : MC, I'm so happy that you're cheering me ^^

Zen : See? MC is just kind.

Jumin : I'm getting curious about driving a motorcycle…

Zen : DUDE! JUST NO! No for drive!

Jumin : Let me try your motorcycle Zen. Only once =)

Zen : Don't you dare-

Jumin : You may be faster than me at typing, but I'm faster at the rest.

707 : OH NO! It's that words again!

Jumin Han has left the chatroom

MC : Zen, just check your motorcycle right now…

Zen : JUMIN HAN! That jerk!

Zen has left the chatroom

707 : Let's pray together…

MC : May God bless Zen…


Zen berlari panik menuju garasinya. Rasa khawatir menyerangnya tentang membayangkan kejadian yang menimpa Seven akan menimpanya juga. Ia terjatuh sekali saat kaki kanannya tidak sengaja bertabrakan dengan kaki meja yang terbuat dari besi dan dengan cepat ia bangkit berdiri sebelum kembali berlari kembali menghiraukan rasa sakit yang mendera. Saat ia sampai di garasinya, hal pertama yang terlihat adalah sepi dan gelap alias normal. Tidak ada tanda-tanda Jumin di sana dan motornya masih dalam keadaan sehat di sana. Seketika ia merasa telah dibodohi oleh Jumin. Ini sudah lewat tengah malam tentu saja Jumin tidak mungkin sedang berkeliaran.

"JUMIN! BODOOOH…!" Ia berteriak kesal di garasinya.

Sementara di dalam penthouse, Jumin tertawa kecil membayangkan ekspresi panik Zen.

Di saat yang sama, di tempat Yoosung berada. Terlihat Yoosung sedang berada di hadapan layar komputernya sambil memakai headset-nya dan menatap focus ke arah komputer.

"Ghh… Ayo… Ayo! Mage keluarkan spell kalian dan Archer juga serang! Sedikit lagi! Defense! Defense! Naganya mau menyerang balik! Knight saatnya kalian menyerang! Yaa… Hmm…" Dan Yoosung terdiam sesaat sebelum, "Hoooree…! Boss-nya berhasil dikalahkan!" Yoosung menatap senang ke arah layar komputernya sambil melepas headset-nya perlahan.

DAG, DAG, DAG

Terdengar suara aneh dari arah dapurnya seperti seolah olah sesuatu yang terbuat dari kayu sedang dipukul.

"Suara apa itu? Tikus? Masa sampai ada tikus?"

Merasa penasaran, ia berdiri dan mulai melangkahkan sepasang kaki jenjangnya menuju ke arah dapur yang terlihat dalam kondisi gelap. Sebelum masuk ia menekan saklar yang menyalakan lampu untuk menerangi dapurnya.

BUAAGH

Saat cahaya lampu sukses menyala, saat itu pula sesuatu yang keras menghantam perutnya hingga ia jatuh dengan posisi berlutut.

"Ug-Uugghh!" Yoosung sedikit membungkuk dengan posisi kedua lengannya melingkari perutnya yang saat ini terasa sangat sakit. Sepasang amethyst-nya melirik sepasang kaki milik seseorang yang tertutup oleh sepatu hitam di hadapannya.

'Pe-Pencuri!?'

Sosok tersebut berjongkok dan dengan tangan kirinya ia meremas rambut Yoosung sebelum menariknya paksa hingga Yoosung mendongak dan wajah mereka berhadapan.

"Si-siapa ka-kau…?" Yoosung berbicara sambil menahan rasa sakit yang masih terasa sangat menyakitkan.

Sosok tersebut tersenyum sambil menyipitkan sepasang matanya yang berwarna seperti aquamarine.

"Apa kau menyukai MC?"

Yoosung terdiam saat mendengar pertanyaan konyol yang baru saja terlontar dari seorang asing yang nampak seperti psikopat yang baru saja memukulnya hingga tak berdaya.

Merasa tak mendapatkan jawaban yang ia mau, sosok tersebut membuka kedua matanya dan menatap Yoosung dingin.

"Apa kau menyukai MC?" Ia mengulangi pertanyaannya.

"A-aku menyukainya. Ya."

"Kau sering Skype dengannya kan?"

"Ya, tapi… Da-darimana kau-"

"Tentu saja aku tahu. Kau pasti terus terhubung ke internet saat komputermu menyala."

Yoosung menatapnya bingung.

"Bagaimanapun, bagus… aku sangat menyukai jawaban yang jujur."

Ia tersenyum namun sedetik kemudian tatapannya menjadi dingin. Entah kapan namun penglihatan kiri Yoosung menjadi gelap dan tak lama langsung terasa rasa sakit yang sangat membuatnya ingin berteriak.

"AAA-AAARRRGHH…!"

Tangan kirinya langsung berpindah menutupi mata kirinya yang sudah dibanjiri oleh cairan kental berwarna merah.

Para bodyguard yang berjaga di depan pintunya kontan langsung bersiaga untuk masuk ke dalam

TOK, TOK, TOK

"Tuan Kim! Apa Anda baik-baik saja?!"

Sosok tersebut menatap kesal ke arah pintu.

"To-tolong aku!"

"Cih…"

Ia mengeluarkan sebuah pisau dan menusuknya tepat di perut Yoosung sebelum kemudian ia berdiri dan berlari menuju arah jendela dapur yang masih dalam keadaan terbuka, berpegangan pada tali yang menggantung di sana dan turun dengan tali tersebut.

BRAKK

Pintu depan dibuka paksa dengan keras oleh salah satu bodyguard sebelum ketiga bodyguard tersebut masuk ke dalam dan menghampiri Yoosung cepat.

"Tuan Kim!"

"Anda terluka parah! Tidak ada waktu menelepon ambulans, sebaiknya kita langsung saja membawanya ke rumah sakit!"

Dan Yoosung dibawa dengan hati-hati masuk ke dalam mobil dan dengan cekatan mobil tersebut melaju menuju rumah sakit terdekat.


Jaehee : I think I need a cup of coffee.

Jaehee Kang has left the chatroom

Jumin Han has entered the chatroom

MC : Hello, Jumin. Can't sleep?

Jumin : Hello, lady. That's my question for you. Why didn't you sleep? It's 4 AM.

MC : Just reply the e-mail.

707 : Whoa, it's the first time Mr. Director is online at 4 AM.

Jumin : My bodyguard just call me. Yoosung got an accident.

MC : !?

707 : How can that happened!? He's with your bodyguards.

Jumin : I don't know exactly.

MC : Where's he right now? I should go to the hospital.

Jumin : No. I don't agree if you just go outside right now. It's dangerous.

707 : Then I'll give you ride to the hospital. I'll go to Rika's apartment right now.

MC : Okay, Seven. Take care.

707 : Sure ^^

707 has left the chatroom

Jumin : It's not fair.

MC : About what?

Jumin : I can give you ride to the hospital, but I can't since I didn't know where's the location of Rika's apartment.

MC : Don't be sad, Jumin... =) Just trust in Seven.


Seven bergegas mematikan seluruh komputernya sebelum mengambil kunci mobilnya dan bergegas pergi menuju garasi. Ia masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mobilnya dan menjalankan mobilnya menuju apartemen Rika tempat MC berada sekarang dengan kecepatan yang bukan main kencang.

DING-DONG

Mendengar bel apartemen tempatnya tinggal berbunyi, MC berjalan menuju pintu dan membukanya. Tampak seorang laki-laki yang lebih tinggi darinya dengan warna rambut merah dan sepasang iris gold yang memakai kacamata belang kuning-hitam.

"Hmm... Se-Seven?" MC bertanya ragu-ragu memastikan.

Sosok tersebut tersenyum lebar. "Bukan, saya adalah adiknya Jumin."

"A-ah maaf ternyata aku salah orang." MC membungkuk sebentar lalu menegakkan tubuhnya kembali sambil mengernyit. "Memangnya Jumin punya adik laki-laki?"

Sosok yang mengaku sebagai adik Jumin tersebut langsung tertawa kencang.

"Hahahahaa... Kamu lucu sekali MC. Ini aku Seven." lalu ekspresi Seven berubah menjadi serius. "Ayo, kita harus bergegas ke rumah sakit."

MC yang hendak kesal melupakannya dan langsung mengikuti Seven setelah sebelumnya menutup pintu apartemen. Seven dan MC naik ke dalam mobil sport Seven dan segera Seven melajukan mobilnya dengan kencang setelah mereka berdua memakai seat belt.

Smartphone milik MC bergetar akibat phone call. MC melihat nama Jumin tertera di layar dan segera mengangkatnya.

"MC, kamu di mana?"

"Aku sudah berada dalam perjalanan menuju ke rumah sakit."

"Bersama Seven?"

"Iya."

"Yoosung masih berada di UGD. Kutunggu kamu di sini. Hati-hati di jalan."

"Baik. Terima kasih Jumin atas infonya."

Dan telepon dari Jumin pun di matikan oleh sang penelepon. Butuh waktu hanya sekitar sepuluh menit untuk sampai di rumah sakit. Tidak perlu menunggu lagi, Seven dan MC langsung bergegas ke kamar rawat. Tanpa disadari sepasang mata memperhatikan mereka dari balik dinding saat mereka memasuki rumah sakit. Nampak sosok Jumin, Zen, Jaehee dan beberapa bodyguard di dekat pintu UGD.

Jumin yang merupakan orang pertama yang menyadari kedatangan mereka, langsung menghampiri mereka. Zen yang dilewati oleh Jumin mau tak mau menoleh ke kiri. Ia sedikit mengernyit memperhatikan Jumin menghampiri seorang gadis cantik. Namun saat ia melihat Seven berada di sebelah gadis tersebut dia langsung menyadari, bahwa gadis tersebut adalah MC.

"MC, bagaimana perjalananmu?"

"Eerr..."

Jumin menatap serius Seven. Seketika Seven menjadi pucat mengingat kecepatan mobil yang ia kendarai tadi.

"Tadi perjalanan yang baik. Seven sangat ahli menhendarai mobil!" MC tersenyum.

"A-aha...haha..." Seven tertawa canggung.

Zen menghampiri mereka.

"Tentu saja Seven pengendara mobil yang ahli! Aku juga pengendara motor yang ahli, kapan saja aku mau memberikanmu tumpangan, MC~" Zen mengerling.

Jumin menghela nafas. "Tidak bisa. Mulai sekarang MC akan naik kendaraanku."

Zen menatap tajam Jumin. "Jumin! Kau mau membunuh MC!? Kamu menyetir itu sama dengan bunuh diri! Bunuh diri jangan ngajak-ngajak donk!"

"Bukan aku yang menyetir, tapi Pak Kim. Lagipula, MC akan tinggal bersamaku mulai hari ini." Jumin meraih tangan kanan MC.

"E-eh...?"

Seven dan Zen terkejut akan tindakan Jumin, namun Zen yang paling frontal menjauhkan tangan Jumin.

"Jangan pegang-pegang MC!" Zen memeluk MC dan menghalangi Jumin dari pandangan MC.

Jaehee yang sudah gerah dengan tingakan mereka akhirnya menghampiri mereka.

"Bisa kalian jaga sikap kalian di rumah sakit?"

MC menoleh dan menatap Jaehee.

"Ah, maafkan kami... Jaehee, ya?"

"Perkenalkan namaku Jaehee Kang."

"Bagaimana keadaan Yoosung?"

"Dokter masih di dalam. Lukanya cukup serius."

MC menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

"Sudah di cari tahu kenapa ini terjadi?"

"Aku sudah menyuruh orang terbaikku untuk menyelidikinya. Tapi belum ada kemajuan." Jumin menghampiri MC. "MC sebaiknya kamu tinggal denganku mulai sekarang."

"Tidak lagi, Jumin!" ucap Zen kesal.

"Tidak ada pilihan. Seven tidak mau memberitahuku alamat apartemen Rika." Jumin menoleh dan menatap Seven yang langsung membuang pandangannya ke lantai.

"Maaf, tapi aku tidak bisa memberitahukannya."

"Lihat?"

Seven meghampiri Jumin dan menatapnya serius. "Tapi, aku bisa menjaga MC."

Jumin menaikkan sebelah alisnya. "Bagaimana caranya?"

"Aku akan memantau kerja sistem CCTV setiap 2,35 detik sekali, aku juga akan melapisi dan memperbaharui sistem terus menerus."

"Jangan bercanda."

"Aku serius!"

"Kenapa tidak memindahkan MC ke apartemen lain?" Jaehee akhirnya memberikan saran yang paling normal.

Jumin terdiam sejenak berpikir. "Tidak bisa. MC harus ada di bawah pengawasanku langsung jadi aku bisa merasa tenang."

"Itu alasanmu Jumin!" Zen kembali bersuara.

Pintu ruang UGD terbuka, seorang dokter wanita keluar dan MC langsung bergegas menghampiri dokter tersebut diikuti oleh Jumin, Zen dan Seven.

"Dokter, bagaimana keadaan Yoosung?" Jaehee bertanya.

"Dia akan dipindahkan ke ruang inap. Luka di perutnya tidak mengenai organ vital. Tetapi luka di mata kirinya sangat serius. Saya sudah berusaha mengobatinya sehingga tidak mengalami infeksi, tapi..."

"Tapi apa dokter?" MC menatap cemas.

"Mata kirinya sudah tidak bisa berfungsi kembali."

Semua orang yang berada di sana sangat terkejut dengan pernyataan sang dokter.

"Saya permisi dulu."

"Terima kasih dokter." ucap Jumin sebelum sang dokter pergi.

Lalu tiga orang perawat keluar membawa pergi Yoosung ke kamar inap. Mereka masuk ke dalam dan tak lama Yoosung tersadar.

"Yoosung." MC orang yang berada paling dekat menghampiri Yoosung.

"Siapa?"

"Ah, maaf... Aku MC."

"M-MC... Ternyata kamu manis."

"Itu kalimatmu setelah sadar, hey, Yoosung?" Zen menghampiri MC.

"Bagaimana keadaanmu?"

"Mendingan, Seven..."

"Siapa yang melakukan hal ini?" tanya Jaehee.

"Aku tidak tahu... Yang aku ingat hanyalah orang tersebut memiliki rambut putih bergradasi dengan sepasang mata seperti aquamarine. Pakaiannya seperti anak berandalan."

"Kok bisa ada orang seperti itu...?"

Percakapan di antara semuanya berlangsung seputar kejadian yang menimpa Yoosung. Sementara Seven terdiam dan hanyut dalam pikirannya.

"Seven?" Zen memanggil.

"Ah, ya?"

"Kamu kenapa melamun begitu? Ekspresimu kayak menyembunyikan sesuatu. Ada apa?"

"Aku baru ingat harus mengerjakan sesuatu. MC kuantar kau ke apartemen lagi." Seven menarik tangan kanan MC dengan tangan kirinya.

Merasa MC terdiam di tempat Seven menoleh dan mendapati tangan kiri MC yang sedang ditahan oleh Jumin.

"MC di bawah pengawasanku sekarang."

Seven melepas pegangannya perlahan dan pergi dari sana.

"Sampai jumpa semua."

Jumin menatap menyelidik Seven.

"Ada apa dengannya?" Zen memasang ekspresi bingung.

"Sepertinya aku juga harus balik. MC ikut denganku." Jumin menggandeng tangan MC.

MC menurut dan ikut dengan Jumin. Suasana begitu tegang sehingga Zen bahkan tidak berani menyela Jumin.

MC diantar oleh Jumin ke penthouse-nya sebelum Jumin berangkat ke kantor. Malam harinya saat Jumin pulang, MC sedang membaca buku.

"MC, bagaimana kabarmu hari ini?"

MC menoleh. "Jumin, kamu sudah pulang. Aku hanya baca buku sejak siang."

Jumin tersenyum. "Apa kamu mau makan ma-"

Bunyi dering smartphone Jumin memotong perkataan Jumin. Jumin meraih smartphone-nya dan melangkah menjauh, namun MC masih dapat mendengar percakapan tersebut samar.

"Halo."

"Apa, Seven mencoba hack sistem keamanan?"

"Aku tidak tahu."

Dan panggilan tersebut ditutup oleh Jumin.

"Jumin?"

Jumin menoleh. "MC, kamu mendengarnya?"

"Ada apa?"

"Aku tidak tahu kenapa. Tapi Seven telah hack kamera pengawas penthouse ini dan sekarang sedang mencoba untuk hack sistem keamanan."

"Kenapa Seven melakukan itu?"

Jumin berpikir dan menggeleng. "Aku juga tidak tahu, terkadang cara pikir Seven berbeda dengan kita. Tapi, aku berpikir... Kenapa perilakunya berubah sejak Yoosung diserang?"


707 has entered the chatroom

Jumin : Zen is being kidnapped and gone.

Jaehee : OMG! We should find him!

Jumin : Yeah, we should. Assistant Kang, please search for him.

Jaehee : I will.

Jaehee Kang has left the chatroom

MC : What should we do, Jumin?

Jumin : Keep calm MC, I will search where is he now.

707 has left the chatroom

Jumin : ?


Jaehee melihat sebuah surat yang tertuju ke Seven dengan inisial pengirimnya S. Ia mengernyit dan mambuka pesan tersebut. Ia terkejut akan isi pesan tersebut dan mengeluarkan smartphone-nya hendak menelepon Jumin namun...

BUAGHH

Seseorang memukul Jaehee keras hingga kehilangan kesadaran. Lama waktu telah berlalu, Jaehee membuka kedua kelopak matanya yang masih terasa berat. Butuh waktu beberapa menit sampai akhirnya ia dapat menyesuaikan penglihatannya di ruangan minim cahaya dan memiliki dinding berwarna merah ini.

"Jaehee!"

Jaehee menoleh ke sumber suara dan mendapati Zen sedang terikat di sebuah kursi dan ia juga menyadari bahwa dirinya juga dalam posisi yang sama.

"Zen!"


*-+-To Be Continue-+-*

Chapter terakhir Shira publish minggu depan.

Dalam satu chapter terdapat 2 ending.

Good ending

Bad ending

Jika kalian membaca dengan seksama, Shira kasih hint hint.

Sudahkah para reader mengetahua siapa dalang di balik semua ini? XD

Sebenarnya mau di publish sekalian semua cerita, tapi bakal jadi mungkin sekitar 6k-9k kata. Jadi Shira bagi jadi 3 chapter.

Thanks for read.

Mind to Review ?